Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Menyulap Sampah Jadi Cuan: Startup Kreatif Ini Berhasil Bawa Produk Daur Ulang Lokal Tembus Pasar Internasional

JAKARTA, 16 Oktober 2026 — Siapa sangka limbah plastik dan kain perca yang kerap dipandang sebelah mata kini justru menjadi komoditas ekspor bernilai tinggi? Berawal dari keprihatinan terhadap penumpukan sampah di lingkungan sekitar, sebuah UMKM kreatif asal Indonesia bernama mengubah limbah menjadi produk fashion dan home decor bernilai estetika tinggi yang diminati hingga ke pasar Eropa.

Menggabungkan Estetika dan Kepedulian Lingkungan
Pendiri KreatifEco, Budi Santoso (32), mengungkapkan bahwa kunci utama dari keberhasilan produknya terletak pada desain yang modern dan standar kualitas yang ketat.
"Kami tidak hanya menjual cerita tentang lingkungan, tetapi juga kualitas dan estetika. Konsumen luar negeri sangat mengapresiasi kerapihan jahitan dan keunikan tekstur bahan yang kami olah dari limbah plastik bekas kemasan," ujar Budi saat ditemui di workshop-nya di Jakarta, Jumat 
Pemberdayaan Masyarakat Lokal
Selain berdampak pada pengurangan sampah, operasional bisnis ini juga memberdayakan puluhan ibu rumah tangga dan pemuda sekitar sebagai tenaga pemilah dan pengrajin. Dengan model bisnis inklusif ini, KreatifEco mampu meningkatkan pendapatan ekonomi warga sekitar hingga 40% dibandingkan sebelumnya.
Dukungan Tren Pasar Global
Tren green economy dan gaya hidup ramah lingkungan yang makin digandrungi generasi muda di seluruh dunia menjadi angin segar bagi UMKM sejenis. Menurut data Kementerian UMKM, permintaan pasar ekspor untuk produk kerajinan berbasis daur ulang mengalami peningkatan signifikan sebesar 25% dalam satu tahun terakhir.
Budi berharap pencapaian ini dapat menginspirasi para pelaku UMKM lokal lainnya untuk terus berinovasi dan berani menembus pasar global dengan memanfaatkan potensi di sekitar mereka.

Lampiran :

Uploaded Image

Sejarah Berdirinya Masjid Al Furqon di Kampung Ciparia Wetan


 Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al Furqon di Kampung Ciparia, Baleendah, Kabupaten Bandung, berdiri pada akhir 1990 atas dasar kebutuhan masyarakat setempat yang belum memiliki tempat ibadah. Hal itu disampaikan Bapak Tadiman Soleh, yang akrab disapa Pak Endew, saat diwawancarai Azmi Dwi Lestari di lingkungan masjid, Jumat (16/10/2026).

Menurut Pak Endew, pembangunan masjid dimulai pada November 1990 dan diresmikan sebulan kemudian, yakni Desember 1990. Masjid ini berlokasi di Ciparia Wetan. Ia menuturkan, gagasan mendirikan masjid muncul karena pada waktu itu belum ada masjid di wilayah tersebut. “Karena kebutuhan masyarakat waktu itu,” ujarnya.

Tokoh yang memprakarsai berdirinya masjid adalah Abah Maja. Proses pendiriannya diawali dengan musyawarah antara ketua RT, RW, dan Abah Maja. Hasil musyawarah itu kemudian dijalankan melalui gotong royong dan swadaya masyarakat hingga masjid berhasil berdiri.

Soal nama, Pak Endew menjelaskan bahwa nama Al Furqon tidak ditentukan sepihak. Nama tersebut ditetapkan berdasarkan kesepakatan masyarakat setempat.

Kini, setelah sekitar 36 tahun berdiri, Pak Endew berharap masjid ini terus berkembang. “Mudah-mudahan bisa lebih baik lagi, lebih maju lagi, dan lebih banyak lagi yang berjamaah di masjid ini,” tuturnya.

 

Reporter: Azmi Dwi Lestari

Narasumber: Bapak Tadiman Soleh (Pak Endew)

Lokasi Liputan: Masjid Al – Furqon Ciparia Wetan, Baleendah, Bandung

Tanggal Liputan: 16 Oktober 2026

Upaya Madrasah Al Mukminun Membina Akhlak dan Karakter Siswa di Tengah Keterbatasan




Dakwahpos.com, Bandung – Madrasah Al Mukminun di Baleendah, Kabupaten Bandung, terus berupaya membina akhlak dan karakter siswanya meski harus berjalan mandiri tanpa yayasan dan tanpa bantuan donatur. Hal itu disampaikan Ustazah Eli Yulia saat diwawancarai pada Kamis (15/10/2026).

Menurut Eli, kendala yang paling sering dihadapi dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) adalah perbedaan kemampuan antar siswa. Untuk mengatasinya, guru terlibat langsung dengan siswa, memberikan pengertian, dan mengajar lebih intensif. Dalam hal perilaku, ia menyebut sejauh ini tidak ada pelanggaran yang serius. “Kalaupun ada perilaku yang kurang baik, tidak melibatkan orang lain, kita langsung memberikan arahan kepada murid tersebut,” ujarnya.

Perbaikan pembelajaran dilakukan setelah siswa menjalani tes. Jika ada siswa yang hasilnya kurang, guru mengulas dan menerangkan kembali materi di akhir pelajaran sebelum pulang. Sumber belajar yang digunakan adalah buku kurikulum dari lembaga resmi KDT tingkat kabupaten.

Eli menilai masih adanya siswa yang sulit membaca, kurang aktif, atau berhasil belajar rendah umumnya disebabkan kurangnya lingkungan yang mendukung. Salah satunya, sebagian orang tua kurang memperjuangkan anaknya untuk mengaji. Ada pula anak yang berangkat dari rumah tetapi bolos dan tidak sampai ke madrasah. Namun, jumlahnya sangat kecil, hanya satu atau dua orang.

Dalam menanamkan karakter dan akhlak, madrasah membiasakan siswa salat ketika waktu salat tiba. Madrasah juga memiliki ekstrakurikuler praktik salat sepekan sekali yang mengajarkan gerakan dan bacaan salat secara penuh. Untuk pembinaan akhlak, setiap pelanggaran, besar maupun kecil, langsung ditindak dengan arahan kepada siswa yang bersangkutan.

Di balik upaya tersebut, Madrasah Al Mukminun masih menghadapi keterbatasan. Eli mengatakan madrasah selama ini berjalan mandiri, tidak berada di bawah yayasan, dan belum mendapat donatur. Ia berharap ada donatur yang bersedia membantu, baik untuk pengadaan alat tulis kantor (ATK) maupun kesejahteraan guru. “Harapan terbesar, kami bisa lebih berjuang lagi untuk memajukan madrasah ini,” tuturnya.

 

Reporter: Azmi Dwi Lestari

Narasumber: Ustazah Eli Yulia

Lokasi Liputan: Madrasah Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung

Tanggal Liputan: 15 Oktober 2026

 

Ustad Ade: Kajian Tafsir Al-An’am Ayat 47 – 50, Menjelaskan Siksa bagi Kaum Zalim, Tugas Para Rasul, hingga Perumpamaan Orang Buta dan Melihat


 Dakwahpos.com, Bandung – Ustad Ade mengingatkan jamaah bahwa azab Allah dapat datang kapan saja, baik secara mendadak maupun dengan tanda-tanda yang jelas. Pesan itu disampaikannya dalam pengajian di Masjid Al-Mu’minun, Baleendah, Bandung, Minggu (11/10/2026).

Dalam ceramah berbahasa Sunda tersebut, Ustad Ade mengkaji QS. Al-An’am ayat 47 sampai 50. Ayat-ayat itu dibacakan beserta terjemahannya, kemudian dijelaskan satu per satu kepada jamaah.

Menurutnya, ayat 47 memerintahkan Nabi Muhammad bertanya kepada kaum Mekah tentang kemungkinan datangnya azab Allah. Azab itu bisa datang tiba-tiba (baghtatan), misalnya saat orang sedang santai atau mengobrol, seperti longsor ketika hujan yang menimpa rumah dan penghuninya. Azab juga bisa datang terang-terangan (jahratan), yaitu dengan tanda-tanda sehingga bisa diperkirakan. Ia mencontohkan hujan angin disertai petir yang sangat berbahaya.

Ustad Ade menjelaskan bahwa yang dibinasakan hanyalah kaum zalim. Sebelum menurunkan azab di suatu daerah, kata dia, Allah lebih dahulu memisahkan orang beriman dari yang tidak beriman. Ia mencontohkan kisah Nabi Luth, yang bersama orang-orang beriman diperintahkan keluar dari daerahnya menjelang subuh dengan didampingi malaikat Jibril. Jika orang beriman ikut terkena bencana, hal itu disebut musibah dan Allah akan menggantinya dengan pahala yang besar.

Pada ayat 48 dan 49, ia menyampaikan bahwa para rasul diutus sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Orang yang beriman dan beramal saleh tidak akan merasa takut maupun bersedih. Sebaliknya, pendusta ayat-ayat Allah, yakni Al-Qur’an dan hadis, akan ditimpa azab karena kefasikannya.

Pada ayat 50, Ustad Ade menegaskan bahwa Nabi tidak pernah mengaku memiliki perbendaharaan Allah. Rezeki sepenuhnya berada dalam kehendak Allah. Nabi juga tidak mengetahui perkara gaib kecuali yang diwahyukan kepadanya, dan beliau bukan malaikat. Orang kafir diibaratkan orang buta yang tidak melihat jalan yang benar, sedangkan orang beriman diibaratkan orang yang melihat sehingga besar harapannya selamat.

Menutup ceramahnya, Ustad Ade mengajak jamaah untuk bertafakur dan merenungi ayat-ayat tersebut. Ia berharap keimanan jamaah tumbuh dari pemikiran dan kesadaran, bukan sekadar ikut-ikutan.

 

Reporter: Azmi Dwi Lestari

Lokasi Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung

Tanggal Liputan: 11 Oktober 2026

Ustaz Zaenal: Hakikat Orang Cerdas; Menaklukkan Hawa Nafsu dan Menyiapkan Bekal Setelah Kematian


Dakwahpos.com, Bandung – Orang cerdas adalah orang yang mampu menaklukkan hawa nafsunya dan menyiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Hal itu disampaikan Ustaz Zaenal dalam pengajian rutin Jumat pagi di Masjid Al-Mu’minun Baleendah, Bandung, Jumat (9/10/2026).

Dalam ceramahnya, Ustaz Zaenal mengawali dengan mengajak jamaah bersyukur atas nikmat umur, kesehatan, dan kesempatan beribadah. Menurutnya, umur panjang hanya bermakna jika dipakai untuk taat kepada Allah. Ia mengingatkan bahwa setiap tarikan napas yang tidak dimanfaatkan untuk zikir dan ibadah akan menjadi sia-sia dan dimintai pertanggungjawaban pada hari kiamat. Harta pun, kata dia, semestinya digunakan untuk berinfak di jalan Allah, menyantuni anak yatim, dan membantu sesama, bukan dihambur-hamburkan.

Ustaz Zaenal juga menegaskan bahwa hidup manusia tidak boleh berhenti pada urusan mencari nafkah, makan, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Memberi nafkah memang bagian dari ibadah, tetapi yang paling utama adalah taat kepada Allah. Jika hidup hanya untuk mencari nafkah bagi anak dan keluarga, katanya, manusia tidak berbeda dengan hewan yang juga mencari makan untuk anak-anaknya.

Pada bagian selanjutnya, ia menjelaskan hubungan antara salat, akhlak, dan adab. Ia meluruskan anggapan bahwa salat dan berjilbab itu percuma jika akhlak masih buruk. Menurutnya, orang yang berperilaku baik kepada sesama tetapi meninggalkan salat justru lebih berbahaya, karena menolak perintah Allah. Salat yang istikamah, lanjutnya, seharusnya berbuah kepribadian dan kebiasaan baik, serta membawa ketenangan. Jika setelah salat seseorang masih gemar membicarakan keburukan orang lain, salatnya perlu dikoreksi. Ia juga menyebut adab bersumber dari ilmu, sehingga orang yang tidak berilmu mudah salah dalam memahami agama.

Ustaz Zaenal menyebut sujud sebagai puncak adab karena menunjukkan kerendahan diri di hadapan Allah. Mengutip hadis, ia menyampaikan bahwa orang yang tawaduk akan diangkat derajatnya, sedangkan orang yang sombong akan direndahkan. Ia mencontohkan Firaun sebagai simbol kesombongan karena berani mengaku tuhan dan menolak dakwah Nabi Musa serta Nabi Harun. Firaun berakhir dengan kehinaan dan jasadnya diabadikan sebagai pelajaran bagi manusia. Selain sombong, Firaun juga memiliki sifat berlebihan (israf).

Terkait sifat berlebihan, penceramah mengingatkan agar jamaah tidak boros dalam hal apa pun, mulai dari uang, makanan, hingga air. Orang yang mubazir, katanya, termasuk saudara setan. Meski begitu, ia tidak menganjurkan sikap kikir. Jamaah diminta mengambil jalan tengah, yakni hidup sederhana dan bersyukur tanpa berlebihan maupun terlalu pelit.

Memasuki inti ceramah, ia menjelaskan sabda Rasulullah bahwa orang cerdas adalah orang yang mampu menaklukkan hawa nafsunya. Contohnya melawan rasa malas dan kantuk agar bisa salat Subuh tepat waktu serta tetap mengaji dan beramal di tengah kesibukan. Hawa nafsu, menurutnya, cenderung ingin terus makan, membeli pakaian, dan berbelanja. Orang yang mampu berinfak dan bersedekah adalah mereka yang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya.

Selain menaklukkan hawa nafsu, orang cerdas juga mempersiapkan amal untuk kehidupan setelah mati. Ustaz Zaenal mengingatkan agar jamaah tidak hanya sibuk mengurus tubuh, perut, dan urusan dunia, sementara salat diabaikan. Ia juga memberi pesan praktis, antara lain mendahulukan bersuci dan salat ketika bangun Subuh sebelum mengerjakan urusan lain. Ia pun menganjurkan jamaah menjaga kebersihan diri saat berkumpul serta menjaga kebersihan dan keharuman tempat salat dan sajadah agar ibadah terasa nyaman. Jika memungkinkan, jamaah dianjurkan memiliki ruang khusus untuk salat di rumah.

Pengajian ditutup dengan doa agar jamaah dimuliakan Allah, diberi nikmat untuk terus istikamah beribadah, dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Pengajian rutin Jumat pagi di Masjid Al-Mu’minun ini diharapkan dapat terus menjadi sarana jamaah untuk menambah ilmu dan memperkuat ketakwaan.

 

Reporter: Azmi Dwi Lestari

Lokasi Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung

Tanggal Liputan: 9 Oktober 2026

Ustadz Zaenal: Jelaskan Makna Muroqobah kepada Jamaah, Ajarkan Cara Rasakan Pengawasan Allah Setiap Saat


Dakwahpos.com, Bandung – Ustadz Zaenal menjelaskan makna muraqabah, yaitu kesadaran hati bahwa Allah senantiasa mengawasi hamba-Nya, dalam pengajian rutin di Masjid Al-Mu'minun, Baleendah, Kabupaten Bandung, Sabtu (19/9/2026). Di hadapan jamaah, ia juga mengajarkan cara menumbuhkan perasaan diawasi Allah dalam setiap gerak dan diam.

Dalam ceramahnya, Ustadz Zaenal melanjutkan materi pekan sebelumnya tentang kewajiban. Ia menerangkan bahwa sebagian kewajiban dikerjakan oleh anggota badan, sedangkan sebagian lainnya dikerjakan oleh hati. Karena hati bersifat batiniah dan tidak terlihat mata, kewajiban ini kerap luput dari perhatian. Menurutnya, urusan lahir dan batin sama-sama harus diurus, dan keduanya memiliki ilmunya masing-masing.

Salah satu kewajiban hati yang ia bahas adalah muraqabah. Secara bahasa, muraqabah berarti terus-menerus memperhatikan sesuatu yang dituju. Secara istilah dalam ilmu tasawuf, muraqabah adalah terus-menerus memandang Allah dengan mata hati. "Terus-menerus" berarti tidak putus, baik saat bergerak, diam, memandang, maupun ketika pikiran melintas di kepala. Untuk memudahkan, ia mencontohkan hati yang selalu tertuju pada sesuatu yang membuat seseorang terkesan tanpa henti. Arah hati seperti itulah yang seharusnya tertuju kepada Allah.

Ia menegaskan bahwa muraqabah dilakukan dengan mata hati, bukan mata kepala. Mata kepala digunakan untuk melihat ciptaan Allah, seperti langit, gunung, bumi, dan hujan. Dari situ, hati diajak menyadari kekuasaan Sang Pencipta. Saat hujan turun, misalnya, seorang yang bermuraqabah langsung sadar bahwa hujan hanya turun atas kehendak Allah. Manusia hanya bisa berdoa dan berusaha, tetapi tidak mampu menurunkan atau menahan hujan yang sesungguhnya.

Menurut Ustadz Zaenal, kemampuan bermuraqabah bergantung pada makrifatullah, yaitu mengenal Allah. Pengenalan itu mencakup sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya, janji-Nya berupa pahala, dan ancaman-Nya berupa siksa. Karena itu ia menekankan pentingnya belajar ilmu tauhid dan akidah. Ia mengibaratkannya dengan upaya mengingat kematian. Orang yang hatinya masih tertambat pada dunia sulit mengingat mati, sedangkan orang yang terus mengaji dan mendalami ilmu akhirat akan lebih mudah mengingatnya.

Ia juga mengingatkan agar rajin mengaji dan beribadah tidak membuat seseorang merasa aman dan lalai. Rasa takut setelah berbuat dosa, katanya, adalah tanda iman masih hidup.

Ustadz Zaenal menyebut muraqabah membuahkan dua hal. Pertama, husnul adab atau akhlak yang baik, terutama adab kepada Allah. Orang yang yakin selalu diawasi Allah tidak berani berbohong, bersumpah palsu, atau bermain-main dengan dosa. Baginya, meninggalkan salat termasuk pelanggaran adab yang besar kepada Allah. Kedua, keselamatan dari beratnya hisab pada hari kiamat, karena hati orang yang bermuraqabah tidak lagi terikat pada urusan dunia.

Dalam kesempatan itu ia turut mengingatkan jamaah yang telah rutin salat dan mengaji agar tidak merendahkan orang lain yang belum melaksanakannya. Menurutnya, mereka perlu memperbaiki akhlak di rumah dan kepada tetangga serta menasihati dengan sabar. Ia juga menolak ungkapan "percuma salat". Salat yang didirikan dengan benar seharusnya membawa perubahan positif, seperti hati yang tenang dan akhlak yang baik. Bila belum terasa, jalan keluarnya adalah menambah ilmu agar kualitas salat meningkat.

Sebagai dasar kewajiban muraqabah, ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa Allah Maha Mengawasi segala sesuatu. Ia juga mengutip hadis Jibril tentang ihsan, yakni beribadah seolah-olah melihat Allah. Jika belum mampu merasa melihat-Nya, seseorang harus yakin bahwa Allah melihatnya. Menurutnya, inilah inti muraqabah.

Pengajian ditutup dengan pesan agar jamaah menjaga kesadaran itu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ibadah dan akhlak terus meningkat hingga akhir hayat dalam keadaan iman, Islam, dan ihsan.

 

Reporter: Azmi Dwi Lestari

Lokasi Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung

Tanggal Liputan: 19 September 2026

 

Ustaz Zaenal: Mengajak Untuk Menuntut Ilmu Sebagai Jalan Keselamatan

 

Dakwahpos.com, Bandung - Kegiatan kajian rutin di Masjid Al – Mu’minun, Bandung, pada Sabtu, 12 September 2026 membahas pentingnya menuntut ilmu dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ceramahnya, Ustaz Zaenal menyampaikan bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu jalan menuju keselamatan, kebaikan, dan kemuliaan di dunia maupun akhirat.

Kajian tersebut diikuti oleh jamaah Masjid Al – Mu’minun dan berlangsung pada pukul 20.00 – 22.00 WIB. Dalam penyampaiannya, Ustaz Zaenal menekankan bahwa kegiatan keagamaan dan mencari ilmu tidak seharusnya dianggap sebagai kegiatan biasa. Menurutnya, menghadiri kegiatan keagamaan dan mendengarkan arahan yang bersumber dari Al-Qur'an, hadis, serta penjelasan para ulama merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Ustaz menjelaskan bahwa menuntut ilmu merupakan jalan untuk mencapai kebaikan dunia dan akhirat. Ilmu juga disebut sebagai jalan menuju keselamatan, kesejahteraan, kemuliaan, keberkahan, dan ketenangan. Karena itu, umat Islam didorong untuk terus meningkatkan pengetahuan agama dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan.

Selain membahas pentingnya ilmu, khutbah juga menyoroti hubungan antara ilmu dengan pelaksanaan ibadah. Dalam materi yang disampaikan, ibadah tidak cukup hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi perlu disertai pemahaman dan penghayatan agar memberikan pengaruh terhadap kehidupan seseorang.

Ustaz Zaenal juga mengingatkan jamaah agar tidak memandang agama hanya sebagai identitas. Menurutnya, keberagamaan perlu diwujudkan melalui perilaku dan amal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ibadah yang dilakukan diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi mampu memberikan kekuatan dan perubahan dalam kehidupan.

Dalam ceramahnya, Ustaz Zaenal menyampaikan, "Hadir ke masjid ilmu itu apa manfaatnya, kgunaan nya dan manfaatnya, bahwa hadir ke majlis ilmu itu di anggap sebagai kebiasaan yg biasa-biasa aja. Bahwa hadir ke masjlis ilmu itu bukan hal yg biasa, atau hadir ke majlis ilmu itu adalah pekerjaan, amal ibadah yg luar biasa itu harus dijadikan prinsip dalam hidup kita jalan untuk menumpuh kepada kebaikan jalan nya itu dengan cara tolabul ilmi, itu untuk kesuksesan dunia akhirat, hadir ke majlis ilmu iu jalan keselamatan, selamat dunia dan akhirat, apa yg terjadi kepada kita di dunia itu akan menjadi pintu keselamatan jika kita tolabul ilmi."

Melalui ceramah tersebut, jamaah diajak untuk meningkatkan perhatian terhadap ilmu agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang disampaikan menekankan bahwa ilmu, ibadah, dan pengamalan ajaran agama perlu berjalan bersama agar memberikan manfaat bagi kehidupan di dunia maupun sebagai bekal di akhirat.

 

Reporter: Azmi Dwi Lestari

Lokasi Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung

Tanggal Liputan: 12 September 2026

 

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos