Menyulap Sampah Jadi Cuan: Startup Kreatif Ini Berhasil Bawa Produk Daur Ulang Lokal Tembus Pasar Internasional
Sejarah Berdirinya Masjid Al Furqon di Kampung Ciparia Wetan
Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al Furqon di Kampung Ciparia, Baleendah, Kabupaten Bandung, berdiri pada akhir 1990 atas dasar kebutuhan masyarakat setempat yang belum memiliki tempat ibadah. Hal itu disampaikan Bapak Tadiman Soleh, yang akrab disapa Pak Endew, saat diwawancarai Azmi Dwi Lestari di lingkungan masjid, Jumat (16/10/2026).
Menurut
Pak Endew, pembangunan masjid dimulai pada November 1990 dan diresmikan sebulan
kemudian, yakni Desember 1990. Masjid ini berlokasi di Ciparia Wetan. Ia
menuturkan, gagasan mendirikan masjid muncul karena pada waktu itu belum ada
masjid di wilayah tersebut. “Karena kebutuhan masyarakat waktu itu,” ujarnya.
Tokoh
yang memprakarsai berdirinya masjid adalah Abah Maja. Proses pendiriannya
diawali dengan musyawarah antara ketua RT, RW, dan Abah Maja. Hasil musyawarah
itu kemudian dijalankan melalui gotong royong dan swadaya masyarakat hingga
masjid berhasil berdiri.
Soal
nama, Pak Endew menjelaskan bahwa nama Al Furqon tidak ditentukan sepihak. Nama
tersebut ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat setempat.
Kini,
setelah sekitar 36 tahun berdiri, Pak Endew berharap masjid ini terus
berkembang. “Mudah-mudahan bisa lebih baik lagi, lebih maju lagi, dan lebih
banyak lagi yang berjamaah di masjid ini,” tuturnya.
Reporter:
Azmi Dwi Lestari
Narasumber:
Bapak Tadiman Soleh (Pak Endew)
Lokasi
Liputan: Masjid Al – Furqon Ciparia Wetan, Baleendah, Bandung
Upaya Madrasah Al Mukminun Membina Akhlak dan Karakter Siswa di Tengah Keterbatasan
Dakwahpos.com,
Bandung – Madrasah Al Mukminun di Baleendah, Kabupaten Bandung, terus berupaya
membina akhlak dan karakter siswanya meski harus berjalan mandiri tanpa yayasan
dan tanpa bantuan donatur. Hal itu disampaikan Ustazah Eli Yulia saat
diwawancarai pada Kamis (15/10/2026).
Menurut
Eli, kendala yang paling sering dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar (KBM)
adalah perbedaan kemampuan antar siswa. Untuk mengatasinya, guru terlibat
langsung dengan siswa, memberikan pengertian, dan mengajar lebih intensif.
Dalam hal perilaku, ia menyebut sejauh ini tidak ada pelanggaran yang serius.
“Kalaupun ada perilaku yang kurang baik, tidak melibatkan orang lain, kita
langsung memberikan arahan kepada murid tersebut,” ujarnya.
Perbaikan
pembelajaran dilakukan setelah siswa menjalani tes. Jika ada siswa yang
hasilnya kurang, guru mengulas dan menerangkan kembali materi di akhir
pelajaran sebelum pulang. Sumber belajar yang digunakan adalah buku kurikulum
dari lembaga resmi KDT tingkat kabupaten.
Eli
menilai masih adanya siswa yang sulit membaca, kurang aktif, atau berhasil
belajar rendah umumnya disebabkan kurangnya lingkungan yang mendukung. Salah
satunya, sebagian orang tua kurang memperjuangkan anaknya untuk mengaji. Ada
pula anak yang berangkat dari rumah tetapi bolos dan tidak sampai ke madrasah.
Namun, jumlahnya sangat kecil, hanya satu atau dua orang.
Dalam
menanamkan karakter dan akhlak, madrasah membiasakan siswa salat ketika waktu
salat tiba. Madrasah juga memiliki ekstrakurikuler praktik salat sepekan sekali
yang mengajarkan gerakan dan bacaan salat secara penuh. Untuk pembinaan akhlak,
setiap pelanggaran, besar maupun kecil, langsung ditindak dengan arahan kepada
siswa yang bersangkutan.
Di
balik upaya tersebut, Madrasah Al Mukminun masih menghadapi keterbatasan. Eli
mengatakan madrasah selama ini berjalan mandiri, tidak berada di bawah yayasan,
dan belum mendapat donatur. Ia berharap ada donatur yang bersedia membantu,
baik untuk pengadaan alat tulis kantor (ATK) maupun kesejahteraan guru.
“Harapan terbesar, kami bisa lebih berjuang lagi untuk memajukan madrasah ini,”
tuturnya.
Reporter:
Azmi Dwi Lestari
Narasumber:
Ustazah Eli Yulia
Lokasi
Liputan: Madrasah Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung
Tanggal
Liputan: 15 Oktober 2026
Ustad Ade: Kajian Tafsir Al-An’am Ayat 47 – 50, Menjelaskan Siksa bagi Kaum Zalim, Tugas Para Rasul, hingga Perumpamaan Orang Buta dan Melihat
Dakwahpos.com, Bandung – Ustad Ade mengingatkan jamaah bahwa azab Allah dapat datang kapan saja, baik secara mendadak maupun dengan tanda-tanda yang jelas. Pesan itu disampaikannya dalam pengajian di Masjid Al-Mu’minun, Baleendah, Bandung, Minggu (11/10/2026).
Dalam
ceramah berbahasa Sunda tersebut, Ustad Ade mengkaji QS. Al-An’am ayat 47
sampai 50. Ayat-ayat itu dibacakan beserta terjemahannya, kemudian dijelaskan
satu per satu kepada jamaah.
Menurutnya,
ayat 47 memerintahkan Nabi Muhammad bertanya kepada kaum Mekah tentang
kemungkinan datangnya azab Allah. Azab itu bisa datang tiba-tiba (baghtatan),
misalnya saat orang sedang santai atau mengobrol, seperti longsor ketika hujan
yang menimpa rumah dan penghuninya. Azab juga bisa datang terang-terangan
(jahratan), yaitu dengan tanda-tanda sehingga bisa diperkirakan. Ia
mencontohkan hujan angin disertai petir yang sangat berbahaya.
Ustad
Ade menjelaskan bahwa yang dibinasakan hanyalah kaum zalim. Sebelum menurunkan
azab di suatu daerah, kata dia, Allah lebih dahulu memisahkan orang beriman
dari yang tidak beriman. Ia mencontohkan kisah Nabi Luth, yang bersama
orang-orang beriman diperintahkan keluar dari daerahnya menjelang subuh dengan
didampingi malaikat Jibril. Jika orang beriman ikut terkena bencana, hal itu
disebut musibah dan Allah akan menggantinya dengan pahala yang besar.
Pada
ayat 48 dan 49, ia menyampaikan bahwa para rasul diutus sebagai pembawa kabar
gembira dan pemberi peringatan. Orang yang beriman dan beramal saleh tidak akan
merasa takut maupun bersedih. Sebaliknya, pendusta ayat-ayat Allah, yakni
Al-Qur’an dan hadis, akan ditimpa azab karena kefasikannya.
Pada
ayat 50, Ustad Ade menegaskan bahwa Nabi tidak pernah mengaku memiliki
perbendaharaan Allah. Rezeki sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Nabi juga
tidak mengetahui perkara gaib kecuali yang diwahyukan kepadanya, dan beliau
bukan malaikat. Orang kafir diibaratkan orang buta yang tidak melihat jalan
yang benar, sedangkan orang beriman diibaratkan orang yang melihat sehingga
besar harapannya selamat.
Menutup
ceramahnya, Ustad Ade mengajak jamaah untuk bertafakur dan merenungi ayat-ayat
tersebut. Ia berharap keimanan jamaah tumbuh dari pemikiran dan kesadaran,
bukan sekadar ikut-ikutan.
Reporter:
Azmi Dwi Lestari
Lokasi
Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung
Tanggal
Liputan: 11 Oktober 2026
Ustaz Zaenal: Hakikat Orang Cerdas; Menaklukkan Hawa Nafsu dan Menyiapkan Bekal Setelah Kematian
Dakwahpos.com,
Bandung – Orang cerdas adalah orang yang mampu menaklukkan hawa nafsunya dan
menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Hal itu disampaikan Ustaz
Zaenal dalam pengajian rutin Jumat pagi di Masjid Al-Mu’minun Baleendah,
Bandung, Jumat (9/10/2026).
Dalam
ceramahnya, Ustaz Zaenal mengawali dengan mengajak jamaah bersyukur atas nikmat
umur, kesehatan, dan kesempatan beribadah. Menurutnya, umur panjang hanya
bermakna jika dipakai untuk taat kepada Allah. Ia mengingatkan bahwa setiap
tarikan napas yang tidak dimanfaatkan untuk zikir dan ibadah akan menjadi
sia-sia dan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Harta pun, kata dia,
semestinya digunakan untuk berinfak di jalan Allah, menyantuni anak yatim, dan
membantu sesama, bukan dihambur-hamburkan.
Ustaz
Zaenal juga menegaskan bahwa hidup manusia tidak boleh berhenti pada urusan
mencari nafkah, makan, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Memberi nafkah memang
bagian dari ibadah, tetapi yang paling utama adalah taat kepada Allah. Jika
hidup hanya untuk mencari nafkah bagi anak dan keluarga, katanya, manusia tidak
berbeda dengan hewan yang juga mencari makan untuk anak-anaknya.
Pada
bagian selanjutnya, ia menjelaskan hubungan antara salat, akhlak, dan adab. Ia
meluruskan anggapan bahwa salat dan berjilbab itu percuma jika akhlak masih
buruk. Menurutnya, orang yang berperilaku baik kepada sesama tetapi
meninggalkan salat justru lebih berbahaya, karena menolak perintah Allah. Salat
yang istikamah, lanjutnya, seharusnya berbuah kepribadian dan kebiasaan baik,
serta membawa ketenangan. Jika setelah salat seseorang masih gemar membicarakan
keburukan orang lain, salatnya perlu dikoreksi. Ia juga menyebut adab bersumber
dari ilmu, sehingga orang yang tidak berilmu mudah salah dalam memahami agama.
Ustaz
Zaenal menyebut sujud sebagai puncak adab karena menunjukkan kerendahan diri di
hadapan Allah. Mengutip hadis, ia menyampaikan bahwa orang yang tawaduk akan
diangkat derajatnya, sedangkan orang yang sombong akan direndahkan. Ia
mencontohkan Firaun sebagai simbol kesombongan karena berani mengaku tuhan dan
menolak dakwah Nabi Musa serta Nabi Harun. Firaun berakhir dengan kehinaan dan
jasadnya diabadikan sebagai pelajaran bagi manusia. Selain sombong, Firaun juga
memiliki sifat berlebihan (israf).
Terkait
sifat berlebihan, penceramah mengingatkan agar jamaah tidak boros dalam hal apa
pun, mulai dari uang, makanan, hingga air. Orang yang mubazir, katanya, termasuk
saudara setan. Meski begitu, ia tidak menganjurkan sikap kikir. Jamaah diminta
mengambil jalan tengah, yakni hidup sederhana dan bersyukur tanpa berlebihan
maupun terlalu pelit.
Memasuki
inti ceramah, ia menjelaskan sabda Rasulullah bahwa orang cerdas adalah orang
yang mampu menaklukkan hawa nafsunya. Contohnya melawan rasa malas dan kantuk
agar bisa salat Subuh tepat waktu serta tetap mengaji dan beramal di tengah
kesibukan. Hawa nafsu, menurutnya, cenderung ingin terus makan, membeli
pakaian, dan berbelanja. Orang yang mampu berinfak dan bersedekah adalah mereka
yang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya.
Selain
menaklukkan hawa nafsu, orang cerdas juga mempersiapkan amal untuk kehidupan
setelah mati. Ustaz Zaenal mengingatkan agar jamaah tidak hanya sibuk mengurus
tubuh, perut, dan urusan dunia, sementara salat diabaikan. Ia juga memberi
pesan praktis, antara lain mendahulukan bersuci dan salat ketika bangun Subuh
sebelum mengerjakan urusan lain. Ia pun menganjurkan jamaah menjaga kebersihan
diri saat berkumpul serta menjaga kebersihan dan keharuman tempat salat dan
sajadah agar ibadah terasa nyaman. Jika memungkinkan, jamaah dianjurkan
memiliki ruang khusus untuk salat di rumah.
Pengajian
ditutup dengan doa agar jamaah dimuliakan Allah, diberi nikmat untuk terus
istikamah beribadah, dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Pengajian rutin
Jumat pagi di Masjid Al-Mu’minun ini diharapkan dapat terus menjadi sarana
jamaah untuk menambah ilmu dan memperkuat ketakwaan.
Reporter:
Azmi Dwi Lestari
Lokasi
Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung
Tanggal
Liputan: 9 Oktober 2026
Ustadz Zaenal: Jelaskan Makna Muroqobah kepada Jamaah, Ajarkan Cara Rasakan Pengawasan Allah Setiap Saat
Dakwahpos.com,
Bandung – Ustadz Zaenal menjelaskan makna muraqabah, yaitu kesadaran hati bahwa
Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya, dalam pengajian rutin di Masjid
Al-Mu'minun, Baleendah, Kabupaten Bandung, Sabtu (19/9/2026). Di hadapan
jamaah, ia juga mengajarkan cara menumbuhkan perasaan diawasi Allah dalam
setiap gerak dan diam.
Dalam
ceramahnya, Ustadz Zaenal melanjutkan materi pekan sebelumnya tentang
kewajiban. Ia menerangkan bahwa sebagian kewajiban dikerjakan oleh anggota
badan, sedangkan sebagian lainnya dikerjakan oleh hati. Karena hati bersifat
batiniah dan tidak terlihat mata, kewajiban ini kerap luput dari perhatian.
Menurutnya, urusan lahir dan batin sama-sama harus diurus, dan keduanya
memiliki ilmunya masing-masing.
Salah
satu kewajiban hati yang ia bahas adalah muraqabah. Secara bahasa, muraqabah
berarti terus-menerus memperhatikan sesuatu yang dituju. Secara istilah dalam
ilmu tasawuf, muraqabah adalah terus-menerus memandang Allah dengan mata hati.
"Terus-menerus" berarti tidak putus, baik saat bergerak, diam,
memandang, maupun ketika pikiran melintas di kepala. Untuk memudahkan, ia
mencontohkan hati yang selalu tertuju pada sesuatu yang membuat seseorang
terkesan tanpa henti. Arah hati seperti itulah yang seharusnya tertuju kepada
Allah.
Ia
menegaskan bahwa muraqabah dilakukan dengan mata hati, bukan mata kepala. Mata
kepala digunakan untuk melihat ciptaan Allah, seperti langit, gunung, bumi, dan
hujan. Dari situ, hati diajak menyadari kekuasaan Sang Pencipta. Saat hujan
turun, misalnya, seorang yang bermuraqabah langsung sadar bahwa hujan hanya
turun atas kehendak Allah. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, tetapi tidak
mampu menurunkan atau menahan hujan yang sesungguhnya.
Menurut
Ustadz Zaenal, kemampuan bermuraqabah bergantung pada makrifatullah, yaitu
mengenal Allah. Pengenalan itu mencakup sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya,
janji-Nya berupa pahala, dan ancaman-Nya berupa siksa. Karena itu ia menekankan
pentingnya belajar ilmu tauhid dan akidah. Ia mengibaratkannya dengan upaya
mengingat kematian. Orang yang hatinya masih tertambat pada dunia sulit
mengingat mati, sedangkan orang yang terus mengaji dan mendalami ilmu akhirat
akan lebih mudah mengingatnya.
Ia
juga mengingatkan agar rajin mengaji dan beribadah tidak membuat seseorang
merasa aman dan lalai. Rasa takut setelah berbuat dosa, katanya, adalah tanda
iman masih hidup.
Ustadz
Zaenal menyebut muraqabah membuahkan dua hal. Pertama, husnul adab atau akhlak
yang baik, terutama adab kepada Allah. Orang yang yakin selalu diawasi Allah
tidak berani berbohong, bersumpah palsu, atau bermain-main dengan dosa.
Baginya, meninggalkan salat termasuk pelanggaran adab yang besar kepada Allah.
Kedua, keselamatan dari beratnya hisab pada hari kiamat, karena hati orang yang
bermuraqabah tidak lagi terikat pada urusan dunia.
Dalam
kesempatan itu ia turut mengingatkan jamaah yang telah rutin salat dan mengaji
agar tidak merendahkan orang lain yang belum melaksanakannya. Menurutnya,
mereka perlu memperbaiki akhlak di rumah dan kepada tetangga serta menasihati
dengan sabar. Ia juga menolak ungkapan "percuma salat". Salat yang
didirikan dengan benar seharusnya membawa perubahan positif, seperti hati yang
tenang dan akhlak yang baik. Bila belum terasa, jalan keluarnya adalah menambah
ilmu agar kualitas salat meningkat.
Sebagai
dasar kewajiban muraqabah, ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa Allah
Maha Mengawasi segala sesuatu. Ia juga mengutip hadis Jibril tentang ihsan,
yakni beribadah seolah-olah melihat Allah. Jika belum mampu merasa melihat-Nya,
seseorang harus yakin bahwa Allah melihatnya. Menurutnya, inilah inti
muraqabah.
Pengajian
ditutup dengan pesan agar jamaah menjaga kesadaran itu dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga ibadah dan akhlak terus meningkat hingga akhir hayat
dalam keadaan iman, Islam, dan ihsan.
Reporter:
Azmi Dwi Lestari
Lokasi
Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung
Tanggal
Liputan: 19 September 2026
Ustaz Zaenal: Mengajak Untuk Menuntut Ilmu Sebagai Jalan Keselamatan
Dakwahpos.com,
Bandung - Kegiatan kajian rutin di Masjid Al – Mu’minun, Bandung, pada Sabtu,
12 September 2026 membahas pentingnya menuntut ilmu dan mengamalkan ajaran
agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ceramahnya, Ustaz Zaenal menyampaikan
bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu jalan menuju keselamatan, kebaikan,
dan kemuliaan di dunia maupun akhirat.
Kajian
tersebut diikuti oleh jamaah Masjid Al – Mu’minun dan berlangsung pada pukul
20.00 – 22.00 WIB. Dalam penyampaiannya, Ustaz Zaenal menekankan bahwa kegiatan
keagamaan dan mencari ilmu tidak seharusnya dianggap sebagai kegiatan biasa.
Menurutnya, menghadiri kegiatan keagamaan dan mendengarkan arahan yang
bersumber dari Al-Qur'an, hadis, serta penjelasan para ulama merupakan bagian
penting dalam kehidupan seorang Muslim.
Ustaz
menjelaskan bahwa menuntut ilmu merupakan jalan untuk mencapai kebaikan dunia
dan akhirat. Ilmu juga disebut sebagai jalan menuju keselamatan, kesejahteraan,
kemuliaan, keberkahan, dan ketenangan. Karena itu, umat Islam didorong untuk
terus meningkatkan pengetahuan agama dan menjadikannya sebagai pedoman dalam
kehidupan.
Selain
membahas pentingnya ilmu, khutbah juga menyoroti hubungan antara ilmu dengan
pelaksanaan ibadah. Dalam materi yang disampaikan, ibadah tidak cukup hanya
dilakukan secara lahiriah, tetapi perlu disertai pemahaman dan penghayatan agar
memberikan pengaruh terhadap kehidupan seseorang.
Ustaz
Zaenal juga mengingatkan jamaah agar tidak memandang agama hanya sebagai
identitas. Menurutnya, keberagamaan perlu diwujudkan melalui perilaku dan amal
nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ibadah yang dilakukan
diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi mampu memberikan
kekuatan dan perubahan dalam kehidupan.
Dalam
ceramahnya, Ustaz Zaenal menyampaikan, "Hadir ke masjid ilmu itu apa
manfaatnya, kgunaan nya dan manfaatnya, bahwa hadir ke majlis ilmu itu di
anggap sebagai kebiasaan yg biasa-biasa aja. Bahwa hadir ke masjlis ilmu itu
bukan hal yg biasa, atau hadir ke majlis ilmu itu adalah pekerjaan, amal ibadah
yg luar biasa itu harus dijadikan prinsip dalam hidup kita jalan untuk menumpuh
kepada kebaikan jalan nya itu dengan cara tolabul ilmi, itu untuk kesuksesan
dunia akhirat, hadir ke majlis ilmu iu jalan keselamatan, selamat dunia dan
akhirat, apa yg terjadi kepada kita di dunia itu akan menjadi pintu keselamatan
jika kita tolabul ilmi."
Melalui
ceramah tersebut, jamaah diajak untuk meningkatkan perhatian terhadap ilmu
agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang disampaikan
menekankan bahwa ilmu, ibadah, dan pengamalan ajaran agama perlu berjalan
bersama agar memberikan manfaat bagi kehidupan di dunia maupun sebagai bekal di
akhirat.
Reporter:
Azmi Dwi Lestari
Lokasi
Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung
Tanggal
Liputan: 12 September 2026
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)
.png)