Dakwahpos.com, Bandung – Pengajar ceramah mengingatkan jemaah agar senantiasa menjaga keselarasan antara ucapan cinta kepada Nabi Muhammad saw. dan praktik kehidupan sehari-hari, Sabtu (31/10/2026). Ceramah keagamaan tersebut disampaikan secara langsung di masjid dan disiarkan melalui kanal YouTube BDN VBI. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjauhi sifat takabur dan ujub yang menjadi penyebab utama Iblis dikutuk Allah Swt., serta mengimbau agar tidak mudah meremehkan sesat orang lain.
Ceramah keagamaan tersebut membahas mengenai bahaya sifat sombong dan pentingnya pemahaman agama secara mendalam agar tidak mudah menyalahkan sesama muslim. Pengajar menjelaskan bahwa ketidaksesuaian antara pengakuan cinta kepada Rasulullah saw. dengan tindakan nyata merupakan bentuk ketidakserasian antara niat dan praktik.
"Antara niat jeung praktek kudu akur. Lamun cinta ka Kanjeng Nabi, lamun rindu ka Kanjeng Nabi, sok sedikit demi sedikit urang babarengan. Urang silih bejaan, ulah ngan ukur silih vonis," ujar pengajar dalam ceramahnya, Sabtu (31/10/2026).
Pengajar menerangkan bahwa jalan menuju surga terbuka bagi seluruh umat Islam, bukan hanya milik kelompok tertentu atau ulama saja. Oleh karena itu, prasangka buruk dan sikap merasa diri lebih mulia dibandingkan orang lain harus segera dihilangkan dari pikiran.
"Dosa anu timbul tina takabur mah dikhawatirkeun sieun siga iblis. Iblis pernah cicing di surga, tapi kenapa sampai dikutuk ku Allah Swt? Eta gara-gara kesombongan urang, gara-gara ujubna urang, gara-gara takaburna urang," imbuh pengajar, Sabtu (31/10/2026).
Beliau memperingatkan bahwa sifat takabur merupakan perkara yang sangat dilarang oleh Nabi Muhammad saw. Seseorang yang merasa ilmunya lebih tinggi tidak boleh menganggap remeh orang lain yang sedang menyampaikan kebaikan, karena ilmu tanpa pengamalan dan keikhlasan tidak akan menjamin keselamatan seseorang di akhirat.
"Pupus aplikasi anu aya dina otak urang bahwa urang teh leuwih hade tibatan batur. Sabab lamun dina otak masih keneh aya aplikasi bahwa urang leuwih alus tibatan batur, dikhawatirkeun sedikit demi sedikit terjerumus kana sifat takabur," ungkap pengajar, Sabtu (31/10/2026).
Pengajar juga menegaskan pentingnya menuntut ilmu (tholabul 'ilmi) secara fleksibel sesuai dengan situasi dan kondisi (muqtadhal hal wa maqam), serta memahami syariat Islam secara komprehensif. Selain itu, dakwah hendaknya disampaikan dengan pendekatan yang ramah (tawasuth) dan merangkul, sehingga kesalehan ritual senantiasa beriringan dengan kesalehan sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Reporter: Aisyah Ramdhani Pratiwi, KPI / 3B

Tidak ada komentar
Posting Komentar