Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Khutbah Jumat Masjid Al-Ikhlas Cipadung: Pentingnya Membaca Al-Qur'an untuk Ketenangan Jiwa

 


Dakwahpos.com, Bandung – Jemaah Masjid Al-Ikhlas Cipadung menghadiri ibadah shalat Jumat pada hari Jumat tanggal 25 September 2026. Kegiatan ibadah ini menghadirkan Drs. H. Abung Gunawan, M. Ag. sebagai khatib untuk menyampaikan pesan spiritual kepada para hadirin. Khutbah tersebut berlangsung dengan khusyuk demi memotivasi jemaah agar senantiasa mendekatkan diri ke masjid dan rutin membaca Al-Qur'an.


Khatib mengawali pesan dengan mengingatkan keutamaan melaksanakan shalat sunat Tahiyyatul Masjid sebelum duduk di area dalam masjid. Beliau juga menekankan bahwa jemaah sebaiknya sering meluangkan waktu untuk berkumpul dengan para ulama maupun kiai. Obrolan dalam perkumpulan tersebut jangan hanya berfokus pada urusan duniawi semata tanpa memikirkan bekal akhirat.


"Al-Qur'an, syifa'un wa rahmatun, Al-Qur'an diturunkan oleh Allah Swt. sebagai obat penawar (penyembuh) sekaligus rahmat (kasih sayang), oleh karena itu, jangan pernah berhenti membacanya," tegas Drs. H. Abung Gunawan, M. Ag. di hadapan jemaah.


Kutipan tersebut diharapkan mampu menyadarkan jemaah tentang kekuatan mukjizat Al-Qur'an bagi ketenangan jiwa manusia.


Beliau kemudian menceritakan kisah perjalanan spiritual Rasulullah saat menjelang wahyu pertama di Gua Hira. Di tempat yang sepi tersebut, Nabi Muhammad Saw. sering menyendiri dan merenung untuk memikirkan kondisi umatnya. Perjuangan Nabi yang selalu didukung dan didampingi oleh Siti Khadijah ini menjadi contoh teladan tentang keteguhan hati beribadah.


Selain itu, beliau menyarankan sebuah amalan sunah yang ringan sebelum beranjak tidur pada malam hari. Setiap muslim sangat dianjurkan untuk membaca surah Al-Baqarah, Al-Falaq, An-Nas, dan Ayat Kursi secara rutin. Amalan ini dipercaya mampu membuat tidur kita terasa damai seolah-olah sedang berada di samping Rasulullah.


Khatib juga memperingatkan bahaya membiarkan suasana rumah terasa sepi dari lantunan suci ayat-ayat Al-Qur'an. Rumah yang tidak pernah dibacakan Al-Qur'an dan sunyi dari shalat sunat akan kehilangan banyak sekali kebaikan. Sebaliknya, keburukan di dalamnya akan bertambah dan hati para penghuni rumah tersebut akan terasa sangat sempit.


Keutamaan membaca Al-Qur'an ternyata tidak hanya berlaku di dunia, tetapi juga mampu menembus hingga ke alam akhirat. Seorang anak yang rajin membaca Al-Qur'an akan mampu memberikan mahkota kemuliaan bagi kedua orang tuanya kelak di akhirat. Mahkota yang indah ini merupakan bentuk ganjaran langsung dari Allah atas amal saleh yang konsisten dilakukan sang anak.


Sebagai penutup khutbah, beliau memberikan target amalan harian yang wajar dan bisa dicapai oleh seluruh jemaah masjid. Jemaah diimbau untuk terus membaca Al-Qur'an minimal sebanyak satu juz atau menyisihkan satu waktu luang setiap harinya. Pesan dakwah ini diharapkan mampu membawa keberkahan serta ketertiban hidup bagi seluruh masyarakat di sekitar kawasan Cipadung.


Reporter: Muhammad Hafidz Abdul Ghoni, KPI/3C

Ustaz Soleh Kurnia Ajak Jemaah Maknai Surah Al-Fatihah dan Terapkan Syukur

Dakwahpos.com, Bandung – Jemaah bapak-bapak Masjid Al-Istiqomah Cinunuk mengikuti pengajian yang diisi oleh Ustaz Soleh Kurnia, S.Si. di Masjid Al-Istiqomah, Cinunuk, Kabupaten Bandung, Rabu (30/09/2026). Pengajian ini digelar untuk mengingatkan para jemaah agar senantiasa memaknai kandungan surah Al-Fatihah sebagai panduan hidup serta menerapkan rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan oleh Allah Swt.

Dalam ceramahnya, Ustaz Soleh Kurnia, S.Si. menjelaskan keutamaan surah Al-Fatihah yang dikenal sebagai Ummul Qur'an dan gerbang kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat. Ia menekankan bahwa Al-Fatihah memiliki kedudukan yang sangat mulia serta dapat menjadi obat (asy-syifa) bagi orang yang membacanya dengan penuh keimanan dan keyakinan.
"Al-Fatihah itu sebagai gerbang agar hidup kita sa'idun fiddunya wa sa'idun fil akhirah, bahagia di dunia dan bahagia di akhirat," ujar Ustaz Soleh Kurnia.

Selanjutnya, ia memaparkan pentingnya mengawali setiap aktivitas kebaikan dengan bacaan basmalah agar senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. Menurutnya, setiap kemudahan dan kesehatan yang dirasakan saat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah (Ar-Rahman) yang wajib disyukuri tanpa dibanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain.
"Setiap kebaikan tanpa diawali dengan bismillahirrahmanirrahim, maka terputus atau hilang keberkahannya," tegas Ustaz Soleh Kurnia di hadapan para jemaah.

Sebagai penutup, Ustaz Soleh Kurnia mengajak jemaah untuk senantiasa meluruskan niat dalam beribadah (iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin) serta menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat. Hal ini bertujuan agar jemaah senantiasa ingat bahwa sekecil apa pun amal kebaikan maupun keburukan yang dilakukan kelak pasti akan mendapatkan pembalasan dari Allah Swt.

Reporter: Ika Syaufika, KPI/3D

Uploaded Image

Ustaz Gungun Gunawan Paparkan Gabungan Antara Ilmu Dzohir dan Bathin

Dakwahpos.com, Bandung - Dalam kajian ba’da subuh yang digelar pada Minggu (27/09/2026) di Masjid Ar-Rahman, Arcamanik, Ustaz Gungun Gunawan dihadapan para jemaahnya menyampaikan pentingnya menyatukan dua hal, yakni antara dzohir dan bathin.

Ia pun menjelaskan, bahwasannya dua hal tersebut (dzohir dan bathin) harus saling membutuhkan satu sama lain. Karena dua hal tersebut, dapat mempermudah jalan manusia untuk menuju ke jalan surga Allah Swt., dan juga mendapatkan ridho-Nya.

Menurutnya, dalam kehidupan ini, tak melulu perihal lahiriah atau yang terlihat dalam pandangan manusia saja. Bahkan ia berpendapat, manusia seringkali abai dalam menanggapi urusan yang tidak terlihat oleh manusia atau menanggapinya dengan sepele. 

“Akhirnya apa? Tidak dicari ilmunya, tidak dicari sumber kebenarannya, padahal dzohiran wa bathinan adalah dua perkara yang harus berkesinambungan, harus membutuhkan satu sama lain, tidak bisa berjalan hanya cukup satu jalan saja”, ujarnya.

Ustaz Gungun Gunawan pun menegaskan, bahwa mempelajari urusan-urusan dzohir atau yang terlihat oleh pandangan manusia, hukumnya wajib, baik wajib ain maupun wajib kifayah. Maka, ia pun menambahkan, bahwa urusan bathin pun, harus disamakan seperti ilmu dzohir, yang ada kalanya wajib ain maupun wajib kifayah.

Ustaz Gungun Gunawan memberikan sebuah contoh perihal keselarasan amal dzohir dan bathin. Seperti memperbagus sholat dan berpuasa. Sholatnya rajin, puasanya lancar dijalankan, tetapi tidak ikhlas dalam pelaksanaannya dan tidak menjaga hatinya dari tindakan menjelekkan orang lain. Ia menegaskan bahwa Allah Swt. tidak membutuhkan hal seperti itu.

“Allah Swt. tidak membutuhkan ibadah yang demikian, yang hanya mementingkan dzohirnya saja, hanya mementingkan luarnya saja, melainkan harus berkesinambungan antara luar dan dalam, antara dzohir dan bathin. Harus berjalan beriringan antara keadaan dzohir dan keadaan bathin”, tegasnya.

Ia pun berpendapat, bahwa dzohir hanya sebatas urusan syarat saja, tetapi untuk urusan bathin, langsung dinilai oleh Allah Swt. Namun, ia pun menambahkan bahwa jangan memilih mementingkan urusan dzohir maupun mementingkan urusan bathin saja. Karena dzohir dan bathin adalah kewajiban yang harus dipelajari oleh manusia.

“Urusan dzohir dan urusan bathin ini adalah merupakan dua urusan yang harus berkesinambungan, harus berjalan beriringan, tidak boleh mementingkan salah satunya, tapi harus dipentingkan kedua-duanya. Maka, kedudukan ilmu dzohir dan kedudukan ilmu bathin adalah merupakan kewajiban yang harus kita pelajari, yang harus kita perbaiki agar bagus kedua-duanya”, tuturnya.

Reporter : Muhammad Habil Apri Gholi, KPI 3/D
Uploaded Image

Ustaz Gungun Gunawan Jelaskan Pentingnya Kombinasi Ilmu Dzohir dan Bathin

Dakwahpos.com, Bandung - Dalam kajian ba’da subuh yang digelar pada Minggu (27/09/2026) di Masjid Ar-Rahman, Arcamanik, Ustaz Gungun Gunawan dihadapan para jemaahnya menyampaikan pentingnya menyatukan dua hal, yakni antara dzohir dan bathin.

Ia pun menjelaskan, bahwasannya dua hal tersebut (dzohir dan bathin) harus saling membutuhkan satu sama lain. Karena dua hal tersebut, dapat mempermudah jalan manusia untuk menuju ke jalan surga Allah Swt., dan juga mendapatkan ridho-Nya.

Menurutnya, dalam kehidupan ini, tak melulu perihal lahiriah atau yang terlihat dalam pandangan manusia saja. Bahkan ia berpendapat, manusia seringkali abai dalam menanggapi urusan yang tidak terlihat oleh manusia atau menanggapinya dengan sepele. 

“Akhirnya apa? Tidak dicari ilmunya, tidak dicari sumber kebenarannya, padahal dzohiran wa bathinan adalah dua perkara yang harus berkesinambungan, harus membutuhkan satu sama lain, tidak bisa berjalan hanya cukup satu jalan saja”, ujarnya.

Ustaz Gungun Gunawan pun menegaskan, bahwa mempelajari urusan-urusan dzohir atau yang terlihat oleh pandangan manusia, hukumnya wajib, baik wajib ain maupun wajib kifayah. Maka, ia pun menambahkan, bahwa urusan bathin pun, harus disamakan seperti ilmu dzohir, yang ada kalanya wajib ain maupun wajib kifayah.

Ustaz Gungun Gunawan memberikan sebuah contoh perihal keselarasan amal dzohir dan bathin. Seperti memperbagus sholat dan berpuasa. Sholatnya rajin, puasanya lancar dijalankan, tetapi tidak ikhlas dalam pelaksanaannya dan tidak menjaga hatinya dari tindakan menjelekkan orang lain. Ia menegaskan bahwa Allah Swt. tidak membutuhkan hal seperti itu.

“Allah Swt. tidak membutuhkan ibadah yang demikian, yang hanya mementingkan dzohirnya saja, hanya mementingkan luarnya saja, melainkan harus berkesinambungan antara luar dan dalam, antara dzohir dan bathin. Harus berjalan beriringan antara keadaan dzohir dan keadaan bathin”, tegasnya.

Ia pun berpendapat, bahwa dzohir hanya sebatas urusan syarat saja, tetapi untuk urusan bathin, langsung dinilai oleh Allah Swt. Namun, ia pun menambahkan bahwa jangan memilih mementingkan urusan dzohir maupun mementingkan urusan bathin saja. Karena dzohir dan bathin adalah kewajiban yang harus dipelajari oleh manusia.

“Urusan dzohir dan urusan bathin ini adalah merupakan dua urusan yang harus berkesinambungan, harus berjalan beriringan, tidak boleh mementingkan salah satunya, tapi harus dipentingkan kedua-duanya. Maka, kedudukan ilmu dzohir dan kedudukan ilmu bathin adalah merupakan kewajiban yang harus kita pelajari, yang harus kita perbaiki agar bagus kedua-duanya”, tuturnya.

Reporter : Muhammad Habil Apri Gholi, KPI 3/D

Khutbah Jumat Masjid Ar-Rahmah Cijerah: Ajak Jamaah Tingkatkan Keimanan dan Ketakwaan

Dakwahpos.com,Bandung - Masjid Ar-Rahmah Cijerah kebali dihadiri oleh para jama’ah yang menunaikan ibadah shalat Jum’at berjamaah pada Jum’at (25/09/2026). Berdasarkan khutbah yang disampaikan oleh Ustaz Mamad,mengenai meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

Walaupun tema yang dibawakan oleh para khatib dalam khutbah jumat berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt. agar mendapatkan ridhonya dengan cara mendengarkan nasihat-nasihat yang di sampaikan terkumpulnya semua amal-amal shaleh agar mendapatkan syurganya Allah Swt.

Beliau menyampaikan bahwasannya sangatlah penting bagi kita untuk selalu menjaga keimanan kita dan ketakwaan kita dan berusaha untuk menjauhkan atas apa-apa yang dilarang oleh Allah Swt. Karena sesungguhnya apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. didalamnya ada sebuah kemaslahatan dan manfaat bagi kita semua.

Maka dari pada itu, marilah kita bersama-sama selalu meningkatkan keimanan dan ketakuan kita kepada Allah Swt. taqwa sebagaimana yang diajarkan oleh Ali bin Abi Talib R.A.Yang disebut dengan taqwa adalah takut kepada Allah yang maha agung. Kemudian mengamalkan atas apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. serta rido atas apa yang diberikan oleh Allah Swt.

Dapat di ambil kesimpulan bahwasannya iman dan takwa adalah dua hal yang saling tekait.Iman yang kuat akan menghasilkan takwa yang tinggi, dan takwa yang tinggi akan memperkokoh iman. Oleh karna itu,kita harus selalu berusaha untuk memperbaiki kedua aspek ini dalam hidup kita.

Reporter : Nirwan Abdul Aziz, KPI/3D

Ustaz Aep Fahrudin: Berniaga dengan Allah, Perniagaan yang Tak Pernah Merugi

Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Aep Fahrudin mengingatkan jemaah untuk tidak hanya mengejar keuntungan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal akhirat, dalam khutbah Jumat di Masjid dan Madrasah Nurul Ilmi, Jalan Jembar Wangi RT 05 RW 16, Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jumat (18/9/2026).

Menurut Ustaz Aep, sebagian orang merasa cukup dengan amal seadanya untuk akhirat, padahal orientasi seperti itu justru menunjukkan dunia masih lebih dominan dibanding harapan pada keuntungan akhirat.

Ia membandingkan usaha manusia dengan perniagaan bersama Allah. Dalam perdagangan duniawi, seseorang bisa untung, rugi, bahkan tidak memperoleh apa pun.

“Padahal apapun usaha yang kita lakukan hari ini masih ada dua kemungkinan, antara mereka yang mendapatkan keuntungan dari perniagaannya, atau mungkin ada yang mendapatkan kerugian bahkan bisa jadi dia tidak dapat keuntungan sedikit pun. Tetapi Allah SWT tidak demikian, Allah sudah sangat memberikan jaminan kepada kita bahwa dalam berniaga dengan-Nya tidak akan pernah mengalami kerugian sedikit pun,” ujar Ustaz Aep.

Ia melanjutkan dengan membacakan Surah At-Taubah ayat 111 yang menyatakan Allah membeli diri dan harta orang-orang beriman dengan balasan surga. Khatib juga merujuk Surah Ash-Shaff ayat 10
-12 tentang perniagaan yang menyelamatkan dari azab pedih, dengan dua syarat: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad dengan harta dan jiwa. Balasannya berupa ampunan dosa, surga yang dialiri sungai-sungai, dan tempat tinggal terbaik di surga 'Adn, disebut Al-Qur'an sebagai al-fauzul 'azhim, kemenangan yang agung.

Berbeda dengan kesuksesan dunia yang ukurannya relatif, Ustaz Aep menilai standar sukses akhirat telah ditetapkan Allah sehingga tidak menimbulkan perbedaan pendapat. Kehidupan, kesehatan, dan harta, katanya, adalah modal pemberian Allah yang harus diputar untuk kepentingan akhirat. Orang yang gagal di dunia masih bisa mengulang, sementara kegagalan di akhirat tidak menyediakan kesempatan kedua.

“Gagal di dunia, sepanjang ada kesempatan kita bisa mengulangnya, kita bisa belajar, kita bisa minta tambahan waktu. Tapi bagaimana kalau kita gagal di akhirat? Apakah kita mampu meminta tambahan waktu? Apakah kita bisa belajar kembali?” ujar Ustaz Aep.

Di akhir khutbah, Ustaz Aep mengingatkan tanda-tanda menjelang ajal: rambut memutih, fisik melemah, dan tubuh membungkuk ke tanah. Ia mengajak jemaah menjadikan tanda itu sebagai pengingat untuk memperbanyak pengorbanan harta, tenaga, dan waktu di jalan Allah.

“Utusan yang pertama adalah uban, rambut yang berubah dari hitam menjadi putih. Yang kedua, kelemahan fisik, kita mengalami kelemahan dan mustahil kembali muda. Yang ketiga, badan yang membungkuk ke tanah, menunjukkan kita akan kembali ke tanah. Pertanyaannya, utusan yang mana yang telah sampai kepada kita hari ini?” pungkas Ustaz Aep.

Reporter: Alpiyan Pasha, KPI/3D


Ustadzah Ai Nurjanah Ajak Jamaah Perkuat Tauhid dan Bijak dalam Menyikapi Perbedaan


 Dakwahpos, Bandung- Pengajian di Masjid At-Taufiq Pasirbiru pada Sabtu, 26 September, diisi dengan kajian keislaman yang membahas pentingnya dalam menjaga kemurnian tauhid dan kehati-hatian dalam memahami ajaran agama. Dalam kajiannya, Ustadzah Ai Nurjanah mengajak jamaah untuk tetap berpegang kepada Allah Swt. serta tidak mengikuti pemahaman yang menyimpang dari ajaran Islam.

Ustadzah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa para rasul tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menjadikan malaikat maupun nabi sebagai Tuhan. Para nabi dan malaikat adalah hamba Allah, bukan Tuhan yang disembah, jelasnya, dengan menegaskan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah Swt. Menurutnya, berbagai pemahaman keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat itu harus disikapi dengan hati-hati, terutama ketika seseorang mengajak untuk menyembah  kepada selain Allah. Ia mengingatkan para jamaah agar tidak mudah mengikuti setiap informasi keagamaan yang ditemukan, baik melalui media maupun lingkungan sekitar, tanpa mengetahui sumber dan dasar ajarannya.

Sekarang banyak pemahaman-pemahaman yang menyimpang, maka kita harus hati-hati dan tidak sembarangan dalam memilih guru, tutur Ustadzah Ai Nurjanah. Ia juga menyampaikan bahwa umat Islam itu sebaiknya belajar kepada guru yang memiliki pemahaman agama yang jelas dan juga memiliki sanad yang jelas serta berpegang pada ajaran yang diyakini berdasarkan petunjuk Islam.

Dalam kajian tersebut, Ustadzah Ai Nurjanah turut menyinggung perbedaan pendapat dalam persoalan fikih, salah satunya mengenai batalnya wudu akibat bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Ia menjelaskan bahwa perbedaan pendapat tersebut berkaitan dengan perbedaan mazhab yang terjadi di masyarakat, di antaranya seperti Mazhab Syafi’i dan Mazhab Maliki.

Beliau kemudian mengingatkan jamaah agar tidak memilih pendapat agama hanya berdasarkan kemudahan yang ingin diperoleh. Jangan mengambil yang gampang-gampangnya saja, wudunya mengikuti satu mazhab tetapi pembatalannya mengikuti dari mazhab yang lain, ungkapnya, seraya menjelaskan bahwa dalam persoalan fikih, umat Islam perlu memahami dasar pendapat yang diikutiinya secara penuh.

Lebih lanjut, Ustadzah Ai mengajak jamaah untuk tetap menghormati adanya perbedaan pemahaman di tengah masyarakat dan jangan mudah menyalahkan orang lain. Karena menurutnya, perbedaan dalam persoalan keagamaan perlu disikapi dengan bijak, sementara setiap Muslim tetap bertanggung jawab terhadap keyakinan dan amalan yang dijalankannya.

Menutup kajiannya, Ustadzah Ai Nurjanah mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang saleh tidak boleh melebihi kecintaan serta penghambaan kita kepada Allah Swt. Mencintai Rasul dan orang-orang yang mulia harus menjadi bagian dari kecintaan kita kepada Allah, bukan menjadikan mereka sebagai sesuatu yang disembah, pesannya, sekaligus mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga keimanan dan keislaman hingga akhir hayat.

Reporter: Sevilla Aulia, KPI/3C

 

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos