Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Bukan Cuma Soal Uang! Ustaz Karyadi Ungkap Makna Rezeki Sejati di Masjid Nurul Amal

Dakwahpos.com – Bandung – Kegiatan pengajian rutin ibu-ibu dan bapak-bapak kembali digelar di Masjid Nurul Amal Pasir Biru pada Rabu (14/10/2026). Pengajian yang dimulai setelah salat Isya ini diikuti antusias oleh jamaah dari berbagai kalangan usia.

Acara dibuka dengan pembacaan tilawah juz 30 secara bersama-sama yang dipimpin oleh Ustaz Karyadi untuk kelompok ibu-ibu, dan kelompok bapak-bapak. Suasana khusyuk terlihat ketika para jamaah membaca setiap ayat dengan tartil.

Setelah pembacaan tilawah juz 30, kegiatan dilanjutkan dengan tausiyah yang disampaikan oleh Ustaz Karyadi. Dalam kajiannya, beliau menjelaskan bagaimana baiknya rezeki itu datang kepada kita, terutama saat mencari rezeki dengan bekerja dan rezeki yang bentuknya bukan hanya tentang harta.

"Rezeki itu bukan semua yang berbau tentang uang ibu-ibu, bapa-bapak, rezeki itu ketika kita masih diberi kesempatan untuk bernafas, rezeki itu datang dengan kesehatan, kebahagian. dan rezeki itu nggak bakal pernah ketukar sama orang lain," ujarUstaz Karyadi dalam ceramahnya.

Pengajian ditutup dengan doa bersama agar keluarga para jamaah senantiasa diberikan keberkahan, kesehatan, dan kelapangan rezeki. Banyak peserta berharap kegiatan ini terus berlangsung karena memberikan manfaat spiritual dan mempererat silaturahmi antar warga.
 
Reporter :  M Aufa Ismatulloh, KPI/3CWhatsApp Image 2026-10-21 at 22.40.10.jpeg

Tulus Mengabdi Tanpa Ambisi: Dedikasi DKM Masjid Nurul Amal Ustaz Karyadi Rawat Keistiqamahan Jamaah

Dakwahpos.com, Bandung - Perjalanan panjang sebuah tempat ibadah tidak lepas dari dedikasi tokoh-tokoh lokal yang tulus mengabdi bagi masyarakat. Masjid Nurul Amal yang berlokasi di Pasir Biru, Kecamatan. Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan peran aktif Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) serta partisipasi warga setempat.

Ustaz Karyadi, selaku Ketua DKM Nurul Amal, memaparkan bahwa eksistensi masjid ini berawal dari sebuah mushola kecil yang dibangun di atas tanah wakaf keluarga. Mushola tersebut awalnya berdampingan dengan Masjid Manbaul Huda, sebelum akhirnya berkembang menjadi masjid mandiri pada era 1970-an berkat wakaf tanah seluas dua belas tumbak dari para leluhur keluarga.

Sebagai pemimpin DKM yang telah dipercaya melalui proses musyawarah mufakat secara demokratis sejak masa jabatan sebelumnya hingga periode 2024–2027, Pak Sumpena mendedikasikan waktunya untuk mengurus umat. Ia menegaskan bahwa amanah sebagai ketua DKM dijalankan bukan atas dasar ambisi pribadi, melainkan bentuk panggilan jiwa untuk menjaga keistiqamahan jamaah.

"Namanya orang dipercaya harus diterima begitunya, walau pun kita ga mau juga, paling ya mengurus umat, datang membawa bekal akhirat," ujar Ustaz Karyadi saat menceritakan motivasinya dalam memimpin DKM  Nurul Amal.

Ia juga berpesan kepada generasi muda agar senantiasa membiasakan diri memakmurkan masjid sejak usia dini, karena kedekatan dengan rumah Allah di masa tua berawal dari kebiasaan baik di masa muda.

Di bawah kepengurusannya, Masjid Nurul Amal terus konsisten menjalankan berbagai program keagamaan yang fleksibel namun terstruktur. Program tersebut meliputi pengajian rutin ba'da Subuh, malam Ahad, ba'da Maghrib, hingga pembinaan khusus bagi anak-anak dan remaja yang dibimbing langsung oleh pengajar setempat.

Reporter :  M Aufa Ismatulloh, KPI/3CWhatsApp Image 2026-10-21 at 22.19.12.jpeg

Tulus Mengabdi Tanpa Ambisi: Dedikasi DKM Masjid Nurul Ustaz Karyadi Amal Rawat Keistiqamahan Jamaah

Dakwahpos.com, Bandung - Perjalanan panjang sebuah tempat ibadah tidak lepas dari dedikasi tokoh-tokoh lokal yang tulus mengabdi bagi masyarakat. Masjid Nurul Amal yang berlokasi di Pasir Biru, Kecamatan. Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan peran aktif Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) serta partisipasi warga setempat.

Ustaz Karyadi, selaku Ketua DKM Nurul Amal, memaparkan bahwa eksistensi masjid ini berawal dari sebuah mushola kecil yang dibangun di atas tanah wakaf keluarga. Mushola tersebut awalnya berdampingan dengan Masjid Manbaul Huda, sebelum akhirnya berkembang menjadi masjid mandiri pada era 1970-an berkat wakaf tanah seluas dua belas tumbak dari para leluhur keluarga.

Sebagai pemimpin DKM yang telah dipercaya melalui proses musyawarah mufakat secara demokratis sejak masa jabatan sebelumnya hingga periode 2024–2027, Pak Sumpena mendedikasikan waktunya untuk mengurus umat. Ia menegaskan bahwa amanah sebagai ketua DKM dijalankan bukan atas dasar ambisi pribadi, melainkan bentuk panggilan jiwa untuk menjaga keistiqamahan jamaah.

"Namanya orang dipercaya harus diterima begitunya, walau pun kita ga mau juga, paling ya mengurus umat, datang membawa bekal akhirat," ujar Ustaz Karyadi saat menceritakan motivasinya dalam memimpin DKM  Nurul Amal.

Ia juga berpesan kepada generasi muda agar senantiasa membiasakan diri memakmurkan masjid sejak usia dini, karena kedekatan dengan rumah Allah di masa tua berawal dari kebiasaan baik di masa muda.

Di bawah kepengurusannya, Masjid Nurul Amal terus konsisten menjalankan berbagai program keagamaan yang fleksibel namun terstruktur. Program tersebut meliputi pengajian rutin ba'da Subuh, malam Ahad, ba'da Maghrib, hingga pembinaan khusus bagi anak-anak dan remaja yang dibimbing langsung oleh pengajar setempat.

Reporter :  M Aufa Ismatulloh, KPI/3CWhatsApp Image 2026-10-21 at 22.19.12.jpeg

Potret Hangat Pengajian Santri Cilik di Masjid Nurul Amal Bandung

Dakwahpos.com, Bandung-  Masjid Nurul Amal yang terletak di Pasir Biru, Kecamatan. Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat , menjadi saksi sebuah kegiatan pengajian anak-anak yang menggugah hati. Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih dari 17 santri yang antusias untuk mendalami ilmu agama.

Pengajian yang digelar pada hari Jumat, 16 Oktober 2026, mulai pukul 14.00 hingga 15.30 WIB ini menjadi salah satu momen berharga bagi masyarakat setempat terkhusus untuk anak-anak yang dapat meningkatkan keimanan dan keagamaan mereka. Pengajian anak-anak ini di pandu oleh Ustaz Karyadi yang dimana beliau adalah seorang tokoh terkemuka, Ustaz Karyadi yang dengan penuh khidmat menyampaikan pelajaran agama kepada anak-anak dengan penuh rasa kesabaran.

 Masjid Nurul Amal, sebagai pusat kegiatan keagamaan di wilayah ini, terus berupaya untuk memberikan kontribusi positif bagi masyarakat sekitar. Pengajian ini adalah salah satu bentuk upaya mereka untuk meningkatkan pemahaman agama dan keimanan kepada anak-anak sekitar.

Kegiatan pengajian ini juga mendapat dukungan penuh dari warga sekitar. Semoga kegiatan serupa terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi kemajuan spiritual dan keagamaan masyarakat Desa Pasir Biru, dan sekitarnya.

Reporter :  M Aufa Ismatulloh, KPI/3CWhatsApp Image 2026-10-21 at 22.10.15.jpeg

Estafet Syiar Islam di Pasir Biru: Kisah di Balik Berdirinya Masjid Nurul Amal

Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Nurul Amal yang terletak di Pasir Biru, Kecamatan. Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat menyimpan perjalanan sejarah panjang sejak dekade 1980-an. Bangunan yang kini menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat tersebut berawal dari sebuah surau sederhana di atas tanah wakaf, Jumat (25/09/2026).

Ketua DKM Nurul Amal, Ustaz Karyadi menceritakan bahwa pendirian rumah ibadah ini dirintis sekitar tahun 1984. Pembangunan masjid terwujud setelah seorang warga bernama Amas menginfaqkan tanahnya untuk memfasilitasi kebutuhan sholat masyarakat setempat.

"Awalnya masih mushola kecil. Karena warga sekitar juga belum banyak yang mampu secara ekonomi, proses pembangunan dan pengelolaannya pun masih banyak dibantu oleh warga dari luar RT," ujar Idas saat diwawancarai di Masjid Nurul Amal.

Perkembangan masjid memasuki babak baru pada pertengahan dekade 1990-an. Seiring meningkatnya jumlah jemaah, pengurus DKM bersama warga melakukan renovasi total pada tahun 1995. Perluasan bangunan berlanjut hingga lantai dua dan tiga pada tahun 2005 guna menampung kapasitas jemaah yang terus bertambah.

Selain menjadi sarana sholat lima waktu, Masjid Nurul Amal secara konsisten menjadi wadah pendidikan Al-Qur'an bagi anak-anak sejak tahun 1989. Pada masa-masa awal, kegiatan mengajar ngaji serta kepengurusan masjid banyak dibantu oleh mahasiswa yang bermukim di rumah-rumah kontrakan sekitar Manisi.

"Dulu mahasiswa sekitar sini ikut memakmurkan masjid, jadi imam, dan mengajar ngaji. Setelah mereka lulus, estafet pengajaran diteruskan oleh warga. Alhamdulillah, tradisi mengaji anak-anak dan pengajian warga bertahan sampai sekarang," tutur Idas.

Reporter :  M Aufa Ismatulloh, KPI/3CWhatsApp Image 2026-10-21 at 22.00.38.jpeg

Jadikan Zikir Kepada Allah Sebagai Tameng Dari Siksa Kubur

Dakwahpos.com, Bandung—Suasana khidmat tampak menyelimuti Masjid Al-Khairat Cipadung, Bandung, tatkala ratusan jemaah ibu-ibu antusias menghadiri pengajian rutin mingguan yang diisi oleh penceramah Ustadz Ayi. Acara yang bertujuan untuk memperdalam ilmu keislaman serta memperkuat keimanan ini diselenggarakan dengan tertib, di mana para jemaah menyimak pemaparan materi tentang pentingnya mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat melalui zikir dan peningkatan amal saleh.

Dalam ceramahnya, Ustadz Ayi menjelaskan secara mendalam mengenai hakikat kematian yang pasti akan dihadapi oleh setiap manusia. Beliau memaparkan bahwa sakaratul maut dan perpindahan ke alam barzakh merupakan gerbang awal perjalanan menuju akhirat, yang diibaratkan sebagai sebuah peristiwa penting dan peringatan besar bagi kehidupan manusia sebelum menghadap Sang Pencipta.

Lebih lanjut, Ustadz Ayi mengungkapkan penjelasannya dengan menegaskan, “Maot mah kiamat leutik. Al-qabru awwalu manzilin min manazilil akhirah. Kubur téh tempat persinggahan kahiji nuju ka ahérat.”

Beranjak dari pembahasan tersebut, Ustadz Ayi turut mengingatkan para jemaah mengenai kengerian siksa kubur yang digambarkan begitu nyata, merujuk pada kisah para sahabat seperti Sayyidina Utsman bin Affan yang senantiasa menangis ketika mengunjungi makam. Beliau menyampaikan bahwa tidak ada satu pun amal perbuatan duniawi yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa kubur yang pedih kecuali kedekatan hamba kepada Allah SWT.

Pernyataan tersebut dipertegas oleh Ustadz Ayi melalui kutipan langsung, “Bu, teu aya amal-amalan nu bisa nyalametkeun urang tina siksa kubur. Nyalametkeun, kecuali dzikir ka saha? Allah. Jadi, jalma nu bakal salamet engké dina poé kubur, alam barzakh, nyaéta jalma nu éling ka Allah.”

Sebagai solusi dan panduan amalan, Ustadz Ayi kemudian menjelaskan mengenai apa yang harus dilakukan oleh umat Islam, yakni dengan menyisihkan waktu khusus setiap harinya untuk mengosongkan diri dari kesibukan duniawi. Waktu tersebut hendaknya dimanfaatkan sepenuhnya untuk berzikir mengingat Allah dengan hati yang ikhlas dan bersih tanpa motif selain mengharap ridha-Nya.

Ajakan tersebut disampaikan langsung oleh Ustadz Ayi kepada para jemaah, “Sisihkeun sajam tina sapoé. Da moal rugi, moal. Moal nambahan kasangsaraan, malah bakal méré kabagjaan, kauntungan, bébas tina siksa kubur. Saha jalma nu maca kalimah la ilaha illallah bari mukhlis, bersih haté, éta jalma bakal salamet tina siksa kubur.”

Kesan mendalam turut dirasakan oleh salah seorang jemaah senior, Ibu Titi Ningsih (55), yang telah lama mengikuti pengajian di Masjid Al-Khairat sejak tahun 2010. Menurutnya, pemaparan yang disampaikan oleh Ustadz Ayi sangat berbobot dan serius, serta senantiasa membuka kesadaran jemaah untuk terus mengevaluasi diri dan memperbanyak zikir sebagai bekal di akhirat.

Terkait hal tersebut, Ibu Titi Ningsih mengungkapkan kesan dan pesannya seusai pengajian, “Kalau Pak Ustaz Ayi, beliau bukan tipe yang suka bercanda. Beliau serius memberikan pemahaman supaya kita istiqamah dalam belajar dan mencari ilmu, begitu, Neng. Insyaallah, sambil melakukan apa saja, diingat-ingat saja, zikir ‘La ilaha illallah’.”

Reporter : Zeyni Jilan Nadezda Mentari, KPI/3C


Uploaded Image

Ubi Rebus dan Kopi Hangat Rekatkan Jamaah Masjid Al-Hikmah

Dakwahpos.com, Bandung - Sarapan bersama secara lesehan menjadi penutup kuliah subuh (Kulsub) di Masjid Al-Hikmah Permata Biru, Minggu(11/10/2026). Jamaah duduk melingkar di lantai masjid setelah pengajian dan doa bersama selesai.

Hidangan yang tersaji sederhana, yakni ubi rebus, kacang tanah rebus, camilan kemasan, serta teh dan kopi hangat. Semuanya sumbangan jamaah sendiri.

“Jadi dari jamaah, oleh jamaah, dan untuk kebersamaan kita semua,” ujar Kang Soffan, Pengurus Masjid.

Menurutnya, tradisi itu bertujuan mempererat ukhuwah islamiyah dan silaturahmi antarjamaah. Jika hanya pengajian, jamaah cenderung langsung pulang setelah salam.

“Dengan adanya santap pagi bersama secara lesehan seperti ini, para bapak-bapak dan sesama jamaah bisa saling menyapa, berbincang santai, serta bertukar cerita,” tuturnya.

Kegiatan itu rutin digelar seminggu sekali setiap akhir pekan setelah Kulsub. Ia menilai kebiasaan tersebut membuat hubungan antarwarga di lingkungan masjid semakin rukun dan hangat.

“Harapan kami, kegiatan sederhana ini terus berlanjut agar masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah ritual saja, tetapi juga menjadi pusat kehangatan sosial bagi masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Reporter: M. Alif Ramdhan Sohibul Fahmi, KPI/3D

 

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos