Menjaga Nyala Dakwah di Masjid Al-Barokah : Perjuangan Ustaz Amin Merangkul Generasi Muda

Dakwahpos.com, Bandung-  Seorang tokoh masyarakat yaitu Ustaz Amin. Beliau lahir di Bandung, pada 15 Februari 1961. Seorang tokoh masyarakat yang terlahir dari lima bersaudara ini, dari kecil sudah diajarkan oleh orang tuanya bagaimana pentingnya belajar ilmu agama dan ke utamaannya. Beliau berpropesi sebagai DKM Al-Barokah, sekarang bapak dari tiga anak ini mempunyai tugas dari kedua orang tuanya untuk  masjid Al-Barokah yang dititipkan kepadanya sepeninggal kedua orang tuanya.

Beliau tidak hanya aktif mengurus masjid Al-Barokah saja, pada saat tahun 1993 beliau juga  terjun ke masyarakat, dimulai dari rumah ke rumah ataupun penyampaian langsung dari masjid dengan bertujuan mengajak masyarakat ikut aktif di bidang keagamaan khususnya kegiatan di masjidAl-Barokah ini.

"Alhamdulillah dari dulu sampai sekrang tahun 2016 kegiatan masyarakat kampung Sukamulya ,terutama sekitar masjid Al-Barokah masih terjaga dan istiqomah" ujar Ustaz Amin, saat diwawancari, Sabtu, (17/10/2026).

Namun,  sekarang yang disayangkan  kegiatan  para pemuda masjid Al-Barokah yang berkurang dan seakan menghilang karena perkembangan zaman dan pergaulan yang jauh dari kata mendidik. Hal ini juga di sebabkan  karena  kurangnya ajakan terhadap generasi muda ini. Maka kegiatan harian untuk Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu berupa pengajian kitab kuning, dan muhadloroh membantu menghidupkan kembali semangat pemuda.

" Pertahankan pengajian tingkatkan mutolaah dan pelajari ilmu nahwu shorof, karena dengan menguasai ilmu nahwu shorof akan memudahkan dan membuka ilmu lainya" tegasnya.

Reporter : Shibyan Dwi Falah KPI/3A
WhatsApp Image 2026-10-23 at 11.11.05.jpeg

Mengenang Tokoh Masjid, Pak Haji Engkon Taryono Menceritakan Peran Pendiri


Dakwahpos.com, Bandung – Pak Haji Engkon Taryono menceritakan Kembali sejarah dan peran sejumlah tokoh penting dalam perkembangan Masjid Al-Muhajiri Palasari pada Jumat (16/10/2026). Ia menjelaskan bahwa pembangunan masjid tersebut melibatkan beberapa tokoh yang berkontribusi sejak awal pendirian hingga penyelesaian fasilitasnya. Nama-nama seperti Pak Haji, Habib Sholeh, Pak Haji Sudirman, Muhammad Farid, dan Pak Adim disebut dalam penuturannya.

Menurutnya pendirian Masjid Al-Muhajirin bermula sekitar 1978 dan proses pembangunan fasilitasnya berlanjut hingga sekitar 1984. Ia mengungkapkan bahwa masjid tersebut awalnya merupakan fasilitas dari developer pada tahun 1978 sebelum akhirnya dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat dan tokoh setempat.

"Pembangunan masjid ini melalui proses yang panjang dan melibatkan banyak tokoh penting seperti Habib Sholeh yang merampungkan renovasi besar," ujarnya

Ia menjelaskan bahwa Pak Haji menjadi salah satu tokoh pendiri, sedangkan Habib Sholeh berperan dalam melanjutkan penyelesaian pembangunan masjid. Keterlibatan para tokoh tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Masjid Al-Muhajirin Palasari ini.

“Yang pertama itu Pak Haji, kemudian dilanjutkan dan diselesaikan oleh Habib Sholeh. Pak Haji itu tokoh Utama, sekarang beliau sudah sakit dan sudah lama tidak ke sini. Jadi ini saya paling tua di sini yang belum mati.,” ungkapnya.

Selain Pak Haji dan Habib Sholeh, ia menyebut nama Pak Haji Sudirman, Muhammad Farid, dan Pak Adim dalam pembicaraan mengenai pergantian kepemimpinan dan perkembangan pengelolaan masjid. Perjalanan kepemimpinan DKM di masjid ini juga tercatat berganti selama beberapa periode untuk memastikan pengelolaan tempat ibadah berjalan dengan baik dan terarah.

"Kami menghadapi berbagai tantangan keterbatasan dana saat itu, tetapi semangat gotong royong warga berhasil menyelesaikan renovasi masjid ini," imbuhnya.

Reporter: Tasya Ainurrahmah, KPI/3D


Perjalanan dan Perkembangan Masjid Ar-Rahmat Rancamanyar Pesona Bumi Panisan

Dakwahpos.com, Bandung - Pembangunan sarana ibadah di wilayah perumahan kini semakin diperhatikan guna memenuhi kebutuhan rohani warga setempat. Hal tersebut terlihat jelas pada pendirian Masjid Ar-Rahmat yang berlokasi di perumahan Kavling Pesona Bumi Panisan, Ramanyar. Masjid yang didirikan atas inisiatif bersama antara pengurus perumahan dan pihak pengembang ini resmi berdiri pada tanggal 25 Februari 2024. Kehadiran tempat ibadah ini dilatarbelakangi oleh mayoritas masyarakat sekitar yang memeluk agama Islam serta minimnya fasilitas umum penunjang ibadah di lingkungan perumahan tersebut.

Sebelum adanya masjid ini, warga perumahan harus pergi ke luar kompleks yang jaraknya cukup jauh untuk melaksanakan ibadah salat berjemaah maupun tarawih. Oleh karena itu, perwakilan pengurus perumahan bersama tokoh masyarakat, tokoh agama, dan warga sekitar berinisiatif untuk meminta pihak pengembang mendirikan fasilitas ibadah yang representatif. Pembangunan ini tidak hanya bertujuan sebagai sarana ibadah utama, tetapi juga difungsikan sebagai pusat kegiatan musyawarah serta tempat berkumpul warga apabila sewaktu-waktu dibutuhkan untuk keperluan yang sesuai dengan norma agama.

Dalam keterangannya, wakil DKM masjid menjelaskan bahwa proses pendirian ini berjalan lancar berkat kerja sama yang baik antara berbagai pihak. "Sejarah awal berdirinya Masjid Ar-Rahmah ini berangkat dari kebutuhan masyarakat, karena memang di wilayah kami ini adalah wilayah perumahan, dan secara otomatis sarana ibadah merupakan fasilitas umum yang mesti disediakan oleh pihak pengembang," ujar Pak. Yosepp selalu wakil DKM masjid saat menceritakan kilas balik pembangunan tersebut. Ia juga menambahkan bahwa penetapan tanggal 25 Februari 2024 menjadi tonggak sejarah penting bagi warga perumahan setelah melalui berbagai tahapan persiapan bersama para tokoh masyarakat.

Selain digunakan untuk ibadah wajib sehari-hari, masjid ini juga menjadi pusat dari berbagai kegiatan keagamaan dan sosial yang terstruktur. Berdasarkan keterangan pengurus, terdapat beberapa agenda rutin yang melibatkan partisipasi aktif warga, seperti pengajian umum dan tahlil oleh ibu-ibu majelis taklim setiap hari Selasa, serta pengajian umum lanjutan pada hari Jumat. Selain itu, kegiatan keagamaan harian dari Senin hingga Jumat juga diisi dengan pengajian anak-anak yang dibimbing oleh ibu-ibu majelis taklim mulai dari ba'da asar hingga ba'da isya.

Dari segi arsitektur dan material bangunan, Masjid Ar-Rahmat memiliki kualitas yang tergolong mewah dibandingkan dengan masjid di lingkungan lain. Pengurus menyebutkan bahwa material yang digunakan dalam pembangunan masjid ini berada di kelas menengah ke atas, sehingga memberikan kenyamanan lebih bagi para jemaah. Meskipun demikian, pihak pengelola menegaskan bahwa standar kualitas tersebut dihadirkan semata-mata untuk memberikan kenyamanan maksimal bagi masyarakat dalam menunaikan ibadah kepada Sang Pencipta.

Memasuki akhir waawancara, wakil DKM masjid Ar-Rahmat menyampaikan harapan besar agar tempat ibadah ini dapat terus memakmurkan rohani umat serta berfungsi secara optimal sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Pihak pengurus menyatakan komitmennya untuk tidak pernah bosan dalam mengajak, menghimbau, serta mengingatkan jemaah agar senantiasa meramaikan masjid. "Tentu saja harapan ke depannya sebagaimana perintah dari Allah Subhanahu wa taala, bagaimana kita memakmurkan masjid ini sehingga masjid ini memang betul-betul berfungsi sebagaimana peruntukannya," ungkap Pak. Yosep, selalu wakil DKM masjid Ar-Rahmat.

Reporter: Putri Zalfa Aulia, KPI/3D


Menelisik Sejarah Masjid Al-Barokah Sukamulya: Simbol Swadaya dan Kepedulian Umat

Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Barokah merupakan masjid jami' yang berlokasi di Sukamulya, Kec. Cinambo, Kota Bandung, Jawa Barat. Lokasi yang sangat strategis karena berada dekat jalan.

Masjid Masjid Al-Barokah merupakan masjid yang awal mula didirikan pada tahun 1989. Sebelum menjadi sebuah masjid, dulunya adalah musholla yang sederhana diatas tanah seluas 5 tumbak (70 m²) yang berdiri pada tahun 1989.
Tahun 1989 proses pembangunan masjid ini digagas oleh masyarakat setempat.

Pada masa pembangunan masjid ada penambahan luas tanah yang awalnya 5 tumbak (70 m²) menjadi 10 tumbak (140 m²). Tanah yang seluas 10 tumbak ini, 5 tumbak dari alm. Bapak Otong Sumarna dan yang 5 tumbak lagi hasil dari iuran 4 orang yaitu : Ucu Syamsudin, Drs. Nana Rohana, Drs. Hanafi dan Sutardjo. Dan yang bertindak atas nama sebagai wakil Ucu Syamsudin, dan tanah seluas 10 tumbak tersebut atas nama sebagai nadzir yaitu Drs. Hanafi. Adapun dana pembangunan masjid Masjid Al-Barokah pada waktu itu bersumber dari bantuan Kanwil Kemenag Jawa Barat, masyarakat sekitar dan Instansi lainnya.

Pembangunan masjid Masjid Al-Barokah  mewujudkan suatu bangunan masjid yang kokoh dengan bahan permanen, dengan satu lantai dan disertai kubah juga dilengkapi mimbar imam. Fasilitas lain yaitu tempat wudhu, penerangan yang memadai dan satu kamar ta'mir masjid.
Pada tahun 1989 masjid Masjid Al-Barokah  kembali melakukan renovasi dengan menambahkan satu lantai ke atas sehingga masjid Masjid Al-Barokah mempunyai 2 lantai. Ada juga penambahan kamar ta'mir masjid di lantai dua dan perbaikan tempat wudhu.

Reporter : Shibyan Dwi Falah KPI/3A
WhatsApp Image 2026-10-23 at 10.53.51.jpeg

Mantan Ketua DKM Darussalam Fokuskan Bantuan Pendidikan Anak


Dakwahpos.com, Bandung - Almarhum Dr. Dindin Jamaluddin, mantan Ketua DKM Darussalam (2012–2023), Permata Biru, Cileunyi, Kabupaten Bandung. Memprioritaskan beasiswa pendidikan dibanding sekadar pembagian sembako, sebagaimana terungkap melalui sesi wawancara bersama salah satu pengurus masjid pada Rabu (14/10/2026).

Selain memimpin DKM, ia juga pernah menjabat Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung periode 2019–2023.

Pengurus Masjid Darussalam, Edi Yusuf, mengatakan bahwa almarhum tidak menjadikan pembangunan fisik sebagai prioritas utama. Menurutnya, perhatian almarhum tertuju pada kondisi jemaah.

Edi menjelaskan, pandangan mendiang Dindin Jamaluddin soal bantuan pendidikan berawal dari pertimbangan jangka panjang. Menurutnya, bantuan sembako akan habis dalam waktu singkat, sedangkan beasiswa memberi bekal yang bertahan lama bagi penerimanya.

“Lebih baik menolong satu orang yang membutuhkan biaya pendidikan daripada kita punya uang cuma untuk membagikan sembako,” ujarnya.

Meski begitu, program sembako tidak dihilangkan, melainkan dibagi berdasarkan skala prioritas. Ia menambahkan, almarhum berharap penerima beasiswa yang kelak lulus dan bekerja akan mengingat kebaikan masjid dan membalasnya.

Beasiswa tersebut tidak hanya tertuju pada mahasiswa. Edi menyebut, pada waktu itu penerimanya diperkirakan kurang dari sepuluh orang, mulai dari santri hingga mahasiswa di STKS, UIN, dan Universitas Padjadjaran (Unpad). Edi mengaku anaknya termasuk yang dibantu hingga lulus pesantren.

Selain beasiswa, Edi menuturkan bahwa almarhum juga sigap merespons jemaah yang kesulitan secara finansial. Setiap ada jemaah yang meminta bantuan, pengurus langsung berkumpul dan mendatangi yang bersangkutan untuk menanyakan kebutuhan, jumlah anggota keluarga, serta penghasilannya sebelum memberi bantuan.

Menurut Edi, seusai salat, almarhum biasanya langsung menemui jemaah dan menanyakan siapa yang tidak hadir. Jika ada yang sakit, ia meminta pengurus segera menjenguk dan membantu dengan makanan atau uang.

“Dia itu lebih baik memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri,” ujarnya.

Ia menuturkan, almarhum juga selalu meyakinkan pengurus agar membantu tanpa terlalu banyak perhitungan, karena percaya kebaikan itu akan berbalas.

Reporter: Farid Zakhir Muzhaffar, KPI/3D


Tiga Kunci Kemuliaan Wanita Mukmin Dikupas dalam Kajian Miftahul Khair

 

Dakwahpos.com, Bandung— Ustaz Saypudin menyampaikan kajian keagamaan mengenai tiga kunci utama untuk meraih kemuliaan bagi wanita mukmin di MasjidAl-Huda,  Cihonje, Kabupaten Bandung, Jumat (20/10/2026). Kajian yang dihadiri oleh jemaah Majelis Taklim Miftahul Khair ini mengulas secara mendalam pentingnya nilai takwa, ukhuwah Islamiyah, dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam pembukaannya, penceramah mengapresiasi makna dari nama Majelis Taklim Miftahul Khair yang berarti kunci kebaikan. Ia mendoakan agar setiap jemaah yang hadir senantiasa mendapatkan petunjuk dan keberkahan dalam menuntut ilmu agama.

Mengutip Surah Al-Anfal ayat 1, penceramah menjelaskan bahwa walaupun ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan harta rampasan perang, petunjuk di dalamnya berlaku umum untuk seluruh umat. "Pelajaran atau ibrah itu kita ambil berdasarkan keumuman lafaznya, bukan hanya berdasarkan khusus sebab turunnya," ujar penceramah di hadapan para jemaah.

Pilar pertama yang ditekankan adalah ketakwaan kepada Allah SWT. Berdasarkan Surah Al-Hujurat ayat 13, penceramah mengingatkan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari penampilan fisik, kekayaan, maupun penggunaan skincare, melainkan dari tingkat ketakwaannya kepada Allah SWT.

Pilar kedua adalah mempererat dan memperbaiki hubungan antarsesama manusia. Penceramah mengajak jemaah untuk selalu menjaga keharmonisan, memperbanyak silaturahmi, serta menghindari perselisihan dalam kehidupan bertetangga.

Penceramah menambahkan bahwa seorang muslim hendaknya menjadi penengah yang mendamaikan ketika terjadi perbedaan pandangan di tengah masyarakat. Ia mengingatkan agar jemaah tidak menjadi pemicu perpecahan saat ada saudara seiman yang sedang bertikai.

Pilar ketiga adalah ketaatan yang konsisten kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Penceramah menyampaikan bahwa ketaatan membutuhkan kesungguhan dan keikhlasan, terutama dalam menjalankan perintah agama seperti menutup aurat dan menjaga batasan-batasan syariat di tengah tantangan zaman.

Reporter: Raihanum, KPI/3B

Danny Hanjodi Ajak Jemaah Raih Kebahagiaan melalui Ikhlas, Sabar, dan Syukur

 

Dakwahpos.com, Bandung  — Mubaligh Danny Hanjodi menyampaikan kajian keagamaan mengenai makna kebahagiaan serta pentingnya menumbuhkan sikap ikhlas, sabar, dan bersyukur di Cihonje, Kabupaten Bandung, Jumat (15/10/2026). Kajian yang dihadiri oleh jemaah Majelis Taklim Nurul Ikhwan ini membahas tuntas hubungan antara ibadah kepada Allah SWT dan kebaikan terhadap sesama manusia.

Dalam penyampaiannya, Danny mengajak jemaah untuk memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya berkaitan dengan terpenuhinya keinginan materi, melainkan juga cara seseorang menyikapi setiap perjalanan hidup.

Danny menjelaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, seseorang biasanya menjawab “Alhamdulillah, baik” ketika ditanya mengenai kabarnya. Menurutnya, jawaban tersebut dapat menjadi bentuk upaya untuk menjaga perasaan orang lain agar tidak merasa cemas atau khawatir.

Ia kemudian mengaitkan hal tersebut dengan pentingnya memperhatikan kondisi hati sesama manusia. "Selain menjalankan ibadah yang berhubungan langsung dengan Allah SWT, umat Islam juga perlu melakukan kebaikan yang memberikan manfaat bagi orang lain, salah satunya dengan menghadirkan kebahagiaan dalam hati mereka," ujar Danny di hadapan para jemaah.

Dalam kesempatan tersebut, Danny memperkenalkan konsep idkhalus surur fi qulubin nas, yaitu amalan menghadirkan kebahagiaan ke dalam hati orang lain. Ia juga menguraikan perbedaan antara perasaan senang, bahagia, dan gembira. Menurut pemahamannya, senang berasal dari dalam diri, bahagia muncul karena faktor eksternal seperti memperoleh sesuatu, sedangkan gembira erat kaitannya dengan kebersamaan di majelis taklim maupun keluarga.

Lebih lanjut, Danny mengingatkan bahwa kebahagiaan yang hanya bergantung pada hal-hal materi tidak akan memberikan kepuasan yang berkelanjutan. "Memiliki telepon genggam baru belum tentu membuat seseorang bahagia apabila tidak memiliki kuota internet, sebagaimana memiliki mobil tidak cukup apabila tidak tersedia bahan bakar," tegasnya memberikan ilustrasi.

Guna menjalani kehidupan dengan lebih tenang, Danny menekankan tiga sikap utama yang wajib ditanamkan, yaitu ikhlas, sabar, dan bersyukur. "Ikhlas dalam beribadah berarti melakukan kebaikan murni karena Allah SWT, bukan semata-mata demi mengejar pujian atau pengakuan manusia," tambahnya seraya mengingatkan pentingnya menata niat dalam beramal.

Selain ikhlas, kesabaran menjadi poin penting yang disoroti dalam kajian tersebut. Danny menjelaskan bahwa sabar diperlukan dalam pelbagai situasi, baik saat menghadapi hal yang disukai, situasi yang tidak disukai, maupun ketika tertimpa musibah dan bencana alam, agar seseorang tetap dapat bersikap bijaksana.

Sikap ketiga yang tidak kalah krusial adalah rasa syukur. Danny mengajak jemaah untuk selalu membiasakan diri mengucapkan Alhamdulillah dan tetap melihat nikmat Allah SWT dalam keadaan apa pun. Ia mencontohkan seseorang yang kehilangan kendaraan namun tetap gigih beraktivitas sebagai gambaran untuk tidak berfokus pada apa yang hilang, melainkan pada nikmat yang masih tersisa.

Reporter: Raihanum, KPI/3B

 

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos