Berita Terbaru

Masjid Harus Menjadi Ruang Aman bagi Remaja di Era Digital

Dakwahpos.com – Di era digital seperti sekarang, kebutuhan remaja terhadap ruang berkegiatan yang positif semakin mendesak. Masjid dapat menjadi tempat terbaik untuk itu, bukan hanya sebagai lokasi ibadah, tetapi juga sebagai ruang aman untuk belajar, berdiskusi, dan mengembangkan diri. Sayangnya, banyak masjid yang masih belum memaksimalkan potensi ini.

Remaja membutuhkan kegiatan yang relevan dengan dunia mereka. Program seperti kajian tematik, mentoring akhlak, kelas kreativitas, hingga diskusi keagamaan yang interaktif bisa menjadi jembatan yang efektif. Dengan pendekatan yang tidak kaku, masjid dapat menjadi tempat yang menyenangkan untuk belajar agama tanpa merasa digurui.

Selain itu, kehadiran masjid sebagai ruang sosial membantu remaja menjauh dari pengaruh negatif media digital. Di masjid, mereka bisa bertemu teman sebaya, belajar bekerja sama, serta menumbuhkan empati melalui kegiatan kepengurusan atau aksi sosial. Interaksi langsung seperti ini penting agar mereka tidak hanya terpaku pada dunia virtual.

Masjid yang mampu membuka diri bagi remaja bukan hanya menjaga generasinya hari ini, tetapi juga membentuk calon pemimpin umat di masa depan. Jika masjid ingin tetap relevan, maka menghidupkan ruang kegiatan yang ramah remaja adalah langkah yang tidak bisa ditunda lagi.

Reporter: Zahra Bunga Zakiyyah KPI/3B

Tingkatkan Kepedulian Sejak Dini, Anak-Anak Masjid Al-Muhajirin Manfaatkan Waktu Menunggu dengan Menjaga Kebersihan.

Dakwahpos.com-Bandung, Masjid Al-Muhajirin kembali menghadirkan momen positif dalam kegiatan anak-anaknya. Sembari menunggu kedatangan ustadzah, para murid memanfaatkan waktu dengan menyapu dan membersihkan area sekitar tempat belajar. Kegiatan sederhana ini menjadi langkah untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.

Anak-anak terlihat antusias memegang sapu dan membantu merapikan area sekitar. Selain menjaga kebersihan, aktivitas ini juga melatih kemandirian serta membiasakan mereka untuk peduli pada lingkungan tempat mereka belajar dan bermain.

Kegiatan kecil namun bermakna ini menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Masjid Al-Muhajirin berharap kebiasaan baik ini terus tumbuh dan menjadi bagian dari perilaku sehari-hari para murid.

Reporter : Nisha Asyifa Ridha Murti/KPI3C


Tingkatkan Pemahaman Fikih, DKM Al-Ikhlas Rancasari Gelar Pengajian Fikih


Dakwahpos.com, Bandung – Kajian fikih untuk bapak-bapak pada malam Jumat (11/12/2025), berlangsung khusyuk dan tertib. Kegiatan ini diisi oleh Ustaz Noor Ganjar Setiawan, yang memberikan pemahaman mengenai dasar-dasar fikih Islam serta urgensinya dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penyampaiannya, Ustaz Noor Ganjar Setiawan menekankan bahwa fikih bukan hanya sekadar ilmu hukum, tetapi pedoman bagi setiap muslim dalam menjalani ibadah dan bermuamalah. "Fikih Islam mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari tata cara ibadah, etika bermasyarakat, hingga aturan dalam bertransaksi. Semua itu bertujuan agar seorang muslim dapat hidup dengan tuntunan yang benar," ujarnya (11/12/2025).

Beliau juga menambahkan bahwa memahami fikih merupakan wujud kehati-hatian dalam beragama, karna bayak yang hanya mengetahui ilmu nya tapi tidak bisa mengamalkannya, begitupun sebaliknya.

"Seorang muslim hendaknya tidak beribadah hanya berdasarkan kebiasaan, tetapi berdasarkan ilmu. Dengan belajar fikih, kita tahu mana yang diperintahkan, mana yang dilarang, dan bagaimana menjalankan agama secara tepat," kata Ustaz Noor Ganjar Setiawan (11/12/2025).

Para jamaah tampak antusias mengikuti kajian, dibuktikan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung cukup lama. Kegiatan ditutup dengan do'a bersama dan ajakan untuk terus istiqamah menuntut ilmu agama.

Reporter : Rahma Fauziyah, KPI/3C



Refleksi Nikmat Ilahi dan Teladan Kemanusiaan Rasul

Dakwahpos.com, Bandung- Dua pilar keimanan, yaitu keluasan Nikmat Rububiyyah Allah dan urgensi meneladani sifat wajib para Nabi dan Rasul, adalah dua pondasi penting untuk dapat membangun kehidupan yang berkah dan mencapai khusnul khatimah bagi seorang mukallaf.

Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu berada dalam pemeliharaan Allah, yang disebut Nikmat Rububiyyah , dimana rezeki dan sistem kehidupan diberikan secara merata kepada seluruh manusia tanpa memandang keimanan. Oleh karena itu, umat manusia wajib bersyukur dan berupaya mencari rida-Nya. Karena tidak mungkin Allah menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia, melainkan pasti memiliki manfaat.

1. Keluasan Nikmat Rububiyyah
Nikmat pemeliharaan Rububiyyah ini diberikan Allah secara merata kepada seluruh manusia, tanpa memandang status keimanan. Oksigen, sinar matahari, dan makanan diberikan kepada orang mukmin, kafir, maupun munafik. Bahkan, sistem dalam tubuh kita, seperti detak jantung yang memompa darah, diatur sepenuhnya oleh Allah, baik pada tubuh orang mukmin maupun kafir. Kesadaran ini diperkuat dengan firman Allah dalam Surah Ar-Rahman
:فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ  
(maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang akan kamu dustakan).

2. Mengagungkan Kelahiran Nabi Muhammad SAW
Bulan Rabiul Awwal merupakan momen penting untuk meniatkan pengagungan dan penghormatan (Ta'dziman Wa Takliman) atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad sesungguhnya tidak memerlukan sholawat dari umatnya, tetapi umatnyalah yang membutuhkan beliau. Ibarat menadahkan limpahan rahmat dan syafa'at dari beliau. Harapan terbesar sebagai manusia adalah diangkat menjadi umat beliau dan memperoleh syafa'atnya di hari kiamat. 

3. Empat Sifat Wajib Rasul
Melalui pembelajaran kitab Aqidatul Awam karya Syekh Ahmad Marzuki , umat muslim wajib mengetahui dan meyakini empat sifat wajib bagi para Rasul. Sifat-sifat ini juga dimiliki oleh semua Nabi. Yaitu Sidiq (benar), Amanah (dapat di percaya), Tabligh (menyampaikan), Fathonah (cerdas). Penting untuk dipahami bahwa Rasul pasti seorang Nabi, tetapi Nabi belum tentu menjadi Rasul. Nabi adalah laki-laki yang diberi wahyu tetapi tidak diperintahkan menyampaikan risalah kepada umatnya. Sebaliknya, Rasul diberi wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan risalah kepada umatnya. Nabi dan Rasul yang wajib diketahui berjumlah dua puluh lima orang.

4. Kemanusiaan Rasul yang Terjaga
Selain sifat wajib, Rasul juga memiliki sifat Jaiz atau sifat kemanusiaan (A'radul Basyariyyah). Rasul dapat mengalami hal-hal layaknya manusia biasa seperti sakit ringan, makan, minum, berjalan, dan menikah. Namun, sifat-sifat kemanusiaan ini tidak pernah mengurangi martabat dan derajat mereka. Para Nabi dan Rasul dijaga (ma'sum) oleh Allah dari perbuatan dosa dan maksiat, layaknya Allah menjaga para Malaikat. Menariknya, derajat para Nabi dan Rasul melebihi derajat para Malaikat.

Memperdalam ilmu agama adalah upaya untuk memperbaiki urusan agama. Seseorang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka ia akan diberikan pemahaman mendalam tentang agama (Maa Yuridillahu Khoiron Yufaqqihu Fiddin). Umat muslim wajib mengimani bahwa Allah memiliki para Nabi dan Rasul.

Sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah: 285:
اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖۗ وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur'an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya." Mereka juga berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali."

Dengan terus meneladani empat sifat wajib Rasul, harapannya dapat menjaga diri dari perbuatan yang merusak nilai-nilai ajaran Islam, serta mendapatkan jaminan khusnul khatimah.

Reporter: Tiara Nur`ilma, KPI/3D
 

Kegiatan Yasinan di Masjid Al-Huda Cipadung


Dakwahpos.com, Bandung – Kegiatan rutin Yasinan kembali digelar di Masjid Al-Huda Cipadung pada Kamis (11/12/2025). Acara tersebut berlangsung dengan khidmat dan diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan, baik bapak-bapak, ibu-ibu, maupun remaja setempat.

Yasinan kali ini dipimpin oleh Eli Hasan, selaku Ketua RW, yang juga memberikan arahan singkat mengenai pentingnya menjaga kekompakan dan mempererat silaturahmi antarwarga. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa kegiatan keagamaan seperti Yasinan bukan hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai media memperkuat kebersamaan dan meningkatkan kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.

Acara dimulai dengan pembacaan Surah Yasin berjamaah, dilanjutkan dengan doa bersama untuk keselamatan warga, kelancaran rezeki, dan kemaslahatan lingkungan RW. Jamaah mengikuti rangkaian kegiatan dengan penuh kekhusyukan.

Dengan terselenggaranya Yasinan yang rutin dan terkoordinasi dengan baik, masyarakat RW10 diharapkan semakin solid, religius, dan saling mendukung dalam kebaikan.

Reporter : Silvi Angraini Piliang KPI 3/A

Ustaz Aan kurnia Khatib Jumat Masjid Nurul Hasanah Bandung Ajak Jamaah menjaga lisan dan hati di era media sosial




Dakwahpos, Bandung – (17/10/2025) Masjid Nurul Hasanah menggelar ibadah salat Jumat berjamaah yang diikuti ratusan jamaah dari berbagai kalangan masyarakat sekitar kawasan Buah Batu, hingga luar wilayah Bandung Raya. Pada Jumat kali ini, khatib yang mengisi mimbar adalah Ustadz Aan kurnia, dengan tema khutbah yang sangat relevan dengan kondisi umat saat ini: "Menjaga Lisan dan Hati di Era Media Sosial".

Khutbah Jumat dimulai tepat setelah adzan kedua berkumandang. Pada khutbah pertama, ustadz mengawali dengan membacakan firman Allah SWT dalam Surah Al-Hujurat ayat 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Beliau menjelaskan bahwa di era media sosial yang serba cepat ini, banyak umat Islam terjebak dalam dosa lisan dan hati: ghibah, fitnah, adu domba, hoaks agama, hingga saling menghujat sesama muslim hanya karena perbedaan pilihan politik, mazhab, atau bahkan tim sepak bola. "Satu kali klik 'share' tanpa tabayyun bisa menghancurkan kehormatan saudara kita bertahun-tahun," tegas ustadz.

Pada khutbah kedua, ustadz mengingatkan sabda Rasulullah SAW:
« المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده »
"Seorang muslim adalah orang yang membuat muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya."

Beliau mengajak jamaah untuk menjadikan media sosial sebagai ladang pahala, bukan ladang dosa: menyebarkan ilmu yang bermanfaat, membela yang terzalimi dengan cara yang bijak, serta menahan jari sebelum mengetik kata-kata yang menyakitkan. "Jika tidak mampu berkata baik, maka diam itu lebih utama," pesan beliau.

Suasana khusyuk dan haru sangat terasa. Beberapa jamaah terlihat menunduk lama usai khutbah, seolah sedang muhasabah diri. Tak sedikit yang terlihat mengusap air mata, terutama para pemuda yang aktif di media sosial.

Usai salat, banyak jamaah yang mendatangi ustadz untuk bersalaman sambil meminta maaf lahir batin. "Ustadz, tadi seperti ditampar pakai Al-Qur'an dan hadits, tapi tamparan yang menyejukkan," ujar salah seorang jamaah sambil tersenyum.

Pengurus masjid menyatakan akan mengundang ustadz yang sama di pekan-pekan mendatang untuk seri khutbah bertema "Etika Bermedia Sosial dalam Islam", mengingat antusiasme dan dampak yang sangat terasa dari khutbah kali ini.


Reporter: Muhammad Fawaz Fairuzabadi

Pengajian Bapak-Bapak Angkat Tema “Menjadi Bapak Nu Ngaberkahan Keluarga”

Dakwahpos.com-Bandung 27 November 2025 – Masjid Roudhotul Mutaqin yang beralamat di Jl. Cibiru Hilir No.143, Cibiru Wetan, Kecamatan Cileunyi, kembali menggelar pengajian rutin bagi bapak-bapak pada malam Ahad. Dalam kegiatan tersebut, penceramah menyampaikan materi bertema "Menjadi Bapak Nu Ngaberkahan Keluarga", yang menekankan pentingnya peran seorang ayah sebagai pemimpin dan teladan dalam kehidupan rumah tangga.

Dalam penyampaiannya, penceramah mengajak jamaah untuk senantiasa mensyukuri nikmat Allah, terutama nikmat kesehatan dan kesempatan untuk menghadiri majelis ilmu. Ia menegaskan bahwa menurut sabda Rasulullah ﷺ, setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya kelak. "Bapak mah lain ukur tugasna nyiar nafkah wungkul, tapi kudu bisa janten conto nu hadé keur kulawarga," tuturnya di hadapan para jamaah.

Penceramah juga menyoroti pentingnya keteladanan dari orang tua karena anak-anak biasanya meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Ia menekankan bahwa seorang ayah harus menjaga ibadah, akhlak, dan sikap keseharian agar dapat menjadi panutan yang baik bagi keluarganya. Selain itu, ia menyampaikan bahwa rumah tangga ideal adalah rumah yang dipenuhi ketenangan, rasa saling menghormati, dan kasih sayang. "Rumah téh kudu janten tempat nu ngeunah dipulangin, lain tempat nu nyiptakeun ketegangan," tambahnya.

Dalam materi mengenai pendidikan anak, ia mengingatkan bahwa anak tidak cukup hanya diberi perintah tetapi juga harus diberi contoh, didampingi, dan didengarkan. Ia menjelaskan bahwa perhatian dan bimbingan orang tua jauh lebih bermakna daripada sekedar nasihat panjang.

Tidak ketinggalan, penceramah menekankan pentingnya memastikan rezeki yang masuk ke dalam rumah berasal dari sumber yang halal. Ia menegaskan bahwa sedikit tetapi halal jauh lebih berkah dibandingkan banyak tetapi meragukan. Menurutnya, rezeki halal akan membawa ketenteraman hati dan keberkahan bagi keluarga.

Di akhir ceramah, ia mengingatkan jamaah agar selalu menjaga ibadah meskipun disibukkan aktivitas harian. Shalat, membaca Al-Qur'an, dan bersedekah menjadi amalan yang harus terus dijaga sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Ceramah kemudian ditutup dengan doa bersama, memohon agar para bapak dijadikan pribadi yang amanah, penyayang keluarga, serta diberi kesehatan dan kelapangan rezeki.

Pengajian berlangsung dengan khidmat, dan para jamaah berharap kegiatan seperti ini dapat terus diadakan secara rutin untuk mempererat ukhuwah serta meningkatkan pemahaman agama.

Reporter: Azi Saleh Zanaki, KPI/3B



Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
© Dakwahpos 2024