Khutbah Jumat Masjid Al-Ikhlas Cipadung: Pentingnya Membaca Al-Qur'an untuk Ketenangan Jiwa
Ustaz Soleh Kurnia Ajak Jemaah Maknai Surah Al-Fatihah dan Terapkan Syukur
Dalam ceramahnya, Ustaz Soleh Kurnia, S.Si. menjelaskan keutamaan surah Al-Fatihah yang dikenal sebagai Ummul Qur'an dan gerbang kebahagiaan hidup di dunia maupun akhirat. Ia menekankan bahwa Al-Fatihah memiliki kedudukan yang sangat mulia serta dapat menjadi obat (asy-syifa) bagi orang yang membacanya dengan penuh keimanan dan keyakinan.
"Al-Fatihah itu sebagai gerbang agar hidup kita sa'idun fiddunya wa sa'idun fil akhirah, bahagia di dunia dan bahagia di akhirat," ujar Ustaz Soleh Kurnia.
Selanjutnya, ia memaparkan pentingnya mengawali setiap aktivitas kebaikan dengan bacaan basmalah agar senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah Swt. Menurutnya, setiap kemudahan dan kesehatan yang dirasakan saat ini merupakan bentuk kasih sayang Allah (Ar-Rahman) yang wajib disyukuri tanpa dibanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain.
"Setiap kebaikan tanpa diawali dengan bismillahirrahmanirrahim, maka terputus atau hilang keberkahannya," tegas Ustaz Soleh Kurnia di hadapan para jemaah.
Sebagai penutup, Ustaz Soleh Kurnia mengajak jemaah untuk senantiasa meluruskan niat dalam beribadah (iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin) serta menjaga seluruh anggota badan dari perbuatan maksiat. Hal ini bertujuan agar jemaah senantiasa ingat bahwa sekecil apa pun amal kebaikan maupun keburukan yang dilakukan kelak pasti akan mendapatkan pembalasan dari Allah Swt.
Reporter: Ika Syaufika, KPI/3D

Ustaz Gungun Gunawan Paparkan Gabungan Antara Ilmu Dzohir dan Bathin

Ustaz Gungun Gunawan Jelaskan Pentingnya Kombinasi Ilmu Dzohir dan Bathin
Khutbah Jumat Masjid Ar-Rahmah Cijerah: Ajak Jamaah Tingkatkan Keimanan dan Ketakwaan
Walaupun tema yang dibawakan oleh para khatib dalam khutbah jumat berbeda-beda namun memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah Swt. agar mendapatkan ridhonya dengan cara mendengarkan nasihat-nasihat yang di sampaikan terkumpulnya semua amal-amal shaleh agar mendapatkan syurganya Allah Swt.
Beliau menyampaikan bahwasannya sangatlah penting bagi kita untuk selalu menjaga keimanan kita dan ketakwaan kita dan berusaha untuk menjauhkan atas apa-apa yang dilarang oleh Allah Swt. Karena sesungguhnya apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. didalamnya ada sebuah kemaslahatan dan manfaat bagi kita semua.
Maka dari pada itu, marilah kita bersama-sama selalu meningkatkan keimanan dan ketakuan kita kepada Allah Swt. taqwa sebagaimana yang diajarkan oleh Ali bin Abi Talib R.A.Yang disebut dengan taqwa adalah takut kepada Allah yang maha agung. Kemudian mengamalkan atas apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. serta rido atas apa yang diberikan oleh Allah Swt.
Dapat di ambil kesimpulan bahwasannya iman dan takwa adalah dua hal yang saling tekait.Iman yang kuat akan menghasilkan takwa yang tinggi, dan takwa yang tinggi akan memperkokoh iman. Oleh karna itu,kita harus selalu berusaha untuk memperbaiki kedua aspek ini dalam hidup kita.
Reporter : Nirwan Abdul Aziz, KPI/3D
Ustaz Aep Fahrudin: Berniaga dengan Allah, Perniagaan yang Tak Pernah Merugi
Menurut Ustaz Aep, sebagian orang merasa cukup dengan amal seadanya untuk akhirat, padahal orientasi seperti itu justru menunjukkan dunia masih lebih dominan dibanding harapan pada keuntungan akhirat.
Ia membandingkan usaha manusia dengan perniagaan bersama Allah. Dalam perdagangan duniawi, seseorang bisa untung, rugi, bahkan tidak memperoleh apa pun.
“Padahal apapun usaha yang kita lakukan hari ini masih ada dua kemungkinan, antara mereka yang mendapatkan keuntungan dari perniagaannya, atau mungkin ada yang mendapatkan kerugian bahkan bisa jadi dia tidak dapat keuntungan sedikit pun. Tetapi Allah SWT tidak demikian, Allah sudah sangat memberikan jaminan kepada kita bahwa dalam berniaga dengan-Nya tidak akan pernah mengalami kerugian sedikit pun,” ujar Ustaz Aep.
Ia melanjutkan dengan membacakan Surah At-Taubah ayat 111 yang menyatakan Allah membeli diri dan harta orang-orang beriman dengan balasan surga. Khatib juga merujuk Surah Ash-Shaff ayat 10
-12 tentang perniagaan yang menyelamatkan dari azab pedih, dengan dua syarat: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad dengan harta dan jiwa. Balasannya berupa ampunan dosa, surga yang dialiri sungai-sungai, dan tempat tinggal terbaik di surga 'Adn, disebut Al-Qur'an sebagai al-fauzul 'azhim, kemenangan yang agung.
Berbeda dengan kesuksesan dunia yang ukurannya relatif, Ustaz Aep menilai standar sukses akhirat telah ditetapkan Allah sehingga tidak menimbulkan perbedaan pendapat. Kehidupan, kesehatan, dan harta, katanya, adalah modal pemberian Allah yang harus diputar untuk kepentingan akhirat. Orang yang gagal di dunia masih bisa mengulang, sementara kegagalan di akhirat tidak menyediakan kesempatan kedua.
“Gagal di dunia, sepanjang ada kesempatan kita bisa mengulangnya, kita bisa belajar, kita bisa minta tambahan waktu. Tapi bagaimana kalau kita gagal di akhirat? Apakah kita mampu meminta tambahan waktu? Apakah kita bisa belajar kembali?” ujar Ustaz Aep.
Di akhir khutbah, Ustaz Aep mengingatkan tanda-tanda menjelang ajal: rambut memutih, fisik melemah, dan tubuh membungkuk ke tanah. Ia mengajak jemaah menjadikan tanda itu sebagai pengingat untuk memperbanyak pengorbanan harta, tenaga, dan waktu di jalan Allah.
“Utusan yang pertama adalah uban, rambut yang berubah dari hitam menjadi putih. Yang kedua, kelemahan fisik, kita mengalami kelemahan dan mustahil kembali muda. Yang ketiga, badan yang membungkuk ke tanah, menunjukkan kita akan kembali ke tanah. Pertanyaannya, utusan yang mana yang telah sampai kepada kita hari ini?” pungkas Ustaz Aep.
Reporter: Alpiyan Pasha, KPI/3D
Ustadzah Ai Nurjanah Ajak Jamaah Perkuat Tauhid dan Bijak dalam Menyikapi Perbedaan
Dakwahpos, Bandung- Pengajian di Masjid At-Taufiq Pasirbiru pada Sabtu, 26 September, diisi dengan kajian keislaman yang membahas pentingnya dalam menjaga kemurnian tauhid dan kehati-hatian dalam memahami ajaran agama. Dalam kajiannya, Ustadzah Ai Nurjanah mengajak jamaah untuk tetap berpegang kepada Allah Swt. serta tidak mengikuti pemahaman yang menyimpang dari ajaran Islam.
Ustadzah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa para rasul tidak pernah memerintahkan umatnya untuk menjadikan malaikat maupun nabi sebagai Tuhan. Para nabi dan malaikat adalah hamba Allah, bukan Tuhan yang disembah, jelasnya, dengan menegaskan bahwa ibadah hanya ditujukan kepada Allah Swt. Menurutnya, berbagai pemahaman keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat itu harus disikapi dengan hati-hati, terutama ketika seseorang mengajak untuk menyembah kepada selain Allah. Ia mengingatkan para jamaah agar tidak mudah mengikuti setiap informasi keagamaan yang ditemukan, baik melalui media maupun lingkungan sekitar, tanpa mengetahui sumber dan dasar ajarannya.
Sekarang banyak pemahaman-pemahaman yang menyimpang, maka kita harus hati-hati dan tidak sembarangan dalam memilih guru, tutur Ustadzah Ai Nurjanah. Ia juga menyampaikan bahwa umat Islam itu sebaiknya belajar kepada guru yang memiliki pemahaman agama yang jelas dan juga memiliki sanad yang jelas serta berpegang pada ajaran yang diyakini berdasarkan petunjuk Islam.
Dalam kajian tersebut, Ustadzah Ai Nurjanah turut menyinggung perbedaan pendapat dalam persoalan fikih, salah satunya mengenai batalnya wudu akibat bersentuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Ia menjelaskan bahwa perbedaan pendapat tersebut berkaitan dengan perbedaan mazhab yang terjadi di masyarakat, di antaranya seperti Mazhab Syafi’i dan Mazhab Maliki.
Beliau kemudian mengingatkan jamaah agar tidak memilih pendapat agama hanya berdasarkan kemudahan yang ingin diperoleh. Jangan mengambil yang gampang-gampangnya saja, wudunya mengikuti satu mazhab tetapi pembatalannya mengikuti dari mazhab yang lain, ungkapnya, seraya menjelaskan bahwa dalam persoalan fikih, umat Islam perlu memahami dasar pendapat yang diikutiinya secara penuh.
Lebih lanjut, Ustadzah Ai mengajak jamaah untuk tetap menghormati adanya perbedaan pemahaman di tengah masyarakat dan jangan mudah menyalahkan orang lain. Karena menurutnya, perbedaan dalam persoalan keagamaan perlu disikapi dengan bijak, sementara setiap Muslim tetap bertanggung jawab terhadap keyakinan dan amalan yang dijalankannya.
Menutup kajiannya, Ustadzah Ai Nurjanah mengingatkan bahwa kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang saleh tidak boleh melebihi kecintaan serta penghambaan kita kepada Allah Swt. Mencintai Rasul dan orang-orang yang mulia harus menjadi bagian dari kecintaan kita kepada Allah, bukan menjadikan mereka sebagai sesuatu yang disembah, pesannya, sekaligus mengajak jamaah untuk senantiasa menjaga keimanan dan keislaman hingga akhir hayat.
Reporter: Sevilla Aulia, KPI/3C



