Berita Terbaru

Hidupkan Akhlak melalui Ilmu yang Diamalkan

Dakwahpos.com, Bandung- Di era modern ini, informasi dan ilmu pengetahuan dapat diterima dan dicari dengan mudah. Namun sering kali manusia tidak dapat menyeimbangi pengetahuan tersebut dengan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, ilmu yang seharusnya melahirkan akhlak yang terpuji justru tidak dapat diwujudkan. Hal inilah yang menjadi pesan utama dalam kajian ibu-ibu di Masjid Ar-Rahmat Cipadung Wetan yang membahas Surat Al-Mulk ayat 10 tentang pentingnya mengamalkan ilmu agar tidak menyesal di akhirat.

Allah berfirman dalam Surat Al-Mulk ayat 10,
وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

Dalam surat Al-Mulk ayat 10, Allah menggambarkan penyesalan orang-orang kafir yang tidak mau mendengarkan atau memikirkan perihal peringatan Allah. Mereka berkata "Andaikan dahulu kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), tentulah kami tidak termasuk ke dalam (golongan) para penghuni (neraka) Sa'ir (yang menyala-nyala)."

Dapat disimpulkan dari arti Surat Al-Mulk ayat 10 bahwa mendengar dan mengetahui ilmu saja belum cukup, karena seharusnya ilmu itu harus kita pelajari dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari agar dapat memberikan manfaat untuk diri sendiri maupun orang lain.

Kajian yang dipimpin oleh Ustaz Wahyu menekankan satu pesan penting bahwa ilmu tanpa amal maka tidak memiliki nilai. Menurut saya, pesan itu sangat relevan dengan kondisi sekarang. Banyak orang tahu kebaikan, tapi enggan mempraktikkannya. Ilmu hanya berhenti di lisan, tidak sampai ke hati. Padahal, seseorang baru bisa disebut berilmu ketika ilmunya mengubah sikap dan perilakunya menjadi lebih baik.
 
Pesan serupa juga disampaikan oleh Ketua DKM Ar-Rahmat, Bapak Edih Supardih, bahwa dalam mengamalkan ilmu bisa dimulai dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari. Seperti untuk para ibu, penerapan ilmu agama dapat diwujudkan dengan mendidik anak-anak dengan penuh kesabaran, serta mencontohkan sikap sopan dalam keseharian. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat At-Tahrim ayat 6: "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka."

Saya setuju dengan pendapat Bapak Edih, karena perubahan besar dimulai dari hal kecil yang sudah menjadi kebiasaan. Menurut saya, mengamalkan ilmu di lingkungan keluarga adalah langkah nyata untuk membangun generasi berakhlak mulia. Dengan begitu saya percaya, ketika seorang ibu berakhlak baik dan mengamalkan ilmunya, anak-anak akan menirunya. Dari sanalah pengamalan ilmu yang menumbuhkan akhlak terpuji tercapai.

Reporter: Yuhan Safarah, KPI/3C

Maulid Nabi sebagai Momentum Memperbaiki Diri





Bandung—Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan Majelis Sanida Al-Hikmah pada Senin (22/09/2025) bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi jamaah—mulai dari ibu-ibu majelis, bapak-bapak, hingga para santri—untuk kembali menata keimanan dan praktik keislaman dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kajiannya, Ustadz Ayi Rohimat selaku pimpinan majelis menegaskan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan peristiwa besar yang membawa perubahan mendasar bagi peradaban manusia. Kehadiran Rasulullah tidak hanya mengakhiri praktik-praktik jahiliah, tetapi juga menghadirkan nilai tauhid, akhlak, dan kemanusiaan yang hingga kini terus dirayakan dan dijadikan teladan oleh umat Islam.

Pernyataan Ustadz Ayi yang disampaikan dalam bahasa Sunda menggambarkan betapa besar kebahagiaan atas kelahiran Rasulullah SAW. Perayaan Maulid, dalam konteks ini, bukan dimaknai sebagai euforia semata, melainkan wujud rasa cinta dan penghormatan kepada Nabi yang telah membawa cahaya Islam ke tengah umat manusia.

Lebih jauh, pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut menyentuh aspek praksis kehidupan beragama. Ajakan untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an, bersolawat, berdzikir, serta mengamalkan sunnah Nabi menjadi penekanan penting. Hal ini menunjukkan bahwa Maulid Nabi seharusnya menjadi titik awal perubahan perilaku, bukan hanya peringatan simbolik tanpa dampak nyata.

Penekanan tentang pentingnya menjaga aurat, khususnya bagi perempuan, juga menjadi pengingat bahwa ketaatan tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga kesucian diri dan martabat sebagai muslim. Pesan ini relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, di mana nilai-nilai agama kerap berbenturan dengan gaya hidup modern.

Melalui peringatan Maulid Nabi di Majelis Sanida Al-Hikmah, jamaah diajak untuk menjadikan kecintaan kepada Rasulullah SAW sebagai energi spiritual dalam memperbaiki diri. Maulid bukan sekadar mengenang kelahiran Nabi, tetapi momentum untuk meneladani ajaran dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.


Hati Khusyuk dan Ikhlas, Jadi Esensi Dalam Ibadah

Dakwahpos.com, Bandung– Di negeri dengan banyak tersebarnya para ulama dari Sabang sampai Merauke, perbedaan cara ibadah sering kali terjadi. Namun terkadang perbedaan tersebut kerap kali menimbulkan banyak perdebatan dari banyak kalangan. Ada yang membaca doa qunut, ada juga yang tidak. Ada yang menggerakkan jarinya saat tahiyat, ada pula yang tidak. Namun, ironisnya perbedaan kecil itu sering menjadi bahan perdebatan panjang seolah-olah menentukan siapa yang paling benar di hadapan Tuhan. Padahal perbedaan tersebut tidak perlu banyak diperdebatkan karena masih sama-sama bersumber dari Rasulullah Saw.

Jika kita renungkan sejenak, esensi ibadah yang sebenarnya adalah sarana untuk mendekatkan diri kita kepada Allah, bukan hanya sekadar gerakan fisik atau perbedaan bacaan. Hal itu memang penting, namun, ada hal yang jauh lebih penting yaitu keikhlasan dan kekhusyukan hati ketika kita melaksanakan ibadah.

Ustaz Sona Zainal Walad menceritakan pengalamannya ketika menuntut ilmu di Mesir, di Negeri Kinaanah, umat Islam begitu terbiasa dengan perbedaan seperti halnya saat bulan Ramadan sebagian jemaah melaksanakan salat tarawih, ada yang melaksanakan sebelas rakaat dan ada juga yang melaksanakan dua puluh tiga rakaat. Perbedaan itu tidak menjadi hal-hal yang diperdebatkan di sana melainkan perbedaan itu dijadikan satu kesatuan dan itu adalah nomor yang utama.

Ustaz Sona juga menekankan bahwasanya dalam fiqih memang terdapat banyak sekali perbedaan. Setiap mazhab memiliki cara pandang dan dalilnya sendiri. Imam Syafi'i, Imam Malik, Imam Hambali, dan Imam Hanafi misalnya memiliki penafsiran berbeda dalam hal bacaan qunut atau gerakan salat. Namun, perbedaan itu tidak menjadi perdebatan, melainkan untuk menunjukkan kekuasaan rahmat Allah akan kekayaan khazanah Islam.

Perbedaan dalam ibadah seharusnya menjadi cermin luasnya ajaran Islam, bukan menjadi sumber perpecahan. Selama masih berpijak pada tuntunan Rasulullah Saw dan berpedoman pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, semua bentuk ibadah itu sah yang perlu kita jaga adalah niat dan keikhlasan hati. Karena hanya dengan menumbuhkan keikhlasan dan menjaga kekhusyukan, umat Islam akan mampu menemukan kembali makna sejati dalam beribadah yakni mendekatkan diri kepada Allah dan memperkuat persaudaraan sesama manusia.

Reporter : Santi Sri Mulyani, KPI 3/C

Dampak Polyworking terhadap Produktivitas dan Keseimbangan Hidup Anak Muda




Pada senin (22/09/2025) ALTF club adakan kajian fenomena polyworking agar menjadi 
Gambaran bagi generasi milenial dan Gen z dan memberikan wawasan yang penting terkait
tren yang cukup populer
Kondisi pandemi dan sistem Work From Anywhere (WFA) telah mengubah paradigma kerja 
menjadi lebih fleksibel dan berbasis target. Sebuah kesempatan sekaligus tantangan bagi anak 
muda yang ingin mengembangkan potensi diri melalui polyworking. Secara positif, 
polyworking membuka ruang bagi mereka untuk menambah penghasilan, memperluas jejaring, 
serta meningkatkan kemampuan kreatif dan adaptif.
Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa sisi gelapnya juga nyata yakni; kelelahan fisik dan mental, 
serta risiko waktu ibadah dan keseimbangan hidup dikesampingkan. Pernyataan Choqi Isyraqi 
bahwa "manajemen waktu dan niat adalah kunci utama, bukan sekedar menambah jumlah 
pekerjaan" menjadi pengingat penting agar produktivitas tidak berujung pada kehancuran diri.
Polyworking bukanlah solusi mutlak untuk semua orang. Setiap individu perlu menyesuaikan 
pilihan kerja dengan kondisi dan tujuan pribadinya. Bagi yang sedang membangun portofolio 
dan mengembangkan kemampuan, polyworking dapat menjadi cara efektif untuk belajar dan 
berkembang. Namun, bagi mereka yang sudah mencapai kestabilan dalam pekerjaan, 
monoworking yang memberikan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi 
cenderung lebih sesuai dan ideal.
Kita harus selalu mengingat bahwa dimensi spiritual tidak boleh terabaikan oleh kepentingan 
ekonomi. Choqi menegaskan bahwa jika kemiskinan tidak dihadapi dengan cara yang tepat, 
hal itu dapat berujung pada kekufuran. Pesan ini mengingatkan kita bahwa hidup yang 
harmonis tidak hanya bergantung pada materi, tetapi juga pada pemeliharaan nilai-nilai dan 
ikatan dengan Sang Pencipta.
Anak muda harus bijak memanfaatkan peluang di era polyworking dengan tidak melupakan 
fungsi waktu untuk refleksi dan ibadah. Kajian seperti ini sangat penting untuk membuka 
kesadaran dan membangun mindset yang tidak hanya mengejar kesuksesan duniawi, tetapi juga 
keberkahan hidup.

Muhammad Iqbal Najmi Kamil As/ KPI 3C

Esensi Maulid Nabi : Ciri Cinta Rasulullah SAW

Pada 15 September 2025, DKM Al-Ikhlas, Cipadung bersama Majlis Ta'lim Al-Ikhlas menyelenggarakan pengajian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Diisi oleh ceramah dari Ustaz Solihin selaku Ketua DKM Al-Ikhlas.

Pada ceramahnya beliau menyampaikan beberapa ciri cinta kepada Nabi Muhammad SAW diantaranya yang pertama yaitu sholawat. Sholawat merupakan bacaan-bacaan do'a yang saat ini banyak disenandungkan oleh umat islam. Senandung-senandung do'a itulah yang memperindah perintah Allah untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Diceritakannya dalam ceramahnya bahwa malaikat, juga bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. bahkan Nabi Adam a.s. setelah diturunkan ke bumi, beliau banyak memohon ampunan, salah satunya bertawasul kepada Nabi Muhammad SAW.

Ciri cinta kepada Nabi Muhammad SAW. yang kedua adalah menghidupkan peninggalan-peninggalan Nabi Muhammad SAW. Ada 2 peninggalan Nabi, yang mana selama kita berpegang teguh kepada keduanya maka kita tidak akan tersesat, yaitu Al-Qur'an dan Hadist. Dengan membaca dan mempelajari Al-Quran dan juga mengajarkannya. Selain membaca dan mengajarkan Al-Qur'an kita juga harus menghidupkan Sunnah-sunnah Rasulullah.

Ciri cinta yang ketiga, yang merupakan ciri-ciri terakhir yang disampaikan oleh Ustaz Solihin yaitu, meneladani akhlak Rasulullah. Rasulullah SAW. diutus oleh Allah kepada umat salah satunya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Saat memilih suri tauladan, hendaknya kita memilih yang akhlaknya pasti sempurna seperti Rasulullah SAW.

Itulah ciri cinta kepada Nabi Muhammad SAW yang hendaknya kita teladani dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Reporter: Jauharatuzzahra Kurnia, KPI/3C

Ujian di Balik Kesenangan Duniawi


 
Dakwahpos.com, Bandung– Kesenangan sering kali melalaikan manusia. Hidup terasa mudah seakan-akan tidak ada masalah. Padahal, seperti yang diingatkan Ustadz Devi Idan dalam kajian Tafsir Mufrodat di Masjid Baitul Kamal Ciganitri, kesenangan pun bisa menjadi ujian.

Istidraj merupakan salah satu bentuk ujian yang diberikan Allah SWT kepada manusia dalam wujud kesenangan duniawi. Ujian ini sering kali tidak disadari karena hadir dalam bentuk yang menyenangkan, bukan dalam kesulitan. Pemahaman terhadap istidraj penting agar manusia tidak terperdaya oleh kenikmatan yang justru menjauhkan dari ketaatan.

Di dalam Surat Az-Zumar ayat 49 Allah SWT berfirman:
 
‎فَاِ ذَا مَسَّ الْاِ نْسَا نَ ضُرٌّ دَعَا نَا ۖ ثُمَّ اِذَا خَوَّلْنٰهُ نِعْمَةً مِّنَّا  ۙ قَا لَ اِنَّمَاۤ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ ۗ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَّلٰـكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ
‎"Maka apabila manusia ditimpa bencana dia menyeru Kami, kemudian apabila Kami memberikan nikmat Kami kepadanya dia berkata, "Sesungguhnya aku diberi nikmat ini hanyalah karena kepintaranku." Sebenarnya, itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui."

Ayat di atas menggambarkan sifat manusia yang mudah berbalik ketika menghadapi dua kondisi, kesusahan dan kelapangan. Ketika dalam kesulitan, manusia cenderung mendekat kepada Allah, tetapi saat diberikan kemudahan, banyak yang lupa dan merasa semua capaiannya adalah hasil usahanya sendiri.
‎Kesenangan dan kemudahan hidup bukan semata tanda keberkahan, melainkan bagian dari ujian Allah untuk menilai sejauh mana manusia mampu bersyukur dan tetap taat kepada-Nya. Baik kesenangan maupun kesulitan adalah ujian yang menuntut keikhlasan dan keteguhan iman supaua manusia tidak tertipu oleh kesenangan dunia.
 
‎Oleh: M. Hafizh Arsy Jibril, KPI/3C

Bukti Cinta pada Nabi Bukan di Bibir, Tapi di Akhlak


 
Dakwahpos.com, Bandung-Di zaman sekarang, banyak umat Islam yang mengaku sangat mencintai Nabi Muhammad SAW. Mereka rajin bershalawat dan ikut dalam peringatan Maulid Nabi, tapi sayangnya masih ada yang belum benar-benar meneladani akhlak beliau. Masih sering ditemui orang yang berkata kasar, berbohong, atau tidak menghormati sesama, padahal Nabi mengajarkan kebaikan dan kasih sayang. Inilah yang menjadi perhatian Ustadz Dodo, bahwa cinta kepada Rasulullah tidak cukup hanya diucapkan lewat bibir, tetapi harus dibuktikan dengan sikap dan perilaku.

Menurut Ustadz Dodo, cinta sejati kepada Nabi Muhammad SAW terlihat dari bagaimana seseorang berusaha meniru akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah dikenal sebagai pribadi yang jujur, sabar, dan penyayang kepada siapa pun, termasuk kepada orang yang membencinya. Sifat-sifat itulah yang seharusnya ditiru oleh setiap Muslim agar cinta mereka kepada Nabi menjadi nyata. Ia menilai, seseorang yang benar-benar mencintai Rasulullah pasti berusaha memperbaiki akhlaknya setiap hari.

Beliau juga berpendapat bahwa menanamkan cinta kepada Nabi sebaiknya dilakukan sejak kecil. Anak-anak perlu dibiasakan mengenal kisah dan teladan Rasulullah agar tumbuh menjadi pribadi yang beriman dan berakhlak baik. Dengan pendidikan akhlak yang benar, generasi muda akan terbiasa berperilaku sopan, jujur, dan bertanggung jawab. Ustadz Dodo percaya bahwa mengenal dan meniru Nabi sejak dini akan membentuk karakter yang kuat dan berjiwa Islami.

Dalam pandangan Ustadz Dodo, memperingati Maulid Nabi seharusnya menjadi momen untuk memperbaiki diri, bukan sekadar acara tahunan. Ia mengajak umat Islam agar lebih banyak meniru akhlak Nabi daripada sekadar memuji dengan kata-kata. Menurutnya, cinta kepada Rasulullah akan terasa nyata ketika umat mampu berbuat jujur, rendah hati, dan penuh kasih sayang seperti beliau. Itulah bukti cinta sejati kepada Nabi yang sesungguhnya.

Reporter: Muhammad Adi Nugroho, KPI/3C

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
© Dakwahpos 2024