Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Bukan Sekadar Tempat Ibadah, Masjid Al-Ijtihad Cipadung Wetan Beri Manfaat bagi Warga


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Jami Al-Ijtihad Cipadung Wetan tidak sekadar menjadi tempat untuk melaksanakan ibadah, tetapi juga memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Hal ini dirasakan langsung oleh Erik Hermawan, salah satu warga yang rumahnya berada dekat dengan masjid tersebut. Menurutnya, keberadaan masjid memberikan manfaat dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari mempererat silaturahmi hingga memberikan ketenangan hati.

Bagi Erik, mengikuti kegiatan di masjid bukan hanya tentang menjalankan kewajiban beribadah, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menjalin hubungan dengan masyarakat sekitar. Kegiatan seperti salat berjamaah dan pengajian membuat warga bisa saling mengenal satu sama lain. Selain alasannya kan untuk silaturahim, mempererat silaturahim. Selain itu kan kita sosialisasi dengan masyarakat lebih terjaga, ujar Erik saat diwawancarai pada Selasa (27/10/2026).

Selain menjadi tempat beribadah, masjid yang berada dekat dengan rumahnya juga memberikan ketenangan tersendiri bagi Erik dan keluarganya. Ia  menjelaskan sering mendengar seruan azan, ceramah, hingga lantunan ayat suci Al-Qur'an dari masjid. Menurutnya, hal tersebut menjadi salah satu manfaat yang membuat keberadaan masjid terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Rumah kedua,” ungkap Erik saat menggambarkan kedekatannya dengan masjid pada Selasa (27/10/2026).

Manfaat masjid juga dirasakan dalam pendidikan agama bagi anak-anak. Menurut Erik, masjid menjadi tempat yang baik untuk mengenalkan anak-anak pada ilmu agama, termasuk belajar mengaji. Ia menilai, belajar di masjid memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak melalui kegiatan dan bimbingan yang tersedia.

Tidak hanya dalam bidang keagamaan, Masjid Jami Al-Ijtihad juga menjadi tempat berlangsungnya kegiatan sosial yang membantu masyarakat sekitar. Erik menyebutkan bahwa terkadang ada pembagian sembako, kegiatan Jumat Berkah, hingga penyaluran zakat melalui masjid. Kegiatan tersebut menjadi salah satu cara bagi warga yang memiliki rezeki lebih untuk berbagi dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

Mengenai jumlah jamaah, Erik menilai bahwa kehadiran masyarakat dalam kegiatan masjid cukup beragam. Kesibukan sehari-hari dan keberadaan masjid lain di sekitar lingkungan menjadi beberapa hal yang memengaruhi jumlah jamaah. Meski begitu, ia berharap masyarakat tetap memiliki kesadaran untuk memakmurkan masjid dengan mengikuti kegiatan keagamaan yang tersedia.

Menurut Erik, masjid akan terasa kurang hidup apabila tidak ada kegiatan yang diselenggarakan untuk masyarakat. Selain kehilangan tempat untuk menuntut ilmu agama, warga juga akan kehilangan ruang untuk berkumpul dan mempererat hubungan sosial. Ia juga menilai kebersihan masjid dan lingkungan sekitarnya menjadi hal penting agar masyarakat merasa nyaman ketika beribadah maupun mengikuti kegiatan.

Ke depannya, Erik berharap Masjid Jami Al-Ijtihad semakin makmur dengan jumlah jamaah yang terus bertambah. Ia juga berharap masyarakat semakin sadar untuk melaksanakan ibadah dan mengikuti berbagai kegiatan positif yang diselenggarakan di masjid. Dengan begitu, masjid tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga dapat terus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Reporter: Annida Wardah Dzulhikmah KPI/3C

Usia Bertambah, Pengajian Tetap Dicari: Semangat Seorang Ibu dalam Menjaga Langkah Menutut Ilmu


Dakwahpos.com, Bandung- Bertambahnya usia dan kesibukan sehari-hari tidak menghalangi seorang ibu untuk terus mengikuti pengajian. Baginya, kegiatan tersebut menjadi salah satu cara untuk mencari rida Allah, memperkuat keimanan, sekaligus menjaga silaturahmi dengan keluarga dan sesama jemaah.

Ia mengungkapkan bahwa menuntut ilmu agama tetap penting dilakukan pada usia berapa pun. Menurutnya, ilmu merupakan bekal dalam menjalankan ibadah sehari-hari, baik ketika melaksanakan salat maupun membaca Al-Qur’an. Tanpa pengetahuan yang memadai, seseorang akan kesulitan menjalankan ibadah dengan baik dan benar.

Keinginannya untuk terus mengikuti pengajian juga didorong oleh harapan agar dirinya dan keluarga senantiasa berada di jalan kebaikan. Ia ingin memperdalam ilmu agama sebagai bekal beribadah sekaligus menjaga keistiqamahan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain menambah pengetahuan agama, pengajian juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan dengan sesama jemaah. Melalui pertemuan tersebut, ia dapat menjalin silaturahmi, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan dalam kebaikan.

Semangatnya dalam menuntut ilmu tidak hanya ditujukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga diharapkan membawa manfaat bagi keluarga, terutama anak dan cucunya. Ia berharap ilmu agama dapat membantu keluarganya memperkuat keimanan dan tetap istiqamah di jalan kebaikan.

Bagi ibu tersebut, pengajian merupakan sarana untuk terus belajar dan memperkuat keimanan. Ia ingin ilmu yang diperolehnya menjadi bekal bagi dirinya dan keluarga agar senantiasa istiqamah dalam menjalani kehidupan di jalan kebaikan.

Reporter: Agnia Agustina, KPI 3C

Pondok Pesantren Sukahurip Cikancung Adakan Tahlilan KH. Adang Abdul Kudus, Kenang Jasa dan Kebaikan Almarhum Semasa Hidupnya

 

Dakwahpos.com, Bandung— Kegiatan tahlilan untuk mengenang almarhum KH. Adang Abdul Kudus Bin Mama KH. Abdul Fatah dihadiri banyak warga di Pondok Pesantren Sukahurip, RT 01 RW 01, Desa Cikancung, Kecamatan Cikancung, Kabupaten Bandung. Almarhum yang wafat pada 10 Oktober 2026 dikenang atas jasa dan kebaikannya, terutama dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat.

KH. Adang Abdul Kudus biasa dipanggil dengan sebutan “Abah Haji” dikenal sebagai sesepuh pondok pesantren yang memiliki kepribadian baik dan ramah kepada berbagai kalangan. Sosoknya meninggalkan kesan bagi orang-orang yang pernah mengenal dan menimba ilmu darinya.

Seorang jemaah lama yang rutin mengikuti pengajian mengungkapkan bahwa salah satu kontribusi almarhum yang paling diingat ialah pengajaran ilmu tajwid. Ilmu tersebut diajarkan untuk membantu jemaah membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai dengan kaidah tajwid.

Menurut narasumber, kehadiran masyarakat dalam kegiatan tahlilan merupakan bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas jasa almarhum semasa hidupnya. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk bersama-sama mendoakan sosok guru yang telah memberikan banyak manfaat melalui ilmu agama.

Tidak hanya melalui keilmuannya, KH. Adang Abdul Kudus juga dikenang karena sikap tawadhu dan keramahannya. Narasumber menuturkan bahwa almarhum tidak membeda-bedakan orang berdasarkan kedudukan, baik terhadap orang yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Sikap tersebut menjadi salah satu keteladanan yang dapat diambil oleh generasi muda.
Jasa dan kebaikan KH. Adang Abdul Kudus, khususnya dalam mengajarkan ilmu tajwid serta menunjukkan sikap rendah hati dan ramah kepada sesama, menjadi hal yang dikenang oleh masyarakat yang mengenal beliau semasa hidupnya.

Reporter: Agnia Agustina, KPI 3C

Ustad Dikdik Bahas Empat Ciri Utama Orang Bertakwa Menurut Al-Qur’an dan Pandangan Ulama


Dakwahpos.com,Bandung- Jumat, 23 oktober 2026 Ustad Dikdik mengajak jemaah  Masjid Al-Amanah Cipadung senantiasa untuk saling menjaga kualitas keimanan dalam kehidupan sehari-hari menuntut setiap Muslim untuk memahami indikasi ketakwaan secara komprehensif. Berdasarkan tuntunan Al-Qur'an dan pandangan para sahabat, terdapat empat ciri utama orang yang bertakwa, mulai dari rasa takut saat hendak berbuat maksiat hingga sikap ikhlas dan ridha atas ketetapan Allah Swt..

Poin penting tersebut disampaikan dalam sebuah kajian yang mengupas esensi ketakwaan, di mana rasa takut kepada Allah Swt. harus menjadi landasan utama ketika seseorang berhadapan dengan potensi kemaksiatan atau penyimpangan dari ajaran agama.

Terdapat empat alasan utama mengapa seorang Muslim harus senantiasa merasa takut dan diawasi oleh Allah Swt.

1.Pengawasan Mutlak: Berdasarkan Surah Al-Baqarah ayat 255, Allah Swt. Maha Hidup, tidak pernah mengantuk ataupun tidur, serta mengetahui segala perbuatan manusia.

2.Mengetahui Isi Hati: Melalui Surah Al-Ahzab ayat 51, ditegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang disembunyikan di dalam dada dan lubuk hati manusia.

3.Penyertaan Ilahi: Dalam Surah Al-Ahzab ayat 4, AllahSwt. menyatakan bahwa Dia senantiasa menyertai hamba-Nya di mana pun dan kapan pun mereka berada.

 4.Pengawasan Malaikat: Allah menugaskan dua malaikat pencatat amal, yakni Raqib dan Atid, yang selalu mengawasi, mendampingi, dan mencatat seluruh amal baik maupun buruk.

Mengamalkan Al-Qur’an (Al-Amalu bil-Qur'an) Ciri kedua dari orang yang bertakwa adalah senantiasa menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Interaksi dengan Al-Qur'an dapat diwujudkan melalui lima langkah: membaca setiap hari, menuliskan ayat-ayatnya, menghafal, mengamalkan secara pribadi, serta mengajarkannya kepada orang lain. Jika seluruh lapisan masyarakat baik pedagang, pemimpin, maupun profesi lainnya mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an sesuai bidang masing-masing, maka tatanan kehidupan yang damai, aman, dan sentosa akan terwujud.

Syukur yang Berkelanjutan (Asy-Syukru al-Mujaddid) Orang yang bertakwa tidak akan pernah kehilangan rasa syukurnya atas nikmat yang diberikan AllahSwt.. Sebagaimana firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 34, andai seluruh pohon di muka bumi dijadikan pena, dedaunan menjadi kertas, dan lautan menjadi tinta untuk menghitung nikmat Allah, niscaya semuanya tidak akan sanggup menjangkau luasnya karunia-Nya

Ridha atas Ketetapan Allah Merujuk pada pandangan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. ciri keempat orang bertakwa adalah sikap ridha terhadap segala ketetapan Allah, meskipun apa yang diterima terlihat sedikit. Dalam sebuah hadis qudsi juga ditegaskan bahwa barang siapa yang tidak bersyukur atas nikmat, tidak ridha atas ketentuan, dan tidak bersabar atas ujian-Nya, maka Allah memperingatkan manusia untuk mencari tuhan selain Allah sebuah metafora penegasan bahwa tidak ada zat selain Allah yang mampu melimpahkan nikmat sebesar rahmat-Nya.

Reporter: Rifqi Alfiansyah, KPI/3C

 

KH Ali Ahmad Lili Kamal Paparkan Tiga Landasan agar Ibadah Terasa Lebih Ringan


Dakwahpos, Majalengka-  KH Ali Ahmad Lili Kamal menyampaikan kajian tentang tiga landasan ketaatan kepada Allah SWT dalam pengajian di Masjid Hidayah Baitul Kamal Majalengka pada Rabu malam Kamis (28/10/2026). Mengacu pada pemikiran Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin, ia menjelaskan bahwa rasa takut kepada Allah (khauf), harapan terhadap rahmat-Nya (raja), dan cinta kepada-Nya (hubb) menjadi tiga hal penting yang dapat mendorong seorang hamba untuk lebih tekun dan ikhlas dalam beribadah.

Dalam kajian tersebut, KH Ali Ahmad Lili Kamal menjelaskan bahwa ketaatan kepada Allah terkadang terasa berat apabila seseorang belum memiliki landasan batin yang kuat. Oleh karena itu, umat Islam perlu menumbuhkan pemahaman dan perasaan yang dapat menjaga semangat beribadah, sehingga ketaatan tidak hanya dilakukan sebagai kewajiban, tetapi juga menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Landasan pertama adalah khauf, yaitu rasa takut kepada Allah Swt. Menurut penjelasan dalam kajian tersebut, rasa takut ini bukan sekadar takut terhadap hukuman atau murka Allah, melainkan juga kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya. Kesadaran tersebut diharapkan dapat mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan dosa serta lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

KH Ali Ahmad juga mengingatkan bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas dirinya sendiri. Harta dan berbagai fasilitas yang dimiliki tidak selalu dapat menjamin ketenangan hidup. Seseorang dapat memiliki banyak hal, tetapi tetap menghadapi kegelisahan dan persoalan yang tidak mampu diselesaikan hanya dengan kemampuan sendiri. Karena itu, manusia perlu menyadari pentingnya bergantung kepada Allah Swt.

Landasan kedua adalah raja, yaitu berharap terhadap rahmat, ampunan, dan pertolongan Allah Swt.Harapan ini menjadi dorongan bagi seseorang untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya, termasuk melalui pengajian dan majelis zikir. Dengan memiliki harapan terhadap rahmat Allah, seseorang diharapkan tetap bersemangat menjalankan ibadah dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Dalam penjelasannya, keikutsertaan dalam majelis ilmu dan zikirjuga dapat dipandang sebagai ikhtiar untuk memperoleh pertolongan serta rahmat Allah, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Harapan tersebut perlu disertai ketaatan dan usaha memperbaiki diri, bukan sekadar keinginan tanpa tindakan.

Adapun landasan ketiga adalah hubb atau mahabbah, yaitu cinta kepada Allah Swt. KH Ali Ahmad menjelaskan bahwa cinta dapat membuat ibadah terasa lebih indah dan ringan untuk dijalankan. Ketika seseorang telah menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, ia tidak hanya beribadah karena takut terhadap hukuman atau mengharapkan pahala, tetapi juga karena keinginan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Ia mengibaratkan bahwa sesuatu yang dilakukan dengan rasa suka dan cinta akan terasa lebih ringan. Hal serupa berlaku dalam ibadah. Ketika hati mulai mencintai Allah, seseorang diharapkan dapat menikmati kegiatan keagamaan, seperti menghadiri majelis ilmu, berzikir, dan menjalankan berbagai bentuk ketaatan lainnya.

Ketiga landasan tersebut saling melengkapi dalam membentuk ketaatan seorang Muslim. Khauf menumbuhkan kehati-hatian dalam bertindak, raja’ menjaga harapan terhadap rahmat Allah, sedangkan hubb menghadirkan rasa cinta yang membuat ibadah dijalani dengan lebih tulus. Ketiganya dapat menjadi bekal untuk menjaga istiqamah dalam beribadah.

Pada akhir kajian, KH Ali Ahmad Lili Kamal berharap agar pertemuan dalam majelis keagamaan dapat menjadi jalan bagi jamaah untuk memperoleh cahaya keimanan, kebahagiaan, serta kecintaan kepada Allah Swt.Ia juga berharap agar nilai-nilai tersebut dapat diwariskan kepada anak-anak dan keturunan, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah.

Melalui kajian ini, jamaah diajak memahami bahwa membangun ketaatan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, tetapi juga memperkuat hati dengan rasa takut, harapan, dan cinta kepada Allah Swt.Dengan ketiga landasan tersebut, ibadah diharapkan tidak lagi dirasakan semata-mata sebagai beban, melainkan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Reportet: Najma Nur Fajriyah Kamal/KPI3C

Masjid Nurul Iman Dustira Hadirkan Kajian Rutin bagi Penunggu Pasien dan Warga Sekitar


Dakwahpos.com, Cimahi - Pengurus Masjid Nurul Iman menghadirkan kajian rutin untuk mengisi waktu istirahat pegawai dan penunggu pasien Rumah Sakit Tingkat II Dustira, Cimahi. Kajian ini juga terbuka bagi warga sekitar, Rabu (28/10/2026).

Anggota Bidang Ibadah dan Dakwah Riki Nurdiansyah mengatakan, kajian rutin diadakan untuk memanfaatkan waktu istirahat para organik rumah sakit dan keluarga pasien yang menunggu di area tersebut.

"Tujuan kegiatan kajian rutin di antaranya mengisi waktu istirahat untuk para organik Rumah Sakit Dustira, juga untuk para penunggu pasien," ungkapnya.

Letak masjid yang bersebelahan dengan area rumah sakit dan berada di pinggir jalan membuat masyarakat sekitar ikut mengikuti kajian. Menurut Riki, hal itu sejalan dengan tujuan pengurus untuk memakmurkan masjid.

Ia menjelaskan, kajian tersebut juga menjadi wujud tanggung jawab umat Islam untuk berdakwah. Pengurus berperan memfasilitasi para penceramah.

"Kalaupun kita tidak punya kapasitas untuk berdakwah, karena kita di DKM, kita memfasilitasi dan mengundang narasumber dari luar, para asatiz," katanya.

Selain mengundang penceramah dari luar, pengurus juga mencari pegawai rumah sakit yang mampu menyampaikan materi keagamaan. Mereka diberi ruang untuk mengisi kajian di masjid.

"Kita akomodir dan fasilitasi di masjid supaya menjadi salah satu daya tarik bagi jemaah, sehingga masjid makmur, bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga kegiatan keagamaannya," imbuhnya.

Riki menuturkan, susunan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Iman ditentukan melalui surat perintah Kepala Rumah Sakit Tingkat II Dustira. Hal itu karena masjid berada di area rumah sakit yang berada di bawah naungan Kesdam III/Siliwangi.

Pergantian ketua DKM tidak memiliki batas waktu tertentu. Di instansi militer, pergantian biasanya dilakukan per lima tahun atau paling cepat per dua tahun. Namun, ketua DKM Nurul Iman menjabat selama masih berdinas di rumah sakit tersebut.

Para pengurus tidak memiliki tugas pokok sebagai pengurus masjid. Mereka adalah pegawai rumah sakit yang mengemban tanggung jawab tambahan di DKM. Riki sendiri bertugas sebagai tenaga admisi di unit Kesmedjar.

Riki bergabung sebagai pegawai Rumah Sakit Dustira sejak 2015, bersamaan dengan keanggotaannya di DKM. Kini ia telah mengabdi sekitar 10 tahun.

Terkait pembagian waktu, Riki menyebut tugas pokok di rumah sakit tetap menjadi prioritas. Urusan DKM dikerjakan di sela waktu setelah tugas dinas terpenuhi.

Namun, pengurus bersikap fleksibel pada kegiatan tertentu. Saat Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) dan kurban, kegiatan masjid didahulukan. Sebaliknya, ketika rumah sakit menghadapi akreditasi, tenaga dan pikiran difokuskan di sana.

"Sepintar-pintarnya kita harus mengatur waktu, karena tuntutannya sudah menjadi surat perintah, jadi tetap harus dilaksanakan," tuturnya.

Ia menambahkan, pengurus yang harus menyelesaikan urusan masjid pada jam dinas wajib meminta izin kepada atasan lebih dulu.

Reporter: Afifah Amro Amatulloh, KPI/3C

Ustaz Dede Tasmara: Keringanan Salat dalam Perjalanan dan Memahami Batasan dan Ketentuan Qosor Safar


Dakwahpos.com, Bandung– Pemateri Ustaz Dede Tasmara menyampaikan kajian keagamaan dalam pengajian bapak-bapak di Masjid Istiqomah (PC PERSIS Cibiru), Jumat (17/10/2026). Dengan mengupas tuntas bab fikih seputar batas minimal jarak dan ketentuan pelaksanaan qosor safar (meringkas salat bagi musafir).

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa secara bahasa safar bermakna jelas, nampak, atau terbuka. Berdasarkan rujukan ayat Al-Qur'an (Q.S. An-Nisa: 101), Allah Swt. memberikan keringanan (rukhsah) bagi hamba-Nya yang sedang bepergian di muka bumi untuk mengqosor salat jika merasa khawatir diserang oleh orang kafir. Macam-macam safar sendiri terbagi menjadi safar wajib, sunat, mubah, haram, rutin, hingga temporer. Selain qosor salat, bentuk keringanan lain dalam safar meliputi jamak salat, tayamum, mengusap khuf, dan buka shaum (puasa).

Terkait batas minimal jarak safar, terdapat sekitar 20 pendapat di kalangan ulama. Di antaranya mencakup pendapat Abu Hanifah dan ulama Kufah yang menetapkan minimal 48 mil atau sekitar 80 km, serta pendapat Imam Syafii, Malik, dan Ahmad yang menetapkan batasan tiga farsakh atau minimal 5 km (Daud Adz-Dzahiri). Landasan dasar qosor ini merujuk pada hadis dari Aisyah r.a. bahwa salat awalnya diwajibkan dua rakaat, lalu ketika Nabi saw. berhijrah ditetapkan salat empat rakaat, sementara salat safar tetap dibiarkan dua rakaat seperti semula. Imam Ahmad juga menambahkan pengecualian bahwa salat Maghrib tidak diqosor karena ia merupakan witir siang, begitu pula salat Subuh karena bacaannya yang panjang.

Selain jarak, kajian ini juga membahas batas masa safar berdasarkan berbagai riwayat hadis sahih. Dicontohkan dari riwayat Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw. pernah tinggal di Mekah selama sembilan belas hari dengan mengqosor salat. Dari Jabir bin Abdullah r.a., Rasulullah saw juga pernah tinggal di Tabuk selama dua puluh hari dan tetap mengqosor salat. Riwayat-riwayat tersebut menunjukkan adanya kelonggaran durasi waktu bagi seorang musafir untuk tetap melakukan qosor selama memenuhi ketentuan syariat.

"Dan apabila kamu bepergian di muka bumi ini, maka tidaklah menjadi dosa atas kamu untuk mengqosor salat mu, jika kamu takut diserang oleh orang-orang kafir," demikian uraian materi yang disampaikan oleh Ustaz. KH. Dede Tasmara kepada jemaah dalam pengajian tersebut.

Reporter: Farhan Fadhilah, KPI 3/C

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos