Tampilkan postingan dengan label Al-Ihsan Cileungsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Ihsan Cileungsi. Tampilkan semua postingan

Masjid Al-Ihsan Cileungsi Dalami Sifat Qudrat dan Iradah Allah

 

Dakwahpos.com, Bogor- Majelis taklim di Masjid Al-Ihsan Cileungsi, Bogor mengadakan kajian tentang ketauhidan malam Ahad ini. Kegiatan rutin yang berisikan jama’ah dari bapak-bapak yang tinggal di sekitar ini dimulai dengan pembacaan salawat dan doa bersama untuk kebaikan keluarga jamaah, berfokus pada meningkatkan sifat-sifat wajib bagi Allah Swt. Penceramah, Ustaz Masri, yang memiliki kesempatan untuk mengisi pengajian tersebut, menyampaikan rasa syukur atas kesempatan untuk berkumpul di tempat mulia. Di hadapan para jamaah, ustaz Masri berkata, "Semoga kita semuanya mendapatkan barokah, maghfirah, dan rida dari Allah Swt." Sabtu, 19 September 2026

Ustaz Masri menjelaskan bahwa karena Allah Swt. memiliki sifat qudrat, yang berarti Maha Kuasa, tidak mungkin baginya untuk bersifat lemah atau al-azhu. Mulai dari penciptaan alam sebelum dunia (seperti dalam kitab Arasy dan Lauhulmahfuz) hingga penciptaan alam semesta saat ini, hubungan kekuasaan Allah ini mencakup berbagai tingkatan. Penceramah mengatakan bahwa penciptaan alam sebelum dunia dianggap sebagai suluhi yang qadim karena meskipun memiliki awal, itu dilakukan pada zaman azali. Agar umat manusia tidak salah mengartikan perbedaan antara kekuasaan penciptaan dan sifat zat Allah yang tanpa awal, pemahaman ini sangat penting.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut Ustaz Masri menekankan konsep tanjiziyyah hawadits, yang menjelaskan bagaimana sifat kekuasaan Allah berhubungan dengan keberadaan alam dunia dan manusia. Penceramah mengatakan bahwa tanpa hambatan apapun, segala sesuatu di alam semesta ini tunduk pada kehendak Allah, seperti yang Dia katakan dalam firman "Kun Fayakun". "Alam dunia tidak akan roboh selama makhluk di dalamnya masih ingat atau berzikir kepada Allah Swt." katanya menjelaskan. Pada kesempatan ini, beritahu Ustaz Masri. sabtu, 19 September 2026. Ini menunjukkan bahwa zikir kepada Sang Pencipta sangat penting untuk keberlangsungan kehidupan manusia.

Kemudian Ustaz Masri menjelaskan tentang takluk qada, yang berarti bahwa hukum dan takdir Allah Swt mengatur setiap langkah dan tindakan manusia. Ustaz Masri menjelaskan bahwa posisi seseorang di dunia dapat berubah kapan saja Allah ingin mengaturnya kembali. Kekuasaan Allah dapat mengubah nasib seseorang, baik dalam hal kecukupan materi maupun kerajinan beribadah. Oleh karena itu, syarat utama bagi setiap hamba adalah upaya batiniah untuk selalu berada di jalan kebaikan.

Untuk menenteramkan hati jamaah saat menghadapi ujian kehidupan, sikap pantang menyerah dalam berdoa juga menjadi poin penting yang digariskan. Penceramah mengingatkan kepada nasihat ulama tasawuf, seperti Imam Al-Ghazali, agar hamba tidak merasa gundah atau berprasangka buruk ketika doanya belum dikabulkan. Ustaz Masri menekankan pentingnya husnudzon, mengatakan, "Tugas kita adalah bersyariat dan berdoa, sedangkan yang mempunyai hak mengijabah adalah Gusti Allah." Sabtu (19/09/2026). Beliau juga mengatakan bahwa putus asa hanya akan menghalangi rahmat Allah dari kehidupan seorang hamba.

Ustaz Masri kemudian berbicara tentang sifat iradah, yang berarti berkehendak, di mana sifat ini berfungsi untuk menentukan keadaan setiap makhluk-Nya (takhshish). Takdir tentang rupa fisik, warna kulit, tingkat rezeki, dan ilmu seseorang adalah contoh ketetapan iradah Allah yang tidak boleh dihina. "Jangan sekali-kali mencaci atau menghina fisik dan keadaan orang lain, sebab semua itu diciptakan dengan hujjah dari Allah Swt," kata penceramah tentang variasi keadaan manusia. Agar jamaah tidak menjadi sombong, dia mengimbau mereka untuk selalu mengucapkan alhamdulillah dan mengagungkan Allah. Sabtu, 19 September 2026

Selain itu, penjelasan mendalam telah diberikan mengenai perspektif Ahlussunnah wal Jama'ah tentang bagaimana iradah dan syariat terkait satu sama lain. Tujuan dari penjelasan ini adalah untuk menghilangkan kesalahan dalam pemahaman fatalistik. Penceramah mencontohkan bagaimana Allah mengiradahkan keimanan Abu Bakar Ash-Shiddiq karena cinta dan pembenaran yang telah ada sejak awal terhadap Rasulullah saw. Sebaliknya, tokoh-tokoh seperti Abu Lahab menjadi kufur karena tindakan dan motivasi hati mereka yang menolak dan membenci ajaran kenabian. Menurut mekanisme hukum sebab-akibat (asbab syariat) ini, baik kebaikan maupun keburukan yang dilakukan manusia didasarkan pada iradah Allah melalui proses pemilihan hamba itu sendiri.

Sebagai penutup kajian, Ustaz Masri mengajak jamaah untuk terus melatih hati agar senantiasa mendengarkan petunjuk kebaikan dan ikhlas menjalankan perintah agama. Beliau menegaskan kembali bahwa keberadaan para jamaah di majelis ilmu tersebut semata-mata terjadi atas izin dan iradah Allah Swt. Mengakhiri sesi ceramahnya, beliau menyampaikan salam dan mengharapkan kepulangan para jamaah membawa keberkahan. "Semoga apa yang dipelajari membawa manfaat bagi badan dan agama kita semuanya," ucap Ustaz Masri menutup majelis ilmu tersebut.

Reporter: Shafa Maulida KPI/3C


Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos