Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Cerpen: Masjid Penyelamat Dunia Akhirat



Seperti biasa pada sore hari Jupri dan adiknya Aisyah mengaji di masjid yang berada tidak jauh dari rumah mereka. Di sore yang cerah itu Jupri beserta teman-temannya membuat kelompok mengaji, membentuk lingkaran mengelilingi gurunya yang bernama ustadz Zul. Dipimpin oleh Ustadz Zul, mereka melantunkan ayat suci Alquran. Sementara dalam kelompok yang lain, sedang menyimak bacaan anak yang lainnya mengaji.

"Aku tidak tau, kenapa hari ini aku sangat bersemangat sekali mengaji, rasanya aku ingin menginap di masjid semalam ini saja" ucap Jupri di dalam hati.

Seperti biasa setelah mengaji Al-Quran, ustad Zul menyampaikan sedikit ceramah sekitar tujuh menit sebelum mereka pulang dari pengajian. Pada saat itu ustad Zul berceramah tentang ajal tidak bisa dipercepat dan tidak bisa di perlambat.

Tiba-tiba Jupri merasa takut, ia pun merasa aneh, karena jarang-jarang apabila mendengar ceramah ustad Zul, bicara tentang kematian ia merasa takut, padahal sebelum-sebelumnya ia mendengar ceramah ustadz Zul tentang alam kubur dan neraka dia biasa-biasa saja. Tapi anehnya pada saat itu Jupri merasa takut, dan yang anehnya lagi seminggu  ini ustadz Zul selalu ceramah tentang kematian.

Pengajian pun berakhir pada jam 17.00. adik Jupri, Aisyah mengajaknya pulang, tetapi Jupri merasa masih betah di masjid.

"Abang ayo kita pulang" ajak Aisyah.

"Aiysah duluan saja, abang mau menunggu adzan magrib di masjid" jawabnya.

"Tapi kan magrib masih lama bang."

"Biar saja, abang lagi pingin sendirian di masjid."

"Baiklah kalau begitu, Aisyah pulang duluan," ujar Aisyah. Aisyah pun pulang sendiri kerumah.

Setelah semua orang pulang akhirnya Juppri pun sendiri di masjid Baiturahman itu, sebuah masjid yang menjadi saksi bisu dahsyatnya diterjang tsunami 12 tahun silam.

Aku tidak tahu mengapa perasaanku jadi tidak enak, mungkin gara-gara ceramah ustadz Zul tadi perasaanku jadi tidak enak, pikir Jupri. Merasa perasaannya tidak enak Jupri pun mengambil air wudhu, semoga saja perasaan ku menjadi lebih tenang, ucap Jupri dalam hati.

Setelah Jupri mengambil air wudhu, perasaannya belum tenang, masih saja terasa tidak enak, akhirnya dia shalat sunah wudu dua rakaat. "Alhamdulillah prasaanku agak lebih baik" ucap Jupri sendiri.

Akhirnya adzan magrib pun tiba dan Jupri pun langsung menyalakan mike dan segera mengumandangkan adzan. Setelah selesai shalat isya, ia pun pulang dan pada keesokan harinya, itulah saat yang sangat memilukan terjadi di bumi serambi Mekah Aceh.  

Gempa bumi dan tsunami Aceh pada hari Minggu pagi, 26 Desember 2004. Gempa terjadi  pada waktu itu tepatnya jam 07.58 WIB. Kepanikan itu terjadi dalam durasi yang tercatat paling lama dalam kegempaan bumi, yaitu sekitar 10 menit.

Dan ketika tsunami mulai datang, Jupri dan aisyah meninggalkan rumah mereka. Tapi mereka dipisahkan, Aisyah menumpang sepeda motor saat turun ke jalan. Sedangkan Jupri memilih pergi dengan sepedanya.

Aisyah sempat melihat Jupri kelelahan menaiki sepedanya, tapi kemudian Aisyah kehilangan kakaknya, dan mereka pun terpisah di jalan karena padatnya orang yang ingin menyelamatkan diri ke tempat yang lebih aman. Jalanan penuh dengan orang yang berupaya menyelamatkan diri, mereka semua menuju bukit dan tanah tinggi yang aman. 

Mereka bisa melihat gelombang datang di belakangnnya. Gelombang kemudian menggulung banyak orang di dalam  air dan terlalu banyak mayat di mana-mana.

Meskipun kejadian itu sudah lama tetapi Jupri seorang pemuda yang sudah berusia 20 tahunan itu masih mengingat dengan jelas gelombang tsunami yang datang tiga kali itu, dengan jarak waktu 15 menit. Inilah yang membuat begitu banyak orang tidak dapat bertahan. Sementara gelombang kedua dan ketiga kembali dan penuh sampah, hanya saja tidak sekuat gelombang besar pertama yang suaranya seperti helikopter. Bunyinya sangat keras.

Dan setelah berjuang 5 jam, Jupri akhirnya bisa menyelamatkan diri, ia terseret ke lantai dua sebuah bangunan, sehingga dapat beristirahat dan berdoa. Ketika di dalam sebuah bangunan Jupri ingat perkataan ustadz Zul tentang ajal tidak bisa dipercepat dan tidak bisa diperlambat. Jupri hanya bisa berdoa dan pasrah kepada Allah.

"Ya Allah apabila aku tidak selamat dalam bencana ini, aku mohon terima aku di sisi-Mu. Dan apa bila sekarang belumlah saatnya ajalku tiba maka permudahlah saya untuk mendapatkan jalan keluar dan pertemukanlah aku dengan keluargaku." Jupri berdoa sambil menangis. Selanjutnya, ia mencoba untuk menuju bukit dengan berenang. 

Setelah ia berusaha berenang, Jupri pun akhirnya sampai ke sebuah bukit. Dengan nafas yang sesak Jupri ditolong oleh warga lainnya yang berada di atas bukit. Jupri diberi P3K,  ia nampak kelelahan dan susah bernafas akibat berenang terlalu lama. Tapi untungnya jupri dapat terselamatkan, keadaannya semakin membaik.

Setelah keadaannya sudah agak membaik, Jupri langsung mencari keluarganya. Ia mencari-cari ibu, ayah, dan adik perempuannya, namun sayangnnya terlalu banyak orang sehingga ia kesulitan untuk menemukan keluarganya.

Setelah dua hari berlalu akhirnya Jupri berjumpa dengan adik perempuannya yaitu Aisyah. Ternyata Aisyah selamat karena masuk ke masjid Baiturahman, tempat dimana setiap sore hari mereka mengaji disana.

Masjid yang berjarak sekitar 500 meter dari bibir pantai ini menjadi saksi bisu peristiwa 12 tahun yang lalu. Saat gelombang terjadi, hanya sembilan orang yang selamat di masjid ini, enam orang laki-laki dan tiga orang perempuan serta seorang bayi berumur tiga bulan.

Saat gelombang pertama datang, setidaknya ada 138 orang yang berlindung di masjid ini. Saat gelombang kedua datang, warga yang berlindung di tempat ibadah ini masih berjumlah sama. Namun, saat gelombang ketiga datang, tiba-tiba air masuk entah dari mana dan menghayutkan warga yang ada.

Aisyah melihat pada saat itu, ketika gelombang ketiga, air masuk entah dari mana. Ada mobil yang menabrak dinding naik ke atas mimbar, hingga orang seperti diblender di air dan banyak orang di atas masjid jatuh. Sementara beberapa bangunan masjid bagian depan, seperti pagar dan kaca, atau sekitar 20 persen mengalami kerusakan.Untungnya Aisyah selamat dari kejadian itu.

Setelah mereka bertemu kembali akhirnya dua kakak beradik ini mencari kedua orang tua mereka.

Kegigihan perjuangan Jupri dan Aisyah memang mengharukan. Mereka tak kenal lelah untuk menemukan anggota keluarganya. Namun perjuangan dan harapan dua kakak beradik tersebut menemukan ibunda beserta ayahandanya kandas. Dua anggota keluarga tercinta mereka itu turut menjadi korban meninggal dalam bencana dahsyat yang menerjang sebagian besar wilayah Aceh.

Cerpen (Mega Ma'ruf Nugraha)

Cerpen : Taubat Sang Pemuda



Masjid adalah rumah ibadah atau khusus nya rumah allah yang setiap hari nya selalu di kunjungi umat nya untuk beribadah kepada Allah SWT. Namun tidak semua umat juga pergi mengujungi masjid dan tidak setiap hari tempat ini ramai di kunjungi. Banyak faktor kenapa rumah yang di indikasi sebagai rumah Allah ini tidak ramai dikunjungi umat. Bukannya ada batasan tertentu melainkan kesadaranlah yang menjadi permasalahannya.

    Ardi dan Pak Bachrun mereka adalah pengurus yang mengurusi masjid jami Al – Muhajir ini dari segi kebersihan sampai kegiatan masjid atau yang biasa di bilang ta'mir masjid. Setiap harinya mereka tekun menjaga segala sesuatu di masjid ini. Mereka sangat peduli sekali hingga sangat detail segalanya dimasjid ini. Mereka yakin bahwa jika mereka menjaga baik - baik rumah Allah ini, Allah juga akan menjaga mereka lebih baik lagi. Tapi Sebenarnya ada sedikit yang mereka khawatirkan, kenapa rumah ibadah ini jarang ramai sekali kecuali hari raya tertentu. Padahal mereka sudah semaksimal mungkin membuat masjid ini senyaman mungkin agar orang - orang mau beribadah di masjid ini.

    Hingga Suatu hari ada seorang berandalan pemuda yang tak kenal tidur di teras masjid ini. Ketika Ardi dan Pak Bachrun hendak menyiapkan masjid untuk ibadah sholat shubuh mereka kaget siapa ini tertidur di teras masjid, yang lebih mengagetkan lagi disampingnya terdapat botol minuma keras yang sudah tidak berisi. Seperti nya pemuda ini sebelumnya mabuk - mabukan.

Ardi pun emosi dan memarahi Pemuda tersebut bagi Ardi Rumah Allah yang di jaga benar – benar kesuciannya. Di nodai oleh pemuda pemabuk yang tidak bertanggung jawab ini ditambah lagi dengan masjid yang sepi. Orang menjadi lebih enggan beribadah di situ karena melihat pemuda mabuk tersebut. Akhirnya Pak Bachrun membangunkan orang tersebut tiba – tiba Ardi  dengan sedikit kasar mengangkat pemuda  tersebut dan mengusirnya.

    Kesokan hari nya kejadian itu terulang kembali, pemuda tersebut selalu saja tidur di teras masjid. Tidak sampai di situ setiap harinya pemuda tersebut tetap saja terus menerus tidur di teras masjid, akhirnya Ardi kehabisan kesabaranya dan ingin memberi pelajaran kepada pemuda pemabuk tersebut. Namun, Pak Bachrun mencegahnya dan berusaha menenangkan Ardi. Lalu Pak Bachrun membangunkan  dengan sopan pemuda tersebut  dan bertanya karena penasaran kenapa pemuda ini selalu saja tidur di teras masjid ini walaupun sering sekali kami usir dan "apakah kamu tidak mempunyai tempat tinggal?" tanya Pak Bachrun kepada sang pemuda tersebut, pemuda itu menjawab "sebenarnya saya bekerja di perusahaan yang lokasinya di dekat masjid ini, tetapi saya selalu mendapatkan masalah di kantor", ternyata pemuda itu selalu saja mendapat masalah oleh atasan di perusahaannya, setiap hari dia harus pulang lembur dan akhirnya, ia pun stress dan pelariannya meminum minuman keras. Dia selalu melintasi masjid ini setiap kali berjalan menuju arah rumahnya dalam keadaan bermabuk mabukan, selalu saja ia merasa tidak kuat berjalan  lagi,  dan akhirnya membuat dia untuk memutuskan tidur di masjid ini. Dia merasa sangat nyaman jika di masjid ini entah kenapa serasa sejuk dan nyaman saat ia tidur di teras mmasjid ini,  dia juga sangat tenang jika mendengar alunan - alunan qiroah di masjid ini.   

Pak Bachrun pun terkejut mendengar perkataan Pemuda berandalan tersebut. Pak Bachrun tertegun termenung ternyata masih ada hamba Allah yang mau datang kemasjid ini walupun dia berubuat menyimpang ajaran allah. Akhirnya Pak Bachrun dengan halus untuk mengajak Pemuda berandalan itu segera bertaubat dan melaksakan sholat subuh berjamaah bersama - sama. Pak Bachrun pun menyadari bahwa bukan apa yang istimewa dari masjid yang dia urus untuk membuat masjid itu ramai dikunjungi untuk beribadah namun kesadaran lah yang harus di katakan pada semua orang. Pemuda tersebut sempat bertanya kepada Pak Bachrun "kenapa masjid ini selalu sepi ?" Pak Bachrun pun menceritakannya kepada pemuda itu dan tidak tahu menahu kenapa masjid ini sepi. Pemuda itu berinisiatif untuk membantu menyadarkan orang di sekitar masjid Al – Muhajir tentang arti penting beribadah di rumah Allah tersebut. Dengan menggunakan ilmu public speaking dan hubungan masyarakat yag iya jabat di perushaannya dia membantu mensosialisasikan kepada warga sekitar untuk beribadah dan meramaikan dengan kegiatan positif bersama di masjid ini dan menyadarkan arti penting rumah Allah ini untuk masyarakat sekitar.

INDRIANY AISYAH SALEH, KPI3B 


Cerpen: Tak Pernah Terasa Sepi




Aku, seorang perempuan yang selalu membayangkan menjadi princess Cinderella versi muslimah. Memimpikan seorang pangeran datang menemuiku dan membawaku ke Istana. Kemudian mengenakan gaun cantik dan sepatu kaca yang indah.

 "Hani! Hani!" suara itu membangunkan lamunanku. Ternyata itu suara ibuku, lagi-lagi ibu yang membuyarkan khayalanku.

"Ya, bu. Ada apa?" aku berteriak dan membuka pintu kamarku.

"Hani, bukankah sekarang ada jadwal liputan masjid?"

"Astagfirullah bu, aku lupa. Aku akan mandi sekarang".

Namun tampaknya di luar hujan, tapi bagaimanapun aku harus pergi liputan, ini tugasku sebagai wartawan dakwah.

"Hani , di luar masih hujan. Sebaiknya tetap di rumah saja?" ibu mulai mencemaskanku.

"Tak apa bu, lagi pula di luar hujan air bukan hujan batu hehe" aku tersenyum pada ibu agar tetap mengizinkanku untuk pergi.

Karena sore ini hujan aku bersiap dengan mengenakan sweeter dan sepatu sneakers putih, bagiku sepatu itu sepatu Cinderella. Ku buka payung pink miliku yang selalu ku sebut payung Cinderella dan kemudian bergegas pergi. Aku terlalu fanatik terhadap princess Cinderella sehingga apapun yang dimiliki aku sebut Cinderella. Aku harus tetap pergi meskipun hujan, bukan seorang wartawan jika hujan saja menghentikan langkahku untuk pergi liputan. Aku langkahkan kaki mencari angkutan umum yang lewat karena perjalanan menuju masjid sangatlah jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama, jarak rumah dengan masjid sekitar 20 KM.

Sampailah aku di halte bus dan masih dengan di guyur hujan, aku menunggu bus datang sungguh ini sangat melelahkan. Menunggu memang tak menyenangkan, apalagi menunggu sesuatu yang tak pasti. Seperti menunggu bis selama satu jam dan entah akan datang atau tidak bus ini. Rok bagian bawah sudah basah kuyup karena hujan tak henti-hentinya sedang aku menunggu bis di bawah pohon jelas saja aku akan basah.

Aku mulai kesal dan kuputuskan aku naik angkutan umum saja, satu langkah menuju angkutan umum bus yang ku tunggu datang. Syukurlah aku segara menaiki bus itu. ku lihat jam pada tanganku dan oh tidak!. Satu jam lagi aku akan terlambat, sedangkan untuk sampai ke masjid itu butuh waktu  satu jam setengah. Aku pasrah, mungkin aku akan sedikit terlambat datang ke masjid.

Hari semakin mendekati Maghrib, namun aku masih berada di dalam bus. Hujan masih juga belum pamit tapi semangat ku hari ini untuk liputan pengajian di masjid tidak boleh luntur karena hujan. Tak lama dari itu adzan maghrib pun berkumandang. Masjid At-Tarbiyatul Islamiyyah sudah terlihat dan aku bersiap untuk turun dari bus.

Aku berlari menuju ke Masjid At-Tarbiyatul islamiyyah dan masih ditemani hujan. Ternyata benar saja aku terlambat, acara pengajian sudah di mulai. Tapi nampaknya jamaah tidak banyak yang hadir. Mereka dapat di hitung oleh jari, sedikit sekali yang datang. Ku tutup payungku dan kuletakan di samping sepatu cindrella miliku. Tidak berpikir panjang Aku langsung masuk ke dalam masjid kemudian duduk untuk mengikuti acara kajian.

Sosok bapak tua yang selalu semangat dalam mengisi pengajian, kali ini ia terlihat layu. Pada wajahnya tampak bahwa ia merasa kecewa. Apa mungkin kekecewaan itu berasal dari jamaah yang sedikit. Jamaah yang hanya dihadiri tiga bapak-bapak, lima ibu-ibu, dua pemuda dan satu anak perempuan.

"Neng, dari mana?" kata salah seorang ibu. Aku melirik ke arahnya dan tersenyum.

"Saya dari kabupaten bu, ikut pengajian di sini mau liputan kegiatan" jawab ku pada ibu tadi.

"Oh jauh ya neng? Emangnya di sana ga ada pengajian?" kata ibu tadi terus bertanya.

"Ada bu, hanya saja saya ingin meliput kegiatan pengajian di kota" tambahku.

"oh, gitu yah neng" kata ibu tadi kemudian kembali memperhatikan Bapa Djuanda yang sedang memberikan penjelasan mengenai Al-Quran. Kemudian aku mengangguk dan terseyum.

Sinar matahari yang begitu terik tidak menyurutkan langkahku untuk mengikuti pengajian rutin di masjid jami' At-Taufiq. Sebenarnya badanku begitu letih untuk melangkahkan kaki, dikarenakan kegiatan di kampus yang begitu menguras tenaga dan fikiranku. Tapi demi ibadah pada sang Ilahi, akan ku tunaikan walau letih ini tak terbendung lagi.

Sungguh indah dipandang mata, saat aku melihat ruang yang tidak megah tapi menawan. Masjid yang nyaman didalam seterik apapun matahari diluar. Masjid yang selalu ramai oleh jama'ah yang siap mendengarkan ceramah dari sang guru. Akupun duduk di antara para jama'ah, menikmati suasana yang khidmat ini. Suasana yang membuatku semakin jatuh cinta dengan masjid ini.

Rasa letih pun hilang, tergantikan oleh semangat yang menggebu untuk mendengarkan siraman rohani yang menyejukkan hati. Rasanya, tak pernah terasa sepi. Jama'ahnya pun cukup stabil, mayoritas memang ibu-ibu.

Acara ceramah pun di tutup dengan bersama-sama mengucapkan hamdalah. Memang tidak terlalu lama ceramahnya, hanya 2 setengah jam.  Itupun dipotong dengan pembukaan dan shalawat. Walau bagaimana pun bersholawat adalah bagian dari proses yang sangat penting dalam acara pengajian. Saat tiba waktu shalat ashar para jama'ah dengan tertib berwudhu dan melaksanakan shalat ashar berjama'ah. Tak kalah heboh suara anak-anak yang sedang bersekolah diniyah ikut meramaikan masjid. Mereka sangat bersemangat melafalkan doa setelah selesai adzan.  Begitulah seterusnya kegiatanku saat mengikuti pengajian.

Sungguh tak pernah terasa sepi, ramai , dan sangat menyejukkan hati. Senang sekali rasanya bisa menjadi bagian dari jama'ah masjid. Selain mendapatkan pencerahan hati dan ilmu pengetahuan, aku juga mendapat teman baru. Karena disamping masjid terdapat pondok pesantren putra dan putri. Untuk asrama putra memang terletak percis disamping masjid tapi untuk asrama putri letaknya agak jauh dari masjid sekitar 10 meter, asrama putrid terletak di belakang kediaman bapak ketua DKM. Para santri di Miftahut Taufiq tidak hanya dari kalangan mahasiswa sama seperti ku, tapi ada juga yang masih bersekolah dan sudah lulus kuliah.

Oh iya, sebagian dari masjid di gunakan untuk anak-anak sekitar bersekolah diniyah. Jadi jangan heran kalau suasana ramai sangat kental disini. Selain ceramah, pengajian ini diisi dengan pengajian Al-Qur'an Tajwid dan pengajian kitab. Jadi lengkap sudah rasanya ilmu yang ku dapat. Pengisi ceramah di masjid jami' At-Taufiq ini juga di datangkan dari luar kecamatan cibiru loh, jadi bukan hanya dari kalangan warga setempat saja. Dan setiap akhir pengajian para jama'ah kompak mengumpulkan kencleng untuk keberlangsungan sarana dan prasarana jama'ah masjid.

Sedikit informasi, masjid ini berada di Jln. Mekarsari ,1 Rt 02 Rw 09, kelurahan Pasir Biru, kecamatan Cibiru, kota Bandung. Letaknya memang di tengah- tengah pemukiman warga., memang agak susah di cari. Tapi, jangan khawatir karena terdapat plang besar di gang jalan menuju masjid. Ketua DKMnya bernama KH. Aceng Saefudin, umur bapak ketua DKM memang sudah cukup tua. Tapi jangan salah, walaupun sudah tidak muda lagi, bapak ketua DKM masih aktif memberikan ceramah atau terlibat dalam kegiatan masjid atau pondok pesantren Miftahut Taufiq. Tapi terkadang saat penyakit masa tua tak bisa di hindari, urusan masjid dan kegiatan pondok pesantren di serahkan kepada anak dan menantu beliau.

"Ya, namanya juga sudah tua neng, kalau sudah kumat gak bisa di paksain lagi", aku pun hanya tersenyum mendengarnya. Oh iya, rumah bapak ketua DKM berada tepat di depan masjid. Jadi, kalau di ibaratkan hanya satu langkah saja untuk mencapai masjid.

"Dulu saya sengaja ngebangun rumah di dekat masjid, biar rajin ke masjidnya. Terus kalau gak ke masjid malu sama tetangga, yang jauh aja sholat di masjid masa yang dekat nggak?" lagi-lagi aku di buat tertawa oleh pak DKM. "bener juga ya pak? Bisa jadi tabungan amal ibadah juga di akhirat nanti". Kalau di fikir-fikir sih memang sangat beruntung sekali kalau rumah kita berada di dekat masjid, selain akan sering terlibat di kegiatan yang di adakan di masjid. Karena, masjid ini berada di tengah-tengah komplek mekarsari jadi tak banyak di singgahi oleh para pejalan kaki atau pengendara yang lewat di jalan manisi cibiru, hanya ramai oleh warga sekitar sekitar dan anak-anak yang bersekolah diniyah saja.

"Inikan fasilitas warga, ya harus di bangun di tengah-tengah komplek biar kejangkau sama seluruh warga yang ada disini, anak-anak jugakan aman kalau mau pada sekolah diniyah, gak harus ngelewatin jalan raya. Namanya anak-anakkan  suka lari-larian, kalau masjidnya di pinggir jalankan bahaya  takut gak ada yang ngawasinkan bisa terjadi apa-apa". Aku hanya mengangguk mendengar penuturan pak DKM. Ada benarnya juga.

Oh iya, ada ada penceramah yang paling di senangi oleh para jama'ah, istilahnya sih terfavorite. Karena, dalam penyampaian ceramah beliau sangat lantang dan bersemangat, namanya ibu Komaniyah, usianya 62 tahun. Pelafalan kata saat berbicara memang sudah tidak jelas, dikarenakan factor umur, gigi beliau sudah pada ompong. Menariknya walaupun sudah lanjut usia, beliau tetap aktif jadi penyalur da'i di kecamatan cibiru dan panyileukan. Beliau ini sangat terkenal dikawasan cibiru dan panyileukan karena dulunya juga beliau aktif menjadi ibu pkk di kecamatan cibiru. Kadang para jama'ah yang mengantuk jadi segar kembali mendengar suara lantang ibu Komaniyah., dan juga kadang terselip guyonan agar para jama'ah tidak jenuh dengan isi ceramah yang beliau berikan.

Saat aku mengikuti pengajian kembali, aku merasa diperhatikan oleh ibu-ibu yang berada di sampingku. "Neng baru liat lagi, kemana aja?" "Ini bu baru kosong lagi waktunya, soalnya kan sekarang lagi ujian akhir semester jadi waktunya kepake sama tugas kuliah". Aku terseyum malu. "Neng teh keponakannya bu dosen kan yah?" "iya bu, keponakannya pak dosennya bukan ibunya, tapi sama aja sih manggilnya uwa hehe" "oh gitu, kirain ibu keponakannya bu dosen soalnya kaya akrab banget" "ah biasa aja bu, mungkin karena sama-sama perempuan jadi keliatan lebih akrab aja hehe".

"Berarti bukan asli Bandung dong ya neng?" "iya bu bukan, saya asli dari Banten, cuma sebagian keluarga aja yang tinggal di Bandung, soalnya dulu nenek saya asalnya dari Bandung". "Jarang pulang dong yah si eneng?" "iya bu, paling kalau libur semester aja, soalnya cape jalannya suka macet". "Sing betah atuh ya neng disininya" "hehe iya bu betah ko, banyak temen sama banyak jajanan hehe".

Senangnya bisa mengikuti rangkaian pengajian di masjid At-Taufiq. Selain para penceramah yang asyik, para jama'ahnya juga baik-baik walaupun berbeda usia yang cukup jauh, para ibu-ibu tidak membedakan kami para remaja yang mengikuti pengajia. Semua sama dalam mencari ilmu. Walaupun aku disini sebagai anak rantau yang jauh dari orangtua. Tapi aku merasa tidak sendiri, karena tak cuma memiliki teman-teman di kampus, tapi di masjid ini aku mendapatkan banyak teman dan ilmu. Sangat menarik sekali, membuatku tak pernah merasa sepi.


Hanifah Fajriani KPI 3/B

Cerpen: Takbir dari Sebuah Sepatu



Hari sudah semakin gelap, pengajian telah usai, jamaahpun telah meninggalkan masjid dan ini saatnya aku melakukan wawancara terhadap Bapa DKM masjid yaitu Bapak Juanda. Wajahnya tidak seperti biasanya. Tanpa menunggu lama aku langsung menghampiri bapak itu. Kemudian aku menjelaskan pertanyaan yang akan aku ajukan padanya.

Ia bercerita banyak hari itu, ia mengatakan bahwa ia merasa sedih dengan jamaah masjidnya. Semakin hari semakin sedikit, mungkin Karena faktor usia dari jamaah masjid. Tapi meski ia hari itu terlihat tak bersemangat dalam mengajarkan mengaji terhadap jamaah, tak ada niatan dirinya untuk mundur dalam jalan dakwah ini. Ia tetap semangat dalam mengajar anak-anak mengaji, ibu-ibu mengaji ataupun pengajian semua usia. Setelah bercerita banyak, ia kemudian tersenyum padaku.

Bapak tua itu mengatakan, ibu yang tadi bertanya padaku adalah istrinya dan satu anak perempuan yang hadir di masjid itu adalah anaknya. Banyak pelajaran yang dapat aku ambil dari pembicaraan antara aku dengan bapa tua itu. Ceritanya menggugah jiwa dan membuat aku terharu, satu keluarga ada di dalam pengajian tersebut, semangat dakwah tidak hilang pada diri mereka. masyaAllah.

Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 09.00 WIB, dan aku harus pulang. Saat aku membuka HP, ternyata ibu sudah menelpon lebih dari dua kali, langsung saja aku pamit pulang dan bapak tua itu mengantarku sampai ke depan pintu masjid. Saat ku coba melirik ke arah sepatuku, aku tak menemukan sepatuku ada di tempatnya. Aku mulai cemas dan panik.

"Bapak, sepatu Hani hilang" kataku pada bapak tua itu dengan ekspresi yang mengharukan.

"Tadi disimpan di mana?" kata bapak tua itu menenangkan.

"Di sini pak" kataku sambil menunjuk ke arah di mana sepatuku di letakan.

Bapak tua itu langsung mencarikan sepatuku. Hari sudah malam aku bingung, bagaimana aku bisa pulang ke rumah. Apa aku pulang tanpa mengenakan alas kaki. Malang nian nasibku hari itu. Bapak tua itu terus saja mencarikan namun sepatu yang sering ku sebut sepatu Cinderella tak ditemukannya. Aku sudah pasrah. Mungkin sepatu itu tak akan pernah ketemu lagi dan hilang selamanya. Aku meminjam sandal jepit milik bapak DKM. Pekerjaan menjadi wartawan memang tak mudah butuh perjuangan dan kerja keras.

Aku pulang dengan muka sedihku. Entahlah rasanya aku ingin menangis di jalanan saat itu. Pulang ke rumah dengan mengenakan sandal jepit milik orang lain dan harus naik angkutan umum. Kesal rasanya, saat itu aku merasa ingin menyerah saja. Tapi tiba-tiba ada motor yang berhenti tepat di depanku ternyata itu Dinar.

"Untuk apa kamu disini?" kataku kesal.

"Cepatlah naik, aku tau sepatu kamu hilang" katanya lembut.

"Aku mau pulang" kataku padanya.

"Aku antar, cepat naik" jawabnya lagi.

Langsung saja ku naiki motornya, tanpa bicara sepatah katapun padanya. Bagiku saat itu Dinar adalah pangeranku. Meskipun dia bukanlah pangeran yang membawa sepatu untuk Cinderella, tapi dia pangeran yang menyelamatkan aku dari kehilangan sepatu Cinderella miliku.

Mungkin aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan sepatu Cinderella ku lagi. Tak apa, aku sudah mengikhlaskannya. Sepatu itu aku kenakan ketika aku melakukan liputan dengan tujuan dakwah. Semoga dia yang hilang menjadi infaq dalam jihadku.

Oleh : Hani Solehatunnisa. KPI/3/B

cerpen : Aku Jatuh Cinta


Namaku Rose Nayl Islam. Biasanya aku dipanggil Nayl, Usiaku 19 tahun, saat ini aku sedang duduk di bangku kuliah lebih tepatnya salah satu Universitas Islam negri yang berada di daerah Bandung.Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung. Aku lahir dari kedua orang tua yang sangat taat dalam beragama namun awalnya aku biasa saja  dalam menjalani kewajibanku sebagai seorang muslim seperti halnya muslim pada umumnya, namun agama yang aku bawa sejak meratapkan tangis di dunia ini mengantarkanku dan menyadarkanku bahwa islam itu teduh.

Semua berawal dari pertemananku dengan Graycia Kristen Lamura. Gadis keturunan Amerika-Turki ini sangat cantik dengan aura yang memesona. Salah satu mahasiswa Universitas Padjajaran yang beragama Kristen Katholik. Biasanya teman-teman memanggilnya Gracia dan kebetulan dia satu kelas dan juga satu jurusan sama teman aku yang kuliah di Universitas Padjajaran.

 "Nayl nanti aku ikut ke kampus kamu ya!" Sapa Graycia di awal hari senin

"Kamu ini seperti baru pertama saja!" karena memang sebelumnya Graycia sudah pernah ikut aku ke kampusku.

Aku dan Graycia memang cukup dekat apalagi bagi Graycia satu-satunya teman yang paling dekat satu sekolah ini adalah aku karena sulit baginya menemukan seseorang yang bisa mengerti kehidupannya. Graycia adalah salah satu bagian dari anak-anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dari sosok kedua orang tua. Graycia juga terlalu sulit mengungkapkan kehancuran keluarga kecilnya itu kepada orang lain. entah mengapa aku jadi semakin tertarik mengekori kehidupannya  namun yang ku hadapi ternyata seorang yang ku kira periang dan salah satu saingan temanku dalam berebut peringkat di kelas ini ternyata memiliki luka kasih sayang yang amat dalam.

"Aku sholat dulu ya Grayc! Sudah jam satu lebih nih!" Jelasku.

"Iya Nay.. nanti aku tunggu di depan aja ya!"

Kali ini Graycia lebih memilih menunggu di depan Masjid Ikomah UIN Bandung. Biasanya dia selalu menungguku di warung Fotocopy sebrang kampus. Sedikit aneh, tapi memang Graycia lebih memilih begitu karena memang dia tidak memakai krudung.

"Oke"

Setelah aku mentuntaskan dzikir dan melipat mukenah biruku, aku segera menghampirinya.

"Ada yang berbeda Nayl"

"Berbeda?" Aku terheran oleh pernyataannya.

"Iya"

"Apa yang berbeda? Kamu sedang ada masalah?" Aku menebak.

"Bukankah masalah itu datang setiap hari?" Graycia membalas pertanyaan.

"Iya sih.. maksud aku…" belum tuntas aku menyelesaikan kata-kata Graycia menyahutnya.

"Broken Home" 

Aku hanya diam tidak menanggapi. Takut menyinggung perasaannya.

"Kenapa diam Nay?"

"Aku hanya tidak ingin…"

"Menyakitimu? Menyinngung perasaanmu?atau…"

"Hey ayolah Grayc kenapa?"

"Sebenarnya aku tidak sedang memikirkan broken home yang aku pikirkan saat ini justru kamu!"

Mendengar pernyataan tersebut aku secepatnya menoleh.

"Grayc… kamu bukan salah satu penderita penyakit menjijikkan itu kan?"

Graycia tertawa. Memandang langit putih yang sedikit membiru.

"Penyakitku lebih dari itu Nayl!"

"Kamu sedang bercanda kan?"

"Nayl…. Aku bahkan tidak sedikit pun serius… perlu kamu ketahui pertama aku masih normal dengan mencintai lawan jenisku yaitu laki-laki, kedua aku tidak sedang ingin membahas keluargaku dan yang terakhir aku sedang membahas kamu!"

Aku tercengang kembali. Graycia memang penuh misteri dari pertama aku mengenalnya dan dia tidak berubah sampai sekarang. Mungkin aku memang lebih tertarik berteman dengannya karena misteri rahasia-rahasia yang belum terpecahkan oleh mata saja.

"Graycia cantik"

"Nayl Islam yang lebih cantik"

Hatiku berdebar saat dia menyebut nama terakhirku. Islam. Entah mengapa rasanya aneh jika seorang seperti Graycia memanggil seperti itu.

"Sudah ceritakan sekarang!"

"Wajah kamu berubah Nay ketika kamu keluar dari masjid itu!"

Aku tercekat.

"Berubah bagaimana?"

"Bersinar, seperti kamu selesai mandi beberapa kali"

Aku terdiam.

"Boleh aku masuk ke masjid?"

"Untuk apa?"

"Hanya ingin melihat. Kenapa? Apa ada hadist yang tidak memperbolehkannya?"

Graycia ingat bahwa aku selalu melakukan tindakan berdasarkan hadist shohih yang tertempel di dinding-dinding rumahku.

"Bukan Grayc… boleh kok… kirain mau mandi!"

Graycia tertawa manis. Aku menunggunya melepas sepatu talinya.

Graycia tidak langsung memasuki masjid dia melihat-lihat dulu tembok masjid yang berlafadzkan tauhid.

"Apa yang pertama kali aku lakukan saat memasuki masjid? Berdo'a?"

Sebenarnya aku tidak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaannya. 

"Karena kamu adalah umat kristiani yang tidak mungkin aku langsung mengajarimu do'a sebelum masuk masjid sebaiknya kamu melangkahkan kaki kananmu terdahulu sebelum memasuki masjid"

"Bagaimana do'a itu?"

Aku terheran. Sangat tidak mengerti keinginannya.

"Yakin?"

"Bukankah itu ilmu? Pelit sekali!"

"Graycia…."

"Nayl Islam!"

Lagi-lagi hatiku berdebar ketika Graycia menyebut agama sekaligus namaku. 

"Aku hanya bertanya Nayl"

"Oke, Allahummaftahliabwabarohmatik" Aku mengucapnya dengan tenang.

Graycia langsung memasuki masjid.

"Kamu tadi mengucapkannya?" Aku bertanya sembari mengejarnya.

"Enggak"

"Lalu?"

"Kan aku hanya bertanya Nayl"

Aku terdiam.

"Makanya jadi orang jangan terlalu serius!" Ejeknya

"Aku boleh memisahkan diri dari kamu kan?"

"Pertanyaan apa lagi Grayc? Kita bukan Amoeba Sp ya…, iya aku tunggu kamu di luar tapi.."

"Aku hanya berjalan-jalan dan melihat-lihat isi masjid ini Nayl tenang saja!"

Aku percaya kepada Graycia. Gadis seperti dia bukan tipe-tipe penjahat. Aku berjalan keluar masjid dan membiarkannya di dalam sendirian.

Aku menunggunya lebih dari tiga puluh menit, setelah itu aku memastikannya ke dalam.

Aku melihatnya tertidur miring di tempat jama'ah pria.

"Grayc.. Kamu tertidur?"

Graycia bangun dengan matanya yang memerah.

"Nayl…"

"Ada apa?"

"Aku nyaman berada disini Nayl… disini jauh lebih nyaman dari laut, taman atau bahkan rumahku!"

Belum aku merespon ucapannya dia melanjutkan kalimatnya

"Aku belum pernah senyaman ini Nayl di gereja pun aku tidak pernah merasa setenang ini, yang aku rasakan justru kegelisahan"

Aku tertegun mendengarnya.

"Nayl… mengapa disini begitu nyaman?"

"Karena disini tempat orang-orang beribadah dan berbuat baik, berdo'a, berdzikir, da segalanya berhubungan dengan sang Pencipta"

"Aku mulai tertarik"

Aku menangis.

"Kenapa kamu menangis Nayl"

"Aku semakin jatuh cinta dengan Islam Grayc!"

Sekarang aku percaya dan aku sangat yakin bahwa islam itu agama yang sangat indah. Islam selain bisa mendatangkan kesejukan dan ketenangan dalam hati pemeluknya ,dengan tempat ibadahnya pun Islam dapat menenangkan hati yang beragama non Islam.


Nama : Fitri Febrianti/ KPI 3B
-End-

Cerpen: Teman Lama


Di sudut komplek, sebuah masjid berwarna hijau berdiri kokoh dengan orang - orang yang keluar dari pintu-pintunya. Shalat Ashar sudah selesai dilaksanakan beberapa menit lalu. Satu - persatu anak - anak mulai memasuki masjid, menaruh tas-tas kecil mereka, kemudian bersenda gurau, berlarian di dala masjid. Sebagian anak duduk bersandar sambil membaca buku Iqra' sambil sesekali mendapat gangguan juga bantuan dari temannya.

Seorang lelaki menuruni tangga di belakang bangunan masjid dengan menggenggam sebuah spidol di tangan kanan dan beberapa buku di tangan kirinya. Lelaki itu menuju tempat wudhu untuk membasuh beberapa anggota tubuhnya kemudia berjalan memasuki masjid. Sampai di pintu, anak - anak berlarian menghampirinya untuk sekadar mencium tangan atau mengiringinya untuk sampai di tempat duduknya.
Anak-anak itu mulai duduk berjejer dengan rapi ketika mengetahui guru mereka sudah siap memulai pelajaran. Bacaan doa sebelum belajar mulai menggema di ruangan masjid karena semangat anak - anak ketika membacanya. Setelah itu, bacaan huruf - huruf hijaiyah mulai terdengar. Beberapa terdengar lancar meskipun sebagian terbata - bata. Lelaki itu mengamati dengan seksama dan dengan telatennya membetulkan jika ada kekeliruan dalam bacaan.

Suasana belajar-mengajar berlangsung seperti itu sampai seorang gadis berjilbab biru langit datang memasuki masjid. Berucap salam sambil tersenyum kaku, kemudian duduk di seberang tempat belajar anak - anak.
***
"Maaf menunggu lama." Lelaki itu menghampiri gadis yang tengah mengamati anak-anak yang berlarian keluar meninggalkan masjid.

"Tidak apa - apa. Bisa langsung kita mulai sekarang?" ujar gadis itu sambil membuka halaman buku catatan yang dipegangnya.

Lelaki itu mengiyakan kemudian membetulkan tempat duduk agar tidak terlalu dekat dengan gadis tersebut.

"Jadi, bagaimana awal mula kamu bisa tinggal di sini?" Gadis itu membuka pembicaraan.

"Aku adalah mahasiswa perantauan yang tentunya membutuhkan tempat tinggal. Sebelum tinggal di masjid ini, kusewa rumah kontrakan di daerah dekat kampus. Setelah tinggal selama tiga bulan, temanku mengajak untuk tinggal di masjid dan tentu saja aku menerima tawaran tersebut," jelas lelaki bernama Hamid tersebut.

"Kamu juga mengajar anak - anak, bukan? Bagaimana pengalamaanmu saat mengajar anak-anak?"

"Bisa berbagi ilmu dengan anak - anak itu sangat menyenangkan. Setelah seharian berjibaku dengan kepenatan di kampus, berinteraksi dengan anak-anak bisa menjadi alternatif untuk menyegarkan kembali pikiran,"

Hamid berhenti sejenak kemudian melanjutkan perkataannya, "memang tidak mudah mendidik anak - anak yang memiliki berbagai macam karekter. Beberapa anak memang penurut, tapi tidak sedikit yang bisa dikatakan bandel." Lelaki itu terkekeh.

"Bagaimana dengan bersikap tegas pada mereka?" tanya gadis itu penasaran.

"Sikap tegas memang diperlukan, tapi aku bukan orang yang bisa dengan mudahnya memarahi anak - anak apalagi melakukan tindakan fisik untuk mendisiplinkan. Mereka itu sosok yang polos. Sekali saja kamu mengoresnya, bekasnya akan tertinggal sampai mereka dewasa."

"Woa, kamu terlihat seperti sudah siap memiliki anak saja," gurau gadis itu. Keduanya tertawa.

Obrolan terus berlanjut hingga tanpa terasa matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya. Ta'mir masjid yang lain mulai mempersiapkan untuk adzan Maghrib.

"Kita lanjutkan perbincangan menarik ini lain waktu." Gadis itu membereskan catatannya ke dalam tas.

"Ya, senang bisa berbagi pengalama denganmu."

Keduanya kemudian bergantian mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat.
***

Sudah beberapa hari berlalu sejak perbincangan Hamid dengan gadis itu. Aktivitas di masjid berjalan seperti biasa. Anak-anak yang mengeja huruf - huruf hijaiyah, orang-orang yang melaksanakan shalat berjama'ah, serta suasana komplek yang sepi pada siang hari menandakan masyarakatnya adalah pekerja keras.

Tidak ada yang berbeda, kecuali gadis yang tidak datang lagi setelah janji "lain waktu"-nya untuk melanjutkan obrolan menarik.

Matahari sudah benar-benar tenggelam berganti bulan yang tampak seperti siluet senyuman dengan sudut runcing dan jama'ah shalat maghrib sudah membubarkan diri ke rumahnya masing-masing.

Dari ujung jalan, gadis berjilbab ungu dengan menenteng sebuah kantong berukuran sedang berjalan tergesa – gesa. Ketika sampai di pintu masjid, ia menghampiri lelaki yang duduk di dekat jendela masjid.

"Assalamu'alaikum." Gadis itu mengucap salam dan langsung mengambil tempat duduk.

"Wa'alaikumsalam. Kamu tahu, kedatanganmu itu seperti hantu, setelah beberapa hari tidak terlihat, lalu sekarang tiba – tiba dengan tegesa – gesa. Apa hobimu itu datang dan pergi sesuka hati?" Sindir lelaki itu sambil menyodorkan kotak tisu.

"Ada beberapa keperluan yang harus kuurus. Terima kasih," ujar si gadis sambil mengambil mengelap keringatnya yang ada di kening.

"Oh, ya, ini untukmu," lanjutnya dengan menyodorkan jinjingan yang dia bawa.

"Apa ini semacam sogokan?" Hamid menatap sangsi kantong kecil di depannya.

"Ini bentuk ucapan terima kasihku." Gadis itu berusaha meluruskan.

"Untuk?"

"Informasi yang sudah kamu berikan." Keduanya terkekeh.

"Apa lagi yang ingin kamu tanyakan?" Rupanya lelaki itu sudah tahu maksud kedatangan si gadis.

"Ini yang terakhir. Apa yang membuatmu betah menjadi pengurus masjid ini, padahal beban sebagai mahasiswa itu cukup berat apalagi dengan tugas yang tidak sedikit?" Gadis itu membolak – balik lembaran buku catatannya.

"Tugas kuliah memang tidak sedikit. Masjid ini sudah kuanggap sebagai tempat tinggalku sendiri, jadi mau tidak mau aku harus bertanggung jawab untuk menjaga dan mengurus tempat tinggalku," ujar Hamid.

"Bagiku sendiri, ibadah itu tidak terbatas. Jika menuntut ilmu adalah ibadah, maka mengurus masjid pun juga ibadah," lanjutnya.

"Apa kamu benar – benar akan menghabiskan masa mudamu di sini?"

"Tidak ada salahnya, kan, memanfaatkan waktu muda untuk beribadah dan memberi manfaat kepada orang banyak. Bukankah khoirunnas 'an fa-uhum linnas? Sebaik – baik manusia adalah yang memberi manfaat untuk manusia lain" lelaki itu malah menjawab dengan pertanyaan retorik.

"Meskipun melelahkan, tapi selama kita memiliki kesempatan sebaiknya kita mengambil kesempatan itu karena arrohatu fil Jannah, istirahat itu waktunya di surga," tambahnya.

"Sepetinya kamu yang lebih cocok menjadi pendakwah. Kupikir, setelah lulus, kamu akan banyak memberikan khutbah – khutbah di banyak masjid besar." Celetukan gadis itu membuat Hamid lagi – lagi dibuat terkekeh geli.

Percakapan selalu berjalan tanpa memandang waktu. Selalu tanpa terasa waktu berlalu ketika mereka membincangkan hal – hal yang sifatnya penting sampai yang tidak penting.

"Aku harus pulang. Sekali lagi terima kasih banyak. Kamu sangat membantuku dalam menyelesaikan tugas ini. Mungkin jika ada lain waktu yang tepat, kita bisa berjumpa lagi dan membicarakan banyak hal."

Obrolan mereka terhenti. Gadis itu membereskan catatannya dan bergegas meninggalkan masjid.
***

Tidak ada yang menyangka, celetukan gadis itu tentang menjadi pendakwah adalah obrolan terakhir lelaki dan gadis itu. Tidak ada komunikasi selanjutnya.

Masih terbayang perbincangan mereka lima tahun lalu. Tentang riuh oleh senda gurau anak – anak di masjid ini, tentang pertanyaan – pertanyaan si gadis, tentang jawaban – jawaban bijak lelaki itu, dan tentang – tentang lainnya yang berhubungan dengan interaksi mereka.

Setelah selesai menyampaikan ceramah berkenaan dengan Maulid Nabi Muhammad, aku menuruni tangga mimbar untuk menghampiri ketua dewan kemakmuran masjid. Kami berbincang – bincang sampai seorang pemuda yang usianya kira – kira lima tahun lebih muda dariku menghampiri kami.

"Ustadz, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Dari kawan lama, katanya. Beliau menunggu di depan masjid," ujar lelaki itu sopan.

"Baiklah. Terima kasih."

Aku berpamitan pada ketua DKM dan menuju depan masjid untuk menemui seorang –yang katanya– teman lama.

Kulihat seorang gadis berjilbab merah muda sedang duduk dengan anggun di kursi depan masjid.

"Permisi, apa anda yang ingin bertemu dengan saya?" aku menyapanya.

"Hamid, bagaimana kabarmu? Tidak kusangka, tenyata kamu benar – benar menjadi seorang pendakwah. Sudah berapa banyak masjid besar yang kamu beri khutbah?" ujar gadis itu antusias.

Aku terterkejut dengan respon gadis itu. Membuatku terpaku dan hanya ada satu hal yang terlintas di benakku.

"Ternyata gadis ini yang tiba – tiba menghilang tidak kembali lagi ke masjid setelah lima tahun berlalu. Ternyata gadis ini, seorang teman lama..."

Selesai

GEMINTANG



Cerpen oleh: M. Sabilulhaq Mardhatillah

Malam itu, Andini berdiri di depan jamaah setelah penampilan anggunnya, raut wajahnya seolah terpaut kerinduan mendalam pada keindahan yang mungkin akan ditemuinya kelak: Dia yang Maha. Suara merdunya menggema di pelataran masjid, alif... lam... mim..., bunyi huruf yang ia lontarkan terdengar jelas dan berakar tajwid-tahsin. Membuat dadaku bergetar tanpa komando.

Mungkin ini yang dimaksud dalam kalimat suci itu, kalimat yang berbunyikan keimanan akan membuat getar pada hati manusia yang diperdengarkan rasa ketauhidan. Ya, mungkin saja!?

"Indah..." kesan tertarikku ketika mendengarnya untuk pertama kali. Aku merasa, jika ini waktunya untuk mengerjakan tugas media, mungkin akan sangat cocok jika kusandingkan dengan prilaku seorang wartawan yang harus ditanamkan dalam dirinya, "mencari kebenaran". Dan satu-satunya kebenaran yang ingin kutahu darinya ialah: "Benarkah dia tetap sendiri?"

Tiga malam berturut-turut, perasaanku masih saja seperti ini. Demikian pula tindakanku, hanya diam dan menikmati lantunan ayat yang ia baca. Cemas. Sesekali sebelum naik ke atas mimbar untuk membacakan ayat suci Al-Qur'an, ia melirikku sekilas. Tidak banyak kejadian fisik yang terjadi. Batinku seolah berikrar dengan nada yang jauh-jauh dari sifat kejenuhan, "Aku adalah hati, saat ini ada pesta dalam diriku."

Gila? Tidak!

Aku jatuh cinta dengan cara yang tepat, meski belum sempat berempat mata dengannya. Tidak, bahkan berniat pun belum. Mungkin esok, lusa..., atau takkan pernah.

Lagi-lagi suara merdunya menggema di atas telingaku, nada itu seolah memaksa masuk, langsung ke otak kananku yang tengah tertidur. Kembali lagi perasaanku menukik tajam. Senyum hangatnya menelusup dari puing-puing dinginnya udara malam. Tik... tik... tik..., entahlah, suara sekecil dentik jam tanganku mendadak bergema. Batinku.

Wajah awan sudah menepis, gemuruh yang sedari tadi mengisyaratkan hujan telah menghilang. Bahkan seolah terhapus, ia benderang, sampai bintang-bintang dalam gurauan Tuhan kembali lagi menyapa senyumnya. Andai..., aku berandai-andai dalam kecemasan. Rona wajah yang tersirat darinya membuatku cemas akan arah pandang yang tak jelas. Seorang lelaki di ujung serban menyambutnya dengan senyuman.

Hendak menuruni tangga, lelaki itu menghampirinya seraya berujar dalam kegirangan, sunyi dan tenang. Aku tak mendengarnya sedikit pun, hanya saja, yang kuketahui hanya satu.
Aku cemburu.

***
Kembali kulihat para gemintang. Mengingatkanku pada sebuah novel karya Habiburrahman El-Shirazy. Ketika para santri meniatkan hati untuk terjun dalam satu kalimat yang indah: Fastabiqul Khairat. Ya. Gemintang yang kumaksud bukanlah benda langit yang kerap tertutup keindahannya oleh awan. Namun merekalah para pejuang Al-Qur'an yang tengah berunjuk kebolehan dalam tajwid, tahsin, tarjim dan tahfidz.

***
Aku tertunduk dalam kesunyian, sembari ujung komentar menggemakan rasa bangga. Seorang MC berdiri dengan senyuman, nadanya tertahan dalam perhentian napas sebelum akhirnya membuka dengan salam.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh..." tukas salah seorang MC. Seolah menularkan semangat, jamaah yang hadir pun serentak menjawab salamnya. "Ya..., hari ini kita harus bangga, para pejuang Qur'an sudah bisa menularkan senyuman mereka pada kita. haha... Berarti sekarang, semua sudah siap ya!?" sambung MC itu kemudian.

"Bagaimana? Jadi kita bacain langsung aja kali ya..." ujar MC yang satunya lagi. Seluruh ruangan seketika bergemuruh. Sebentar lagi akan dibacakan pemenang dari masing-masing lomba, membuat detak jantungku bergetar lebih cepat.

Ya, aku adalah salah satu dari mereka, Para Bintang yang dalam hatinya terpaut kerinduan mendalam. Aku ingat saat seisi ruangan diam mendengar bacaan Qur'an-ku. Sedikitnya aku menyimpan bangga, namun masih saja seperti tak terkendali, aku masih cemas. Kemudian kulirik saingan terberatku Andini. Wajah meronanya menggambarkan mental yang kokoh, bahwa dia seorang pemenang sejati.

Aku sudah dua kali kalah darinya, penampilan-penampilannya selalu saja luar biasa. Mentalku semakin ciut saat salah seorang juri menampakkan raut terpukau pada tiap penampilannya. Aku cemburu. Jelas, dia benar-benar luar biasa.

"JUARA TIGA... DIRAIH OLEH...."

"DIRAIH OLEH...."

Tibalalah saat yang ditunggu-tunggu, pembacaan gelar juara mulai terasa hawa kerasnya. Aku terdiam bukan mengamati, keringat dinginku bercucuran dari pori-pori dahiku. Tak fokus, tentu saja rasanya aneh, yang kurasakan bukanlah takut kalah, namun berharap supaya yang disebutkan MC sebagai juara ketiga adalah Andini. Entahlah, aku tak mau kalah darinya, atau mungkin tak ingin melihatnya menang. Sebagai saingan ketat yang selalu akrab, kurasa kehendakku terlalu berlebihan.

"AN...." Satu suara membuatku terkejut, ada kegetiran yang terasa menyenangkan. "ANDRA...." teriaknya melengkapi.
Yah... ternyata bukan, kekecewaan menghinggapi benak terdalamku.

"JUARA DUA... DIRAIH OLEH...."

"DIRAIH OLEH..."

"NAILAAA..."

Glek... Aku salah mengharapkan sesuatu. Aku mengharapkan kekalahan pada orang lain tanpa memikirkan diriku sendiri. Ah, rasanya berdosa sekali. Biasanya aku berada pada tahta yang saat ini diterima Naila, juara kedua. Cemas, jika Andini saja mendapat apresiasi begitu baik, sedang tahta ketiga dan kedua sudah dimenangkan orang lain, maka tak ada harapan lagi. Andinilah juara pertamanya.

Aku 'tlah salah mengharapkan sesuatu. Dan benar saja, sahut kegirangan menggema dari seluruh titik berkumpulnya jamaah yang menonton. Ruangan utama sampai beranda masjid penuh oleh penonton. Sudah dipastikan Andini-lah juara pertama, dan aku hanya diletakkan pada tahta biasa sebagai pemenang harapan.

Ya. Mungkin memang ini yang seharusnya terjadi, kecemburuanku tidak berdasar pada hal yang benar. Namun tentu, inilah awal yang benar. Ini bukan kekalahan, jangan juga ada penyesalan. Satu... dua... tiga..., seharusnya angka ini bukanlah masalah besar bagiku. Dan memang tidak boleh menjadi masalah.

Aku pun sadar akan sesuatu, pertanyaan yang kerap terngiang dalam kepalaku mengenai dia yang tetap sendiri terjawab sudah. Ia telah mengatakannya dalam tindakan, dalam lantunan mesra ayat-ayat Al-Qur'an. Ya, dia masih sendiri, sendiri dan tetap menduduki tahta pertama sendiri.

Kini aku paham. Aku jatuh cinta dengan cara yang tepat; mencintai jati diri yang
tepat; kitab suci yang tepat.

Dia... Azza wa jalla.

Tak Ada Batas Usia untuk Beramal



Cerpen oleh : Fitriyani Maryani

    Terik matahari membuatku penuh dengan keringat, kuusap sejenak kelelahanku sambil menyusuri jalan dengan mengendarai sepeda motor kutengok kanan dan kiri. "Disana, berhenti disana ri. Ada sebuah masjid di pinggir jalan" Ujar temanku. Kami sedang mencari sebuah masjid untuk tugas mata kuliah. Namaku Fitriyani, teman-temanku biasa memanggilku Riri dan temanku ini namanya Ima. Kami mendapatkan tugas penelitian/liputan tentang Masjid dari salah satu mata kuliah yang sedang kami jalani di semester 3 ini. Akhirnya aku mematikan sepeda motorku dan memarkirkannya di halaman masjid. "Permisi pak.. Boleh saya bertanya, DKM Masjid ini siapa ya?" ujarku. Saat itu kami sedang bertanya-tanya kepada salahsatu marbot yang ada di masjid. Segeralah marbot itu memberitahu dan kami langsung menuju rumahnya.

"Benarkah ini rumahnya?" Ima pun mulai memastikan.

"Aku pikir memang ini rumahnya" Jawabku.

Seiring waktu berjalan setelah kami mendapatkan satu masjid, aku sepakat masjid ini yang akan dijadikan penelitian Ima untuk tugasnya. Lantas aku mencari masjid lain dan kami berkeliling, setelah beberapa menit akhirnya kami menemukan salahsatu masjid yang berada di tepian jalan. Aku bertanya kepada Ibu-ibu yang sedang mengobrol di warung dekat masjid itu.

"Assalamu'alaikum.. Punten bu, kalau DKM masjid ini rumahnya di mana ya?" Tanyaku tanpa basa-basi,

"Wa'alaikumsallam neng. Oh DKM nya bapak Endang, rumahnya masuk gang pinggir masjid ini." Jelas seorang ibu yang terlihat sudah berumur. Akupun mengangguk bingung dengan jawaban ibu ini, aku tidak tahu pasti dimana rumahnya jika aku sudah memasuki gang itu.

"Hayu bareng sama ibu aja neng, kebetulan ibu mau pulang dan rumahnya dekat dengan rumah ibu." Ajaknya.

"Oh iya bu dengan senanghati, hatur nuhun bu." Berjalanlah kami menuju rumah DKM Jami Miftahussa'adah.

Aku dan Ima tidak mengetahui siapa nama ibu ini, namun perjalanan kecil kami di iringi dengan obrolan ringan berkat adanya si Ibu. Sesampainya ditempat tujuan langsung aku mengetuk pintu bapak Endang. Ucapan salam sudah terlontar 3kali dari mulut kami dan tak ada satupun jawaban. Hadirlah seorang anak SD yang terlihat akan memasuki rumah itu, "Dik, adik penghuni rumah ini? Bapak Endang nya ada? Boleh dipanggilkan bapaknya." Entah kenapa aku langsung menanyainya dengan berbagai pertanyaan inti, lagi-lagi tanpa basa-basi. "Iya teh, duka atuh. Bentar ya.." Ujar anak itu memasuki rumahnya. Tak lama seorang kakek paruh baya muncul di hadapan kami. Aku menanyakan beberapa pertanyaan dibantu Ima dan mencatat data yang aku perlukan. Dengan keterbatasan pendengarannya bapak Endang menjawab pertanyaan kami. Yang kami butuhkan untuk tugas awal hanya data Masjid nya saja, maka dari itu hanya beberapa ulasan pertanyaan dan kami langsung pulang.

Hari sudah gelap menandakan giliran bulan yang bersinar, aku membuka kembali catatan yang tadi siang tentang data Masjid Jami Miftahussa'adah. Kulihat kembali dengan teliti dari lensa kacamata ini, ternyata nomor telepon nya tidak ada. Ah aku baru ingat tadi bapaknya lupa dengan nomor teleponnya dan entah kenapa aku buru-buru lantas aku jawab tidak apa-apa lain kali saja. Bodohnya aku padahal itu salahsatu sumber untuk menghubunginya.

Beberapa hari kemudian aku dan Ima menyusuri kembali jalan menuju Masjid, ku naikan gas motorku kali ini untuk wawancara. Kupersilahkan Ima untuk pertama mewawancarai narasumbernya, kutemani dia. Sudah beberapa menit berlalu dan usai sudah wawancaranya. "Alhamdulillah gak ada hambatan ya ri." Ujarnya lega dan aku hanya tersenyum menjawabnya. Petang ini aku kembali menuju rumah bapak Endang yang akan ku wawancarai.

"Silahkan masuk.." Bapak Endang mempersilahkan.

"Iya pak, terimakasih." Jawab kami sungkan.

Sebenarnya beliau sedang beristirahat tidur siang, aku merasa tak enak kepada beliau. Tapi mau bagaimana lagi sudah terlanjur kami mengganggunya. Sejarah berdirinya Masjid aku tanyakan kepadanya, terkadang pertanyaan dan jawaban tidak nyambung sama sekali. Aku maklumi saja karena memang beliau sudah lanjut usia. Setelah mendengar ceritanya tentang sejarah Masjid ini aku bertanya bagaimana bisa beliau masih menjadi seorang DKM di usia lanjutnya sekarang. Panjang lebar beliau menjelasakannya kepadaku.

Ternyata memang ada seorang donatur yang berpesan dulu ketika beliau masih muda dan sudah menjadi DKM Jami Miftahussa'adah bahwa tidak boleh mengganti DKM nya sebelum bapak Endang meninggal. Aku sontak kaget, memangnya alasan apa yang membuat donatur tersebut berkata seperti itu. Singkat cerita maka dari itu sampai sekarang tak ada yang menggantikan beliau. Bukan karena tidak ada orang yang ingin menggantikannya, hanya saja bapak Endang memang tidak akan menyerahkan posisi itu kepada orang lain sebelum beliau meninggal dunia. Beliau hanya ingin menjaga amanah donatur tersebut.

Memang tidak sulit menjadi seorang DKM dan menjalankan tugasnya apalagi masjid ini memang tidak begitu besar. Namun di usia 70 tahun keatas bukankah seharusnya beristirahat apalagi dengan kondisi yang mulai renta. Aku terheran-heran dengan Ima, dengan penasaran Ima bertanya.

"Pak, bagaimana rasanya menjaga amanah itu dan apa keluh kesahnya sejauh ini, apakah bapak merasa kesulitan?"

"Tidak ada kesulitan sejauh ini bapak senang-senang saja dan sudah kewajiban bapak menjaga amanahnya. Selagi bapak masih bisa beramal kenapa tidak. Lagi pula bapak kan menjaga rumah Alloh, tidak ada satupun kesulitan yang bapak rasakan" Jelasnya. Kami tersentuh dengan jawaban beliau.

"Lalu bapak akan menjadi DKM sampai maut menjemput?" Tambahku.

"Iya, insyaalloh selama bapak masih mampu. Jamaah disini juga sudah pada tahu kalau bapak sudah lama menjadi DKM di Masjid Jami Miftahussa'adah." Jawabnya.

Setiap sebelum adzan bapak Endang Abdurrohim selalu melangkahkan kaki nya menuju tempat beribadah umat Islam itu. Tak terlewatkan setiap waktunya sholat dari subuh hingga isya kecuali saat kondisinya sedang sakit. Jamaah yang sering sholat di masjid pun memang rata-rata orangtua renta, namun tak sedikit anak-anak muda yang memenuhi masjid itu. Kegiatan pengajian yang aku tahu pun hanya pengajian bapak-bapak. Namun bapak Endang tidak berhenti menjadi tamu Baitulloh tersebut.

Kami terenyuh dengan kisah beliau yang menjadi inspirasi bagi kami. Betapa berharga sebuah keikhlasan bagi siapapun hingga menjadi sebuah amalan sholihah bagi yang menjalankannya. Beliau menunjukkan kepada kami bahwa jika ingin beramal maka jangan kenal  usia, waktu, dan usaha. "Semoga Alloh senantiasa memberi bapak kesehatan untuk bisa terus beramal." Ujarku kepada beliau. "Aamiin, terimakasih neng." Pamitlah kami kepada beliau. Ku putar balikkan motorku dan melaju ke arah jalan pulang.

Penulis, Mahasiswa KPI UIN Bandung       

Antara Aku, Kakek, dan Masjid





Cerpen oleh: Megandini Al-Fiqri

Suara jangkrik, kodok, dan puji-pujian di Masjid kian bersautan. Waktu menunjukan pukul 2.30, nenekku sudah bangun tahajud, kemudian pergi ke dapur  seraya menyalakan api di hawu. Aku sendiri kembali membenahi tidurku agar tertutup rapat selimut. Kami tinggal berdua di sebuah gubuk dekat pesawahan desa Cijengkol.

"Den, Bangun! Ngaji! Ayo cuci muka! Cepat pergi ke Masjid!" aku terbangun dari tidurku. Nenekku memang seperti itu, ia selalu membangunkan ku 2 jam sebelum adzan berkumandang. Terkadang, aku kesal, mengapa beliau menyuruhku pergi ke Masjid sepagi itu. Padahal, mataku masih mengantuk, badanku pun menempel rapat di kasur, lagipula di Masjid tidak ada siapa-siapa. Yang ada hanyalah Kakek Tua penunggu Masjid yang sedang komat-kamit wiridan.

Aku buru-buru pergi ke Masjid, tidurpun takkan nyenak. Nenekku akan terus mengoceh hingga aku bangun dan pergi ke masjid. Tak lupa kucium punggung tangan Nenekku yang sudah keriput. "Umi, Nden berangkat dulu yah," ucapku pada nenek.

Sesampainya disana, seperti biasa aku duduk diteras masjid sambil mengamati sekeliling bangunan masjid yang kokoh dan klasik. Namun, seketika pandanganku terpaku kearah kakek tua yang duduk didekat mimbar. Seperti biasa ia duduk menghadap utara, tasbihnya terus diputar-putar oleh jemarinya, matanya begitu sayu, badannya sudah tak sekuat dulu lagi. Namun, senyuman yang tersungging dari bibirnya memiliki ketentraman tersendiri bagi yang melihatnya.

Tak kusangka, kakek tua itu melambaikan tangannya ke arahku. Aku menoleh ke kanan dan kekiri, tidak ada siapa-siapa disana kecuali diriku. Akupun menghampirinya. "ada yang bisa saya bantu kek?" kakek tua itu tidak mengatakan apapun, ia hanya menunjukan tangannya pada karpet masjid, ia memberi isyarat kepadaku agar duduk didekatnya.

Kakek itu mulai membuka mulutnya dan berkata kepadaku "Muka bumi ini semuanya dihamparkan oleh Allah sebagai masjid, tempat yang kamu duduki sekarang hanya fasilitas manusia untuk bersujud. Sayangnya, tidak banyak orang yang senang mengunjungi tempat ini. Mereka hanya menganggap Allah sebagai pelayan mereka, padahal mereka sendiri adalah Hamba-Nya. Datang saat memiliki permintaan, tapi lupa mensyukuri saat diberi. Kakek, nitip masjid ini ya. Kamu gantikan Abah Shalawat disini,"ucapnya. Kemudian kakek itu menyodorkan mic yang menyala kearahku. Aku hanya dapat menganggukan kepala mengamini permintaan kakek itu. Dengan ragu-ragu mulai kuambil mic itu dan bershalawat. Awalnya aku canggung, namun lama kelamaan aku nyaman bersenandung  shalawat disana. Aku menoleh kebelakang, aku kaget kakek tua yang tadi aku lihat sudah tidak ada.

Tak lama kemudian, tiba-tiba Pak Parman ketua RT desa Cijengkol, masuk masjid dengan tergesa-gesa. Akupun mematikan mic dan duduk menjauh dipojok ruangan.

"INNALILLAHI…WA INNA ILAIHI ROOJIUN 3*

TELAH PULANG KE RAHMATULLAH ABAH SUMA BIN MALIK PUKUL 02.30 DI RUMAH SAKIT SYAMSUDIN.

BAGI WARGA YANG HENDAK MELAYAT DIHARAP SEGERA MERAPAT KE RUMAH DUKA".

Kakiku seketika lemas, lututku tak dapat digerakan, bulu kudukku  merinding, keringat dingin keluar dari dahiku, aku masih bingung dan tak percaya. Abah Suma, Marbot sekaligus sesepuh masjid ini meninggal, padahal Beberapa menit yang lalu Abah Suma ada di Masjid ini dan sempat mengobrol denganku. Jika Abah Suma meninggal di Rumah sakit, lalu siapa orang yang ada di masjid tadi? Aku tak dapat bercerita kejadian ini pada siapapun termasuk kedua orang tua & nenekku.

Bendera kuning masih berkibar di depan rumah Abah Suma, aku pergi melayat kesana bersama tetangga dan sanak saudara. Mayat Almarhum masih terbujur kaku ditengah rumahnya, dibalut kain putih nan bersih, isak tangis keluarga, dan lantunan ayat suci alqur'an menyatu dalam irama sendu. Kubuka sedikit kain kafan itu, Abah Suma masih tersenyum. "Subhanallah,"ucapku dalam hati. Semasa hidupnya kegiatan beliau memang tak pernah keluar dari lingkungan masjid. Meskipun rumahnya kecil, tapi pelayat yang berdatangan sangat banyak. Ah, bagaimana tidak, semasa hidupnya beliau selalu membantu & meringankan beban orang lain.

Diantara isak tangis duka, terdengar bisik-bisik tetangga yang menyayangkan kepergian beliau "hiks… hiks... hiks, kenapa orang sebaik beliau harus dipanggil duluan Ya Allah. Mungkin Allah sangat merindukannya" ucap salah satu warga disana. "Beliau itu orang yang paling aneh, seluruh uang yang ia miliki ia sumbangkan untuk masjid ini, sedangkan Ia tinggal dirumah kecil seperti ini," tambah yang lain. "Padahal punya kerjaan bagus di kantor pemerintahan, malah pensiun dan jadi marbot masjid walaupun begitu beliau selalu tersenyum dan ramah pada semua orang," sambung yang lain. Pikiranku mengawang-ngawang mengingat perjumpaanku dengan Abah di Masjid.

Sejak hari itu, setiap qobla shubuh aku selalu membacakan lantunan ayat suci Al-Qur'an disana. Tak lupa kupanjatkan doa untuk kakek Suma Marbot Masjid ini. Tak hanya itu, hampir separuh waktuku kuhabiskan di Masjid. ketika terbitnya fajar, hingga terbit matahari pagi aku ada di masjid.  Entah membaca shalawat, Shalat Tahajud, bersih-bersih atau hanya sekedar melamun di serambi masjid. Siangnya aku membantu ibu-ibu mencuci piring atau sekedar menyiapkan camilan untuk ibu-ibu pengajian, Sorenya aku pun sudah standby mengajar anak kecil mengaji di masjid hingga Isya.

Seluruh waktuku ku abdikan disini. Bukan karena wasiat Abah Suma, bukan pula karena rasa takutku akan kematiannya, akan tetapi karena rasa nyaman yang tercipta didalam masjid dan keinginan dari lubuk hati yang terdalam untuk selalu kembali ke rumah Tuhan.

Penulis, Mahasiswa KPI UIN Bandung

Aku, Ciamis, dan Cibiru




Cerpen oleh : Fitrah Maghdalena

Ciamis Tahun 1991

Namaku Herna Sutisna biasa di panggil Herna anak tunggal dari Bapak Engkos dan Ibu Teti. Aku baru saja lulus di salah satu Sekolah Menengah Atas di kota Ciamis, tepatnya SMA terfavorit se-Kota Ciamis. Beruntung aku termasuk anak yang sangat beruntung, tidak semua anak bisa bersekolah disana. Padahal aku anak biasa-biasa saja orang tua ku dua-duanya petani dan rumah ku tidak semegah pejabat konglomerat. Seperti anak pada umumnya aku punya segudang cita-cita salah satunya melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Melanjutkan sekolah kesalah satu Universitas ternama di Bandung. Kota Bandung dengan julukan "Kota Kembang"nya kota sejuta kuliner kota dimana para pengrajin memamerkan keahliannnya. Kota pendidikan dimana para pelajar dari berbagai pelosok negeri berlomba dan bersaing untuk bisa bersekolah di kota yang terkenal Paris Van Java ini.

Namun tidak semudah membolak-balikan telapak tangan untuk pergi kesana. Butuh pemaksaan yang ektsra untuk membujuk kedua orang tua ku. Wajar karena aku anak tunggal, anak yang mereka sangat sayangi. Sore itu...

 "Mak, herna mau pergi ke Bandung. Boleh ya mak?". Suara ku memecahkan keheningan diantara aku dan kedua orang tua ku.

"ngapain kamu kesana nak?" suara lembutnya mulai terbuka.

 "Herna pengen kuliah mak, pengen nyari ilmu di Bandung sama temen-temen yang lain". Dengan penuh keyaninan dan rasa cemas yang sangat akut, aku mulai mengutarakan keinginan ku.

"nyari ilmu mah disini aja na, jangan jauh-jauh kasian emak sama abah disini gak ada yang nemenin". Terlihat raut kekecewaan dar wajah cantiknya.

Apa bisa aku kuliah di Bandung. Harapan dan mimpi yang selama ini aku bangung, prestasi ku...cita-cita ku...akankah sampai disini saja?

"tapi mak...bukan maksud Herna  pengen jauh-jauh dari emak sama abah. Tapi teman-teman herna juga....". belum sempat membereskan ucapan ku. Tiba-tuba emak marah dan jelas sangat terlihat sekali kekecwaannya pada ku.

"bukan begitu Herna...emak gak mau herna kenapa-kenapa disana. Bandung itu kota loh nak, hidup disana pasti keras. Herna taukan anak satu-satunya emak sama abah".

"tapi mak, Herna...".

"Herna, sudah emak bilang kamu jangan...".

"sudahlah Mak, biarkan Herna kuliah di Bandung. Toh kan disana dia mau nyari ilmu bukan ngapa-ngapain". Potong abah dengan ekspresi santainya.

"tuh kan mak, abah mah selalu ngedukung Herna. Bener kata abah Herna disana kan mau belajar mak". Ucap ku dengan penuh yakin dan rasa bersalah yang sangan mendalam.

"sudahlah terserah kalian, pokokya emak gak mau kamu pergi".

Sakit rasanya ketika sebuah harapan dan cita-cita yang kita bangun dari dulu, hampir saja runtuh tak berbekas. Aku sadar apa yang aku lakukan ini memang mengecewakan kedua orang tua ku, bahkan menyakiti hati ibu ku. Aku tahu dibalik ini semua Allah sedang merencanakan sesuatu yang belum aku ketahui. Ini semua skenario Allah.....

Bandung tahun 1992

Herna Sutisna seorang pengembara yang berasal dari sebuah desa kecil di kota Ciamis. Bersama 9 temannya ia memutuskan pergi ke kota Bandung untuk mencari ilmu. Dengan berbekal tekad dan keyakinan beserta do'a kedua orang tuannya. Herna dan 9 temannya itu mencoba mendaftar di beberapa Universitas Bandung.

"Rob, besok kita coba daftar ke IKIP ya". Ucap Sandi

"Iya Rob, besok kan IKIP buka pendaftaran ya?". Tanya ku.

"Yoi bro...pokoknya kita bareng-bareng daftarnya ya gue yakin kita bakalan lolos, kita kan best friend". Jawab Robbi dengan gaya funknya.

"huuuuuuuuu". teriak teman lainnnya. Meneriaki Robbi yang gayanya sok kekotaan.

Siapa kira anak desa yang tidak tahu menahu tentang kota Bandung bisa menginjakan kakinya disini. Sandi, Robbi, Samsul, Zaki, Endang, Dadang, Firman, Ibrohim, Roni dan aku. Senang rasanya benar-benar bisa berada di Kota Kembang ini. Kos-kosan dengan luas 4x4  ini kami tempati bersama-sama, walaupun kecil bukan berarti menjadi sebuah penghalang kami untuk mewujudkan semua cita-cita dan harapan kami. Kemarin sore kami berangkat dari Kota Ciamis dengan berbekal seadannya saja. Bus menjadi tranfort pilihan kami untuk pergi menuju kota Bandung.



Sebelumnya ada kisah haru diantara aku dan kedua orang tua ku sebelum keberangkatan ku sore itu. Ibuku yang tadinya bersikukuh keras agar aku tidak pergi ke Bandung pada kahirnya mengizinkan ku. Itu semua berkat do'a yang selam ini aku pinta kepada-Nya dan epran seorang ayah yang tidak kalah meyakinkan ibu ku. Aku tau ada rasa kehilangan dalam benak abah, tapi apa boleh buat aku dan abah adalah seorang laki-laki saling memahami satu sama lain.

"Nak hati-hati ya di sana, jaga diri baik-baik. Kalu ada apa-apa cepet balik kesini". Ada rasa bahagia yang dirasakan emak dicampur kekhawatiran saat harus melepaskan anak semata wayangnya. Ibu mana yang ingin kehilangan anaknya?.

"iya nak, kalaupun kamu tinggal jauh disana, abah sama emak terus mendo'akan kebaikan untuk mu. Seberapa sukses dirimu nanti jangan lupa tempat dimana kamu harus kembali". Ada tetes di ujung pelipis sana, tanggung jawab seorang ayah yang selama ini dia pertahankan seolah-olah hancur karena cita dan harapan anaknya.

Keesokan harinya kami berangkat menuju IKIP Bandung untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. (salah satu Universitas ternama di Bandung sekarang menjadi UPI Bandung).

"kemeja, dasi, sepatu.....oke sudah siap mas broooo". Ujar Robbi lagi dan lagi denga gay sok kekotaannya itu.

"Oke kita berangkat....." ucap Firman dengan penuh semangat.

Oke Herna, kamu pasti bisa. Bismillah....Mak...Abah do'ain Herna ya, Ya Allah mudahkan langkah hamba...Aamiin. Pintaku

Lolos IKIP 1992

Seminggu telah berlalu semenjak test seleksi masuk IKIP Bandung usai. Hari ini merupakan hari dimana para pelajar diseluruh pelosok negeri merasakan ketegangan yang susah untuk di jinakkan. Hari dimana pengumuman dari hasil penyeleksian masuk perguruan tinggi IKIP.

"Her, gimana nih kita bakalan lolos gak ya?" tanya zaki penuh kecemasan.

"Insya Allah...Lahaullah aja". Jawab ku singkat.

"Nyantai aja kalee, kita bakalan lolos gua yakin". Ucap Robbi

"Iya confident aja lah". Ucap Endang.

"siap siap....." jawab  kami serempak.

"My Friend, bagaimanapun hasilnya kita harus menerima dengan lapang dada. Kalaupun ada salah satu dari kita yang lolos kita haru mendukung dia. Bukankah kita satu sama lain saling mengasihi dan melengkapi kekurangan kita. Apapun hasilnya itu keputusan dari Allah mutlak kebenarannya". Kali ini Ibrohim bersuara. Dia satu-satunya teman yang sukanya diem, sekalinya ngomong bikin jlebb.

"Masy Allah Ustadz.....". celoteh Robbi.

Tiba-tiba disela-sela kami sedang asik mengobrol, dua orang lelaki dengan kemeja dan jas lengkapnya menempelkan beberapa kertas di papan pengumuman. Ternyata itu hasil dari test seleksi seminggu kemarin. Kami pun merempug bergerombolan melihat hasil dari pengumumannya. Bersedak-sedakan satu sama lain hanya untuk melihat secarik kertas yang maknanya terdapat berjuta-juta harapan dan cita-cita dari seluruk pelosok negeri.

021990xxx                  Herna Sutisna                        Tidak Lolos

021992xxx                  Zaki Dzikrullah                      Tidak Lolos

021993xxx                  Fitrah Magdalena                  Lolos

021994xxx                  Ibrohim El-Haqq                    Lolos

021995xxx                  Robbi Muzammil                    Lolos

Abah...Mak...Herna belum Lolos...

Kekecewaan jelas tersirat diraut wajah teman-teman lainnya begitu juga dengan aku. Pretasi, harapan dan cita-cita yang aku rencanakan selama ini. Tapi rasa sakit dan kecewa itu sedikit terobati dengan lolosnya teman kami Robbi dan Ibrohim. Kami pun memutuskan untuk pulang ke kosan. Merencanakan kembali harapan yang sempat tertunda beberpa jam lalu.

"hey hey selamay ya Robb...Iim, kalian lolos". Ucap endang dengan senyum penuh kesedihan.

"Alhamdulillah...walaupun aku gak lolos, minimal temen kita ada yang lolos". Sebenarnya ada sedikit rasa iri dalam hati kecil ku, tapi kembali lagi inilah skenario yang telah Allah buat sebelum aku pergi kesini bahkan sebelum diciptakannnya Langit dan Bumi.

            Kami tidak menyerah begitu saja, setelah kegagalan kemarin kami mencoba daftar lagi. Alhasil setelah mencoba mendaftar dibeberapa Universitas aku dan 7 temannya tidak lolos juga.

Untuk saat ini keberuntungan belum memihak aku, tetapi kegagalan ini tidak mengurungkan niat untuk mewujudkan cita-cita dan harapan ku. Ada Emak dan Abah yang setiap malam berdo'a. Harapan yang mereka percayakan pada ku, tidak akan aku lepaskan dengan semudah itu.

Tidak mengap, tidak kuliah bukanlah akhir dari segalanya. Duduk berdiam diri dibangku perkuliahan bukanlah tolak ukur kesuksesan seseorang, tapi suksesnya seseorang itu ketika dia mampu membahagiakan orang tuanya dan bermanfaat bagi orang lainnya. AKU HARUS BANGKIT!!!

CIBIRU 2006

  Akhirnya aku dan 7 teman lainnya memutuskan untuk mencari pekerjaan. Lagi dan lagi Allah tunjukan kebesarannya pada ku, selama aku tinggal di Bandung tepatnya di Cibiru. Setelah kegagalan masuk perguruan tinggi menimpa ku. Sekian lama ini aku bekerja di kota Bandung. Aku diberikan amanah oleh masyarakat Cibiru untuk menjadi Ketua DKM Nurul Utsman. Inilah skenario yang telah Allah rencanakan untuk ku. Tidak mudah untuk menjadi seorang Ketua DKM Nurul Utsman ini menjadi sebuah tanggung jawab yang sangat besar. Kepercayaan Allah, orang tua dan masyarakat memberikan ku energi bahwa inilah yang terbaik. Kekecewaan. Keringat, tangisan semuanya terbayarkan oleh kebahagiaan dan kenikmatan yang telah Dia berikan.

Terima kasih Emak....Abah...Kalian Malaikat Dunia ku....

*****

Pernah Salah


Cerpen oleh : Miftakhul Fadli

Seorang Pemuda bernama Kirno, di adalah pemuda yang dahulu pernah terbelenggu di jalan yang salah menurut ajaran Islam, Pemuda ini bertempat tinggal di rumah yang kecil dan padat penduduknya, dia mempunyai keluarga yang bisa di bilang kebanyakan, mempunyai empat kakak dan lima adik. Malangnya pada masa itu pemuda ini pernah terjerumus ke dalam permainan Togel, sampai suatu saat karna dia selalu memenangkan togel tersebut, lantas ia memutuskan untuk menjadi Bandar Togel, Tak lama kemudian kesuksesan di dalam duni gelapnya itu menemukan hasil. Dia terkenal di mana – mana sebagai bandar togel. Keterkenalannya membuat dia semakin jauh menyombongkan diri, bahkan sampai lupa kepada keluarganya yang pada saat itu sedang kesusahan. Dia hidup di dalam lingkungan yang serba praktis. Mendapatkan uang dari duit haram menjadi rutinitas dan sumber kehidupannya. Menyombongkan diri dengan uang haram miliknya, meninggalkan solat lima waktu yang menjadi tiang Agama Islam. Meniggalkan wajibnya berpuasa di bulan Ramadhan.
   
Ketertarikan dan Kebiasaan ia hidup dengan uang haram, berahir dengan derita, Rumah yang ia miliki hangus terbakar karena konsleting listrik, Badan Kirno pun ikut terbakar dan untung masih ada kasihan dari Alloh SWT menyelamatkan nyawa Kirno. Kiro di larikan kerumah sakit untuk mendapatkan perawatan karena luka yang  di alaminya hampir seluruh badan ia kena bakar. Tiga hari setelah melalui masa komanya, ia pulang kerumah orang tuanya yang kecil dan padat penduduk. Orang tua yang selama ini di acuhkan oleh Kirno masih menerima ia sebagai anaknya. Lantas Kirno pun memutuskan untuk tobat dan meminta ampun kepada Sang Pencipta Alam Semesta Alloh SWT. Dari kejadian itu setiap hari kirno rutin melakukan sholat berjama'ah di masjid dan mengikuti semua kegiatan keagaam di Masjid tempat ia beribadah, tak lupa juga untuk memnajatkan do'a do'a kepada Alloh. Setahun setelah proses penyembuhan luka bakarnya, Kirno pun memutuskan untuk tinggal di Masjid dan menjadi Marbot Masjid itu, keinginannya muncul setelah ia mendengarkan ceramah dari Pak Kyai Muhni di salah satu agenda acara pengajian rutin di masjid itu.
    " Pak kyai, saya ingin taubat dari hal – hal buruk yang pernah saya lakukan di duni ini" kata Kirno kepada Kyai setelah selesai ceramah.
    " Sesungguhnya Alloh itu Maha Pengasi dan Penyayang" Membalas pertanyaan Kirno.
    " Maksudnya Pak Kyai " tanya Kirno kembali.
    " Alloh itu tidak akan marah kepada umatnya, selagi di hatinya masih tersimpan keinginan untuk selalu bertakwa dan menjalankan apa yang di perinyahNya serta menjauhi apa yang di larangNya, selalu melakukan solat lima waktu dan perbanyak berdiam di masjid"
   
Karena mendengan perkataan Pak Kyai, Kirno memutuskan untuk menjadi marbot do Masjid itu dan Pak Kyai pun sangat menyetujuinya mempersilahkan dia untuk berdiam diri di Masjid dan melantunkan Adzan setiap datangnya solat lima waktu. Sampai tutup usianya, Kirno masih menjadi marbot masjid dan mengabdikan diri hanya untuk beribadah kepada Alloh.
                           


Antara Musik, Nenek, dan Masjid

 
Cerpen oleh : Lutfhi Ramdani

Seorang anak remaja dan neneknya tinggal di salah satu rumah yang berdekatan dengan Masjid. Mereka hidup tentram dengan kesederhanaan dan kenyamanan bermasyarakat. Anak itu sangat baik, cerdas, dan berbakat dalam salah satu seni, yaitu musik.

Anak itu sangat dimanja oleh neneknya, karena sejak kecil ia diasuh oleh neneknya. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan ketika ia masih berusia balita. Maka tidak heran kalau ia sangat dimaja oleh neneknya, begitupun sebaliknya ia sangat menyayangi neneknya.

Ia bernama Jihan, aktivis masjid dan pemain musik berbakat. Sebagai seorang anak remaja jihan sangat bersemangat untuk memakmurkan masjid dan masyarakat sekitarnya, setiap pagi ia selalu beres – beres masjid diiringi dengan alunan ayat suci al-qur'an yang ia hafal sebelum berangkat sekolah, dan ia sangat menikmati serta merasa tenang akan rutinitas tersebut.

Dalam hal akademik (sekolah) jihan sangat cerdas, dari sekolah dasar sampai kelas 3 MTs/SMP ia selalu menjadi juara kelas, bahkan ketika duduk di kelas 2 MTs ia menjadi juara umum. Jihan berjanji kepada neneknya untuk belajar dengan giat supaya menjadi pandai, namun disisi lain ia juga sangat menyukai musik rock atau metal yang membuatnya semangat untuk belajar.

Kesukaan terhadap musik rock nya itu ia sembunyikan dari neneknya, karena neneknya sangat membenci aliran musik tersebut. Sang nenek ingin jihan suka terhadap musik Islami seperti, nashid, marawis, dan shalawat. Jihan juga senang akan musik Islami seperti itu, namun yang membuatnya giat untuk belajar adalah musik rock. Jihan merasa bahwa musik adalah segalanya dan musik adalah setengah dari hidupnya.

Oleh karena itu ia bercita – cita ingin menjadi seorang musisi terkenal yang beraliran rock. Namun, ia berfikir itu akan sangat sulit dan sangat bertentangan dengan keinginan sang nenek.

Ketika lulus MTs, jihan meminta kepada  neneknya agar ia bersekolah di sekolah seni tepatnya di sekolah seni musik, namun neneknya tidak menuruti permintaan nya itu dan memasukan nya ke sekolah SMA berbasis Islami, karena neneknya yakin bahwa Jihan belum mantap dalam ha keimanan dan pola pikir. Sang nenek berfikir bahwa dunia musik itu sensitif akan pergaulan bebas dan berbau negatif.

Mau tidak mau Jihan pun mengikuti apa kata neneknya, yaitu sekolah di SMA yang berbasis Islami, yang menurutnya membosankan. Karena sejak SD ia belajar di sekolah yang berbasis Islami. Tapi, ia meminta kepada neneknya untuk mengikuti les musik seusai sekolah, neneknya pun mengizinkan nya dan mendaftarkan les musik.

Tiga tahun berlalu, Jihan menjadi jarang untuk pergi ke Masjid, walaupun sekedar untuk shalat berjamaah di masjid, apalagi kalau untuk beres – beres masjid yang selalu ia lakukan ketika duduk di bangku Mts. Ia selalu bangun terlambat dan pulang larut malam karena les musik seusai pulang sekolah.

Jihan sering mendapat teguran dan sesekali omelan yang sangat lama dari neneknya, bahkan dari masyarakat sekitar pun merasakan perubahan yang dilakukan oleh jihan. Namun, dalam bidang akademik semangat belajar yang ia miliki tidak pernah surut, ia di SMA yang berbasis Islami itupun terus menjadi juara umum sampai tingat akhir.

Setelah lulus dari SMA berbasis Islami tersebut, Jihan meminta lagi kepada neneknya untuk masuk ke perguruan tinggi seni, lagi – lagi si nenek melarang nya dan menyuruhnya untuk masuk ke universitas Islam. Tapi, jihan menolaknya dan bersikeras untuk kuliah di perguruan tinggi seni. Kali ini sang nenek mengalah, menurutnya keimanan dan keislaman Jihan sudah mantap, tapi tetap ada rasa khawatir akan cucunya tersebut.

Tibalah awal masuk ke perguruan tinggi seni yang membuat Jihan bebas berekspresi tentang seni musik sesuka hatinya. Disana ia sangat memanfaatkan semua fasilitas dan kemampuan bermusik yang dimilikinya. Sesekali ia sering diajak manggung oleh band yang beraliran rock jikalau ada salah satu personil band tersebut yang tidak bisa hadir.

Kemudian setelah ia sering manggung dimana –mana, ia sadar bahwa pergaulan yang ada di dunia musik apalagi musik rock itu sangat negatif walaupun ada yang positifnya. Ia pun menjadi lupa akan masjid yang dulu sangat ia jaga dan nyaman untuk hatinya.

Suatu hari ia pergi ke suatu tempat untuk manggung bersama band rock nya itu dengan menggunakan bis mini yang disediakan oleh band tersebut. Ketika akan berangkat, ia merasa tidak enak hati dan teringat akan neneknya dan masjid dekat rumahnya yang selalu ia rawat dengan baik dulu. Kemudian ia naik bis seraya membaca doa yang diajarkan oleh neneknya sejak kecil dan yang dipelajari olehnya sejak bangku sekolah berbasis Islami.

Kemudian ketika di dalam bis tersebut, ia ditawari oleh teman nya minuman beralkohol namun ia menolak dengan gemetar seluruh badannya dan gelisah hatinya. Teman nya pun kembali menawarkan sesuatu kepadanya, kali ini ditawarkan kepadanya seorang wanita dance yang sangat cantik dan menggoda, namun ia menolak kembali seraya mengatakan istigfar dan kembali lagi ia menyebut asma Allah.

Teman – teman nya pun merasa kecewa dan menjauhi jihan dengan sifat sinis, lantas Jihan pun tetap berzikir menyebut asma Allah dengan keadaan badan yang bergetar sangat hebat dan gelisah menyelimuti hatinya.

Ketika jihan melihat ke jendela, dan pandangan nya menemukan bangunan yang menurutnya masjid, ia meminta untuk turun dari bis itu. Teman – teman nya pun menurunkan nya dengan segera dan dengan kasar bahkan menendangnya keluar dari bis tersebut. Stelah keluar dari bis itu ia mendengan lantunan suara adzan yang sangat menenangkan hatinya dan sangat ia rindukan, jihan pun bergegas menuju arah masjid tersebut.

Sesampainya di masjid ia duduk termenung dengan suasana hati yang lepas dan menenangkan. Tidak lama kemudian, ia melihat satu mobil dari arah nya tadi turun dari bis, dengan laju yang tak terkendali sehingga berhenti pas di depan masjid yang sedang ia singgahi. Kemudian jihan mendatangi mobil tersebut dan bertanya kepada sang sopir, "kenapa mas ada apa? Ko bisa mobil nya tak terkendali seperti tadi", kemudain si sopir menjawab " tadi saya panik karena melihat ada satu bis mini yang penumpang nya anak band lah, bisnya itu kecelakaan dan terlindas oleh truck toronton yang sangat besar". Kemudian jihan termenung sejenak memikirkan nenenknya dirumah, masjid yang dulu dirawatnya, masyarakat yang sangat ia rindukan. Ia pun langsung bersujud dengan keadaan air yang begitu deras keluar dari matanya.     
 



Rindu


Cerpen oleh: Muhammad Deni Wijaya

Sore itu langit sedang cerah, udara pun terasa hangat sekali, burung-burung masih menari-nari di angkasa, tapi entahlah apa yang dirasa, diri ini seperti kosong, dingin dan sepi, ada rasa yang masih menjadi tanda tanya, sebenarnya perasaan apa ini?

"kring, kring, kring…"
"Halo.."
"Dika, lu dimana? Gak ikut kumpul?"
"nggak, hari ini gw ada urusan" ujarku dan langsung mematikan ponsel

Sore itu aku sedang tidak ingin kemana-mana, rasanya lelah dan berat untuk menggerakan badan ini, tidak seperti biasanya setiap sore aku menghabiskan waktuku hingga tengah malam dengan teman-temanku, tidak ada tujuan lain dalam kumpulan itu hanya nongkrong-nongkrong tidak jelas terkadang sambil minum-minum.

Sambil berbaring di dalam kamarku yang sempit, berantakan dan banyak poster-poster tidak jelas, aku membayangkan semua kejadian yang sudah dilalui hingga aku tertawa sendiri, merasa jijik, sampai menggelengkan kepala karena aneh.

"Dika, sini bajunya ibu rapihkan dulu, nanti berangkatnya bareng ayah ya"
"iya bu"

Setiap hari setelah selesai shalat maghrib aku mengaji di Masjid Al-ikhlas hingga waktu Isya tiba dan setelah itu pulang. Setibanya di rumah ibu dan ayah selalu menanyakan bagaimana mengajiku apa menyenangkan dan apa pelajaran yang diberi oleh ustadz hari ini.

Sebelum tidur ayahku selalu mengaji, aku senang mendengarnya hingga tak terasa aku pun tertidur dan ketika pagi tiba aku juga terbangun oleh lantunan ayat Quran yang ayah baca. Ayah dan lantunan ayat Qurannya sudah seperti lagu pengantar tidurku dan alarm pagiku.

Sore itu langit sangat cerah, aku tengah asyik-asyiknya bermain dengan teman-temanku tapi tiba-tiba pamanku memanggil dan memberitahuku bahwa ibu meninggal. Rasanya seperti tersambar petir di siang bolong, aku mencoba tersenyum karena kupikir ini pasti bohong, hanya akal-akalan paman saja supaya aku segera pulang.

Tidak terasa air mataku mulai menetes dan aku tidak bisa menahan lagi pikiranku juga mulai kacau aku berlari ke rumah dan melihat keadaaan rumah yang sudah ramai, lalu aku melihat ayah sedang mengaji tepat disamping jenazah ibu yang sudah dikafani.

"ibu,ibu,ibu…."

Aku menjerit sejadi-jadinya dan berlari menghapiri ibu, memeluk jenazahnya dan membasahi kain kafan ibu dengan air mataku.

"ibu,ibu….."

Aku terbangun dengan pipiku yang sudah basah oleh air mata, aku bermimpi tentang ibu dan kejadian terakhirku sebelum ibu meninggal. Ibu meninggal saat usiaku 12 tahun, ia meninggal karena penyakit kanker yang di deritanya, tidak ada yang tahu soal itu bahkan ayah sekalipun, hingga ayah benar-benar terpukul dengan kejadian itu, dan lebih banyak menghabiskan waktunya sendirian hingga saat ini.

Kubasuh wajahku dan melihat ke cermin, aku bukanlah yang dulu aku sudah berbeda sekarang, aku telah tumbuh dewasa bahkan aku sudah lebih kuat, bisa melukai diri sendiri dengan berbagai tato di tubuhku ini.

"Audzubillahiminasyaitonirajim, bismillahirahmanirahim"

Suara itu, suara yang tidak asing bagiku, suara yang membuatku tenang. 

Aku berlari keluar untuk memastikan suara siapa itu, aku terus mencari hingga akhirnya aku berada tepat di depan sebuah bangunan yang menyejukan pandanganku dengan pintu yang selalu terbuka lebar untuk siapapun yang ingin memasukinya

Banguanan yang tidak asing, Masjid Al-ikhlas tempatku mengaji dan shalat berjamaah bersama ayah dan warga lainnya, entah kenapa aku merasa aku ingin pulang, ingin kembali ke masa itu masa yang menyenangkan.

Kulangkahkan kakiku perlahan, suara itupun semakin terdengar jelas dan ketika sampai di depan pintu aku melihat seorang laki-laki yang memakai pakaian putih lengkap dengan penutup kepala sedang duduk dan melantunkan ayat Quran, dan benar suara itu adalah suara ayah, suara yang aku rindukan.

Aku menahan tangisku, tak mau menganggunya, aku menundukan kepala dengan terus menahan tangisku meski sebenarnya air mataku telah membasahi pipiku, aku terus menghapusnya rasanya ingin menjerit.

Aku malu, malu pada diriku sendiri malu pada-Nya apa masih pantas aku duduk di rumah-Nya dan aku tidak tahu malu menangis di hadapan-Nya. Sudah berapa lama aku pergi, sudah berapa aku lari dari-Nya.

Akhirnya aku meluapkan emosiku aku menangis sejadi-jadinya, lalu ayah datang dan memelukku, nyaman, hangat peluknya lalu ia menenangkanku.

"Dika, tak ada kata terlambat untuk bersama-Nya, Allah selalu merindukan hamba-hamba-Nya, dan ayah yakin ibu juga merindukan kita, merindukan doa dari kita, ia pasti sedih melihat kita sebelumnya, ayah juga sadar, ayah sudah terlalu jauh berlari tapi sekarang ayah kembali dan ayah ingin memulai yang baru, seperti masa itu, masa dimana kebahagiaan selalu mengiringi kita".

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos