Dakwahpos.com, Bandung - Endang Jaelani, pensiunan kepala sekolah dasar, membuktikan bahwa cita-cita yang tak tercapai tidak menutup jalan pengabdian. Kini ia memimpin (DKM) Al-Mishbah Cipadung, sejak 2009 setelah melewati perjalanan panjang yang sarat pelajaran tentang ikhtiar, doa, dan amanah.
Endang lahir pada 1 Januari 1960 di Cipadung sebagai anak ketujuh dari sepuluh bersaudara. Orang tuanya menyekolahkannya hingga SD Cipadung, SMP di Ujungberung, lalu Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Kifayatul Akhyar yang memadukan pelajaran umum dan agama.
“Saya memang tidak pesantren, tetapi karena SPG-nya plus agama, sedikit-sedikit saya paham kajian Al-Qur’an dan Islam,” ujar Endang Jaelani, Kamis (15/10/26).
Sebenarnya Endang bercita-cita masuk pesantren, tetapi orang tuanya meminta ia menjadi guru karena kakak dan adiknya sudah mondok. Ia menaati pesan itu, lolos calon pegawai negeri sipil, lalu mulai mengajar pada 20 Juli 1982 di SDN Ampera, Subang.
Endang tidak berhenti belajar: ia menempuh D2 lewat program belajar jarak jauh, S1 di STKIP Cimahi, lalu S2 sambil menjabat kepala sekolah. Pada 14 Desember 2013 ia dilantik sebagai kepala sekolah di SDN Babakan Surabaya 2.
Di masjid, kepemimpinan DKM sebelumnya diemban ayahnya, Eyet Hambali, lalu adiknya, Pipin Rosadi, yang berlatar pesantren. Saat sakit, sang adik berpesan agar Endang melanjutkan amanah itu, dan wafat beberapa hari kemudian.
“Saya tidak mau masjid ini seolah turun-temurun, jadi pemimpinnya harus dipilih lewat musyawarah jemaah,” ungkap Endang Jaelani, Kamis (15/10/26).
Dari 86 jemaah yang hadir, 75 orang memilih Endang sehingga ia resmi menjadi Ketua DKM sejak April 2009. Kini ia rutin mengisi tausiyah dan kajian tajwid serta tafsir. Kisahnya mengajarkan bahwa ikhtiar, doa, dan musyawarah adalah bekal menjaga amanah.
Reporter: Tazkiya Maulidiya, KPI/3B

Tidak ada komentar
Posting Komentar