Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Fauzu di Komplek Griya Cinunuk Indah (GCI), Cibiru Hilir, dibangun atas inisiatif para kiai dan ulama bersama pengurus RW 17 karena warga belum memiliki sarana ibadah yang layak. Masjid ini dibangun di lahan fasilitas umum yang semula direncanakan pengembang sebagai sarana olahraga. Lokasinya dipilih karena berada di titik tengah komplek, sehingga mudah dijangkau warga dari berbagai blok. Menurut Yayan selaku sekretaris masjid, masjid ini lahir dari kebutuhan masyarakat. Pada awal komplek berdiri, warga belum punya masjid dan sempat beribadah secara bergantian dari rumah ke rumah. Dari situ muncul gagasan membangun masjid umum untuk warga RW 17.
“Yang pertama kali punya ide tentunya datang dari para kiai dan ulama yang ada di lingkungan ini, karena mereka merasa ini sangat perlu untuk masyarakat. Para ustadz dan kiai itu lalu bekerja sama dengan pemerintah setempat, seperti RW, sampai akhirnya sepakat membangun masjid ini,” ujar Ustaz Yayan, Senin (26/10/2026).
Ia menjelaskan, pengembang sebenarnya menyiapkan lahan masjid di bagian belakang komplek. Namun warga menilai lokasi itu kurang strategis karena jauh dari sebagian besar blok. Warga lalu memindahkan sarana olahraga ke area lain dan memakai lahan di tengah komplek untuk masjid.
“Lokasi ini dipandang tepat supaya bisa terjangkau dari berbagai blok. Sarana ibadah kita dapat, dan sarana olahraga di depan masjid juga masih ada, terutama untuk anak-anak bermain basket dan lainnya,” katanya.
Masjid dibangun dua lantai karena jumlah penduduk RW 17 yang terus bertambah dan banyaknya anak yang belajar mengaji. Lantai dua diprioritaskan untuk kegiatan mengaji, sedangkan lantai bawah dipakai salat. Lantai tiga hanya dibuka saat Salat Idulfitri, ketika jemaah membeludak. Sejak berdiri, masjid belum pernah direnovasi besar. Pengurus hanya menambah fasilitas, seperti toilet dan tempat wudu, serta merawat bangunan. Ia berharap masjid ini terus dirawat dan dimanfaatkan warga.
“Masjid ini sarana paling pokok bagi masyarakat. Mari kita jaga bersama supaya tetap bisa dipakai untuk ibadah dan belajar mengaji,” pesannya.
Reporter: Tiara Raishya Rusdiansyah, KPI 3/D






