Masjid Al-Amanah Pasir Biru Tuntun Jemaah Meraih Taufik dan Keberkahan Hidup Melalui Majelis Ilmu

Klik untuk membaca artikel.


Dakwahpos.com, Bandung- Kegiatan pengajian yang diadakan oleh majlis ta’lim ibu ibu yang dilaksanakan di Masjid Al-Amanah Pasir Biru tersebut menjadi salah satu kegiatan rutinan yang ada di masjid, diadakan pada hari jumat siang hari para ibu- ibu jamaah pengajian rutinan tersebut menyalurkan antusias mereka mengikuti pengajian tersebut dengan datang sebelum sang penceramah datang dan menyediakan berbagai konsumsi untuk sang ust maupun untuk  para jama’ah yang hadir.

 Dalam pembukaannya, Ustaz H. Hasan yang berkesempatan mengisi ceramah pada hari itu  mengutarakan rasa syukurnya, "Alhamdulillah wa syukurillah, urang sadayana tiasa hadir kana ieu petempatan, kana ieu majelis, kana ieu masjid." Ujar Ustaz H.hassan. Beliau kemudian menjelaskan bahwa kehadiran seluruh jamaah di majelis mulia ini diharapkan menjadi wasilah turunnya rahmat dan ampunan Allah Swt. Beliau menegaskan kembali harapannya dengan menyatakan, " hadirna urang sadayana kana ieu petempatan teh sing lungsuhna [keberkahan]." Tambah Ustaz H. Hasan sebelum memulai pengajian. Jumat (18/09/2026)

Dalam pengajian nya yang bersumber dari kitab kuning Ustaz H. Hasan menjelaskan Perjalanan hidup manusia di dunia sangat bergantung pada kesadaran memanfaatkan waktu karena waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa diputar kembali. Ustaz H. Hasan menerangkan bahwa menurut Imam Ghazali dalam kitabnya, kehidupan manusia pada hakikatnya hanya terbagi menjadi tiga tingkatan waktu. Ustaz H. Hasan memaparkan pembagian tersebut secara langsung.

Beliau mengingatkan bahwa masa lalu yang dipenuhi dosa harus segera ditutupi dengan amal kebaikan di waktu sekarang. Menanggapi hal itu, beliau mengimbau para jamaah secara tegas, untuk memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan pada waktu sebelum nya di waktu sekarang, waktu yang kita semua sedang alami.

Sang Ustaz menceritakan Banyak manusia terjerumus dalam kemaksiatan karena mereka tidak memiliki introspeksi diri serta enggan mengakui kekurangan dan kesalahannya sendiri. Sang ustaz menjelaskan bahwa terdapat golongan orang yang melakukan kesalahan tetapi sama sekali tidak merasa bersalah maupun berniat untuk bertobat. Beliau menuturkan kondisi tersebut dengan kalimat, "Aya jalma nu teu ngarti teu hapal, tapi teu nyaho yen dirina teu ngarti, jadi moal aya tobat ka Allah." Ujar beliau.  Di samping itu, beliau memaparkan bahwa manusia yang paling mulia adalah orang yang paham akan ilmu agama dan sadar untuk mengamalkannya dalam kehidupan nyata. Ustaz tersebut menegaskan hal ini melalui ucapannya, "Anu leuwih utama mah jalma ngarti, hafal, jeung nyaho kana perkara anu haram jeung bener, maka bakal dilaksanakeun." tambah nya. jumat  (18/09/2026)

 Pada ceramah pengajian tersebut  Ustaz H. Hasan menjelaskan Menuntut ilmu agama menjadi kunci utama untuk memperoleh keberkahan hidup karena Allah Swt telah menjanjikan keutamaan khusus bagi orang-orang yang rajin mengaji. Sang ustadz mengungkapkan bahwa orang yang konsisten menghadiri majelis ilmu akan mendapatkan tiga jaminan agung langsung dari Sang Creator atau sang pencipta . Beliau menyampaikan jaminan tersebut yaitu dihapuskan dosanya, di jamin rezekinya dan akan dicintai oleh Allah Swt secara langsung, kepada jamaah " Beliau juga menegaskan agar para jamaah tidak perlu merasa ragu atau goyah mengenai urusan rezeki duniawi selama terus melangkah di jalan ilmu.

selain itu ust hasan juga menyampaikan perihal Taufiq dan hidayah allah. Pada kesempatan tersebut beliau mengatakan bahwa Kemampuan seorang hamba untuk melangkah ke masjid dan beribadah bukanlah semata-mata karena kekuatan fisik atau usia muda, melainkan berkat dorongan taufik dari Allah Swt. Ustaz menerangkan bahwa banyak orang yang secara fisik kuat dan muda namun tetap merasa berat untuk menghadiri pengajian atau melaksanakan shalat. Beliau menggarisbawahi definisi taufik tersebut dengan ucapan, "Taufik teh hiji kekuatan anu dipasihkeun ku Allah supaya jalma kuat ngalaksanakeun ibadah." Beliau menambah bahwa kehadiran para jamaah tua maupun muda di majelis tersebut merupakan bukti nyata rasa sayang Allah kepada mereka. Ustadz yang berceramah pada hari itu  menegaskan kembali hal tersebut, "Ayana urang tiasa hadir jeung ibadah teh aya taufik ti Allah Subhanahu Wa Ta'ala sehingga urang kuat ngaji."I ujar Ustaz H. Hasan, Jumat (18/09/2026)

Dalam ceramahnya, Ustaz H. Hasan mengingatkan bahwa manusia sering kali hanya berfokus pada faktor-faktor lahiriah seperti makanan, obat, atau profesi, padahal hakikat kehidupan sejati berada sepenuhnya di tangan Allah Swt. Beliau menegaskan bahwa kesembuhan seseorang bukanlah semata-mata karena peran dokter atau obat yang dikonsumsi, melainkan atas kehendak Allah Ta'ala yang memberikan kehidupan dan menyembuhkan penyakit. Oleh karena itu, beliau mengimbau jamaah untuk tidak melupakan rasa syukur dan ketundukan kepada Sang Maha Pencipta saat berikhtiar. Rasa terima kasih kepada sesama manusia cukup disampaikan secara lisan, sedangkan kepatuhan dan ketaatan yang sejati hanya ditujukan kepada Allah Swt. 

Selain perihal makna hidup dan hakikat allah Ustaz H. Hasan juga memberi penjelasan tentang tata cara sholat kepada jamaah pengajian ibu-ibu tersebut. Beliau mengatakan Ibadah shalat lima waktu wajib dilaksanakan dengan landasan ilmu yang benar agar ibadah tersebut tidak batal dan diterima di sisi Allah Swt. Beliau menerangkan bahwa sebelum mendirikan shalat, setiap muslim harus memahami perbedaan mendasar antara syarat sah, rukun, dan hal-hal yang membatalkan shalat. Beliau menjelaskan perbedaan waktu pelaksanaannya dengan ucapan, "Syarat mah aturan samemeh ngalaksanakeun salat, sedengkeun rukun mah aturan tata cara dina waktu keur salat." Beliau menekankan bahwa jika salah satu syarat atau rukun terpenuhi tidak sempurna, maka shalat seseorang menjadi tidak sah. Mengenai hal tersebut, beliau memberi peringatan tegas, "Dina pembatalan salat, sanajan mung ngalakukeun hiji perkara pembatal, maka salatna bakal batal." Ujar Ustaz H. Hasan, Jumat (18/09/2026)

Kesucian diri dari hadas kecil, hadas besar, serta najis merupakan syarat utama yang menentukan sah atau tidaknya pelaksanaan ibadah shalat. Ustaz H. Hasan menjelaskan bahwa hadas bukanlah kotoran fisik semata, melainkan kondisi spiritual tertentu yang menghalangi sahnya shalat dan harus disucikan melalui wudu, mandi wajib, atau tayamum. Beliau menegaskan bahwa syarat pertama yang wajib dipenuhi bagi siapa saja yang hendak melaksanakan shalat adalah suci dari hadas kecil maupun hadas besar. Selain itu, badan, tempat yang digunakan, pakaian, serta barang yang dibawa saat shalat juga wajib dipastikan benar-benar bersih dan terbebas dari segala bentuk najis.

Reporter: Shafa Maulida KPI/3C

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos