Tampilkan postingan dengan label Masjid As-Sa’adah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Masjid As-Sa’adah. Tampilkan semua postingan

Ibu-Ibu Pengajian Jaga Kebersihan Masjid As-Sa’adah


Dakwahpos.com, Bandung-Kepedulian terhadap kebersihan tempat ibadah ditunjukkan oleh ibu-ibu pengajian Masjid As-Sa’adah melalui kegiatan bersih-bersih yang dilaksanakan setiap Jumat selepas shalat shubuh. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk partisipasi ibu-ibu dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan lingkungan masjid. Kegiatan bersih-bersih tersebut dilakukan secara bersama-sama dengan pembagian tugas di beberapa bagian masjid dan madrasah.

 

Pekerjaan yang dilakukan meliputi mengepel lantai, membersihkan toilet, serta merawat halaman dan area madrasah. Salah satu ibu yang terlibat dan mengawali kegiatan bersih-bersih tersebut adalah Ibu Awang. Ia mengungkapkan bahwa keterlibatannya berawal dari niat pribadi untuk membantu menjaga kebersihan masjid. “Kalau sehat, ya niat sendiri. Tidak ditugaskan oleh DKM,” ujar Ibu Awang saat diwawancarai pada Rabu (28/10/2026).


Seiring berjalannya waktu, ia juga mengajak ibu-ibu lainnya untuk turut serta dalam menjaga kebersihan lingkungan masjid yang rutin dilaksanakan pada hari Jumat selepas shubuh. Seperti halnya membersihkan toilet, halaman, termasuk area madrasah masjid As-Sa’adah.


Selain mengikuti kegiatan bebersih rutin yang dilaksanakan setiap hari Jumat, Ibu Awang mengatakan bahwa ia tetap berusaha menjaga kebersihan masjid secara mandiri apabila terdapat bagian masjid yang kotor "karena jika bukan saya siapa lagi", ujarnya.


Namum dalam pelaksanaannya, ketersediaan alat kebersihan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.


Ibu Awang juga berharap adanya bantuan dari pihak lain agar pekerjaan membersihkan masjid dapat terasa lebih ringan, terutama ketika kondisi fisik ibu-ibu mulai terbatas.


Bagi ibu-ibu yang terlibat, kegiatan bersih-bersih ini menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan tempat ibadah.


Melalui keterlibatan mereka, kebersihan masjid tidak hanya bergantung pada pengurus, tetapi juga didukung oleh jamaah yang bersedia meluangkan waktu untuk merawatnya.


Ibu Awang berharap ke depannya semakin banyak orang bahkan anak-anak muda yang bersedia untuk membantu dalam menjaga kebersihan masjid As-Sa’adah.


Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan pekerjaan ibu-ibu dalam menjaga kebersihan lingkungan masjid secara berkelanjutan.


Reporter: Jihan Firasyan Zulkarnaen/KPI 3C

Masjid As-Sa’adah Tumbuh dari Bangunan Sederhana


Dakwahpos.com, Bandung – Masjid As-Sa’adah di Ciganitri memiliki perjalanan panjang sebelum berkembang menjadi bangunan seperti sekarang. Perjalanan tersebut tidak terlepas dari peran para pengelola terdahulu yang menjadikan masjid As-Sa’adah menjadi masjid yang besar seperti sekarang ini. Perkembangan masjid ini telah berevolusi menjadi madrasah dan menjadi tempat anak-anak menimba ilmu agama.


Bapak Yusuf Ramdan yang merupakan ketua DKM sekaligus salah seorang tokoh yang mengetahui sejarah masjid tersebut menceritakan bahwa Masjid As-Sa’adah pada awalnya dikelola oleh Kyai Abdullah. Setelah Kyai Abdullah meninggal dunia, pengelolaan masjid dilanjutkan oleh Ustaz Ahmad Sulaiman.


Pada masa awal, kondisi masjid masih sederhana dan belum seperti bangunan yang berdiri saat ini. Seiring bertambahnya jama'ah, masjid mengalami tiga tahap renovasi hingga menjadi bangunan permanen yang lebih kokoh.


“Dulu awalnya gubuk, kemudian direnovasi sampai menjadi bangunan permanen seperti sekarang,” ujar Bapak Yusuf Ramdan saat diwawancarai pada Jumat (9/10/2026).


Selain mengalami perkembangan pada struktur bangunan, masjid tersebut juga memiliki sejarah dalam penamannya. Bapak Yusuf menuturkan bahwa nama As-Sa’adah diberikan ketika Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kabupaten Bandung saat itu, Drs. Musadad, berkunjung ke masjid di Ciganitiri tersebut. Sebelumnya, masjid tersebut belum memiliki nama As-Sa’adah.


Perjalanan Masjid As-Sa’adah juga berkaitan erat dengan perkembangan madrasah yang sejak awal berdiri dalam kondisi sederhana. Bangunan madrasah pada masa itu masih menggunakan bilik dengan lantai tanah yang belum dilapisi dengan keramik ataupun aspal. 


Pada awal berdirinya madrasah sebagai tempat pendidikan agama terdapat keterbatasan terhadap tenaga pengajar. Kegiatan pendidikan agama hanya dijalankan oleh tiga orang guru, yakni Bapan Yusuf Ramdan, Ustadz Udan Hasanuddin, dan Ibu Entoh Rupaidah. Menurut Bapak Yusuf, saat itu belum banyak warga setempat yang menempuh pendidikan pesantren sehingga kegiatan belajar agama masih mengandalkan guru-guru lokal untuk membimbing anak-anak.


Seiring berjalannya waktu, jumlah peserta didik di madrasah terus berkembang. Saat ini, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 200 orang yang mengikuti kegiatan belajar pada pagi, sore, dan malam hari. Meski demikian, keterbatasan dana untuk kebutuhan guru masih menjadi tantangan dalam pengelolaan pendidikan.


Perjalanan Masjid As-Sa’adah menunjukkan bahwa perkembangan sarana ibadah dan pendidikan agama berlangsung melalui proses panjang. Dari bangunan sederhana hingga menjadi tempat ibadah dan pembelajaran yang lebih berkembang, keberadaan masjid ini menjadi bagian dari perjalanan pendidikan keagamaan masyarakat Ciganitri.


Reporter: Jihan Firasyan Zulkarnaen/KPI 3C 

Dari Santri hingga DKM, Yusuf Ramdan Mengabdi Dua Periode

 


Dakwahpos.com, Bandung— Bapak Yusuf Ramdan telah menjalankan amanah sebagai pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) As-Sa’adah di Ciganitri selama sekitar enam tahun sejak 2020. Penugasan tersebut dilatar belakangi pengalaman Bpk. Yusuf Ramdan yang pernah menjadi salah satu pengajar di Madrasah As-Sa’adah pada tahun 1972-1973 saat ia tengah menjadi seorang santri di PPI Pajagalan, Bandung. Berawal dari kepercayaan Pimpinan Cabang Persatuan Islam (PC Persis) Bojongsoang, Bpk Yusuf Ramdan dipercaya untuk mengelola, membina, dan terus memberikan dakwah kepada masyarakat sekitar masjid As-Sa’adah. 


Bapak Yusuf menjelaskan bahwa dirinya mulai mengemban amanah setelah pensiun dari pekerjaannya di tempat pemerintahan yang bertugas di Karawang. Setelah kembali ke tempat kelahirannya yaitu ke wilayah Ciganitri, ia diminta untuk menjalankan tugas untuk membina jamaah dan mengelola Masjid Persis As-Sa’adah. "Saya kerja di pemerintahan tugas di Karawang. sudah pensiun dan saat pulang ke tempat lahir di Ciganitri saya menjadi anggota Persis." Ujar Bpk. Yusuf Ramdan.


Bapak Yusuf menuturkan bahwa kegiatan mengajar dan memberikan tausiah kepada anggota selama ini dapat berjalan tanpa kendala. Baginya, keterlibatan dalam kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan, terlebih ketika jumlah anggota bertambah yang saat ini telah mencapai 10 anggota. “ Jadi di dalam mengajar atau memberikan tausiah kepada anggota alhamdulillah ya tidak ada masalah, tidak kesulitan. Malah bangga jadi anggota." ungkap Bapak Yusuf dalam wawancara pada Jumat (9/10/2026).


Keberlanjutan kepengurusan juga menjadi bagian penting dalam perjalanan DKM Masjid As-Sa’adah. Setelah menyelesaikan periode pertama, Bapak Yusuf kembali dipercaya untuk menjalankan amanah pada periode berikutnya karena kegiatan berjamaah di masjid dinilai berjalan lancar dan mendapat kepercayaan dari anggota Pimpinan Jamaah Ciganitri.


Mengenai regenerasi, Bapak Yusuf menyampaikan bahwa calon pengganti pengurus telah direncanakan. Ia berharap keberlanjutan kepengurusan dapat menjaga pengelolaan masjid dan kegiatan dakwah agar tetap berjalan dengan baik. “Alhamdulillah sudah direncanakan pengganti PJ atau DKM Ciganitri 2 Persis Masjid As-Sa’adah,” tutur Yusuf dalam wawancara pada Jumat (9/10/2026).


Reporter: Jihan Firasyan Zulkarnaen, KPI/3C

Ustaz Kiki Hamzah Bahas Makna Al-Fujur


Dakwahpos.com, Bandung – Pengajian rutin di masjid As-Sa’adah kembali dilaksanakan. Pengajian rutin ini berupa pengajian POMG yang diikuti oleh beberapa ibu dari orang tua murid yang mengaji di madrasah As-Sa’adah. Pengajian tersebut dibawakan dengan mengangkat pembahasan makna al-fujur dalam Al-Qur’an yang disampaikan oleh Ustadz Kiki Hamzah pada Jumat (2/10/2026). Pembahasan diawali dengan kecenderungan manusia kepada keburukan padahal Allah menciptakannya selalu pada jalan kebenaran. Maka dari itu pentingnya menyucikan jiwa.


Dalam kajiannya, Ustaz Kiki menjelaskan bahwa al-fujur secara bahasa bermakna kefasikan atau keluar dari ketaatan kepada Allah SWT. Menurutnya, segala sesuatu yang membuat manusia menyimpang dari ketaatan dan condong kepada keburukan dapat disebut sebagai al-fujur. “Al-fujur adalah nama yang menyeluruh untuk keburukan,” ujarnya, Jumat (2/10/2026). 

Ustadz Kiki kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS. Asy-Syams ayat 8 yang menjelaskan bahwa Allah mengilhamkan kepada jiwa berupa jalan kefasikan dan ketakwaan. Ia menerangkan bahwa manusia diberikan pilihan untuk mengikuti jalan kebaikan ataupun keburukan. 


Menurut Ustadz Kiki, manusia juga perlu memahami adanya dorongan menuju kebaikan dan keburukan dalam dirinya. Ia menjelaskan bahwa manusia tidak dapat menjadikan takdir sebagai alasan untuk melakukan maksiat karena manusia tetap memiliki pilihan dalam menentukan sikap dan perbuatannya. “Jangan menjadikan takdir alasan untuk bermaksiat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa salah satu bentuk upaya membersihkan jiwa adalah meninggalkan keburukan. Hal tersebut dikaitkan dengan QS. Asy-Syams ayat 9–10 tentang keberuntungan orang yang menyucikan jiwa dan kerugian orang yang mengotorinya. “Sungguh telah beruntunglah orang yang mensucikan dirinya" lanjutnya.


Dalam kajian tersebut, Ustaz Kiki juga mengingatkan jamaah agar senantiasa memohon kepada Allah SWT untuk diberikan ketakwaan. Ia menyampaikan doa, “Allahumma aati nafsi taqwaha wa zakkiha anta khoiru man zakkaha anta waliyyuha wa maulaha.,” sebagai bentuk permohonan agar Allah menyucikan jiwa manusia. 


Pembahasan kemudian dilanjutkan pada kebohongan sebagai salah satu sumber keburukan. Ustaz Kiki menjelaskan bahwa kebohongan dapat menuntun seseorang kepada kefasikan dan pada akhirnya membawa kepada keburukan yang lebih besar. “Jauhkanlah dirimu dari bohong, karena bohong akan menuntun kepada kefasikan,” ujarnya.


Ustaz Kiki menyebutkan beberapa bentuk al-fujur yang sering dilakukan manusia, di antaranya berbohong dalam berbicara, melakukan amal keburukan, mengingkari janji, dan melakukan sumpah palsu. Ia mengingatkan bahwa perilaku tersebut tidak hanya berdampak kepada diri sendiri, tetapi juga dapat menimbulkan kebencian di tengah masyarakat. 


Reporter: Jihan Firasyanz, KPI/3C

 

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos