Headline
Memuat berita terbaru...
Memuat berita pilihan...

Masjid

Indeks →
Memuat Masjid...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Opini

Indeks →
Memuat Opini...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sosok

Indeks →
Memuat Sosok...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Pendidikan

Indeks →
Memuat Pendidikan...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Sastra

Indeks →
Memuat Sastra...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Ekonomi

Indeks →
Memuat Ekonomi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Wisata

Indeks →
Memuat Wisata...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Resensi

Indeks →
Memuat Resensi...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Info Lomba

Indeks →
Memuat Info Lomba...

Unggulan

Memuat unggulan...

Terbaru

Memuat terbaru...

Terkini

Indeks →
Memuat kiriman terkini...

Terkini

Memuat kiriman terkini...

Terkini Lanjutan

Memuat kiriman terkini...

Indeks Semua Kiriman Terkini Tanpa Label

Memuat indeks kiriman...

Inilah Sosok di Balik Pembangunan Area Baru Masjid Ar-Rahman Arcamanik

Dakwahpos.com, Bandung - Ketua DKM Masjid Ar-Rahman, Arcamanik, Bapak Widyo Isworo, pada wawancara yang dilakukan pada Kamis (22/10/2026), menjelaskan siapa saja yang bergerak dalam pembangunan area terbaru dari Masjid Ar-Rahman, Arcamanik, Bandung.

Ia menjelaskan, orang yang melatar belakangi dari pembangunan area yang baru dari Masjid Ar-Rahman ini adalah Ketua DKM terdahulu, yakni Bapak Haji Aswad. Yang dimana, sebagaimana yang diceritakan oleh Bapak Widyo, ia mengadakan rapat bersama para warga sekitar RW 09, perihal apakah perlu memperbaiki masjid yang lama atau membangun area masjid yang baru. Dan pada akhirnya, terpilih opsi kedua pada 2018, dan langsung membentuk kepanitiaan pembangunan masjid yang baru tersebut.

Bapak Widyo pun menuturkan, bahwa yang bergerak dalam kepanitiaan pembangunan Masjid Ar-Rahman yang baru ini diantaranya ada Alm. Dr. Mumun Syaban, seorang dosen di Universitas Langlang Buana yang menjadi ketua panitia pembangunannya, dan memanfaatkan jejaring rekan dosennya itu untuk membuat desain awal dari masjid tersebut.

“Beliau memanfaatkan jaringan rekan dosennya untuk membuat desain awal masjid”, tuturnya.

Berikutnya, desain tersebut disempurnakan oleh warga setempat sekitar Masjid Ar-Rahman. Lalu, ada Bapak Rudi dan Bapak Made, yang berinisiatif untuk memposisikan Masjid di area tengah lahan. Selain itu, Bapak Made juga yang menggaet sponsor dari temannya yang berasal dari Yaman, untuk menyumbang rangka besi bangunan. Lalu ada Bapak Anis yang bertugas untuk mewujudkan desain dan juga sebagai pengawas pelaksanaan pembangunan Masjid, serta Bapak Amir, yang dikatakan oleh Bapak Widyo sebagai mantan pegawai Pekerjaan Umum, yang mengawasi pengerjaan teknik sipilnya.

Namun, pembangunan area baru ini tidak selamanya berjalan dengan mulus. Salah satu kendalanya adalah dari lahan Masjid Ar-Rahman ini, yang merupakan fasilitas umum dari yang awalnya adalah sebuah gudang developer perumahan. Ia menjelaskan, bahwa dalam surat keterangan dari developernya disebutkan, bahwa ‘fasilitas umum diserahkan kepada warga sebagai tempat ibadah yang berlokasi di Jalan Purbamanik’.

“Namun, ketika dicek ke Pemerintah Kota (Pemkot), ternyata developer belum melaporkannya, sehingga status fasum ini menjadi aset Pemkot Bandung, sementara bangunan di atasnya dibangun oleh warga. Kami kemudian mengajukan agar lahan ini tetap dijadikan masjid, dan pemerintah menyetujuinya”, ujar Pak Widyo.

Pembangunannya sendiri berlangsung dari 2018 hingga rampung pada tahun 2023. Selama itu juga, berbagai dinamika muncul selama proses pembangunan berlangsung. Dari pandemi Covid-19 hingga belum terkumpulnya dana dari warga, yang menjadi sebab mundurnya rampungnya pembangunan area baru masjid Ar-Rahman.

“Awalnya direncanakan selesai dalam 3 sampai 5 tahun, atau seharusnya selesai pada tahun 2023. Namun terjadi kemunduran karena pandemi Covid-19 dan dana dari warga tidak bisa terkumpul sekaligus. Rencana anggarannya hampir mencapai Rp 4 miliar. Saat ini, dana yang sudah berhasil terkumpul mendekati angka Rp 3 miliar”, tuturnya.

Meski begitu, antusiasme dari warga juga turut membantu dalam pembangunan masjid baru ini. Dari bermusyawarah dalam menentukan bentuk desain dari masjid terbaru, membantu menyumbangkan perangkat sholat, dan lain sebagainya.

“Semua pihak, baik pengurus maupun warga muslim di RW 09, merasa terlibat dan memiliki masjid ini bersama-sama. Kami memosisikan diri sebagai penyalur kebaikan yang menawarkan peluang amal jariah. Dengan niat amal jariah, banyak warga yang akhirnya berinisiatif sendiri, misalnya patungan untuk membeli karpet dan kebutuhan lainnya”, ungkapnya.

Reporter : Muhammad Habil Apri Gholi, KPI 3/D

Uploaded Image

Inilah Sosok-Sosok di Balik Area Baru Masjid Ar-Rahman Arcamanik

Dakwahpos.com, Bandung - Ketua DKM Masjid Ar-Rahman, Arcamanik, Bapak Widyo Isworo, pada wawancara yang dilakukan pada Kamis (22/10/2026), menjelaskan siapa saja yang bergerak dalam pembangunan area terbaru dari Masjid Ar-Rahman, Arcamanik, Bandung.

Ia menjelaskan, orang yang melatar belakangi dari pembangunan area yang baru dari Masjid Ar-Rahman ini adalah Ketua DKM terdahulu, yakni Bapak Haji Aswad. Yang dimana, sebagaimana yang diceritakan oleh Bapak Widyo, ia mengadakan rapat bersama para warga sekitar RW 09, perihal apakah perlu memperbaiki masjid yang lama atau membangun area masjid yang baru. Dan pada akhirnya, terpilih opsi kedua pada 2018, dan langsung membentuk kepanitiaan pembangunan masjid yang baru tersebut.

Bapak Widyo pun menuturkan, bahwa yang bergerak dalam kepanitiaan pembangunan Masjid Ar-Rahman yang baru ini diantaranya ada Alm. Dr. Mumun Syaban, seorang dosen di Universitas Langlang Buana yang menjadi ketua panitia pembangunannya, dan memanfaatkan jejaring rekan dosennya itu untuk membuat desain awal dari masjid tersebut.

“Beliau memanfaatkan jaringan rekan dosennya untuk membuat desain awal masjid”, tuturnya.

Berikutnya, desain tersebut disempurnakan oleh warga setempat sekitar Masjid Ar-Rahman. Lalu, ada Bapak Rudi dan Bapak Made, yang berinisiatif untuk memposisikan Masjid di area tengah lahan. Selain itu, Bapak Made juga yang menggaet sponsor dari temannya yang berasal dari Yaman, untuk menyumbang rangka besi bangunan. Lalu ada Bapak Anis yang bertugas untuk mewujudkan desain dan juga sebagai pengawas pelaksanaan pembangunan Masjid, serta Bapak Amir, yang dikatakan oleh Bapak Widyo sebagai mantan pegawai Pekerjaan Umum, yang mengawasi pengerjaan teknik sipilnya.

Namun, pembangunan area baru ini tidak selamanya berjalan dengan mulus. Salah satu kendalanya adalah dari lahan Masjid Ar-Rahman ini, yang merupakan fasilitas umum dari yang awalnya adalah sebuah gudang developer perumahan. Ia menjelaskan, bahwa dalam surat keterangan dari developernya disebutkan, bahwa ‘fasilitas umum diserahkan kepada warga sebagai tempat ibadah yang berlokasi di Jalan Purbamanik’.

“Namun, ketika dicek ke Pemerintah Kota (Pemkot), ternyata developer belum melaporkannya, sehingga status fasum ini menjadi aset Pemkot Bandung, sementara bangunan di atasnya dibangun oleh warga. Kami kemudian mengajukan agar lahan ini tetap dijadikan masjid, dan pemerintah menyetujuinya”, ujar Pak Widyo.


Uploaded Image

Ustaz Mega Nanda Ingatkan Jamaah Jaga Akhlak dan Waspadai Perilaku Tabarruj

Dakwahpos.com, Bandung — Ustaz Mega Nanda mengingatkan para wanita muslimah agar mewaspadai perilaku tabarruj atau berhias berlebihan serta kebiasaan memamerkan diri di media sosial. Tindakan yang kini kerap dianggap lumrah itu dinilai berpotensi mengalirkan dosa yang terus tercatat meski pelakunya telah tutup usia. Pesan itu disampaikan di hadapan Ratusan jamaah wanita yang memadati Masjid Al Murabbi, Senin (26/10/2026)

Ustaz Mega Nanda menjelaskan bahwa secara bahasa tabarruj berasal dari kata yang menggambarkan menara atau bangunan tinggi. Dalam konteks perilaku sehari-hari, istilah ini merujuk pada dorongan seseorang untuk menonjolkan kecantikan maupun perhiasan secara berlebihan demi meraih perhatian dan validasi publik.

Dalam ceramahnya, beliau menyoroti bahaya kebiasaan tersebut yang sering tidak disadari oleh masyarakat. "Ada satu dosa jariah yang zaman sekarang sudah dinormalisasi, pelakunya tidak sempat bertobat," ujar Ustaz Mega Nanda di hadapan para jamaah.

Menurut beliau, kebiasaan mengunggah foto diri secara terus-menerus ke media sosial tanpa dorongan kebutuhan syar'i dapat memicu dampak buruk. Hal itu berpotensi memancing pandangan yang tidak terjaga dari lawan jenis yang bukan mahram, sehingga dampaknya terus bertumpuk menjadi beban dosa.

Selain memaparkan persoalan tabarruj, pengajian juga diwarnai sesi diskusi interaktif mengenai pola pengasuhan anak perempuan di era Gen Z serta upaya menjaga keharmonisan rumah tangga.

Ustaz Mega Nanda menegaskan bahwa orang tua memegang peran kunci sebagai teladan utama di rumah. Beliau menekankan pentingnya memberi makanan dan nafkah yang halal serta thayyib (baik) bagi keluarga. "Maka dari makanan yang halal dan baik hartanya berasal dari harta yang aku akan keluar sifat yang baik dari anak kita," jelas Ustaz Mega Nanda mengenai pentingnya sumber nafkah keluarga.

Acara kajian keagamaan tersebut kemudian ditutup dengan pembacaan doa bersama serta harapan agar jamaah dapat konsisten mengamalkan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari-hari.

 

Reporter: M Hari Novandra, KPI 3/A

 

Ustaz Gungun Ajak Jamaah Berlomba dalam Kebaikan dan Perbaiki Akhlak

Dakwahpos.com, Bandung — Umat Islam diingatkan untuk terus berusaha menjadi hamba terbaik di sisi Allah Ta'ala dengan mengedepankan urusan akhirat di atas kepentingan duniawi. Hal tersebut disampaikan oleh Gungun Syihabudin dalam sebuah kajian keagamaan di masjid Al-Murabbi.Minggu (25/10/2026)

Dalam kajiannya, beliau menegaskan pentingnya prinsip berlomba-lomba dalam ibadah ritual tanpa harus saling mengalah. "Dalam urusan akhirat enggak boleh mengalah. Ya, makanya ada kaidah Al-Isar fil ibadah maqlub," tegas Gungun Syihabudin.

Al-Qur'an secara jelas menggunakan istilah kompetisi untuk urusan akhirat, seperti perintah sabiqu (berlomba-lomba) dalam Surah Al-Hadid ayat 21 dan wa sari'u (bersegeralah) pada Surah Ali Imran ayat 133. Penerapan nyata dari prinsip ini dapat dimulai dari hal sederhana, seperti bergegas mengisi saf shalat paling depan hingga menyegerakan berwakaf.

Selain keberanian beribadah, terdapat dua kriteria utama manusia terbaik yang patut dikejar oleh setiap muslim:

 Interaksi Intensif dengan Al-Qur'an: Orang yang telaten mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an berada dalam jalur perniagaan yang tidak akan pernah rugi (tijaratan lan tabur).

 Menjaga Akhlak dalam Bermasyarakat: Akhlak lahir dari pemahaman agama yang benar dan tercermin pada kepedulian sosial di kehidupan sehari-hari.

Gungun Syihabudin juga menyoroti fenomena sosial di jalan raya sebagai contoh penerapan akhlak di kehidupan nyata. Beliau menyinggung kebiasaan berkendara masyarakat dengan menyampaikan, "Kenapa begitu sulit kita ngasih bantu kepada orang lain. Begitu sulitnya kita memudahkan orang lain."

Segala bentuk perhiasan dunia seperti harta dan keturunan hendaknya tidak membuat umat Islam lalai, melainkan dimanfaatkan sepenuhnya sebagai sarana beribadah untuk meraih ampunan dan ridha Allah Ta'ala.

Reporter: M Hari Novandra, KPI 3/A

 

Berawal dari Mushola Sederhana, Yayasan Hidayah Baitul Kamal Kembangkan Pendidikan dan Dakwah di Desa Kulur


Dakwahpos, Majalengka- Selasa (20/10/2026), sore. Yayasan Majelis Ta'lim Hidayah Baitul Kamal di Desa Kulur, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka, tumbuh dari sebuah musala sederhana yang dibangun pada tahun 2004. Berawal dari kegiatan pengajian rutin, lembaga ini terus berkembang dengan menghadirkan kegiatan pendidikan Islam, majelis dzikir, hingga pengajian keliling dari rumah ke rumah untuk memperluas jangkauan dakwah di tengah masyarakat.

Pendirian musala tersebut bermula ketika pengelola membeli sebidang tanah seluas kurang lebih 2.300 meter persegi pada tahun 2004. Pembangunan musala menjadi langkah awal sebelum mengembangkan sarana pendidikan bagi masyarakat sekitar. Pada masa itu, pengajian rutin dilaksanakan setiap malam Kamis. Kegiatan tersebut kemudian berkembang menjadi ruang pertemuan dan pembelajaran agama bagi warga Desa Kulur.

Selain membangun musala, pengelola juga membangun tempat tinggal untuk menunjang aktivitas sehari-hari. Pada tahun 2005, pembangunan tersebut mulai memberikan kemudahan bagi keberlangsungan kegiatan keagamaan. Pengelola kemudian berupaya memperkuat kelembagaan agar kegiatan yang telah berjalan dapat berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Upaya tersebut berlanjut pada tahun 2009 melalui lembaga pendaftaran menjadi Yayasan Majelis Ta'lim Hidayah Baitul Kamal. Seiring perkembangannya, yayasan tidak hanya fokus pada pengajian, tetapi juga menghadirkan sarana pendidikan, di antaranya Raudhatul Athfal (RA) atau pendidikan setingkat taman kanak-kanak pada pagi hari serta Madrasah Diniyah (MD) pada sore hari.

Kegiatan keagamaan juga menjadi bagian penting dari kegiatan yayasan. Pengajian ibu-ibu dilaksanakan setiap Kamis, sedangkan malam Kamis diisi dengan majelis dzikir, istighasah, dan kajian kitab. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, yayasan berupaya menjaga kesinambungan pembelajaran agama sekaligus membangun kebersamaan di lingkungan masyarakat.

Salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari yayasan dakwah perkembangan adalah pengajian keliling dari rumah ke rumah. Kegiatan ini dilakukan dengan membentuk kelompok jamaah yang tersebar di sejumlah wilayah. Menurut keterangan pengelola, jumlah kelompok tersebut kini mencapai sekitar 52 rumah atau anggota, tidak hanya berasal dari Desa Kulur, tetapi juga dari luar desa.

Pengajian keliling tersebut dilaksanakan secara rutin setiap malam Sabtu, dengan pertemuan dua kali dalam sebulan. Selain menjadi sarana silaturahmi, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada jamaah untuk mengikuti pembelajaran agama secara lebih dekat dengan lingkungan tempat tinggal mereka.

Dalam kajian kitab, jamaah mempelajari sejumlah materi keislaman, termasuk kitab Safinah dan kitab-kitab lainnya. Pengelola Menyebutkan bahwa pembelajaran terus dikembangkan agar jamaah dapat memperdalam pemahaman agama secara bertahap. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya yayasan dalam mempertahankan tradisi pengajian sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat.

Perjalanan dakwah di Desa Kulur tidak terlepas dari tantangan sosial dan budaya. Pengelola mengingat kembali kondisi masyarakat pada masa awal berdirinya mushola, ketika sebagian warga masih memiliki kepercayaan terhadap hal-hal mistik, termasuk praktik yang berkaitan dengan dukun dan santet. Namun kondisi tersebut tidak dipandang semata-mata sebagai tantangan, melainkan sebagai pengalaman yang memberikan pelajaran dan motivasi untuk terus mengembangkan dakwah.

Bagi pengelola, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa penyebaran agama memerlukan proses, ketekunan, dan pendekatan yang sesuai dengan keadaan masyarakat. Perkembangan yayasan hingga saat ini juga tidak terlepas dari pertolongan Allah SWT serta dukungan masyarakat yang menerima keberadaan kegiatan pendidikan dan keagamaan di lingkungan mereka.

Melalui perjalanan yang dimulai dari mushola sederhana, Yayasan Majelis Ta'lim Hidayah Baitul Kamal terus mengembangkan pendidikan Islam dan memperluas kegiatan dakwah. Pengelola berharap yayasan dapat terus bertumbuh, menjaga keberlangsungan pengajian, serta memberikan kontribusi bagi peningkatan pemahaman agama Islam di Desa Kulur dan wilayah sekitarnya.

Wartawan : Najma Nur Fajriyah Kamal/KPI3C

Telusuri Sejarah Masjid Jami' Raudhatul Muttaqin, Jadi Pusat Ibadah dan Kegiatan Keagamaan Warga


Dakwahpos.com, Bandung Masjid Jami' Raudhatul Muttaqin di Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, berdiri atas keinginan masyarakat untuk memiliki tempat ibadah di tengah kawasan organisasi. Sejak mulai dibangun pada tahun 2006, masjid ini terus berkembang menjadi pusat ibadah dan kegiatan keagamaan bagi sekitar masyarakat.

Pembangunan masjid berawal dari keinginan warga untuk memiliki tempat ibadah yang mudah dijangkau. Pemerintah Daerah Jawa Barat kemudian memberikan lahan untuk pembangunan masjid sekitar tahun 2005 - 2006. Pak Asep dipercaya sebagai ketua panitia pembangunan untuk mengoordinasikan proses pengerjaan masjid.

Pembangunan berlangsung secara bertahap hingga tahun 2007. Pada tahap awal, bangunan masjid masih sederhana. Lantainya masih berupa semen dan belum dipasang keramik. Meski belum selesai sepenuhnya, masjid sudah digunakan untuk salat lima waktu dan kegiatan keagamaan lainnya. Setelah pembangunan tuntas, termasuk pemasangan keramik lantai dan pengecatan tembok, masjid mulai digunakan untuk salat Jumat.

Setelah masjid berdiri dan aktif digunakan, Pak Asep terpilih sebagai ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) pertama pada tahun 2007. Kepemimpinannya berlangsung hampir 20 tahun. Pada tahun 2026, kepengurusan DKM berganti melalui musyawarah dan pemungutan suara. Pak Mastur Zaeni terpilih sebagai ketua DKM untuk masa bakti 2026 - 2029.

Seiring berjalannya waktu, berbagai kegiatan keagamaan tumbuh dan terus berlangsung. Kegiatan tersebut meliputi pengajian anak-anak setelah Magrib, pengajian rutin bapak-bapak setiap malam Sabtu, serta pengajian ibu-ibu yang awalnya berlangsung setiap Rabu siang sekitar pukul 13.00 hingga Asar dan pada akhirnya berangkat ke hari Sabtu. Selain itu, warga juga rutin membaca Surah Yasin setiap malam Jumat hingga selesai.

Keberadaan Masjid Jami' Raudhatul Muttaqin tidak hanya menjadi tempat melaksanakan shalat, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi, meningkatkan pengetahuan agama, dan menjaga kebersamaan masyarakat. Berbagai kegiatan yang berlangsung hingga kini menjadi bagian penting dari perjalanan masjid dalam mendukung kehidupan keagamaan warga Cibiru Wetan.

Wartawan: Muhammad Salman Syihabuddin Masrur Zenuddin

Kajian Masjid Arrohmah Bahas Rezeki dan Pengorbanan di Jalan Allah

Dakwahpos.com, Bandung — Kajian keislaman di Masjid Arrohmah, Jati, pada Sabtu, (17/10/2026) membahas tentang hakikat rezeki, ketetapan Allah Swt., serta pentingnya mengorbankan harta dan tenaga untuk meraih rida-Nya. Materi kajian tersebut juga mengangkat kisah sahabat Nabi Muhammad saw., Suhaib Ar-Rumi, sebagai teladan keimanan dan pengorbanan. 

Dalam ceramahnya, Ustaz Firman menjelaskan bahwa manusia sering kali menganggap rezeki yang diperoleh merupakan hasil dari kepintaran, pekerjaan, dan usaha pribadi. Padahal, seluruh rezeki pada hakikatnya berada dalam kekuasaan Allah Swt. 

Oleh karena itu, manusia perlu menyadari bahwa usaha harus disertai rasa syukur dan keyakinan kepada Allah. Ustaz Firman juga mengingatkan bahwa setiap manusia menjalani kehidupan dengan berbagai kesulitan dan perjuangan. 

Karena itu, manusia hendaknya tidak hanya berfokus pada banyak atau sedikitnya rezeki yang diperoleh, tetapi juga memperhatikan bagaimana rezeki tersebut digunakan sesuai dengan ajaran Islam. “Rezeki yang kita dapatkan bukan semata-mata karena kepintaran dan usaha kita, tetapi juga atas kuasa Allah Swt.,” ujar Ustaz Firman dalam kajiannya.

 Selain membahas rezeki, kajian tersebut mengangkat pada kisah Suhaib Ar-Rumi, seorang sahabat Nabi Muhammad saw. yang dikenal melalui pengorbanannya demi mempertahankan keimanan. Dalam materi yang disampaikan, diceritakan bahwa Suhaib rela meninggalkan hartanya agar dapat berhijrah ke Madinah dan menyusul Rasulullah saw. 

Kisah tersebut dikaitkan dengan kandungan Surah Al-Baqarah ayat 207 yang menjelaskan tentang orang yang mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah Swt. Melalui kisah ini, jamaah diajak memahami bahwa harta bukanlah tujuan utama kehidupan, melainkan amanah yang dapat digunakan untuk melakukan kebaikan. 

Ustaz Firman juga menekankan bahwa pengorbanan di jalan Allah tidak selalu berbentuk materi. Tenaga dan waktu pun dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang bermanfaat, seperti membantu membersihkan masjid, menyantuni anak yatim, serta mendukung kegiatan keagamaan di lingkungan masyarakat. 

Selain itu, jamaah diingatkan untuk memperbanyak zikir, meningkatkan ibadah, dan membiasakan diri bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Allah Swt. Amalan tersebut diharapkan dapat memperkuat keimanan sekaligus mendorong umat Islam agar lebih peduli terhadap sesama. 

Melalui kajian ini, jamaah diharapkan mampu memahami bahwa rezeki merupakan amanah dari Allah Swt. yang perlu disyukuri dan dimanfaatkan untuk kebaikan. 

Kisah Suhaib Ar-Rumi juga menjadi pengingat bahwa keteguhan iman dan kesediaan berkorban demi mencari rida Allah merupakan nilai penting yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 Reporter: Arsya Nurulhijjah, KPI/3A



 

Masjid

Masjid

Opini

Opini

Sosok

Sosok

Pendidikan

Pendidikan

Ekonomi

Ekonomi

Sastra

Sastra

Wisata

Wisata

Resensi

Resensi
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos