Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Menjaga Kebersihan di Sayyidul Ayyam, Santri Al-Mu’awanah Gelar Jumat Bersih

DakwahPos, Bandung — Santri Pondok Pesantren Al-Mu’awanah rutin melaksanakan kegiatan Jumat Bersih di lingkungan pondok, terutama area masjid. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Jumat, 25 September 2026, sebagai upaya menjaga kebersihan lingkungan pondok.

Masjid menjadi salah satu area yang diprioritaskan dalam kegiatan tersebut karena digunakan sebagai tempat salat. Selain itu, madrasah juga menjadi perhatian karena digunakan untuk kegiatan pengajian. Kebersihan kedua tempat tersebut dinilai penting agar santri dapat beribadah dan menuntut ilmu dengan nyaman.

Rihma, Dewan Perwakilan Santri Al-Mu’awanah, menjelaskan bahwa Jumat dipilih sebagai waktu pelaksanaan karena dikenal sebagai sayyidul ayyam atau rajanya hari “Ada istilah bahwasanya Jumat itu adalah sayyidul ayyam, itu rajanya para hari. Jadi di situ terdapat ajaran kuat bahwasanya setiap hari Jumat itu harus bersih, baik itu dari segi badan, lingkungan dan yang lainnya sebelum berangkat salat Jumat,” ujar Rihma saat diwawancarai pada Sabtu, 26 September 2026.

Dalam menjaga kebersihan masjid, terdapat pula perhatian terhadap kesucian tempat ibadah. Rihma menyebut salah satu kendala yang perlu ditangani secara khusus adalah ketika terdapat najis, seperti kotoran hewan, terlebih jika mengenai sajadah. Pembersihan dilakukan secara lebih teliti dengan memperhatikan anjuran dalam fikih.

“Kalau misalnya ada najis baik itu berupa kotoran hewan atau apa pun, kita harus benar-benar ekstra dalam membersihkannya. Apalagi kalau misalnya kotoran itu ada di sajadah masjid,” ujar Rihma.

Menurut Rihma, menjaga kebersihan tempat ibadah dan tempat belajar merupakan kesadaran yang perlu dimiliki bersama oleh santri maupun jamaah. Ia berharap kebersihan lingkungan pondok terus dijaga karena kondisi yang bersih dapat menciptakan kenyamanan dalam beribadah dan menuntut ilmu. “Dari kebersihan itulah akan menciptakan sebuah kenyamanan dalam beribadah dan juga menuntut ilmu,” tutur Rihma.

Reporter: Amanda Najwa Syarif, KPI/3D

 

Ustaz Faqih Al Mubarak Ajak Jemaah Cilengkrang Perbarui Niat dan Perbanyak Selawat

Dakwahpos.com, Bandung - Jemaah pengajian memadati Masjid Madin Al Islamiyah, Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (20/09/2026).

Kedatangan ratusan jemaah tersebut bertujuan untuk menghadiri acara peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. bersama penceramah Ustaz Faqih Al Mubarak.

Dalam ceramahnya, Ustaz Faqih Al Mubarak mengulas tentang hakikat pengakuan kekuasaan Allah Swt., pentingnya meluruskan niat (tajdidun niyah), tawasul, hingga keutamaan membaca selawat.

Ia mengingatkan jemaah bahwa seluruh alam semesta beserta isinya merupakan milik Allah Swt. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk senantiasa meramaikan lingkungan tempat tinggal dengan kegiatan ibadah dan menjaga kerukunan antartetangga.

"Lembur teh nu Gusti Allah, taneuhna nu Allah, sadayana ge nu Gusti Allah. Menta ka Allah mudah-mudahan ieu lembur teh sing dipenuhan ku abdina Allah," ujar Ustaz Faqih Al Mubarak.

Selain itu, penceramah juga menjelaskan kebolehan bertawasul menggunakan keagungan Rasulullah saw. (bi jaahi ya Rasulallah) sebagai sarana berdoa kepada Allah Swt., baik untuk memohon kesembuhan penyakit maupun kelancaran rezeki. Jemaah turut diajak untuk rutin membaca selawat, seperti Selawat Syifa untuk obat jasmani dan batin, serta Selawat Busyro untuk memohon kebahagiaan.

"Sesungguhnya pelantara Nabi itu adalah pertolongan bagi seluruh umat Islam," jelasnya saat menerangkan hadis tentang pentingnya menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai wasilah.

Lebih lanjut, Ustaz Faqih Al Mubarak mengutip pandangan Syekh Imam Al-Junaidi Al-Baghdadi dalam kitab I'anatuth Tholibin mengenai keutamaan orang-orang yang menyediakan makanan, mengumpulkan jemaah, serta mengorbankan harta maupun tenaga demi mengagungkan kelahiran Nabi Muhammad saw.

Melalui peringatan ini, penceramah berharap jemaah dapat terus memperbarui niat dalam menghadiri majelis ilmu serta makin mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Reporter: Fatheeya Reezqya AS, KPI/3D


 

Masjid Madin Al-Islamiyah Gelar Kajian Tafsir Surah Asy-Syu'ara

 

Dakwahpos.com, Bandung - Jemaah pengajian memadati Masjid Madin Al-Islamiyah, Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Sabtu (28/09/2026).

Kedatangan puluhan jemaah tersebut bertujuan untuk mengikuti kajian tafsir Al-Qur'an Surah Asy-Syu'ara ayat 23 hingga 27 bersama Ustaz Engkos Kosasih

Dalam ceramahnya, Ustaz Engkos Kosasih mengulas tentang dialog dan perdebatan antara Nabi Musa a.s. dan Raja Firaun mengenai hakikat Allah Swt. sebagai Tuhan semesta alam (Rabbul 'alamin).

Ia menjelaskan bahwa Allah Swt. bukan hanya menciptakan alam semesta, melainkan juga mengurus, mengatur, serta menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya.

"Sakabeh binatang nu melata di muka bumi ieu, komo jelema, ku Allah diciptakeun, dihirupkeun di bumi ieu teh dibarengan jeung rizkina," ujar Ustaz Engkos Kosasih.

Lebih lanjut, penceramah menerangkan bahwa Firaun yang tidak mampu membantah kebenaran argumen Nabi Musa a.s. akhirnya memilih untuk menyerang secara pribadi dengan menuduh Nabi Musa a.s. sebagai orang gila.

Menurutnya, peristiwa tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa kebenaran yang bersumber dari Allah Swt. pada akhirnya akan selalu mengalahkan kebatilan yang didasari hawa nafsu.

Melalui kajian ini, Ustaz Engkos Kosasih mengingatkan jemaah agar tetap teguh memegang kebenaran dan menjaga hidayah, terutama di era akhir zaman saat kebenaran sering kali terabaikan oleh jumlah atau popularitas semata.

Reporter: Fatheeya Reezqya AS, KPI/3D


Ustazah Lalah Nurfadhilah Ajak Anak-Anak DTA Kelas 1 Tekun Membaca dan Menulis Arab


Dakwahpos.com, Bandung – Ustazah Lalah Nurfadhilah membimbing anak-anak Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) kelas 1 dalam kegiatan membaca Iqro serta latihan membaca dan menulis huruf Arab di Masjid Al-Muslim Cikalang, Kamis (01/10/2026). Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk membangun pemahaman awal anak-anak terhadap dasar-dasar bacaan Al-Qur'an dan pelajaran agama sejak usia dini.

Mengenai materi pelajaran yang diajarkan, Ustazah Lalah Nurfadhilah menjelaskan bahwa selain belajar membaca Iqro dalam program Baca Tulis Al-Qur'an (BTQ), anak-anak DTA juga mempelajari buku subtema yang mencakup pelajaran Al-Qur'an Hadis, Aqidah Akhlak, Fikih, Bahasa Arab, hingga Tarikh.

"Kalau di sini biasanya disebut BTQ, Baca Tulis Al-Qur'an. Anak-anak kelas 1 bacaannya masih Iqro, cuma belajar menulis huruf Arab. Selain BTQ, ada buku pelajaran subtema yang diganti setiap hari, seperti Al-Qur'an Hadis, Aqidah Akhlak, Fikih, Bahasa Arab, dan Tarikh," tuturnya.

Ia menekankan bahwa pentingnya kegiatan membaca dan menulis di tingkat dasar ini bertujuan untuk mempersiapkan anak-anak DTA agar memiliki catatan serta siap menghadapi ujian di akhir semester.

"Penting agar anak-anak nantinya bisa membaca Al-Qur'an. Sebelum membaca Al-Qur'an kan di sini baca Iqro dulu. Kalau mencatat pelajaran juga penting agar anak-anak punya catatan, jadi saat ada ujian akhir semester mereka sudah ada bahan yang dicatat," ujarnya.

Mengenai metode pengajaran, Ustazah Lalah Nurfadhilah melatih kelancaran anak-anak DTA dengan memberikan tugas menuliskan huruf Arab dan huruf latin secara berulang sebanyak lima baris.

"Setiap hari strateginya menulis huruf Arab dan huruf latin. Yang pertama disuruh menulis lima baris dengan kalimat yang sama agar cepat mengerti dan lancar menulisnya. Untuk perkembangan anak beda-beda, yang di rumahnya dibimbing orang tua biasanya lebih cepat lancar," ucapnya.

Melalui pembiasaan membaca dan menulis ini, Ustazah Lalah Nurfadhilah berharap anak-anak DTA dapat membaca dengan lancar serta mampu mengerjakan soal-soal ujian dengan baik.

"Harapannya anak-anak mudah-mudahan bisa membaca dengan lancar, pengetahuannya bertambah, dan nanti pada waktu ulangan akhir semester bisa mengerjakan soal yang diberikan," tuturnya.

Reporter: Siti Zenab, KPI/3D

Ustazah Siti Robiatul Adawiyah Bimbing Pembiasaan Baca Al-Qur'an Anak-Anak DTA di Masjid Al -Muslim Cikalang


Dakwahpos.com, Bandung - Ustazah Siti Robiatul Adawiyah membimbing dan melatih anak-anak DTA (Diniyah Takmiliyah Awaliyah) kelas 5 dan kelas 6 dalam kegiatan membaca Al-Qur'an di Masjid Al-Muslim Cikalang, Kamis (01/10/2026). Kegiatan rutin ini dilaksanakan untuk membiasakan anak-anak membaca Al-Qur'an secara tartil serta memahami tajwid dengan benar sejak usia dini.

"Kalau untuk kegiatan baca Al-Qur'an diawali dengan tadarus bareng tadi, kita punya bacaan ayat tersendiri untuk yang tadarus. Kemudian selesai tadarus bareng dilanjutkan dengan bacaan masing-masing per anaknya. Setiap pertemuan paling per anak cuma 3 sampai 5 ayat," tuturnya.

Mengenai teknis bimbingan selama membaca Al-Qur'an, Ustazah Siti Robiatul Adawiyah menjelaskan bahwa fokus utama pengajaran terletak pada perbaikan kaidah tajwid dan kelancaran membaca setiap anak. 

"Selama bacaan itu kita cek bacaan tajwidnya, kemudian cara baca anaknya, diperbaiki bacaan-bacaan yang masih kurangnya. Untuk waktunya paling 15 sampai 20 menit untuk baca Al-Qur'an saja," ujarnya.

Mengenai kendala dan perbedaan kemampuan anak, ia menyampaikan bahwa tingkat kelancaran santri cukup beragam, mulai dari yang lancar hingga yang masih sering tertukar dalam mengenal huruf maupun tanda baca.

"Di kelas ini yang lancar ada, yang masih terbata-bata ada, yang masih kebalik hurufnya juga ada, kayak huruf fa sama qof atau sukun tiba-tiba berubah jadi dammah. Selain kita bimbing terus-terusan setiap hari, kita juga komunikasi sama orang tua karena butuh bimbingan di rumah," ucapnya.

Melalui pembiasaan rutin ini, Ustazah Siti Robiatul Adawiyah menegaskan pentingnya konsisten dan kerja sama dengan orang tua agar kemampuan membaca Al-Qur'an anak-anak terus berkembang dengan baik.

"Harapannya kita berharap anak-anak bisa setiap hari senang baca Al-Qur'an, tentunya dengan bacaan yang baik dan benar. Jangan sampai Al-Qur'an cuma jadi pajangan saja di rumahnya, tapi mereka juga baca setiap hari," ujarnya.

Reporter : Siti Zenab, KPI/3D

Ketua DKM At-Tarbiyatul Islamiyyah Cipadung Bahas Kemudahan Beribadah dalam Tausiah Yasinan

Dakwahpos.com, Bandung- Sejumlah warga sekitar yang terdiri dari bapak-bapak dan ibu-ibu berkumpul dengan khidmat untuk melaksanakan kegiatan rutin yasinan pada Kamis malam (10/09/26) di Masjid At-Tarbiyatul Islamiyyah Cipadung. Suasana tentram nan khusyuk begitu terasa diantara para jemaah saat melantunkan Surah Yasin bersama-sama di dalam masjid.

Setelah kegiatan yasinan selesai, kegiatan pun dilanjutkan dengan penyampaian tausiah singkat oleh Ketua DKM, Prof. Dr. Abdul Syukur, M.A. Dalam tausiahnya, beliau menyampaikan sebuah hadis sebagai landasan bagi para jemaah.

Dari Abu Hurairah Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu berkata “Apa yang aku larang hendaklah kalian hindari dan apa yang aku perintahkan maka hendaklah kalian laksanakan semampu kalian. Sesungguhnya hancurnya orang-orang sebelum kalian adalah banyak pertanyaan mereka yang tidak berguna dan banyak pertentangan mereka terhadap para nabi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau pun kemudian menjelaskan makna hadis tersebut secara mendalam dengan memberikan penekanan pada pesan penting kepada jemaah.

“Oleh karena itu, pesan dari hadis ini adalah: laksanakan apa yang diperintahkan semampu kita, dan jika suatu hal tidak diwajibkan secara mutlak, janganlah memperumitnya dengan banyak bertanya yang justru bisa menjadi beban,” jelas Prof. Dr. Abdul Syukur.

Beliau juga mengingatkan agar jemaah senantiasa menghindari kebiasaan melanggar aturan agama hanya karena mengikuti tradisi atau adat istiadat yang keliru.

“Kita jangan sampai melanggar aturan agama hanya karena alasan adat atau tradisi yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat,” tegas Prof. Dr. Abdul Syukur sebagai penutup tausiah.

Reporter: Hadiyya Fatimah Zulkarnain, KPI/3B
Uploaded Image

Kajian Keislaman di Bandung: KH Athian Ali Mengupas Alasan Umat Islam Sulit Istikamah

Dakwahpos.com, Bandung — Konsisten berada di jalan yang lurus (siratal mustaqim) kerap menjadi tantangan terbesar bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Hal ini ditegaskan oleh ulama asal Bandung, KH Athian Ali M. Dai, Lc., MA, saat menyampaikan materi kajian di hadapan puluhan jamaah.Selasa(22/09/2026)

Dalam ceramahnya, KH Athian Ali mengupas secara mendalam penyebab mengapa manusia sering kali goyah dan kesulitan untuk tetap istikamah. Beliau mengawali pemaparannya dengan menceritakan sebuah hadis saat Rasulullah SAW membuat satu garis lurus di atas pasir, kemudian menambah garis-garis bercabang ke berbagai arah.

"Jalan yang Allah tentukan untuk keselamatan kita dunia dan akhirat cuma satu. Namun kebanyakan manusia justru memilih jalan yang sesat karena memang sulit sekali untuk bisa terus berada di jalan yang lurus," Ujar KH Athian Ali

KH Athian Ali juga menyoroti realitas pengamalan agama saat ini. Meski Al-Qur'an memerintahkan umat untuk ber-Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam Surat Al-Baqarah ayat 208, praktik di lapangan dinilai masih jauh dari harapan. Beliau mengutip hasil survei yang menunjukkan bahwa tingkat kesadaran menjalankan ibadah wajib seperti salat lima waktu di Indonesia baru mencapai kisaran 38 persen.

"Jangankan menjalankan Islam secara kaffah, salat lima waktu yang merupakan rukun Islam saja baru dijalankan oleh sebagian kecil. Dari jumlah yang sedikit itu pun, belum tentu semua ibadahnya diterima oleh Allah SWT," Tuturnya dalam kajian tersebut .

Ia membedakan hidayah menjadi dua jenis, yakni Hidayah Ad-Dalalah (bimbingan berupa ilmu dan petunjuk seperti Al-Qur'an) serta Hidayah Al-Ma'unah (pertolongan langsung dari Allah agar dimudahkan beramal).

"Yang kita minta setiap hari dalam salat itu adalah Hidayah Al-Ma'unah. Kita sudah tahu salat itu wajib dan ghibah itu dosa, tapi tanpa pertolongan Allah, kita akan merasa berat untuk melaksanakannya dan meninggalkan larangan-Nya," kata KH Athian Ali.

Menutup ceramahnya, KH Athian Ali mengingatkan agar jamaah tidak meremehkan dosa sekecil apa pun dan segera bertobat (ar-ruju' ilal haq) sebelum ajal menjemput, berpaling sedikit saja dari garis lurus tanpa segera kembali akan membawa seseorang semakin jauh dari rida Allah SWT.

 

Reporter: M Hari Novandra, KPI 3/A

Uploaded Image

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos