Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Maulid Nabi di Masjid Nur Yasin, Ajak Jamaah Teladani Akhlak Rasulullah

Dakwahpos.com, Bandung- Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Nur Yasin Cipadung menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu (12/09/2026). Acara ini mengulas kemuliaan akhlak Rasulullah SAW melalui kajian ayat-ayat Al-Qur'an serta ajakan untuk mengamalkan keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kajian tersebut, jamaah diajak menyelami kembali ayat-ayat Al-Qur'an yang menggambarkan kemuliaan Rasulullah, mulai dari QS. Al-Ahzab ayat 21 tentang suri teladan, QS. Al-Fath yang menyinggung ciri khas umat Nabi, hingga QS. Ali 'Imran ayat 31 yang menjelaskan bukti nyata kecintaan kepada Allah SWT.

"Ada tiga tanda seseorang benar-benar meneladani Nabi, yaitu senantiasa mengharap rahmat Allah, meyakini adanya pertanggungjawaban di hari akhir, serta tak henti memperbanyak zikir dalam keseharian," ujar penceramah dalam kajian tersebut, Sabtu (12/09/2026).

Keteladanan tersebut, lanjutnya, mencakup banyak aspek, di antaranya kejujuran dalam berdagang, ketegasan dalam menegakkan kebenaran, hingga kasih sayang kepada sesama muslim maupun kepada golongan yang memusuhi Islam. Kajian ini juga membedakan istilah kafir harbi, yakni golongan yang memusuhi Islam, dengan kafir dzimmi yang hidup berdampingan damai dengan umat Islam.

Materi ceramah turut mengutip QS. Al-Qalam ayat 4 yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW memiliki budi pekerti yang agung, serta sebuah hadis yang menyebutkan bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Kelembutan hati Rasulullah tercermin dari sikap beliau yang tidak pernah berlaku kasar kepada siapa pun.

Salah satu kisah yang disampaikan adalah saat Nabi dilempari kotoran hingga berdarah, namun beliau tetap mendoakan kebaikan dan petunjuk bagi pelakunya. Kajian ini juga menyinggung sejumlah julukan mulia yang disematkan kepada Rasulullah, seperti Al-Amin (yang dapat dipercaya) dan Habibillah (kekasih Allah).

Selain itu, disebutkan pula gelar Al-Insan Al-Kamil dari kalangan sufi yang menggambarkan Rasulullah sebagai manusia paling sempurna akhlaknya. Kehadiran Nabi di muka bumi membawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Anbiya ayat 107.

Di samping itu, ditegaskan pula pentingnya menjaga konsistensi shalat lima waktu sebagai bentuk komunikasi batin dengan Allah, yang idealnya dilengkapi dengan ibadah malam seperti shalat Tahajud. Meneladani akhlak Nabi tidak boleh dibatasi pada momen tertentu, melainkan harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari secara istiqomah.

Di akhir kegiatan, seluruh jamaah diajak bermunajat memohon kekuatan iman dan keistiqomahan agar senantiasa menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan hingga akhir hayat.

Reporter: Imtiyaaz Haya Mujaahidah, KPI 3/B

Uploaded Image

Drs. Suherlan Ajak Jemaah Hindari Kemaksiatan lewat Tutur Kata yang Baik

Dakwahpos.com, Bandung- DKM At-Tarbiyatul Islamiyyah Cipadung belum lama ini mengadakan pengajian yang dihadiri oleh jemaah ibu-ibu pada Sabtu (12/09/26). Dalam kesempatan itu, penceramah Drs. Suherlan, M.Ag membahas secara mendalam tentang pentingnya menjaga lisan dan dua bibir agar tidak menjerumuskan manusia ke dalam kemaksiatan.

Drs. Suherlan menerangkan bahwa bibir dan lidah adalah anugerah nyata dari Allah Swt. yang memiliki banyak fungsi positif, mulai dari artikulasi suara, jalur makanan masuk, hingga estetika wajah. Kendati demikian, anggota tubuh ini juga menjadi bagian yang paling sering diselewengkan kegunaanya untuk berbuat dosa.
 
“Lisan dan bibir jika tidak dijaga sangat rentan menyeret manusia pada perbuatan nista seperti dusta, gibah, fitnah, hingga provokasi yang memicu permusuhan,” ujar Drs. Suherlan.

Lebih lanjut, penceramah menjelaskan bahwa setiap muslim dianjurkan untuk senantiasa membiasakan diri bertutur kata yang benar (qaulan sadida), santun (qaulan layyina), serta meneladani doa Nabi Ibrahim a.s. dalam Surat Asy-Syu'ara ayat 84.
 
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka silakan ucapkan yang baik, atau jika tidak bisa, maka lebih baik diam,” tutur Drs. Suherlan mengutip sabda Rasulullah saw.

Beliau juga menambahkan bahwa menjaga lisan dengan memperbanyak zikir dan membaca Al-Qur'an merupakan kunci keselamatan bagi setiap hamba.

“Setiap kata yang keluar dari mulut kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT, sehingga mari basahi bibir dengan kebaikan dan hindari penyakit lisan,” tegas Drs. Suherlan.
 
Reporter: Hadiyya Fatimah Zulkarnain, KPI/3B
Uploaded Image

Ustaz Asep Anwarullah Teruskan Tradisi Dari Sang Ayah di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru

Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Asep Anwarullah, Ketua DKM Al-Barokah, Pasir Biru, turut menjaga kegiatan yang telah berlangsung sejak lama yaitu pengajian anak-anak yang menjadi salah satu aktivitas keagamaan bagi anak-anak di sekitar masjid, sekaligus melanjutkan tradisi yang ia kenal sejak kecil.

Sejak kecil, Ustaz Asep Anwarullah telah aktif di Masjid Al-Barokah, satu-satunya masjid sebagai tempat berkumpulnya anak-anak untuk belajar mengaji pada masa itu, sebelum banyak tempat pendidikan Al-Qur’an atau TPA yang seiring waktu berdiri di sekitarnya.

“Dulu itu sebelum ada TPA-TPA, anak-anak dari RW lain juga pada ngaji ke sini. Jadi setiap malam itu penuh,” ujar Ustaz Asep Anwarullah.

Kebiasaan mengajar di masjid itu ia kenal dari ayahnya, yang sebelumnya menjadi pengelola sekaligus pengajar pengajian anak-anak di Masjid Al-Barokah. Saat sang ayah masih hidup, Ustaz Asep Anwarullah turut membantu mengajar hingga akhirnya meneruskan kegiatan tersebut dan mengelola masjid setelah ayahnya meninggal pada 2007.

“Kalau dihentikan pengajian anak-anak, terus anak-anak di mana nanti? Yang nantinya melanjutkan kebiasaan baik di masjid ini siapa?” ujar Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang S2 di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, sekarang UIN, dengan gelar Magister Pendidikan Islam dan sekarang berprofesi sebagai guru di SDN 090 Cibiru. Aktivitas mengajar di sekolah membuatnya harus membagi waktu untuk mengajar pengajian anak-anak di masjid.

“Sekolah juga sampai sore, kadang sampai jam lima. Terus dari Permata Biru ke sini juga lumayan,” tutur Ustaz Asep Anwarullah.

Keterbatasan waktu tersebut membuat Ustaz Asep Anwarullah belum dapat mengembangkan pengajian anak menjadi TPA secara lebih formal. Meski demikian, ia tetap berusaha mempertahankan kegiatan yang sudah ada

“Ya mudah-mudahan pengajian anak-anak ini bisa terus sampai kapan pun. Jangan sampai berhenti,” ujar Ustaz Asep Anwarullah.

Bagi Ustaz Asep Anwarullah, menjaga pengajian anak berarti menjaga keberlanjutan tradisi baik yang sudah ada di masjid Al-Barokah selama bertahun-tahun. Dari sang ayah yang lebih dulu mengajarkan anak-anak mengaji hingga dirinya yang kini mengambil peran sebagai Ketua DKM Al-Barokah, ia berharap masjid tetap memiliki generasi yang tumbuh bersama kegiatan keagamaan dan kelak meneruskannya.

Reporter: Pahmi Padila Emi/KPI 3B
Uploaded Image

Khatib Ustaz Yakub Purnama di Mesjid Al-Muhajirin Cileunyi Ingatkan Jamaah untuk Segera Taubat Nasuha

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Al-Muhajirin kembali dipenuhi jamaah yang menunaikan ibadah salat jumat. Khatib dalam khutbahnya menyampaikan tema "Taubatan Nasuha" dengan mengingatkan umat Islam untuk senantiasa memohon ampunan Allah Swt. sebagaimana yang tercantum dalam Surah At-Tahrim ayat 8. Jumat (18/09/2026)

Dalam khutbahnya, khatib menjelaskan bahwa di dalam kehidupan, manusia bisa melakukan amal saleh maupun perbuatan dosa. Ia menegaskan, tatkala seseorang terjerumus dalam kesalahan dan maksiat, maka wajib hukumnya untuk segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.

Ia juga merincikan bahwa terdapat syarat-syarat agar taubat diterima oleh Allah Swt., di antaranya adalah ikhlas, menyesali perbuatan dengan kelembutan hati, berhenti total dengan mengembalikan hak orang lain, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Jamaah juga diimbau untuk tidak terperdaya oleh kecerdikan setan yang selalu membujuk manusia kembali pada dosa.

"Insyaallah manakala hati kita lembut akan mudah untuk bertaubat dan menyadari apa yang kita lakukan. Tapi akan sulit bagi orang yang hatinya keras untuk bertaubat," ujar khatib dalam khotbahnya.

Selain itu, khatib juga mengingatkan jamaah untuk mengiringi taubat dengan memperbanyak istigfar dan istikamah beramal saleh. Ia secara khusus memberikan peringatan untuk menjauhi sejauh-jauhnya perbuatan musyrik, seraya menegaskan bahwa pintu ampunan masih terbuka lebar jika seseorang bertaubat sebelum ajal menjemput.

Suasana ibadah salat jumat tampak khusyuk. Para jamaah duduk rapi mendengarkan khutbah hingga selesai, kemudian melaksanakan salat berjamaah dengan tertib. Setelah salat jumat berjamaah, para jamaah kembali ke kegiatan masing-masing seraya membawa pesan spiritual untuk terus mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir dan istigfar.

Reporter: Arya Ronna, KPI/3D

 

Khotbah Jumat Masjid Ar-Rohman Pasir Biru Tentang Sikap Syukur dan Sabar

Dakwahpos.com, Bandung- Jamaah Masjid Ar-Rohman Pasir Biru, Cibiru menyimak khotbah Jumat bertema tentang sikap syukur dan sabar. Khutbah tersebut berfokus pada keseimbangan emosi saat menghadapi kelapangan dan kesempitan hidup. Pesan utama menyoroti pentingnya kebergantungan manusia hanya kepada Allah SWT.

Allah SWT berkuasa penuh untuk mengubah keadaan hamba-Nya dalam sekejap. Perubahan dari sedih ke gembira atau sebaliknya bertujuan sebagai ujian keimanan. Hal ini menyadarkan manusia agar selalu bersandar pada kekuatan kalimat tauhid.

Terdapat tiga pemicu utama rasa risau dalam kehidupan sehari-hari manusia. Ketiga hal tersebut adalah perbuatan dosa, kehilangan harta benda, dan hinaan dari orang lain. Setiap masalah duniawi tersebut senantiasa memiliki solusi spiritual masing-masing.

"Manusia harus pasrah, bertawakal, dan senantiasa berdoa kepada Allah SWT apabila rasa risau datang tanpa sebab yang jelas," ujar Khatib, Jum’at (02/10/2026).

Selain rasa sedih, jamaah juga harus senantiasa mewaspadai rasa gembira berlebihan. Rasa riang ini biasanya muncul karena rezeki lancar atau pujian dari orang lain. Umat Islam tidak boleh sombong atas karunia sementara tersebut.

Prestasi dan pujian sejatinya terwujud karena Allah SWT menutupi aib hamba-Nya. Hamba yang baik akan menyerahkan semua pilihan hidupnya kepada takdir Allah. Mereka tidak akan pernah memaksakan ambisi pribadinya secara berlebihan.

Khutbah kedua ditutup dengan lantunan doa ampunan bagi seluruh kaum muslimin. Khatib juga memohon perlindungan bagi jamaah dari segala bala bencana dunia. Rangkaian ibadah suci ini diakhiri dengan doa keselamatan dunia dan akhirat.

Reporter: Mahesa Almaliki Hidayat, KPI/3C.Khutbah.jpeg

Ingatkan Jamaah untuk Bersyukur, Ustaz Husnul: Kenapa Kita Tidak Mengucapkan Alhamdulillah? Kami Sudah Biasa.

 

Dakwahpos.com, Bandung— Ustadz Husnul Khair Pulungan mengingatkan jamaah untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah dalam kajian di Masjid Besar Manunggal, Cipadung, Sabtu (12/9/2026). Pesan tersebut disampaikan agar jamaah tidak terbiasa dengan berbagai nikmat yang diterima dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kajiannya, Ustadz Husnul menjelaskan bahwa manusia sering lupa bersyukur karena sudah terbiasa dengan berbagai nikmat, seperti kesehatan, keluarga, makanan, dan kesempatan untuk beribadah. Kebiasaan tersebut membuat nikmat yang diterima setiap hari dianggap sebagai sesuatu yang biasa.

“Kenapa kita enggak mengucapkan alhamdulillah? Kami sudah biasa,” ujar Ustadz Husnul.

 Ia menyampaikan hal tersebut sebagai gambaran ketika seseorang menerima makanan atau mendapatkan berbagai kemudahan dalam kehidupan, tetapi lupa mengucapkan syukur kepada Allah.

Menurut Ustadz Husnul, kesehatan, kekayaan, dan kekuasaan yang dimiliki manusia bukan semata-mata hasil usaha pribadi. Ia mengingatkan bahwa terdapat pertolongan Allah di balik berbagai nikmat yang diterima manusia sehingga rutinitas kehidupan seharusnya tetap mendorong seseorang untuk bersyukur.

Selain membahas rasa syukur, Ustadz Husnul juga menyampaikan sejumlah tanda menjelang kiamat yang disebutkan dalam hadis, di antaranya hilangnya ilmu dan banyaknya gempa. Ia menjelaskan bahwa ilmu dapat berkurang dengan wafatnya para ulama sehingga manusia perlu menjaga dan mempelajari ilmu dengan baik.

Melalui kajian tersebut, Ustadz Husnul mengajak jamaah untuk tidak melupakan nikmat yang diberikan Allah dan menjadikan berbagai peristiwa sebagai pengingat untuk terus mengingat-Nya. Ia menekankan pentingnya memperbanyak rasa syukur agar manusia tidak terlena karena terbiasa menerima nikmat.

Reporter: Lintang Zulviani, KPI/3B

Khatib Ajak Jamaah Jumat Perkokoh Rukun Iman dan Rukun Islam dalam Keseharian


Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Sunarto, selaku khatib, mengajak jamaah memperkokoh rukun iman dan rukun Islam dalam kehidupan sehari-hari saat salat Jumat di Masjid Baitussalam, Jumat, (02/10/2026).

Dalam khotbahnya, Ustaz Sunarto mengatakan bahwa rukun iman dan rukun Islam bukan sekadar hafalan yang dipelajari sejak kecil. Menurutnya, keduanya harus menjadi pegangan hidup yang tampak dalam sikap dan perbuatan seorang Muslim setiap hari.

"Kita semua hafal rukun iman dan rukun Islam sejak kecil. Tapi pertanyaannya, sudahkah kita benar-benar hidup dengan itu? Iman itu di hati, Islam itu buktinya dalam amal. Keduanya harus berjalan beriringan," ujar Ustaz Sunarto di hadapan jamaah.

Ia menjelaskan bahwa keyakinan kepada Allah Swt., malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, serta qada dan qadar akan membuat hati lebih tenang. Orang yang imannya kuat, kata dia, tidak mudah putus asa ketika menghadapi ujian dan tidak lupa bersyukur saat mendapat nikmat.

Selanjutnya, Ustaz Sunarto mengingatkan bahwa syahadat, salat, zakat, puasa, dan haji harus dijalankan dengan penuh kesadaran. Ibadah, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai rutinitas, tetapi perlu membentuk akhlak dalam pergaulan, pekerjaan, dan kehidupan keluarga.

"Kalau kita yakin Allah selalu melihat, kita akan jujur saat bekerja dan berdagang. Kalau kita paham makna salat, kita akan menjaga lisan dan sikap, bukan hanya rajin di masjid," tuturnya.

Ia juga mengajak jamaah memulai penguatan iman dari lingkungan keluarga. Orang tua, lanjutnya, perlu memberi contoh nyata, misalnya mengajak anak salat berjamaah, membiasakan membaca Al-Qur'an, dan menanamkan akhlak yang baik di rumah.

Di akhir khotbah, Ustaz Sunarto berpesan agar jamaah tidak berhenti belajar agama. "Mari kita jaga iman dan Islam kita sampai akhir hayat. Semoga Allah Swt. wafatkan kita dalam keadaan husnulkhatimah," ungkapnya.

Salat Jumat di Masjid Baitussalam tersebut diikuti jamaah dari berbagai kalangan dan berlangsung khidmat hingga selesai.

Reporter: Dina Aulia Afifan, KPI/3D

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos