Dakwahpos.com, Majalengka– Berdakwah tidak hanya tentang menyampaikan ajaran agama di hadapan jamaah, tetapi juga tentang ketulusan, kepedulian, dan upaya membangun kepercayaan masyarakat. Prinsip tersebut dipegang oleh Ali Ahmad Lili Kamal, atau yang akrab disapa Haji Lili, seorang tokoh agama yang mengabdikan dirinya untuk membina masyarakat melalui kegiatan dakwah di Masjid Hidayah Baitul Kamal, Desa Kulur, Majalengka.
Dalam wawancara pada Kamis (8/10/2026), Haji Lili menceritakan
perjalanan hidupnya hingga menjadi seorang pendakwah. Ia berasal dari
Babakanjawa, Majalengka, dan menempuh pendidikan agama di Pondok Pesantren
Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya. Latar belakang keluarga yang memiliki
tradisi keilmuan Islam turut membentuk jalan pengabdiannya. Menurutnya,
keinginan untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari sekaligus memenuhi
harapan orang tua menjadi salah satu alasan dirinya menekuni dakwah.
Haji Lili menegaskan bahwa daya tarik sebuah ceramah tidak
semata-mata ditentukan oleh kemampuan pendakwah dalam melontarkan humor atau
pantun. Baginya, ketulusan dan keikhlasan merupakan hal utama dalam
menyampaikan pesan agama. Ia meyakini bahwa dakwah yang disampaikan dengan hati
yang tulus akan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Prinsip tersebut juga
diterapkannya dalam membina jamaah agar tidak hanya tertarik mengikuti kajian
untuk sementara waktu, tetapi mampu menjaga konsistensi dalam menjalankan ajaran
agama.
Menurut Haji Lili, membangun kedekatan dengan jamaah tidak cukup
dilakukan melalui nasihat. Seorang pendakwah juga perlu menunjukkan kepedulian
melalui tindakan nyata, terutama ketika masyarakat menghadapi kesulitan. Ia
menilai bahwa kesediaan membantu tanpa pamrih dapat menumbuhkan rasa nyaman dan
kepercayaan. Dengan demikian, hubungan antara pendakwah dan jamaah tidak
terbatas pada kegiatan pengajian, tetapi berkembang menjadi hubungan sosial
yang dilandasi kepedulian dan silaturahmi.
Perjalanan dakwah Haji Lili di Desa Kulur bermula sekitar tahun
2000-an. Sebelumnya, ia mengamalkan ilmu agama di lingkungan rumah orang tuanya
di Babakanjawa. Saat itu, keluarga mereka telah memiliki bangunan pesantren
yang digunakan untuk kegiatan pendidikan dan pengajaran agama. Haji Lili
merupakan satu dari tujuh bersaudara yang seluruhnya memperoleh pendidikan
pesantren, dengan latar belakang pendidikan yang berbeda-beda. Ayahnya, Kiai H.
Ahmad Hidayat, dikenal sebagai guru agama dan pendiri Pondok Pesantren
Al-Hidayah bersama istrinya, Hj. Siti Khadijah Salamodin.
Seiring berjalannya waktu, jumlah masyarakat yang mengikuti
pengajaran keluarga tersebut semakin bertambah, sementara tempat yang tersedia
tidak lagi memadai. Haji Lili kemudian melaksanakan salat istikharah untuk
memohon petunjuk mengenai lokasi baru bagi perjalanan dakwahnya. Dari tiga
tempat yang menjadi pertimbangannya, ia merasa mantap memilih Tarikolot, Desa
Kulur, Kecamatan Majalengka. Pada masa awal kedatangannya, ia menghadapi
tantangan sosial dan penolakan dari sebagian masyarakat yang belum terbiasa
dengan pendekatan keagamaan yang dibawanya. Meski demikian, ia memilih bertahan
dan melanjutkan dakwah dengan keyakinan serta doa.
Dalam perjalanan tersebut, Haji Lili juga memboyong istri dan
anak-anaknya untuk memulai kehidupan baru di Desa Kulur. Kini, ia memiliki tiga
putri dan seorang putra. Ia berharap anak-anaknya senantiasa memperoleh
keberkahan dan petunjuk Allah Swt. agar tetap berada di jalan yang benar.
Baginya, keluarga merupakan bagian penting dari perjalanan pengabdian yang
dijalani selama ini.
Pengabdian Haji Lili tidak terbatas di Desa Kulur. Ia juga mengisi
pengajian di sejumlah wilayah Kabupaten Majalengka, seperti Cikasarung,
Tonjong, Munjul, Maja, Talaga, dan Cikijing. Selain itu, ia beberapa kali
memenuhi undangan dakwah ke luar daerah, termasuk Bandung dan Cirebon. Kegiatan
dakwahnya turut mencakup pengajian dalam berbagai acara masyarakat, seperti
pernikahan, khitanan, dan walimatussafar.
Di luar aktivitas dakwah, Haji Lili menjalankan usaha jual beli
sepeda motor dan mobil. Ia juga mendapat amanah untuk mengelola lembaga
pendidikan Hidayah Baitul Kamal yang mencakup madrasah dan Raudhatul Athfal
(RA). Beragam aktivitas tersebut dijalaninya berdampingan dengan pengabdian
kepada masyarakat. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak memandang sebutan ustaz
sebagai sebuah pekerjaan semata, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab untuk
mengajak sesama menuju kebaikan.
Bagi Haji Lili, keberhasilan dakwah tidak selalu dapat diukur melalui
sesuatu yang terlihat atau dihitung secara material. Salah satu hal yang dapat
menjadi tanda tumbuhnya kepercayaan, menurutnya, ialah ketika jamaah kembali
datang untuk mengikuti kajian, meminta nasihat, atau sekadar menyampaikan
persoalan yang sedang dihadapi. Kedekatan tersebut menunjukkan bahwa pendakwah
dapat menjadi tempat bagi masyarakat untuk mencari arahan dan penguatan dalam
menjalani kehidupan. Meski demikian, ia meyakini bahwa hidayah tetap merupakan
pemberian Allah Swt. yang perlu diiringi ikhtiar manusia.
Menutup wawancara, Haji Lili menyampaikan pesan agar setiap orang
berani memiliki cita-cita tinggi dan bekerja keras untuk mewujudkannya, tanpa
melupakan ketetapan Allah Swt. Ia mengingatkan bahwa usaha harus berjalan
beriringan dengan doa dan tawakal. “Bercita-citalah setinggi langit dan bekerja
keraslah untuk mendapatkannya. Namun, jangan pernah melupakan bahwa semuanya
adalah takdir Tuhan. Di samping berikhtiar, jangan lupa meminta kepada Allah,
Tuhan Yang Maha Kuasa atas segalanya,” tuturnya.
Perjalanan Haji Lili menjadi pengingat bahwa dakwah tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga melalui kepedulian, keteladanan, dan kesediaan untuk hadir di tengah masyarakat. Keikhlasan dalam mengabdi menjadi nilai yang terus ia pegang dalam menjalankan perannya sebagai tokoh agama di Desa Kulur dan wilayah sekitarnya.
Reporter: Najma Nur Fajriyah Kamal, KPI/3C
Tidak ada komentar
Posting Komentar