Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Ketua DKM Al-Ikhlas Cilengkrang Terbitkan Puluhan Buku Pelajaran

Dakwahpos.Com - Bandung (3/10/2023) -Dr.H.Haerudin,M.Mpd atau yang biasa di panggil pak haji tempat lahir tasikmalaya  24 april 1963.Pada saat ini menetap di Jln.Cilengkrang RT.05 RW.04 Desa Cisurupan kecamatan Cibiru. Mulai merantau pada tahun 1985,pak haji melanjutkan pendidikikan  di Universitas Nusantara ,dilanjutkan  di IKIP Bandung,dan dilanjutkan di Universitas Islam Bandung.Hobbi yang di jalani samapai sekarang yaitu membaca,kalau pas masih muda mendaki gunung atau istilahnya tadabur alam,mempunyai riwayat penyakit batu ginjal sempet mau di oprasi tapi sampai sekarang belum"Ungkap Pak Haji"

Pak haji mempunyai tiga anak dan satu istri,pekerjaan saat ini sudah pensiunan,berkat  doa dan dukungan dari guru dan orang tua,pak haji bisa melanjutkan pendidikannya,pada saat kuliah  pak haji menjadi asisten dosen lebih dari satu dan pak haji berhasil menerbitkan buku lebih dari 60 ,buku pelajaran SD,SMP,dan SMA.

Motivasi dari orang tua yang masih di ingat sampai sekarang yaitu"harus bisa merasakan mati,sebelum mati"pak haji renungkan dan amati kalimat itu maka dapat di artikan jangan hubbud dunyya atau ( cinta dunia).

Pak haji merupakan ketua DKM Al-Ikhlas Cilengkrang kurang lebih 15 tahun dan sampai sekarang belum tergantikan,berkat kepercayaan masyarakat sekitar kepada pak haji.Yang paling berat di hadapi yaitu memakmurkan masjid,menggiring untuk shalat berjmaah bahkan sempat untuk dibuatkan jadwal shalat berjamaah,tapi masyarakat tidak menerima dan sebagainya "Ungkap Pak Haji".

Dan tentu saja memberikan arahan bagaimana mendidik masyarakat  biar ada peningkatan kualitas keimanan dan ketaqwaan dari waktu ke waktu walaupun memang itu sangat susah.

Kontribusi yang paling penting yaitu menyatukan berbagai macam aliran,menjadi satu.Menyatukan umat agar bisa menerima berbagai macam aliran tanpa harus menimbulkan persoalan-persoalan yang mengganggu ketentraman,kenyamanan hidup bermasyarakat.


  

Reporter : Shilvia Agustiani / KPI 3D



Serliana Salsabila, Wakili Mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Ikut Lomba Dakwah Digital Al-Washliyah

Dakwahpos.com, Cilegon – Pengurus Wilayah Al Jam'iyatul Washliyah Provinsi Jawa Barat mengadakan Lomba Digital Al Washliyah Jawa Barat dalam memperingati Milad Al-Jam'iatul Wahliyah ke-90 2020 pada Selasa (17/11/2020) dengan mengangkat tema ceramah yaitu keislaman.

Perlombaan tersebut terbuka untuk kader Al-Washliyah dan masyarkat umum. Penyeleggara lomba membagi kategori menjadi 3, yang pertama tingkat anak-anak, kedua tingkat remaja, dan ketiga tingkat dewasa. Mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Sunan Gunung Djati Bandung turut meramaikan perlombaan tersebut.

Di kategori dewasa, terdapat perwakilan dari mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yaitu Serliana Salsabila dari jurusan Komunikasi & Penyiaran Islam yang mengangkat judul "Hati-Hati dalam Pergaulan".

Dikutip dari videonya, mengungkapkan bahwa "Pergaulan bebas merupakan sesuatu yang marak terjadi saat ini. Pergaulan bebas dapat menjangkiti siapapun. Ini merupakan penyakit yang menyerang pribadi - pribadi labil seperti para remaja. Mereka mencoba apapun, tanpa memedulikan batasan yang sudah ditetapkan oleh agama, lingkungan sosial, dan hukum. Oleh karena itu, sebagai orang yang beragama kita harus menjauhi perbuatan zina, dan membatasi pergaulan terhadap orang yang bukan mahramnya."

Melihat antusias peserta yang sangat tinggi maka pendaftaran lomba diperpanjang sampai 29 November 2020 dan pengumuman lomba mengalami kemunduran selama satu hari dari waktu semula yaitu 30 November.

Dilansir dari Instagram @dakwah.alwashliyah ada berberapa pemenang yang mewakili UIN Sunan Gunung Djati Bandung, mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam angkatan 2018 & 2019 yaitu memenangkan kategori dewasa. Juara 1, juara 2, harapan 2 dan 3.

Pemenang lomba ceramah ini akan mendapatkan hadiah masing-masing kategori terdapat Juara 1-3 dan Juara Harapan 1-3, juara 1-3 mendapatkan voucher pulsa dan piagam penghargaan dan juara harapan 1-3 mendapatkan piagam penghargaan.

"Rasanya menjadi pemenang itu sebenarnya sungguh berat, karena kalau misalnya dakwah itu kita harus bertanggung jawab juga untuk diri kita sendiri, kita harus bertanggung jawab atas perkataan yang kita syiarkan, jadi rasanya senang campur sedih. Senang karena Alhamdulillah bisa menjadi motivasi saya untuk kedepannya melakukan sesuatu hal yang positif, dan sedih karena menjadi beban moral untuk saya pribadi." ucap pemenang juara harapan 3.

Reporter: Serliana Salsabila, KPI/3D.

Saeful Mulk Menjabat Ketua DKM Al-Mukhtar Periode 2018-2019

Masjid Al-Mukhtar berada di Kelurahan Cipadung Kulon , didirikan oleh H. Ilyas sekitar tahun  1958. Jika bicara kepengurusan masjid Al-Mukhar, untuk saat ini dipegang oleh sanak-kerabat dan keluarga H. Ilyas sendiri. Kepengurusan ini dilakukan secara turun temurun  dengan maksud agar sejarah berdirinya masjid Al-Mukhtar tetap terjaga keasliannya. Oleh karena itu, kepengurusan kini telah dipegang oleh Ketua RW Cipadung Kulon sekaligus keponakan dari H. Ilyas sendiri yaitu Saeful Mulk.

Beliau lahir pada tahun 18 juni 1965, dan sejak kecil hingga dewasa beliau memang tidak asing lagi dengan masyarakat sekitar Kelurahan Cipadung Kulon terutama Masjid Al-Mukhtar. Sejak berada dibangku SD (Sekolah Dasar) sampai beliau dewasa, memang telah rutin dan diajarkan untuk ikut kedua orang tuanya dalam mengurus masjid Al-Mukhtar.

Kendati demikian, kerabat lainnya pun ikut membantu dalam kepengurusan Masjid Al-Mukhtar seperti Agus Herman (52 tahun) selaku sekretaris serta sepupu dari Saeful Mulk sendiri. Uniknya lagi seperti halnya budaya Sunda, jika ada satu keluarga dalam satu tempat pasti keluarga lainnya juga berada ditempat tersebut. Ngariung istilahnya dalam bahasa Sunda.

Jika ditilik lebih dekat, memang benar keluarga-keluarga dari beliau berada disekitar masjid Al-Mukhtar. Beliau mengatakan karena mereka ngariung seperti ini memang sesuai dengan adat istiadat budaya Sunda "makan ga makan yang penting ngumpul we" ucap beliau. 

Saat ini beliau sedang sibuk-sibuknya dalam menjalankan tugasnya sebagai Ketua RW serta sebagai Ketua DKM Masjid Al-Mukhtar. Beliau juga sempat berpesan agar hidup ini bisa berguna bagi orang lain, karena hidup hanya satu kali dan beribadah hanya kepada Allah. Beribadah kepada Allah dan berguna bagi orang lain harus kita lakukan selama masih diberi kesempatan.


Reporter: Ando Adhi Putra KPI/3A

Eneh Suhaenah Usia Telah Senja, Semangat Tetap Ada

Dakwahpos.com, Bandung- Menjalani hidup hingga usia senja, bukanlah suatu hal yang mudah untuk dilakukan oleh sebagian orang. Apalagi harus tetap bahagia dan dapat mengisi kegiatan dengan berbagai hal yang positif. Umur bukanlah hitungan angka yang dapat mengukur seberapa semangat kita untuk menjalani hidup, karena sejatinya semangat seseorang tidak dapat lekang oleh waktu.

Ketika menginjak usia 60 tahun, tubuh sudah mulai mengalami penurunan fungsi dan berbagai macam penyakit akan datang menghampiri. Namun meskipun sudah berusia senja dan mulai sakit-sakitan, semangat untuk menjalani hidup harus tetap membara. Hal inilah yang dialami Eneh Suhaenah, seorang wanita berusia senja yang lahir di Bandung pada 7 Juli 1944 silam. Yang kini bertempat tinggal di Manisi 27, RT 03 RW 01, Desa Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Bandung. 

Diusianya yang terbilang sudah tua yaitu sudah berusia 74 tahun, semangat Eneh Suhaenah tidak pernah padam. Eneh Suhaenah yang biasa disapa Emak oleh warga sekitar, selalu bersemangat untuk menuntut ilmu agama. Meskipun tak jarang Eneh Suhaenah datang ke pengajian dalam kondisi sedang sakit, misalnya batuk, sakit punggung, dan berbagai macam penyakit diusia senja lainnya.

Eneh Suhaenah merupakan penanggung jawab atau ketua pengajian ibu-ibu, yang berlokasi di Masjid Al Hidayah, Jl. Manisi, Gg. Manisi VI, no. 124, RT 04 RW 03, Kelurahan Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung. Meskipun hanya mampu menyelesaikan pendidikan sampai Sekolah Rakyat pada tahun 1958 di Lampung Tengah kemudian berlanjut ke Cibiru, Eneh Suhaenah tetap mampu dan dipercaya menjadi penanggung jawab pengajian ibu-ibu. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak beliau mulai mengaji di Masjid Al Hidayah pada tahun 1978 hingga sekarang.

Eneh Suhaenah mengatakan bahwa meskipun usia sudah tidak muda lagi, semangat kita jangan pernah kalah dengan yang masih muda. Beliau berkata bahwa pendidikan adalah nomor satu, apalagi mengenai pendidikan agama. Sehingga sengat benting baginya untuk selalu datang ke Masjid untuk mengaji, karena menurut beliau sangat rugi apabila ilmu agama tidak dikaji terus menerus.


Reporter : Edra Adha Yati, KPI 3A 

Ust. Moch. SolehWujudkan Masyarakat Aktif


Dakwahpos.com Bandung, Ust. Moch. Soleh salah satu tokoh yang punya andil besar dilingkungan warga setempat. Selain menjabat sebagai RT, beliau juga aktif di DKM Al-Falah sebagai bidang kerohanian. Berbagai kesibukan kerap nampak terlihat, semisal mengajari anak-anak untuk mengaji qur'an, pengajian umum bersama warga setempat. 

Satu keahlian yang memang membuat takjub masyarakat adalah suaranya yang merdu, iya memang karena beliau seorang qori yang pandai dalam tilawahnya. Apalagi saat beliau mengumandangkan adzan, orang-orang sudah mengenali suara khasnya itu.

Sebagai seorang qori, tentunya beliau juga sering mendapat undangan untuk mengaji acara-acara tertentu seperti di pernikahan,  perayaan hari besar islam, pengajian rutinan atau acara lainnya. Sehingga orang-orang sekitar mengenal betul siapa Ust. Moch. Soleh ini.

Anak-anak beliau juga termasuk orang-orang yang sukses. Anak pertamanya kini menjadi salah satu staf didinas penelitian air di provinsi. Dan dua beliau putranya saat ini tengah menempuh pendidikan di Al-Azhar University dan akan lulus pada tahun 2019. Tak kalah hebatnya putra putri beliau juga mahir dalam tilawah juga sekaligus memiliki suara yang merdu.

Secara akademis, memang beliau tak menempuh pendidikan jenjang sekolah seperti pada umumnya. Beliau hanya mengaji, dan diam dipesantren saja. Tapi siapa sangka saat Allah menakdirkan seseorang untuk mampu berorientasi, maka terwujudlah. Semoga kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

KH. Ma'mun Nawawi Ahli astronomi Asal Bekasi

Dakwahpos.com, Bekasi merupakan medan jihad pejuang islam. Dan hampir 100 persen para pejuang asal bekasi merupakan para ulama dan santri. 

Ulama yang satu ini merupakan ulama yang produktif menulis.Tidak kurang hasil karya tulisnya sejumlah 63 kitab. Selain itu beliau juga menjadi penggerak pejuang kemerdekaan Indonesia bersama para santrinya, khususnya di tanah kelahirannya Bekasi. Beliau dilahirkan di Kampung Cibogo Bekasi pada hari Kamis bulan Jumadil Akhir 1334 H/1915 M. Ayahnya bernama KH. R. Anwar. Di usia 13 tahun beliau telah tamat sekolah dengan hasil diploma satu.

Usia 15 tahun beliau melanjutkan studinya ke pesantren yang diasuh oleh Tugabus Bakri bin Seda (Mama Sempur) di Plered Sempur Bandung hingga 7 tahun. Setelah itu ia lanjutkan studinya ke Mekkah selama 2 tahun. Selama di Mekkah beliau berguru pada lebih dari 13 muallif (pengarang kitab), diantaranya adalah al-Muhaddits as-Sayyid Alawi al-Maliki dan Mama KH. Mukhtar Athorid al-Bogori. Sekembalinya dari Mekkah, saat itu usianya 24 tahun, beliau melanjutkan studinya atas saran sang ayah. Sebagai orang yang berilmu dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap perkembangan Islam KH. Raden Anwar, sang ayah yang pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy'ari, mengutus putranya itu untuk belajar agama lagi di pesantren. Berbagai pesantren pun disambanginya untuk digali ilmunya. Mulai dari Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari, pesantrennya Syaikh Ihsan Jampes Kediri.

Setelah itu, beliau belajar lagi ke pesantren yang diasuh Syaikh KH. Manshur bin Abdul Hamid al-Batawi, pengarang kitab Sullam an-Nayirain, di Jembatan Lima, Jakarta. Kitab Sullam an-Nayirain berisi tentang ilmu falak. Oleh KH. Raden Ma'mun Nawawi kitab ini mampu dipelajari dan dikuasainya selama 40 hari saja.

Beliau termasuk ulama yang produktif menulis. Selama hidupnya beliau pernah menulis nadzaman ilmu falak sebanyak 63 bait dan menghasilkan setidaknya 63 kitab. "Angka-angka ini seperti kebetulan saja," ujar KH. R. Jamaluddin yang merupakan keturunan ke-11 dari Maulana Hasanuddin dan ke-24 dari Rasulullah Saw. ini. 

KH. Ma'mun nawawi yang wafat pada 1975 silam juga dikenal sebagai cendekiawan. KH. R. Jamaluddin bersama PC sastra Kab.Bekasi mengusulkan nama KH. Ma'mun nawawi diabadikan jadi nama jalan atau gedung di Kab.Bekasi . 

Ketua DKM dan Pendiri Masjid Nurul Iman

Dakwahpos.Bandung – Ketua DKM Nurul Iman dengan nama lengkap Ade hidayat ini bukan hanya menjabat sebagai ketua DKM namun juga sebagai pendiri Masjid Jami' Nurul iman. Masjid yang berlokasi di Cipadung, kota Bandung ini merupakan mushola pada awalnya. Pada tahun 1982 Ustad Ade mengubah mushola menjadi Majid Jami'.

Alasan beliau mengubah mushola ini menjadi Masjid Jami' karna melihat potensi masyarakat banyak namun karna Masjid yang dipakai shalat jumat itu jauh jadi sebagian masyarakat itu malas untuk shalat jumat. Pada tahun yang sama beliau diangkat menjadi ketua DKM Nurul Iman. Pada saat itu tidak ada yang mau menjadi ketua DKM lagi karna masyarakat sudah sangat percaya pada pak Ade

Ketua DKM yang pernah mengenyam bangku kuliah di IAIN Sunan Gunung Djati dengan ini mengatakan " sebetulnya saya kan tidak mau ditokohkan, dengan kepercayaan masyarakat yang tinggi akhirnya tidak ada masyarakat yang berani untuk menjadi ketua DKM". Kepercayaan masyarakat yang tinggi ini pula yang sempat mau menjadikan Ustad ade menjabat sebagai ketua RW, namun beliau menolak. Beliau sudah menetapkan bahwa beliau hanya akan mengurusi umat biar jabatan ketua RW diserahkan kepada yang lain saja.

Sebagai ketua DKM beliau mempunyai sifat kepemimpinan yang melekat. Sifat ini tidak didapat secara instan namun dengan proses. Beliau pernah menjabat sebagai ketua MDI Cibiru wirakarya, Humas MUI cabang Cibiru dan juga masih menjadi Komite Sekolah Kifayatul Achyar.

Selain menjadi ketua DKM Nurul iman beliau pun sekarang sedang menjalankan bisnis di bidang kerudung. Dan juga sering mengisi pengajian ataupun ceramah di berbagai tempat.
Ayu Khodijah / KPI 3A

Perhatian: E-mail ini (termasuk seluruh lampirannya, bila ada) hanya ditujukan kepada penerima yang tercantum di atas. Jika Anda bukan penerima yang dituju, maka Anda tidak diperkenankan untuk memanfaatkan, menyebarkan, mendistribusikan, atau menggandakan e-mail ini beserta seluruh lampirannya, mohon segera memberitahukan Yayasan Asih Putera di alamat email yang tercantum di atas serta menghapus e-mail ini beserta seluruh lampirannya. Semua pendapat yang ada dalam e-mail ini merupakan pendapat pribadi dari pengirim yang bersangkutan dan tidak serta merta mencerminkan pandangan Yayasan Asih Putera, kecuali telah ada kesepakatan antara kedua belah pihak.

Diana Baiti hafidzoh muda inspirator anak muda


Namanya Diana Baiti, "teh Dibai" di panggilnya. Beliau lahir di cirebon, 12 februari 1995. Sejak kecil beliau di sekolahkan di sekolah yang berbasis agama islam yakni di SDN 1 Cempaka Cirebon, SMPIT AL-HIKMAH Cirebon, MA AS-SUNNAH Cirebon dan beliau telah menyelesaikan S1,S2 nya di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Sekarang beliau menjadi seorang pengajar di berbagai lembaga pendidikan baik di lembaga pendidikan formal maupun nonformal.

Perempuan asli cirebon ini mempunyai motto hidup yang luar biasa yakni عش كريما او مت شهيدا yakni hidup mulya atau mati syahid. Sungguh luar biasa.
  Beliau adalah seorang hafidzoh yang tentu saja perjuangan nya tidak mudah. Dengan segala kegigihan, kesungguhan beliau alhamdulillah beliau bisa menyelesaikan hafalan dan pendidikannya sekaligus. Beliau khatam Al-Qur'an ketika beliau sedang menjalani pendidikan S1 di UIN Sunan Gunung Djati di lembaga Rumah Qur'an Indonesia.

 "Ketika saya mendapat tantangan untuk menyelesaikan 4 juz terakhir untuk menghatamkan Al qur'an dalam 3 minggu di lembaga Rumah Qur'an Indonesia saat bulan Ramadhan,dengan Izin Allah di tengah-tengah kesibukan saya yang begitu padat,dengan dorongan serta doa dari teman - teman sahabat qur'an,saya bisa menyelesaikan hafalan saya di 10 hari terakhir di bulan ramadhan dan itu diluar prediksi saya" Ceritanya. Subhanallah sangat membanggakan dan menginspirasi. Tidak hanya itu beliau juga mempunyai prestasi yang lain yakni
MHQ juara 1, Juara 1 Lomba Debat Bahasa dan selama beliau menjalani S1 beliau adalah penerima Beasiswa Tahfidz 5,10,30 juz dari kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Reporter : Ika rahmatika

Pak Unang Imam Masjid Miftahul Sya'adah

Dakwahpos.com, Bandung- Pak Unang adalah sapaan khas oleh warga sekitar Masjid Miftahul Sya'adah nama asli Beliau adalah Unang Rohman. Beliau adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Pria kelahiran Sukabumi, 15 November 1975, bekerja sebagai guru SD di SD Pelita 01 Bandung. Beliau adalah lulusan dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, fakultas Tarbiyah dengan di program study Pendidikan Agama Islam.

Beliau berstatus sudah menikah, dan dianugerahi tiga orang anak. Dimana salah satu anaknya sudah menginjak bangku kelas tiga SD. Dan dua anak lainnya masih kecil-kecil sehingga belum menginjakan kakinya di bangku sekolah.

Kegiatan sehari-hari beliau adalah mengajar sebagai guru SD namun selain menjadi guru SD beliau juga menjadi imam di Masjid Miftahul Sya'adah. Meskipun Beliau sibuk dengan mengajar murid-muridnya, Ia masih tetap meluangkan waktu untuk menjadi Imam sholat di Masjid Miftahul Sya'adah. Memang tidak mudah menjadi Imam di sebuah Masjid  dengan kesibukan sebagai seorang guru.

"aya rencana kapayuna bakal merehap masjid di sebelah payun amun aya danana" ungkap Bpk Unang.

Meskipun tidak mudah menjalaninya Beliau tetap terus berusaha untuk selalu bisa menjalankannya. Diusianya yang ke 43 tahun beliau selalu menggunakan waktunya dengan sebaik-baiknya baik untuk melakukan kewajibannya sebagai guru dan kewajibannya sebagai seorang Imam Masjid. Beliau tidak ingin ketinggalan bekal dalam berburu amal untuk bekal di akhirat kelak. Beliau selalu menjalani hari penuh dengan ikhlas.

Beliau juga sudah pernah mendapatkan beberapa penghargaan salah satunya adalah penghargaan tentang kurikulum 2013, atau yang biasa disingkat sebagai K13. Beliau aktif didalam kegiatan-kegiatan di Masjid Miftahul Sya'adah. Beliau selalu ambil bagian dalam kegiatan memperingati hari-hari besar Islam seperti satu syawal, bulan Ramadhan, Idhul Adha dan lain sebagainya. Jika di Masjid Miftahul Sya'adah mengadakan perbaikan Masjid atau bersih-bersih Beliau tidak sungkan dalam membantu entah itu tenaga ataupun material.

Djaenudin Syamsuri, Sang Pencetus Ide Pembangunan Masjid Al-Muhajirin

Pembangunan adalah upaya yang perlu dilakukan seseorang disuatu tempat untuk menciptkan sebuah lingkungan menjadi lebih tertata sehingga individu yang tinggal didalamnya bisa menikmati lingkungan tersebut. Dengan maraknya pembangunan di suatu tempat maka secara tidak langsung frame yang positif melekat padanya.

Sadar mengenai pentingnya pembangunan, Djaenudin Syamsuri Alumni Sarjana Muda IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Strata Satu Unisba mulai mencanangkan ide pembangunan terhadap Masjid Al-Muhajirin Cipadung. 

Bermodalkan pengetahuan dan pengalamannya menjadi Ketua DKM Masjid Ash-Shalihin Lengkong Bandung selama 20 tahun, Djaenudin ajukan gagasannya kepada masyarakat Cipadung RT 4/RW 4 guna mendapatkan persutujuan dari masyarakat. Hingga akhirnya gagasannya mengenai pembangunan masjid direspon baik oleh masyarakat.

Tidak hanya berhenti dengan memberikan gagasan, Djaenudin pun mulai melakukan perencanaan tahap awal pembangunan sedemikian rupa meski dengan modal yang terhitung sangat pas-pasan. Namun, minimnya modal tidak mengurangi semangat pria yang pernah menjadi Ketua Senat Fakultas Ushuluddin ini dalam upaya membangun dan melakukan pembaharuan-pembaharuan di Masjid Al-Muhajirin.

Relasi yang Djaenudin bangun selama aktif di PUI Kota Madya, NU Kota Madya, dan MUI Kecamatan sedikit membantunya dalam proses pembangunan Masjid Al-Muhajirin. Konsep pemanfaatan swadaya masyarakat (dari masyarakat, dengan masyarakat, dan untuk masyarakat) ia terapkan dalam proses pembangunan Masjid Al-Muhajirin. Hingga akhirnya pada bulan Oktober tahun 2018, pembangunan Masjid Al-Muhajirin sudah mencapai 70% dan ini merupakan sebuah proses yang cepat jika dilihat dari modal yang sangat minim.

Reporter: Ahmad Rifa'I Yusuf N KPI/3A

Ibu Juariyah, Inspirasi Jamaah Majlis ta'lim Masjid Al-Murtadho


Dakwahpos,comBandung Di siang hari, terlihat seorang ibu tengah menggelar karpet kemudian menyalakan microphone, memanggil ibu-ibu di sekitar untuk datang ke majlis ta'lim. Ibu itu berusia 51 tahun bernama  Ibu Juariyah, yang sering di sapa dengan panggilan Ibu Maman. Kesibukannya sebagai ibu rumah tangga yang single parent juga sebagai ketua Majlis Ta'lim tidak membuatnya mengeluh. Prinsipnya yang sangat kuat membuatnya terus bertahan sebagai ketua Majlis Ta'lim di Masjid Al-Murtadho Cibiru Wetan, Bandung.

"Yaaa neng ibu diamanahkan jadi ketua majlis ta'lim ibu-ibu disini dengan segala ketidakbisaan, sekarang ibu sebagai ibu rumah tangga biasa sekaligus ayah bagi anak-anak neng. Suami ibu dipanggil oleh Allah sekirat 7 bulan yang lalu, niatkan saja hanya karna Allah, toh hidup kita di dunia ini hanya untuk berladang dan insyaAllah nanti hasilnya di akhirat kelak baik neng" Kata Ibu Juariyah di kediamannya,Cibiru Wetan kamis (31/10/18)

Walaupun ada saja yang tidak suka kepada beliau karena dijadikan ketua Majlis Ta'lim  akan tetapi, itu tidak mengurangi semangat dakwahnya, mengajak warga sekitar untuk datang ke masjid mempelajari ilmu Allah bersama-sama. Beliau pun mengakui  bahwa perjalanan hidupnya yang tidaklah mudah untuk sampai sekarang ini, yang dulu dikenal sebagai seorang ibu rumah tangga biasa yang sangat awam dari ilmu agama. Namun, sekarang beliau dikenal sebagai ibu ustadzah ketua Majlis Ta'lim.

" ada saja yang tidak suka mah neng, bukan ibu yang pengen jadi ketua majlis ta'lim, mungkin itulah ketentuan Allah melalui lisan bu RW,  kalo liat kisah Rasulullah mah ngga sebanding dengan ibu saat ini, ibu yakin bahwa Allah tidak akan memberi ujian di batas kemampuan hambanya, itumah harus yakin neng"Kata Ibu Juariyah di kediamannya,Cibiru Wetan kamis (31/10/18)

Ditemui di kediamannya di daerah Cibiru Wetan, beliau menceritakan perjalanannya dalam mengaji, bermula dari putri sulungnya yang pada saat itu tengah mengaji bersama-sama di rumah yang sederhana. Ia membenarkan bacaan ibunya ketika mengaji yang masih terbata-bata, kemudian guru dari putrinya mengajak ibu maman untuk mengaji bersama. Beliau sama sekali tak merasa tersinggung sebagai seorang ibu, malah ia merenungi dirinya sendiri untuk kembali mempelajari Al-qur'an walau posisinya sebagai seorang ibu dari 3 orang anak pada saat itu, sampai beliau mengandung anak keempat pun beliau membawa bayinya untuk pergi mengaji.

Waktu terus berputar, sampai ditengah perjalanannya beliau mengalami sakit yang luar biasa, yang menurut seorang dokter penyakitnya itu aneh sulit di prediksi apa penyebabnya. Namun, beliau tetap saja bersemangat untuk mengaji ke berbagai masjid dengan kenyakinannya. Menurutnya, mempelajari ilmu agama itu sangatlah penting sampai kapanpun, bahkan sampai nanti dipanggil oleh pemilik-Nya. Beliau pun menuturkan, hidayah itu kita sendiri yang menjemput, Allah tidak akan merubah suatu kaum kalau kaumnya sendiri tidak mau merubahnya.

"apapun sakitnya itu semua datang dari Allah kita hanya bisa berikhtiar dan sabar neng, ibu waktu itu benar-benar udah  gak kuat  sakitnya, ibu juga pernah di oprasi. Tapi, sama sekali tidak ada perubahan, tetap masih sakit, dokter pun tidak tau penyebab penyakit itu apa neng, katanya aneh. Tapi, Alhamdulillah sekarang udah tidak ada sama sekali rasa sakit itu. masa SMP, SMA ibu itu gak seperti sekarang neng, dulu ibu itu keluyuran kemana-kemari, dugem, tapi yaa gak sampe ngerokok atau yang lainnya. Ibu hanya gitulah main-main, tapi ibu tuuh di hari minggu waktu masih suka mentoring ke salman ITB neng. Yaah Alhamdulillah Allah masih terus memberi hidayah sama ibu, dan hidayh itu kita yang menjemputnya neng tentunya dengan sungguh-sungguh, karena Allah tida akan merubah suatu kaum kaulau kaum itu tidak merubahnya"Kata Ibu Juariyah di kediamannya,Cibiru Wetan kamis (31/10/18)

Sampai akhirnya, sekarang beliau dengan mudah melafalkan ayat-ayat suci Al-qur'an, sedikit demi sedikit memahami isinya untuk beliau amalkan di dalam kehidupan. Kemudian beliau di minta untuk menjadi ketua Majlis Ta'lim. Tidak sampai disana ujian masih Allah berikan, ada saja orang yang tidak suka dengan beliau dijadikan ketua majlis ta'lim, karena ia melihat bagaimana latar belakang sosok Ibu juariyah di masa mudanya. Ujian tidak hanya datang dari luar, juga datang dari warga yang kurangnya kesadaran untuk datang ke majlis, bahkan warga yang rumahnya berdekatan dengan masjid pun tidak pernah terlihat ujung hidungnya. Menurutnya, itulah ujian yang sangat berat untuk ia hadapi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, berbagai pendekatan sudah ia lakukan terhadap warga sekitar. Namun tetap saja, warganya masih belum ada kesadaran untuk datang ke majlis dengan berbagai alasan.

Kini, beliau sudah enam tahun menjadi ketua Majlis ta'lim dengan keadaan yang berbeda pula. Sekarang  beliau tinggal hanya dengan putra bungsunya, sang suami telah lebih dulu di panggil oleh pemilik-Nya. Saat ini beliau disibukan sebagai seorang ibu sekaligus sebagai kepala rumah tangga. Untuk memenuhi kebutuhan anak bungsunya yang masih duduk di sekalah menengah pertama, beliau rajin membuat peye juga menerima pesanan catering, juga tidak lupa ia melaksanakan amanahnya sebgai ketua Majlis Ta'lim yang rutin setiap hari senin siang. Semangat dakwahnya mengajak ibu-ibu untuk datang ke majlis ta'lim akan terus berkobar di dalam diri beliau selama Allah memberi kesempatan dan dengan penuh harapan agar warna sekitar sadar akan mempelajari ilmu agama sampai liang lahat.

Reporter: Ai yulianti KPI/3A

Ada Cak Nun di Masjid Syahida



Dakwahpos.com, Bandung- Emha Ainun Nadjib atau yang lebih dikenal dengan sebutan cak nun, kemarin sabtu (3/11/2018) berkunjung ke aula At Tamur, masjid Syahida di Cibiru Hilir, Bandung. Pada jadwalnya yang akan mengisi acara di UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang diadakan oleh CCSMORA UIN Bandung ditanggal yang sama malam harinya. 

Beliau (Cak Nun) memutuskan untyuk singgah terlebih dahulu di Masjid Syahida sebelum menuju acaranya yang bertajuk 'Ngaji Bareng Cak Nun; Semesta Raya Cinta' di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kunjungannnya ini bermaksud ingin beramah-tamah dengan para Jamparing Asih, Komunitas santri Cak Nun yang ada di Bandung. Para Jamparing Asih begitu antusias mendengar kabar Cak Nun akan berada di Bandung hingga mereka menjadwalkan pertemuan singkat dengan Cak Nun.

Komunitas ini memilih aula At Tamur- yang juga bagian dari Masjid Syahida- sebagai tempat pertemuannya dengan Cak Nun. Pada pertemuan kali ini Cak Nun dan Komunitasnya hanya berbincang-bincang santai sambil menunggu jadwal penampilan Cak Nun di aula Abjan Sulaeman, UIN Bandung. Cak Nun hadir sejak pukul 13.30 WIB sampai pukul 17.00 WIB.

Sembari berbincang-bincang santai, Cak nun juga ngopi di cafe dekat aula yang juga merupakan badan usaha milik masjid Syahida. Cafe ini dikelola oleh beberapa santri yang tinggal di pesantren yang juga mengurus masjid syahida. Selain cafe, masjid Syahida juga memiliki badan usaha berupa martabak dan roti bakar, yang semuanya dikelola oleh santri masjid Syahida. 

Lepas pukul 5 sore, Cak Nun kembali ke Hotel untuk selanjutnya bersiap-siap.  Sayangnya, Cak Nun tidak sempat untuk sholat ashar di masjid Syahida. Beliau memilih sholat ashar di hotel tempat beliau beristirahat."Cak Nun ngga sholat ashar disini, tapi di hotel. Biar sekalian siap-siap". Ungkap Rezi, DKM masjid Syahida yang masih menjadi mahasiswa semester 7 di UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Reporter: Zulfa Ulyah Kartika,KPI/3D

Tajul Arifin: Mahasiswa Miliki Potensi Lebih Makmurkan Masjid

Dakwahpos.com. Bandung - Keberadaan Masjid sebagai rumah ibadah bagi umat Islam, tidak sepenuhnya hanya berfungsi tunggal sebagai tempat salat saja. Faktanya, masjid kini menjalankan fungsi-fungsi lainnya seperti tempat pengajian masyarakat, tempat belajar agama, dll. Multifungsionalitas masjid sebagaimana adanya pengurus masjid (DKM) yang mengelola kegiatan masjid.

Sementara itu, mengaitkan antara pemuda dan potensi usia produktifnya merupakan hal yang saling bertautan. Hal tersebut makin diperkuat dengan mencuatnya data hasil proyeksi Bappenas dan BPS terhadap jumlah pendudukan Indonesia. Data tersebut menunjukka bahwa memasuki tahun 2020 sampai sepuluh tahun kedepannya (2030) Indonesia akan mengalami bonus demografi.

Bonus demografi ialah kondisi dimana penduduk berusia produktif akan lebih banyak jumlahnya dibandingkan yang berusi nonproduktif. Puncak masa demografi itu ialah 2028-2030, dengan skala ketimpangan 70% penduduk usia produktif dan 30% yang berusia nonproduktif. Dengan fakta tersebut, beberapa tahun kedepan Indonesia akan disesaki dengan pemuda-pemuda produktif dan hasil positifnya ialah akan membawa pengaruh positif bagi bangsa.

Pemuda usia produktif tentunya termasuk adalah mahasiswa. Sebagaimana tri dharma perguruan tinggi, mahasiswa bukan hanya belajar tetapi juga mengabdi pada masyarakat. Abdi mahasiswa terhadap lingkungan yang banyak dijumpai salah satunya ialah abdi kepada masjid dengan aktif memakmurkan masjid.

Terkait potensi mahasiswa dan abdi masyarakat dengan memakmurkan masjid, ketua DKM Masjid Nurul Amal, Tajul Arifin turut membenarkan besarnya potensi mahasiswa untuk turut andil dalam memakmurkan masjid. Berkaca pada aktivitas di Masjid yang dikelolanya beberapa tahun terakhir, ia juga memberikan pembenar akan peran aktif mahasiswa dalam menghidupkan masjid.

"Kalau anak muda itu dibagi jadi dua, yang mahasisa dan penduduk asli, potesnsi untuk memakmurkan masjid itu lebih besar anak muda dari mahasiswa. Dan dari tahun ke tahun yang memakmurkan masjid ini dari mahasiswa." Jelasnya. Rabu (03/10/2018)

Ia kembali menambahkan bahwa, terdapat beberapa periode dimana masjid Nurul Amal sangat aktif dalam pengelolaannya. Selain itu, di beberapa waktu juga Mahasiswa banyak aktif menghidupkan kembali kegiatan-kegiatan di masjid, salah satunya ialah saat bulan Ramadhan. 

Reporter : Abdul Azis Said, KPI 3 A

Ust. Syehabudin : Yang ditanam di dunia akan dituai di akhirat

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Jami Miftahus Sa'adah mengadakan pengajian Bapak-bapak dan Ibu-ibu, pengajian ini rutin dilaksanakan setiap malam Jum'at. Di awali dengan shalat magrib berjamaah, tawasulan, ceramah dan di akhiri dengan shalat isya berjamaah.

Diadakannya pengajian ini untuk menambah keimanan dan mempererat tali silaturahmi antara warga sekitar, dikarenakan di saat siang hari jarang bertemu karena sibuk dalam urusannya masing-masing. 

"Ibadah kepada Allah, ikhtiar kepada Allah, dan baik kepada Allah. Maka kita akan terjamin dan Allah akan selalu mengingat kita. Jika kalian ingin melihat orang yang beriman maka lihatlah saat shalat subuh. Jika manusia tersibukkan oleh pekerjaannya dan tidak mengingat Allah karena pekerjaannya maka orang itu masih beriman tetapi rugi. Sama seperti ibadah ada mah ada bandanya, diberi hartanya tapi tidak akan dibawa ke akhirat". Ujar Syehabudin Kamis, (18/10/2018).

Di jelaskan bahwa dalam isi ceramah tersebut bahwa Allah akan mempermudah urusan kita jika kita beribadah dan beriman kepada Allah. Maka bersungguh-sungguhlah dalam beribadah. 

Semoga dengan kita duduk di pengajian ini bisa menguatkan keimanan kita karena kesenangan di dunia tidak akan di bawa ke akhirat. Hanya dengan ibadah dan keimanan yang membuat kita senang di akhirat.

Reporter : Enung Hani Amaliah, KPI/3-A

Ust. Yusuf Komarudin : Sesungguhnya Hidup Didunia itu Hanya Sebentar

Dakwahpos.com, Bandung - Sekitar dua ratus warga Muslim yang ada di sekitaran Bumi Panyawangan, Cileunyi, Kabupaten Bandung, menunaikan ibadah shalat jumat, Jumat (19/10/2018) waktu setempat.

Pada Jumat pekan ke-3 di bulan oktober ini di isi oleh penceramah ustaz Yusuf Komarudin, beliau adalah salah satu guru dari ponpes Khaerudin yang ada di perumahan Bumi Panyawangan, Cileunyi. Dengan tenangnya para jemaah mendengarkan khutbah jumat yang di sampaikan ustaz hingga selesai.

"Kehidupan manusia itu begitu panjang, bahkan kehidupan manusia itu tidak ada akhirnya, setelah kehidupan dunia ini diputuskan oleh kematian dan akan di hidupkan kembali di akhirat kelak." (19/10/2018), ucap ustaz Yusuf Komarudin.

Mengingatkan kembali bahwa kehidupan didunia itu tidaklah kekal, tidak abadi dan hanya sebentar saja. Perlu diyakini bahwa kehidupan akhirat lebih kekal daripada di dunia. Senantiasa berbuat kebajikan dan menjauhi kemunkaran.

Allah subhanahu wa ta'ala memberikan janji jika seseorang yang dan selalu mengerjakan kebajikan maka tempatnya kelak di akhirat adalah Surga. Namun sebaliknya jika seseorang yang selalu berbuat keburukan, kemunkaran maka tempatnya kelak di akhirat adalah Neraka.

Reporter : Afrizal Fauzan Muttaqin KPI/3/A

Ustadz Drs. Rajim Komarudin : Sabar dan Salat, Solusi dari Semua Masalah

Dakwahpos.com, Bandung – Pada kegiatan Salat Jumat di Masjid Baitul Hikmah Estern Hills Regency, Cipadung, yang diadakan selama seminggu sekali kali ini, menjadikan Ustadz Drs. Rajim Komarudin sebagai khatib pada minggu ini.

Ustadz Drs. Rajim Komarudin menjelaskan mengenai sabarnya manusia dalam menghadapi segala masalah.

"Kita hidup di dunia ini, tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Juga di seluruh jagat raya ini, tidak ada seorangpun yang tidak memiliki masalah. Setiap orang pasti akan diberikan cobaan oleh Allah SWT. Akan tetapi, segala cobaan yang Allah berikan, sudah diiringi dengan solusinya. Terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 153, bahwa Allah menyuruh kepada kita agar meminta perlindungan kepada-Nya dengan perantara sabar dan salat." Ujarnya. Jumat (19/10/2018)

Ia pun menjelaskan bahwa, Ibnu Katsir berkata jika sabar itu ada 3 hal. Pertama, sabar terhadap larangan Allah. Kedua, sabar terhadap perintah Allah. Dan yang ketiga, sabar terhadap qada dan qadar kita yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Ia juga mencontohkan mengenai sabar yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.

"Rasulullah telah memberikan banyak contoh tentang sabar. Seperti tentang rasul yang sabar terhadap orang yag meludahinya dan sabar terhadap nenek yahudi buta yang terus mencaci maki Rasul disaat Rasul hendak menyuapinya makanan. Dan pada akhirnya merekapun masuk Islam." Ujarnya.

Dan ia memaparkan bahwa tidak sedikit diantara kita yang mengeluh terhadap semua masalah. Maka dari itu ia menyarankan untuk menjadikan salat sebagai sarana berkeluh kesah kepada Allah SWT. Ketika kita sudah menjalankan sabar dan salat, semua masalah akan menjadi mudah dihadapi. 

"Sesungguhya Allah bersama orang-orang yang sabar dan bertaqwa." Ucapnya.

Reporter: Amal, KPI/3A

Ustaz Sirojudin : Allah Tidak Melihat Fisik Kita

Dakwahpos.com, Bandung- Setiap hari jumat masjid Al-Huda dijadikan tempat untuk salat Jumat berjamaah oleh warga masyarakat serta banyak dari mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang melaksanakan shalat jumat di masjid Al-Huda. Pada hari ini Jumat tanggal 19 Oktober 2018 khutbah jumat disampaikan oleh Ustaz Sirojudin dengan mengangkat tema tentang hati.

Allah itu tidak melihat pada fisik kita tidak pula pada rupa kita, tetapi Allah itu selalu senantiasa melihat pada hati. Jika kita memandang dunia ini dengan akal, maka kita senantiasa akan tergelincir dalam menjalani kehidupan ini, karena akal tidak bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Begitu pembukaan pembahasan tentang hati yang dipaparkan oleh Ustaz Sirojudin.

Selain itu Ustaz Sirojudin juga memaparkan betapa pentingnya hati. Karena saat ada kesedihan, akal kita tidak akan mengatakan kesedihan tapi hati yg mengatakan itu. Saat orang tertimpa musibah akal tidak akan mengatakan apa apa, tapi hati yang akan merasa dan yg mengatakannya. Tapi sebalikanya, jika hati kita tidak punya iman, jika hati kita jauh dari Allah, dan jika hati kita rusak, hati juga yang dapat membuat seseorang  tergelincir di dunia.

Ustaz Sirojudin dalam isi khutbahnya mengambil kutipan dan memaparkan 5 Penyebab hati rusak dari Ibn Qayyum yaitu : 
1. Ketergantungan kita pada kehidupan dunia.
Dalam artian kita tidak menggantungkan kehidupan kepada Allah melainkan kepada dunia. Jika manusia telah menggantungkan kehidupannya pada materi atau apa yg dia inginkan maka dia akan bersikap sikut sana sikut sini demi apapun yang akan dia inginkan.
2. Sosial kita yang tidak produktif.
Jika kita berteman dengan teman yg pintar maka jelas kita akan pintar, jika kita berteman dengan teman yg suka ke datang ke masjid pasti kita juga akan datang ke masjid. Tapi Sebaliknya jika kita berteman dengan orang orang yg suka main kartu maka kecenderungan kita pun akan mengukuti pola kehiduapan orang orang seperti itu dan akan merusak hati kita serta menjauhkan kita pada Allah. Maka bergaulah pada orang yang membawa kebahagiaan akhirat.
3. Banyak angan angan
Bercita cita boleh tapi berangan-angan jangan kenapa, karena jika bercita cita jelas hatinya menyentuh bumi, kakinya akan menyentuh tanah, dirinya menampakkan untuk menuntut ilmu, dirinya menampakkan bekerja keras utuk menggapai cita-cita.
4. Banyak tidur
Jauhi rutinitas tidur setelah shalat shubuh dan setelah shalat ashar karena ini tidak baik menurut agama dan tidak baik menurut kesehatan.
5. Makanan yang masuk pada diri kita yang tidak baik
Makanan bergizi tapi hasil uang mencuri itu haram karenanya dapat membuat hati rusak.

Diakhir khutbahnya Ustaz Sirojudin memberikan pesan dengan mengatakan "Marilah kita selalu mendekatkan diri kepada Allah karena kalo qolbu kita dekat kepada Allah secara tidak langsung fisik kita pun akan dekat dengan Allah, kalo fisik kita dekat kepada Allah hati kita tidak dekat kepada Allah itu namanya munafiq".

Reporter : Annisa Nurbaiti. KPI III/A







Ustaz Waluyo: Lima Keistimewaan Salat Diawal Waktu

Dakwahpos.com, Bandung – Sebelum memulai ceramah atau pengajian rutinan, ibu-ibu di Masjid Safinatussalam memulai acara dengan membaca selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Membaca selawat itu dengan maksud menunggu yang belum datang ke masjid, dan mengisi waktu kosong untuk dimanfaatkan beribadah. Pengajian rutinan ini diadakan setelah salat asar sampai menjelang magrib.

Salat merupakan perintah pertama dari Allah SWT untuk beribadah kepada-Nya. Jika kita ingin bahagia hidup di dunia dan akhirat, dan juga terhindar dari musibah, kita mesti menjalankan ibadah yang telah Allah SWT berikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. bahkan diistimewakan oleh Allah SWT, yaitu Ibadah salat. Salat merupakan perintah pertama dari Allah SWT yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan Isra Mi'raj.

"Walaupun kita lalai dalam menjalankan salat, bahkan kita meninggalkan salat hanya demi mengejar dunia, Allah tetap baik, yaitu masih memberikan rezeki kepada umatnya. Allah tidak pernah membeda-bedakan umatnya dari segi hartanya. Yang membedakan anatara satu umat dengan umat lainnya dihadapan Allah SWT adalah ketakwaannya". Ujarnya, Kamis (18/10/2018).

Salat, kata yang mudah untuk diucapkan tetapi sulit untuk dilakukan oleh setiap muslim. Karena pada dasarnya setiap insan atau setiap diri manusia terdapat akal dan hawa nafsu, hawa nafsu-lah yang lebih berperan banyak terhadap diri manusia. Oleh karena itu, kita harus melawan hawa nafsu agar lebih giat lagi dalam beribadah kepada Allah SWT, khususnya salat di awal waktu.

"Lima keistimewaan orang yang dalam solatnya selalu di awal waktu yaitu, Pertama, akan dihindarkan dari keterpurukan hidup di dunia, kedua, dihindarkan dari siksa kubur, ketiga menerima hasil catatan hidup kita selama di dunia (rapor) oleh tangan kanan, keempat, ketika berjalan di jembatan shiratul Mustaqim seperti kilat, kelima, tidak dihisab tetapi langsung dimasukkan ke dalam surganya Allah SWT. Maka dari itu kita selaku umat muslim jangan pernah menunda-nunda bahkan meninggalkan waktu salat, karena dalam menjalankannya berupa ibadah dan mendapat banyak keistimewaan atau pahala dari Allah SWT." Ujarnya, Kamis (18/10/2018).

Reporter : Astri Lestari, KPI / 3A


M. Rizky: Akhlak Lebih Utama Daripada Taqwa

Dakwahpos.com, Bandung – Muhammad Rizky Setiawan merupakan marbot dari Masjid Jami At-Taqwa, Mekarjati, Cibiru, Bandung yang menyampaikan khutbah shalat Jumat (19/10/2018). Khutbah yang ia sampaikan pada jamaah adalah tentang akhlak.

Pesan dari khutbah yang ia sampaikan cukup singkat namun jelas. Isi pesan yang ia sampaikan merupakan seruan berupa ajakan untuk membenahi akhlak. Menurutnya amalan itu banyak, seperti shalat, zakat, puasa, baca Al-Quran akan percuma saja apabila tidak dibarengi dengan akhlak yang baik.

Muhammad Rizky Setiawan mengutip dari sabda Rasullulah SAW yang berbunyi "tidak ada sesuatu yang lebih berat dari timbangan suatu hambanya di akhirat nanti dan Allah sungguh murka terhadap seseorang yang berakhlak buruk.

"Adanya suatu ketimpangan dimana kita akan berpakaian rapi dan bagus apabila akan bertemu seseorang tapi sedangkan kita akan bertemu Allah kita tidak melakukannya" Ujar Rizky, Jumat (19/10/2018). Akhlak yang dimaksud adalah ketika kita akan beribadah ke Masjid dan akan menghadap Allah maka berpakaianlah yang menurutmu terbaik untuk dikenakan dan gunakanlah wewangian dan dalam membaca Al-Quran maka tertiblah dan bacalah dengan benar.

Menurutnya akhlak adalah hal utama dalam beriman dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena berakhlak baik akan menjadikan diri sebagai pribadi yang baik pula. "Mana yang lebih diutamakan antara taqwa dan akhlak? Jawabannya adalah Akhlak" Ujar Rizky. 

Reporter: Afifah Widiazmara, KPI/3A.

Ustadz Saepudin : Keimanan tanpa Dilandasi Kecintaan adalah Sebuah Kebohongan Belaka

Dakwahpos.com, Bandung- Kegiatan ceramah oleh bapak DKM Masjid Jami Al-Istianah Cipadung biasa dilakukan pada pengajian ibu-ibu yakni setiap hari minggu. Selain mengisi ceramah pengajian rutinan ibu-ibu bapak Drs. Saepudin juga mengisi khutbah jumat. Pada khutbah kali ini ia memaparkan tentang kecintaan terhadap Allah dan Rasul.

Khutbah jumat diawali dengan pengucapan syukur kepada Allah serta sholawat kepada Nabi. "Mari sama-sama kita panjatkan puji syukur kita kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya pada siang kali ini kita bisa melangkahkan kaki kita semua untuk pergi ke masjid. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabiyana Muhammad SAW. Kepada sahabatnya keluarganya hingga sampai pada kita semua selaku umatnya dan semoga yang shalat jumat dikabulkan semua doa-doanya." Ungkap Saepudin dalam khutbahnya, Jumat (19/10/2018).

Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan dasar sahnya keimanan seseorang. Karena keimanan tanpa dilandasi kecintaan adalah sebuah kebohongan belaka. Iman dan cinta adalah dua nilai yang akan mampu melahirkan sebuah kepatuhan dan ketundukan yang mutlak. Dengan lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya dibandingkan selain keduanya, secara otomatis akan membuat hawa nafsu tunduk kepada perintah syariat.

Karena itu apabila seseorang telah mampu memadukan keimanan dan kecintaan dirinya kepada Allah dan rasul, maka ia akan merasakan manisnya keimanan. Manisnya keimanan itu dibuktikan dengan mendahulukan kepentingan Allah dan Rasul-Nya daripada kepentingan pribadi, keluarga dan golongan.

"Karena itu, saya mengajak diri saya dan kaum Muslimin untuk mencintai Allah SWT dan Rasullah Shallallahu 'alaihi wasallam secara benar, dengan cara mengikuti apa yang telah diajarkannya. Menjadikan sunnah-sunnahnya sebagai pegangan dan teladan dalam kehidupan sehari-hari." Tutupnya, Jumat (19/10/2018).

Reporter: Dhea Rijki Kusmawati, KPI / 3A

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos