Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Dari Lahan Olahraga Menjadi Pusat Ibadah: Sejarah Masjid Al-Fauzu Cibiru Hilir


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Fauzu di Komplek Griya Cinunuk Indah (GCI), Cibiru Hilir, dibangun atas inisiatif para kiai dan ulama bersama pengurus RW 17 karena warga belum memiliki sarana ibadah yang layak. Masjid ini dibangun di lahan fasilitas umum yang semula direncanakan pengembang sebagai sarana olahraga. Lokasinya dipilih karena berada di titik tengah komplek, sehingga mudah dijangkau warga dari berbagai blok. Menurut Yayan selaku sekretaris masjid, masjid ini lahir dari kebutuhan masyarakat. Pada awal komplek berdiri, warga belum punya masjid dan sempat beribadah secara bergantian dari rumah ke rumah. Dari situ muncul gagasan membangun masjid umum untuk warga RW 17. 

“Yang pertama kali punya ide tentunya datang dari para kiai dan ulama yang ada di lingkungan ini, karena mereka merasa ini sangat perlu untuk masyarakat. Para ustadz dan kiai itu lalu bekerja sama dengan pemerintah setempat, seperti RW, sampai akhirnya sepakat membangun masjid ini,” ujar Ustaz Yayan, Senin (26/10/2026). 

Ia menjelaskan, pengembang sebenarnya menyiapkan lahan masjid di bagian belakang komplek. Namun warga menilai lokasi itu kurang strategis karena jauh dari sebagian besar blok. Warga lalu memindahkan sarana olahraga ke area lain dan memakai lahan di tengah komplek untuk masjid. 

“Lokasi ini dipandang tepat supaya bisa terjangkau dari berbagai blok. Sarana ibadah kita dapat, dan sarana olahraga di depan masjid juga masih ada, terutama untuk anak-anak bermain basket dan lainnya,” katanya.  

Masjid dibangun dua lantai karena jumlah penduduk RW 17 yang terus bertambah dan banyaknya  anak yang belajar mengaji. Lantai dua diprioritaskan untuk kegiatan mengaji, sedangkan lantai bawah dipakai salat. Lantai tiga hanya dibuka saat Salat Idulfitri, ketika jemaah membeludak. Sejak berdiri, masjid belum pernah direnovasi besar. Pengurus hanya menambah fasilitas, seperti toilet dan  tempat wudu, serta merawat bangunan. Ia berharap masjid ini terus dirawat dan dimanfaatkan warga. 

“Masjid ini sarana paling pokok bagi  masyarakat. Mari kita jaga bersama supaya tetap bisa dipakai untuk ibadah dan belajar mengaji,”  pesannya. 

Reporter: Tiara Raishya Rusdiansyah, KPI 3/D


Rahasia Ketekunan Pengajian Anak di Masjid Umar Bin Khattab Rancaekek

Dakwahpos.com, Bandung - Pengajian rutinan anak-anak setelah maghrib di Masjid Umar Bin Khattab Rancaekek, berlangsung penuh kehangatan pada Rabu (04/11/2026). Pengajar pengajian, Ustaz Agus Mudono, secara konsisten membimbing para santri cilik sebagai bentuk ibadah untuk mencetak generasi yang saleh dan salehah serta bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

"Yang menjadi motivasi karena kita sebagai manusia itu punya tugas untuk beribadah tergantung kemampuan, ada yang mampunya dengan uang, ada yang dengan ilmu," katanya.

Ia menjelaskan bahwa strategi pengajaran anak-anak memerlukan banyak variasi, seperti menyisipkan gerakan, cerita, dan lelucon bermanfaat agar santri tidak merasa jenuh. Selain itu, ia juga memotivasi para murid agar menjadi anak saleh yang selalu mendoakan serta membalas jasa kedua orang tua mereka.

"Momen yang berkesan itu misalnya dalam keadaan hujan, mereka itu masih sangat semangat meskipun harus membawa payung," ujarnya.

Dia menekankan pentingnya keteladanan pengajar dalam hal kedisiplinan kehadiran karena ketidakhadiran guru dapat mengurangi minat belajar anak-anak. Ia menambahkan bahwa keberhasilan pengajian juga sangat dipengaruhi oleh semangat dari dalam diri anak serta dorongan besar dari para orang tua.

Menurutnya, semoga pengajian rutinan maghrib di Masjid Umar Bin Khattab ini dapat terus berjalan lancar dan melahirkan anak-anak yang semakin saleh, salehah, serta selalu bersemangat dalam menuntut ilmu, dan sebagai yang mengajarnya juga bisa memberikan contoh baik bagi anak-anak.

Reporter: Muhammad Rizky Maulana KPI/3D

Ustaz Faturahman: Racun pun Tak Berdampak bagi yang Bertawakal


Dakwahpos.com, Bandung- Ustaz Faturahman menyampaikan kajian hadis di hadapan jemaah Masjid Al-Fauzu, Komplek Griya Indah, Cibiru Hilir, Kota Bandung, pada Senin (19/10/2026). Dalam ceramahnya, ia bercerita tentang sahabat Khalid bin Walid yang minum racun dan tidak kenapa-kenapa. Kisah itu ia pakai untuk mengingatkan jemaah supaya yakin penuh kepada Allah.

Menurut Ustaz Faturahman, orang yang benar-benar yakin dengan agama dan Tuhannya tidak akan ragu, khawatir, apalagi takut. Ia memberi contoh, ketika ada gelas berisi racun, orang yang yakin akan langsung mengambilnya lalu membaca basmalah. Dengan begitu, racun di dalam gelas itu tidak akan berpengaruh apa-apa kepadanya.

“Kalau kamu yakin dengan agamamu dan yakin dengan Tuhan, ya tidak ragu, tidak khawatir, tidak takut. Gelasnya langsung diambil, lalu baca bismillahirrahmanirrahim. Racun di gelas itu tidak berpengaruh sama saya, sahabat Khalid bin Walid juga tidak kena,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa hal itu bisa terjadi karena semua kekuatan di muka bumi berada dalam kuasa Allah. Kalau Allah sudah menjaga seseorang secara langsung, tidak ada makhluk yang bisa mencelakainya. Semua tunduk pada kehendak Allah, termasuk benda yang biasanya berbahaya bagi manusia.

“Semua kekuatan yang ada di muka bumi ini ada dalam genggaman Allah. Kalau Allah sudah berkehendak, semuanya pasti tunduk,” tuturnya.

Di akhir ceramah, Ustaz Faturahman berpesan agar jemaah memperkuat keyakinan kepada Allah dalam menghadapi masalah apa pun. Ia mengajak jemaah memulai setiap urusan dengan basmalah, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah. Menurutnya, selama yakin, tidak ada yang perlu ditakuti.

Reporter: Tiara Raishya Rusdiansyah, KPI 3/D


Sejarah Masjid Umar bin Khattab Rancaekek, Dari Simbol Pemersatu Hingga Pusat Pendidikan Umat


Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Umar bin Khattab yang berlokasi strategis di kawasan perumahan Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, terus berkembang menjadi sarana ibadah dan pusat kegiatan warga sejak pertama kali didirikan pada tahun 2010. Pengurus masjid, Ustaz Juhendi, menyampaikan bahwa tempat ibadah ini dibangun berkat gotong royong jemaah serta masyarakat sekitar sebagai simbol pemersatu umat di lingkungan tersebut.

"Masjid ini berdiri atas motivasi jemaah dan warga yang menginginkan sarana ibadah sebagai simbol pemersatu, serta dinamai Umar bin Khattab agar kami dapat meneladani semangat perjuangan dan kejujuran sahabat Nabi Muhammad SAW tersebut," katanya.

Ia mengungkapkan bahwa pembangunan awal tempat ibadah ini terwujud berkat kerja sama swadaya warga serta dukungan donatur pertama dari sebuah yayasan kemasjidan di Subang. Dia menambahkan bahwa keberadaan masjid di pinggir jalan ini diharapkan mampu membangkitkan peradaban Islam serta menjadi contoh positif bagi masyarakat luas.

"Awalnya kami hanya berniat mendirikan tempat ibadah saja, tetapi seiring perkembangan zaman, masyarakat menginginkan adanya sarana pendidikan keagamaan anak-anak sehingga kami membangun madrasah hingga mendirikan Yayasan Umar bin Khattab," tuturnya.

Dia menjelaskan bahwa yayasan tersebut kini telah menaungi berbagai jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TPQ, hingga SDIT. Ia menyebutkan bahwa perluasan fasilitas pendidikan ini berlangsung sangat cepat untuk merespons kebutuhan masyarakat akan pendidikan berbasis Islam di Rancaekek.

Ustaz Juhendi berpesan agar keberadaan masjid dan fasilitas pendidikan ini dapat terus memberikan manfaat secara berkesinambungan. Menurutnya, meskipun berdiri di lingkungan perumahan yang tidak terlalu besar, Masjid Umar bin Khattab bercita-cita menjadi pusat dakwah Islam yang menjadi rujukan utama di tingkat kecamatan hingga Kabupaten Bandung.

Reporter: Muhammad Rizky Maulana KPI/3D

Rahasia Ketekunan Pengajian Anak di Masjid Umar Bin Khattab, Rancaekek


Dakwahpos.com, Bandung - Pengajian rutinan anak-anak setelah maghrib di Masjid Umar Bin Khattab Rancaekek, berlangsung penuh kehangatan pada Rabu (04/11/2026). Pengajar pengajian, Ustaz Agus Mulyono, secara konsisten membimbing para santri cilik sebagai bentuk ibadah untuk mencetak generasi yang saleh dan salehah serta bermanfaat bagi dunia dan akhirat.

"Yang menjadi motivasi karena kita sebagai manusia itu punya tugas untuk beribadah tergantung kemampuan, ada yang mampunya dengan uang, ada yang dengan ilmu," katanya.

Ia menjelaskan bahwa strategi pengajaran anak-anak memerlukan banyak variasi, seperti menyisipkan gerakan, cerita, dan lelucon bermanfaat agar santri tidak merasa jenuh. Selain itu, ia juga memotivasi para murid agar menjadi anak saleh yang selalu mendoakan serta membalas jasa kedua orang tua mereka.

"Momen yang berkesan itu misalnya dalam keadaan hujan, mereka itu masih sangat semangat meskipun harus membawa payung," ujarnya.

Dia menekankan pentingnya keteladanan pengajar dalam hal kedisiplinan kehadiran karena ketidakhadiran guru dapat mengurangi minat belajar anak-anak. Ia menambahkan bahwa keberhasilan pengajian juga sangat dipengaruhi oleh semangat dari dalam diri anak serta dorongan besar dari para orang tua.

Menurutnya, semoga pengajian rutinan maghrib di Masjid Umar Bin Khattab ini dapat terus berjalan lancar dan melahirkan anak-anak yang semakin saleh, salehah, serta selalu bersemangat dalam menuntut ilmu, dan sebagai yang mengajarnya juga bisa memberikan contoh baik bagi anak-anak.

Reporter: Muhammad Rizky Maulana KPI/3D

Masjid Al-Amanah Apresiasi Kreativitas Santri Lewat Suksesnya Haflah Imtihan Pertama


Dakwahpos.com, Bandung - Pondok Pesantren Masjid Al-Amanah Cibiru Wetan untuk pertama kalinya sukses menggelar kegiatan haflah imtihan sekaligus peringatan ulang tahun berdirinya pesantren yang diselenggarakan dengan meriah dan lancar oleh para santri serta dihadiri oleh orang tua murid dan mahasiswa di lingkungan setempat pada awal November 2026.

"Apa ya? Ulang tahun berdirinya pesantren ini. Ini juga kebetulan pertama kali diadain acara ini tuh, pertama kali diadain, apresiasi aja sih buat anak-anak selama mereka belajar," ujar Ibu Yuni selaku orang tua murid.

Pelaksanaan acara perdana ini mendapat sambutan hangat karena dipersiapkan dari jauh-jauh hari dan menampilkan kemampuan terbaik anak-anak secara mandiri di atas panggung. 

"Ya alhamdulillah gitu kegiatannya berjalan lancar. Terus kan ini emang sudah dipersiapkan dari bulan-bulan sebelumnya gitu. Alhamdulillah anak-anaknya juga sekarang bisa tampil gitu sesuai kemampuan mereka sendiri," ungkap Riska selaku mahasiswa sosiologi yang turut memantau jalannya acara. 

Melalui kesuksesan di tahun perdana ini, para orang tua dan panitia berharap kegiatan haflah imtihan dapat terus berlanjut setiap tahunnya dengan kemasan yang lebih meriah, kompak, serta mampu mendorong perkembangan potensi anak-anak ke arah yang lebih baik. 

Reporter: Nawal Sahputri, KPI/3D

Nikmatnya: Sujud Syukur Dan Harapan Syafaat Rasullullah SAW

 

Dakwahpos.com, Bandung- Ustadz Nuron Taufik beserta jemaah menggelar pengajian rutin yang diisi dengan kajian keagamaan dan sujud syukur bersama di masjid, Sabtu (31/09/2026).  

 Kegiatan yang dihadiri oleh puluhan jemaah ini berlangsung dengan khidmat sejak pagi hari. Selain melafalkan zikir dan selawat, jemaah juga mendengarkan tausiyah keagamaan.  

 Penceramah mengingatkan pentingnya menjaga kerendahan hati serta selalu memohon ampunan atas segala kesalahan. Jemaah diajak untuk senantiasa memperbanyak istighfar agar terhindar dari sifat kesombongan.  

 "Urang mah loba kakurangan, lobana mikiran diri, hapunten dosa-dosa abdi utamina ka Gusti Allah nu Maha Suci," ujar penceramah di hadapan para jemaah, Sabtu (31/09/2026).  

 Pengurus majelis juga mengabarkan persiapan keberangkatan jemaah umrah serta program ibadah mendatang. Acara pengajian ditutup dengan sujud syukur bersama seluruh jemaah yang hadir.  

Reporter: Zahro Siti Saadah, KPI/3A


Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos