Perjuangan H. Urip Santoso Membina Seni Islami di Masjid Riyadhul Huda

Klik untuk membaca artikel.


Dakwahpos.com, Bandung – H. Urip Santoso atau yang akrab disapa H. Usa membina ibu-ibu dan anak-anak santri melalui kegiatan selawat di Masjid Riyadhul Huda. Pembinaan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan melantunkan selawat, tetapi juga mengembangkan keterampilan seni suara yang dapat diterapkan dalam azan dan pembacaan Al-Qur’an.


H. Usa menjelaskan bahwa kegiatan tersebut berangkat dari keinginan melestarikan tradisi selawat yang diwariskan oleh orang tua dan guru-guru terdahulu. Dalam prosesnya, peserta terlebih dahulu dikenalkan dengan nada dasar sebelum mempelajari berbagai irama, seperti Bayati, Rost, Hijaz, Sika, dan Jiharkah.


Menurut H. Usa, pembinaan seni suara memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar melantunkan selawat. Ia berharap kemampuan tersebut dapat membantu peserta membaca Al-Qur’an dengan baik, mengumandangkan azan, hingga menjadi imam ketika dewasa.


Untuk menjaga semangat peserta, H. Usa berusaha memahami karakter dan minat masyarakat, terutama anak-anak. Ia juga mencari referensi dari sejumlah pesantren, termasuk Pondok Pesantren Al-Fithrah, di kawasan Kedinding, Surabaya, serta mempelajari amalan dan nadzom yang dilantunkan para ulama, termasuk Abah Guru Sekumpul dan K.H. Apip, agar materi pembinaan lebih beragam dan peserta tidak mudah merasa jenuh.


Selama proses pembinaan, H. Usa mengaku menghadapi tantangan ketika sebagian peserta, terutama anak-anak, kurang fokus saat latihan. Namun, ia berusaha menyikapinya dengan sabar karena kegiatan tersebut tidak hanya berkaitan dengan hafalan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengajarkan perilaku yang baik dan kekompakan dalam majelis.


Sejumlah bacaan yang rutin dipelajari dalam pembinaan tersebut meliputi Al-Barzanji, Simtudduror, Ad-Diba, Burdah, dan Syaroful Anam. Peserta juga berlatih melantunkan Mahallul Qiyam dengan berbagai variasi irama atau langgam. Menurut H. Usa, keterampilan seni suara tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan lain, seperti mengumandangkan azan, membaca Al-Qur’an, dan menjadi imam salat.


Perjalanan pembinaan tersebut memberikan pengalaman tersendiri bagi H. Usa, mulai dari mendapat undangan ke sejumlah majelis hingga melihat perkembangan peserta didiknya. Ia mengaku bangga karena salah seorang santri yang pernah dibinanya aktif berkarya melalui YouTube dengan konten selawat, sementara santri lainnya berhasil meraih juara pertama lomba azan hingga tingkat provinsi.


“Tantangan atau PR buat saya, bagaimana saya punya kreativitas agar kegiatan seni ini tidak dirasa jenuh oleh masyarakat pada umumnya,” ujar H. Usa saat diwawancarai pada Rabu (14/10/2026).


Ia berharap pengembangan seni Islami dapat terus menarik minat generasi muda sekaligus menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai keislaman, membentuk karakter, dan membangun akhlak yang baik.


Reporter: M Rifaldi Noer Rasyid, KPI/3C

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos