Kajian rutin malam itu dipimpin oleh Ust. Nurudin, S.Kom. seorang pemuka agama setempat. Mengangkat rujukan dari Kitab Arbain Nawawiyah karya Imam an-Nawawi, Ustaz Nurudin membuka ceramah dengan pesan yang menohok namun disampaikan secara jenaka dan santun. Beliau menggarisbawahi fenomena "niat yang tercemari" oleh urusan duniawi.
“Bila niat kita beribadah atau beramal sudah terkontaminasi dan melulu berorientasi pada materi duniawi, maka nabi mengingatkan bahwa pahalanya habis di dunia saja, tidak tersisa untuk di akhirat. Menikah pun demikian, jika niatnya salah sejak awal, ke depannya akan terasa hambar,” tutur Ustaz Nuruddin di hadapan jemaah.
Beliau lantas menegaskan kembali pentingnya meluruskan niat dalam setiap amalan. “Nabi sudah memberikan hadisnya, kalau kamu niatnya hanya untuk duniawi kamu cuma dapat untuk dunia saja. Tapi kalau kamu niatnya untuk Allah, kamu ingin dekat, ingin banyak ibadah dengan ilmu, maka akan selalu ada jalannya,” ulas Ustaz Nurudin.
Beliau juga mengutip kisah keteguhan niat Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu saat awal memeluk Islam. “Maka kembalikan ke niat. Kalau niat sudah benar, langkah yang kita tempuh pun akan kuat dan langkah kaki pun jadi mantap,” tegas Ustaz Nurudin.
Suasana bergulir menjadi ruang diskusi dan menariknya, mayoritas pertanyaan yang dilontarkan oleh para bapak mengerucut pada satu kekhawatiran yang sama: pola asuh dan masa depan anak-anak mereka. Jemaah Bapak-Bapak secara bergantian berkonsultasi mengenai cara mendidik anak di tengah gempuran teknologi hingga harapan agar anak-anak mereka mampu menjadi investasi akhirat yang mendoakan orang tua saat kelak wafat. Menanggapi hal tersebut, Ustaz Nurudin dengan sabar meluruskan bahwa orang tua berkewajiban mengajar Al-Qur'an dan fondasi agama tidak boleh sepenuhnya dilepaskan ke sekolah atau pesantren.
Ketua DKM Al-Inayah, Bapak Suparman J, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program bidang Imarah untuk memaksimalisasi syiar Islam melalui pemberdayaan ustaz lokal yang berlatar belakang santri hingga doktor. Pihak DKM menyusun jadwal pengajian rutin mulai dari Kajian Mingguan Rabu Malam (Bapak-bapak), Yasinan (Kamis Malam), Al-Kahfi (Jumat Pagi), Muslimah (Sabtu Sore), Tahsin (Malam Minggu), Subuh Berjamaah (Minggu Pagi), hingga Kajian Bulanan.
Untuk memperluas jangkauan dakwah, seluruh rangkaian kajian ini juga disiarkan secara digital. "Bisa dibuka di YouTube, cari saja Alinayahbhc. Di sana nanti muncul kajian-kajiannya yang disiarkan secara live," tambah Pak Memet selaku seksi Imarah (kajian).
Kajian yang berakhir tepat pukul 21.00 WIB itu meninggalkan kesan mendalam bagi jemaah yang hadir. Beberapa bapak-bapak yang ditemui usai acara mengaku bahwa dorongan utama mereka melangkahkan kaki ke masjid malam itu adalah kebutuhan untuk terus belajar.
Pak Jaka, salah seorang jemaah, mengungkapkan bahwa poin paling mengena baginya adalah evaluasi tanggung jawab orang tua. “Pesan tadi membuat kita harus mengevaluasi diri dan lebih hati-hati lagi dalam mengemban tanggung jawab mendidik anak,” tuturnya.
Sementara itu, Pak Dudi- salah seorang jemaah sekaligus pihak yang menyediakan konsumsi menjelaskan motivasi besarnya dalam menghadiri kegiatan ini. “Setiap malam selalu ada ilmu yang bertambah. Niat beribadah ke masjid ini jauh lebih bermanfaat daripada sekadar nongkrong di jalan,” ujarnya.
Pengabdian di masjid ini juga didasari oleh keikhlasan niat para pengurusnya. Pak Asep, marbot Masjid Al-Inayah, membagikan prinsip khidmah yang dipegangnya. “Dulu ada nasihat, berkhidmah di masjid itu niatnya seperti mengurus orang tua. Kalau belum bisa mengurus orang tua, uruslah masjid, karena ganjarannya insya Allah sama,” ungkap Pak Asep dengan penuh haru. Ragam alasan dan dorongan niat inilah yang menjadi bahan renungan mendalam, sekaligus motivasi berharga yang dibawa pulang oleh para jemaah usai menghadiri pengajian malam itu.
Reporter: Dea Warohmah Ritonga, KPI/ 3C.

Tidak ada komentar
Posting Komentar