Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Jumat Berkah Jadi Sarana Dakwah melalui Kegiatan Berbagi kepada Jemaah

 


Dakwahpos.com, Bandung– Kegiatan Jumat Berkah terlihat berlangsung di lingkungan masjid dengan melibatkan sejumlah jemaah dalam kegiatan berbagi. Beberapa orang tampak membawa makanan dan minuman yang disiapkan untuk dibagikan sebagai bentuk kepedulian kepada sesama.


Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk dakwah yang dilakukan melalui aksi nyata. Tidak hanya disampaikan melalui ceramah atau pengajian, nilai-nilai Islam juga dapat diwujudkan melalui kepedulian, berbagi rezeki, dan membantu memenuhi kebutuhan orang lain.


Dalam kegiatan Jumat Berkah, sejumlah orang terlihat berjalan membawa makanan dan minuman yang telah disiapkan. Aktivitas tersebut menunjukkan adanya kebersamaan antara pihak yang menyiapkan makanan dengan para penerima.


Tradisi berbagi pada hari Jumat juga dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa kepedulian sosial. Melalui kegiatan sederhana tersebut, masyarakat diajak untuk saling membantu serta membangun hubungan yang lebih dekat dengan sesama.


Selain memberikan manfaat secara langsung kepada penerima, kegiatan Jumat Berkah juga memiliki nilai dakwah karena mengajarkan pentingnya berbagi dan bersedekah. Kegiatan tersebut dapat menjadi contoh bahwa dakwah dapat dilakukan melalui tindakan sederhana yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.


Kegiatan Jumat Berkah diharapkan dapat terus menjadi bagian dari aktivitas keagamaan di masjid. Dengan adanya kegiatan berbagi, masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun kepedulian dan kebersamaan di tengah masyarakat.


Reporter: Muhammad Rayyan Al Fatah, KPI/3C

Tujuan Penciptaan Manusia Jadi Hamba dan Khalifah di Muka Bumi


Dakwahpos.com, Bandung– Pemateri Ustaz Ginanjar Nugraha menyampaikan pesan keagamaan terkait tujuan hidup manusia dalam pengajian bapak-bapak di Masjid Istiqomah (PC PERSIS Cibiru), Jumat (18/09/2026). Dengan menekankan bahwa keistimewaan manusia terletak pada beban syariat (taklif) serta peran sebagai hamba Allah (ibadullah) dan pemimpin di bumi (khalifah fil ardhi).


Dalam ceramahnya, Ustaz Ginanjar Nugraha menjelaskan bahwa manusia merupakan makhluk yang istimewa di antara ciptaan Allah lainnya. Keistimewaan tersebut ditandai dengan diberikannya syariat dan beban hukum yang hanya diperuntukkan bagi manusia dan jin. Beliau menuturkan bahwa para nabi dan rasul yang diutus berasal dari kalangan manusia, sehingga jin muslim pun turut mengikuti petunjuk risalah yang dibawakan oleh rasul dari kalangan manusia.


Ustaz Ginanjar Nugraha menegaskan bahwa Allah SWT menciptakan manusia tidak secara sia-sia, melainkan memiliki dua tujuan utama. Tujuan pertama adalah sebagai ibadullah (hamba Allah) untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an. Tujuan kedua adalah menjadi khalifah fil ardhi yang bertugas mengelola dan memakmurkan bumi sesuai petunjuk-Nya.


Lebih lanjut, Ustaz Ginanjar Nugraha menerangkan bahwa untuk menjalankan fungsi sebagai hamba dan khalifah, manusia tidak bisa semata-mata mengandalkan akal, perasaan, maupun pancaindra semata. Menurutnya, dasar dari pelaksanaan syariat dan ibadah adalah hak prerogatif Allah SWT selaku Al-Khaliq (Pencipta) dan Asy-Syar'i (Pembuat Hukum). Tanpa adanya panduan syariat, manusia tidak akan mampu sampai pada tata cara ibadah yang benar.


Ia juga menambahkan bahwa kewajiban menjalankan syariat ini merupakan bentuk tanggung jawab moral yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Oleh karena itu, Allah menurunkan risalah hukum melalui para nabi dan rasul—hingga bermuara pada Rasulullah SAW—dengan pedoman utama yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah.


"Tujuan Allah melimpahkan kewajiban (taklif) itu jelas, yaitu agar manusia menjadi hamba Allah dan khalifah di bumi. Semua aturan syariat ini diturunkan sebagai panduan hidup yang harus dijalankan oleh manusia," ungkap Ustaz Ginanjar Nugraha.


Reporter: Farhan Fadhilah, KPI 3/C

Buktikan Kecintaan kepada Rasulullah Melalui Tindakan Nyata


Dakwahpos.com, Bandung– Khatib Jumat Ustaz Asep Mulyadi menyampaikan pesan keagamaan terkait makna sejati cinta dan keteladanan kepada Nabi Muhammad saw dalam khutbah Jumat di Masjid Istiqomah (PC PERSIS Cibiru), Jumat (18/09/2026). Beliau menekankan bahwa kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup sekadar perayaan seremonial, melainkan harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.


Dalam khutbahnya, Ustaz Asep Mulyadi mengingatkan jemaah agar momentum peringatan Maulid Nabi dijadikan ajang introspeksi diri. Beliau menyampaikan bahwa kecintaan kepada Rasulullah saw harus dibuktikan dengan mengikuti sunah serta menaati seluruh ajarannya, bukan sekadar mengenang kelahiran dan memperbanyak selawat semata.


Lebih lanjut, Ustaz Asep Mulyadi menjelaskan bahwa keteladanan Nabi Muhammad saw mencakup seluruh aspek kehidupan atau bersifat kaffah (menyeluruh). Selama 23 tahun berdakwah, Rasulullah saw menunjukkan keteguhan, kesabaran, dan kejujuran tanpa pernah mengutamakan kepentingan pribadi atau golongannya. Beliau juga menegaskan bahwa kepemimpinan Rasulullah di Madinah melandaskan hukum pada wahyu Allah, menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, serta memilih pemimpin berdasarkan amanah dan kemampuan.


Selain itu, Ustaz Asep Mulyadi menyoroti fenomena sosial di mana antusiasme masyarakat dalam menghadiri acara seremonial sering kali tidak sebanding dengan kedisiplinan dalam menjalankan ibadah harian. Beliau menyayangkan banyaknya jemaah yang hadir saat acara peringatan Maulid Nabi, namun barisan shalat berjemaah di masjid kembali sepi saat waktu Subuh tiba.


Di akhir khutbah, Ustaz Asep Mulyadi menegaskan bahwa bukti utama ittiba' (mengikuti Rasulullah saw) adalah dengan meneladani akhlak beliau, menjauhi perbuatan tercela seperti berdusta, ghibah, dan memfitnah, serta menerapkan syariat Islam secara utuh dalam kehidupan pribadi, keluarga, bermasyarakat, hingga bernegara.


"Inti kecintaan kepada Rasulullah bukan hanya sekadar seremonial belaka, tapi bagaimana dengan sekuat tenaga kita menjalankan seluruh sunah Rasulullah saw," tegas Ustaz Asep Mulyadi di akhir khutbahnya.


Reporter: Farhan Fadhilah, KPI 3/C

Tabligh Akbar Maulid Nabi di Assalam, Teladani Akhlak Rasulullah


Dakwahpos.com, Bandung- DKM Masjid Agung Assalam bersama Majelis Ta'lim Qiwamuddarrisin (MTQM) dan Panitia Yayasan Assalam Nur Salim menggelar Tabligh Akbar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu (19/9/2026). Kegiatan tersebut berlokasi di Kompleks Yayasan Assalam, Kampung Ciburial, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.


Acara syiar Islam ini dihadiri ratusan jamaah yang terdiri dari ibu-ibu majelis taklim kawasan Ciburial, Dago, serta para santri MTQM. Kehadiran para jamaah memadati ruang utama majelis guna menyimak ceramah keagamaan.


Dr. H. Ahmad Zailani AW, M.Ag. hadir sebagai penceramah utama yang memberikan tausiyah mengenai pentingnya meneladani perjuangan dan akhlak Rasulullah SAW. Beliau menyampaikan bahwa sejarah peringatan Maulid Nabi pertama kali dipelopori oleh Sultan Salahuddin Al-Ayyubi untuk membakar kembali semangat perjuangan umat Islam.


"Kondisi umat Islam saat itu mengalami penurunan semangat juang demi agama karena terpengaruh oleh orientasi materi duniawi," ujar Dr. H. Ahmad Zailani AW, M.Ag. saat menyampaikan materi ceramah, Sabtu (19/9/2026).


Selain itu, penceramah mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai ancaman gaya hidup modern yang merusak akidah generasi muda melalui tiga hal, yakni makanan cepat saji, pakaian melanggar syariat, serta pergaulan bebas. Orang tua diharapkan mampu membimbing anak-anak dengan menanamkan nilai-nilai keislaman di lingkungan rumah tangga.


Ahmad Zailani menekankan bahwa wujud nyata peneladanan Rasulullah SAW terletak pada kesungguhan umat dalam mendirikan shalat serta menjaga niat ibadah semata-mata demi meraih keridhaan Allah SWT. Rangkaian acara diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan dan keberkahan seluruh jamaah.


Reporter: Virgie Muhammad Yassarsyah, KPI/3C

Ustaz Anwar Nuryamin Ajak Jamaah Junjung Adab sebagai Mahkota Kehidupan


Dakwahpos.com, Bandung — Majelis taklim Masjid Baitul Mukmin Antapani Kidul kembali menggelar kajian subuh yang mengkaji tentang “Adab Agama”, Sabtu (26/9/2026). Kajian ini menghadirkan Ustaz Anwar Nuryamin yang memaparkan bahwa adab adalah intisari akhlak dan perhiasan paling berharga bagi manusia.

"Adab atau etika itu mahkota hidup. Karena itu, masyarakat yang maju sering disebut masyarakat yang beradab. Dalam Pancasila pun ada sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab," ujar Ustaz Anwar Nuryamin di hadapan jamaah.

Dalam kajian tersebut, Ustaz Anwar Nuryamin membahas kitab Adabud Dunya wad Din karya Imam al-Mawardi, ulama besar abad kelima Hijriah. Kitab itu terdiri atas lima bab, yaitu keutamaan akal dan kehinaan hawa nafsu, adab ilmu, adab agama, adab dunia, dan adab terhadap jiwa. Pada kesempatan ini ia menyampaikan bagian adab agama.

"Yang membedakan derajat manusia bukan jenis kelamin, keturunan, jabatan, atau status sosial, tetapi nilai ketakwaannya. Salah satu ciri orang bertakwa adalah caranya beradab kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada lingkungan," tegasnya sambil merujuk Surah al-Hujurat ayat 13.

Ia menerangkan bahwa standar nilai kehidupan manusia bertumpu pada akal dan syariat. Sesuatu yang dinilai baik oleh keduanya disebut makruf, sedangkan yang dinilai buruk disebut munkar. Beban syariat hanya diberikan kepada orang yang akalnya sempurna, dan Allah tidak membebani seseorang di luar kesanggupannya. Ia juga menekankan bahwa Allah memerintahkan ibadah bukan karena butuh disembah, melainkan demi kemanfaatan manusia sendiri.

"Kita harus sangat bersyukur kalau diberi kemudahan beribadah. Nikmat ibadah jauh lebih besar dibandingkan nikmat Allah yang lain, sebab manfaat ibadah meliputi kemaslahatan dunia dan akhirat," Tegas Ustaz Anwar Nuryamin.

Ustaz Anwar Nuryamin kemudian memaparkan larangan agama yang secara garis besar terbagi lima. Larangan itu bertujuan menjaga jiwa dan akal, menjaga keharmonisan hubungan antarmanusia, menjaga keturunan, menjaga hak milik, serta menjaga kesucian agama. Ia mencontohkan larangan minuman keras, zina, mencuri, dan korupsi. Ia juga mengingatkan agar jamaah tetap beretika di media sosial meski sedang tidak menyukai seseorang.

"Di balik setiap larangan pasti ada nikmat dan karunia Allah yang sangat besar. Kalau seseorang sudah memahami hakikat keberagamaan seperti ini, masihkah orang berakal mencari-cari kesempatan untuk melakukan yang dilarang?" ujarnya.

Dalam sesi tanya jawab, ia menjelaskan hubungan adab dengan akhlak. Menurutnya, akhlak bersifat universal, misalnya kejujuran, sedangkan adab atau etika adalah ekspresi dari akhlak itu. Cara mengekspresikannya bisa berbeda antarbudaya dan bangsa, tetapi landasannya tetap sama.

Reporter : Nida Nurhanifa, KPI 3/D

Demi Memperbaiki Bacaan Al-Qur'an, Jamaah Lansia Masjid Al-Muhajirin Menyelenggarakan Tadarus Mandiri

Dakwahpos.com, Bandung – Jamaah pengajian ibu-ibu berusia lanjut menyelenggarakan kegiatan belajar Al-Qur'an secara mandiri di Masjid Al-Muhajirin Palasari, Sabtu (26/09/2026).

Ibu-ibu jamaah pengajian Masjid Al-Muhajirin menyampaikan bahwa fokus utama majelis ini murni ditekankan pada pembenahan tajwid serta kelancaran membaca Al-Qur'an. Disana, mereka fokus melatih bacaan Al-Qur'an masing-masing tanpa dibebani target hafalan maupun syarat khusus.

"Pengajian Sabtu sore ini tidak ada ceramah agama, kami hanya fokus belajar membaca Al-Qur'an dan memperbaiki tajwid bersama-sama," ungkap salah satu jamaah di Masjid Al-Muhajirin.

Salah satu ibu-ibu menambahkan bahwa kehadiran ustazah pendamping atau penceramah luar terbilang sangat jarang. Jika pengisi materi berhalangan hadir, para lansia tetap bersemangat melangsungkan majelis dengan saling menyimak bacaan satu sama lain.

"Majelis Al-Qur'an sore hari ini terbuka hangat bagi seluruh ibu-ibu di sekitar lingkungan masjid," imbuh ibu-ibu jamaah pengajian Masjid Al-Muhajirin.

Mereka juga menjelaskan bahwa semangat belajar Al-Qur'an para lansia ini menjadi penggerak utama dalam meramaikan masjid. Pengajian di area utama masjid ini pun terus bergulir meskipun bertepatan dengan tanggal merah atau hari libur nasional. 

"Kalau hari biasa jemaah yang hadir berkisar puluhan orang, tetapi bisa bertambah ramai saat ada acara khusus seperti pengajian akbar," ungkapnya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik masjid dapat meningkat manakala ada variasi kegiatan dakwah yang lebih luas bagi masyarakat sekitar.

Reporter: Tasya Ainurrahmah, KPI/3D


Dedikasi Umi Siti Mulyawati Tanamkan Pembiasaan Sederhana, Terekam Sepanjang Masa


Dakwahpos.com, Bandung- Didorong oleh kecintaannya terhadap anak-anak, Umi Siti Mulyawati terus konsisten mendedikasikan dirinya untuk mengajar ngaji dan membentuk akhlak para murid di lingkungan Yayasan Madinatun Salam, Bumi Harapan, Cibiru pada Kamis (24/9/2026). Melalui ketelatenannya membiasakan praktik dasar ibadah sehari-hari sejak puluhan tahun silam, ajaran beliau ini sukses menanamkan nilai keislaman yang terus teringat kuat hingga murid-muridnya tumbuh dewasa.

Perjalanan panjang Umi Siti dalam mendidik anak-anak bermula sejak tahun 1993 saat ia pertama kali turut merintis taman pendidikan Al-Qur'an di kawasan Sarijadi. Pengabdiannya kemudian berlanjut ke kawasan Bumi Harapan ketika ia mulai membina murid-murid di RA Anida pada tahun 2008, yang kini bernaung di bawah Yayasan Madinatun Salam.

Meskipun harus menghadapi berbagai karakter anak dari masa ke masa, rasa sayangnya terhadap anak-anak menjadi penguat utama bagi Umi untuk terus bertahan. “Kalau misalnya lihat di jalan ada yang memperlakukan anak kurang baik, hati itu suka tersentuh, jadi memang ada rasa suka ke anak-anak,” ungkap Umi menceritakan motivasi pengabdiannya, Kamis (24/9/2026).

Walau penuh suka cita, Umi mengaku kerap menghadapi tantangan, terutama dalam menyamakan pemahaman materi dasar fikih salat. Ia mencontohkan seringnya terjadi perbedaan bacaan doa iftitah yang diajarkan di sekolah formal dengan ajaran di tempat mengaji.

Tantangan lainnya adalah keterbatasan waktu belajar yang hanya satu jam serta kesibukan anak-anak saat mulai beranjak remaja. Oleh karena itu, Umi kini lebih menerapkan metode privat agar perkembangan hafalan dan adab setiap anak dapat dievaluasi secara maksimal.

Ke depannya, pendidik gigih ini berencana membuat sistem evaluasi rutin berupa rapor tertulis bagi anak didiknya. Laporan tersebut nantinya tidak sekadar formalitas, melainkan berisi uraian rinci mengenai perkembangan kemampuan anak untuk diserahkan langsung kepada orang tua.

Selain sistem rapor, Umi juga memendam harapan besar untuk memiliki area belajar dan bermain yang lebih luas bagi para murid. "Umi senang kalau anak-anak itu lari-larian, senang daripada main ponsel," tambah Umi, Kamis (24/9/2026).

Dampak positif dari ketelatenan dan pembiasaan tersebut dirasakan langsung oleh Haira, salah satu mantan murid yang kini turut mendedikasikan diri membantu Umi mengajar. Ia membenarkan bahwa sosok Umi dikenal oleh warga sekitar sebagai pengajar gigih yang ilmu dasarnya selalu menempel di diri anak-anak.

"Itu terasa juga kayak ilmu-ilmu dasar saja sebenarnya, cuma itu membekas, setidaknya anak-anak di sekitar sini bisa ngaji atau tahu dasar ilmu keislaman," ungkap Haira, Kamis (24/9/2026).

Reporter: Farah Novita Maharani, KPI/3C

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos