Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Feature. Tampilkan semua postingan

Dijuluki Masjid Kaum Masjid Besar Cikancung Sebagai Jantung Spiritual Kecamatan Cikancung

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Besar Kecamatan Cikancung, yang dikenal dengan nama Masjid Kaum, telah berdiri kokoh sejak tahun 2001 dan menjadi pusat kegiatan keagamaan bagi masyarakat sekitar. Penamaan Masjid Kaum ini bukan tanpa alasan, mengingat istilah tersebut telah lama digunakan untuk menyebut masjid-masjid yang berperan sebagai tempat ibadah di tingkat Kecamatan, khususnya pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Seiring waktu, sebutan Masjid Kaum kemudian berganti menjadi Masjid Besar, yang menandakan peranannya yang semakin luas sebagai pusat ibadah dan kegiatan umat di Kecamatan Cikancung.

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh almarhum Haji Anang dan Haji Karyana, dua tokoh masyarakat yang dikenal atas kontribusinya terhadap kemajuan umat di wilayah ini. Masjid ini diresmikan oleh Bupati Obar Sobarna yang saat itu menjabat dan telah menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Kecamatan Cikancung sejak berdirinya masjid tersebut. "Tokoh pendirinya Haji Anang dan Haji Karyana, yang meresmikan masjidnya ini Pak Obar dulu," ujar Ketua DKM, Bapak Maman Batwijaman pada Minggu (22/09/2024).

Jumlah jamaah yang rutin melaksanakan shalat berjamaah di masjid ini berkisar sekitar 20 orang. Jamaah tersebut terdiri dari laki-laki dan perempuan, baik remaja maupun dewasa, yang secara konsisten hadir dalam setiap pelaksanaan shalat berjamaah. Masjid Besar Kecamatan Cikancung diharapkan dapat terus menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial di tengah masyarakat, serta menarik lebih banyak jamaah untuk bersama-sama memakmurkan masjid ini.

Masjid Besar ini telah menjadi pusat spiritual penting bagi masyarakat di Kecamatan Cikancung. Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan sosial dan edukasi bagi warga sekitar. Kegiatan seperti pengajian rutin, peringatan hari besar Islam, dan kegiatan bakti sosial yang sering diadakan, memperkuat peran masjid sebagai jantung spiritual kecamatan.

Seperti masjid lainnya yang menjadi pusat aktivitas masyarakat, Masjid Besar Cikancung juga menjadi tempat berkumpul, belajar, dan berbagi. Aktivitas keagamaan dan sosial yang diselenggarakan membuat masjid ini menjadi lebih dari sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan pendidikan bagi masyarakat yang juga mirip dengan peran masjid-masjid di daerah lain.

Reporter: Baiduri Nurcahyati, KPI/3D

Masjid Ikomah UIN Bandung Awalnya Bernama Al-Ghanam atau Binatang Ternak

 
Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Ikomah merupakan masjid yang terletak di kampus satu UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pada mulanya, masjid ini bernama masjid Al-Ghanam. Dinamai Al-Ghanam, karena dulunya di depan masjid ini terdapat banyak binatang ternak, yaitu domba. Maka dari itu, dinamai Al-Ghanam. 

Pada saat itu, kampus UIN Bandung masih berlokasi di Tangkuban Parahu. Lalu, pada tahun 1968, kampus UIN Bandung (yang dulu masih berstatus IAIN) pindah ke lokasi masjid ini berada yakni di Cibiru, Bandung. Saat UIN pindah ke lokasi tersebut, masjid ini masih cukup sederhana. 

Seiring berjalannya waktu, mulailah banyak dilakukan perombakan, perluasan serta renovasi terhadap masjid ini. Hal tersebut dikarenakan meningkatnya jumlah jama'ah yang ada di masjid ini terkhusus dari kalangan mahasiswa yang berkuliah di UIN Bandung. Dan pada saat itu pula masjid ini berubah nama menjadi Masjid Ikomah. 

Ustaz Zainal Muttaqin atau yang kerap disapa ustaz Jejen selaku ketua DKM Ikomah UIN Bandung menyatakan bahwa, donator terbesar dari peningkatan pembangunan masjid ini adalah orang tua dari para mahasiswa yang berkuliah di UIN Bandung. Oleh sebab itu, masjid ini diubah Namanya menjadi masjid Ikomah. Ikomah sendiri merupakan singkatan dari "Ikatan Orang Tua Mahasiswa." Yang mana, orang tua mahasiswa merupakan donator terbesar dari dibangunnya masjid megah ini. 

Donasi-donasi tersebut bisa dikatakan dalam bentuk UKT yang dibayarkan pada tiap semesternya. Saat ini, masjid Ikomah sudah menjadi masjid yang megah. Tidak hanya megah, masjid Ikomah juga tidak pernah sepi dari para jama'ah di setiap harinya, baik pada pelaksanaan solat lima waktu, maupun solat jum'at. Bahkan, tidak jarang, masjid Ikomah dijadikan tempat untuk pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan yang diinisiasikan oleh para mahasiswa.

Reporter : Reni Nursakinah Mahasiswi KPI/3C


Ustaz Zainal Muttaqin, Dari Seorang Pengajar, Kepala Perpustakaan Hingga Ketua DKM

 
Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz Zainal Muttaqin, yang akrab disapa ustaz Jejen, merupakan sosok yang kini menjabat sebagai ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) di Masjid Ikomah, menggantikan peran ustaz Bachrun Rifa'I. Dilahirkan pada tanggal 10 Juni 1966, beliau adalah masyarakat asli Kabupaten Bandung dan saat ini telah menginjak usia 57 tahun. 

 Perjalanan pendidikan Ustaz Jejen dimulai pada tahun 1973 di salah satu sekolah dasar di Kabupaten Bandung Barat. Kini, beliau tidak hanya dikenal sebagai ketua DKM tetapi juga sebagai seorang dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung serta pengajar di beberapa pesantren di kota Bandung. Posisinya tidak berhenti di situ, karena beliau pernah menjabat sebagai ketua perpustakaan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

 Ustaz Jejen memiliki semangat belajar yang tinggi, meskipun usianya telah mencapai 57 tahun. Beliau tetap konsisten dalam menimba ilmu, bahkan tengah menempuh pendidikan S3 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Dengan tekad kuatnya, beliau mengungkapkan, "Sampai saat ini, saya masih belajar dan akan terus belajar."

 Kesibukan Ustaz Jejen terbagi antara kewajibannya sebagai dosen, ketua DKM, dan mahasiswa di kampus pada siang hari. Sedangkan pada malam hari, beliau meluangkan waktu sebagai pengajar di beberapa pesantren. Dalam merencanakan pembagian waktu tersebut, beliau mengatakan, "Pada siang hari, saya menjalankan tugas sebagai dosen, ketua DKM, dan mahasiswa di kampus. Pada malam hari, saya biasanya mengajar di pesantren-pesantren." 

 Meskipun memiliki jadwal yang padat, Ustaz Jejen mengakui bahwa seringkali ia lengah dalam menjaga kesehatannya sendiri. Kegiatannya yang padat membuatnya sering melupakan waktu makan. Dengan tulus, beliau mengungkapkan, "Dengan segala jadwal tersebut, saya kadang lengah terhadap kesehatan saya. Karena sibuk mengurus ini dan itu, saya seringkali lupa untuk makan."

Ustaz Jejen menjalankan segala kesibukannya dengan prinsip utama, yaitu Li Hajatil Ummah, Li Maslahatil Ummah, yang berarti "Untuk Kebutuhan Umat, Untuk Kemaslahatan Umat." Prinsip ini menjadi panduan dalam setiap langkahnya, mengarahkan semua tindakan beliau untuk kepentingan dan kesejahteraan umat. 

 Reporter: Reni Nursakinah Mahasiswi KPI 3C


Deti Hernati S.E, Sukseskan Kembangan Majelis Ta’lim Al-Inayah



Dakwahpos.com, Bandung - Deti Hernati S.E adalah sebagai warga asli komplek bumi harapan yang menjadibendahara  majelis ta'lim Masjid Al-Inayah dan sudah 12 tahun sampai sekarang menjabat sebagai bendahara. Dilahirkan di Bandung pada tanggal m 26 Juni 1964. Dalam kehidupan nya Deti senang ber organisasi baik di partai maupun di organisasi umum, pernah juga bekerja di Desa Cibiru Hilir di bagian BUMDES (Badan Usaha Milik Desa), selain itu juga pernah bekerja di PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) Desa Cibiru Hilir di bagian Pokja 3. 


Deti juga sangat peduli dalam hal sosial dan mendapatkan kepercayaan dari pengurus masjid Al-Inayah, seperti pengumpulan dana untuk Palestina semua uang dukumpulkan di Deti untuk di salurkan ke negara Palestina yang sedang di jajah oleh Israel. Dan Deti juga bersama pengurus lain nya mengadakan program jalan sehat, lomba tumpeng dll bersama majelis taklim dan warga sekitar.


Pada dasarnya Deti senang bermanfaat bagi orang lain. Saat ini deti mempunyai tim untuk membuka jasa pengurusan jenazah dengan peralatan yang kumplit secara syar'i dan kedepan nya ingin mempunyai mobil ambulance.


Dengan adanya tim tersebut diharapkan bisa bermanfaat bagi masyarakat terutama bagi yang membutuhkan pengurusan jenazah dan mobil ambulance karna banyak sekali keluhan dari masyarakat kalau mencari ambulance sangat susah, akhirnya Deti dan tim berinisiatif untuk mengadakan pengurusan jenazah berikut penyediaan mobil ambulance. Dan semoga kedepan nya masyarakat dan lingkungan sekitar nya tidak susah lagi mencari tim pengurusan jenazah ataupun mencari ambulance.



Reporter : Nisrina Thufailah Robbani/KPI 3C


Masjid Al-Hudori Tetap Berdiri Kokoh Sejak Empat Dekade Lalu

Dakwahpos.com - Bandung, Cibiru. Masjid Al-Hudori yang beralamat Jl. Raya Cibiru No.1, Pasir Biru, Kec. Cibiru, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Indonesia. Masjid ini berada tepat di belakang batas tugu bandung kota dan kabupaten. Masjid dengan tembok yang berwarna putih yang dikelilingi pagar hijau, yang di dalam ruangan ibadah nya terdapat kaligrafi indah yang menambah suasana syahdu.

Masjid Al-Hudori berdiri di atas tanah wakaf sejak 1983, tanah yang diwakafkan diberikan oleh almarhum Hudori  yang  dimana Hudori menjadi nama masjid itu sendiri untuk mengenang sang pewakaf tanah.

Sonny Supena sebagai ketua DKM mengisahkan warga sekitar sangat berantusias saat pembangunan masjid Al-Hudori pada saat itu, sehingga warga sekitar banyak ikut menyumbang bahan bangunan seperti semen, batu bata, bahkan kaca jendela juga merupakan hasil dari sumbangan warga sekitar yang sangat berantusias untuk dapat ikut serta dalam pembangunan. Masjid Al-Hudori telah mengalami beberapa kali perombakan, seperti pagar, area wc yang rapi dari tahun ke tahun, warna tembok, dan lainnya.

Selain sebagai tempat beribadah yang nyaman masjid Al-Hudori menjadi opsi tempat peristirahatan karena memiliki area parkiran yang cukup untuk terparkirnya mobil dan motor, selain itu juga persis di depan masjid Al-Hudori terdapat jajanan seperti lontong sayur, batagor, es cendol, dan lainnya.


Reporter
Muhammad Farid Hilmy Fadhlulloh KPI/3C
 

Armilah, Mantan Atlet Voli Cantik yang Jadi Ketua Majelis Taklim

Dakwahpos.com, Bandung - Armilah (53) atlet voli asal Palu, Sulawesi Tengah ini kini menjadi ketua majelis taklim, ia mengaku dari sejak muda sering mengikuti perlombaan voli baik antar sekolah ataupun daerah. Meskipun sudah menikah sebagai atlet ia masih sering mengikuti perlombaan voli antar kampung bersama ibu-ibu lainnya dan berhasil meraih juara satu.

Saya dulu seneng neng main voli dari sejak kecil, tahun 1990 saya pindah ke Bandung dengan suami saya dan saya masih sering ikut lomba voli," urai Arminah bercerita tentang masa lalunya.

Yang menarik darinya, disela-sela kesibukannya ia tidak pernah absen untuk menjaga kebersihan masjid dan area disekitarnya, masjid yang dahulu hanya sepetak tanah hingga menjadi lebih besar seperti sekarang, Beliau tidak pernah absen untuk selalu menjaga kebersihannya, sehingga buah dari ketekunannya kini ia menjadi ketua majelis taklim.

"Sebenernya saya gak merasa jadi ketua karena kita disini melakukannya bareng-bareng, tapi mungkin karena saya selalu datang lebih awal dan suka selawatan sambil menunggu ustaz/ustazah datang, jadi seluruh jamaah menganggap saya adalah ketua," ujarnya.

Karena kerajinan dan ketekunannya ia diakui oleh jamaah sebagai ketua majlis yang bisa diandalkan oleh jamaah dalam memelihara perkembangan majelis taklim serta menjaga jalur koordinasi dengan ustaz/ustazah yang akan mengisi materi pada setiap minggunya.

Reporter: Nanda Fadilah/KPI-3C

Ustaz Dinar Sanjaya, Inspirasi Muda dari Masjid Al-Muhajirin


Dakwahpos.com, Bandung- Dalam usia yang masih muda, tepatnya 25 tahun, Ustad Dinar Sanjaya S. Kom telah menjelma menjadi salah satu tokoh masyarakat yang patut diperhitungkan. Berpegang pada tanggung jawabnya, dia tidak hanya menjadi figur agama, tetapi juga memainkan peran penting sebagai pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Muhajirin di Rancatungku, Kecamatan Pameungpeuk- (22/11/23).

Dinar Sanjaya, yang dikenal dengan kecakapannya dalam teknologi setelah meraih gelar S. Kom-nya, berhasil menyatukan kecintaannya pada agama dengan dedikasinya terhadap perkembangan masjid. Sejak bergabung sebagai pengurus DKM, dia telah membawa angin segar dalam pelaksanaan berbagai kegiatan keagamaan di masjid tersebut.

Keberhasilan Dinar Sanjaya tidak hanya tercermin dari usianya yang masih muda, tetapi juga dari bagaimana dia berhasil membaurkan teknologi dengan nilai-nilai keagamaan. Melalui kecakapannya dalam dunia teknologi, dia mengenalkan inovasi untuk mempermudah akses informasi keagamaan bagi jamaah masjid.

Selain itu, kepemimpinan Dinar Sanjaya dalam DKM Al Muhajirin telah mendorong semangat kebersamaan dan gotong royong di kalangan masyarakat setempat. Dengan kerja keras dan komitmen, dia berhasil menciptakan atmosfer yang hangat dan inklusif di masjid, menjadikannya tempat ibadah yang ramah dan menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Keberhasilan Ustad Dinar Sanjaya S. Kom menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk aktif berkontribusi dalam pembangunan masyarakat melalui nilai-nilai keagamaan dan inovasi. Semangatnya yang membara dan dedikasinya yang tinggi dalam menjalankan tugasnya sebagai pengurus DKM menjadikan Dinar Sanjaya sebagai teladan bagi mereka yang ingin berkontribusi dalam meningkatkan kualitas kehidupan beragama di tengah-tengah masyarakat.

Sonny Supena, Linmas yang Kini Memimpin Masjid

Dakwahpos, Bandung - Sonny Supena lahir di Bandung, 4 Januari 1976.Sebuah kisah penuh dedikasi dan transformasi muncul dari garda terdepan masyarakat, di mana seorang anggota Linmas mengukir jejak yang tak terlupakan. Dari menjaga keamanan lingkungan hingga memimpin umat di jalur rohaniah, perjalanan luar biasa ini menceritakan bagaimana pengabdian di garda terdepan membentuknya menjadi pemimpin masjid yang karismatik.

Sonny Supena mulai menjabat sebagai ketua DKM pada 3, Maret 2020 hingga saat ini. Di sela-sela kesibukan nya sebagai pengaman masyarakat Sonny selalu menyempatkan hadir untuk mengurus kegiatan masjid seperti salat Jumat dan pengajian ibu-ibu. Beliau menceritakan bahwa dirinya di tunjuk oleh perwakilan masyarakat untuk menjalani amanah sebagai ketua DKM,  beliau sempat ragu ketika akan mengemban amanah tersebut karena merasa dirinya belum ada pengalaman dalam dunia kerohanian. Dalam kebimbangan nya Sonny mendapat nasehat dari seorang tokoh masyarakat, hingga akhirnya beliau memantapkan hati nya untuk menjalani amanah sebagai ketua DKM.

"Saya sebetulnya tidak ingin menjadi ketua DKM karena saya merasa kapasitas saya untuk menjalani amanah ini belum layak karena kemampuan dan pengetahuan agama saya belum mempuni, waktu itu seorang tokoh masyarakat berkata kepada saya, "Pak Sonny, yang Maha Menggerakan hati adalah Allah, Dan hati kami di gerakan untuk memilih Pak Sonny". dengan bismillah lalu saya jalankan karena ini juga merupakan tugas mulia, dan alhamdulillah akhirnya tidak terasa sudah tiga tahun amanah ini terlaksana." Tutur Sonny.

Dalam perannya yang baru, Linmas ini tidak hanya merangkul tugas-tugas keamanan, tetapi juga memimpin dengan kebijaksanaan dan kepedulian. Bagaimana peran di garda terdepan telah membentuknya menjadi figur yang dihormati oleh komunitasnya, dan bagaimana ia bertransformasi menjadi pemimpin yang mendukung keamanan fisik dan kesejahteraan rohani bagi setiap individu.

Dari pengalamannya yang unik ini, Linmas tidak hanya membanggakan keluarga dan komunitasnya, tetapi juga memberikan inspirasi kepada banyak orang untuk mengejar panggilan pengabdian mereka sendiri. Dalam kisah ini, kita melihat bahwa pengorbanan di garda terdepan bukan hanya sebuah tugas, tetapi juga sebuah panggilan untuk memimpin dan mengabdi pada tingkat yang lebih tinggi.

Reporter: Muhammad Farid Hilmy Fadhlulloh KPI/3C

Masjid Al-Huda Cipadung, Berubah Sejak Wabah Covid-19

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Al-Huda yang terletak di Jl. Lio Utara Gang Aki Arbad, Cipadung, Cibiru ini sudah ada sejak lama sekali, tidak ada yang tahu pasti mengenai kapan berdirinya bahkan putra dari pendirinya pun tidak mengetahui dengan pasti kapan masjid ini didirikan.

Pada mulanya masjid ini hanya dipergunakan untuk salat 5 waktu saja, tidak ada salat jumat dan pengajian. Biasanya masyarakat sekitar masjid Al-Huda pada saat pelaksanaan salat jumat mereka menuju ke masjid Ikamah UIN Bandung. Kemudian pada tahun 2019 muncul isu mengenai wabah covid dan muncul aturan bagi warga untuk tidak diperbolehkan salat jumat dimasjid besar maka warga sekitar masjid Al-Huda menyiasatinya dengan salat jumat perdana di masjid tersebut dihadiri oleh masyarakat sekitar yang berjumlah lebih dari 40 orang.

"Kami bingung sekali saat tau bahwa banyak polisi berjaga didepan masjid untuk menghalangi masyarakat untuk melaksanakan salat jumat berjamaah, hingga akhirnya kami masyarakat sekitar mencari cara agar bisa tetap melaksanakan salat jumat bersama," tutur ustaz Aep selaku ustaz di masjid Al-Huda.

Masjid Al-Huda memiliki lokasi yang strategis, masjid ini berada didalam pemukiman yang tersembunyi sehingga pada pelaksanaannya salat jumat semakin rutin diadakan di masjid Al-Huda selama covid ini, dan tentunya dengan saling menjagajarak dan mematuhi protokol kesehatan. Seiring berjalannya waktu masjid Al-Huda kian hari kian berkembang, puncak keberhasilan masjid Al-Huda adalah saat diangkatnya ketua RW baru, beliau merupakan seorang akademisi dan tokoh masyarakat ia memiliki relasi dari berbagai lembaga sehingga mudah mendapatkan donatur untuk perkembangan pembangunan masjid, hingga masjid Al-Huda tercatat sebagai masjid resmi dari Kemenag.

"Sekarang masjid Al-Huda banyak kegiatannya, dari mulai pengajian ibu-ibu sampai anak-anak, kami juga merayakan hari-hari besar bersama di masjid ini," pungkas ustaz Endang Taryana selaku ketua DKM.

Beliau juga menuturkan semua kegiatan di masjid Al-Huda rutin dilakukan sehingga masjid yang dahulu hanya sepetak tanah kini menjadi masjid yang lebih luas dan lebih banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan masyarakat.

Reporter: Nanda Fadilah/KPI-3C

Masjid Miftahul Falah, Masjid Tertua di Desa Cipeundeuy

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Miftahul Falah yang beralamat di Kp. Cilintung rt 02/rw 19, Desa Cipeundeuy, Kec. Cipeundeuy, Kab. Bandung Barat berdiri pada tahun 1982 yang dibangun oleh Alm. Bapak H. Dana Hapidin sekaligus sebagai Ketua DKM pertama.

Masjid Miftahul Falah memiliki sejarah panjang sebagai masjid tertua di wilayahnya. Ketua DKM  di sini berperan penting dalam menjaga keberlanjutan dan keberlangsungan masjid. Masyarakat sekitar turut serta dalam melindungi masjid, menunjukkan dukungan dalam pemeliharaan tempat ibadah ini. Sejarah masjid ini mencerminkan keterlibatan aktif masyarakat dan pengakuan dari pihak berwenang setempat.

Masjid Jami' Miftahul Jannah, yang dikenal sebagai masjid tertua di wilayah Desa. Cipeundeuy, mengukir sejarah gemilangnya sejak berdiri. Didukung oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan dan Pendidikan islam  bagi masyarakat sekitar.
Sebagai masjid tertua di wilayahnya, Masjid Jami' Miftahul Jannah bukan hanya sekedar tempat ibadah, tetapi juga warisan bersejarah yang terus hidup, berkembang juga menjadi tempat Pendidikan agama Islam

Reporter : Luthfi Nurfaizin KPI/3C




Drs. Asep Kholiq, Anak Ketua DKM yang menjadi ketua DKM Miftahul Falah

Dakwahpos.com, Bandung – Drs. Asep Kholiq merupakan ketua DKM Masjid Miftahul Falah saat ini, beliau terpilih menjadi ketua DKM setelah meninggalnya ketua DKM sebelumnya yaitu Alm. H. Edi Sutisna. Pak Asep ditunjuk dan dipilih oleh masyarakat sekitar karena tidak adanya yang mencalonkan sebagai Ketua DKM.

Pak Asep berprofesi sebagai Kepala Sekolah di MA Muslimin Cipeundeuy, beliau lahir pada tanggal 18 Februai 1966 Bandung. Pak Asep merupakan anak dari Ketua DKM pertama Masjid Miftahul falah yaitu Alm. H. Dana Hapidin, beliau merupakan penduduk asli dan sedari kecil di Kp. Cilintung

Sebelum menjadi Ketua DKM Pak Asep mendirikan Pendidikan Diniyah untuk anak – anak dan remaja, diniyah ini juga masih dibawah naungan Masjid Miftahul Falah.

Saat ini Pak Asep bersama masyarakat sekitar terus memajukan Masjid Miftahul Falah dari segi apapun, ditambah juga pada saat ini Masjid Miftahul Falah sedang melakukan renovasi besar besaran .

Reporter : Luthfi Nurfaizin/KPI 3C


Masjid Daarussalam, Lahan Sawah menjadi Tempat Beribadah

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Daarussalam yang beralamatkan di Jalan Terusan Panyileukan, Gang Daarussalam di sahkan pada tahun 2012 dengan momentum peletakan batu pertama.

Dahulu masjid ini merupakan lahan persawahan yang diubah menjadi tempat beribadah dengan menerapkan keramahan dan kenyamanan bagi siapapun jama'ah yang datang ke masjid.

"Masjid Daarussalam ini dahulu hanya 1 tingkat, dan sudah di operasikan untuk kegiatan keagamaan seperti pengajian dan madrasah. " Ujar abah Ali selaku sekretaris DKM

Seiring berjalannya waktu, Masjid ini ditingkatkan menjadi 3 tingkat pada tahun 2019-sekarang dibawah kepemimpinan Ustaz Ahmad Faisal.

Diantara banyaknya kegiatan yang ada di masjid ini adalah Kajian rutin selasa malam (tafsir), tadarrus al-Qur'an ba'da maghrib, kajian rutin ahad ke 2 dan masih banyak lagi kegiatan yang lain.

Reporter : Muhammad Rizieq Arrijal, KPI/3C

Dr Saridjo, Jadi Dai Sejak Sekolah

Dakwahpos.com, Bandung – Dr. Saridjo atau biasa dipanggil Pakde, beliau adalah seorang Ustaz yang aktif berceramah dari tahun 90an yang pada saat itu ia baru menyelesaikan kuliah S1. Beliau lahir di Bandung pada tahun 1957 beliau juga menjabat sebagai ketua DKM Muhajirin sejak 2015 sampe kini.

Beliau mulai berkecimplung di dunia Dai sedari masa sekolah, memang pada saat itu beliau belum berceramah diatas mimbar, tetapi ia sering mengikuti ayahnya yang selalu berkhutbah dan berceramah dimanapun. Sehingga, menimbulkan rasa keinginan beliau untuk menjadi seorang dai atau penceramah.

"Waktu saya kecil bapak saya sering ngajakin buat ikut beliau ceramah, disitu timbul ambisi untuk mengikuti jejak bapak ya untuk meneruskan gitu, maka dari itu bagaimana saya menyampaikan ceramah kurang lebih saya mengikuti apa yang bapak saya lakukan dahulu" ujar Pak Saridjo.

Pada saat ini, beliau mendapat amanah menjadi ketua DKM Muhajirin yang mana amanah ini sudah ia emban sejak tahun 2015 hingga saat ini. Kesibukan beliau selain menjabat Ketua DKM, beliau adalah seorang pengusaha. Beliau memiliki sebuah toko yang mana beliau sendiri yang mengurus toko tersebut.

"Alhamdulillah saya diamanahi oleh warga menjadi ketua DKM sejak 2015 yang dimana inipun salah satu tugas yang menurut saya tugas mulia dan tidak mudah juga, disisi lain juga saya Alhamdulillah punya toko kecil-kecilan walaupun begitu bukan berarti menjadi hambatan saya untuk bisa mengemban amanah sebagai ketua DKM" Tandas Pak Saridjo.

Beliau menyampaikan pesan terutama untuk anak muda bahwa anak muda sekarang harus bisa menyebarkan agama islam atau harus bisa berdakwah entah bagaimanapun caranya melalui apapun media nya initnya harus bisa menyebarkan hal yang baik dan positif. Jangan isi masa muda hanya dengan bermalas-malasan. Karena menurut beliau anak muda sekarang kebanyakan hanya bermalas-malasan tanpa tahu bagaimana keadaan disekitarnya.


Reporter: Bintang Muhammad Rafi KPI 3A

Masjid Jami Nurul Iman, Masjid Bukan Hanya Tempat Beribadah


Dakwahpos.com, Bandung - Di balik dinding masjid yang kokoh, terdapat cerita menarik tentang Masjid Jami Nurul Iman yang menjadi wadah bagi para santri untuk mengekspresikan dan mengembangkan minat serta bakat mereka. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga panggung bagi para santri untuk menampilkan potensi kreatif dan prestasi mereka.
Dalam setiap sudut, terlihat keberagaman minat dan bakat para santri Masjid Jami Nurul Iman. Beberapa dari mereka menunjukkan kepiawaian dalam seni tari, sastra, hingga musik. Kreativitas dan pengetahuan sangat dihargai oleh DKM dan Ustaz di Masjid Jami Nurul Iman, menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan para santri.
Meski beliau hanya seorang wanita biasa saja, hal itu bukan sebuah masalah baginya untuk terus memberikan sumbangsih kepada keluarga ataupun masyarakat sekitar rumahnya. Seperti mengadakan Jumat berbagi makanan kepada masyarakat yang terdampak oleh pandemi ini.
"Ini bukan hanya masjid untuk beribadah, tetapi juga ruang bagi kita semua untuk mengeksplorasi dan menyalurkan minat serta bakat masing-masing. Masjid ini menjadi wadah di mana kita dapat tumbuh tidak hanya secara spiritual, tetapi juga secara intelektual dan artistik," ungkap Nining, seorang Ustazah di Masjid Jami Nurul Iman.
Masjid Jami Nurul Iman tidak hanya memberikan tempat bagi para santri untuk mengekspresikan diri, tetapi juga menyediakan fasilitas dan dukungan yang diperlukan untuk mengembangkan potensi mereka. Kelas  seni dan pelatihan keterampilan disediakan untuk memberikan kesempatan kepada santri untuk mengeksplorasi berbagai minat mereka.
Ketua DKM  Masjid Jami Nurul Iman, Abdul Muis, menyatakan  bahwa setiap santri memiliki potensi unik. Kami berusaha menciptakan lingkungan di mana setiap minat dan bakat dihargai dan diberdayakan. Masjid bukan hanya tempat ibadah, melainkan tempat pertumbuhan dan pengembangan seluruh potensi santri.
Dengan berbagai kegiatan dan program yang mendukung eksplorasi bakat, Masjid Jami Nurul Iman menjadi inspiratif tentang bagaimana sebuah lembaga keagamaan dapat menjadi jembatan untuk menggali dan menonjolkan kreativitas serta prestasi para santri.
Melalui inisiatif ini, masjid bukan hanya menjadi tempat untuk beribadah, tetapi juga rumah bagi penemuan diri dan pengembangan penuh potensi bagi para santri yang ingin mengejar cita-cita mereka.


Reporter : Fajri Ramadano KPI 3A


Masjid Jami Al-Hidayah Pasirbiru, Pusat Kegiatan Agama Jamaah dari Berbagai Daerah

Dakwahpos.com Bandung – Masjid Jami Al-Hidayah Cikuda, Kelurahan Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung merupakan sebuah masjid yang menjadi pilihan utama sebagai pusat dalam menitipkan anaknya untuk mengaji. Masjid tersebut Bernama Al-Hidayah yang di dalamnya terdapat sejumlah kegiatan yang memberi banyak manfaat kepada orang banyak terhusus pada masyarakat sekitrar.

Tokoh Pendiri Masjid Jami Al-Hidayah H. M. Kudsi sebagai pewakaf tanah dan segala prasarana fasilitas bangunan dan beliau percayakan pengelolaan kepada KH. Najmudin yang merupakan sosok yang sangat dikagumi dan didsegani dengan karismatik beliau yang sangat apik dalam laku lampah pribadi maupun kepada orang lain. Beliau pesantren di berbagai tempat kemudian setelah pulang ke kampung asalnya beliau mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dari pondok-pondok nya daluhu disamping dengan keinginan untuk mendirikan lembaga Pendidikan di Cikuda yang kurang terutama lembaga pendidikan Islam pada saat itu. Karena itu pada tahun 1951 beliau ikut serta dipercayakan sangat memegang Masjid Jami Al-Hidayah serta dengan pondok pesantrennya kala itu sebagai pusat tempat berbagai macam kegiatan islami dengan begitu seiring berjalannya waktu kegiatan keagamaan kian semakin kuat bahkan bertahan hingga sekarang.

"Masjid ini didirikan tahun 1951, tanahnya, bangunan dan sarana lainnya wakaf dari Ayah saya H. M. Kudsi termasuk rumah Alm. KH. Najmudin , bahkan pernah ada pondoknya ada santri. KH. Najmudin itu yang ditokohkan oleh Ayah H. M. Kudsi itu pendirinyadan didukung oleh yang lainnya yaitu M. Rofi'I orang tua H. Zainal dan H. Abdurrahman mertuanya engkah (H. Asep Miftahudin) beberapa oaring tokoh itu sekitah tahun 1951 waktu itu bapak lahir masjid sudah dibangun cumin ukurannya kecil ukuran 8 meter ke 15," kandas Drs. H. Ayi Rahmat.

Seiring berjalannya waktu dan bergantinya zaman estapet kepemimpinan tokoh keagamaan terus kian berganti turun temurun, hingga saat ini Pemimpin atau tokoh dipercayakan kepada turunan yang merupakan anak ke-2 yaitu KH. Asep Miftahuddin penasehat atau pihak keputusan dan dibantu oleh Drs. H. Ayi Rahmat sebagai ketua dari seluruh kegiatan juga masih keponakan dari KH. Asep Miftahuddin.

"Awalnya kepengurusan oleh pak kiyai sendiri KH. Najmudin terus pernah oleh pak H. Zainal kemudian pak Aep Miftah terus ke saya sebagai ketua satu," tambah ujar Drs. H. Ayi Rahmat.

Hingga sekarang kegiatan kian terus berkembang dan bertambah dengan menyesuaikan kebutuhan umat pada zaman sekarang, kegiatan aktif hingga kini berjumlah lebih dari sepuluh kegiatan dan salah satunya kegiatan-kegiatan tersebut ada sejak zaman KH. Najmudin. Pengurus dan Ustaz-uztaz yang mengurus sekarang masih ada kaitan hubungan tali kekerabatan dengan KH. Najmudin.

Masjid Jami Al-Hidayah Cikuda awalnya memiliki satu lantai dan muat hanya kurang lebih 200 jemaah, tentunya hal ini menjadi masalah penting disamping semakin bertambahnya Jemaah dan kegiatan bertambah, maka Masjid Jami Al-Hidayah Cikuda mengalami perombakan bangunan sebanyak 4 kali dan yang terakhir merupakan perombakan besar pada tahun 2013 -2019 dengan biaya sebesar 2,5 M dari donatur terbesar dari H. Khalid dan H. Askar. Awal mula luas sekitas 10 meter ke 15 meter dengan satu lantai menjadi 10 meter ke 25 meter dengan 3 lantai.

"itu dipugar lagi terakhir itu renovasi pembangunan untuk yang ke-4 pada tahun 2013 – 2019 sebab 3 lantai dan besar biayanya menghabiskan 2,5 M itu pun terbanyak oleh penyandang dana donator terbesar pak H. Khalid dan pak H. Askar yang lainnya biasa-biasa dari masyarakat, dari warga masyarakat itu sedikit sekali kalau melihat angaran keseluruhan 2,5 M pada proposal anggaran tahun 2013 kalau dengan anggaran sekarang mungkin 3 M, dari masyarakat itu paling hanya 500 Juta-an yang 2 M -nya ya dari dua donatur terbesar itu , dan itu pun dibangun rencananya kenapa 3 lantai, nah lantai ke-3 – nya itu untuk pondok Maulana Harun waktu itu nama pondok nya masih Najmul Hidayah," tambah ujar Drs. H. Ayi Rahmat

Reporter: Fadhil Fadhlur Rahman KPI 3/A


Drs. H. Ayi Rahmat, Pengurus DKM di Lima Masjid

Dakwahpos.com Bandung - Drs. H. Ayi Rahmat [65] pensiunan kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah yang saat ini menjabat sebagai ketua Lembaga Yayasan Pendidikan Islam Ar-Rosidiyah, Cikuda. Disamping jabatannya H. Ayi sangat di percaya masyarakat kampung Cikuda sebagai tokoh agama, tak hanya kampung tempat tinggalnya yang menaruh kepercayaan tetapi kampung sekitar pun ikut menjadikan H. Ayi sebagai panutan dengan menjadikannya pengurus DKM di Masjid kampung tersebut.

"Saya disamping kesibukan kerja sebagai wirausaha ada konveksi dan jualan online itu yang saya percayakan dipegang oleh anak pertama laki-laki, kalua menjabat sebagai ketua yayasan siapa lagi kalau bukan keluaraga kebetulan saya paling tua, jika kepercayaan itu diberikan kita wajib menerima dengan sangat lapang bukan masalah tidak ada lagi dan yang ditunjuk itu merupakan yang terbaik tetapi inilah scenario Allah roda putaran kehidupan dan saat ini bagian saya yang mengambil tangguang jawab ini," kandas ucap H. Ayi dengan kerendahan hatinya.

Banyak hal yang membuat lelaki kelahiran Bandung, 5 September 1959, tersebut masih sanggup menjabat sebagai pengurus di masjid-masjid . Salah satu yang utama ialah karakter kepemimpinan yang telah terbebtuk dan terbiasa juga dengan dukungan kepercayaan orang lain kepadanya.

"Ya Alhamdulillah saya diberikan kepercayaan untuk membimbing masyarakat di kepengurusan masjid, saya sudah terbiasa baur kesana kemari ke kampung sebelah juga banyak kenalan baik itu dikampung sampai ke kota pun ada chanel. Terkait menjadi pengurus di lima masjid yang paling diutamakan tiga masjid dikampung saya cikuda yaitu Masjid Al-Hidayah, Al-Barokah, dan Al-Manami dan dua masjid nya di kampung sebelah yaitu Masjid Baitur Rahman di Jalan Palasari dan Masjid Al-Jariyah di kampung Panday untuk itu saya biasa gilir shalat berjemaah dua hari per-masjid-nya, tetapi saya lebih diutamakan di Masjid Al-Hidayah karena di situ saya menjabat sebagai ketua DKM satu juga merupakan masjid besar atau pusat di kampung saya," kandas ucap H. Ayi .

Diusia menuju kepala tujuh tidak hilang semangatnya untuk agama selagi beliau bisa jangkau akan diusahakan, tetapi disayangkannya penerus beliau tidak ada yang maju pedahal itu merupakan hal yang sangat di butuhkan masyarakat, masyarakat pun berharap dan berdoa supaya beliau selalu disehatkan selalu.

Reporter: Fadhil Fadhlur Rahman KPI 3/A

Masjid At-Ta’awun Parasdi, Berdiri Dengan Jerih Payah Bersama Untuk keberkahan bersama


Dakwahpos.com, Bandung - Masjid At-ta'awun Bandung, Kopo, bukan hanya sekadar tempat ibadah, melainkan juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pendidikan yang aktif. Dan juga untuk menanamkan keberkahan bagi masyarakat sekitar.

Masjid ini sampai sekarang masi aktif dalam berkegiatan keislaman, tak hanya shalat berjama'ah dan shalat jum'at akan tetapi masjid ini sering sekali mengadakan pengajian rutin untuk jama'ah sekitar.

Masjid ini pada awalnya hanya mempunyai satu lantai saja, akan tetapi sejak 2016 masjid ini mulai membangun lantai dua untuk kegiatan shalat berjamaah maupun pengajian.

DKM Masjid At-Ta'awun H.ende sutarman "Harapan berdirinya masjid ini semoga menjadi pembawa berkah dan bisa menambahkan keimanan para jama'ah".

Masjid ini sampai sekarang masih menjadi masjid yang makmur bagi jama'ah sekitar.

Reporter: Raja Muhammad Akmal / KPI 3C



H. Ende Sutarman, Ketua DKM Jadik Masjid Hidup, dan Terorganisir


Dakwahpos.com, Bandung- Bandung Ketua DKM At-Ta'awun H.Ende Sutarman sudah menjadi DKM At-Ta'awun kopo semenjak tahun 2013, Ustaz Dedi lahir pada tahun 1957 di Garut Jawa Barat. Ia menempuh Pendidikan non formal di salah satu pondok pesantren yang bertempat di Garut.

Selama menjabat, H.Ende menjelaskan bahwa target beliau pada masa jabatan beliau adalah menjadikan masjid At-ta'awun menjadi masjid yang hidup, dan terorganisir.

"Saya ingin menjadikan masji At-ta'awun ini semakin hidup dan banyak kegiatan yang dapat menanamkan nilai keislaman bagi jama'ah disini" ungkap H.Ende

Dari adanya masjid ini harapan H.Ende bisa membawa atau menumbuhkan semangat bagi para jama'ah untuk bisa saling menghidupkan masjid ini bersama sama, hingga tertanamnya hati pada rumah Allah SWT.

Reporter : Raja Muhammad Akmal / KPI 3C




Ustaz Yudi Mulyadi, Dari Pengajar, Ustaz, Sampai DPRD

Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz Yudi Mulyadi, seorang ustaz yang aktif menghidupkan masjid Hayya Al-Ajlan, kini mencalonkan diri menjadi DPRD Jawa Barat Dapil III.

Awalnya ustaz Yudi Mulyadi berprofesi menjadi guru disalah satu sekolah Aliyah yang ada disekitar desa Linggar, keaktifan nya dalam sebuah organisasi masyarakat menyadarkan beliau untuk berjuang menyiarkan dakwah rasul lewat konstitusi.

"Saya tahu betul bagaimana proses masuknya ajaran islam ke wilayah Rancaekek ini, karena saya mengalami pada saat itu. Berjuang lewat konstitusi adalah salah satu jalan yang kini saya ambil karena memang perlu adanya strategi dakwah lewat konstitusi untuk mempermudah ajaran islam ini masuk ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau, entah itu lewat perizinan ataupun kesiapan masyarakat dalam menerimanya." Ujar ustaz Yudi.

Visi berdakwah lewat konstitusi demi kemaslahatan umat ini bertujuan untuk menjadikan wilayah dapil III ini agar lebih mengenal tentang keislaman.

"Harapannya saya dapat menjadi perwakilan masyarakat daerah yang mampu mendahulukan kepentingan umat sebelum kepentingan yang lainnya" tambah beliau.

Reporter: Iqbal Fadillah/KPI 3 B

Tidak Ingin seperti Pohon yang Tak Berbuah, Ustaz Ilyas Abdillah Cari Celah dalam Menebarkan Ilmunya

Dakwahpos.com, Bandung- Ustaz Ilyas Abdillah, lahir di ujung timur Tanah Priangan, Kota Tasikmalaya. Merupakan seorang mahasiswa UIN SGD Bandung angkatan 2022. Awal mula ia merantau ke Bandung tak memiliki siapa-siapa. Namun ia mencoba melamar di salah satu pondok pesantren Jawahirul Umam. Dan alhamdulillah pada tahun 2022 bertepatan pada saat ia masuk kuliah, ia diterima sebagai pengajar tahfidz di sana. Tidak berlangsung lama, ia hanya sempat mengajar di sana selama 1 tahun setengah.

Seiring berjalannya waktu, qodarullah ia mendapatkan beasiswa KIP-K di UIN SGD Bandung. Sehingga ia mesti bermukim di Ponpes Al Ihsan sebagai salah satu syarat penerima beasiswa. Tak lama kemudian, menetapnya ia di sana dengan hanya mengaji saja itu membuat ia merasa langkah dakwahnya terhambat dan stagnan. Ilmu yang ia miliki hanya untuk dirinya pribadi, namun tidak berpengaruh untuk orang lain pada saat itu.

Maka dari situ ia mencari suatu masjid, dan meniatkan dengan ikhlas, meluruskan niat kembali untuk menyebarkan ilmu yg ia miliki untuk diberikan kepada orang lain. Akhirnya, ia menemukan sebuah masjid di belakang Ponpes Al-Ihsan, yakni Masjid Al-Amanah. Kemudian ia bernegosiasi kepada DKM masjid tersebut, untuk dapat membantu dan meramaikan masjid.

Nah, dari situ ia berinisiatif membuka lembaga pengajian anak-anak. Setelah ia beristikharah, ia membulatkan tekad dan niat untuk membuka pengajian Tahfidz Al-Amanah, dengan sistem pembelajaraannya yaitu menghafal Al-Qur'an dari juz 30.

Awalnya pengajian itu hanya diikuti oleh segelintir santri. Namun lambat laun, dengan antusias yang luar biasa dari para orang tua di sekitar Masjid Al-Amanah, yang tadinya 6 orang menjadi sekarang 40 orang lebih. Kemudian ia pun membuka pengajian privat sabtu dan minggu, yakni jam 4 sore, dengan sistem yang sama yakni menghafal.

"Ini semua tidak lain tidak bukan, semata hanya untuk menyebarkan ilmu kepada orang lain, karena hadist yang selalu saya jadikan pedoman, "Sebaik-baiknya di antara kalian ialah orang yang bermanfaat bagi yang lain" sehingga memotivasi diri saya agar senantiasa menyebarkan benih-benih manfaat bagi sesama muslim," ujar beliau.

Mulanya ia berjuang sendirian dalam mengajar 40 santri, ia merasa kewalahan, lantas ia merekrut teman-temannya dari pesantren, ada yang dari al ihsan, al muawanah, dan teman perkuliahannya, untuk dapat membantu dan membersamainya mengajar. Beberapa kali ia merekrut teman-temannya ,ada yg istiqomah dan ada pula yg memiliki kesibukan lain sehingga tidak dapat menjalankan amanatnya dengan baik. Nah sampai saat ini teman-temannya yang konsisten ada 5 orang, dan pengajian sudah berjalan 4 bulan dengan pengajar 5 orang ini, yang konsisten setiap hari datang membersamai anak-anak. Sambil membantu anak-anak menghafal, di sisi lain mereka dapat mengulang dan memperkuat hafalan Al-Qur'annya.


Reporter: Maulana Abdullah, KPI 3-B
© Dakwahpos 2024