Bentengi Kesempurnaan Takwa, Ustaz Suntama Kupas Tuntas Sinergi Ibadah Lahir dan Batin di Masjid Al-Wahdah Batununggal


Dakwahpos.com, Bandung – Suasana sejuk malam minggu menyelimuti Masjid Al-Wahdah, Batununggal, pada Sabtu (26/09/2026). Setelah salat Magrib berjamaah, puluhan bapak-bapak tidak lantas beranjak pulang ke rumah, melainkan duduk melingkar di ruang utama masjid untuk mengikuti majelis ilmu bersama Ustaz Suntama. Pengajian yang berlangsung hingga waktu Isya ini terasa begitu hangat dan akrab. Di tengah kekhusyukan mendengarkan ilmu agama, para mustami (pendengar) disuguhi hidangan kecil berupa gorengan hangat dan minuman oleh panitia, menjadikan suasana belajar agama ini santai namun tetap sarat akan keberkahan.

Di tengah suasana kebersamaan yang terjalin erat tersebut, Ustaz Suntama mengawali kajiannya dengan menyoroti urgensi menuntut ilmu sebagai fondasi utama dalam beribadah. Beliau menjelaskan secara tidak langsung bahwa perintah beribadah harus didasari oleh empat modal utama, yakni keimanan yang teguh, pelaksanaan amal ibadah itu sendiri, ilmu, dan keikhlasan di dalam batin. "Mencari ilmu itu difardukan alias diwajibkan ke semua muslim lelaki dan muslim perempuan, tanpa kecuali. Baik yang miskin, pejabat, rakyat, ulama, maupun yang bodoh, tetap kena kewajiban dengan syarat beragama Islam," tegas Ustaz Suntama di hadapan para jemaah. 

Seiring berjalannya waktu dan hangatnya obrolan ringan di sela-sela tausiah, penceramah semakin mendalam mengupas hakikat penghambaan kepada Allah. Beliau menjeleskan bahwa ibadah sejatinya terbagi menjadi dua dimensi yang saling melengkapi, yakni ibadah fisik (lahiriah) dan ibadah hati (batiniah). Menurutnya, ibadah lahiriah yang jumlahnya ada enam seperti bersuci, salat, zakat, puasa Ramadan, ibadah haji, dan jihad, tidak akan pernah mencapai kesempurnaan apabila tidak dibarengi dengan amal ibadah batin. Apabila ibadah fisik dilakukan tanpa melibatkan keimanan dan niat yang lurus, esensi penghambaan diri belumlah sempurna. 

Sembari jemaah bapak-bapak sesekali menikmati gorengan yang dihidangkan, Ustaz Suntama memaparkan bentuk ibadah batin yang sangat ditekankan, yakni tafakur atau memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah. Beliau mengajak jemaah untuk merenungkan penciptaan langit, bumi, dan diri manusia itu sendiri agar timbul keyakinan yang kuat serta sikap tawajuh (menghadap sepenuhnya kepada Allah). "Tafakur teh hukumna wajib, sanes sunat. Ceuk bahasa urang mah mikir-mikir, alias mikiran ciptaan Allah. Ieu kedah dipikiran sangkan ngaraoskeun tengtreum," ujar beliau menyentuh hati para jemaah.

Lebih jauh, Ustaz Suntama juga mengingatkan tentang amal ibadah batin lainnya yang wajib tertanam di dada setiap muslim, seperti makrifat (mengenal Allah), rasa cinta (mahabbah), tawakal, dan sabar. Terkait kesabaran, beliau secara tidak langsung mengklasifikasikannya ke dalam tiga tingkatan, yaitu sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam ketaatan, serta sabar menahan diri dari kemaksiatan. Di samping itu, beliau tak henti-hentinya mengingatkan jemaah untuk senantiasa mensyukuri seluruh organ dan panca indra yang telah dikaruniakan Allah, sebab keengganan bersyukur akan membawa manusia pada sifat kufur. 

Mendekati penghujung pengajian, Ustaz Suntama memberikan pesan penutup agar umat Islam menyeimbangkan kondisi batinnya di hadapan Allah SWT. Beliau memaparkan bahwa seorang mukmin sejati harus terus menumbuhkan rasa harap (raja') akan luasnya ampunan Allah, namun juga harus merawat rasa takut (khauf) terhadap ancaman dan siksa-Nya. Majelis ilmu yang penuh kehangatan ukhuwah itu pun usai seiring berkumandangnya azan Isya. Rangkaian kegiatan malam itu ditutup dengan menunaikan ibadah salat Isya berjamaah.


Reporter: Muhamad Fahmy Assowab, KPI/3B


Ustaz Aep Saepudin Ajak Jamaah Tingkatkan Cinta kepada Al-Qur’an dan Rasulullah Saw


Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Aep Saepudin sampaikan ceramahnya dalam kegiatan pengajian di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru, senin (05/10/2026). Ustaz Aep Saepudin bahas pentingnya mencintai Al-Qur’an dan Rasulullah saw serta mengajak jamaah untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari kehidupan dan memperkuat keimanan kepada Rasulullah saw.

Ustaz Aep Saepudin menyampaikan bahwa kecintaan kepada Al-Qur’an tidak cukup dengan mengakui keberadaannya, tetapi perlu diwujudkan melalui kebiasaan membaca, mempelajari, dan mengamalkan isinya. Ia juga mengaitkan kecintaan tersebut dengan keimanan kepada Rasulullah SAW yang menjadi pembawa wahyu Al-Qur’an kepada umat manusia.

“Dengan cahayanya Alquran mudah-mudahan nanti tambah umur kami dengan aliran cinta,” ujar Ustaz Aep Saepudin.

Dalam ceramahnya, Ustaz Aep juga menceritakan kisah Abu Jahal yang mengetahui bahwa Nabi Muhammad saw membawa kebenaran, tetapi tetap menolak ajaran yang disampaikan. Ustaz Aep kemudian mengingatkan jamaah agar tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan saja, tetapi juga menjadi pedoman dalam kehidupan, karena Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang terus relevan sepanjang kehidupan.

“Al-Qur’an cukup subur karena Al-Qur’an, sepanjang masa,” ucap Ustaz Aep Saepudin.

Selain membahas Al-Qur’an, Ustaz Aep Saepudin juga mengajak jamaah untuk mengenal Rasulullah saw, dengan memperbanyak membaca sholawat, serta menjadikan kehidupan Rasulullah sebagai teladan dalam menjalankan ajaran agama.

“Kami cinta Rasulullah sallallahu alaihi wasallam benar-benar cinta,” tutur Ustaz Aep Saepudin.

Ustaz Aep juga ingatkan jamaah untuk terus menjaga keimanan dan istiqamah dalam menjalankan ibadah. Menurutnya, keimanan tidak hanya diwujudkan melalui pengetahuan agama, tetapi juga melalui kebiasaan menjalankan ajaran yang telah dipelajari.

“Jaga waktu istiqomah yang katakan iman islam kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala,” ujar Ustaz Aep Saepudin.

Reporter: Pahmi Padila Emi, KPI/3B

DKM Al-Barokah Pasir Biru Tingkatkan Pengetahuan Keagamaan Anak Melalui Pengajian

 

Dakwahpos.com, Bandung - Kegiatan Pengajian anak-anak di Masjid Al-Barokah, Pasir Biru dipimpin oleh ketua DKM Al-Barokah Ustaz Asep Anwarullah bersama Ustaz Ujang Rosyidin, Minggu (04/10/2026). Selain belajar mengaji, anak-anak juga belajar tajwid, fikih, tauhid, dan hafalan Al-Qur’an.

Kegiatan pengajian ini membagi anak dalam 2 kelompok, yaitu kelompok iqro bagi anak-anak yang baru belajar dan kelompok Al-Quran. Anak yang masih menggunakan iqro mendapatkan pembelajaran membaca sekaligus penerapan tajwid melalui praktik, sedangkan anak yang sudah membaca Al-Qur’an mendapat materi tajwid secara lebih mendalam. 

“Minimal anak yang kecil maupun yang gede, selama ngaji di sini, minimal hafal Juz 30,” ujar Ustaz Asep Anwarullah.

Sistem hafalan dilakukan melalui setoran. Anak-anak diminta menghafalkan surah di rumah, kemudian menyetorkannya kepada pengajar ketika kegiatan pengajian di masjid. Sejumlah anak yang telah menyelesaikan Juz 30 bahkan mulai menghafalkan surah lain seperti Ar-Rahman, Al-Waqiah, Al-Mulk, dan Al-Qalam.

“Materinya bukan hanya ngaji Al-Qur’an. Ada fikih, ada tauhid,” kata Ustaz Asep Anwarullah.

Selain hafalan, materi keagamaan diberikan secara bergantian sesuai jadwal. Anak-anak mempelajari fikih seperti tata cara wudu, bacaan salat, hingga taharah untuk kelompok yang lebih besar. Sementara itu, materi tauhid yang diberikan kepada anak-anak mengenai rukun iman dan rukun Islam.

Semua pengajaran itulah yang selalu diusahakan oleh Ustaz Asep Anwarullah dan Ustaz Ujang Rosyidin. Keterbatasan pengajar bukan pengahalang untuk memberi yang terbaik bagi pendidikan agama anak-anak di masjid.

“Kalau hanya saya sendiri, yang kecil-kecil itu dibantu ngajarin sama yang gede-gede yang udah ke Quran,” tutur Ustaz Asep Anwarullah.

Dalam pelaksanaannya, saat hanya Ustaz Asep Anwarullah yang membimbing, anak-anak yang lebih besar dan telah mampu membaca Al-Qur’an turut membantu mengajari anak-anak yang masih belajar Iqra. Cara tersebut membuat kegiatan tetap berjalan sekaligus memberi kesempatan kepada anak-anak yang lebih besar untuk belajar membimbing.

Menurut Ustaz Asep Anwarullah, keterlibatan anak-anak yang lebih besar bukan hanya membantu mengejar waktu pembelajaran. Mereka juga dilatih untuk mengetahui cara mengajari anak yang lebih kecil. Dengan demikian, kegiatan pengajian tidak hanya menjadi proses belajar satu arah antara guru dan murid, tetapi juga memberi ruang bagi anak untuk saling membantu dalam proses belajar.

Reporter: Pahmi Padila Emi, KPI/3B

Maulid Nabi di Masjid Al-Barokah Pasir Biru, Ustad Aep Saepudin Ajak Jamaah Perkuat Cinta kepada Rasulullah saw

 

Dakwahpos.com, Bandung - Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw di Masjid Al-Barokah Pasir Biru, Senin (14/9/2026), Ustad Aep Saepudin ajak jamaah untuk tingkatkan kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah saw, melalui kisah keteladanan Rasulullah sebagai Uswatun Hasanah.

Ustad Aep Saepudin mengisahkan sejumlah keistimewaan Nabi Muhammad saw, termasuk kisah kelahiran beliau dan perjalanan kehamilan ibunda Rasulullah, Siti Aminah. Berdasarkan kisah yang disampaikannya, Siti Aminah disebut mengalami kehamilan yang berbeda dari umumnya perempuan dan mendapatkan kunjungan serta doa dari sejumlah nabi terdahulu selama masa kehamilannya.

“Semua merasa gembira atas lahirnya Baginda Rasulullah saw, laut mengekspresikan kegembiraan, segala yang ada ikut gembira, hewan, manusia, dan seluruh makhluk bumi ikut merasa gembira,” ujar Ustaz Aep Saepudin.

Selain membahas kelahiran Nabi, Ustad Aep Saepudin juga mengangkat keutamaan sejumlah kalimat thayyibah, seperti Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar, dan La haula wala quwwata illa billah. Ustad Aep Saepudin mengingatkan jamaah untuk membiasakan zikir tersebut dalam kehidupan sehari-hari karena ringan diucapkan namun memiliki keutamaan besar dalam amal.

"Begitu lahir sudah dalam keadaan dikhitan, sudah diberi celak mata, serta alis dan ketampanannya luar biasa, di sana malaikat membaca/mengucapkan: Subhanallah, Walhamdulillah, Walailahaillallah, Wallahuakbar, Wala haula wala quwwata illa billah. Kalimat tersebut sangat bersejarah,” ujar Ustaz Aep Saepudin.

Jamaah juga diajak mengamalkan zikir sesuai dengan kondisi yang dihadapi yang menganjurkan membaca Subhanallah ketika menghadapi keadaan berat, kesulitan, maupun kelelahan agar hati menjadi lebih tenang dan beban terasa lebih ringan.

“Di dalam hadis disebutkan dua kalimat yang ringan diucapkan oleh lisan, tetapi sangat berat pahalanya dalam timbangan amal, luar biasa pahalanya. Dan yang paling dicintai oleh Ar-Rahman (Allah), kedua kalimat yang paling dekat di sisi Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu adalah Subhanallahil adzim, Subhanallahil adzim, Subhanallahil adzim,” ujar Ustaz Aep/

Dalam ceramah tersebut, Ustad Aep Saepudin turut mengajak para ibu yang sedang mengandung untuk memperbanyak membaca Al-Qur'an dan sholawat. Hal ini disampaikan dengan merujuk pada kisah kehamilan Siti Aminah yang dalam ceramah digambarkan sebagai masa yang dipenuhi doa dan keberkahan.

“Maka dari itu, kita yang sedang hamil itu didoakan (dan) membaca Al-Qur'an. Biasakan membaca shalawat,” ujar Ustaz Aep Saepudin .

Reporter: Pahmi Padila Emi/KPI 3B

Peringatkan Hakikat Penciptaan Manusia, Ustaz Hasbiyallah Ajak Jamaah Masjid Al-Wahdah Batununggal Persiapkan Bekal Akhirat


 Dakwahpos.com, Bandung – Manusia sering kali terlena dengan gemerlap dunia dan melupakan asal-usul penciptaannya. Mengingatkan hal tersebut, Ustaz Hasbiyallah menyampaikan khutbah Jumat yang menggugah hati para jamaah di Masjid Al-Wahdah, Batununggal pada Jumat (25/9/2026). Khutbah ini menjelaskan secara mendalam proses penciptaan manusia sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur'an, khususnya Surat Al-Mu'minun ayat 12-16.

Di hadapan puluhan jamaah yang khusyuk menyimak, Ustaz Hasbiyallah menjelaskan tahapan demi tahapan perjalanan hidup manusia. Beliau memaparkan bahwa manusia berawal dari saripati tanah yang hina, kemudian berproses menjadi nutfah (sperma), 'alaqah (segumpal darah), mudhghah (segumpal daging), hingga dibungkus dengan tulang belulang dan ditiupkan ruh ke dalamnya. "Semua proses ini adalah bukti kekuasaan Allah yang Mahasempurna, yang menjadikan kita makhluk istimewa yang dibekali akal pikiran," tegas Ustaz Hasbi.

Lebih lanjut, beliau menyoroti penyakit hati yang sering terjadi pada manusia, yakni kesombongan. Dengan nada tegas, beliau mengingatkan jamaah bahwa tidak ada alasan sedikit pun bagi manusia untuk menyombongkan diri, entah karena jabatan, harta, atau status sosial. Beliau juga menegaskan bahwa kesombongan adalah sebuah ironi yang besar, mengingat setiap manusia diciptakan dari unsur yang sama, yaitu dari sari pati tanah dan air mani.

"Sama sekali tidak ada bagian untuk sombong. Semuanya dari air mani, disimpan oleh Allah di tempat yang kokoh di dalam rahim selama sembilan bulan, lalu dijadikan segumpal darah, segumpal daging, lalu tulang belulang yang dibungkus daging, barulah manusia menjadi makhluk yang sempurna," papar Ustaz Hasbiyallah menguraikan firman Allah dalam khutbahnya.

Selain merenungi proses penciptaan, khotib juga menekankan tujuan akhir dari perjalanan manusia. Dunia ini, menurut beliau, hanyalah tempat persinggahan sementara (mazra'atul akhirah). Kehidupan dunia adalah ladang untuk bercocok tanam amal yang kelak akan dipanen di alam akhirat. Semua manusia pada akhirnya akan merasakan kematian dan mempertanggungjawabkan perbuatannya di hari kiamat.

Khutbah Jumat ini diakhiri dengan doa, memohon ampunan dan keselamatan bagi seluruh umat Islam, baik yang masih hidup maupun yang telah mendahului. Ustaz Hasbiyallah berharap pesan-pesan dalam khutbah ini dapat menjadi pengingat bagi jamaah Mesjid Al Wahdah, Batununggal untuk senantiasa rendah hati, mensyukuri nikmat akal, dan berlomba-lomba mengumpulkan bekal ketakwaan demi kehidupan akhirat yang abadi.


Reporter: Muhamad Fahmy Assowab, KPI/3B


Bentengi Remaja dari Kecanduan Gawai, Ustadz Hasbiyallah Gagas Pengajian Sore di Masjid Al Wahdah Batununggal


 Dakwahpos.com, Bandung – Derasnya arus informasi dan digitalisasi di era modern memunculkan tantangan besar bagi pendidikan moral anak bangsa. Menyadari keresahan tersebut, Masjid Al Wahdah menggelar program pembinaan spiritual bertajuk "Magrib Mengaji" yang secara khusus membidik kalangan remaja usia SMP dan SMA. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (17/9/2026) ini diprakarsai langsung oleh DKM Al Wahdah, Ustadz Hasbiyallah.

Pantauan di lokasi menunjukkan puluhan remaja tampak antusias memadati ruang utama masjid menjelang tenggelamnya matahari. Ustadz Hasbiyallah mengungkapkan bahwa waktu menjelang Magrib hingga Isya adalah momen krusial yang rentan dihabiskan oleh anak-anak untuk hal-hal kurang produktif. "Tantangan anak-anak buat mengaji setelah lulus SD itu semangatnya menurun karena memang tantangan gadget, HP. Mereka lebih menikmati TV, HP, di hari-hari menjelang Magrib sampai Magrib," tutur beliau saat ditemui di sela-sela majelis.

Oleh karena itu, program pengajian ini tidak hanya mengajarkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an secara konvensional. Masjid dan yayasan merancang kurikulum madrasah diniyah (non-formal) yang mengkombinasikan pendidikan agama dengan peningkatan prestasi akademik. Para remaja dilatih untuk memahami ilmu-ilmu keislaman sekaligus dipersiapkan agar mampu bersaing dalam tes potensi akademik (TPA) di sekolah formal mereka.

Upaya mulia ini tentu tidak akan berjalan optimal tanpa adanya sinergi yang kuat dari lingkungan terdekat. Ustadz Hasbiyallah menegaskan bahwa peran orang tua sangatlah vital dalam menyukseskan program ini. Komunikasi yang intens dengan wali santri terus dibangun untuk menjaga motivasi anak-anak agar tetap memiliki kemauan (mau ngaji) dan tidak mudah terpengaruh oleh godaan pergaulan luar maupun dunia digital.

Menariknya, pembinaan di Masjid Al Wahdah ini juga memberikan ruang bagi para santri remaja untuk melatih jiwa kepemimpinan. Santri dilatih untuk menjadi imam salat magrib, mengumandangkan azan, hingga terbiasa melakukan tadarus Al-Qur'an dan doa-doa harian bersama. Pendekatan holistik ini bertujuan untuk mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga kokoh secara spiritual dan matang secara sosial. 

Melalui rutinitas edukatif di Masjid Al Wahdah ini, diharapkan tradisi menuntut ilmu di waktu sore dapat kembali mengakar di tengah masyarakat perkotaan. Harapan terbesarnya, program ini mampu melahirkan generasi penerus yang cerdas, mencintai agama, dan memiliki karakter akhlak mulia yang kelak membawa kebermanfaatan bagi bangsa dan negara.


Reporter: Muhamad Fahmy Assowab, KPI/3B

Penceramah Opik Hidayat Tekankan Pentingnya Istiqamah dalam Kehidupan Bermasyarakat


Dakwahpos.com,Subang - Penceramah Opik Hidayat menyampaikan tausiah tentang keimanan kepada yang gaib dan keteladanan Nabi Muhammad saw. dalam ceramah yang digelar di Masjid Besar Al-Ikhlas, Sagalaherang, Rabu (7/10/2026). Ceramah tersebut diikuti jemaah yang memadati ruang utama masjid.

Dalam ceramahnya, Opik menjelaskan bahwa manusia memang tidak dapat melihat Allah, surga, maupun neraka secara langsung. Menurutnya, keterbatasan itu justru menjadi kelebihan karena iman yang tumbuh tanpa melihat memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah. Ia mengutip hadis dalam Sahih al-Bukhari yang menggambarkan bahwa para malaikat pun tidak pernah melihat Allah, sehingga ibadah manusia yang beriman kepada yang gaib menjadi sesuatu yang istimewa.

"Islam itu bisa dibawa oleh habib, bisa dibawa oleh menteri, dan bisa pula dibawa oleh modin di kampung. Semuanya sama-sama penting untuk mengawal Islam," ujar Opik di hadapan jemaah.

Opik juga menguraikan bahwa ajaran tauhid sebenarnya dapat dipahami dengan sederhana. Ia mencontohkan bahwa seluruh bilangan, dari dua, tiga, hingga triliunan, berpangkal pada angka satu. Demikian pula gambar apa pun selalu bermula dari satu titik. Penjelasan itu, katanya, menjadi cara mudah memahami bahwa Allah itu Esa. Ia merujuk penjelasan Syekh Nawawi Al-Bantani tentang huruf ba pada lafaz basmalah yang bertitik satu sebagai asal mula wujud.

Selain itu, Opik mengajak jemaah meneladani Nabi Muhammad saw. dalam memuji Allah. Menurutnya, Nabi memanjatkan pujian yang tidak terbatas karena sesuai dengan kehendak Allah, bukan sebatas luasnya langit dan bumi. Ia juga menyebut Nabi tidak pernah berputus asa terhadap mereka yang belum beriman. Saat Nabi disakiti di Thaif dan malaikat menawarkan untuk membinasakan kaum itu, beliau justru berharap dari keturunan mereka lahir orang-orang yang menyembah Allah.

Pada bagian lain, Opik membandingkan mukjizat Al-Qur'an dengan mukjizat para nabi terdahulu. Mukjizat seperti unta Nabi Saleh dan terbelahnya laut bagi Nabi Musa hanya disaksikan pada masanya. Adapun Al-Qur'an dapat dipikirkan dan dibuktikan umat hingga hari kiamat. Ia menyebut bahwa manusia bahkan tidak mampu menciptakan seekor nyamuk, sehingga untuk mengakui kekuasaan Allah, manusia tidak harus menunggu peristiwa luar biasa.

Di akhir ceramah, Opik mengingatkan keistimewaan Rasulullah saw. pada hari kiamat. Ketika para nabi lain sibuk dengan keselamatan diri masing-masing, Nabi Muhammad saw. justru memikirkan umatnya dan tetap memuji Allah sebelum memohon syafaat. Ia menutup tausiah dengan mengutip syair Burdah karya Imam Al-Busiri sebagai pengingat bahwa umat Nabi dapat berharap pada rahmat Allah.

Ceramah yang berlangsung di Masjid Besar Al-Ikhlas itu diharapkan dapat menumbuhkan keyakinan jemaah bahwa Islam adalah agama yang rasional dan mudah dipahami. Jemaah tampak menyimak dengan khidmat hingga acara berakhir.

Reporter : Naura Haila/3C

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos