Masjid Al Hidayah Pasir Biru Dorong Anak Belajar Al-Qur’an Sejak Dini

Klik untuk membaca artikel.


Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Al Hidayah di Kelurahan Pasir Biru menggelar kegiatan pendidikan keagamaan bagi anak-anak pada Rabu, 23 September 2026. Kegiatan yang berlangsung setiap hari mulai selepas Magrib hingga malam tersebut diikuti sekitar 27 anak dari jenjang sekolah dasar hingga Wustho. Dalam kegiatan ini, anak-anak mengikuti pembelajaran agama, mengaji, dan hafalan Al-Qur’an yang dibimbing oleh para pengajar, salah satunya Muhammad Viqi selaku pengajar sekaligus pengurus takmir Masjid Al Hidayah. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Yayasan MPT Al-Hidayah yang menjadikan masjid sebagai ruang pembelajaran agama bagi anak-anak di lingkungan sekitar.

Pembelajaran diawali dengan kegiatan mengaji dan hafalan setelah Magrib, kemudian dilanjutkan dengan materi keagamaan setelah salat Isya sesuai jadwal masing-masing kelas. Muhammad Viqi menjelaskan bahwa sistem pembelajaran yang diterapkan memiliki pola seperti sekolah pada umumnya, tetapi seluruh mata pelajaran diarahkan pada pendidikan agama. “Sistem pengajarannya mungkin kayak sekolah-sekolah biasa, cuma ini kan orang-orangnya ke madrasah. Ada Islaminya, ada dewan guru, dan mata pelajarannya juga ada setiap hari berbeda. Cuma fokusnya kita di bidang keagamaan semua,” ujar Muhammad Viqi.

Selain pembelajaran materi keagamaan, hafalan Al-Qur’an menjadi salah satu bagian utama dalam kegiatan tersebut. Setiap kelas memiliki target hafalan yang harus dicapai oleh para siswa. Bagi siswa yang telah menyelesaikan jenjang tertentu, terdapat kegiatan Tasmi sebagai evaluasi hafalan sebelum mengikuti wisuda. “Kalau di sini ada wisuda. Jadi per kelas itu ada targetan hafalan. Terus sebelum wisuda juga ada namanya Tasmi. Untuk kelas empat itu target hafalannya Juz 30, kemudian harus disetorkan dari awal sampai akhir,” jelasnya.

Dalam proses pembelajaran, para pengajar menghadapi tantangan dalam menyesuaikan metode pengajaran dengan karakter setiap peserta didik. Muhammad Viqi yang telah mengajar selama sekitar dua tahun mengatakan bahwa setiap anak memiliki karakter dan tingkat pemahaman yang berbeda. Kondisi tersebut membuat pengajar perlu memahami karakter anak dan mencari metode yang sesuai agar kegiatan pembelajaran tetap menarik. “Setiap anak berbeda karakternya. Jadi tantangannya harus belajar mempelajari karakter anak-anaknya juga. Gimana cara mengajar anak-anak supaya mereka enggak bosan,” tuturnya.

Menurut Muhammad Viqi, pengalaman mengajar anak-anak juga memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengembangkan kemampuan dan menyesuaikan kembali cara mengajar yang telah dimiliki sebelumnya. Ia mengatakan bahwa mengajar anak-anak membutuhkan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan mengajar peserta didik yang lebih dewasa. Karena itu, pengajar tidak hanya dituntut untuk menyampaikan materi, tetapi juga memahami kebutuhan dan karakter masing-masing anak selama proses pembelajaran.

Pentingnya pendidikan Al-Qur’an sejak usia dini juga menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Muhammad Viqi menceritakan pengalamannya ketika mengajar seorang mahasiswa yang baru mulai belajar membaca Al-Qur’an. Mahasiswa tersebut mengaku ingin belajar mengaji setelah melihat teman-temannya yang sudah mampu membaca Al-Qur’an dengan lancar. Pengalaman tersebut menurutnya menunjukkan bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an sebaiknya dipelajari sejak dini dan terus dikembangkan hingga dewasa. “Belajar di masa sekarang, apalagi di usia dini itu sangat perlu. Karena ngaji itu bukan hanya untuk masa kecil saja, tetapi perlu juga untuk nanti, untuk kehidupan kita,” ungkapnya.

Muhammad Viqi juga memberikan motivasi kepada anak-anak agar tidak menganggap kegiatan mengaji sebagai sesuatu yang hanya dilakukan ketika masih kecil. Menurutnya, belajar membaca Al-Qur’an sejak dini dapat menjadi bekal untuk kehidupan di masa mendatang. Ia mengingatkan bahwa kemampuan mengaji akan tetap dibutuhkan meskipun seseorang telah memasuki usia dewasa. “Mending belajar dari masa kecil, daripada nanti sudah besar baru mulai belajar. Karena kalau dari kecil sudah dibiasakan, insyaallah akan lebih mudah untuk ke depannya,” ujarnya.

Keberadaan kegiatan pendidikan keagamaan di Masjid Al Hidayah menjadi salah satu bentuk pemanfaatan masjid sebagai ruang pendidikan dan pembinaan keagamaan bagi masyarakat. Melalui kegiatan mengaji, hafalan Al-Qur’an, dan pembelajaran materi keislaman, anak-anak mendapatkan pendidikan agama secara terarah sekaligus membangun kebiasaan belajar Al-Qur’an sejak usia dini. Selain kegiatan bagi anak-anak, Masjid Al Hidayah juga memiliki agenda kajian mingguan dan bulanan bagi masyarakat, sehingga masjid turut berperan sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan keagamaan di lingkungan Kelurahan Pasir Biru.

Reporter: Shofia Salsabila – KPI 3C

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos