Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Menembus Kantuk, Anak Diniyah Semangat Menghafal Juz 30

Dakwahpos, Bandung — Anak-anak diniyah kelas 1 hingga kelas 6 SD di Pondok Pesantren Al-Mu’awanah rutin mengikuti pengajian setelah salat Subuh setiap Ahad di Masjid Al-Mu’awanah. Kegiatan yang dilaksanakan pada Ahad, 4 Oktober 2026, tersebut diisi dengan hafalan Juz 30 serta praktik ibadah.

Pemilihan waktu Subuh dilakukan karena waktu tersebut dinilai baik untuk belajar. Kondisi anak-anak yang masih segar setelah bangun tidur dimanfaatkan untuk mengikuti pembelajaran. Selain itu, kegiatan pada hari Ahad menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengisi waktu libur sekolah dengan kegiatan mengaji.

“Nah, kegiatan ini dilakukan pada waktu Subuh karena di sini Subuh itu waktu yang sangat baik untuk belajar seperti itu. Karena di sini otak mereka itu masih fresh-fresh-nya,” ujar Najwatul Anwar, bagian pendidikan Pondok Pesantren Al-Mu’awanah, saat diwawancarai pada 6 Oktober 2026.

Antusiasme anak diniyah terlihat dari kebiasaan mereka yang datang sejak sekitar pukul 04.00 untuk mengikuti salat tahajud bersama para santri sebelum melanjutkan kegiatan diniyah.

“Alhamdulillah gitu  anak-anak diniyah antusias dalam mengikuti pembelajaran di waktu Subuh ini. Karena biasanya mereka datang itu dari pukul 4 ikut tahajud bersama para santri dan yang lainnya seperti itu,” kata Najwatul.

Kegiatan diniyah tersebut  tidak selalu diisi dengan pembelajaran. Dalam jadwal tertentu, waktu kegiatan dapat diganti dengan rihlah atau jalan santai bersama anak-anak. Hal itu menjadi alternatif kegiatan untuk mengisi waktu Ahad bersama mudaris dan mudarisah.

Ke depan, Najwatul berharap kegiatan diniyah tersebut dapat terus berjalan dan ditingkatkan, termasuk melalui kegiatan-kegiatan lainnya, sehingga keberlangsungan proses belajar mengajar pada hari Ahad dapat terus terjaga.

Reporter: Amanda Najwa Syarif, KPI/3D

 

Membentuk Lingkungan Positif, Ustaz Husnul Khoir Ajak Jemaah Syukuri Nikmat

Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz Husnul Khoir menegaskan pentingnya membangun lingkungan sosial yang saling menguatkan serta senantiasa mensyukuri setiap nikmat kecil dalam kehidupan sehari-hari, Rabu (07/10/2026).

Ia mengingatkan bahwa manusia sering kali terjebak dalam rutinitas sehingga melupakan nikmat sekecil apapun yang telah diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Rutinitas harian seperti berjalan ke tempat pengajian, menikmati secangkir kopi di pagi hari, hingga berbelanja kebutuhan bulanan kerap dianggap sebagai hal biasa tanpa diiringi rasa syukur. Padahal, nikmat sehat dan kesempatan hidup merupakan karunia yang tidak boleh diabaikan begitu saja.

"Jangan sampai kita terbiasa mendapatkan nikmat tetapi lupa untuk bersyukur, karena rutinitas harian membuat kita sering kali mengabaikan karunia Allah yang begitu besar," ujarnya di hadapan para jemaah.

Ia juga menjelaskan bahwa nikmat dan rasa syukur memiliki keterkaitan yang erat dengan bertambahnya karunia dalam hidup. Ia menuturkan bahwa segala bentuk nikmat harus senantiasa disyukuri agar kelanggengannya tetap terjaga dan terus bertambah sesuai dengan tuntunan agama.

"An ni'matu mausuulun bisyukri, wa ziyadatu muta'alliqun bisyukri, yang artinya nikmat itu berhubungan dengan syukur, dan bertambahnya nikmat bergantung pada syukur," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa bentuk syukur dapat diwujudkan melalui lisan dengan mengucapkan alhamdulillah, melalui perbuatan, serta di dalam hati. Menurutnya, ketika seseorang mendapatkan pujian atau pencapaian, sudah sepatutnya pujian tersebut dikembalikan kepada Sang Pencipta sebagai pemberi nikmat yang sebenarnya.

"Yang menentukan bernilai atau tidaknya harta, ilmu, penampilan, jabatan, dan status sosial justru ada pada angka satunya, yaitu akhlak yang baik," tuturnya saat mengibaratkan pencapaian duniawi dengan angka nol dan satu.

Reporter: Tasya Ainurrahmah, KPI/3D


Bangun Generasi Qur’ani, DTA Al-Muhajirin Selingi Mengaji dengan Permainan Seru

 

Dakwahpos.com, Bandung – Ibu Annisa, pengajar Diniyah Takmiliyah Awaliyah (DTA) Al-Muhajirin, menjelaskan pada awal pembentukan lembaga di tahun 1990-an bahwa tempat belajar ini berkomitmen membentuk karakter generasi muda yang berakhlak mulia, Selasa (29/10/2026).

Ia menjelaskan bahwa perjalanan panjang lembaga bermula dari TPA sederhana bentukan ibu-ibu majelis taklim setempat. Lembaga tersebut resmi bertransformasi menjadi DTA Kemenag pada tahun 2014. Penjenjangan kelas kini disesuaikan dengan tingkat sekolah dasar agar proses belajar mengajar jauh lebih terstruktur bagi para murid.

"Kita inginnya mereka menjadi berakhlak mulia, punya karakter yang betul-betul Al-Qur'an gitu ya, itu cita-cita kami," ujarnya

Untuk mengusir kebosanan murid-murid, para guru secara aktif memadukan proses belajar mengajar dengan berbagai kegiatan menarik seperti olahraga, permainan edukatif, hingga program mabit. 

Cara belajar yang lebih seru ini terbukti ampuh dalam membuat anak-anak semakin semangat ikut kegiatan mengaji. "Jadi, sesekali main game, terus kami juga bervariasi," ujarnya terkait penggunaan metode asyik di kelas. Pelajaran agama pun menjadi lebih mudah diserap oleh anak-anak.

Ia menyampaikan harapan besar agar para murid agar senantiasa tumbuh menjadi anak-anak yang saleh dan salihah serta semakin bertakwa seiring bertambahnya usia mereka.

Reporter: Tasya Ainurrahmah, KPI/3D


Pemuda Masjid Ash-Shalawat Bimbing Anak Belajar Al-Qur’an, Mari Dukung Generasi Qur’ani


 Dakwahpos.com, Bandung – Pemuda Masjid Ash-Shalawat Manisi turut berperan dalam membimbing anak-anak belajar dan membaca Al-Qur’an. Kegiatan pembelajaran tersebut berlangsung di Masjid Ash-Shalawat dan diikuti oleh sejumlah anak yang tampak serius mempelajari Al-Qur’an bersama para pemuda masjid.

Dalam kegiatan tersebut, anak-anak duduk dengan membawa Al-Qur’an masing-masing. Para pemuda masjid mendampingi proses belajar dengan membantu anak-anak dalam membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Suasana pembelajaran berlangsung dengan tertib dan penuh perhatian.

Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kepedulian pemuda masjid terhadap pendidikan keagamaan anak-anak di lingkungan sekitar. Keterlibatan pemuda dalam membimbing generasi muda juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an sejak usia dini.

Masjid Ash-Shalawat Manisi menjadi tempat berlangsungnya kegiatan pembelajaran tersebut. Berdasarkan kondisi yang terlihat dalam foto, kegiatan dilakukan di dalam ruang masjid dengan anak-anak dan pemuda masjid duduk bersama dalam proses pembelajaran Al-Qur’an.

Melalui kegiatan tersebut, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk belajar Al-Qur’an dengan pendampingan secara langsung. Mari dukung peran pemuda masjid dalam membimbing generasi Qur’ani serta ajak anak-anak untuk mencintai, membaca, dan mempelajari Al-Qur’an sejak dini.


Reporter: Miftahul Janah Ramadani, KPI 3B


Ceramah Di Masjid Jami’ Ash Shalawat Bahas Pentingnya Menjaga Iman Di Tengah Tantangan Zaman


Dakwahpos.com, Bandung – Kajian Keislaman Kembali Digelar Di Masjid Jami’ Ash Shalawat Dengan Dihadiri Sejumlah Jamaah Yang Mengikuti Ceramah Dengan Penuh Perhatian. Dalam Kegiatan Tersebut, Ustaz Ahmad Fauzan Menyampaikan Tausiah Bertema “Menjaga Iman Di Tengah Tantangan Kehidupan”. Ceramah Tersebut Membahas Pentingnya Memperkuat Keimanan Sebagai Landasan Dalam Menjalani Kehidupan Sehari-Hari.

Dalam Ceramahnya, Ustaz Ahmad Fauzan Menjelaskan Bahwa Iman Merupakan Fondasi Utama Seorang Muslim Dalam Menjalankan Kehidupan. Keimanan Tidak Hanya Diwujudkan Melalui Ucapan, Tetapi Juga Harus Tercermin Dalam Sikap, Perilaku, Serta Ketaatan Terhadap Ajaran Islam.

Ia Menyampaikan Bahwa Kehidupan Manusia Tidak Terlepas Dari Berbagai Ujian Dan Godaan. Perkembangan Teknologi, Penggunaan Media Sosial, Serta Lingkungan Pergaulan Menjadi Bagian Dari Tantangan Yang Dapat Memengaruhi Keimanan Seseorang Apabila Tidak Disikapi Dengan Bijak.

Menurut Ustaz Ahmad Fauzan, Menjaga Iman Membutuhkan Proses Yang Terus-Menerus. Seorang Muslim Perlu Membiasakan Diri Mendekatkan Diri Kepada Allah Swt. Melalui Ibadah, Membaca Al-Qur’an, Memperbanyak Doa, Serta Menghadiri Majelis Ilmu.

“Iman Harus Dijaga Dan Dirawat Setiap Hari. Jangan Sampai Hati Kita Kuat Ketika Berada Di Masjid, Tetapi Melemah Ketika Kembali Menghadapi Kehidupan Di Luar,” Tuturnya.

Ia Juga Mengingatkan Jamaah Agar Tidak Mudah Terpengaruh Oleh Berbagai Informasi Dan Gaya Hidup Yang Bertentangan Dengan Nilai-Nilai Islam. Kemampuan Menyaring Informasi Serta Memilih Lingkungan Yang Baik Dinilai Penting Untuk Membantu Seseorang Tetap Berada Dalam Jalan Yang Benar.

Ceramah Tersebut Berlangsung Dalam Suasana Khidmat. Para Jamaah Menyimak Materi Yang Disampaikan Sebagai Pengingat Untuk Terus Memperbaiki Kualitas Ibadah Dan Memperkuat Hubungan Dengan Allah Swt.

Melalui Kegiatan Pengajian Ini, Jamaah Diharapkan Dapat Meningkatkan Keimanan, Memperkuat Ketakwaan, Serta Mampu Menghadapi Berbagai Tantangan Kehidupan Dengan Berpegang Teguh Pada Ajaran Islam. Keimanan Yang Kuat Diharapkan Menjadi Bekal Bagi Setiap Muslim Untuk Menjalani Kehidupan Dengan Lebih Bijaksana Dan Istiqamah.


Reporter:Miftahul Janah Ramadani  , KPI 3/B


Ustaz Ahmad Riswandi: Buka Wawasan Jamaah Soal Harta dan Etika Jual Beli

Dakwahpos.com, Bandung - DKM Al-Ikhlas Panyileukan menyelenggarakan kegiatan pengajian rutin jamaah yang membahas kajian seputar Fiqih Muamalah dan Zakat Harta. Kajian ini bertujuan memberikan pemahaman mendalam kepada masyarakat mengenai tata cara perhitungan zakat harta secara akurat, sekaligus membentengi umat dari praktik kecurangan dan kezaliman dalam perniagaan sesuai kaidah syariat Islam. Kegiatan ini berlangsung Sabtu, (26/09/2026).

Zakat pertanian berlaku bagi berbagai jenis hasil bumi, mulai dari makanan pokok seperti padi, gabah, buah-buahan, sayur-sayuran, hingga hasil kayu dan tanaman hias yang bernilai ekonomis. Batas nisab zakat pertanian ditetapkan sebesar 5 wasaq, atas setara dengan 653 kilogram beras, gabah. besaran tarif zakatnya terbagi menjadi dua kondisi pengairan: Tarif 10% berlaku apabila lahan pertanian mengandalkan pengairan alami (air hujan/tadah hujan). Tarif 5% berlaku apabila proses pengairannya membutuhkan modal operasional, biaya irigasi, serta pemupukan. 

Sementara untuk barang dagangan emas dan perak, dari pendapat mazhab yang kuat bahwa emas dengan nisab 85 gram serta perak dengan nisab 595 gram yang telah memenuhi syarat kepemilikan satu tahun (haul) wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%. Ketentuan ini mencakup emas simpanan (batangan) maupun perhiasan yang dimiliki. Hal serupa juga dilakukan pada uang simpanan (tabungan perbankan, celengan) dan modal perniagaan, di mana harta yang nilainya setara dengan 85 gram emas dan telah mengendap selama satu tahun wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.

Fiqih Muamalah juga menekankan kewajiban menjaga kejujuran dan menjauhi segala bentuk kezaliman dalam transaksi perniagaan. Tindakan curang seperti mengurangi timbangan atau takaran, menyembunyikan cacat fisik barang dagangan, hingga melakukan penipuan harga tergolong dosa besar. Keuntungan dari transaksi curang secara otomatis merusak kehalalan seluruh pendapatan, sehingga menjadi harta haram yang menghilangkan keberkahan bagi diri sendiri dan keluarga.

“Kezaliman harta kepada Allah Swt. terjadi ketika seseorang menahan zakat yang telah menjadi kewajibannya. Sedangkan kezaliman kepada sesama manusia terjadi melalui praktik kecurangan, penipuan takaran, serta penyamaran cacat barang dalam transaksi perniagaan.” Ungkap, ustaz Ahmad.

Selain etika perniagaan, hukum jual beli benda yang dikategorikan haram atau najis. Barang dagangan seperti minuman keras (miras), bangkai hewan, organ tubuh manusia, serta hewan terlarang seperti anjing dan kucing secara hukum tidak sah untuk diperjual belikan. Namun demikian, terdapat pengecualian untuk kotoran hewan ternak yang halal dikonsumsi (seperti kotoran sapi, domba, atau ayam), di mana mayoritas ulama memperbolehkan transaksi jual belinya khusus untuk dimanfaatkan sebagai pupuk pertanian.

Reporter : Zulfa Khoerunisa, KPI/3D

DKM Al-Barokah Pasir Biru, Ustaz Asep Anwarulah Teruskan Tradisi Dari Sang Ayah

Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Asep Anwarullah, Ketua DKM Al-Barokah, Pasir Biru, turut menjaga kegiatan yang telah berlangsung sejak lama yaitu pengajian anak-anak yang menjadi salah satu aktivitas keagamaan bagi anak-anak di sekitar masjid, sekaligus melanjutkan tradisi yang ia kenal sejak kecil, Minggu (04/10/2026).

Sejak kecil, Ustaz Asep Anwarullah telah aktif di Masjid Al-Barokah, satu-satunya masjid sebagai tempat berkumpulnya anak-anak untuk belajar mengaji pada masa itu, sebelum banyak tempat pendidikan Al-Qur’an atau TPA yang seiring waktu berdiri di sekitarnya.

“Dulu itu sebelum ada TPA-TPA, anak-anak dari RW lain juga pada ngaji ke sini. Jadi setiap malam itu penuh,” ujar Ustaz Asep Anwarullah.

Kebiasaan mengajar di masjid itu ia kenal dari ayahnya, yang sebelumnya menjadi pengelola sekaligus pengajar pengajian anak-anak di Masjid Al-Barokah. Saat sang ayah masih hidup, Ustaz Asep Anwarullah turut membantu mengajar hingga akhirnya meneruskan kegiatan tersebut dan mengelola masjid setelah ayahnya meninggal pada 2007.

“Kalau dihentikan pengajian anak-anak, terus anak-anak di mana nanti? Yang nantinya melanjutkan kebiasaan baik di masjid ini siapa?” ujar Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang S2 di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, sekarang UIN, dengan gelar Magister Pendidikan Islam dan sekarang berprofesi sebagai guru di SDN 090 Cibiru. Aktivitas mengajar di sekolah membuatnya harus membagi waktu untuk mengajar pengajian anak-anak di masjid. 

“Sekolah juga sampai sore, kadang sampai jam lima. Terus dari Permata Biru ke sini juga lumayan,” tutur Ustaz Asep Anwarullah.

Keterbatasan waktu tersebut membuat Ustaz Asep Anwarullah belum dapat mengembangkan pengajian anak menjadi TPA secara lebih formal. Meski demikian, ia tetap berusaha mempertahankan kegiatan yang sudah ada

“Ya mudah-mudahan pengajian anak-anak ini bisa terus sampai kapan pun. Jangan sampai berhenti,” ujar Ustaz Asep Anwarullah.

Bagi Ustaz Asep Anwarullah, menjaga pengajian anak berarti menjaga keberlanjutan tradisi baik yang sudah ada di masjid Al-Barokah selama bertahun-tahun. Dari sang ayah yang lebih dulu mengajarkan anak-anak mengaji hingga dirinya yang kini mengambil peran sebagai Ketua DKM, ia berharap masjid tetap memiliki generasi yang tumbuh bersama kegiatan keagamaan dan kelak meneruskannya.

Reporter: Pahmi Padila Emi/KPI 3B

 

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos