Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

​Meninjau Langsung Pembelajaran Al-Qur'an, Pengalaman Berharga Dampingi Anak-Anak Mengaji di Masjid Al Ikrom

Uploaded Image
​Dakwahpos.com, Bandung - Kegiatan belajar mengaji di Masjid Al Ikrom, Sekejati, Bandung, selalu menghadirkan dinamika tersendiri bagi siapa pun yang terlibat langsung di dalamnya. Suasana sore hari di masjid tampak hidup ketika anak-anak antusias berkumpul untuk mengikuti bimbingan membaca Al-Qur'an dan Iqro.
 
​Berdasarkan pengalaman langsung dalam proses pendampingan di lokasi, interaksi bersama para santri cilik membutuhkan kesabaran ekstra. Setiap anak datang dengan kemampuan membaca yang beragam, mulai dari yang sudah lancar hingga yang masih memerlukan bimbingan intensif dalam mengeja huruf hijaiyah.

​Selama sesi pengecekan bacaan berlangsung, penguji turut menyimak satu per satu halaman buku yang dibaca oleh anak-anak. Pendekatan interaktif ini dilakukan agar setiap kesalahan bacaan dapat langsung dibetulkan dengan cara yang santai dan menyenangkan.

​"Ini bukan ta, kalau titiknya di bawah dibacanya ya," ujar pembimbing saat membetulkan lafal bacaan salah satu anak yang sedang menyetorkan hafalannya di dalam masjid.

​Melalui kegiatan turun tangan secara langsung ini, pendampingan baca tulis Al-Qur'an terbukti efektif dalam memotivasi anak-anak. Diharapkan, kebersamaan di dalam masjid ini dapat terus merawat semangat generasi muda untuk tekun belajar dan memakmurkan rumah Allah sejak dini.

​Reporter: Adni, KPI/3B

Suasana Hangat Pembelajaran Al-Qur'an dan Iqro Anak di Masjid Al Ikrom Sekejati

Uploaded Image
​Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Al Ikrom yang terletak di Sekejati, Bandung, terus konsisten menjadi pusat pembinaan keagamaan bagi masyarakat sekitar. Tidak hanya aktif pada waktu ibadah fardhu, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan pendidikan Al-Qur'an bagi anak-anak dan remaja setiap sore setelah salat Ashar. Seperti hari ini, (Jum’at, 23/10/2026), anak-anak kembali berkumpul untuk mengikuti kegiatan mengaji.

Berdasarkan kegiatan rutin yang berjalan, anak-anak tampak antusias berkumpul di dalam masjid untuk mengikuti bimbingan mengaji. Suasana hangat terlihat ketika para pengajar telaten membimbing para santri cilik membaca, menulis, serta melafalkan doa-doa harian dan ayat suci Al-Qur'an secara bersama-sama di atas karpet masjid.  
​Sebelum memulai kegiatan inti, para pengajar terlebih dahulu memotivasi para santri dengan penuh semangat agar fokus mengikuti pembelajaran.

​"Ayo, ayo nulis surah surat Al-Ikhlas," ajak Bu Yani kepada anak-anak sebelum memulai sesi menulis dan membaca ayat pendek.

​Pembinaan generasi muda ini dipimpin langsung oleh pengajar setempat, di antaranya Bu Yani dan Bu Naning, yang setia mendampingi proses belajar mengaji setiap harinya. Kehadiran program pengajian sore ini menjadi langkah nyata dalam menanamkan nilai-nilai keislaman serta kecintaan terhadap masjid sejak usia dini bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Reporter: Adni, KPI/3B

Metode Recall Pengajar TPQ Darul Hasan Assalam, Cileunyi Kulon


Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz bersama para santri TPQ secara konsisten selalu menerapkan metode pengulangan atau recall materi pembelajaran yang telah dipelajari sebelumnya sebelum kegiatan belajar mengajar pada hari itu resmi berakhir di masjid pada hari Minggu (01/11/2026). Tradisi akademik yang interaktif ini rutin dilaksanakan guna menguji tingkat pemahaman sekaligus memperkuat daya ingat anak-anak terhadap materi akidah dasar yang telah disampaikan. Suasana kelas tampak sangat hidup ketika para santri secara serentak dan antusias menjawab berbagai pertanyaan kilat dari pengajar.

Penerapan metode recall materi di penghujung sesi pembelajaran ini berfungsi sebagai sarana evaluasi berkala yang efektif untuk mengukur sejauh mana kemampuan hafalan para santri. Berdasarkan transkrip rekaman pengajian, pengajar tampak memandu jalannya sesi tanya jawab dengan mengajukan pertanyaan mendasar mengenai jumlah Aqaidul Iman dan rincian sifat wajib bagi Allah Swt. Para santri terlihat saling bersahutan memberikan jawaban yang benar, menunjukkan bahwa materi-materi tauhid tersebut telah melekat kuat dalam ingatan mereka berkat pengulangan yang konsisten.

"Aqa'idul iman, jumlahna sabaraha? Sabaraha? Lima puluh. Ari sifat anu wajib bagi Allah na sabaraha? Dua puluh," ujar ustaz saat menguji kembali pemahaman hafalan para santri sebelum menutup kelas, Minggu (01/11/2026).

Selain menguji hafalan jumlah dasar akidah, sesi recall tersebut juga dilanjutkan dengan pelafalan secara berurutan dua puluh sifat wajib bagi Allah Swt. beserta pelantunan nadhom berbahasa Sunda. Pendekatan pengajaran semacam ini tidak hanya melatih memori jangka panjang para santri, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri mereka dalam menguasai ilmu agama secara mendalam. Keaktifan para santri dalam melafalkan sifat-sifat wajib dan mustahil bagi Allah Swt. membuktikan keberhasilan metode pengulangan materi yang diterapkan secara konsisten.

"Wujud, qidam, baqa, mukhalafatul lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, wahdaniyah, ilmu, hayat, sama', bashar, kalam, qadiran, muridan, aliman, hayyan, sami'an, bashiran, mutakalliman," ucap para santri secara kompak saat melafalkan kembali materi hafalan sifat wajib, Minggu (01/11/2026).

Melalui pembiasaan merecall materi sebelum pembelajaran berakhir setiap harinya, pihak pengelola TPQ berharap para santri tidak mudah lupa dan mampu mengamalkan ilmu tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi penutup ini menjadi strategi pedagogis yang sangat solutif dalam mengatasi kejenuhan sekaligus menjaga kualitas hafalan anak-anak didik secara berkelanjutan. Diharapkan kegiatan positif ini dapat terus dipertahankan demi mencetak generasi muda Islam yang cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki fondasi akidah yang kokoh.


Reporter: Aisyah Ramdhani Pratiwi, KPI / 3B


Sifat Takabur Dikhawatirkan Buat Manusia Terjerumus Seperti Iblis

 

Dakwahpos.com, Bandung – Pengajar ceramah mengingatkan jemaah agar senantiasa menjaga keselarasan antara ucapan cinta kepada Nabi Muhammad saw. dan praktik kehidupan sehari-hari, Sabtu (31/10/2026). Ceramah keagamaan tersebut disampaikan secara langsung di masjid dan disiarkan melalui kanal YouTube BDN VBI. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjauhi sifat takabur dan ujub yang menjadi penyebab utama Iblis dikutuk Allah Swt., serta mengimbau agar tidak mudah meremehkan sesat orang lain.

Ceramah keagamaan tersebut membahas mengenai bahaya sifat sombong dan pentingnya pemahaman agama secara mendalam agar tidak mudah menyalahkan sesama muslim. Pengajar menjelaskan bahwa ketidaksesuaian antara pengakuan cinta kepada Rasulullah saw. dengan tindakan nyata merupakan bentuk ketidakserasian antara niat dan praktik.

"Antara niat jeung praktek kudu akur. Lamun cinta ka Kanjeng Nabi, lamun rindu ka Kanjeng Nabi, sok sedikit demi sedikit urang babarengan. Urang silih bejaan, ulah ngan ukur silih vonis," ujar pengajar dalam ceramahnya, Sabtu (31/10/2026).

Pengajar menerangkan bahwa jalan menuju surga terbuka bagi seluruh umat Islam, bukan hanya milik kelompok tertentu atau ulama saja. Oleh karena itu, prasangka buruk dan sikap merasa diri lebih mulia dibandingkan orang lain harus segera dihilangkan dari pikiran.

"Dosa anu timbul tina takabur mah dikhawatirkeun sieun siga iblis. Iblis pernah cicing di surga, tapi kenapa sampai dikutuk ku Allah Swt? Eta gara-gara kesombongan urang, gara-gara ujubna urang, gara-gara takaburna urang," imbuh pengajar, Sabtu (31/10/2026).

Beliau memperingatkan bahwa sifat takabur merupakan perkara yang sangat dilarang oleh Nabi Muhammad saw. Seseorang yang merasa ilmunya lebih tinggi tidak boleh menganggap remeh orang lain yang sedang menyampaikan kebaikan, karena ilmu tanpa pengamalan dan keikhlasan tidak akan menjamin keselamatan seseorang di akhirat.

"Pupus aplikasi anu aya dina otak urang bahwa urang teh leuwih hade tibatan batur. Sabab lamun dina otak masih keneh aya aplikasi bahwa urang leuwih alus tibatan batur, dikhawatirkeun sedikit demi sedikit terjerumus kana sifat takabur," ungkap pengajar, Sabtu (31/10/2026).

Pengajar juga menegaskan pentingnya menuntut ilmu (tholabul 'ilmi) secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi (muqtadhal hal wa maqam), serta memahami syariat Islam secara komprehensif. Selain itu, dakwah hendaknya disampaikan dengan pendekatan yang ramah (tawasuth) dan merangkul, sehingga kesalehan ritual senantiasa beriringan dengan kesalehan sosial dalam kehidupan sehari-hari.


Reporter: Aisyah Ramdhani Pratiwi, KPI / 3B


Hanya Dua Pengajar, Pengajian Anak di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru Kekurangan Guru

Dakwahpos.com – Bandung. Pengajian anak-anak di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru, kekurangan tenaga pengajar, Kamis (05/11/2026). Kegiatan belajar mengaji di masjid hanya memiliki dua pengajar, yaitu Ustaz Asep Anwarullah dan Ustaz Ujang.

Keterbatasan pengajar terasa ketika Ustaz Ujang berhalangan karena sakit, sehingga Ustaz Asep harus mengajar seluruh murid seorang diri. Ustaz Asep melibatkan murid yang sudah tahap Al-Quran ketika mengajar sendiri, ia mendahulukan murid yang masih tahap Iqra, lalu dilanjutkan dengan murid yang sudah Al-Quran.

“Makanya kalau yang ngajarnya Bapak sendiri. Nah, yang kecil-kecil itu dibantu ngajarin sama yang gede-gede yang sudah tua,” Ujar Ustaz Asep Anwarullah

Murid sudah tahap Al-Qur’an diminta membantu mengajar murid yang masih Iqra, agar waktu belajar tetap terkejar. Saat kedua pengajar hadir, kelas dibagi, Ustaz Ujang mengajar murid Iqra, sedangkan Ustaz Asep mengajar murid yang lebih besar.

“Di samping supaya waktunya terkejar ya. Supaya ada waktu yang buat anak kecil dan juga mau mendidik ke anak yang gede bagaimana cara ngajarin adik-adiknya gitu,” Ucap Ustazz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep menerangkan bahwa pengajian di masjid itu diikuti sekitar 50 murid, dengan jumlah kehadiran rutin sekitar 30 sampai 40 anak. Materi yang diajarkan tidak hanya membaca Al-Qur’an dengan metode Iqra 1 sampai 6, tetapi juga fikih, tauhid, dan hafalan juz 30.

“Sekarang memang tidak ada guru lain selain kami berdua, dan itu menjadi kendala,” kata Ustaz Asep Anwarullah.

Dengan jumlah murid dan materi tersebut, Ustaz Asep Anwarullah sebagai DKM Al-Barokah tetap berharap kegiatan belajar dapat berjalan dan murid tetap mendapat bimbingan dengan baik.

Reporter: Pahmi Padila Emi, KPI/3B

 

Ke Masjid-Masjid, Ustazah Ida dan Ustazah Nur Pimpin Bacaan Tawasul di Pengajian Ibu-Ibu

Dakwahpos.com – Bandung. Ustazah Ida dan Ustazah Nur pimpin bacaan tawasul dalam pengajian ibu-ibu di sejumlah masjid di sekitar tempat tinggal. Kegiatan itu dijalankan bersama ketika pengajian di masjid Al-Barokah, masjid Ar-Rahman, masjid Al-Ikhlas, dan masjid Al-Ittihad, Senin (02/11/2026).

Ustazah Nur Hidayah mengatakan bacaan tawasul itu dilantunkan sebelum tausiyah dari ustaz dimulai. Ustazah Ida sebagai pembaca tawasul rutin, sedangkan Ustazah Nur hanya menggantikan ketika ustazah Ida berhalangan hadir

“Kadang tausiahnya juga ya Ibu kalau ustaznya enggak ada, tapi ya kalau Ibu mah belajar aja,” Ucap Ustazah Nur

Ustazah Nur menyebut jumlah ibu-ibu yang bertugas biasanya bertiga atau berempat. Ibu Maman dan Ibu Euis juga turut membantu di Masjid Al-Ittihad, lalu bergiliran membaca tawasul di tiap masjid.

“Biasanya bersama Ustazah Ida,” Kata Ustazah Nur.

Ustazah Nur menyebut jadwal memimpin pembacaan tawasul di masjid-masjid sekitar, yaitu hari senin di masjid Al-Barokah, hari selasa di masjid Ar-Rahman, hari rabu di masjid Al-Ittihad dan hari sabtu di masjid Al-Ikhlas.

“Tidak ada bayaran. Saya belajar saja, supaya semangat belajar lagi,” kata Ibu Nurhidayah.

Ustazah Nur menegaskan bahwa kegiatan berkeliling itu dijalaninya tanpa bayaran dan semata-mata untuk belajar. Ibu Nur menyampaikan bahwa dirinya bertugas di masjid mana pun yang memiliki jadwal pengajian ibu-ibu. Dengan jadwal bergilir itu, Ustazah Nur bersama ibu-ibu lain menjaga agar bacaan tawasul tetap dibaca sebelum tausiyah di masjid-masjid sekitar.

Reporter: Pahmi Padila Emi, KPI/3B

 

Ustaz Asep Anwarullah: “Kematian Pasti Datang, Jadikan Pengingat untuk Beramal”

Dakwahpos.com – Bandung. Ustaz Asep Anwarullah menyampaikan ceramah tentang takdir, kematian, dan persiapan menghadapi kematian di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru, Senin (02/11/2026). Ia mengajak jamaah untuk tingkatkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pembahasan kematian sebagai pengingat.

Ustaz Asep Anwarullah membuka cceramah dengan menjelaskan dua macam takdir, yaitu takdir mu’allaq dan takdir mubram. Takdir mu’allaq adalah ketentuan Allah yang melibatkan peran manusia melalui usaha atau ikhtiar dan doa, sedangkan takdir mubram adalah ketentuan mutlak Allah yang tidak dapat diubah oleh usaha manusia, seperti kelahiran, jenis kelamin, dan kematian, termasuk waktu serta tempatnya.

“Apa pun yang menimpa kita semua, itu semuanya berada dalam takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala,” kata Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah menyampaikan bahwa usaha, termasuk mencari nafkah, merupakan perintah Allah yang bernilai ibadah dan harus disertai doa. Ia menjelaskan bahwa doa dikabulkan dalam beberapa bentuk, ada yang langsung diberikan, ada yang ditunda, dan ada yang dibalas di akhirat dengan pahala yang berlipat ganda.

“Usaha harus disertai doa, dan doa pun harus disertai usaha. Allah pasti mengabulkan doa, tetapi Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya,” ujar Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah menerangkan bahwa kematian merupakan akhir kehidupan di dunia dan awal kehidupan di alam barzah. Ia menceritakan kisah sahabat Utsman bin Affan yang menangis ketika mendengar penjelasan Nabi tentang kehidupan di alam kubur.

“Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian,” kata Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah menyebut hal pertama yang dapat dipersiapkan adalah beramal sebaik mungkin, merujuk pada Surah Al-Mulk tentang Allah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa yang terbaik amalnya.

“Amal yang terbaik itu amal yang dilaksanakan secara istikamah, yaitu rutin dan terus-menerus, walaupun jumlahnya sedikit,” kata Ustaz Asep Anwarullah.

Ustaz Asep Anwarullah memberi contoh amal istikamah, seperti sedekah rutin, puasa Senin dan Kamis, serta tadarus Al-Qur’an. Ia menyampaikan amal yang pahalanya terus mengalir setelah wafat, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh, sehingga orang tua yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak dan cucu akan terus menerima pahalanya.

Reporter: Pahmi Padila Emi, KPI/3B

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos