Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Khutbah Jumat Masjid Ar-Rahmah Cijerah: Ajak Jamaah Tingkatkan Keimanan dan Ketakwaan

Dakwahpos.com,Bandung - Masjid Ar-Rahmah Cijerah kebali dihadiri oleh para jama’ah yang menunaikan ibadah shalat Jum’at berjamaah pada Jum’at (25/09/2026). Berdasarkan khutbah yang disampaikan oleh Ustaz Mamad,mengenai meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Walaupun tema yang dibawakan oleh para khatib dalam khutbah jumat berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt. agar mendapatkan ridhonya dengan cara mendengarkan nasihat-nasihat yang di sampaikan terkumpulnya semua amal-amal shaleh agar mendapatkan syurganya Allah Swt.

Beliau menyampaikan bahwasannya sangatlah penting bagi kita untuk selalu menjaga keimanan kita dan ketakwaan kita dan berusaha untuk menjauhkan atas apa-apa yang dilarang oleh Allah Swt. Karena sesungguhnya apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. didalamnya ada sebuah kemaslahatan dan manfaat bagi kita semua.

Maka dari pada itu, marilah kita bersama-sama selalu meningkatkan keimanan dan ketakuan kita kepada Allah Swt. taqwa sebagaimana yang diajarkan oleh Ali bin Abi Talib R.A.Yang disebut dengan taqwa adalah takut kepada Allah yang maha agung. Kemudian mengamalkan atas apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. serta rido atas apa yang diberikan oleh Allah Swt.

Dapat di ambil kesimpulan bahwasannya iman dan takwa adalah dua hal yang saling tekait.Iman yang kuat akan menghasilkan takwa yang tinggi, dan takwa yang tinggi akan memperkokoh iman. Oleh karna itu,kita harus selalu berusaha untuk memperbaiki kedua aspek ini dalam hidup kita.

Reporter : Nirwan Abdul Aziz, KPI/3D

Ustaz Aep Fahrudin: Berniaga dengan Allah, Perniagaan yang Tak Pernah Merugi

Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Aep Fahrudin mengingatkan jemaah untuk tidak hanya mengejar keuntungan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal akhirat, dalam khutbah Jumat di Masjid dan Madrasah Nurul Ilmi, Jalan Jembar Wangi RT 05 RW 16, Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jumat (18/9/2026).

Menurut Ustaz Aep, sebagian orang merasa cukup dengan amal seadanya untuk akhirat, padahal orientasi seperti itu justru menunjukkan dunia masih lebih dominan dibanding harapan pada keuntungan akhirat.

Ia membandingkan usaha manusia dengan perniagaan bersama Allah. Dalam perdagangan duniawi, seseorang bisa untung, rugi, bahkan tidak memperoleh apa pun.

“Padahal apapun usaha yang kita lakukan hari ini masih ada dua kemungkinan, antara mereka yang mendapatkan keuntungan dari perniagaannya, atau mungkin ada yang mendapatkan kerugian bahkan bisa jadi dia tidak dapat keuntungan sedikit pun. Tetapi Allah SWT tidak demikian, Allah sudah sangat memberikan jaminan kepada kita bahwa dalam berniaga dengan-Nya tidak akan pernah mengalami kerugian sedikit pun,” ujar Ustaz Aep.

Ia melanjutkan dengan membacakan Surah At-Taubah ayat 111 yang menyatakan Allah membeli diri dan harta orang-orang beriman dengan balasan surga. Khatib juga merujuk Surah Ash-Shaff ayat 10
-12 tentang perniagaan yang menyelamatkan dari azab pedih, dengan dua syarat: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad dengan harta dan jiwa. Balasannya berupa ampunan dosa, surga yang dialiri sungai-sungai, dan tempat tinggal terbaik di surga 'Adn, disebut Al-Qur'an sebagai al-fauzul 'azhim, kemenangan yang agung.

Berbeda dengan kesuksesan dunia yang ukurannya relatif, Ustaz Aep menilai standar sukses akhirat telah ditetapkan Allah sehingga tidak menimbulkan perbedaan pendapat. Kehidupan, kesehatan, dan harta, katanya, adalah modal pemberian Allah yang harus diputar untuk kepentingan akhirat. Orang yang gagal di dunia masih bisa mengulang, sementara kegagalan di akhirat tidak menyediakan kesempatan kedua.

“Gagal di dunia, sepanjang ada kesempatan kita bisa mengulangnya, kita bisa belajar, kita bisa minta tambahan waktu. Tapi bagaimana kalau kita gagal di akhirat? Apakah kita mampu meminta tambahan waktu? Apakah kita bisa belajar kembali?” ujar Ustaz Aep.

Di akhir khutbah, Ustaz Aep mengingatkan tanda-tanda menjelang ajal: rambut memutih, fisik melemah, dan tubuh membungkuk ke tanah. Ia mengajak jemaah menjadikan tanda itu sebagai pengingat untuk memperbanyak pengorbanan harta, tenaga, dan waktu di jalan Allah.

“Utusan yang pertama adalah uban, rambut yang berubah dari hitam menjadi putih. Yang kedua, kelemahan fisik, kita mengalami kelemahan dan mustahil kembali muda. Yang ketiga, badan yang membungkuk ke tanah, menunjukkan kita akan kembali ke tanah. Pertanyaannya, utusan yang mana yang telah sampai kepada kita hari ini?” pungkas Ustaz Aep.

Reporter: Alpiyan Pasha, KPI/3D


Ustadzah Ai Nurjanah Ajak Jamaah Perkuat Tauhid dan Bijak dalam Menyikapi Perbedaan


 Dakwahpos, Bandung- Pengajian di Masjid At-Taufiq Pasirbiru pada Sabtu, 26 September, diisi dengan kajian keislaman yang membahas pentingnya dalam menjaga kemurnian tauhid dan kehati-hatian dalam memahami ajaran agama. Dalam kajiannya, Ustadzah Ai Nurjanah mengajak jamaah untuk tetap berpegang kepada Allah Swt. serta tidak mengikuti pemahaman yang menyimpang dari ajaran Islam.

Ustadzah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa para rasul tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menjadikan malaikat maupun nabi sebagai Tuhan. Para nabi dan malaikat adalah hamba Allah, bukan Tuhan yang disembah, jelasnya, dengan menegaskan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah Swt. Menurutnya, berbagai pemahaman keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat itu harus disikapi dengan hati-hati, terutama ketika seseorang mengajak untuk menyembah  kepada selain Allah. Ia mengingatkan para jamaah agar tidak mudah mengikuti setiap informasi keagamaan yang ditemukan, baik melalui media maupun lingkungan sekitar, tanpa mengetahui sumber dan dasar ajarannya.

Sekarang banyak pemahaman-pemahaman yang menyimpang, maka kita harus hati-hati dan tidak sembarangan dalam memilih guru, tutur Ustadzah Ai Nurjanah. Ia juga menyampaikan bahwa umat Islam itu sebaiknya belajar kepada guru yang memiliki pemahaman agama yang jelas dan juga memiliki sanad yang jelas serta berpegang pada ajaran yang diyakini berdasarkan petunjuk Islam.

Dalam kajian tersebut, Ustadzah Ai Nurjanah turut menyinggung perbedaan pendapat dalam persoalan fikih, salah satunya mengenai batalnya wudu akibat bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Ia menjelaskan bahwa perbedaan pendapat tersebut berkaitan dengan perbedaan mazhab yang terjadi di masyarakat, di antaranya seperti Mazhab Syafi’i dan Mazhab Maliki.

Beliau kemudian mengingatkan jamaah agar tidak memilih pendapat agama hanya berdasarkan kemudahan yang ingin diperoleh. Jangan mengambil yang gampang-gampangnya saja, wudunya mengikuti satu mazhab tetapi pembatalannya mengikuti dari mazhab yang lain, ungkapnya, seraya menjelaskan bahwa dalam persoalan fikih, umat Islam perlu memahami dasar pendapat yang diikutiinya secara penuh.

Lebih lanjut, Ustadzah Ai mengajak jamaah untuk tetap menghormati adanya perbedaan pemahaman di tengah masyarakat dan jangan mudah menyalahkan orang lain. Karena menurutnya, perbedaan dalam persoalan keagamaan perlu disikapi dengan bijak, sementara setiap Muslim tetap bertanggung jawab terhadap keyakinan dan amalan yang dijalankannya.

Menutup kajiannya, Ustadzah Ai Nurjanah mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang saleh tidak boleh melebihi kecintaan serta penghambaan kita kepada Allah Swt. Mencintai Rasul dan orang-orang yang mulia harus menjadi bagian dari kecintaan kita kepada Allah, bukan menjadikan mereka sebagai sesuatu yang disembah, pesannya, sekaligus mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga keimanan dan keislaman hingga akhir hayat.

Reporter: Sevilla Aulia, KPI/3C

 

Netty Prasetiyani Tekankan Pentingnya Jaminan Sosial Pekerja Informal


Dakwahpos.com, Bandung - Anggota DPR RI Dr. Hj. Netty Prasetiyani, M.Si. menghadiri sosialisasi perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi warga dan pekerja bukan penerima upah di Kampung Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Assalam Nur Salim tersebut bertujuan memberikan pemahaman mendalam terkait pentingnya jaring pengaman sosial bagi pekerja informal.

Acara sosialisasi bertajuk "Lindungi Pekerja, Wujudkan Sejahtera" ini dihadiri oleh warga lokal, santri MTQM, serta tamu undangan Tim Suksesi Ahmad Heryawan. Turut hadir pula sejumlah tokoh penting, di antaranya Wakil Bupati Bandung periode 2016-2021 Gun Gun Gunawan dan Kepala Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Cirebon Juliarta Sinulingga.

Dalam pemaparannya, Netty menjelaskan perbedaan mendasar antara BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan yang selama ini sering kali membingungkan masyarakat. Menurutnya, BPJS Kesehatan berfokus pada layanan medis dasar bagi seluruh warga, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan memberikan perlindungan atas risiko sosial ekonomi para pekerja.

"BPJS Kesehatan menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan Nasional yang wajib bagi seluruh rakyat, sementara BPJS Ketenagakerjaan dikhususkan untuk perlindungan risiko sosial ekonomi para pekerja," ujar Netty di hadapan para hadirin yang hadir, Jumat (25/9/2026).

Ia menambahkan bahwa seluruh aktivitas pekerjaan, termasuk sektor bukan penerima upah seperti pedagang, petani, dan pengemudi ojek, tidak lepas dari potensi risiko kerja. Risiko tersebut mencakup kecelakaan kerja, penyakit akibat lingkungan kerja, hingga musibah saat perjalanan berangkat dan pulang kerja.

"Melalui pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan, pekerja mendapatkan kepastian perlindungan medis tanpa batas biaya dan santunan bagi keluarga jika terjadi musibah," ungkap narasumber kegiatan tersebut, Jumat (25/9/2026).

Netty mengimbau seluruh warga dan tokoh masyarakat di wilayah Bandung untuk segera mendaftarkan diri serta anggota keluarganya ke dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan. Langkah ini dinilai sebagai bentuk tanggung jawab nyata dalam menjaga keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan keluarga.

Reporter: Virgie Muhammad Yassarsyah, KPI/3C

Bahas Rentetan Bencana Alam, Kajian Masjid Al-Ikhlas Bumi Harapan Ingatkan Jaga Lingkungan


Dakwahpos.com, Bandung- Majelis Taklim ibu-ibu Masjid Al-Ikhlas, Bumi Harapan, Cibiru menggelar pengajian rutin malam Jumat dengan mengupas tuntas materi mengenai fenomena rentetan bencana alam. Kajian ini ditujukan untuk mengingatkan jamaah agar lebih peduli terhadap pelestarian lingkungan di tengah maraknya musibah.

Dalam paparannya, penceramah menyoroti berbagai musibah alam seperti gempa bumi, banjir, hingga gunung meletus sebagai bentuk teguran. Kerusakan di muka bumi tersebut dijelaskan sering kali berawal dari kelalaian manusia yang enggan memelihara alam.

Jadi bumi yang kita pijak ini tiap saat memohon kepada Allah, izinkan ya Allah untuk menelan manusia, karena manusia hanya menikmatinya saja sedangkan mensyukurinya jarang sekali, ungkap Ustaz saat memaparkan materi, Kamis (1/10/2026).

Untuk mencegah kerusakan yang lebih parah, penceramah mengajak para jamaah mempraktikkan aksi nyata memelihara bumi dari lingkungan terdekat. Langkah sederhana yang dianjurkan antara lain adalah membersihkan saluran air serta menanam pohon di sekitar pekarangan rumah.

Materi peringatan mengenai bumi yang bisa murka ini rupanya berhasil menyita perhatian dan menyentuh hati jamaah. Mereka menyadari betapa manusia sering kali hanya memanfaatkan hasil alam tanpa memikirkan cara merawatnya.

Tadi disebutkan kalau bumi sudah marah, laut sudah marah, dengan tingkah manusia yang hanya mengambil manfaatnya saja tidak merawatnya, ungkap Ibu Haji Asep, Kamis (1/10/2026).

Selain menyoroti soal kelestarian alam, penceramah juga menyelipkan materi tentang pentingnya menjaga kerukunan bertetangga. Pendekatan materi yang sangat membumi inilah yang membuat kajian selalu dinanti oleh jamaah.

Materi yang paling kena bagi saya itu tentang kerukunan dan sedekah dengan tetangga. Karena keseharian, jadi kebanyakan ceramah kita itu memang tentang kehidupan ibu-ibu, ujar Ibu Jamaah Lain, Kamis (1/10/2026).

Reporter: Farah Novita Maharani, KPI/3C

Ibu-Ibu Belajar Hafal Ayat Al-Qur'an Bersama


Dakwahpos.com, Bandung Pengajian ibu-ibu di Masjid Al-Kautsar, Ciborelang, diisi dengan kegiatan menghafal ayat atau surat Al-Qur'an. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian dari aktivitas keagamaan yang memberi ruang bagi para ibu untuk belajar dan memperdalam kemampuan membaca Al-Qur'an. Kegiatan pengajian ini berlangsung pada hari Rabu (30/9/2026).

Kegiatan berlangsung dengan bimbingan Ustazah Siti Maryam yang mengarahkan jamaah dalam membaca ayat yang menjadi bahan hafalan. Para ibu mengikuti bacaan secara bersama sebelum mendapat kesempatan untuk membacakan hafalan secara bergiliran.

Setiap jamaah mendapat kesempatan untuk membaca ayat satu per satu di hadapan jamaah lainnya. Kegiatan tersebut memberi ruang bagi para ibu untuk melatih kelancaran membaca sekaligus mengingat ayat yang telah dipelajari.

Selain melatih hafalan, kegiatan tersebut dapat membantu jamaah lebih dekat dengan Al-Qur'an melalui kegiatan membaca dan mengulang ayat secara rutin. Hafalan yang dilakukan secara bertahap juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan belajar Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan pengajian juga menjadi kesempatan bagi para ibu untuk berkumpul dan belajar dalam suasana kebersamaan. Interaksi selama pengajian dapat mempererat hubungan antar jamaah sekaligus menciptakan lingkungan yang saling mendukung dalam belajar Al-Qur'an.

Para jamaah mengikuti kegiatan dengan menyimak bacaan, mengulang ayat, dan menyetorkan hafalan masing-masing. Proses tersebut membuat setiap jamaah dapat berlatih sesuai kemampuan hafalan yang telah dipelajari.

Kegiatan menghafal Al-Qur'an juga dapat melatih konsistensi jamaah dalam menjaga hafalan. Pengulangan ayat secara rutin membantu jamaah mempertahankan hafalan yang sudah dipelajari agar tidak mudah terlupakan.

Pengajian ibu-ibu di Masjid Al Kautsar Ciborelang tidak hanya menjadi kegiatan untuk menambah hafalan Al-Qur'an, tetapi juga menjadi ruang belajar dan mempererat kebersamaan. Melalui kegiatan tersebut, para jamaah dapat mengembangkan kebiasaan membaca Al-Qur'an sekaligus melatih hafalan secara bersama.

Reporter: Wening Surti Palupi, KPI 3C

Pengajian Anak Jadi Ruang Baca dan Hafal Al-Quran


Dakwahpos.com, Bandung Pengajian anak-anak di Masjid Al-Kautsar, Ciborelang, menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar membaca dan menghafalAl-Qur'an. Kegiatan tersebut diikuti oleh anak-anak di sekitar Perumahan Manglayang Regency khususnya di Blok K, dan berlangsung pada hari Selasa (29/09/2026).

Kegiatan pengajian diawali dengan membaca Al-Quran secara bersama-sama. Anak-anak mengikuti bacaan yang diarahkan oleh guru ngaji dengan memperhatikan pelafalan dan kelancaran membaca ayat-ayat Al-Qur'an.

Setelah kegiatan membaca, anak-anak melanjutkan dengan menghafal ayat-ayat Al-Qur'an khususnya surat-surat pendek pada Juz 30. Proses hafalan dilakukan secara bertahap melalui pengulangan bacaan agar anak-anak lebih mudah mengingat ayat yang dipelajari.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi tempat belajar membaca dan menghafal Al-Qur'an, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan Al-Qur'an kepada anak sejak usia dini. Anak-anak dibiasakan untuk dekat dengan Al-Qur'an melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin.

Suasana pengajian berlangsung secara bersama-sama dengan bimbingan guru ngaji. Anak-anak mengikuti bacaan dan hafalan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Pengulangan bacaan juga membantu anak-anak dalam mengingat ayat yang sedang dipelajari.

Kebiasaan membaca dan menghafal Al-Qur'an sejak usia dini dapat menjadi bagian dari aktivitas keagamaan anak sehari-hari. Selain kemampuan membaca dan hafalan, kegiatan tersebut juga mengajarkan anak untuk membangun kedekatan dengan Al-Qur'an.

Melalui pengajian tersebut, anak-anak diharapkan semakin terbiasa membaca dan menghafal Al-Qur'an serta memiliki kecintaan terhadap Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.

Reporter: Wening Surti Palupi, KPI/ 3C

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos