Dakwahpos.com, Bandung - Puluhan jemaah muslimah menghadiri Kajian Muslimah di Masjid Besar Al-Inayah, Komplek Bumi Harapan, Cibiru, pada Sabtu sore (19/09) selepas salat Asar. Dalam Kajian Muslimah Majelis Taklim Al-Inayah menghadirkan Ustaz H. Sobirin, M.Ag. untuk menyampaikan kajian bertema “Kenikmatan Orang yang Beriman Menghadapi Masalah”. Kegiatan ini secara khusus menyoroti pentingnya pembentukan karakter muslimah dalam menghadapi pelbagai ujian rumah tangga melalui penguatan keimanan.
Mengawali ceramahnya, Ustaz H. Sobirin, M.Ag. membedah kandungan Surat Al-'Asr yang mengingatkan jemaah akan hakikat dan pentingnya menghargai waktu. Beliau menegaskan bahwa Allah SWT bersumpah demi waktu karena setiap detik yang berlalu tidak akan pernah bisa diputar kembali. Oleh karena itu, manusia berada dalam kerugian yang nyata bila tidak memanfaatkan hidupnya untuk beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
“Kalau kita tidak memikirkan diri kita terhadap waktu yang kita jalani dalam hidup dari pagi hingga malam, maka kita termasuk orang-orang yang rugi,” ulas Ustaz H. Sobirin di hadapan jemaah.
Konsep keimanan inilah yang menjadi fondasi utama bagi setiap muslimah dalam menyikapi pelbagai ujian hidup maupun dinamika rumah tangga. Menurutnya, setiap masalah hendaknya diawali dengan sikap ridha, istighfar, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagai solusinya, penceramah mempersiapkan jemaah untuk mengkonsistensikan menghidupkan malam dengan salat tahajud serta membiasakan bersedekah di waktu Subuh.
“Ketika ada masalah, bangunlah di malam hari untuk berdoa dan menyerahkan masalah kepada Allah. Selesai salat Subuh, sisihkan sedekah masuk ke kotak amal. InsyaAllah Allah akan membukakan jalan keluar dan memberi solusi atas masalah yang kita hadapi,” paparnya.
Pesan-pesan keimanan dan kesabaran tersebut menemukan cerminannya dalam kehidupan nyata para jemaah, sebagaimana yang dirasakan langsung oleh Ketua Majelis Taklim Al-Inayah, Rani Maryani. Ia mengaku dulu sering mengumbar emosi saat menghadapi masalah suami maupun anak. Namun, tempaan ilmu akidah dan akhlak mengubah pendekatannya menjadi lebih tenang, memperbanyak istighfar, serta mengedepankan introspeksi diri karena kunci ketenangan rumah tangga terletak pada keikhlasan menerima ujian dari Allah
“Sekarang jika ada masalah, saya berusaha menarik napas, berzikir, dan meredam emosi. Saya sadar yang harus berubah adalah diri sendiri, bukan mengubah orang lain. Ketika ikhlas menerima porsi ujian tersebut, hati menjadi plong dan bahagia,” ungkap Bu Rani.
Sementara itu, Bu Iyam, jemaah purnabakti, melihat kajian agama sebagai sarana pengisian waktu luang pascapensiun yang berdampak besar pada pengendalian diri. Selain mempererat kepedulian sosial di lingkungan warga, rutin mengaji membantu menata emosi dan menjaga kualitas komunikasi dengan anak serta keluarga di usia lanjut.
Dari sudut pandang berbeda, Bu Hayati memaknai kehadiran di majelis taklim sebagai ikhtiar berbenah diri pascamenunaikan ibadah umrah dan haji. Ia memilih memfokuskan sisa usianya untuk memupuk bekal akhirat melalui perbaikan ibadah dan pencarian ridha suami. "Bentuk rasa syukur saya menggunakan sisa umur ini untuk fokus bekal akhirat. Hadirnya saya dalam kajian ini pun atas izin dan fasilitas dari suami,” tuturnya.
Kajian muslimah yang berlangsung khidmat hingga menjelang magrib ini ditutup dengan doa bersama dan serta momen kebersamaan saat para jemaah saling bersalaman dan berpamitan. Ke depannya, pihak majelis taklim berkomitmen untuk terus membuka ruang pembelajaran bagi masyarakat luas. "Majelis taklim kami terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar, khususnya setiap hari Sabtu ba’da Asar sampai sebelum Maghrib," ujar Bu Rani.
Reporter: Dea Warohmah Ritonga/ KPI 3C
