Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Ustadz Ahmad Semangat Isi kajian di Masjid Al-Misbah, ini Alasannya

Dakwahpos.com, Bandung – DKM Al-Misbah menggelar kajian rutin malam bersama Ustadz Ahmad di Masjid Al-Misbah, Jl. Cipadung No. 14, Bandung, pada Jumat (07/11/2025) pukul 13.00–15.00 WIB. Kegiatan ini diikuti puluhan jamaah yang hadir untuk mendapatkan penguatan akhlak dan keimanan.

Dalam keterangannya, Ustadz Ahmad menilai Masjid Al-Misbah memiliki energi positif karena pengurusnya aktif dan jamaahnya antusias menghadiri kajian. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa ia bersedia mengisi kajian di masjid tersebut.

"Karena saya melihat Masjid Al-Misbah ini sangat aktif dalam kegiatan syiar. Pengurusnya juga komunikatif, jadi ketika diundang saya langsung merasa terpanggil untuk hadir," ujar Ustadz Ahmad saat diwawancarai usai kajian.

Materi yang disampaikan menekankan pentingnya menjaga akhlak dan menumbuhkan keimanan. Dengan bahasa sederhana, Ustadz Ahmad memberikan contoh konkret yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga jamaah mudah memahami pesan dakwahnya.

"Saya berharap apa yang saya sampaikan tidak hanya didengar, tetapi bisa diamalkan. Semoga jamaah pulang dengan semangat baru untuk memperbaiki diri," tuturnya.

Kajian ditutup dengan doa bersama dan ramah-tamah antarjamaah. Ustadz Ahmad juga menyampaikan kesediaannya untuk kembali hadir jika diundang pada kesempatan berikutnya, mengingat kedekatannya dengan lingkungan Masjid Al-Misbah.

Reporter: Ulil Aini Rohimah, KPI/3A

Ustadz Bachrun Rifa’i Kupas Surah Shad: Musuh Para Nabi Akan Hancur

Dakwahpos.com, Bandung – Suasana Masjid Al-Muhajir di kawasan Cipadung Kidul, Kecamatan Panyileukan, Kota Bandung, tampak khidmat pada Sabtu (27/9/2025) ba'da Magrib. Dalam pengajian yang diikuti oleh jamaah bapak-bapak, Ustadz Drs. A. Bachrun Rifa'i, M.Ag. menyampaikan kajian Al-Qur'an dengan tema "Musuh Para Nabi Akan Hancur" melalui tafsir Surah Shad ayat 1–10.

Kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Shad ayat 1–10 secara bersama-sama, kemudian diterjemahkan dan dijelaskan oleh Ustadz Bachrun. Dikutip dari sebuah hadis, beliau berkata, "Barang siapa yang menempuh menuju mencari ilmu, maka Allah akan mempermudah jalan ke surga." Pesan tersebut menjadi pengantar bahwa majelis ilmu seperti ini adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperdalam pemahaman terhadap isi Al-Qur'an.

Dalam penjelasannya, Ustadz Bachrun menguraikan bahwa ayat-ayat awal dalam Surah Shad menegaskan kemuliaan Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup manusia. Huruf pembuka "Shad" merupakan bagian dari huruf-huruf muqatha'ah yang menandai kebesaran dan keajaiban Al-Qur'an. Allah menegaskan bahwa kitab ini penuh dengan hikmah dan pelajaran, tetapi banyak orang yang justru berpaling darinya. Ayat-ayat tersebut menjadi sindiran bagi kaum musyrikin yang menolak ajaran tauhid dan mendustakan kebenaran yang dibawa para nabi.

Selanjutnya, beliau menyinggung isi ayat yang berbunyi, "Betapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan." Kalimat ini menggambarkan bahwa sepanjang sejarah, umat yang menentang risalah para nabi selalu berakhir dengan kehancuran. Kisah-kisah kaum terdahulu seperti kaum 'Ad, Tsamud, dan Firaun menjadi contoh nyata bagaimana kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran membawa mereka pada azab Allah SWT. Pada bagian lain, Allah juga berfirman, "Apakah mereka memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan apa yang akan mereka perbuatnya?" Ayat ini menjadi bentuk tantangan terhadap orang-orang kafir Quraisy yang merasa memiliki kekuasaan dan kedudukan tinggi di dunia, seolah-olah mereka mampu menandingi kehendak Allah. Melalui ayat-ayat tersebut, tergambar jelas bahwa tidak ada kekuasaan manusia yang dapat melampaui kekuasaan Allah, dan setiap kesombongan akan berakhir dengan kehancuran.

Melalui kajian ini, jamaah diajak untuk merenungi makna penting dari ketaatan dan kerendahan hati di hadapan Allah SWT. Kegiatan pengajian di Masjid Al-Muhajir tidak hanya memperdalam pengetahuan tentang tafsir Al-Qur'an, tetapi juga menumbuhkan semangat untuk meneladani perjuangan para nabi dalam menghadapi penentangan. Dari majelis seperti inilah nilai-nilai iman dan kesabaran terus dipupuk agar umat senantiasa teguh di jalan kebenaran.

 Reporter: Dhelia Andheni (KPI 3 C)


Ketua DKM Nurul Ilmi: Kisah Inspiratif Ustaz Nurdin Sa'bana dalam Perjuangan Dakwah

Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz Nurdin Sa'bana, yang akrab disapa "Idong" oleh orang-orang terdekatnya, adalah sosok inspiratif yang dikenal sebagai Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) dan Kepala Madrasah Nurul Ilmi di Cibiru Wetan. Lahir di Bandung pada 11 September 1974, beliau merupakan putra kelima dari tujuh bersaudara, buah hati pasangan Dana Dzakaria dan Ihat Rohayati.  


Perjalanan hidup Ustaz Nurdin penuh liku. Ketangguhan dan kemandiriannya terasah sejak masa muda. Ketika menempuh pendidikan di Mualimin (setara SMA), beliau terpaksa berhenti karena keterbatasan ekonomi. Salah satu penyebabnya adalah boikot masyarakat terhadap usaha toko milik keluarganya akibat ayahnya yang dikenal tegas dalam berdakwah berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah. Namun, keterbatasan ini tidak memadamkan semangatnya untuk terus mencari ilmu.  


"Ana tidak usah kuliah untuk mencari ilmu, karena ilmu dari Allah," ungkap Ustaz Nurdin.  
Meski tidak menyelesaikan pendidikannya di Mualimin, Ustaz Nurdin melanjutkan pencarian ilmunya dengan belajar di Pesantren Tahdzibul Washiyyah (Gumuruh) di bawah asuhan K.H. Utsman. Beliau menghabiskan puluhan tahun di sana, mendalami ilmu agama dan mengasah keikhlasannya dalam berdakwah.  

Sebagai seorang pendakwah, Ustaz Nurdin dikenal lembut, tidak pernah memarahi jamaahnya meski berbeda pendapat, dan selalu mengamalkan terlebih dahulu apa yang diajarkannya. Prinsip keikhlasannya juga terlihat dari kebiasaannya yang tidak pernah mematok biaya saat diundang untuk mengajar. 
"Ana mah tidak suka tarif-tarifan, yang penting ngajar yang bagus," tutur beliau dengan rendah hati.  

Kini, Ustaz Nurdin tidak hanya memimpin Masjid Nurul Ilmi sebagai Ketua DKM, tetapi juga aktif dalam organisasi keagamaan seperti Persatuan Islam. Semangatnya dalam berdakwah dan mendidik jamaah menjadikannya sosok panutan yang dihormati oleh masyarakat sekitar.  
Kisah hidup Ustaz Nurdin Sa'bana adalah bukti bahwa ketulusan, semangat, dan dedikasi dalam menuntut ilmu dan berdakwah mampu mengatasi berbagai tantangan hidup.  

Reporter: Asep Setiawan KPI 3A

Drs. Aep Saepurrohman, M. Ag: Dosen Bahasa Arab Diangkat Jadi Ketua DKM Baru Masjid Kampus 2 UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Dakwahpos.com,Bandung- Drs. H. Aep saepurrohman, M.Ag, lahir di ciamis, beliau sudah memasuki usia 55 tahun, hobi beliau jika berkaitan dengan olahraga tenis meja, kalau dalam aspek mengisi waktu luang membaca keilmuan atau berita, beliau menjadi ketua dkm saat pergantian dkm bulan September tahun ini baru mau 2 bulan, pada dasarnya beliau spesialisasi nya di bahasa Arab, keseharian beliau adalah dosen bahasa Arab, kemudian beliau di beri kepercayaan untuk membidangi bahasa Arab di Lc, dan kemudian beliau di berikan amanah baru yaitu menjadi ketua DKM kampus 2, 
 
"Mungkin pertimbangan nya karena saya mempunyai latar belakangbahasa Arab kemudian alhamdulillah banyak menguasai sumber-sumberbahasa Arab atau aspek-aspek keislaman, dan karena saya banyak mengisi khutbah, dan juga banyak mengisi do'a, mungkin itu dari situ pertimbangan nya, mungkin karena ada kecocokan dalam hal kebahasaan dan kemampuan penguasaan kitab atau kalo di masyarakat nya pernah mengelola masjid." Ungkap beliau

Beliau tidak di beri tahu akan di berikan amanah menjadi ketua DKM, tapi karena adanya amanah itu beliau harus siap melakukan atau mengabdikan diri dalam mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan di masjid kampus 2 ini.

"Jujur saja sebetulnya di bilang berat tidak tetapi agak kaget juga, tidak secara utuh bisa merespon dengan riang gembira tapi karena terkait amanah dan kekhawatiran tidak bisa mengendalikan atau mengkoordinasikan, mungkin pertimbangan nyaa bisa jadi beda ya antara pengurus DKM di masyarakat dan di kampuskampus, kemudian juga karena sehari-hari memang saya sudah terbiasa mengurus Bahasa Arab artinya sudah sesuai keahliankeahlian, sementara DKM kan memang kerjanya tidak terlalu berat tapi dalam ruang lingkup mengurus umatnya kan lebih berat juga intinya perasaan nya antara pesimis dan optimis, karena peralihan dari yang baru yang tentu juga kegiatan nya berbeda." Lanjut ustadz aep

Hambatan dalam mengurus masjid, untuk merekrut jamaah tidak bisa memaksakan, "jadi kontribusi jamaah sangat tergantung pada keinginan mereka masing-masing, DKM hanya melayani dengan membuat program adapun bagaimana mereka keterlibatan nya dalam program itu tidak bisa di pakasa boleh jadi program tapi peminatnya tidak sesuai harapan, dan untuk mengkoordinasikan jamaah masih perlu optimalisasi bagaimana supaya ketertiban di masjid itu bisa terjaga dengan baik, dalam mengkoordinasikan nya masih perlu upaya intensif yang lebih memungkinkan sehingga orang bisa betul betul memanfaatkan masjid itu dengan sebaik-baiknya dalam konteks mendekatkan diri kepada allah, berarti harus tertib, khusu, dalam mengkondisikan itu masih perlu upaya yang lebih relevan supaya lebih terjaga kedisiplinan ketika berada di masjid. Hambatan lainnya pendanaan karena alokasi dari UIN nya terbatas." Lanjut ustadz Aep

Ustad Asep dan Dedikasinya dalam mengajar mengaji tanpa pamrih

Dakwahpos.com - Bandung. Ustadz asep seorang guru ngaji yang berusia 46 tahun mendedikasikan dirinya setiap hari untuk mengajar ngaji anak anak.

Disela sela kesibukan nya bekerja ustad Asep selalu mengajar anak-anak dengan penuh semangat, karena menurut beliau masjid Al-Hidayah memiliki tempat yang layak untuk keberlangsungan pendidikan agama Islam. "Sayang sekali jika sudah ada tempat tapi di pakai untuk hal yang bermanfaat" ucap ustad Asep.

Pengajian anak anak ini atau biasa disebut sebagai madrasah Al-Hidayah sudah lama ada, dari awal pembangunan masjid ini juga memang di bangun untuk sekaligus membuat ruang kelas untuk anak anak belajar mengaji.

Ustad Asep, seorang pendidik agama yang luar biasa, menunjukkan dedikasinya yang luar biasa dalam mengajar mengaji tanpa mengharapkan imbalan materi. Ia mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk menyebarkan dan mengajarkan kebijaksanaan Al-Qur'an kepada anak-anak. Ustad Asep memilih untuk tidak membebankan biaya kepada para muridnya. Ia yakin bahwa ilmu agama adalah amanah yang harus disebarkan tanpa hambatan finansial.

Reporter Dzikri Komardiansyah KPI 3A

Ustaz H. Adnan Muslim, Pejuang Jam'iyyah Dari Cibiru

Ustaz Drs. H. Adnan Muslim, S.Ag yang kerap disapa Ustaz Adnan ini  lahir di Kabupaten Sumedang pada 16 Agustus 1955 dan kini beliau menetap di Gang Kujang, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung.

Beliau menceritakan jika pernah menempuh pendidikan tinggi di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung pada  Jurusan Perbandingan Agama, Fakultas Ushuluddin  dan juga STAI Siliwangi pada Jurusan Pendidikan Agama Islam,  Fakultas Tarbiyah, dari kedua Perguruan tinggi tersebut Ustaz Adnan  mendapatkan gelar doktorandus (Drs) dan juga Sarjana Agama (S.Ag). setelah lulus dari IAIN Sunan Gunung Djati beliau diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kementrian Agama dan pernah ditugaskan di luar Jawa Barat, dan kemudian setelah beberapa tahun diangkat menjadi PNS, Ustaz Adnan kembali melanjutkan pendidikannya di STAI Siliwangi.
 
Perjalanan dakwah jam'iyyah Ustaz Adnan dimulai ketika bergabung menjadi Jemaah yang merupakan cikal bakal Pimpinan Cabang Persatuan Islam (PERSIS) Kecamatan Cibiru yang secara resmi dibentuk pada tahun 1992. pada saat merintis PC PERSIS Cibiru, pengajian yang dilakukan bertempat di MTs milik Yayasan Al Misbah, dan kebetulan Yayasan tersebut milik keluarga Ustaz Adnan.

"Muhun, awalna pengajian teh di MTs Al-Misbah, penginteh eta nu wargi (Ibu)" Jelas Ustaz Adnan.

Terdapat suatu insiden yang menimbulkan keresahan di kalangan jemaah, yaitu Jemaah dianggap Dhiror. Pada awalnya Jemaah yang menjadi cikal bakal tersebut belum terafiliasi dengan organisasi apapun, akan tetapi pesan-pesan yang disampaikan mengandung nilai semangat kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan pada akhirnya diputuskan Jemaah tersebut menjadi Jemaah Persatuan Islam (PERSIS) untuk menepis tuduhan dhirar dan untuk melindungi jemaah, selain itu karena ustadz yang membina berasal dari kalangan PERSIS yaitu Al-Ustaz Muchtar Latief dari PC PERSIS Batununggal.

Terdapat suatu fakta unik dari Ustaz Adnan, beliau selalu diamanahi menjadi Sekretaris Umum kecuali pada saat awal menjadi tasykil (saat itu bidang tarbiyah) dan saat beliau menjadi Ketua Pimpinan Cabang Persatuan Islam (PERSIS)  Cibiru (2005-2011), bahkan hingga saat ini beliau masih menjabat sebagai Sekretaris Umum PC PERSIS Cibiru.

Selain aktif di Pimpinan Cabang, beliau pun pernah diamanahi sebagai bidang perwakafan di Pimpinan Daerah Persatuan Islam (PERSIS) Kota Bandung dan bahkan beliau sekarang diamani sebagai Wakil Bendahara Umum Pimpinan Wilayah Persatuan Islam (PERSIS) Provinsi Jawa Barat.

 Pada usia yang menginjak 68 tahun beliau masih aktif dalam kegiatan-kegiatan Jam'iyyah yang bersifat lingkungan rumahnya dan juga wilayah, menunjukkan dedikasi yang tinggi kepada Jam'iyah Persatuan Islam.

Reporter: Naqib Al Ghazy/ KPI 3 C

Ustaz Kamaludin, Ustaz Rantau yang dapat Jodoh di Remaja Masjid

Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Kamaludin (48) atau biasa yang dipanggil Ustaz Kamal merupakan seorang Ustaz sekaligus Ketua DKM Istiqomah. Beliau merupakan seorang pendatang dari Tasikmalaya.

Beliau merupakan lulusan dari IAIN Bandung (sekarang UIN Bandung). Siapa sangka beliau yang dulunya merupakan marbot sekaligus anggota remaja Masjid Istiqomah ini ternyata bertemu dengan jodohnya di remaja Masjid Istiqomah.

Awal mulanya beliau bersama teman mahasiswanya dan pemuda yang berada di lingkungan Masjid Istiqomah Remaja Masjid beliau berusaha untuk mengaktifkan kembali remaja masjid yang sempat vakum. Beliau dulu menjabat di bidang dakwah dan istri beliau di bagian keputrian.

"Istri saya itu dulunya alumni Universitas Janabadra, merupakan anak mapala, semua gunung di Jawa Tengah, Jawa Timur pernah dijajalinya semua, makanya ketika datang ke remaja masjid aneh karena pergaulan berbeda," tutur Ustaz Kamal.

Kata ustadz Kamal menyampaikan bahwa dulu istri beliau yang gaulnya sama orang yang kurang baik, pas ke remaja masjid merasa aneh karena berbeda dengan pergaulan sebelumnya. Sehingga dengan kehadiran istri beliau menjadi warna tersendiri di remaja masjid.

Awal mula kedekatan beliau dengan istrinya itu ketika RT meminta bantuan kepada Ustaz Kamal bahwa ada seorang keluarga yang mau pindah rumah ke daerah dekat Masjid Istiqomah, dan ternyata yang dibantu Ustaz Kamal itu merupakan mertua di kemudian hari. Beliau menjelaskan bahwa ternyata selama di remaja masjid ada yang memperhatikan gerak-gerik beliau. Akhirnya beliau berjodoh pada 2002 meskipun kuliah belum selesai dan istri beliau 3 tahun lebih tua.

"Ada tuntutan pada saat itu, mau kerja dulu baru nikah atau selesai dulu kuliah baru nikah. Akhirnya tidak dipilih dua-duanya, yang penting jadikan nikahnya," ucap beliau sambil tertawa.

Reporter: Akmal Ridwan, KPI 3A

Tomy Maezart, Mantan Preman Jadi Ketua DKM

Tomy maezart, pria yang biasa di sapa pak Tom ini merupakan Sosok terpandang yang di segani oleh masyarat Rt 02 Rw 13 Desa Cibiru Wetan. Beliau merupakan Ketua DKM Baiturrahim, yang sudah memegang amanah kurang lebih 2 taun yang lalu. Tetapi ada kisah unik  yang menginspirasi yang dialami oleh beliau sebelum di amanahi menjadi ketua DKM Baiturrahim

Ustadz Tomy merupakan warga asli Dari DKI Jakarta, Tepatnya di daerah Tanjung periuk. Semasa Remaja nya, Beliau adalah Remaja yang bisa di bilang Cukup Extream dalam bergaul. Ustadz tomy ini bersekolah di STM 03 Jakarta, yang biasa kita ketahui Pergaulan anak STM di tahun 80 an adalah tawuran, berantem, mabuk dll. dan itulah yang beliau lakukan semasa Remajanya di STM.

" Yang menurut Agama di larang, sebagian besar saya pernah lakuin. Kecuali maling" Ucap Ustadz Tomy

" Saya Itu Gak takut Sama Siapa-Siapa, Kecuali Ketika Berhadapan dengan Ibu Saya, Baru Saya Takut" Ucap Lagi Ustadz Tomy.

 Maka Tak heran Saat itu Beliau Bisa di Bilang pemegang kawasan yang ada di daerah Tanjung priuk.
Sesudah Beliau Menamatkan Pendidikannya di jenjang STM barulah Beliau pergi merantau Ke Kota Bamdung, tepatnya Di daerah Riung Bandung. Pergaulan di Bandung Masih membuat beliau melakukan Hal-hal yang dilakukannya ketika di jakarta, seperti berkelahi, mabuk-mabukan, pergi ke diskotik dll. Bahkan ketika Beliau Sudah bekerja dan berumah tanggapun, Aktifitas itu masih di lakukan. Kurang lebih kegiatannya yaitu, berangkat kerja di pagi hari sampai menjelang maghrib, ketika sekitar jam 9 malam, beliau berangkat lagi untuk nongkrong atau pergi ke diskotik. Sampai jam 4 menjelang subuh, beliau baru pulang dan langsung tidur, tanpa mengenal sholat yang 5 waktu. Lalu paginya berangkat kerja lagi, dan begitupun kegiatannya sehari-hari.

Karena lelahnya hidup dalam penuh kemaksiatan kepada Allah, Beliau berniat untuk berhijrah kepada jalan yang benar dan meninggalkan perilaku-perilaku jahiliyah di masa lalunya. Ketika beliau mulai berhijrah, Maka di situlah Allah memberikan Amanah kepadanya Untuk Mengurus dan Memakmukan Mesjid lewat cara pencoblosan. dengan Kata lain Beliau di pilih Menjadi Ketua DKM Baiturrahim. Karena memang beliau juga ahli dalam menghandle perorganisasian.

" Ketika kepilih itu gak nyangka aja, Bisa-Bisanya preman kayak saya malah kepilih Jadi Ketua Dkm,Padahal Kandidat yang lain merupakana orang-orang dengan keilmuan agamanya yg mumpuni. Tapi Allah emang pengen ngebuat hijrah saya total, dari Hitam ke putih dengan Syariat Menjadi Ketu DKM"
Ucap Ustadz Tomy. Beliau juga memberi pesan bahwa jangan mengabaikan hidayah yang di berikan kepada setiap Hambanya, Karena Kita tidak tahu kapan ajal kita akan menjeput.

Sosok : Dr. H. Ija Suntana


Sosok : Bachrun Rifa'i


Bachrun Rifa'i sering disapa Abah, DKM Masjid Iqomah UIN Bandung sekaligus dosen fakultas dakwah dan komunikasi sejak tahun 1984 sampai sekarang.

Reporter: Fitri Febrianti, KPI/3B

Sosok: Ujang Yahya

Ujang Yahya yang sering disapa Uya. Beliau Merupakan tokoh yang cukup dikenal di Rw 10 Desa Cibiru sebagai ketua DKM Al-Amanah juga guru di Madrasah Ar-Rosyidiyah

Rep: Ismi Alawiah KPI/3B

Sosok: Ahmad Sudjana


Ahmad Sudjana, selain ketua DKM At Thoyyibah di Jalan Desa Cipadung Cibiru Bandung, beliau  juga ahli dalam bidang design grafis.

Rep: Istianah Rahmawati KPI/3B

Sosok: H. Asep Saepul Amin



H. Asep Saepul Amin yang sering disapa Kang Asep oleh para santri dan orang yang telah akrab. Beliau berprofesi sebagai PNS guru mengajar di Yayasan Miftahul Falah sekaligus diberikan tugas untuk mengurus Yayasan Miftahul Falah

Reporter: Lilis Tati Muthoharoh, KPI/3B

Sosok: Djuanda


Djuanda, tokoh berjasa di Cipadung, menjabat sebagai ketua DKM At-Tarbiyatul Islamiyyah. Beliau alumni IAIN Bandung.
Rep. Hani Solehatunnisa KPI 3B.
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos