Dakwahpos.com, Bandung - Kegiatan belajar mengaji di Masjid Al Ikrom, Sekejati, Bandung, selalu menghadirkan dinamika tersendiri bagi siapa pun yang terlibat langsung di dalamnya. Suasana sore hari di masjid tampak hidup ketika anak-anak antusias berkumpul untuk mengikuti bimbingan membaca Al-Qur'an dan Iqro.
Meninjau Langsung Pembelajaran Al-Qur'an, Pengalaman Berharga Dampingi Anak-Anak Mengaji di Masjid Al Ikrom
Dakwahpos.com, Bandung - Kegiatan belajar mengaji di Masjid Al Ikrom, Sekejati, Bandung, selalu menghadirkan dinamika tersendiri bagi siapa pun yang terlibat langsung di dalamnya. Suasana sore hari di masjid tampak hidup ketika anak-anak antusias berkumpul untuk mengikuti bimbingan membaca Al-Qur'an dan Iqro.
Suasana Hangat Pembelajaran Al-Qur'an dan Iqro Anak di Masjid Al Ikrom Sekejati
Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Al Ikrom yang terletak di Sekejati, Bandung, terus konsisten menjadi pusat pembinaan keagamaan bagi masyarakat sekitar. Tidak hanya aktif pada waktu ibadah fardhu, masjid ini juga menjadi pusat kegiatan pendidikan Al-Qur'an bagi anak-anak dan remaja setiap sore setelah salat Ashar. Seperti hari ini, (Jum’at, 23/10/2026), anak-anak kembali berkumpul untuk mengikuti kegiatan mengaji.
Metode Recall Pengajar TPQ Darul Hasan Assalam, Cileunyi Kulon
Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz bersama para santri TPQ secara konsisten selalu menerapkan metode pengulangan atau recall materi pembelajaran yang telah dipelajari sebelumnya sebelum kegiatan belajar mengajar pada hari itu resmi berakhir di masjid pada hari Minggu (01/11/2026). Tradisi akademik yang interaktif ini rutin dilaksanakan guna menguji tingkat pemahaman sekaligus memperkuat daya ingat anak-anak terhadap materi akidah dasar yang telah disampaikan. Suasana kelas tampak sangat hidup ketika para santri secara serentak dan antusias menjawab berbagai pertanyaan kilat dari pengajar.
Penerapan metode recall materi di penghujung sesi pembelajaran ini berfungsi sebagai sarana evaluasi berkala yang efektif untuk mengukur sejauh mana kemampuan hafalan para santri. Berdasarkan transkrip rekaman pengajian, pengajar tampak memandu jalannya sesi tanya jawab dengan mengajukan pertanyaan mendasar mengenai jumlah Aqaidul Iman dan rincian sifat wajib bagi Allah Swt. Para santri terlihat saling bersahutan memberikan jawaban yang benar, menunjukkan bahwa materi-materi tauhid tersebut telah melekat kuat dalam ingatan mereka berkat pengulangan yang konsisten.
"Aqa'idul iman, jumlahna sabaraha? Sabaraha? Lima puluh. Ari sifat anu wajib bagi Allah na sabaraha? Dua puluh," ujar ustaz saat menguji kembali pemahaman hafalan para santri sebelum menutup kelas, Minggu (01/11/2026).
Selain menguji hafalan jumlah dasar akidah, sesi recall tersebut juga dilanjutkan dengan pelafalan secara berurutan dua puluh sifat wajib bagi Allah Swt. beserta pelantunan nadhom berbahasa Sunda. Pendekatan pengajaran semacam ini tidak hanya melatih memori jangka panjang para santri, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri mereka dalam menguasai ilmu agama secara mendalam. Keaktifan para santri dalam melafalkan sifat-sifat wajib dan mustahil bagi Allah Swt. membuktikan keberhasilan metode pengulangan materi yang diterapkan secara konsisten.
"Wujud, qidam, baqa, mukhalafatul lil hawaditsi, qiyamuhu binafsihi, wahdaniyah, ilmu, hayat, sama', bashar, kalam, qadiran, muridan, aliman, hayyan, sami'an, bashiran, mutakalliman," ucap para santri secara kompak saat melafalkan kembali materi hafalan sifat wajib, Minggu (01/11/2026).
Melalui pembiasaan merecall materi sebelum pembelajaran berakhir setiap harinya, pihak pengelola TPQ berharap para santri tidak mudah lupa dan mampu mengamalkan ilmu tauhid dalam kehidupan sehari-hari. Evaluasi penutup ini menjadi strategi pedagogis yang sangat solutif dalam mengatasi kejenuhan sekaligus menjaga kualitas hafalan anak-anak didik secara berkelanjutan. Diharapkan kegiatan positif ini dapat terus dipertahankan demi mencetak generasi muda Islam yang cerdas, berakhlak mulia, dan memiliki fondasi akidah yang kokoh.
Reporter: Aisyah Ramdhani Pratiwi, KPI / 3B
Sifat Takabur Dikhawatirkan Buat Manusia Terjerumus Seperti Iblis
Dakwahpos.com, Bandung – Pengajar ceramah mengingatkan jemaah agar senantiasa menjaga keselarasan antara ucapan cinta kepada Nabi Muhammad saw. dan praktik kehidupan sehari-hari, Sabtu (31/10/2026). Ceramah keagamaan tersebut disampaikan secara langsung di masjid dan disiarkan melalui kanal YouTube BDN VBI. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjauhi sifat takabur dan ujub yang menjadi penyebab utama Iblis dikutuk Allah Swt., serta mengimbau agar tidak mudah meremehkan sesat orang lain.
Ceramah keagamaan tersebut membahas mengenai bahaya sifat sombong dan pentingnya pemahaman agama secara mendalam agar tidak mudah menyalahkan sesama muslim. Pengajar menjelaskan bahwa ketidaksesuaian antara pengakuan cinta kepada Rasulullah saw. dengan tindakan nyata merupakan bentuk ketidakserasian antara niat dan praktik.
"Antara niat jeung praktek kudu akur. Lamun cinta ka Kanjeng Nabi, lamun rindu ka Kanjeng Nabi, sok sedikit demi sedikit urang babarengan. Urang silih bejaan, ulah ngan ukur silih vonis," ujar pengajar dalam ceramahnya, Sabtu (31/10/2026).
Pengajar menerangkan bahwa jalan menuju surga terbuka bagi seluruh umat Islam, bukan hanya milik kelompok tertentu atau ulama saja. Oleh karena itu, prasangka buruk dan sikap merasa diri lebih mulia dibandingkan orang lain harus segera dihilangkan dari pikiran.
"Dosa anu timbul tina takabur mah dikhawatirkeun sieun siga iblis. Iblis pernah cicing di surga, tapi kenapa sampai dikutuk ku Allah Swt? Eta gara-gara kesombongan urang, gara-gara ujubna urang, gara-gara takaburna urang," imbuh pengajar, Sabtu (31/10/2026).
Beliau memperingatkan bahwa sifat takabur merupakan perkara yang sangat dilarang oleh Nabi Muhammad saw. Seseorang yang merasa ilmunya lebih tinggi tidak boleh menganggap remeh orang lain yang sedang menyampaikan kebaikan, karena ilmu tanpa pengamalan dan keikhlasan tidak akan menjamin keselamatan seseorang di akhirat.
"Pupus aplikasi anu aya dina otak urang bahwa urang teh leuwih hade tibatan batur. Sabab lamun dina otak masih keneh aya aplikasi bahwa urang leuwih alus tibatan batur, dikhawatirkeun sedikit demi sedikit terjerumus kana sifat takabur," ungkap pengajar, Sabtu (31/10/2026).
Pengajar juga menegaskan pentingnya menuntut ilmu (tholabul 'ilmi) secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi (muqtadhal hal wa maqam), serta memahami syariat Islam secara komprehensif. Selain itu, dakwah hendaknya disampaikan dengan pendekatan yang ramah (tawasuth) dan merangkul, sehingga kesalehan ritual senantiasa beriringan dengan kesalehan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Reporter: Aisyah Ramdhani Pratiwi, KPI / 3B
Hanya Dua Pengajar, Pengajian Anak di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru Kekurangan Guru
Dakwahpos.com – Bandung. Pengajian
anak-anak di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru, kekurangan tenaga pengajar, Kamis (05/11/2026). Kegiatan
belajar mengaji di masjid hanya
memiliki dua pengajar, yaitu Ustaz Asep Anwarullah dan Ustaz Ujang.
Keterbatasan pengajar
terasa ketika Ustaz Ujang
berhalangan karena sakit, sehingga Ustaz
Asep harus mengajar seluruh murid seorang diri. Ustaz Asep melibatkan murid yang sudah tahap Al-Quran ketika
mengajar sendiri, ia
mendahulukan murid yang masih tahap
Iqra, lalu dilanjutkan dengan murid yang sudah Al-Quran.
“Makanya kalau yang
ngajarnya Bapak sendiri. Nah, yang kecil-kecil itu dibantu ngajarin sama yang
gede-gede yang sudah tua,” Ujar
Ustaz Asep Anwarullah
Murid sudah tahap
Al-Qur’an diminta membantu mengajar murid yang masih Iqra, agar waktu belajar tetap terkejar. Saat kedua
pengajar hadir, kelas dibagi, Ustaz Ujang
mengajar murid Iqra, sedangkan Ustaz
Asep mengajar murid yang lebih besar.
“Di samping supaya
waktunya terkejar ya. Supaya ada waktu yang buat anak kecil dan juga mau mendidik ke anak yang gede
bagaimana cara ngajarin adik-adiknya gitu,” Ucap Ustazz Asep Anwarullah.
Ustaz
Asep menerangkan bahwa pengajian di masjid itu diikuti sekitar 50 murid,
dengan jumlah kehadiran rutin sekitar 30 sampai 40 anak. Materi yang diajarkan
tidak hanya membaca Al-Qur’an dengan metode Iqra 1 sampai 6, tetapi juga fikih,
tauhid, dan hafalan juz 30.
“Sekarang memang tidak ada guru lain selain kami berdua, dan itu menjadi
kendala,” kata Ustaz Asep Anwarullah.
Dengan jumlah murid dan materi tersebut, Ustaz Asep Anwarullah sebagai DKM Al-Barokah tetap berharap kegiatan
belajar dapat berjalan dan murid tetap
mendapat bimbingan dengan baik.
Reporter: Pahmi Padila Emi,
KPI/3B
Ke Masjid-Masjid, Ustazah Ida dan Ustazah Nur Pimpin Bacaan Tawasul di Pengajian Ibu-Ibu
Dakwahpos.com – Bandung. Ustazah Ida dan Ustazah Nur pimpin
bacaan tawasul dalam pengajian ibu-ibu di sejumlah masjid di sekitar tempat
tinggal. Kegiatan itu dijalankan bersama
ketika pengajian di masjid
Al-Barokah, masjid Ar-Rahman,
masjid Al-Ikhlas, dan masjid Al-Ittihad, Senin (02/11/2026).
Ustazah Nur Hidayah mengatakan bacaan tawasul itu dilantunkan
sebelum tausiyah dari ustaz dimulai. Ustazah Ida sebagai pembaca tawasul rutin, sedangkan Ustazah Nur hanya
menggantikan ketika ustazah Ida berhalangan hadir
“Kadang tausiahnya juga ya
Ibu kalau ustaznya enggak ada, tapi
ya kalau Ibu mah belajar aja,” Ucap Ustazah Nur
Ustazah Nur menyebut jumlah ibu-ibu yang bertugas
biasanya bertiga atau berempat. Ibu Maman
dan Ibu Euis juga turut membantu di Masjid Al-Ittihad, lalu bergiliran membaca tawasul di
tiap masjid.
“Biasanya bersama Ustazah Ida,” Kata
Ustazah Nur.
Ustazah Nur menyebut jadwal
memimpin pembacaan tawasul di masjid-masjid sekitar, yaitu hari senin di masjid
Al-Barokah, hari selasa di masjid Ar-Rahman, hari rabu di masjid Al-Ittihad dan
hari sabtu di masjid Al-Ikhlas.
“Tidak ada bayaran. Saya belajar saja, supaya semangat belajar lagi,” kata
Ibu Nurhidayah.
Ustazah Nur menegaskan bahwa kegiatan
berkeliling itu dijalaninya tanpa bayaran dan semata-mata untuk belajar. Ibu Nur menyampaikan bahwa dirinya
bertugas di masjid mana pun yang memiliki jadwal pengajian ibu-ibu. Dengan
jadwal bergilir itu, Ustazah Nur bersama
ibu-ibu lain menjaga agar bacaan tawasul tetap dibaca sebelum tausiyah di
masjid-masjid sekitar.
Reporter: Pahmi Padila Emi,
KPI/3B
Ustaz Asep Anwarullah: “Kematian Pasti Datang, Jadikan Pengingat untuk Beramal”
Dakwahpos.com – Bandung. Ustaz
Asep Anwarullah menyampaikan ceramah tentang takdir, kematian, dan persiapan
menghadapi kematian di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru, Senin (02/11/2026). Ia mengajak jamaah untuk tingkatkan
ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan pembahasan kematian sebagai pengingat.
Ustaz Asep Anwarullah membuka cceramah
dengan menjelaskan dua macam takdir, yaitu takdir mu’allaq dan takdir mubram.
Takdir mu’allaq adalah ketentuan Allah yang melibatkan peran manusia melalui
usaha atau ikhtiar dan doa,
sedangkan takdir mubram adalah ketentuan mutlak Allah yang tidak dapat
diubah oleh usaha manusia, seperti kelahiran, jenis kelamin, dan kematian,
termasuk waktu serta tempatnya.
“Apa pun yang menimpa kita semua, itu semuanya berada dalam takdir Allah
Subhanahu wa Ta’ala,” kata Ustaz Asep Anwarullah.
Ustaz Asep Anwarullah menyampaikan bahwa usaha, termasuk mencari nafkah,
merupakan perintah Allah yang
bernilai ibadah dan harus disertai
doa. Ia menjelaskan bahwa doa dikabulkan dalam beberapa bentuk, ada yang
langsung diberikan, ada yang ditunda, dan ada yang dibalas di akhirat dengan
pahala yang berlipat ganda.
“Usaha harus disertai doa, dan doa pun harus disertai usaha. Allah pasti
mengabulkan doa, tetapi Allah akan memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya,”
ujar Ustaz Asep Anwarullah.
Ustaz Asep Anwarullah menerangkan bahwa kematian merupakan akhir kehidupan
di dunia dan awal kehidupan di alam barzah. Ia menceritakan kisah sahabat Utsman bin Affan yang menangis ketika
mendengar penjelasan Nabi tentang kehidupan di alam kubur.
“Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian,” kata Ustaz
Asep Anwarullah.
Ustaz Asep Anwarullah menyebut hal pertama yang dapat dipersiapkan adalah
beramal sebaik mungkin, merujuk pada Surah Al-Mulk tentang Allah yang
menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa yang terbaik amalnya.
“Amal yang terbaik itu amal yang dilaksanakan secara istikamah, yaitu rutin
dan terus-menerus, walaupun jumlahnya sedikit,” kata Ustaz Asep Anwarullah.
Ustaz Asep Anwarullah memberi contoh amal istikamah, seperti sedekah rutin,
puasa Senin dan Kamis, serta tadarus Al-Qur’an. Ia menyampaikan amal yang pahalanya terus mengalir setelah wafat,
yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh, sehingga orang
tua yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anak dan cucu akan terus menerima
pahalanya.
Reporter: Pahmi Padila Emi,
KPI/3B
Tiga Tingkatan Khusyuk dalam Salat, dari Masih Belajar hingga Merasakan Kehadiran Allah Swt
Dakwahpos.com, Bandung- Pengajian di Masjid At-Taufiq Pasirbiru pada Sabtu, 24 Oktober, diisi dengan kajian keislaman yang membahas tentang tiga tingkatan khusyuk dalam salat. Dalam kajiannya, Ustazah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa khusyuk dalam salat bukan sekadar menjalankan gerakan dan melafalkan bacaan saja, tetapi juga bagaimana kita memahami maknanya dan menyadari kedudukan diri kita di hadapan Allah Swt. Dalam kajian tersebut, Ustazah Ai Nurjanah menjelaskan bahwa kekhusyukan dalam salat memiliki tiga tingkatan, yaitu Khusyuk Mubtadiin, Khusyuk ‘Abidin, dan Khusyuk ‘Arifin dengan kriteria nya masing-masing.
Ustazah Ai Nurjanah menjelaskan lebih lanjut bahwa tingkatan pertama adalah khusyuk mubtadiin, yaitu tingkatan bagi orang yang masih belajar untuk membangun kekhusyukan dalam salat. Pada tahap ini, seseorang tersebut mungkin sudah melaksanakan salat dan membaca ayat-ayat Al-Qur'an, tetapi belum sepenuhnya memahami makna bacaan yang dilafalkannya. Beliau mencontohkan bahwa bacaan seperti Subhana rabbiyal 'adzhim ketika rukuk terkadang hanya diucapkan saja tanpa disertai pemahaman terhadap maknanya.
Tetapi, meskipun belum mencapai kekhusyukan yang mendalam, seseorang tidak seharusnya berhenti untuk memperbaiki ibadahnya. Ustazah Ai Nurjanah menegaskan bahwa proses belajar itu harus dijalani secara bertahap karena kesalahan orang yang sedang belajar masih bisa diperbaiki dan masih diampuni oleh Allah Swt. Beliau juga mengingatkan agar umat Islam tidak merasa cukup dengan menyelesaikan salat saja, tetapi harus terus berusaha untuk memahami makna bacaan dalam salat.
Tingkatan khusyuk yang kedua adalah Khusyuk ‘Abidin, yaitu ketika seseorang mulai memahami makna bacaan salat yang diucapkannya. Ustazah Ai menjelaskan bahwa pemahaman tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa setiap bacaan salat yang kita baca merupakan bentuk doa dan permohonan kepada Allah. Beliau mencontohkan dengan menyebutkan makna Surah Al-Fatihah yang mengingatkan manusia akan kasih sayang Allah, sekaligus mendorong seseorang untuk menyadari kekurangan dirinya dan berharap agar memperoleh rahmat-Nya.
Sementara itu, tingkatan khusyuk yang ketiga adalah Khusyuk ‘Arifin, yaitu tingkatan yang dijelaskan melalui konsep musyahadah, yaitu kesadaran batin bahwa manusia senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt. Ustazah Ai Nurjanah mengibaratkan keadaan tersebut seperti keadaan seseorang yang sedang menghadapi persidangan, dalam situasi tersebut ia tidak akan berani bersikap sembarangan karena menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh banyak orang. Menurutnya, kesadaran terhadap pengawasan Allah bisa membantu seseorang dalam menjaga hati dan perilakunya, termasuk ketika muncul keinginan untuk mengalihkan perhatian ketika sedang salat.
Pesan terakhir yang disampaikan, Ustazah Ai Nurjanah mengajak kita untuk menjadikan salat sebagai sarana untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah Swt., bukan sekadar menggugurkan kewajiban kita. Memahami makna bacaan salat, menyadari setiap gerakan, dan juga melatih hati agar tetap tertuju kepada Allah merupakan bagian dari ikhtiar kita untuk menuju kekhusyukan. Dengan demikian, peningkatan kualitas salat dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni belajar memahami bacaan dan terus memperbaiki diri agar ibadah kita semakin bermakna.
Reporter: Sevilla Aulia, KPI/3C
Kajian Tafsir Al-An’am 109-110 Masjid Besar Al-Ikhlas Sagalaherang: Hidayah Adalah Hak Allah, Bukan Hasil Mukjizat
Dakwahpos.com, Subang- Penceramah Opik Hidayat menyampaikan kajian tafsir Surah Al-An’am ayat 109-110 di hadapan jamaah Masjid Besar Al-Ikhlas, Sagalaherang, Sabtu (31/10/2026). Kajian berbahasa Sunda tersebut sekaligus menandai berakhirnya pembahasan juz ke-7 Al-Qur’an dalam rangkaian kajian tafsir yang rutin digelar masjid itu.
Dalam penjelasannya, Opik menuturkan bahwa kedua ayat tersebut turun berkenaan dengan sikap para pemuka Quraisy di Mekah. Mereka bersumpah akan beriman apabila Rasulullah Muhammad SAW mendatangkan mukjizat seperti yang diberikan kepada nabi-nabi terdahulu. Namun, menurutnya, Allah menegaskan bahwa mukjizat sepenuhnya berada dalam kekuasaan-Nya dan bahwa mereka tetap tidak akan beriman meskipun tuntutan itu dipenuhi.
Mukjizat itu bukan hak Rasulullah, semuanya hanya milik Allah. Nabi Muhammad hanyalah utusan, ujar Opik menirukan jawaban yang diperintahkan Allah kepada Rasul-Nya.
Opik menguraikan bahwa kaum Quraisy, yang dikenal sebagai suku terpandang dan kaya di Jazirah Arab, menjadikan kisah para nabi sebagai tolok ukur. Mereka menyebut tongkat dan sembilan mukjizat Nabi Musa, kemampuan Nabi Isa menghidupkan orang mati, hingga unta Nabi Shalih. Menurutnya, tuntutan itu hanya dalih karena hati mereka sudah tertutup dari kebenaran.
Ia juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap sesuai kebutuhan, sehingga Rasulullah tidak dapat meminta wahyu kapan pun dikehendaki. Sebagai contoh, saat fitnah menimpa Siti Aisyah, Rasulullah harus menunggu turunnya wahyu dan tidak dapat memutuskan perkara itu seketika.
Untuk menggambarkan bahwa hidayah sepenuhnya urusan Allah, Opik mengisahkan Umar bin Khattab. Menurutnya, Umar semula berangkat menuju Darul Arqam untuk membunuh Rasulullah. Dalam perjalanan, ia mengetahui adiknya, Fatimah, telah memeluk Islam. Umar kemudian mendatangi rumah sang adik dan mendengar ayat-ayat Surah Thaha yang sedang dibaca, hingga hatinya terbuka dan ia bersyahadat.
Di awal ceramah, Opik mengajak jamaah mensyukuri bertambahnya umur dengan memperbanyak amal. Ia mengutip sabda Nabi tentang manusia terbaik, yaitu yang panjang umurnya dan baik amalnya. Tambah umur, tambah istiqamah dalam ibadah, katanya. Ia menyebut kajian tafsir tersebut telah berjalan sejak 2019 dan kini memasuki juz ke-8.
Menutup ceramahnya, Opik mengajak jamaah menjaga hidayah dan keimanan dengan memperbanyak doa agar hati tidak dipalingkan setelah mendapat petunjuk. Ia mengibaratkan iman seperti membawa telur yang harus dijaga hati-hati. Jamaah juga diingatkan agar tidak sibuk mengharapkan hal-hal luar biasa, tetapi memperkuat ibadah dan tobat.
Wartawan: Naura Haila, KPI/3C
Anak-Anak Antusias Mengaji di Masjid Jami Al-Husna
Pengajian Muslimah Masjid Al-Inayah Bumi Harapan Cibiru Hadirkan Kajian Kesehatan
Dakwahpos.com, Bandung- Majelis taklim muslimah Masjid Al-Inayah Bumi Harapan mengadakan agenda pengajian dengan menghadirkan materi edukasi kesehatan. Isu kesehatan fisik yang tergolong jarang dibahas di mimbar majelis taklim ini dikemas secara khusus dalam kajian rutin jamaah muslimah sore hari di Masjid Bumi Harapan, Cibiru, pada Sabtu, (31/10/2026). Fokus utama kajian kali ini mengupas tuntas isu kesehatan yang kerap diabaikan namun krusial, yakni sarkopenia; kondisi penurunan massa dan kekuatan otot yang umumnya mulai mengintai usia 30 hingga 40 tahun ke atas.
Kegiatan yang diinisiasi oleh pengurus majelis taklim ini berlandaskan pada pentingnya menjaga kesehatan fisik sebagai bagian dari amanah ibadah. Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 195, diingatkan agar umat Islam tidak menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan dengan membiarkan tubuh jatuh sakit tanpa berobat. Acara sore itu semakin istimewa karena penceramah yang dihadirkan adalah dr. Fitri Subakti, seorang dokter profesional yang juga merupakan warga asli yang tinggal di Komplek Bumi Harapan. Kehadiran beliau memberikan kedekatan tersendiri bagi para jamaah yang hadir.
Dalam pemaparannya, dr. Fitri mengupas bahaya penyakit sarkopenia yaitu kondisi penurunan massa dan kekuatan otot yang mengintai usia 30 hingga 40 tahun ke atas serta memberikan solusinya langsung di lokasi kajian. Penyampaian materi berlangsung interaktif karena dr. Fitri tidak hanya berceramah, tetapi juga memperagakan dan mempraktikkan gerakan squat secara langsung di hadapan para jamaah majelis taklim.
Para jamaah diajak mempraktikkan teknik latihan kekuatan otot (strength training) sederhana menggunakan bantuan bangku, dengan menjaga posisi tulang belakang tetap lurus dan tangan sejajar lantai. Latihan squat sederhana ini dianjurkan untuk dilakukan secara rutin sepuluh kali pada pagi dan sore hari guna memperkuat otot paha dan betis, menjaga kepadatan sendi, serta melatih keseimbangan tubuh agar terhindar dari risiko jatuh.
Menariknya, dr. Fitri juga meluruskan mitos seputar olahraga harian di kalangan usia lanjut. Menurutnya, kebiasaan berjalan kaki hingga 10.000 langkah memang baik untuk sirkulasi darah, namun bisa memicu nyeri sendi jika tidak didukung oleh kekuatan otot paha dan betis yang memadai.
"Jika otot tidak terlatih dan mengecil, saat jalan kaki yang bekerja justru sendi dan tulang. Akibatnya, setelah berjalan lama, sendi dan tulang akan terasa sakit karena ototnya tidak menopang dengan baik," jelas dr. Fitri di hadapan para jamaah majelis taklim.
Selain latihan fisik, kajian ini juga merangkum empat pilar utama hidup sehat, meliputi pola makan kaya serat (prebiotik untuk mendukung bakteri baik Lactobacillus penghasil enzim tubuh), pengaturan menu sarapan tinggi protein guna menghindari lonjakan gula darah (spiking), waktu istirahat yang cukup selama 7 hingga 8 jam, serta pengelolaan stres melalui zikir dan senantiasa berfikir positif. Sesi ini diperkaya dengan tanya jawab interaktif, di mana jamaah antusias berkonsultasi seputar gejala menopause, penanganan emosi, hingga solusi konsumsi suplemen vitamin D3 yang tepat.
Di balik suksesnya penyelenggaraan acara sore itu, tersimpan dedikasi kuat dari para pengurus masjid. Ibu Ranie Mariani, selaku pengurus Majelis Taklim Masjid Al-Inayah Bumi Harapan, menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan fungsi masjid tidak hanya sebagai pusat ibadah ritual, tetapi juga sebagai pusat edukasi umat yang solutif bagi kesehatan jasmani dan rohani masyarakat sekitar.
Wartawan: Dea Warohmah Ritonga, KPI/3C
Ustaz Asep Ajak Jemaah Raih Ketenangan dan Keberkahan Hidup Melalui Salat Subuh Berjamaah
Dakwahpos.com, Bandung - Sebuah kuliah subuh mengenai keistimewaan dan keutamaan salat subuh disampaikan oleh Ustaz Asep Irfan kepada para jemaah di Masjid Raya Al-Jabbar, Cimenerang Pada Sabtu (31/10/2026). Acara ini diselenggarakan untuk mengajak umat Islam senantiasa menjaga ibadah dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.
Kegiatan ini dilaksanakan karena salat subuh memiliki keistimewaan yang sangat luar biasa dibandingkan dengan salat wajib lainnya, seperti mendapatkan jaminan perlindungan Allah, keberkahan hidup, perhatian dari para malaikat, jaminan surga, pahala seperti beribadah semalam penuh, serta menjadi pembeda antara orang beriman dan orang munafik. Untuk mendapatkan keutamaan tersebut, umat Islam diimbau untuk membiasakan diri bangun subuh, memperbanyak zikir dan istighfar, melaksanakan salat sunah qobliyah subuh, serta mendirikan salat subuh secara berjamaah di masjid.
Dalam ceramahnya, Ustaz Asep menyampaikan sebuah kutipan langsung dari hadis Rasulullah SAW mengenai jaminan bagi orang yang melaksanakan salat subuh: "Man sholli Barang siapa yang salat subuh dia akan mendapatkan jaminan Allah.". Beliau menjelaskan bahwa jaminan dari Allah tersebut berupa perlindungan, pengawasan, dan kasih sayang-Nya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Selain itu, Ustaz Asep juga menyampaikan kutipan tidak langsung dari kitab Hidayatul Hidayah karya Imam Ghazali yang menyebutkan bahwa di dalam kepala manusia terdapat tiga ikatan saat tidur, yang mana ikatan-ikatan tersebut hanya dapat dibuka dengan cara bangun untuk duduk, mendengarkan azan, dan mendirikan salat. Beliau menambahkan bahwa kesulitan untuk bangun subuh sering kali disebabkan oleh belenggu dosa yang ada di dalam diri manusia, sehingga diperlukan paksaan dan pembiasaan agar ibadah tersebut lama-kelamaan menjadi sebuah kebutuhan.
Ustaz Asep kemudian menekankan pentingnya keberkahan di waktu subuh dengan mengutip langsung doa dari Rasulullah SAW: "Allahumma bari umati fi bukhuriha.". Melalui doa tersebut, Rasulullah SAW memohon kepada Allah agar senantiasa memberikan keberkahan kepada umatnya di waktu subuh.
Kuliah subuh ini diakhiri dengan harapan agar seluruh jemaah diberikan keistiqamahan oleh Allah SWT untuk senantiasa menjaga salat subuh di mana pun dan kapan pun berada sebagai awal dari keberhasilan di dunia dan akhirat. Ustaz Asep kemudian menutup penyampaiannya dengan mengucapkan salam penutup kepada seluruh jemaah yang hadir.
Reporter: Muhammad Haidar Khairulloh KPI 3/B
Ustaz Anwar Mengajak Jemaah Hadapi Krisis dengan Solidaritas
Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz Anwar mengajak umat Islam untuk menghadapi berbagai persoalan ekonomi dan moral dengan memperkuat solidaritas sosial, menjaga kehalalan rezeki, serta menyebarkan optimisme dalam khutbah Jumat di Masjid Baitul Muttaqien, 23/10/2026.
Dalam khutbahnya, Ustaz Anwar menjelaskan bahwa masyarakat saat ini dihadapkan pada berbagai persoalan, mulai dari tingginya beban ekonomi, sulitnya lapangan kerja, hingga krisis moral dan ketidakpastian hukum. Kondisi tersebut dapat menimbulkan kecemasan dan keputusasaan, tetapi umat Islam diingatkan agar tidak kehilangan harapan terhadap rahmat Allah Swt.
Ia mengingatkan jemaah tentang firman Allah Swt. dalam Surah Az-Zumar ayat 53 yang melarang manusia berputus asa dari rahmat-Nya. Menurut pesan khutbah tersebut, krisis bukan hanya menjadi ujian, melainkan juga momentum untuk melakukan introspeksi diri dan perubahan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Ustaz Anwar kemudian menyampaikan tiga sikap yang dapat diterapkan umat Islam dalam menghadapi kondisi tersebut. Pertama, memperkuat kesalehan sosial dan solidaritas terhadap tetangga. Ia mengajak jemaah membantu orang-orang yang mengalami kesulitan, baik melalui infak dan sedekah maupun bantuan tenaga, pikiran, serta perkataan yang baik.
Kedua, menjaga rezeki agar tetap halal dan baik. Di tengah tekanan ekonomi, umat Islam diingatkan untuk tidak tergoda mencari penghasilan melalui perjudian daring, pinjaman daring yang bermasalah, penipuan, ataupun kecurangan. Ia menekankan pentingnya kejujuran dalam bekerja, berdagang, dan menjalani kehidupan bermasyarakat.
Ketiga, menyebarkan optimisme dan menghindari kebencian maupun kepanikan. Ustaz Anwar mengajak jemaah memanfaatkan lisan dan media sosial untuk menyampaikan pesan yang bermanfaat, saling menguatkan, serta membantu mencari solusi atas persoalan di lingkungan masing-masing.
Menutup khutbahnya, Ustaz Anwar mengingatkan bahwa perubahan masyarakat dan bangsa perlu dimulai dari kesalehan serta kejujuran setiap individu. Ia juga mengajak jemaah memperbanyak istigfar dan mendekatkan diri kepada Allah Swt. sebagai bagian dari ikhtiar memohon pertolongan dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Reporter: Fatir Mahmud, KPI/3B
Keimanan dan Ketakwaan sebagai Kunci Keberkahan Negeri
Dakwahpos.com, Bandung- Khutbah Jumat di Masjid Riyadhul Huda, Caringin, Bandung, Jumat (23/10/2026), mengangkat pentingnya keimanan dan ketakwaan sebagai jalan memperoleh keberkahan dari Allah Swt. Dalam khutbahnya, Ustaz Aris Restiana mengajak jemaah untuk meningkatkan ketakwaan serta melakukan introspeksi terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
Dalam penyampaiannya, Ustaz Aris mengutip Al-Qur’an surah Al-a’raf ayat 96 yang menjelaskan bahwa keimanan dan ketakwaan suatu kaum menjadi sebab turunnya keberkahan dari langit dan bumi. Menurutnya, negeri yang aman, damai, dan sejahtera dapat terwujud apabila masyarakatnya senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah Swt.
Ia juga mengaitkan pesan tersebut dengan berbagai bencana yang terjadi, seperti kekeringan, kemarau panjang, dan kebakaran. Menurutnya, berbagai kerusakan di darat dan laut sebagaimana dijelaskan dalam surah Ar-Rum ayat 41 perlu menjadi bahan introspeksi bersama atas perbuatan manusia.
Selain itu, Ustaz Aris menyampaikan hadis Rasulullah saw. mengenai lima perkara yang dapat mendatangkan berbagai ujian bagi suatu kaum. Kelima perkara tersebut meliputi merebaknya perbuatan zina yang dapat mendatangkan penyakit, kecurangan dalam takaran dan timbangan yang berakibat pada kesulitan ekonomi, serta keengganan mengeluarkan zakat yang dapat menyebabkan tertahannya hujan.
Ia juga menjelaskan bahwa tidak memenuhi janji kepada Allah dan Rasul-Nya dapat menyebabkan suatu kaum dikuasai musuh dari luar kelompoknya. Sementara itu, ketika para pemimpin tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hukum, kondisi tersebut dapat memicu perselisihan hingga peperangan di antara sesama masyarakat.
Jikalau kita ingin diberikan oleh Allah Swt. negeri yang aman, negeri yang damai, jadilah kita orang yang beriman dan bertakwa sesuai dengan kedudukan dan profesi kita masing-masing, ujar Ustaz Aris dalam khutbahnya, Jumat.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa ketakwaan harus diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan, baik sebagai pengajar, pedagang, orang kaya, maupun masyarakat biasa. Menurutnya, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk menjalankan perannya dengan tetap berpegang teguh pada ajaran Islam.
Melalui khutbah tersebut, Ustaz Aris berharap keberkahan senantiasa tercurah bagi Indonesia, lingkungan masyarakat, serta seluruh negeri muslim. Ia juga mengajak jemaah menjadikan keimanan dan ketakwaan sebagai landasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Reporter: M Rifaldi Noer Rasyid, KPI/3C
Hadapi Ujian dengan Tadarru dan Doa, Pesan Ustaz Yayat di Masjid Al-Istianah Cipadung
Dakwahpos.com, Bandung - Jemaah Masjid Al-Istianah, Cipadung, diingatkan agar menyikapi ujian hidup dengan tadarru, yakni merendahkan diri kepada Allah Swt. Pesan itu disampaikan Ustaz Yayat saat mengupas Surah Al-An’am ayat 42-44 dalam pengajian pada Minggu (25/10/2026).
Ustaz Yayat menjelaskan bahwa Allah telah mengutus banyak rasul kepada umat terdahulu, lalu menguji mereka dengan kemelaratan dan kesengsaraan. Tujuannya agar mereka bersikap tadarru atau merendahkan diri kepada Allah.
Diuji kitu teh, la allahum yattadarra’un, supaya mereka menjadi orang-orang yang merendahkan diri, ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa kata la allahum pada ayat tersebut bukan berarti Allah yang berharap kepada manusia, justru harapan itu yang datang dari manusia. Ia mengibaratkannya dengan puasa, yakni manusia berharap menjadi orang yang bertakwa lewat ibadah tersebut.
Bukan Allah yang mengharapkan kita, tapi kita berharap kepada Allah untuk menjadi orang yang takwa, ujar Ustaz Yayat.
Selain itu, ia menambahkan bahwa setiap ujian pasti membawa kebaikan lain di baliknya. Oleh karena itu, jemaah diajak untuk tidak berhenti berdoa dalam kondisi apapun. Meskipun Allah Maha Mengetahui, hal itu tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti memohon.
Meskipun tidak diungkapkan, Allah uninga, tapi jangan pernah menjadi alasan kita tidak memohon kepada Allah, tuturnya.
Selanjutnya Ustaz Yayat mengingatkan bahaya hati yang mengeras ketika peringatan tak dihiraukan. Setan akan akan memperindah perbuatan buruk hingga terasa benar. Menurutnya, kondisi inilah yang membuat manusia tidak mengambil hikmah dari ujian yang datang.
Mudah-mudahan urang ku Allah dikersakeun dina kaimanan, katakwaan, kesabaran, menghadapi ujian dari Allah Swt. pungkasnya.
Reporter: Anisa Triwulandini/KPI 3C
Masjid Hidayatul Islamiyyah Ajak Jemaah Perdalam Ilmu Agama
Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Hidayatul Islamiyyah menjadi tempat berlangsungnya kegiatan kajian Islam bapak-bapak yang membahas keutamaan salat berjemaah dan pentingnya memakmurkan masjid pada Kamis, (29/10/2026). Materi tersebut disampaikan oleh Ustaz Ahmad Saepuddin sebagai upaya meningkatkan pemahaman jemaah mengenai kewajiban ibadah sekaligus mendorong tumbuhnya kesadaran untuk lebih aktif dalam kegiatan keagamaan.
Dalam kajian tersebut, Ustaz Ahmad Saepuddin mengawalipembahasan mengenai kedudukan salat sebagai salah satu kewajiban utama umat Islam. Salat tidak hanya menjadi bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah Swt., tetapi juga menjadi sarana membangun kedisiplinan dan memperkuat hubungan spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
Ustaz Ahmad Saepuddin juga menjelaskan keutamaan melaksanakan salat secara berjemaah. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Imam Bukhari nomor 645, bahwa salat berjemaah memiliki keutamaan 27 derajat dibandingkan salat yang dikerjakan sendirian. Keutamaan tersebut menjadi pengingat bagi umat Islam agar tidak mengabaikan kesempatan untuk melaksanakan salat bersama di masjid.
Selain itu, kajian turut membahas pentingnya memakmurkan masjid sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an Surah At-Taubah ayat 18. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta takut kepada Allah merupakan golongan yang memakmurkan masjid-Nya.
Dalam penyampaiannya, pemateri mengingatkan bahwa memakmurkan masjid tidak hanya dilakukan dengan membangun atau merawat bangunan secara fisik, tetapi juga melalui kegiatan ibadah, salat berjemaah, menuntut ilmu, dan berbagai aktivitas keagamaan lainnya.
Salat berjemaah merupakan salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar. Oleh karena itu, kita sebagai umat Islam hendaknya membiasakan diri untuk datang ke masjid, melaksanakan salat berjemaah, serta ikut memakmurkannya melalui kegiatan-kegiatan positif, jelas pemateri dalam kajian tersebut.
Melalui materi yang disampaikan, Ustaz Ahmad Saepuddin mengajak jemaah untuk tidak hanya memahami keutamaan salat berjemaah secara teori, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan kajian ini diharapkan dapat menjadi sarana pembinaan keagamaan sekaligus mempererat silaturahmi antarjemaah di lingkungan Masjid Hidayatul Islamiyyah.
Dengan adanya kegiatan kajian Islam secara berkelanjutan, masjid diharapkan dapat terus berfungsi sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat dalam meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah Swt.
Reporter: Nazwa Salsabila KPI/3C
Bukan Sekadar Tempat Salat, Masjid Kifayatul Achyar Didorong Jadi Pusat Pembinaan Umat
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kifayatul Achyar menjelaskan bahwa keberadaan masjid harus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Menurutnya, masjid tidak cukup hanya memiliki bangunan yang baik, tetapi juga perlu dihidupkan melalui kegiatan yang dapat meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam.
Ia menyampaikan bahwa masjid sejak dahulu memiliki fungsi penting dalam kehidupan umat Islam. Selain sebagai tempat beribadah, masjid juga menjadi tempat masyarakat berkumpul untuk mempelajari agama dan mengikuti berbagai kegiatan keislaman.
Kalau kita berbicara tentang sejarah masjid, sebenarnya yang paling penting itu bukan hanya kapan masjidnya dibangun, tetapi juga bagaimana niat dan perjuangan masyarakat pada waktu itu, ujarnya dalam wawancara.
Menurutnya, salah satu cara untuk menghidupkan masjid adalah dengan menghadirkan kegiatan yang dapat diikuti oleh berbagai kelompok usia. Kegiatan seperti pengajian untuk orang dewasa dan pembelajaran agama bagi anak-anak menjadi bagian penting dalam menjadikan masjid sebagai tempat pendidikan Islam.
Selain kegiatan keagamaan, keterlibatan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan masjid. Pengelolaan masjid membutuhkan dukungan bersama, baik dari pengurus maupun jamaah yang ingin berkontribusi dalam berbagai kegiatan.
“Masjid tidak bisa berjalan hanya karena ada satu atau dua orang yang mengurus. Perlu ada kebersamaan, baik dalam bentuk tenaga, pemikiran, maupun dukungan dana sesuai kemampuan masing-masing, tuturnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa generasi muda perlu mendapatkan perhatian dalam pengembangan kegiatan masjid. Anak muda diharapkan tidak hanya menjadi jamaah, tetapi juga ikut mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan dan kepengurusan masjid. Hal tersebut penting untuk mempersiapkan generasi penerus yang memiliki kepedulian terhadap keberlangsungan masjid.
Justru anak muda perlu ikut terlibat, karena mereka yang nantinya akan meneruskan kepengurusan dan menjaga keberlangsungan kegiatan masjid, katanya.
Di akhir wawancara, Ketua DKM berharap Masjid Kifayatul Achyar dapat terus berkembang dan semakin banyak menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga berharap masyarakat memiliki kesadaran untuk ikut menjaga dan memakmurkan masjid sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Melalui pengembangan kegiatan keagamaan dan keterlibatan berbagai kalangan, Masjid Kifayatul Achyar diharapkan tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran, pembinaan, dan penguatan nilai-nilai Islam dalam kehidupan masyarakat.
Wartawan: Rika Sri Patonah, KPI/3C
Ketua DKM Kifayatul Achyar Ajak Generasi Muda Lebih Aktif dalam Kegiatan Masjid
Dakwahpos.com, Bandung- Keterlibatan generasi muda dalam kegiatan masjid menjadi salah satu hal penting untuk menjaga keberlangsungan aktivitas keagamaan di lingkungan masyarakat. Masjid Kifayatul Achyar yang berada di kawasan Cipadung, Bandung, diharapkan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang bagi anak muda untuk belajar agama dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan keislaman.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kifayatul Achyar menyampaikan bahwa generasi muda memiliki peran besar dalam menjaga keberlangsungan masjid. Menurutnya, anak muda bukan hanya menjadi bagian dari jamaah, tetapi juga calon penerus yang nantinya akan melanjutkan kepengurusan dan kegiatan masjid.
Ia menjelaskan bahwa masjid membutuhkan keterlibatan berbagai kalangan agar kegiatan di dalamnya dapat terus berjalan. Tidak hanya pengurus yang memiliki tanggung jawab, tetapi masyarakat, termasuk generasi muda, juga perlu ikut mengambil bagian dalam memakmurkan masjid.
Justru anak muda perlu ikut terlibat, karena mereka yang nantinya akan meneruskan kepengurusan dan menjaga keberlangsungan kegiatan masjid, katanya dalam wawancara.
Menurutnya, keterlibatan anak muda dapat dimulai dengan mengikuti kegiatan keagamaan yang sudah diselenggarakan oleh pengurus masjid. Misalnya, mengikuti pengajian, pembelajaran agama, serta membantu berbagai kegiatan yang melibatkan jamaah. Dengan adanya partisipasi tersebut, generasi muda diharapkan semakin mengenal fungsi masjid dalam kehidupan sehari-hari.
Selain keterlibatan generasi muda, ia juga menekankan pentingnya dukungan masyarakat dalam pengelolaan masjid. Menurutnya, keberlangsungan kegiatan masjid membutuhkan kerja sama dalam berbagai bentuk, baik tenaga, pemikiran, maupun bantuan dana sesuai kemampuan masing-masing.
Masjid tidak bisa berjalan hanya karena ada satu atau dua orang yang mengurus. Perlu ada kebersamaan, baik dalam bentuk tenaga, pemikiran, maupun dukungan dana sesuai kemampuan masing-masing, tuturnya.
Lebih lanjut, Ketua DKM berharap kegiatan masjid dapat terus berkembang dan menyesuaikan kebutuhan masyarakat. Kegiatan seperti pengajian untuk orang dewasa dan pembelajaran agama bagi anak-anak menjadi bagian penting dalam menjadikan masjid sebagai tempat pendidikan Islam bagi berbagai kelompok usia.
Di akhir wawancara, ia berharap Masjid Kifayatul Achyar semakin ramai oleh jamaah dan generasi muda semakin memiliki kesadaran untuk ikut memakmurkan masjid. Menurutnya, keberlangsungan masjid tidak hanya bergantung pada kondisi bangunannya, tetapi juga pada kepedulian masyarakat dalam menjaga dan menghidupkan berbagai kegiatan di dalamnya.
Dengan adanya keterlibatan generasi muda dan dukungan masyarakat, Masjid Kifayatul Achyar diharapkan dapat terus berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Wartawan: Rika Sri Patonah, KPI/3C
Masjid Kifayatul Achyar Dorong Penguatan Pendidikan Agama bagi Masyarakat
Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Kifayatul Achyar di Cipadung memiliki peran penting dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam di tengah masyarakat. Tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan ibadah, masjid ini juga diharapkan menjadi sarana pembelajaran agama bagi berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Kifayatul Achyar menjelaskan bahwa keberadaan masjid memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar menyediakan tempat untuk salat berjamaah. Masjid juga menjadi tempat masyarakat memperoleh pengetahuan agama melalui berbagai kegiatan keislaman.
Menurutnya, keberadaan masjid tidak terlepas dari niat dan perjuangan masyarakat yang ingin memiliki tempat untuk beribadah sekaligus belajar agama. Hal tersebut menjadi bagian penting dari sejarah berdirinya sebuah masjid.
Kalau kita berbicara tentang sejarah masjid, sebenarnya yang paling penting itu bukan hanya kapan masjidnya dibangun, tetapi juga bagaimana niat dan perjuangan masyarakat pada waktu itu, ujarnya dalam wawancara.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan keagamaan di masjid perlu terus dikembangkan agar dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan di antaranya pengajian untuk orang dewasa dan pembelajaran agama bagi anak-anak.
Selain kegiatan pembelajaran, pengelolaan masjid juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Menurut Ketua DKM, keberlangsungan kegiatan masjid tidak hanya bergantung pada pengurus, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat melalui tenaga, pemikiran, maupun bantuan dana.
Masjid tidak bisa berjalan hanya karena ada satu atau dua orang yang mengurus. Perlu ada kebersamaan, baik dalam bentuk tenaga, pemikiran, maupun dukungan dana sesuai kemampuan masing-masing, tuturnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya keterlibatan generasi muda dalam berbagai aktivitas masjid. Anak muda diharapkan dapat mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan sekaligus mempersiapkan diri untuk melanjutkan kepengurusan masjid pada masa mendatang.
Justru anak muda perlu ikut terlibat, karena mereka yang nantinya akan meneruskan kepengurusan dan menjaga keberlangsungan kegiatan masjid, katanya.
Di akhir wawancara, Ketua DKM berharap Masjid Kifayatul Achyar dapat terus berkembang dan menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia juga berharap generasi muda memiliki kesadaran untuk ikut menjaga dan memakmurkan masjid.
Melalui berbagai kegiatan keagamaan dan pendidikan Islam, Masjid Kifayatul Achyar diharapkan mampu menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan agama serta membentuk masyarakat yang lebih memahami dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Wartawan: Rika Sri Patonah, KPI/3C

















