Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Alumni Ma’had Al-Jami’ah Roufian Afif Ajak Mahasantri Terapkan Formula 3G untuk Mengembangkan Potensi Diri

 

Dakwahpos.com, Bandung - Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Roufian Afif, mahasiswa semester 5 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), menyampaikan ceramah motivasi kepada para mahasantri di Masjid Ikomah, Kampus 1 UIN Sunan Gunung Djati Bandung, pada Jumat (23/10/2026). Alumni Ma’had Al-Jami’ah angkatan 2024 tersebut membagikan pengalaman pribadinya selama menjadi mahasantri serta mengajak para peserta untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan kedisiplinan, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan zaman.

Dalam ceramahnya, Roufian Afif menceritakan berbagai pengalaman selama menjalani kehidupan sebagai mahasantri, termasuk tantangan dalam menjaga kedisiplinan, mengatur waktu, serta menyeimbangkan kegiatan akademik dan nonakademik. Berdasarkan pengalamannya, ia memperkenalkan formula “3G” sebagai strategi pengembangan diri yang dapat diterapkan oleh para mahasantri untuk meraih prestasi dan memaksimalkan potensi yang dimiliki.

Formula tersebut mencakup tiga aspek utama, yaitu menentukan skala prioritas, menerapkan manajemen waktu melalui to-do list, serta memilih lingkungan pertemanan (circle) yang positif dan membangun pola pikir yang baik. Menurutnya, kemampuan menentukan prioritas membantu mahasantri mengenali hal-hal yang perlu didahulukan, sedangkan penggunaan to-do list dapat membantu aktivitas sehari-hari menjadi lebih terarah dan terorganisir. Di samping itu, lingkungan pertemanan yang mendukung serta pola pikir positif berperan penting dalam menjaga semangat belajar dan mendorong perkembangan diri.

Roufian juga menyoroti peran santri di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial. Ia menegaskan bahwa santri tidak cukup hanya memiliki pemahaman keagamaan yang kuat, tetapi juga perlu menguasai keterampilan modern, salah satunya content creation. Melalui keterampilan tersebut, santri dapat menyampaikan pesan-pesan positif, menyebarkan nilai-nilai keislaman, dan menunjukkan kontribusi nyata pesantren kepada masyarakat luas.

Lebih lanjut, ia mengajak para mahasantri untuk memperbaiki citra negatif yang masih melekat pada pesantren dengan maraknya kasus yang dilakukan oleh beberapa oknum melalui karya, prestasi, dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai positif. Menurutnya, santri memiliki peluang untuk berkontribusi dalam berbagai bidang, baik keagamaan, pendidikan, komunikasi, maupun teknologi. Hal ini menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda yang mampu mengambil peran dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Menutup ceramahnya, Roufian Afif mengajak para mahasantri untuk menikmati setiap proses selama menempuh pendidikan di Ma’had Al-Jami’ah dan memanfaatkan berbagai sistem serta kesempatan yang tersedia untuk pengembangan diri. Ia menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh hasil akhir, tetapi juga oleh kedisiplinan, konsistensi, dan kemauan untuk terus belajar.

Melalui ceramah tersebut, para mahasantri diharapkan semakin termotivasi untuk membangun kebiasaan positif, mengembangkan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta membuktikan bahwa santri mampu berprestasi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, nusa, dan bangsa.



Reporter: Khatamul Aulad Sabakinkin Adzikri KPI 3B


Ustaz Ayi Ulas Hukum dan Jenis Mandi Sunah dalam Kajian Fikih Masjid Al Muhyidin

Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Al Muhyidin kembali menggelar kajian fikih keagamaan bersama Ustaz H. Ayi guna mengedukasi jemaah mengenai tata cara bersuci. Kajian kali ini berfokus pada pembahasan anjuran dan hukum mandi sunah dalam berbagai momentum ibadah, mulai dari perayaan hari raya hingga rangkaian ibadah haji dan umrah.

      Dalam pemaparannya, Ustaz Ayi menjelaskan bahwa umat Islam menyambut hari raya Idulfitri dan Iduladha dengan dua kegembiraan besar, yakni kegembiraan atas tuntasnya ibadah puasa serta harapan meraih ridho Allah SWT. Untuk menyempurnakan kegembiraan tersebut, seorang muslim disunahkan melaksanakan mandi bersih sebelum menunaikan salat sunah Idulfitri maupun Iduladha. “Mandi sebelum salat Id hukumnya sunah dan menjadi bagian dari syiar untuk tampil bersih serta rapi di hari kemenangan,” ujar Ustaz Ayi di hadapan para jemaah. Selain mandi hari raya, Ustaz Ayi merinci beberapa kondisi lain yang juga disunahkan untuk mandi bersuci. Di antaranya adalah mandi bagi seseorang setelah selesai memandikan jenazah, serta mandi sunah saat hendak melaksanakan salat ihram bagi jemaah yang menunaikan ibadah haji maupun umrah. Lebih lanjut, beliau menambahkan bahwa kesunahan mandi juga berlaku ketika seseorang hendak memasuki kota suci Makkah dan sebelum melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Rangkaian hukum mandi sunah ini disandarkan pada pandangan dan kesepakatan empat mazhab utama dalam fikih Islam, yakni Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali.

      Melalui pemaparan materi fikih ini, Ustaz Ayi berharap jemaah Masjid Al Muhyiddin dapat lebih memahami amalan-amalan sunah yang sering kali terabaikan, sehingga kualitas ibadah sehari-hari dapat terus meningkat. Kajian tersebut berlangsung tertib dan mendapat perhatian hangat dari jemaah yang hadir.

     

      Reporter: Dea Siva Nursabila/KPI 3A

Hj. Mimin Ungkap 10 Ciri Orang Berakal Baik dalam Kajian Masjid Al Muhyidin

Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Al Muhyidin kembali menggelar kegiatan kajian keagamaan yang membedah kriteria orang berakal baik menurut pandangan Islam. Kajian yang disampaikan oleh penceramah Hj. Mimin tersebut bertujuan memberikan tuntunan moral dan spiritual bagi jemaah dalam membina kepribadian yang mulia, baik secara lahiriah maupun batiniah.

  Dalam pemaparannya, Hj. Mimin menjelaskan bahwa orang yang memiliki akal yang baik tidak hanya dinilai dari kecerdasan intelektual, melainkan dari gabungan sepuluh sikap yang terbagi ke dalam dua aspek utama, yakni lahiriah dan batiniah. Pada aspek lahiriah, Hj. Mimin merinci lima perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari, meliputi kebiasaan menjaga lisan atau diam dari hal tak berguna, bersikap rendah hati, berakhlak baik kepada sesama, selalu jujur dalam berkata, serta gemar beramal saleh.

 “Sikap-sikap lahiriah ini menjadi cerminan luar dari kualitas akal seseorang yang membimbingnya pada perbuatan yang bermanfaat,” ungkap Hj. Mimin di hadapan para jemaah. Sementara itu pada aspek batiniah, beliau menekankan pentingnya lima kualitas kedalaman jiwa.

 Kualitas tersebut mencakup kebiasaan selalu merenung dalam hati, pandai mengambil pelajaran dari setiap peristiwa, tunduk kepada perintah Allah, memiliki rasa takut kepada Allah, serta senantiasa mengingat kematian sebagai pengingat batas kehidupan dunia.

 Melalui kajian ini, Hj. Mimin berharap para jemaah Masjid Al Muhyidin mampu menyelaraskan amalan lahiriah dan batiniah agar tergolong sebagai hamba yang berakal sempurna. Acara kajian berlangsung dengan khusyuk dan diikuti jemaah setempat hingga selesai.

     

      Reporter: Dea Siva Nursabila/KPI 3A 

 

Kupas Karakter Penjajah Berdasar Sifat Firaun dalam Al-Qur’an di Masjid Al Muhyidin

      Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Al Muhyidin menggelar kajian keagamaan yang membahas karakteristik penjajah serta dampaknya terhadap masyarakat berdasarkan sifat-sifat Firaun dalam Al-Qur’an. Kajian yang diisi penceramah Ustaz Ayi ini bertujuan mengajak jemaah memahami bahaya kezaliman dan keserakahan kekuasaan.

      Dalam pemaparannya, Ustaz Ayi menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah merangkum berbagai sifat buruk yang melekat pada sosok penjajah dan penguasa zalim seperti Firaun. Mengutip Surah An-Naml ayat 34, beliau menyampaikan bahwa salah satu cermin karakter penjajah adalah kecenderungan merusak suatu negeri, merampas harta, menindas, serta merendahkan orang-orang mulia dan memperbudak rakyat demi kelanggengan kekuasaannya. “Karakter penjajah itu bukan hanya tentang penguasaan wilayah, tetapi juga tentang cara mereka menghinakan martabat manusia dan bertindak seolah-olah memiliki kekuasaan mutlak,” ujar Ustaz Ayi di hadapan para jemaah. Lebih lanjut, Ustaz Ayi merujuk Surah Al-Qashash ayat 39 dan ayat 4, yang menyoroti ambisi kekuasaan yang rakus, sikap mendustakan kebenaran, menyimpang dari aturan Allah, hingga upaya penyesatan publik serta memecah belah manusia. Sifat-sifat destruktif ini juga dipertegas dalam Surah Thaha ayat 118 yang menggambarkan bagaimana kezaliman pada akhirnya hanya mendatangkan kerusakan dan penderitaan bagi masyarakat luas.

      Melalui kajian ini, Ustaz Ayi berharap jemaah Masjid Al Muhyidin dapat mengambil ibrah (pelajaran) agar senantiasa menjauhi sifat-sifat berkarakter penjajah dalam kehidupan sehari-hari, serta memperkuat kepedulian terhadap keadilan dan kebenaran. Kegiatan kajian berlangsung hikmat dan penuh antusiasme hingga akhir acara.

     

      Reporter: Dea Siva Nursabila/KPI 3A 

 

Kekhusyukan Tawasulan dan Yasinan: dari Magrib Berjemaah hingga Hangatnya Santap Bakso

      

Dakwahpos.com, Bandung — Agenda rutin keagamaan jemaah Masjid Al-Muhyidin berlangsung dengan penuh kekhidmatan pada Kamis, 17 September 2026. Rangkaian ibadah mingguan yang diisi dengan lantunan zikir, tawasul, serta pembacaan Surah Yasin ini terasa syahdu sejak selepas kumandang azan Magrib hingga datangnya waktu Isya.

      

Agenda rutin ini diawali dengan pelaksanaan salat Magrib secara berjemaah. Menariknya, partisipasi jemaah yang hadir sangat beragam dan merangkul semua kalangan. Tidak hanya didominasi oleh bapak-bapak dan ibu-ibu, sejumlah remaja hingga anak-anak pun turut meramaikan saf masjid, menunjukkan proses regenerasi yang baik dalam lingkungan keagamaan setempat.

      

Seusai salat Magrib, suasana masjid seketika hening dan khusyuk saat rangkaian tawasul dan zikir mulai dilantunkan bersama-sama. Tanpa adanya agenda kajian khusus, warga benar-benar berfokus pada ibadah mahdhah dan doa. Ayat demi ayat dari Surah Yasin menggema di dalam ruangan, membawa ketenangan batin bagi para jemaah hingga akhirnya kumandang azan Isya terdengar. Seluruh jemaah kemudian menutup rangkaian ibadah utama tersebut dengan menunaikan salat Isya berjemaah.

     

Namun, kebersamaan warga rupanya tidak berhenti di atas sajadah saja. Usai salat Isya, agenda dilanjutkan dengan tradisi makan bersama yang sudah menjadi ciri khas keakraban jemaah Masjid . Kali ini, panitia atau pengurus masjid telah menyiapkan sajian istimewa berupa bakso hangat dan segarnya air kelapa muda. Setiap jemaah yang hadir mendapatkan porsi yang sama, yakni satu mangkok bakso dan satu gelas air kelapa, yang disantap sambil duduk melingkar dan bercengkerama.

      

Rangkaian agenda pun usai setelah sesi makan bersama tersebut selesai, dan warga berangsur pulang ke rumah masing-masing dengan tertib. Tradisi sederhana ini terbukti ampuh bukan hanya sebagai sarana meningkatkan keimanan kepada Sang Pencipta, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi yang merekatkan kerukunan antarwarga lintas generasi.

     

      Reporter: Dea Siva Nursabila/KPI 3A

Empati Warga RW 06: Rutinitas Yasinan Spontan Batal Imbas Kabar Duka Tetangga Wafat

Dakwahpos.com, Bandung – Agenda rutin Yasinan jemaah Masjid  Al-Muhyidin pada Kamis, 10 September 2026, urung dilaksanakan. Keputusan tak terduga ini terjadi secara spontan lantaran qadarullah, terdapat salah satu warga setempat yang wafat bertepatan dengan waktu pelaksanaan kegiatan rutin mingguan tersebut.

 Biasanya, sore hingga malam di hari Kamis identik dengan antusiasme warga mempersiapkan diri menuju masjid. Namun, suasana hari itu berubah drastis. Pembatalan agenda keagamaan ini terjadi murni tanpa adanya pengumuman formal dari pihak pengurus masjid maupun tokoh setempat. Bahkan, tidak ada seruan darurat terkait kabar duka yang disiarkan secara resmi pada saat itu.

 Meski minim instruksi, kabar dari mulut ke mulut terbukti langsung tersiar cepat. Rasa simpati dan tenggang rasa yang tinggi seketika menggerakkan hati para jemaah. Warga secara naluriah sangat paham akan skala prioritas dalam adab bermasyarakat, sehingga mereka sepakat untuk menunda rutinitas Yasinan di masjid. Fokus warga pun serentak beralih, terlihat dari banyaknya jemaah yang langsung berbondong-bondong berjalan menuju rumah duka.

  Langkah spontanitas jemaah ini sekaligus mempraktikkan langsung ajaran agama terkait fardu kifayah, yakni kewajiban mengurus jenazah dan menghibur keluarga yang ditinggalkan. Warga rela menyisihkan kebiasaan kumpul mingguan mereka demi hadir secara fisik untuk saling menguatkan keluarga yang tengah dirundung kesedihan mendalam.

 Fenomena ini menjadi potret nyata tingginya kepedulian sosial dan solidaritas di lingkungan [Nama Tempat/Daerah]. Mengesampingkan sejenak agenda rutin demi berfokus pada keluarga yang tertimpa musibah membuktikan bahwa ikatan persaudaraan warga setempat tidak hanya sekadar sebatas rutinitas ibadah bersama, tetapi benar-benar hidup dalam keseharian.

     

      Reporter: Dea Siva Nursabila/KPI 3A 

 

Sejarah masjid dengan arsitektur menara kotak

Dakwahpos.com, Bandung- Sebuah masjid yang telah lama ada kini terus maju di tengah kalangan masyarakat. Masjid yang diperkirakan sudah ada selama sekitar 20 tahun ini menyimpan kisah perjalanan yang penting sejak awal pembangunannya. Pembangunan masjid ini berawal dari inisiatif almarhum Bapak Durhalim. Sebelum adanya masjid ini, area tempat berdirinya merupakan tanah yang belum terpakai.

 Pada saat awal pembangunannya, masjid ini memiliki keunikan dalam desain arsitektur yang sangat mencolok, menara yang berbentuk persegi ujar ustaz tatang hidayattuloh.

Walaupun waktu pembangunan pertama kali tidak dapat dipastikan, masjid ini telah ada sejak waktu yang sangat lama, yaitu sekitar 20 tahun lebih. Ini terbukti dari pergantian pengelolaan masjid yang telah melewati banyak generasi sampai tahun 2026.

”ya alhamdulillah kalau dibilang perjalanan masjid dari masa ke masa termasuk banyak perubahan dan banyak peningkatannya baik dari segi bangunan, kegiatan dan yang lainnya." Ujar ustaz tatang hidayattuloh.

Perjalanan masjid ini dari waktu ke waktu memperlihatkan kemajuan yang signifikan. Sampai saat ini, masjid tersebut telah mengalami berbagai perubahan dan perbaikan, baik dalam aspek arsitektur, aktivitas yang diadakan, maupun aspek lainnya.

Reporter: Fitria Wahyuni KPI/3A

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos