Allah berfirman dalam Surat Al-Mulk ayat 10,
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ
Dalam surat Al-Mulk ayat 10, Allah menggambarkan penyesalan orang-orang kafir yang tidak mau mendengarkan atau memikirkan perihal peringatan Allah. Mereka berkata "Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa'ir (yang menyala-nyala)."
Dapat disimpulkan dari arti Surat Al-Mulk ayat 10 bahwa mendengar dan mengetahui ilmu saja belum cukup, karena seharusnya ilmu itu harus kita pelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat memberikan manfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.
Kajian yang dipimpin oleh Ustaz Wahyu menekankan satu pesan penting bahwa ilmu tanpa amal maka tidak memiliki nilai. Menurut saya, pesan itu sangat relevan dengan kondisi sekarang. Banyak orang tahu kebaikan, tapi enggan mempraktikkannya. Ilmu hanya berhenti di lisan, tidak sampai ke hati. Padahal, seseorang baru bisa disebut berilmu ketika ilmunya mengubah sikap dan perilakunya menjadi lebih baik.
Pesan serupa juga disampaikan oleh Ketua DKM Ar-Rahmat, Bapak Edih Supardih, bahwa dalam mengamalkan ilmu bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Seperti untuk para ibu, penerapan ilmu agama dapat diwujudkan dengan mendidik anak-anak dengan penuh kesabaran, serta mencontohkan sikap sopan dalam keseharian. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 6: "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."
Saya setuju dengan pendapat Bapak Edih, karena perubahan besar dimulai dari hal kecil yang sudah menjadi kebiasaan. Menurut saya, mengamalkan ilmu di lingkungan keluarga adalah langkah nyata untuk membangun generasi berakhlak mulia. Dengan begitu saya percaya, ketika seorang ibu berakhlak baik dan mengamalkan ilmunya, anak-anak akan menirunya. Dari sanalah pengamalan ilmu yang menumbuhkan akhlak terpuji tercapai.
Reporter: Yuhan Safarah, KPI/3C