Tumbuhkan Sikap Pemaaf, Ustaz Abdullah Ajak Jamaah Teladani Akhlak Rasulullah


 Dakwahpos.com, Bandung — Ustaz Abdullah menyampaikan khutbah kepada jamaah di Masjid At-Thoyyibah Cipadung pada (2/10/2026). Dalam khutbahnya, ia membahas pentingnya memaafkan dan meneladani akhlak Rasulullah ï·º dalam kehidupan sehari-hari.

Ustaz Abdullah mengingatkan jamaah agar tidak membiarkan hati dipenuhi amarah, dendam, curiga, dan putus sangka. Menurutnya, hati perlu diisi dengan takwa, zikir, sikap memaafkan, dan prasangka baik. Hal tersebut dapat membuat kehidupan terasa lebih tenang sekaligus mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Hati yang enggan memaafkan ibarat penjara, ia tidur bersama amarah dan bangun dengan beban,” ujar Ustaz Abdullah dalam khutbahnya.

Ia menjelaskan bahwa memaafkan bukan berarti seseorang lemah atau tidak mampu membalas kesalahan orang lain. Justru, kemuliaan terlihat ketika seseorang mampu melepaskan kesalahan dari hatinya. Ustaz Abdullah juga mengingatkan bahwa memaafkan bukan berarti harus melupakan luka yang pernah dialami.

Dalam khutbah tersebut, Ustaz Abdullah juga mengajak jamaah melihat keteladanan Rasulullah ï·º dalam menghadapi kesalahan orang lain. Nabi memiliki kesempatan untuk membalas, tetapi memilih untuk memaafkan. Sikap tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, sosial, maupun tempat kerja.

“Memaafkan bukan tanda kelemahan ataupun kesalahannya, sebuah maaf hanya bisa lahir dari jiwa yang benar,” tutur Ustaz Abdullah.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa memaafkan bukan berarti kalah atau membiarkan kesalahan begitu saja. Ustaz Abdullah mengajak jamaah, “mari kita amalkan amal pemaaf dalam kehidupan sehari-hari.” Dari sikap tersebut, seseorang tidak hanya belajar melepaskan kesalahan orang lain, tetapi juga belajar mengendalikan amarah dan menjaga hatinya sendiri.


Reporter: Sultan Mauludin, KPI/3B

Ustaz Ayi Wawan Muhidin: Jaga Iman dengan Membiasakan Zikir dan Menjauhi Maksiat


 Dakwahpos.com, Bandung —Masjid At-Thoyyibah Cipadung menjadi tempat penyampaian khutbah oleh Ustaz Ayi Wawan Muhidin pada (25/09/2026). Dalam khutbahnya, Ustaz Ayi Wawan Muhidin mengingatkan jamaah tentang pentingnya menjaga iman dan mempersiapkan diri menghadapi kematian. Salah satu hal yang ditekankan adalah membiasakan diri mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Ustaz Ayi Wawan Muhidin, kebiasaan mengingat Allah perlu dibangun sejak seseorang masih memiliki kesempatan dalam hidup. Hal tersebut berkaitan dengan kondisi ketika seseorang menghadapi sakaratul maut yang belum tentu mudah untuk mengucapkan kalimat tauhid. Karena itu, membiasakan zikir menjadi salah satu bentuk persiapan diri yang dapat dilakukan sehari-hari.

“Biasakeun ku urang sering nyebut kalimat Laa ilaaha illallaah, sangkan engké dina kasampatan urang bisa nyebutkeun dina sakarat,” ujar Ustaz Ayi Wawan Muhidin dalam khutbahnya.

Ustaz Ayi Wawan Muhidin menjelaskan bahwa orang yang sedang berada dalam keadaan sakarat belum tentu mampu mengucapkan kalimat tersebut meskipun sebelumnya terbiasa mengucapkannya. Menurutnya, kemampuan untuk mengucapkan kalimat itu pada saat sakarat merupakan sesuatu yang berada dalam kehendak Allah. Karena itu, manusia perlu terus membiasakan diri mengingat-Nya selama masih diberi kesempatan.

Selain membahas persiapan menghadapi kematian, Ustaz Ayi Wawan Muhidin juga menjelaskan tentang sifat Rahman dan Rahim Allah. Nikmat seperti kesehatan, jasmani, makanan, dan kesejahteraan disebut sebagai bagian dari Rahman. Sementara itu, iman, ibadah, serta kesediaan menjalankan kewajiban kepada Allah berkaitan dengan Rahim. Ia mengingatkan bahwa nikmat dunia sebaiknya tidak membuat seseorang melupakan iman dan ibadah.

Ustaz Ayi Wawan Muhidin kemudian mengingatkan jamaah tentang bahaya maksiat terhadap kondisi iman. Menurutnya, maksiat dapat membuat iman menjadi lemah. Ketika seseorang mulai terjebak dalam kemaksiatan, ia dianjurkan untuk segera bangkit dan kembali kepada jalan Allah, bukan membiarkan dirinya terus berada di dalamnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga iman tidak cukup hanya dengan ucapan, tetapi juga perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Ustaz Ayi Wawan Muhidin menegaskan kepada jamaah agar meninggalkan maksiat dan kembali kepada jalan Allah. “Tinggalkeun maksiat! Jauhan maksiat! Jauhan maksiat! Jauhan maksiat!”


Reporter: Sultan Mauludin, KPI/3B

DTA At-Thoyyibah Cipadung Tanamkan Akhlak dan Akidah Sejak Dini


 Dakwahpos.com, Bandung — DTA At-Thoyyibah Cipadung tidak hanya memberikan pendidikan keagamaan kepada para santri, tetapi juga mengenalkan berbagai ilmu umum dalam kegiatan pembelajarannya. Hal tersebut disampaikan Sena, Kepala Sekolah DTA At-Thoyyibah Cipadung, dalam wawancara pada (03/10/2026) mengenai kegiatan pendidikan di lembaga tersebut.

Sena menjelaskan bahwa kegiatan utama DTA At-Thoyyibah Cipadung adalah memberikan pendidikan kepada santri, baik secara teoritis maupun aplikatif. Menurutnya, ilmu dalam Islam tidak hanya terbatas pada ilmu agama, tetapi juga mencakup berbagai bidang yang dapat diterapkan dalam kehidupan.

“Karena secara hakikat jika kita bersumber kepada sumber ilmu Islam yaitu Al-Qur'an, Al-Qur'an itu sebenarnya sumber segala ilmu di dunia ini. Meliputi bisa jadi ilmiah, sains, agama pasti, politik, masyarakat, sosial, budaya,” jelas Sena. Ia menilai pembelajaran seperti matematika juga memiliki keterkaitan dengan perjalanan kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Sena mencontohkan bahwa Nabi Muhammad SAW juga pernah menjadi seorang pedagang sehingga terdapat ilmu hitung dalam kehidupan beliau. Selain itu, ia menyebut seni sebagai salah satu contoh ilmu yang dapat dikenalkan kepada anak-anak di DTA At-Thoyyibah Cipadung melalui kegiatan pembelajaran.

“Jadi fisika, kimia, biologi harusnya kita sudah tidak memandangnya itu bukan ilmu Islam, tapi itu ilmu bagian dari Islam,” ujarnya. Pandangan tersebut menjadi salah satu dasar DTA At-Thoyyibah Cipadung dalam mengenalkan berbagai bidang ilmu kepada para santri.

Selain ilmu pengetahuan, penanaman akhlak, adab, dan akidah juga menjadi perhatian dalam pendidikan anak-anak. Sena mengatakan, “Kita pengin mempersiapkan bagaimana anak-anak ketika akan menghadapi usia balig mereka sudah tertanam akhlak-akhlak Islam.” Menurutnya, pembentukan akhlak menjadi hal yang penting sebelum anak-anak memahami lebih jauh berbagai ilmu tentang hukum dan syariat Islam.

Melalui pendidikan sejak usia dini, DTA At-Thoyyibah Cipadung berupaya membentuk anak-anak agar memiliki adab, akhlak, dan akidah yang baik. Pendidikan tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mereka untuk mengenal Allah, memahami dirinya sebagai hamba, serta menjalani kehidupan dengan nilai-nilai Islam.


Reporter: Sultan Mauludin, KPI/3B

Menelusuri Sejarah Masjid Jami At-Taufiq: Dari Kegiatan Pengajian hingga Penyaluran Bantuan Beras BAZNAS


Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Jami At-Taufiq yang terletak di Kelurahan Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, memiliki sejarah panjang dalam perkembangan dakwah Islam yang berawal dari sebuah langgar atau musala sederhana, hingga menjadi masjid jami seperti sekarang ini. Dirintis oleh alm. K.H. Muhammad Bakri, masjid ini berkembang menjadi masjid jami yang sudah bisa menjalankan kegiatan Salat Jumat, dan kegiatan keagamaan masyarakat, sekaligus mempertahankan tradisi turun-temurun berupa kegiatan pengajian yang sudah ada dari dulu hingga sekarang serta menjalankan peran sosial melalui penyaluran bantuan beras dari Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Ketua DKM Masjid Jami At-Taufiq, Ustadz Agus Salahuddin, menjelaskan bahwa pendirian masjid bermula dari keinginan alm. K.H. Muhammad Bakri untuk menyebarkan ilmu agama setelah beliau menuntut ilmu di pesantren. Demi mewujudkan sarana dakwah bagi masyarakat, K.H. Muhammad Bakri bahkan rela menjual tanah dan kebun milik pribadinya untuk membiayai pembangunan masjid yang awalnya masih berupa langgar atau musala sederhana.

Perkembangan masjid berlanjut ketika generasi penerusnya memperluas bangunan masjid dengan melibatkan masyarakat sekitar, hingga masjid tersebut mulai berstatus sebagai Masjid Jami sekitar tahun 1989–1990. Ustadz Agus Salahuddin menuturkan bahwa perubahan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah masjid, yang sebelumnya masyarakat sekitar masih melaksanakan Salat Jumat di masjid lain yang jaraknya lumayan jauh, hingga akhirnya bisa melaksanakan Salat Jumat di Masjid Jami At-Taufiq.

Keunikan Masjid Jami At-Taufiq juga terlihat dari tradisi keagamaan yang diwariskan sejak masih dipimpin oleh alm. K.H. Muhammad Bakri, seperti pengajian umum setiap hari Senin, pembacaan sholawat di malam Jumat, dan khataman Al-Qur’an setiap tanggal 15 dalam kalender Hijriah. Ustadz Agus Salahuddin mengungkapkan bahwa dulu, jamaah melantunkan sholawat itu sebanyak 4444 kali dengan bantuan batu-batu kerikil sebagai alat hitung, salah satu tradisi yang kini mengalami perubahan seiring dengan perkembangan zaman.

Selain menjaga warisan keagamaan, Masjid Jami At-Taufiq juga turut berperan dalam kegiatan sosial melalui pengelolaan bantuan beras dari BAZNAS yang sering disebut ATM beras oleh masyarakat, yang awalnya hanya untuk jamaah Masjid At-Taufiq yang mengikuti pengajian subuh, tetapi karena DKM merasa tidak enak dengan masyarakat lainnya maka penerima manfaat beras tersebut disama ratakan untuk masyarakat Pasirbiru. Ustadz Agus Salahuddin menjelaskan bahwa masjid tersebut dipercaya oleh kelurahan Pasirbiru untuk menyalurkan bantuan beras kepada 75 kepala keluarga, dengan besaran 2,5 kg per-minggu dengan pembagian yang sudah dikoordinasikan bersama pengurus masjid  agar dapat menjangkau penerima di sejumlah RW sekitar.

Ustadz Agus Salahuddin berharap Masjid Jami At-Taufiq tidak hanya dikenal karena sejarah dan tradisi keagamaannya, karena selain memenuhi kebutuhan rohani masyarakat, Masjid Jami At-Taufiq juga diharapkan dapat memenuhi kebutuhan jasadnya karena kemampuannya dalam menjawab kebutuhan masyarakat. “Apapun keluhan masyarakat kalau bisa harus selesai dengan hadirnya masjid,” tuturnya, seraya menegaskan pentingnya peran masjid dalam memberikan manfaat, baik melalui pembinaan rohani maupun bantuan sosial bagi warga yang membutuhkan.

Reporter: Sevilla Aulia, KPI/3C

Ustazah Euis Jelaskan Tiga Tingkatan Ilmu: Syariat, Tarekat, dan Makrifat di Hadapan Jamaah Majelis Taklim

Dakwahpos.com, Bandung - Ustazah Euis memaparkan tiga tahapan dalam beragama, yaitu syariat, tarekat, dan makrifat, dalam pengajian di Masjid Pondok Pesantren As-Salafiyah Ar-Raid, Kampung Cisalatri, Jalan Gang Kujang, Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026). Pengajian diikuti jamaah ibu-ibu dan disampaikan dengan campuran bahasa Indonesia dan Sunda.

"Ilmu Allah Seluas Lautan" Ujarnya

Di awal ceramah, Ustazah Euis mengingatkan bahwa ilmu Allah sangat luas, seperti lautan. Namun, tidak semua ilmu wajib dipelajari. Yang pertama harus dipahami adalah ilmu yang berkaitan langsung dengan amal sehari-hari, yaitu ilmu syariat atau fikih, seperti tata cara salat dan wudu. Berikutnya adalah ilmu tauhid, yakni keyakinan yang kokoh kepada Allah. Menurutnya, mengenal Allah tidak cukup dengan mengetahui nama-Nya, tetapi juga perlu ilmu tentang siapa yang bernama Allah. Cabang ilmu yang membahas hal ini adalah tasawuf.

Syariat: Lahiriah dan Disertai Ilmu

Syariat, jelasnya, adalah ilmu dan amal lahiriah, yaitu cara menyembah Allah melalui ibadah mahdhah seperti salat, puasa, dan wudu. Ia menekankan bahwa amal ibadah harus disertai ilmu. Jamaah diajak mengetahui dalil dan dasar ilmu dari setiap amal yang dikerjakan.

Tarekat: Jalan Menuju Allah

Tahap kedua adalah tarekat, yang ia gambarkan sebagai jalan menuju Allah. Pada tahap ini, setiap ibadah, baik salat, sedekah, maupun doa, harus ditujukan hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya. Ustazah Euis juga mengingatkan bahwa orang yang menempuh jalan ini akan menghadapi rintangan dari dalam diri, seperti rasa bingung, bosan, dan malas. Rintangan itu perlu dilawan dengan terus mengarahkan hati kepada Allah.

Makrifat: Memandang Hanya kepada Allah

Tahap ketiga adalah makrifat, yaitu memandang hanya kepada Allah. Menurutnya, orang yang hatinya sudah memandang Allah tidak akan ingin menyakiti orang lain dan tidak mudah sakit hati ketika disakiti. Ia menjelaskan konsep ini dengan perumpamaan bayangan. Dalam penjelasannya, seluruh makhluk diibaratkan bayangan, sedangkan yang menggerakkan segalanya adalah Allah. Karena itu, tidak ada alasan untuk membenci sesama.

Sikap itu, katanya, tampak dalam perilaku sehari-hari. Orang yang telah mencapai tahap tersebut tidak melambung ketika dipuji dan tidak jatuh ketika dihina. Ia juga tidak mudah dikuasai amarah.

Pengajian diawali dengan pembacaan Al-Fatihah dan selawat, lalu ditutup dengan doa dan muhasabah. Sebelum ditutup, jamaah juga membaca bersama Surah Ali Imran. Pada akhir acara, panitia mengucapkan terima kasih kepada jamaah yang hadir dan berharap pengajian ini mendatangkan manfaat dan keberkahan.

Reporter : Pili Alvina/KPI3A

 

Kegiatan Pengajian tetap Berjalan meski Kelas Santri Remaja kian Berkurang

DAKWAHPOS.COM, BANDUNG — Pengajian rutin Masjid Jami' At-Taufiq tetap berjalan pada Selasa malam Rabu (13-10-2026) Kegiatan pengajiannya memiliki tingkatan tertinggi yang diikuti santri usia SMP hingga SMA, yakni Kelas A. Di kelas ini, para santri remaja tidak hanya belajar membaca Al-Qur'an, tetapi juga mendalami akhlak, tauhid, tajwid, dan fikih.

Materi yang diajarkan di Kelas A mencakup Akhlakul Banin, tauhid, tajwid, serta fikih. Pada pelajaran tajwid, santri mempelajari sifatul huruf dan makharijul huruf agar bacaan Al-Qur'an mereka semakin tepat dan fasih.

Selain pelajaran tersebut, setiap malam Minggu santri Kelas A mengikuti kegiatan tahfidz atau hafalan Al-Qur'an. Setelah menyelesaikan Juz 30, mereka melanjutkan hafalan surat-surat pilihan yang sering dibaca di tengah masyarakat, seperti Ar-Rahman, Yasin, Al-Waqiah, dan Al-Mulk.

Di balik materi yang cukup lengkap itu, jumlah santri Kelas A menjadi yang paling sedikit dibanding tingkatan lain. Dahulu, kelas ini pernah terbagi hingga tujuh kelas, namun jumlahnya terus berkurang. Penyebabnya, anak-anak yang telah memasuki usia SMP dan SMA mulai malas belajar.Tetapi walaupun jumblah santri berkurang, tidak menjadi alasan bagi mereka untuk berhenti mengaji.

Meski demikian, kegiatan belajar di Kelas A tetap berjalan dengan materi yang sama, menjadi bekal ilmu agama bagi santri remaja agar tetap dekat dengan Al-Qur'an.

Reporter: Naila Hulwatul Ishmah. 
 

DKM At-Taufiq Fokuskan Hafalan Juz 30 dan Tauhid bagi Santri Laki-laki


 DAKWAHPOS.COM, BANDUNG — Pelaksanakan pengajian rutin pada Selasa (22-09-2026) diikuti sekitar 60 santri dari jenjang TK, SD, hingga SMA. Salah satu yang menjadi sorotan adalah Kelas B khusus santri laki-laki, yang mendalami bacaan dan hafalan Al-Qur'an serta pelajaran tauhid.

Di Kelas menengah khusus santri laki-laki yaitu kelas B, dibimbing langsung oleh Ustaz Samsu dengan materi yang sedikit lebih tinggi dibanding kelas dasar. Mereka memperdalam bacaan Al-Qur'an, menghafal Juz 30, dan mempelajari tauhid sebagai bekal dasar keimanan. Hafalan dan pemahaman akidah diajarkan berdampingan agar santri tidak hanya hafal ayat, tetapi juga mengerti pokok keyakinan yang diajarkan.

Pemisahan kelas khusus laki-laki ini sengaja diterapkan agar proses belajar dan pembentukan karakter berjalan lebih fokus dan terarah. Dengan kelas yang lebih terkonsentrasi, Ustaz Samsu dapat memantau perkembangan bacaan dan hafalan setiap santri dengan lebih leluasa.

Melalui penataan kelas yang digagas Ustaz Usep Dindin, Beliau berkomitmen mencetak generasi muda yang berakidah kokoh. Para santri laki-laki diharapkan mampu menuntaskan hafalan Juz 30 dengan baik, memahami tauhid dengan kuat, dan menerapkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari.

Reporter: Naila Hulwatul Ishmah. KPI/3A
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos