Dakwahpos.com, Bandung – Suasana Minggu malam (11/10/2026) di kediaman Hajah Diyah terasa begitu hangat saat ia mengungkap sejarah Masjid Al-Wahdah, Batununggal. Di balik megahnya bangunan yang kini menjadi pusat syiar Islam tersebut, tersimpan riwayat kelam yang cukup mengejutkan. Hajah Diyah menuturkan bahwa kawasan Batununggal pada masa lampau justru dikenal luas sebagai "kampung merah", yakni basis operasi sekaligus asrama pergerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Jawa Barat.
Jauh sebelum berdiri megah seperti sekarang, cikal bakal masjid ini rupanya sudah ada sejak era sebelum kemerdekaan. Hajah Diyah mengungkapkan bahwa masjid ini pertama kali dibangun pada tahun 1930-an oleh sang ayah, K.H. Ahmad Dawan. Pada masa itu, wujudnya belum berupa bangunan masjid besar, melainkan hanya sebuah masjid kecil yang lebih menyerupai langgar atau surau sederhana tempat segelintir warga sekitar mengaji dan salat berjamaah.
Perjuangan K.H. Ahmad Dawan merintis dakwah di sarang komunis tentu bukan perkara mudah. Ulama gigih yang sudah menjadi yatim sejak kecil dan menimba ilmu di bawah bimbingan Mama Ahmad Syafi'i ini harus menghadapi berbagai teror fisik yang nyata. Puncaknya terjadi ketika asrama pesantren di lokasi tersebut dibakar habis oleh para pemuda PKI. Bukannya mundur, insiden mengerikan itu justru memantik tekadnya untuk mewujudkan fondasi akidah yang lebih kokoh di kawasan rawan tersebut.
Langkah nyata perlawanan melalui pendidikan agama itu diwujudkan dengan renovasi fisik langgar secara bertahap pada tahun 1979, hingga akhirnya memasuki perombakan total berskala besar pada tahun 1996. Pada fase krusial inilah panitia pembangunan dihadapkan pada ujian berat karena Rencana Anggaran Biaya (RAB) mencapai Rp110 juta. Nominal tersebut terasa mustahil diwujudkan karena dana kas awal yang dimiliki pihak panitia masjid saat itu hanyalah sekitar Rp11 juta.
Di tengah keterbatasan itu, Hajah Diyah mengisahkan bagaimana keajaiban dan pertolongan Allah SWT hadir menembus kemustahilan hitungan manusia. Keajaiban bermunculan, mulai dari sumbangan perhiasan emas senilai Rp16 juta dari seorang wanita tak dikenal, hingga penemuan tak terduga uang tunai Rp45 juta di dalam tas. "Masyaallah, pami Allah tos ngersakeun mah, jalan rezeki kanggo ngawangun bumi-Na téh salawasna aya waé ti arah nu teu disangka-sangka," ungkap Hajah Diyah mengenang peristiwa tersebut. Pada akhirnya, total biaya perluasan yang membengkak hingga Rp1,3 miliar berhasil dilunasi tanpa utang sepeser pun berkat gotong royong warga dan kedermawanan tokoh lokal seperti Haji Hasim.
Tak hanya berfokus pada fisik bangunan masjid, semangat dakwah K.H. Ahmad Dawan terus diwariskan dengan memperluas jangkauan syiar ke sektor pendidikan umat. Hal ini dibuktikan melalui keikhlasan pihak keluarga yang mewakafkan tanah pribadi mereka untuk pembangunan Taman Kanak-Kanak (TK) dan madrasah. Langkah ini kemudian disempurnakan dengan suksesnya pembangunan gedung tiga lantai pada kurun waktu 2014-2015, guna menampung jemaah dan pelajar yang kian bertambah. Hingga saat ini, Al-Wahdah telah bertransformasi menjadi sebuah lembaga yayasan yang berdiri kokoh sebagai pusat syiar agama Islam di Batununggal.
Menutup perbincangan malam yang penuh inspirasi tersebut, Hajah Diyah menitipkan amanat penting bagi generasi muda, para pengurus masjid, dan masyarakat. Ia menegaskan agar umat Islam senantiasa menjaga keikhlasan beramal, menegakkan salat, dan merutinkan tilawah Al-Qur'an. "Omat ulah pisan-pisan ninggalkeun amanah kanggo memakmurkeun ieu masjid sareng madrasah, margi di dinya pisan ayana kabarokahan hirup urang," pesannya dengan lembut, mengestafetkan semangat dakwah sang ayahanda yang tak akan pernah padam.
Reporter: Muhamad Fahmy Assowab, KPI/3B


