Dakwahpos.com, Bandung — Kegiatan pengajian anak-anak berlangsung hangat dan ramai di Masjid Al-Khairat, Cipadung, pada Senin (21/9/2026) mulai pukul 18.30 WIB hingga memasuki waktu salat Isya. Acara yang diawali dengan pembacaan doa, selawat, rukun Islam, rukun iman, penalaran doa harian, serta hafalan niat dan bacaan salat lima waktu ini ditujukan untuk membina karakter Islami anak-anak sejak dini. Seluruh peserta didik mengikuti rangkaian kegiatan pembelajaran yang mencakup membaca Iqra serta Al-Qur’an secara bersama-sama, hafalan surah pendek, penalaran bacaan salat seminggu sekali, serta penulisan materi seputar tajwid dan tauhid (aqoidul iman). Selain itu, untuk mengasah kreativitas dan seni, anak-anak juga diajari memainkan hadrah yang kerap ditampilkan dalam peringatan hari besar Islam (PHBI).
Ustadz Agus Gunawan, selaku pengajar utama, menjelaskan bahwa penyampaian materi hukum tajwid seperti hukum mim mati sangat penting dipahami anak-anak, baik yang masih membaca Iqra maupun yang sudah masuk tahap Al-Qur’an. Menurut beliau, pemahaman mengenai ikhfa syafawi, idgham mimi, dan izhar syafawi harus mulai ditanamkan agar bacaan anak-anak menjadi benar dan tartil. Beliau menekankan bahwa ketika hukum ikhfa syafawi terjadi—yakni saat mim mati bertemu dengan huruf ba—cara membacanya harus disamarkan dengan dengung, ditekan, serta ditahan sepanjang dua harakat.
“Dengarkan, walaupun masih kelas Iqra, nanti ke depannya pasti ada bacaan seperti ini. Terutama yang sudah ke Al-Qur’an, jangan sampai tidak hafal kalian. Jadi, ikhfa syafawi itu terjadi ketika mim mati bertemu dengan huruf ba. Cara membacanya disamarkan dengan dengung, ditekan, dan ditahan dua harakat. Contohnya: Tarmihim bihijaratin. Tidak tarmihim bihijaratin, tapi ditekan, ditahan dua harakat: Tarmihiim... Bibirnya dirapatkan dulu,” tegas Ustadz Agus Gunawan di depan santrinya.
Di sisi lain, suasana pengajian malam itu terasa hidup dan interaktif berkat metode pembelajaran yang tidak kaku. Nadia Pujianti Suhaya, seorang santri kelas lima sekolah dasar yang diwawancarai di lokasi, mengungkapkan bahwa ia merasa nyaman belajar di Masjid Al-Khairat karena lokasinya yang dekat dengan rumah di RT 02 serta dikelilingi oleh teman-teman sepermainan. Meski sesekali sang guru bersikap tegas ketika anak-anak kurang fokus, suasana belajar tetap menyenangkan karena Ustadz Agus kerap mengajak bersenda gurau di sela-sela materi pembelajaran.
“Kalau enaknya itu jadi kayak bisa diajak main, terus jadi tidak terlalu kaku ya, bisa diajak bercanda. Tapi kalau lagi tegas, kalau kita ngobrol suka langsung dibilang ‘Astagfirullahaladzim, bacaan kalian,’ gitu. Sama di sini enaknya karena banyak teman yang kenal dan lebih banyak praktik membaca Al-Qur’an,” tutur Nadia mengenai pengalamannya belajar di pengajian tersebut.
Kegiatan yang ditutup dengan pembacaan doa kafaratul majelis dan salat Isya berjemaah ini memberikan hikmah mendalam tentang pentingnya pendidikan agama sejak usia dini. Integrasi antara pembelajaran teori tajwid, praktik ibadah harian, serta kegiatan seni keagamaan seperti hadrah terbukti mampu membentuk generasi muda yang berkepribadian Islami dan berwawasan luas. Melalui ketegasan yang dibalut dengan pendekatan ramah anak, pengajian di tingkat lokal seperti di Masjid Al-Khairat ini menjadi benteng utama dalam menjaga tradisi keilmuan Islam serta mempererat tali silaturahmi antarwarga di lingkungan sekitar.
Reporter : Zeyni Jilan Nadezda Mentari, KPI/3C 1254020052
Tidak ada komentar
Posting Komentar