Ustadzah Yuyu Rahayu Ajak Jamaah Masjid Jami Al-Ijtihad Cipadung Wetan Cintai Ujian

 

Dakwahpos.com, Bandung- Ustadzah Yuyu Rahayu mengajak jamaah Masjid Jami Al-Ijtihad, Cipadung Wetan, untuk memandang ujian sebagai salah satu bentuk kasih sayang Allah Swt. Hal tersebut disampaikan dalam pengajian rutin ibu-ibu pada hari Jumat (11/09/2026). Menurutnya, ujian tidak hanya berupa kesulitan, tetapi juga menjadi bagian dari cara Allah mengingatkan manusia 

Dalam pemaparannya, Ustadzah Yuyu menjelaskan bahwa ujian merupakan bagian yang tidak terlepas dari kehidupan setiap manusia. Bentuk ujian yang diberikan pun beragam, seperti rasa takut, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt. dalam QS. Al-Baqarah ayat 155.

Ujian-ujian tersebut seharusnya tidak selalu dilihat dari sisi kesulitannya. Jamaah diajak untuk melihat keadaan yang sedang dihadapi dengan lebih bijak dan tidak hanya berfokus pada rasa berat yang dirasakan. Dari situlah, seseorang dapat memahami bahwa setiap ujian memiliki hikmah yang dapat diambil.

Maka dari itu, jamaah diajak untuk belajar mencintai ujian. Menurut Ustadzah Yuyu, ujian merupakan salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, meskipun terkadang hadir melalui keadaan yang tidak mudah. “Kita harus mencintai ujian, karena yang menguji kita sedang mencintai kita,” ungkap Ibu Yuyu, Jumat (11/09/2026).

Setelah memahami ujian sebagai bentuk kasih sayang Allah, manusia perlu menyikapinya dengan memperbaiki diri. Salah satunya dengan memperbanyak istigfar, bertaubat, dan meningkatkan amal saleh. Ujian dapat menjadi pengingat agar manusia tidak terlena pada kehidupan yang fana dan kembali memperhatikan hubungannya dengan Allah Swt.

Ustadzah Yuyu kemudian mengingatkan jamaah untuk tidak menunda taubat atas kesalahan yang telah dilakukan. Ia mengajak jamaah untuk sungguh-sungguh memohon ampun dan memperbaiki diri kepada Allah Swt. “Maka Ibu-Ibu, melihat kita yang sampai hari ini masih berlumuran dosa, kita harus segera memohon ampun dengan sungguh-sungguh, bertaubat dengan sebenar-benarnya kepada Allah Swt.,” ujar Ustadzah Yuyu Rahayu, Jumat (11/09/2026).

Pentingnya taubat tersebut juga dikaitkan dengan QS. At-Tahrim ayat 8. Ayat tersebut berisi seruan kepada orang-orang beriman untuk bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Taubat menjadi bentuk kesungguhan manusia untuk meninggalkan kesalahan dan memperbaiki kehidupannya.

Melalui materi tersebut, jamaah diajak untuk mengubah cara pandang terhadap ujian yang datang dalam kehidupan. Ujian tidak hanya dipahami sebagai keadaan yang sulit, tetapi juga sebagai bentuk kasih sayang Allah yang dapat membawa manusia pada kesadaran dan perbaikan diri. Dengan memaknai ujian, bertaubat, dan memperbanyak amal saleh, manusia diharapkan dapat semakin dekat kepada Allah Swt.

Reporter: Annida Wardah Dzulhikmah, KPI/3C

 


Ustaz Syamsudin Ingatkan Jamaah Pentingnya Menjaga Lisan




Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Hidayah menggelar shalat Jumat yang diisi khutbah oleh Ustaz Syamsudin pada Jumat (18/9/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di Masjid Hidayah, Kampung Sekebangbara, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat.

Dalam khutbahnya, Ustaz Syamsudin menyampaikan pentingnya menjaga lisan dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan jamaah bahwa lisan yang tidak dijaga dapat mengarahkan seseorang kepada perkataan dan perkara yang tidak baik.

Ustaz Syamsudin mengawali khutbah dengan mengajak jamaah untuk memperhatikan kembali kondisi keimanan masing-masing. Ia menyampaikan harapan agar keimanan umat Islam senantiasa dijaga oleh Allah Swt. Shalawat dan salam juga disampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, sahabat, serta para pengikutnya.

Memasuki isi khutbah, Ustaz Syamsudin mengingatkan bahwa manusia memiliki sifat lupa dan salah. Karena itu, lisan menjadi salah satu bagian yang perlu dijaga. Menurutnya, perkataan yang keluar dari lisan perlu diperhatikan agar tidak membawa seseorang kepada perkara yang tidak baik.

Ustaz Syamsudin kemudian menyampaikan hadis Rasulullah Saw mengenai perkataan manusia yang dapat menjadi sesuatu yang merugikan dirinya, kecuali perkataan yang mengandung perintah kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, atau mengingat Allah Swt.

Pesan tersebut diperkuat dengan sabda Rasulullah Saw: “Man kana yu’minu billahi wal-yaumil-akhir, fal-yaqul khairan aw liyasmut.” Hadis tersebut mengajarkan bahwa seseorang yang beriman kepada Allah Swt. dan hari akhir hendaknya berkata yang baik atau memilih untuk diam. 

Ustaz Syamsudin menjelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, lisan sering kali digunakan tidak sesuai dengan tuntunan. Oleh karena itu, ketika seseorang tidak mampu menyampaikan perkataan yang baik, diam menjadi pilihan yang lebih baik daripada mengucapkan sesuatu yang dapat menimbulkan keburukan.

“Pramila tibatan urang ngucapkeun perkara nu teu saé, langkung saé urang jempe,” ujar Ustaz Syamsudin dalam khutbahnya, Jumat (18/9/2026).

Melalui khutbah tersebut, jamaah diajak untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan lisan. Menjaga ucapan menjadi salah satu bentuk penerapan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah Swt. maupun dengan sesama manusia.

Khutbah Jumat kemudian ditutup dengan bacaan “Barakallahu wa lakum fil-Qur’anil-‘azhim” dan dilanjutkan dengan doa bersama jamaah.

Reporter: Agnia Agustina, KPI 3-C

 


Masjid Al Hidayah Pasir Biru Dorong Anak Belajar Al-Qur’an Sejak Dini


Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Al Hidayah di Kelurahan Pasir Biru menggelar kegiatan pendidikan keagamaan bagi anak-anak pada Rabu, 23 September 2026. Kegiatan yang berlangsung setiap hari mulai selepas Magrib hingga malam tersebut diikuti sekitar 27 anak dari jenjang sekolah dasar hingga Wustho. Dalam kegiatan ini, anak-anak mengikuti pembelajaran agama, mengaji, dan hafalan Al-Qur’an yang dibimbing oleh para pengajar, salah satunya Muhammad Viqi selaku pengajar sekaligus pengurus takmir Masjid Al Hidayah. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Yayasan MPT Al-Hidayah yang menjadikan masjid sebagai ruang pembelajaran agama bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Pembelajaran diawali dengan kegiatan mengaji dan hafalan setelah Magrib, kemudian dilanjutkan dengan materi keagamaan setelah salat Isya sesuai jadwal masing-masing kelas. Muhammad Viqi menjelaskan bahwa sistem pembelajaran yang diterapkan memiliki pola seperti sekolah pada umumnya, tetapi seluruh mata pelajaran diarahkan pada pendidikan agama. “Sistem pengajarannya mungkin kayak sekolah-sekolah biasa, cuma ini kan orang-orangnya ke madrasah. Ada Islaminya, ada dewan guru, dan mata pelajarannya juga ada setiap hari berbeda. Cuma fokusnya kita di bidang keagamaan semua,” ujar Muhammad Viqi.

Selain pembelajaran materi keagamaan, hafalan Al-Qur’an menjadi salah satu bagian utama dalam kegiatan tersebut. Setiap kelas memiliki target hafalan yang harus dicapai oleh para siswa. Bagi siswa yang telah menyelesaikan jenjang tertentu, terdapat kegiatan Tasmi sebagai evaluasi hafalan sebelum mengikuti wisuda. “Kalau di sini ada wisuda. Jadi per kelas itu ada targetan hafalan. Terus sebelum wisuda juga ada namanya Tasmi. Untuk kelas empat itu target hafalannya Juz 30, kemudian harus disetorkan dari awal sampai akhir,” jelasnya.

Dalam proses pembelajaran, para pengajar menghadapi tantangan dalam menyesuaikan metode pengajaran dengan karakter setiap peserta didik. Muhammad Viqi yang telah mengajar selama sekitar dua tahun mengatakan bahwa setiap anak memiliki karakter dan tingkat pemahaman yang berbeda. Kondisi tersebut membuat pengajar perlu memahami karakter anak dan mencari metode yang sesuai agar kegiatan pembelajaran tetap menarik. “Setiap anak berbeda karakternya. Jadi tantangannya harus belajar mempelajari karakter anak-anaknya juga. Gimana cara mengajar anak-anak supaya mereka enggak bosan,” tuturnya.

Menurut Muhammad Viqi, pengalaman mengajar anak-anak juga memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengembangkan kemampuan dan menyesuaikan kembali cara mengajar yang telah dimiliki sebelumnya. Ia mengatakan bahwa mengajar anak-anak membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan mengajar peserta didik yang lebih dewasa. Karena itu, pengajar tidak hanya dituntut untuk menyampaikan materi, tetapi juga memahami kebutuhan dan karakter masing-masing anak selama proses pembelajaran.

Pentingnya pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Muhammad Viqi menceritakan pengalamannya ketika mengajar seorang mahasiswa yang baru mulai belajar membaca Al-Qur’an. Mahasiswa tersebut mengaku ingin belajar mengaji setelah melihat teman-temannya yang sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar. Pengalaman tersebut menurutnya menunjukkan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an sebaiknya dipelajari sejak dini dan terus dikembangkan hingga dewasa. “Belajar di masa sekarang, apalagi di usia dini itu sangat perlu. Karena ngaji itu bukan hanya untuk masa kecil saja, tetapi perlu juga untuk nanti, untuk kehidupan kita,” ungkapnya.

Muhammad Viqi juga memberikan motivasi kepada anak-anak agar tidak menganggap kegiatan mengaji sebagai sesuatu yang hanya dilakukan ketika masih kecil. Menurutnya, belajar membaca Al-Qur’an sejak dini dapat menjadi bekal untuk kehidupan di masa mendatang. Ia mengingatkan bahwa kemampuan mengaji akan tetap dibutuhkan meskipun seseorang telah memasuki usia dewasa. “Mending belajar dari masa kecil, daripada nanti sudah besar baru mulai belajar. Karena kalau dari kecil sudah dibiasakan, insyaallah akan lebih mudah untuk ke depannya,” ujarnya.

Keberadaan kegiatan pendidikan keagamaan di Masjid Al Hidayah menjadi salah satu bentuk pemanfaatan masjid sebagai ruang pendidikan dan pembinaan keagamaan bagi masyarakat. Melalui kegiatan mengaji, hafalan Al-Qur’an, dan pembelajaran materi keislaman, anak-anak mendapatkan pendidikan agama secara terarah sekaligus membangun kebiasaan belajar Al-Qur’an sejak usia dini. Selain kegiatan bagi anak-anak, Masjid Al Hidayah juga memiliki agenda kajian mingguan dan bulanan bagi masyarakat, sehingga masjid turut berperan sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan keagamaan di lingkungan Kelurahan Pasir Biru.

Reporter: Shofia Salsabila – KPI 3C

Khotbah Jumat Masjid Ar-Rohman Pasir Biru Tekankan Al-Qur'an Petunjuk Utama


Dakwahpos.com, Bandung- Jamaah Masjid Ar-Rohman Pasir Biru, Cibiru menyimak khotbah Jumat bertema pentingnya menjadikan Al-Qur'an sebagai petunjuk utama kehidupan.

Khatib menegaskan bahwa Al-Qur'an merupakan panduan hidup yang sempurna dan menyeluruh bagi umat Islam. Ia mengingatkan jamaah agar senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan setiap pekan.

Dalam khotbahnya, khatib menyoroti tiga fenomena sosial yang dinilai semakin menjauh dari tuntunan agama. Fenomena tersebut meliputi tuntutan pernikahan beda agama serta munculnya isu kesetaraan gender yang menyimpang. 

Khatib juga mengkritik tekanan internasional terkait regulasi keagamaan di Indonesia serta penanganan isu kemanusiaan di tingkat global. Menurutnya, umat Islam perlu mengambil peran aktif dalam menjaga identitas serta nilai-nilai kebangsaan.

Selain itu, khotbah tersebut mengingatkan larangan pemaksaan keyakinan antarumat beragama sesuai ajaran Islam. Setiap penyelesaian masalah hendaknya mengedepankan argumentasi cerdas dan konstitusional.

"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang benar," ujar khatib saat mengutip penafsiran Surah Al-Baqarah ayat 120 pada Jumat (11/09/2026).

Khatib menambahkan bahwa peran seorang ayah sangat krusial dalam membentengi akidah keluarga dari ancaman penyesatan. Ayah bertanggung jawab menanamkan nilai tauhid secara konsisten kepada anak-anaknya. 

"Kewajiban ayahlah menghujamkan tauhid ketuhanan kepada anak-anaknya," ungkap khatib di akhir penyampaian materi khotbah pada Jumat (11/09/2026).

Reporter: Mahesa Almaliki Hidayat, KPI/3C

Masjid Ar-Rohman Pasir Biru Bahas Syukur Saat Lapang dan Sabar Saat Sempit


Dakwahpos.com, Bandung- Pelaksanaan ibadah Salat Jumat kali ini di Masjid Ar-Rohman Pasir Biru, Cibiru diisi dengan penyampaian khutbah terkait ujian kelapangan dan kesempitan hidup. Ratusan jamaah hadir lalu menyimak pesan spiritual tersebut secara khidmat di dalam masjid.

Khatib menjelaskan secara rinci dinamika kehidupan manusia yang selalu silih berganti. Kondisi dari gembira berubah menjadi sedih merupakan bukti nyata atas kuasa Allah.

Nasihat tersebut mengambil rujukan dari pesan Syekh Ibnu Athaillah pada kitab Al-Hikam. Allah memberikan kelapangan sekaligus kesempitan agar hamba-Nya tidak bergantung pada hal duniawi.

Sikap pasrah tersebut sangat sejalan dengan firman Allah pada Surat Al-Hadid ayat 23. Manusia dilarang bersedih secara berlebihan atas suatu kehilangan serta tidak boleh terlalu bangga atas suatu pencapaian. 

Perasaan gundah yang sering dialami oleh seseorang bisa timbul akibat perbuatan dosa. Faktor pemicu lainnya berupa kehilangan kepemilikan harta benda maupun hinaan dari lisan orang lain.

Sebaliknya, perasaan riang gembira berlebih juga dapat menjadi ujian berat jika memicu sifat sombong. Kesuksesan karir atau kelancaran rezeki harus selalu diiringi rasa syukur kepada sang pencipta. 

"Kunci dari kerisauan akibat kehilangan harta butuh keikhlasan penuh, sedangkan ujian berupa pujian orang wajib disikapi dengan syukur," ujar khatib usai turun dari mimbar, Jumat (18/09/2026).

Reporter: Mahesa Almaliki Hidayat, KPI/3C.

Masjid Al-Ihsan Cileungsi Dalami Sifat Qudrat dan Iradah Allah

 

Dakwahpos.com, Bogor- Majelis taklim di Masjid Al-Ihsan Cileungsi, Bogor mengadakan kajian tentang ketauhidan malam Ahad ini. Kegiatan rutin yang berisikan jama’ah dari bapak-bapak yang tinggal di sekitar ini dimulai dengan pembacaan salawat dan doa bersama untuk kebaikan keluarga jamaah, berfokus pada meningkatkan sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Penceramah, Ustaz Masri, yang memiliki kesempatan untuk mengisi pengajian tersebut, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk berkumpul di tempat mulia. Di hadapan para jamaah, ustaz Masri berkata, "Semoga kita semuanya mendapatkan barokah, maghfirah, dan rida dari Allah Swt." Sabtu, 19 September 2026

Ustaz Masri menjelaskan bahwa karena Allah Swt. memiliki sifat qudrat, yang berarti Maha Kuasa, tidak mungkin baginya untuk bersifat lemah atau al-azhu. Mulai dari penciptaan alam sebelum dunia (seperti dalam kitab Arasy dan Lauhulmahfuz) hingga penciptaan alam semesta saat ini, hubungan kekuasaan Allah ini mencakup berbagai tingkatan. Penceramah mengatakan bahwa penciptaan alam sebelum dunia dianggap sebagai suluhi yang qadim karena meskipun memiliki awal, itu dilakukan pada zaman azali. Agar umat manusia tidak salah mengartikan perbedaan antara kekuasaan penciptaan dan sifat zat Allah yang tanpa awal, pemahaman ini sangat penting.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut Ustaz Masri menekankan konsep tanjiziyyah hawadits, yang menjelaskan bagaimana sifat kekuasaan Allah berhubungan dengan keberadaan alam dunia dan manusia. Penceramah mengatakan bahwa tanpa hambatan apapun, segala sesuatu di alam semesta ini tunduk pada kehendak Allah, seperti yang Dia katakan dalam firman "Kun Fayakun". "Alam dunia tidak akan roboh selama makhluk di dalamnya masih ingat atau berzikir kepada Allah Swt." katanya menjelaskan. Pada kesempatan ini, beritahu Ustaz Masri. sabtu, 19 September 2026. Ini menunjukkan bahwa zikir kepada Sang Pencipta sangat penting untuk keberlangsungan kehidupan manusia.

Kemudian Ustaz Masri menjelaskan tentang takluk qada, yang berarti bahwa hukum dan takdir Allah Swt mengatur setiap langkah dan tindakan manusia. Ustaz Masri menjelaskan bahwa posisi seseorang di dunia dapat berubah kapan saja Allah ingin mengaturnya kembali. Kekuasaan Allah dapat mengubah nasib seseorang, baik dalam hal kecukupan materi maupun kerajinan beribadah. Oleh karena itu, syarat utama bagi setiap hamba adalah upaya batiniah untuk selalu berada di jalan kebaikan.

Untuk menenteramkan hati jamaah saat menghadapi ujian kehidupan, sikap pantang menyerah dalam berdoa juga menjadi poin penting yang digariskan. Penceramah mengingatkan kepada nasihat ulama tasawuf, seperti Imam Al-Ghazali, agar hamba tidak merasa gundah atau berprasangka buruk ketika doanya belum dikabulkan. Ustaz Masri menekankan pentingnya husnudzon, mengatakan, "Tugas kita adalah bersyariat dan berdoa, sedangkan yang mempunyai hak mengijabah adalah Gusti Allah." Sabtu (19/09/2026). Beliau juga mengatakan bahwa putus asa hanya akan menghalangi rahmat Allah dari kehidupan seorang hamba.

Ustaz Masri kemudian berbicara tentang sifat iradah, yang berarti berkehendak, di mana sifat ini berfungsi untuk menentukan keadaan setiap makhluk-Nya (takhshish). Takdir tentang rupa fisik, warna kulit, tingkat rezeki, dan ilmu seseorang adalah contoh ketetapan iradah Allah yang tidak boleh dihina. "Jangan sekali-kali mencaci atau menghina fisik dan keadaan orang lain, sebab semua itu diciptakan dengan hujjah dari Allah Swt," kata penceramah tentang variasi keadaan manusia. Agar jamaah tidak menjadi sombong, dia mengimbau mereka untuk selalu mengucapkan alhamdulillah dan mengagungkan Allah. Sabtu, 19 September 2026

Selain itu, penjelasan mendalam telah diberikan mengenai perspektif Ahlussunnah wal Jama'ah tentang bagaimana iradah dan syariat terkait satu sama lain. Tujuan dari penjelasan ini adalah untuk menghilangkan kesalahan dalam pemahaman fatalistik. Penceramah mencontohkan bagaimana Allah mengiradahkan keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq karena cinta dan pembenaran yang telah ada sejak awal terhadap Rasulullah saw. Sebaliknya, tokoh-tokoh seperti Abu Lahab menjadi kufur karena tindakan dan motivasi hati mereka yang menolak dan membenci ajaran kenabian. Menurut mekanisme hukum sebab-akibat (asbab syariat) ini, baik kebaikan maupun keburukan yang dilakukan manusia didasarkan pada iradah Allah melalui proses pemilihan hamba itu sendiri.

Sebagai penutup kajian, Ustaz Masri mengajak jamaah untuk terus melatih hati agar senantiasa mendengarkan petunjuk kebaikan dan ikhlas menjalankan perintah agama. Beliau menegaskan kembali bahwa keberadaan para jamaah di majelis ilmu tersebut semata-mata terjadi atas izin dan iradah Allah Swt. Mengakhiri sesi ceramahnya, beliau menyampaikan salam dan mengharapkan kepulangan para jamaah membawa keberkahan. "Semoga apa yang dipelajari membawa manfaat bagi badan dan agama kita semuanya," ucap Ustaz Masri menutup majelis ilmu tersebut.

Reporter: Shafa Maulida KPI/3C


Masjid Al-Amanah Pasir Biru Tuntun Jemaah Meraih Taufik dan Keberkahan Hidup Melalui Majelis Ilmu


Dakwahpos.com, Bandung- Kegiatan pengajian yang diadakan oleh majlis ta’lim ibu ibu yang dilaksanakan di Masjid Al-Amanah Pasir Biru tersebut menjadi salah satu kegiatan rutinan yang ada di masjid, diadakan pada hari jumat siang hari para ibu- ibu jamaah pengajian rutinan tersebut menyalurkan antusias mereka mengikuti pengajian tersebut dengan datang sebelum sang penceramah datang dan menyediakan berbagai konsumsi untuk sang ust maupun untuk  para jama’ah yang hadir.

 Dalam pembukaannya, Ustaz H. Hasan yang berkesempatan mengisi ceramah pada hari itu  mengutarakan rasa syukurnya, "Alhamdulillah wa syukurillah, urang sadayana tiasa hadir kana ieu petempatan, kana ieu majelis, kana ieu masjid." Ujar Ustaz H.hassan. Beliau kemudian menjelaskan bahwa kehadiran seluruh jamaah di majelis mulia ini diharapkan menjadi wasilah turunnya rahmat dan ampunan Allah Swt. Beliau menegaskan kembali harapannya dengan menyatakan, " hadirna urang sadayana kana ieu petempatan teh sing lungsuhna [keberkahan]." Tambah Ustaz H. Hasan sebelum memulai pengajian. Jumat (18/09/2026)

Dalam pengajian nya yang bersumber dari kitab kuning Ustaz H. Hasan menjelaskan Perjalanan hidup manusia di dunia sangat bergantung pada kesadaran memanfaatkan waktu karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diputar kembali. Ustaz H. Hasan menerangkan bahwa menurut Imam Ghazali dalam kitabnya, kehidupan manusia pada hakikatnya hanya terbagi menjadi tiga tingkatan waktu. Ustaz H. Hasan memaparkan pembagian tersebut secara langsung.

Beliau mengingatkan bahwa masa lalu yang dipenuhi dosa harus segera ditutupi dengan amal kebaikan di waktu sekarang. Menanggapi hal itu, beliau mengimbau para jamaah secara tegas, untuk memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan pada waktu sebelum nya di waktu sekarang, waktu yang kita semua sedang alami.

Sang Ustaz menceritakan Banyak manusia terjerumus dalam kemaksiatan karena mereka tidak memiliki introspeksi diri serta enggan mengakui kekurangan dan kesalahannya sendiri. Sang ustaz menjelaskan bahwa terdapat golongan orang yang melakukan kesalahan tetapi sama sekali tidak merasa bersalah maupun berniat untuk bertobat. Beliau menuturkan kondisi tersebut dengan kalimat, "Aya jalma nu teu ngarti teu hapal, tapi teu nyaho yen dirina teu ngarti, jadi moal aya tobat ka Allah." Ujar beliau.  Di samping itu, beliau memaparkan bahwa manusia yang paling mulia adalah orang yang paham akan ilmu agama dan sadar untuk mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Ustaz tersebut menegaskan hal ini melalui ucapannya, "Anu leuwih utama mah jalma ngarti, hafal, jeung nyaho kana perkara anu haram jeung bener, maka bakal dilaksanakeun." tambah nya. jumat  (18/09/2026)

 Pada ceramah pengajian tersebut  Ustaz H. Hasan menjelaskan Menuntut ilmu agama menjadi kunci utama untuk memperoleh keberkahan hidup karena Allah Swt telah menjanjikan keutamaan khusus bagi orang-orang yang rajin mengaji. Sang ustadz mengungkapkan bahwa orang yang konsisten menghadiri majelis ilmu akan mendapatkan tiga jaminan agung langsung dari Sang Creator atau sang pencipta . Beliau menyampaikan jaminan tersebut yaitu dihapuskan dosanya, di jamin rezekinya dan akan dicintai oleh Allah Swt secara langsung, kepada jamaah " Beliau juga menegaskan agar para jamaah tidak perlu merasa ragu atau goyah mengenai urusan rezeki duniawi selama terus melangkah di jalan ilmu.

selain itu ust hasan juga menyampaikan perihal Taufiq dan hidayah allah. Pada kesempatan tersebut beliau mengatakan bahwa Kemampuan seorang hamba untuk melangkah ke masjid dan beribadah bukanlah semata-mata karena kekuatan fisik atau usia muda, melainkan berkat dorongan taufik dari Allah Swt. Ustaz menerangkan bahwa banyak orang yang secara fisik kuat dan muda namun tetap merasa berat untuk menghadiri pengajian atau melaksanakan shalat. Beliau menggarisbawahi definisi taufik tersebut dengan ucapan, "Taufik teh hiji kekuatan anu dipasihkeun ku Allah supaya jalma kuat ngalaksanakeun ibadah." Beliau menambah bahwa kehadiran para jamaah tua maupun muda di majelis tersebut merupakan bukti nyata rasa sayang Allah kepada mereka. Ustadz yang berceramah pada hari itu  menegaskan kembali hal tersebut, "Ayana urang tiasa hadir jeung ibadah teh aya taufik ti Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehingga urang kuat ngaji."I ujar Ustaz H. Hasan, Jumat (18/09/2026)

Dalam ceramahnya, Ustaz H. Hasan mengingatkan bahwa manusia sering kali hanya berfokus pada faktor-faktor lahiriah seperti makanan, obat, atau profesi, padahal hakikat kehidupan sejati berada sepenuhnya di tangan Allah Swt. Beliau menegaskan bahwa kesembuhan seseorang bukanlah semata-mata karena peran dokter atau obat yang dikonsumsi, melainkan atas kehendak Allah Ta'ala yang memberikan kehidupan dan menyembuhkan penyakit. Oleh karena itu, beliau mengimbau jamaah untuk tidak melupakan rasa syukur dan ketundukan kepada Sang Maha Pencipta saat berikhtiar. Rasa terima kasih kepada sesama manusia cukup disampaikan secara lisan, sedangkan kepatuhan dan ketaatan yang sejati hanya ditujukan kepada Allah Swt. 

Selain perihal makna hidup dan hakikat allah Ustaz H. Hasan juga memberi penjelasan tentang tata cara sholat kepada jamaah pengajian ibu-ibu tersebut. Beliau mengatakan Ibadah shalat lima waktu wajib dilaksanakan dengan landasan ilmu yang benar agar ibadah tersebut tidak batal dan diterima di sisi Allah Swt. Beliau menerangkan bahwa sebelum mendirikan shalat, setiap muslim harus memahami perbedaan mendasar antara syarat sah, rukun, dan hal-hal yang membatalkan shalat. Beliau menjelaskan perbedaan waktu pelaksanaannya dengan ucapan, "Syarat mah aturan samemeh ngalaksanakeun salat, sedengkeun rukun mah aturan tata cara dina waktu keur salat." Beliau menekankan bahwa jika salah satu syarat atau rukun terpenuhi tidak sempurna, maka shalat seseorang menjadi tidak sah. Mengenai hal tersebut, beliau memberi peringatan tegas, "Dina pembatalan salat, sanajan mung ngalakukeun hiji perkara pembatal, maka salatna bakal batal." Ujar Ustaz H. Hasan, Jumat (18/09/2026)

Kesucian diri dari hadas kecil, hadas besar, serta najis merupakan syarat utama yang menentukan sah atau tidaknya pelaksanaan ibadah shalat. Ustaz H. Hasan menjelaskan bahwa hadas bukanlah kotoran fisik semata, melainkan kondisi spiritual tertentu yang menghalangi sahnya shalat dan harus disucikan melalui wudu, mandi wajib, atau tayamum. Beliau menegaskan bahwa syarat pertama yang wajib dipenuhi bagi siapa saja yang hendak melaksanakan shalat adalah suci dari hadas kecil maupun hadas besar. Selain itu, badan, tempat yang digunakan, pakaian, serta barang yang dibawa saat shalat juga wajib dipastikan benar-benar bersih dan terbebas dari segala bentuk najis.

Reporter: Shafa Maulida KPI/3C

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos