Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Ustaz Aldi Ramdani Ajak Pemuda Masjid Al-Wafa Pahami Tata Cara Istinja yang Benar


Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Wafa Cibiru Hilir menggelar Praktik Ibadah pada malam Sabtu (18/9/2026) dengan mengulas Bab Istinja dari Kitab At-Taqrirat As-Sadidah. Kegiatan ini diikuti pemuda setempat.

Dalam kajiannya, Ustaz Aldi Ramdani, S.Hum., M.Pd. menjelaskan definisi istinja secara bahasa dan syariat. Menurutnya, istinja secara syariat adalah menghilangkan najis yang keluar dari kubul atau dubur menggunakan air atau batu, selama najis tersebut belum berpindah dari tempat keluarnya.

"Mempelajari tata cara istinja dan mandi wajib dengan benar ini hukumnya fardu ain bagi setiap muslim yang belum mengetahuinya," ujarnya.

Ia menegaskan bahwa mengamalkan dan mempelajari ilmu yang hukumnya fardu ain pahalanya lebih besar dan lebih dicintai Allah SWT dibandingkan mengerjakan ibadah-ibadah sunah.

Ustaz Aldi Ramdani turut merinci lima hukum taklifi istinja, mulai dari wajib ketika najis bersifat basah dan mencemari, sunah ketika najis kering dan tidak mencemari, mubah untuk keringat di area kubul atau dubur, makruh untuk kentut, hingga haram.

Ia menjelaskan bahwa hukum haram istinja terbagi dua, yaitu haram tetapi sah, seperti menggunakan air hasil gasab, dan haram sekaligus tidak sah, seperti menggunakan benda yang dimuliakan syariat, semisal makanan atau tulang.

Selain hukum, ia turut memaparkan tiga tingkatan tata cara istinja, yakni menggabungkan batu dan air sebagai cara paling utama, menggunakan air saja, atau menggunakan batu saja dengan syarat-syarat tertentu.

"Dengan menggabungkan batu dan air, tangan tidak langsung tersentuh dengan zat najis," katanya, menjelaskan urutan penggunaan batu terlebih dahulu sebelum disempurnakan dengan air.

Yusri, salah satu pemuda yang hadir, mengaku kajian ini membuatnya lebih memahami tata cara bersuci yang benar. "Praktik istinja ini merupakan ibadah yang sangat dasar dan sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga penting untuk memahami cara bersuci yang benar," ujarnya.

Kegiatan praktik ibadah ini merupakan agenda rutin Masjid Al-Wafa Cibiru Hilir yang diikuti pemuda setempat sebagai sarana memperdalam fikih ibadah sehari-hari.


Reporter: Salman Al Farisi, KPI 3-C

Keutamaan Tahlilan dan Mengirimkan Pahala Zikir Menurut Pandangan Ulama


Dakwahpos.com, Bandung— Pengajian ibu-ibu Masjid Al-Amanah Cipadung berlangsung secara rutin setiap hari Ahad setelah salat Asar. Para ibu menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi dalam menuntut ilmu.


Suasana khidmat mewarnai pelaksanaan pengajian rutin ibu-ibu tersebut. Sebelum ceramah dimulai, seluruh jamaah terlebih dahulu merangkaikan amalan tawasul dan pembacaan tahlil bersama. Pembacaan tahlil yang diisi dengan Surah Al-Fatihah, Al-Ikhlas, Al-Mu'awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), Asmaul Husna, serta kalimat-kalimat thayyibah ini menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mendoakan para pendahulu.


Dalam ceramah inti, penceramah menjelaskan bahwa tahlilan yang umum dilaksanakan masyarakat—baik dalam pengajian rutin maupun peringatan 7, 10, 40, 100, hingga 1.000 hari—merupakan amalan yang disunnahkan karena berisi rangkaian zikir. Mengenai hukum menghadiahkan pahala zikir dan Al-Qur'an, para ulama dari mazhab Hanafi, Maliki, dan Ahmad bin Hanbal menegaskan bahwa pahala tersebut dapat sampai kepada almarhum maupun orang yang masih hidup, cukup dengan meniatkannya di dalam hati.


Selain itu, jamaah ibu-ibu juga diingatkan tentang pentingnya bersedekah untuk 360 persendian tubuh setiap hari. Setiap bacaan tasbih, tahmid, tahlil, takbir, dan amar ma'ruf nahi munkar bernilai sedekah. Seluruh kewajiban sedekah persendian tersebut dapat dicukupi hanya dengan melaksanakan dua rakaat shalat Dhuha di pagi hari. Sebagaimana riwayat Imam Ahmad bin Hanbal, umat Islam juga dianjurkan membaca Al-Fatihah, Al-Ikhlas, dan Al-Mu'awwidzatain saat berziarah kubur untuk dihadiahkan pahalanya kepada para ahli kubur.


Reporter: Rifqi Alfiansyah, KPI/3C

Ustad Dadang Kuswara Menyampaikan Pentingnya Bersegera dalam Berbuat Kebaikan Tanpa Menunda


Dakwahpos.com,Bandung—Jumat, 26 September 2026 Umat Islam diimbau untuk tidak menunda-nunda kesempatan dalam beramal saleh dan berbuat kebaikan di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari. Kesempatan untuk berbuat baik merupakan karunia Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang hendaknya segera dimanfaatkan sebelum datangnya berbagai rintangan atau perubahan keadaan yang dapat menghalangi seseorang dari kebaikan tersebut.


Dalam ajaran Islam, Allah Subhanahu Wa Ta'ala memuji orang-orang yang memiliki keinginan kuat terhadap amal kebajikan dengan tidak berlambat-lambat ketika melihat peluang kebaikan. Mereka senantiasa bersegera agar amalan tersebut tidak kehilangan momentum dan waktunya. Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an serta penafsiran para ulama mengenai pentingnya memanfaatkan setiap waktu untuk beramal saleh. 


Sikap bersegera dalam berbuat baik dapat diterapkan melalui kebiasaan-kebiasaan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya meliputi membantu orang tua tanpa diminta, menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama yang mengalami kesusahan, menjenguk kerabat yang sakit, serta tidak ragu untuk segera meminta maaf apabila melakukan kesalahan. 


Selain tindakan sosial, kebaikan juga mencakup kedisiplinan dalam menjalankan kewajiban dan menjaga etika bermasyarakat. Di antaranya adalah menunaikan salat tepat pada waktunya, mengembalikan barang pinjaman, melunasi utang atau kewajiban tepat waktu, menjaga kebersihan lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya, serta senantiasa menutup aib orang lain. 


Menunda kebaikan memiliki risiko besar karena keadaan seseorang dapat berubah sewaktu-waktu. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga mengingatkan umatnya agar senantiasa bersegera melakukan amal kebaikan sebelum datangnya ujian atau fitnah yang dapat mengoyak keimanan seseorang. 


Reporter: Rifqi Alfiansyah, KPI/3C

Ustaz Rudiana Urai 7 Wajah Ketakwaan di Masjid Al-Inayah Bumi Harapan


 Dakwahpos.com, Bandung- Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Inayah Bumi Harapan, Cibiru menyelenggarakan kajian keagamaan bertajuk "Tujuh Wajah Ketakwaan yang Mendapat Naungan Allah" pada Rabu malam, (23/9/2026). Kegiatan ibadah yang disiarkan secara langsung melalui akun Instagram resmi @alinayahbhc ini menghadirkan penceramah sekaligus akademisi, Ustaz Dr. Rudiana, S.Th.I., M.Pd.


Mengawali ceramahnya, Ustaz Dr. Rudiana mengajak para jemaah untuk merenungkan berbagai musibah dan bencana alam terkini, seperti erupsi gunung berapi hingga banjir bandang. Ia menyoroti bagaimana manusia seketika rela meninggalkan seluruh harta, rumah, dan kendaraan demi menyelamatkan jiwa. 


Menurut beliau, fenomena tersebut hendaknya dijadikan cermin dan pengingat nyata akan Rukun Iman ke-5, yaitu Iman kepada Hari Akhir, sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Qari'ah [101]: 4-5 dan QS. Al-Qashas [28]: 88 di mana alam semesta hancur, gunung-gunung dihamburkan, dan setiap orang sibuk dengan keselamatan amalnya masing-masing.


"Bencana di dunia ini sesungguhnya adalah miniatur atau gambaran kecil dari dahsyatnya peristiwa Hari Kiamat (Kiamat Kubra)," tegas Ustaz Rudiana di hadapan para jamaah.


Sebagai jalan keselamatan di Hari Akhir, Ustaz Rudiana memaparkan secara rinci hadis Shahih Bukhari (No. 620 dan 1334 / Kitab Fathul Baari) mengenai tujuh golongan manusia yang berhak memperoleh perlindungan/naungan khusus dari Allah Swt. pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya (Yauma la zhilla illa zhilluh).


Ustaz Rudiana merinci ketujuh golongan penerima naungan Allah tersebut secara berurutan. Pertama, pemimpin yang adil (al-imamul 'adil) di seluruh tingkatan mulai dari lingkup rumah tangga hingga negara yang bertindak proporsional (at-tawasuth) dan tidak sewenang-wenang. Kedua, pemuda yang tumbuh dalam ibadah (syaabbun nasya'a fii 'ibadatillah) dengan sanggup mengendalikan hawa nafsunya. Ketiga, orang yang hatinya terikat dengan masjid (rajulun qalbuhu mu'allaqun bil masajid), di mana jiwanya selalu terpaut pada rumah Allah meski fisiknya beraktivitas di luar. Keempat, dua orang yang saling mencintai karena Allah (rajulani tahabba fillah) sebagai bentuk persaudaraan murni tanpa motif materi atau jabatan.


Selanjutnya, golongan kelima adalah orang yang menolak maksiat karena takut kepada Allah (inni akhafullah) saat diajak bermaksiat oleh sosok berkedudukan atau berparas menawan. Keenam, orang yang bersedekah secara tersembunyi (rajulun tasaddaqabishadaqatin fa-akhfaha) hingga diumpamakan tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya demi menjaga kemurnian niat. Dan ketujuh, orang yang berzikir dalam kesendirian hingga meneteskan air mata (rajulun zakarallaha khaliyan fafadhat 'ainah) karena rasa takut (khauf) dan rindu (raja') kepada-Nya.


Dalam sesi wawancara khusus, Ustaz Dr. Rudiana menekankan pentingnya menyampaikan materi 7 wajah ketakwaan untuk membangun kemauan dan kekuatan umat dalam menjalankan perintah Allah Swt. di tengah ujian zaman. Ia menyoroti fenomena anak muda saat ini yang kerap menghabiskan waktu dengan berkumpul tanpa arah, padahal di Hari Kiamat kelak tidak ada perlindungan selain dari Allah Swt. dan salah satu golongan yang dilindungi adalah pemuda yang mau berjuang menjaga salatnya. 


"Mimpi saya adalah merangkul anak muda dengan melihat apa kesukaan mereka terlebih dahulu. Kita tidak bisa langsung menghakimi. Kita rangkul melalui hobinya, lalu pelan-pelan kita alihkan dengan menyisipkan syair-syair religi atau nasyid yang mendidik," ungkap Ustaz Rudiana saat memaparkan strategi dakwahnya. 


Beliau juga membagikan pengalaman pribadinya saat melalui masa-masa sulit, di mana gurunya menjadi wasilah (perantara) hidayah lewat pendekatan kultural yang hangat seperti ikut bermain bola, berpakaian biasa tanpa sikap menggurui, namun tetap konsisten menjaga salat saat waktunya tiba. 


"Kaidah agama mengajarkan Al-Imanu yazidu wa yanqus (iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan). Karena iman fluktuatif, pendekatan dakwah yang adaptif, komunikatif, dan penuh keteladanan harus terus dilakukan agar menjadi jalan keberkahan bagi kita semua," pungkasnya menutup ceramah. 


Reporter: Dea Warohmah Ritonga, KPI/ 3C

Dari Caberawit hingga Lansia, Masjid Al-Manshurin Hadir Membina Generasi dalam Berbagai Kegiatan Keagamaan

 


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Manshurin tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi ruang pembinaan keagamaan bagi masyarakat dari berbagai kelompok usia. Hal tersebut terlihat dari beragam kegiatan yang diselenggarakan, mulai dari Caberawit atau Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), pembinaan pra remaja dan remaja, hingga pengajian untuk masyarakat usia pra remaja sampai lansia.


Kegiatan Caberawit atau TPQ diperuntukkan bagi anak-anak usia dini hingga sekolah dasar. Kegiatan tersebut berlangsung Senin hingga Kamis dengan pembagian waktu berdasarkan usia. Anak usia dini hingga kelas 1–2 SD mengikuti pembelajaran mulai pukul 14.00 hingga menjelang Ashar, sedangkan kelas 3–6 SD mengikuti kegiatan pada pukul 16.00–17.30. Pada Jumat, kegiatan dilaksanakan secara gabungan pada pukul 16.00–17.30.


Selain pembinaan anak-anak, terdapat pula kegiatan keagamaan bagi kelompok pra remaja usia SMP. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Selasa dan Kamis setelah Maghrib hingga waktu Isya. Materi yang diberikan meliputi bacaan Al-Qur’an, manqul atau pemaknaan Al-Qur’an, serta manqul atau pemaknaan hadis himpunan, di antaranya Kitabu Sholah dan Kitabu Adab. Para peserta juga mendapatkan materi Pegon, hafalan, serta nasihat atau ceramah.


“Di sini usia SMP-nya memang tidak banyak, sekitar enam orang. Jadi, DKM sesekali mengisi nasihat dalam kegiatan pra remaja,” ujar pihak yang mewakili DKM berdasarkan wawancara singkat. 


Sementara itu, pembinaan bagi remaja atau muda-mudi yang berada pada usia SMA hingga pra nikah dilaksanakan setiap Kamis setelah Isya hingga pukul 21.00. Kegiatan tersebut menjadi salah satu wadah bagi generasi muda untuk memperoleh pembinaan keagamaan sekaligus mempererat hubungan antaranggota.


Untuk masyarakat yang lebih luas, terdapat Pengajian PAC yang mencakup peserta dari usia pra remaja hingga lansia. Pengajian tersebut dijadwalkan pada Senin dan Jumat setelah Isya hingga pukul 21.00. Berbeda dengan beberapa kegiatan lainnya, nasihat atau ceramah menjadi bagian yang secara rutin terdapat dalam pengajian PAC.


Selain PAC, terdapat pula Pengajian PC yang dilaksanakan setiap Rabu setelah Isya hingga pukul 21.00. Pesertanya juga berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari pra remaja hingga lansia, dengan jumlah peserta setidaknya sekitar 50 orang. Materi yang disampaikan tidak hanya berkaitan dengan Al-Qur’an dan hadis, tetapi juga dapat membahas tema lain yang dekat dengan kehidupan masyarakat, seperti kesehatan dan parenting.


“Kalau PC lebih sering ada materi selain Al-Qur’an dan hadis, seperti kesehatan dan parenting,” jelas pihak yang mewakili DKM.


Beragam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa masjid memiliki peran dalam menyediakan ruang pembelajaran keagamaan bagi masyarakat lintas generasi. Mulai dari anak-anak yang belajar membaca Al-Qur’an, remaja yang mendapatkan pembinaan, hingga masyarakat dewasa dan lansia yang mengikuti pengajian dengan materi keagamaan maupun tema kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan masjid tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi sarana pembinaan dan pengembangan pengetahuan keagamaan masyarakat.


Narasumber : Ustazah Annisa Ahsanil Qisthy

Waktu Liputan : Senin, (28/9/2026)

Reporter : Nazwa Salsabila KPI/3C

Masjid Al-Furqon UPI Butuh Delegasi Pengurus Jenazah

Tugas 3 - Foto, Muhammad Faris Asy Syauqi.jpeg

Dakwahpos.com, Bandung– Masjid Al-Furqon Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) menggandeng Lab Baitul Hikmah IPAI, BEM HIMA IPAI, dan Paguyuban Takmir Masjid menggelar pelatihan Fikih Janaiz guna menyiapkan delegasi mahasiswa untuk pengurusan jenazah, Jumat (25/09/2026).

Pelatihan bertajuk Islamic Skills Training ini merupakan bagian pertama dari rangkaian pembekalan, mencakup materi dan praktik simulasi mengkafani jenazah. Praktik memandikan jenazah rencananya dilanjutkan pada bagian berikutnya.

Materi disampaikan oleh Prof. Dr. Udin Supriadi, M.Pd., dosen Program Studi Ilmu Pendidikan Agama Islam. Ia mengatakan gagasan pelatihan ini lahir dari pengalamannya sendiri di lingkungan tempat tinggalnya, tempat warga melalui paguyuban takmir masjid kerap memanggilnya saat ada yang meninggal dunia, sementara ia sendiri tidak jarang sedang berada di luar kota.

"Sebagai mahasiswa, kita harus bisa memandikan dan mengkafani, khususnya mahasiswa IPAI, karena nanti di luar sana kalian akan terjun langsung ke masyarakat," ujar Udin, Jumat (25/09/2026).

Dari pengalaman itu, ia berharap Masjid Al-Furqon UPI memiliki delegasi mahasiswa IPAI yang sudah paham ilmu pengurusan jenazah, sehingga bila suatu waktu terjadi musibah dan dirinya kebetulan tidak berada di tempat, sudah ada yang siap mengambil alih. Menurutnya, ilmu ini termasuk bagian dari ilmu kemasyarakatan yang perlu dikuasai mahasiswa IPAI.

Kebutuhan itu terbukti nyata ketika di tengah sesi materi tersiar kabar salah satu warga sekitar meninggal dunia. Meski begitu, simulasi mengkafani pada sesi ini tetap menggunakan salah satu peserta laki-laki sebagai model, bukan jenazah warga yang dimaksud. Pelatihan terbuka untuk umum melalui sistem pendaftaran, namun dikhususkan bagi mahasiswa IPAI mengingat tujuan pembentukan delegasi tersebut.

Reporter: Muhammad Faris Asy Syauqi, KPI/3D

Zikir, Kerinduan, dan Tawakal sebagai Jalan Menuju Baitullah: Kajian atas Ceramah Ustaz Aden Bahrul Ulum di Masjid Al-Ihsan Klapanunggal


Dakwahpos.com, Bogor-Kegiatan rutin, pengajian malam ahad, yang kembali dilakukan oleh jamaah bapak-bapak di masjid Al-Ihsan, dimulai dengan ucapan terima kasih dari Ustaz Aden Bahrul Ulum kepada jamaah yang telah mendoakan keselamatan beliau selama ibadah umroh kemarin. Setelah itu, aktivitas yang sebenarnya dimulai.


Ustaz Aden Bahrul Ulum memulai ceramahnya di Masjid Al-Ihsan dengan menceritakan kisah umrahnya yang tidak berjalan mulus, beliau mengatakan, "Jadwalnya umrah 10 hari, ternyata qadarullah Allah takdirkan jadi 14 hari." (Sabtu, 24/09/2026) Perpanjangan itu dibuat karena seorang jemaah di pesawat terserang penyakit jantung, sehingga rombongan tinggal di Oman selama tiga hari, dan 23 jemaah lainnya kembali ke rumah. Walau bagaimanapun, dia tetap percaya bahwa "di setiap kejadian pasti dibaliknya ada hikmah dan pelajaran." Menurutnya, hikmah itu terbukti ketika ia membantu seorang tenaga kerja Indonesia yang hampir putus asa di penampungan kedutaan dan mengajaknya kembali untuk salat berjamaah, berwirid, dan berdoa.


Ustaz Aden menjelaskan bahwa tenaga kerja tersebut berada dalam kebingungan karena terjepit antara ancaman majikan dan tuntutan nafkah keluarga. Menurutnya, "tidak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk meredam itu semua kecuali kembali kepada Allah Subhanahu Wa Taala." Beliau merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa hati menjadi tenang hanya dengan mengingat-Nya, dan bahwa keadaan justru memburuk ketika seseorang dilanda kepanikan. Karena itu ia menegaskan, "Kalau hati sudah tenang, pikiran tenang, jalan keluar bisa dicari." Ujar ustaz Aden (sabtu, 24/09/2026).


Memasuki inti kajian, dia berpikir tentang jarak antara Mekkah dan Madinah yang ia lihat di layar pesawat dari Indonesia. Dia kemudian mempertanyakan mengapa jemaah masih belum sampai ke tanah suci hingga saat ini. Beliau mencontohkan Ustaz Ajuan, seorang kenalannya, yang berjalan kaki dari Indonesia ke Mekkah selama sekitar sepuluh bulan berbekal lima juta rupiah. Beliau akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa kerinduan dan cinta yang masih jauh adalah masalahnya, bukan jarak. Ia mengaitkannya dengan perantau yang rindu rumah, yang rela menyisihkan uang untuk bensin, jalan raya, dan oleh-oleh agar bisa kembali.


Ustaz Aden kemudian mengajak jemaah mengingat kembali pertemuan Nabi Adam dan Ibu Hawa di Jabal Rahmah, Bukit Kasih Sayang, setelah mereka turun ke bumi. Ia berseloroh bahwa jemaah sejatinya adalah "orang sono" karena keduanya adalah keturunan manusia. Melalui kelakar itu, dia ingin menunjukkan kepada jemaah bahwa mereka tidak perlu minder karena mereka berasal dari keturunan para nabi dan bahwa merindukan tanah suci sama dengan merindukan tanah leluhur.


Beliau menekankan pentingnya niat yang sungguh-sungguh dengan mengatakan bahwa ketika sebuah target dipasang, "kita sudah menunjukkan keseriusan kita kepada Allah Subhanahu Wa Taala." Menurutnya, niat umrah pada bulan tertentu boleh diundur ke tahun berikutnya tanpa dosa apabila belum ditakdirkan. Sambil mengajak jemaah menghapus keraguan, ia mengingatkan, "Dari mana itu bukan urusan kita, melainkan urusan mutlak Allah." Ucap Ustaz Aden (sabtu, 24/09/2026) Setelah berniat, jemaah dianjurkan beramal dengan istigfar seribu kali dan selawat seribu kali, lalu berdoa dengan penuh keyakinan.


Ustaz Aden juga mengajak jemaah meluruskan cara pandang agar tidak menggantungkan diri pada uang, melainkan hanya kepada Allah. Menurutnya, jika Allah yang menjadi tempat bergantung, maka ada uang maupun tidak ada uang, seseorang tetap bisa berangkat. Beliau bersaksi bahwa dirinya berangkat tanpa biaya karena membawa rombongan, dengan ketentuan sepuluh jemaah mendapat satu gratis, sehingga jemaah pun dapat mengupayakannya. Ia turut menenangkan jemaah dengan berpesan agar tidak takut kelaparan di tanah suci, sebab mereka adalah tamu Allah.


Menurut hadis riwayat Ibnu Abi Dunya dari Asad bin Wadi'ah, "Barang siapa mengucapkan la haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'azim seratus kali setiap hari, maka kefakiran tidak akan menimpanya selamanya." Ustaz Aden menyatakan bahwa janji ini lebih pasti daripada terbitnya matahari esok pagi karena Nabi Muhammad dijuluki Al-Amin, sosok yang bangsa Arab percaya sepenuhnya sebelum kenabian. Selain itu, ia menyatakan bahwa kalimat hauqalah ini merupakan "bentuk penyerahan diri level maksimal." Ujarnya sabtu,24/09/2026) Menurutnya, saat mengucapkannya, seseorang mengakui bahwa tanpa izin Allah, kerja keras dan kecerdasan tidak cukup untuk menarik rezeki.


Sebagai penutup, beliau memberikan panduan praktis agar amalan tersebut mudah dijalankan, yakni dicicil 20 kali setiap selesai salat fardu sehingga genap seratus kali sehari. Beliau menambahkan, "karena kalimatnya pendek, amalan ini sangat gampang diwiridkan," ucap Ustaz Aden. misalnya dengan tasbih digital saat menyetir, menunggu angkot, atau memasak.


Ceramah ditutup dengan doa agar jemaah senantiasa diberi kesehatan, umur panjang, dan rezeki yang berkah, serta dimudahkan berangkat umrah dan haji. Harapan itu beliau rangkum dengan pesan bahwa yang terpenting adalah "tinggal maunya, tinggal cintanya, tinggal rindunya yang ditambahkan." Ucapnya menutup kegiatan tersebut (sabtu,24/09/2026).


Reporter: Shafa Maulida KPI/3C

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos