Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Ustadz Ahmad: Hidup Makmur Belum Tentu Hidup Berkualitas


Dakwahpos.com, Bandung - Ustadz Ahmad mengajak jemaah agar tidak hanya mengejar kemapanan materi, tapi juga menjaga kualitas hidup dari sisi spiritual dan akhlak. Pesan itu ia sampaikan lewat tausiyah yang diselingi humor dalam pengajian umum di Masjid Al-Ikhlas Panyileukan, Rabu ( 08/10/2025 )

Di depan  jemaah dan warga Panyileukan, Ustadz Ahmad membedakan dua hal yang menurutnya sering dicampuradukkan, yaitu penghidupan dan kehidupan. Ia menilai krisis karakter generasi muda sekarang muncul karena masyarakat mengukur keberhasilan seseorang hanya dari hal-hal yang kelihatan, seperti fisik dan harta.

"Masyarakat hari ini rata-rata penghidupannya sudah membaik, tetapi kualitas kehidupannya justru menurun. Penghidupan itu mencakup urusan fisik, materi, sandang, pangan, papan, hingga fasilitas fisik. Sedangkan kehidupan itu mencakup ranah spiritual, moralitas, karakter, akhlak, ketenteraman, dan kemanfaatan sosial," kata Ustadz Ahmad.

Ustadz Ahmad juga menyoroti penggunaan teknologi digital yang tidak dibarengi kemampuan memakainya dengan bijak. Menurutnya, pemakaian smartphone yang berlebihan membuat obrolan antarwarga makin berkurang, anggota keluarga makin jauh satu sama lain, dan ibadah jadi kurang disiplin.

Soal pola asuh, ia mengkritik kebiasaan sekarang ketika anak lebih banyak diasuh kakek dan nenek (mbah) ketimbang orang tuanya sendiri.

“Tugas utama kakek dan nenek itu mendidik orang tua dari si anak, bukan mengambil alih pengasuhan cucu secara penuh. Selama orang tua kandungnya masih ada dan mampu, pengasuhan harus tetap menjadi tanggung jawab utama orang tua agar regenerasi berjalan ideal," tegasnya.

Reporter : Zulfa Khoerunisa, KPI/3D

Profil Ali Hermansyah: Mengabdi Penuh Keikhlasan demi Memakmurkan Masjid Al-Hasan 3


 Dakwahpos.com, Bandung – Penasihat DKM Masjid Al-Hasan 3, Ali Hermansyah, membagikan kisah perjalanan hidupnya dalam mengabdi dan memakmurkan tempat ibadah saat diwawancarai di Masjid Al-Hasan 3, Cimekar, Bandung, pada Rabu (14/10/2026).

Pria berusia 64 tahun kelahiran Garut yang merupakan alumni IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati Bandung jurusan Perbandingan Agama angkatan 1988 ini telah mendedikasikan waktunya sejak awal mula peletakan batu pertama masjid pada November 1995.

"Tentu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai umat muslim untuk memakmurkan masjid, meskipun dalam keadaan sibuk kita harus bisa membagi waktu antara urusan duniawi dan ukhrowi," ujar Ali Hermansyah.

Beliau menceritakan bahwa kecintaannya terhadap masjid berawal dari cita-cita mulianya sejak lama yang menginginkan hunian berdekatan dengan tempat ibadah, hingga akhirnya doa tersebut dikabulkan oleh Allah SWT.

Sejak kepengurusan awal dibentuk pada awal 1997, beliau dipercaya menjabat sebagai sekretaris DKM dan terus aktif mengawal perkembangan masjid hingga saat ini.

"Memakmurkan dan mengabdi kepada masjid itu bukan karena kita jadi pengurus atau bukan karena jabatan tertentu, tetapi merupakan keharusan setiap muslim di mana pun berada," kata Ali Hermansyah menegaskan.


Reporter: M. Zaky Alfatih Rabbani KPI3B

Mengenal Sejarah Berdirinya Masjid Al-Hasan 3: Bukti Kebersamaan dan Gotong Royong Warga Komplek


 Dakwahpos.com, Bandung – Penasihat DKM Masjid Al-Hasan 3, Ali Hermansyah, memaparkan sejarah panjang berdirinya Masjid Al-Hasan 3 yang lahir dari inisiatif dan semangat gotong royong warga masyarakat dalam menjaga lingkungan serta memakmurkan tempat ibadah pada Rabu (14/10/2026).

​Dalam wawancara mendalam, beliau mengungkapkan bahwa penentuan lokasi masjid bermula pada November 1995 saat warga menolak rencana pihak pengembang (developer) yang hendak menjadikan lahan tersebut sebagai tempat penampungan sampah sementara.

​"Waktu itu warga tidak setuju, lalu mengambil inisiatif untuk menjadikan lokasi ini sebagai musala, hingga akhirnya dilakukan peletakan batu pertama pada November 1995," ujar Ali Hermansyah.

​Beliau menjelaskan bahwa penamaan "Al-Hasan 3" dipilih sebagai bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih warga kepada pengembang bernama Pak Hasan Sanusi. Pengembang tersebut memberikan izin penggunaan tanah serta berkontribusi memberi bantuan material bangunan.

​"Nama Al-Hasan 3 ini dipakai sebagai tanda terima kasih kepada Pak Hasan Sanusi, di mana angka tiga menunjukkan urutan setelah Al-Hasan Raya dan Al-Hasan 2," kata Ali Hermansyah menegaskan.

​Menurut penuturan beliau, kepengurusan resmi yang awalnya bernama Dewan Keluarga Masjid (DKM) mulai dibentuk pada awal tahun 1997 untuk mengelola tempat ibadah yang kini terus berkembang pesat tersebut.

​"Hampir 100 persen pembangunan masjid yang megah ini berasal dari dana swadaya masyarakat dan donatur, dengan total anggaran mencapai lebih dari 1,2 miliar rupiah," tutur Ali Hermansyah.

​Beliau juga mengimbau kepada para generasi muda agar memiliki niat yang tulus dan fokus 100 persen Lillahita'ala dalam mengabdi serta memakmurkan masjid tanpa mengharapkan imbalan materi.


Reporter: M. Zaky Alfatih Rabbani KPI3B

Mari Pahami Empat Syarat Utama untuk Menggapai Surga Allah SWT


Dakwahpos.com, Bandung – Penceramah Ustaz H. Sudarman S.Ag. memaparkan empat langkah penting yang harus dipenuhi setiap umat Islam agar dapat menggapai surga Allah SWT dalam kajian di Masjid Al-Hasan 3 Panyilekan  pada Minggu (23/9/2026).

Syarat pertama dan paling mendasar yang wajib dimiliki setiap individu adalah memeluk agama Islam sebagai satu-satunya pilar keimanan yang diridai oleh Allah SWT.

"Innadina Indallahil Islam, sesungguhnya agama yang diridai Allah hanyalah Islam, dan Al-Qur'an Surat Ali Imran ayat 85 dengan tegas menyatakan bahwa agama selain Islam tidak akan diterima di akhirat kelak," ujar Ustaz Sudarman di hadapan para jamaah.

Beliau menjelaskan bahwa pengakuan keislaman seseorang tidak berhenti pada status semata, melainkan harus dibuktikan secara nyata melalui penegakan salat lima waktu. Syarat kedua ini menjadi pembeda utama, di mana orang yang meninggalkan salat diancam akan menjadi penghuni neraka Saqar.

"Tidak cukup hanya mengaku beragama Islam, tetapi keislaman itu harus dibuktikan dengan mendirikan salat secara konsisten," kata Ustaz Sudarman menegaskan.

Langkah ketiga yang tidak kalah penting adalah kewajiban umat Islam untuk mempelajari dan memahami isi Al-Qur'an sebagai pedoman hidup atau kurikulum utama manusia.

"Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab agar kita mau berpikir dan memahaminya, bukan sekadar dibaca tanpa mengerti reaches pesan di dalamnya," tutur Ustaz Sudarman dalam ceramahnya.

Mengakhiri kajiannya, beliau mengimbau seluruh jamaah agar senantiasa mengikuti petunjuk Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari demi mengamankan tiket menuju surga Allah SWT.


Reporter: M. Zaky Alfatih Rabbani KPI3B

Warga Cipadung Dirikan Masjid Miftahushudur karena Minim Tempat Ibadah


 Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Miftahushudur di Cipadung, Cibiru. Berdiri sekitar tahun 1970-an karena warga sekitar saat itu kekurangan sarana ibadah, ungkap Ustaz Yayan Suryana saat diwawancarai, Rabu (07/10/2026).

Menurut Ustaz Yayan, gagasan mendirikan masjid datang dari almarhum Ustaz Dodo Rahmat Syah. Nama awal masjid ini bukan Miftahushudur, melainkan Al-Misbah 2.

“Yang punya gagasan untuk mendirikan masjid yaitu Ustaz Dodo Rahmat Syah almarhum. Alhamdulillah, sampai sekarang masih berdiri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, wilayah tersebut dulu termasuk RW 11 yang disebut Rukun Kampung. Cakupannya luas, tetapi jumlah masjid dan musala sangat sedikit.

“Wilayahnya luas, cakupannya juga luas. Sementara sarana peribadatan, dalam hal ini masjid ataupun musala, sangat jarang,” katanya.

Sejak awal berdiri, masjid ini sudah dipakai untuk kegiatan keagamaan. Kegiatan pertamanya adalah manakib Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah yang digagas Ustaz Dodo.

Karena jemaahnya khusus, kegiatan manakib kemudian dipindah ke luar masjid. Setelah itu, masjid dipakai untuk kegiatan yang lebih umum, seperti majelis taklim dan pendidikan anak di TKQ, TPQ, dan DTA.

Ustaz Yayan menyebut masjid ini sudah tiga sampai empat kali direnovasi. Renovasi terbesar dimulai Oktober 2018 dan rampung menjelang pandemi Covid-19, sehingga bangunannya kini berlantai dua. Seluruh biaya, mulai dari material hingga tenaga kerja, ditanggung perusahaan yang menjadi sponsor.

“Kita hanya menerima manfaat saja, tahu beres, terima kunci,” ucapnya.

Namun, masjid yang baru diresmikan itu langsung ditutup. Pemerintah membatasi penggunaan tempat ibadah demi mencegah penularan Covid-19, tepat saat Ramadan pertama masa pandemi.

“Sudah antusias dibangun, direnovasi, ternyata begitu beres tidak bisa digunakan,” ungkapnya.

Kini masjid tersebut menjadi pusat pembinaan anak-anak, remaja, dan majelis taklim. Mahasiswa yang tinggal di masjid sebagai marbot dan takmir ikut membantu kegiatan itu. Pengajian malam Jumat juga rutin berjalan sejak masjid berdiri.

Banyak warga sekitar adalah pendatang, termasuk yang berlatar belakang pesantren. Mereka berbagi ilmu agama lewat majelis taklim dan pengajian untuk anak-anak maupun orang dewasa.

“Ini dalam rangka regenerasi. Alhamdulillah, masyarakat di sini antusias, responsnya juga baik,” imbuhnya.


Reporter: Kayla Azka Mufidah Hani, KPI/3B

Seluruh Bumi Ini Adalah Tempat Sujud, Ustaz Ojim Ajak Para Jemaah Untuk Merenungi Sejarah Berdirinya Masjid

 

Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Ukhuwwah Panyileukan menggelar kajian subuh rutin pada Rabu (16/9/2026). Kajian kali ini menghadirkan Ustaz Ojim sebagai penceramah. Ia membahas sejarah berdirinya masjid dan keutamaannya dalam Islam.

Dalam paparannya, Ustaz Ojim menjelaskan bahwa masjid berasal dari kata sajadah yang berarti tempat sujud. Ia menegaskan bahwa masjid adalah tempat terbaik bagi umat Islam untuk bersujud kepada Allah. “Masjid adalah tempat untuk sujud, tempat terbaik bagi kita semua,” ujar Ustaz Ojim di hadapan jemaah, Rabu (16/9/2026).

Ustaz Ojim kemudian mengutip Surah Al-Isra ayat 1 dan Surah Ali Imran ayat 96. Kedua ayat tersebut menyebutkan tentang Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa. Menurutnya, Masjidil Haram adalah masjid pertama yang dibangun di muka bumi.

Ia juga membacakan hadis yang diriwayatkan dari Abu Daud. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa Masjidil Haram dibangun 40 tahun sebelum Masjidil Aqsa. “Antara pembangunan Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa jaraknya 40 tahun,” ungkapnya.

Ustaz Ojim menyampaikan bahwa seluruh bumi ini pada dasarnya bisa dijadikan tempat sujud. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa bumi dijadikan sebagai masjid dan alat bersuci. “Bumi ini dijadikan tempat sujud bagi umatku, kecuali tempat yang kotor,” katanya.

Selain itu, ia menjelaskan keistimewaan tiga masjid utama dalam Islam. Salat di Masjidil Haram pahalanya setara 100.000 kali, Masjid Nabawi 1.000 kali, dan Masjidil Aqsa 250 kali. “Keutamaan ini hanya berlaku untuk tiga masjid tersebut,” ucap Ustaz Ojim.

Ustaz Ojim juga mengingatkan tentang masjid yang dibangun atas dasar perpecahan. Ia merujuk pada kisah Masjid Dhirar yang dibangun orang munafik pada zaman Nabi. “Hati-hati, jangan sampai masjid dibangun untuk memecah umat,” pesannya.

Di akhir kajian, ia mengajak jemaah untuk semangat memakmurkan Masjid Al-Ukhuwwah. Menurutnya, orang yang memakmurkan masjid adalah orang yang benar-benar beriman kepada Allah. “Masjid harus dijaga dan dimakmurkan bersama-sama,” tutupnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama dan salat subuh berjemaah. Jemaah tampak khusyuk menyimak seluruh penjelasan yang disampaikan. Kajian rutin ini menjadi agenda mingguan untuk memperkuat keimanan jemaah.

Reporter: Mochammad Chubaib Nur Farisyi/KPI 3B


Mengenal Sosok Sumpena, Tokoh Penggerak di Balik Perjuangan Makmurkan Masjid Al Ikrom


Uploaded Image

Dakwahpos.com, Bandung - Perjalanan panjang sebuah tempat ibadah tidak lepas dari dedikasi tokoh-tokoh lokal yang tulus mengabdi bagi masyarakat. Masjid Al Ikrom yang berlokasi di Sekejati, Bandung, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan peran aktif Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) serta partisipasi warga setempat.

Pak ​Sumpena, selaku Ketua DKM Masjid Al Ikrom, memaparkan bahwa eksistensi masjid ini berawal dari sebuah mushola kecil yang dibangun di atas tanah wakaf keluarga. Mushola tersebut awalnya berdampingan dengan Masjid Manbaul Huda, sebelum akhirnya berkembang menjadi masjid mandiri pada era 1970-an berkat wakaf tanah seluas dua belas tumbak dari para leluhur keluarga.

​Sebagai pemimpin DKM yang telah dipercaya melalui proses musyawarah mufakat secara demokratis sejak masa jabatan sebelumnya hingga periode 2024–2027, Pak Sumpena mendedikasikan waktunya untuk mengurus umat. Ia menegaskan bahwa amanah sebagai ketua DKM dijalankan bukan atas dasar ambisi pribadi, melainkan bentuk panggilan jiwa untuk menjaga keistiqamahan jamaah.

​"Namanya orang dipercaya harus diterima begitunya, walau pun kita ga mau juga, paling ya mengurus umat, datang membawa bekal akhirat," ujar Pak Sumpena saat menceritakan motivasinya dalam memimpin DKM Masjid Al Ikrom.

Ia juga berpesan kepada generasi muda agar senantiasa membiasakan diri memakmurkan masjid sejak usia dini, karena kedekatan dengan rumah Allah di masa tua berawal dari kebiasaan baik di masa muda.

​Di bawah kepengurusannya, Masjid Al Ikrom terus konsisten menjalankan berbagai program keagamaan yang fleksibel namun terstruktur. Program tersebut meliputi pengajian rutin ba'da Subuh, malam Ahad, ba'da Maghrib, hingga pembinaan khusus bagi anak-anak dan remaja yang dibimbing langsung oleh pengajar setempat seperti Bu Yani dan Bu Naning.

​Reporter: Adni, KPI/3B

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos