Bencana alam kerap dipahami semata sebagai peristiwa geologis atau fenomena alam. Namun dalam perspektif Islam, bencana juga dapat dimaknai sebagai peringatan Allah SWT agar manusia kembali merenungi sikap dan perilakunya di muka bumi.
Al-Qur'an menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia sendiri. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…" (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini menunjukkan bahwa bencana tidak selalu berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan krisis moral, eksploitasi alam, dan kelalaian manusia terhadap amanah sebagai khalifah.
Meski demikian, Islam tidak mengajarkan pandangan yang menyederhanakan bencana sebagai hukuman semata. Dalam banyak kasus, bencana juga menjadi ujian keimanan dan sarana peningkatan derajat bagi orang beriman. Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah hapuskan sebagian dosanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebagai mahasiswa KPI, memandang bencana tidak cukup dengan narasi takut dan ancaman. Yang lebih penting adalah menghadirkan komunikasi dakwah yang mencerahkan: mengajak pada taubat tanpa menghakimi, menguatkan empati sosial, serta menumbuhkan kesadaran ekologis dan kemanusiaan.
Bencana seharusnya melahirkan refleksi kolektif, bukan saling menyalahkan. Ia adalah pengingat bahwa manusia lemah, alam memiliki batas, dan Allah Maha Berkuasa. Dari sanalah dakwah menemukan relevansinya: menyentuh akal, nurani, dan tanggung jawab sosial umat.
Penulis : Sri Septia, 3B/KPI
Al-Qur'an menegaskan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah manusia sendiri. "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia…" (QS. Ar-Rum: 41). Ayat ini menunjukkan bahwa bencana tidak selalu berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan krisis moral, eksploitasi alam, dan kelalaian manusia terhadap amanah sebagai khalifah.
Meski demikian, Islam tidak mengajarkan pandangan yang menyederhanakan bencana sebagai hukuman semata. Dalam banyak kasus, bencana juga menjadi ujian keimanan dan sarana peningkatan derajat bagi orang beriman. Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang muslim tertimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, hingga duri yang menusuknya, kecuali Allah hapuskan sebagian dosanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebagai mahasiswa KPI, memandang bencana tidak cukup dengan narasi takut dan ancaman. Yang lebih penting adalah menghadirkan komunikasi dakwah yang mencerahkan: mengajak pada taubat tanpa menghakimi, menguatkan empati sosial, serta menumbuhkan kesadaran ekologis dan kemanusiaan.
Bencana seharusnya melahirkan refleksi kolektif, bukan saling menyalahkan. Ia adalah pengingat bahwa manusia lemah, alam memiliki batas, dan Allah Maha Berkuasa. Dari sanalah dakwah menemukan relevansinya: menyentuh akal, nurani, dan tanggung jawab sosial umat.
Penulis : Sri Septia, 3B/KPI
Tidak ada komentar
Posting Komentar