Khotbah Jumat di Masjid Al-Muhajirin: Ustaz Arie Mutawali Ingatkan Pentingnya Syukur dan Qana'ah di Era Media Sosial

Dakwahpos.com, Bandung – Perkembangan teknologi dan media sosial yang kian pesat kerap memicu manusia untuk membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Keadaan ini membuat banyak individu terjebak dalam sifat tidak pernah merasa cukup, berambisi mengejar eksistensi, dan menilai segala sesuatu semata-mata dari materi. Dampaknya, jiwa menjadi gelisah dan perlahan menjauh dari nilai-nilai ketuhanan, Jumat (02/10/2026).

Dalam pemaparannya, khatib menjelaskan bahwa Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW telah memberikan petunjuk nyata untuk mengatasi penyakit hati berupa sifat selalu mengeluh dan merasa kurang. Salah satu benteng terkuat dalam menghadapi cobaan tersebut adalah dengan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Para ulama mendefinisikan syukur sebagai fi’lun sebuah perbuatan yang menumbuhkan pengagungan di dalam hati terhadap Zat Yang Maha Memberi Kenikmatan. Untuk melatih rasa syukur, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar melihat orang-orang yang kondisinya berada di bawah kita secara fisik maupun materi.

"Seseorang yang berjalan kaki hendaknya tidak membandingkan dirinya dengan orang yang memiliki sepeda, melainkan melihat mereka yang terbaring sakit dan tidak dapat berjalan. Metode ini efektif agar kita menyadari betapa banyaknya nikmat Allah yang belum sempat kita syukuri," ujar khatib di hadapan para jamaah.

Selain syukur, obat ampuh lainnya untuk mengikis ambisi tak terbatas adalah sifat qanaah, Rasa rida dan menerima dengan lapang dada atas segala ketentuan Allah (al-ridha bil-yasir). Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ridanya seorang hamba atas apa yang dibagikan oleh Allah menjadikan dirinya sebagai manusia yang paling kaya secara hakiki.

Melalui pesan khotbah ini, jamaah diharapkan dapat memupuk sifat syukur dan qana'ah dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana, sehingga terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat (hasanah fi al-dunya wa al-akhirah).

Reporter: Arya Ronna Putra Mochamad, KPI/3D

 

Khotbah Jumat Ustaz Arfan: Meneladani Kesabaran Sayyidina Abu Bakar


Dakwahpos.com, Bandung – Kegiatan salat Jumat kali ini diisi dengan khotbah tentang pentingnya meneladani kesabaran Rasulullah saw. dan Sayyidina Abu Bakar r.a. sebagai pedoman dalam memperkuat ukhuwah Islamiah di tengah kehidupan bermasyarakat. Khutbah yang penuh hikmah tersebut mengingatkan jamaah akan indahnya menahan amarah yang disampaikan oleh Ustaz Arfan, Jumat (25/09/2026).

Dalam khotbahnya, khatib menceritakan sebuah riwayat ketika Sayyidina Abu Bakar sedang bercengkerama dengan penuh kedamaian bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba, datang seorang Arab Badui yang tanpa adab langsung memaki dan memfitnah Sayyidina Abu Bakar.

Pada ujian cacian pertama dan kedua, Sayyidina Abu Bakar memilih untuk menahan amarahnya demi menjaga momentum damai tersebut, sementara Rasulullah saw. hanya merespons dengan senyuman. Namun, ketika ujian ketiga datang dan Arab Badui tersebut mulai menghina keluarganya, Sayyidina Abu Bakar kehilangan kesabaran dan mulai membalas cacian tersebut. Di momen itulah, tanpa sepatah kata pun, Rasulullah saw. beranjak pergi.

Khatib mengisahkan penjelasan Rasulullah saw. saat dikejar oleh Abu Bakar terkait kejadian tersebut. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ketika Abu Bakar menahan sabar di ujian pertama dan kedua, langit terbuka dan para malaikat turun untuk mendoakannya. Namun, saat ia membalas cacian pada ujian ketiga, para malaikat kembali ke atas dan iblis datang menghampiri. Rasulullah saw. menegaskan bahwa beliau tidak ingin duduk berdampingan dengan iblis.

Dari kisah tersebut, khatib mengajak jamaah untuk menarik kesimpulan mendalam bahwa kesabaran sejatinya tidak memiliki batasan. Kesabaran menjadi kunci utama yang sangat relevan diterapkan di zaman modern ini, di mana arus informasi begitu deras.

Khotib berharap agar jamaah senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan menjaga kesabaran tanpa batas dan menjaga lisan dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Khutbah ditutup dengan pembacaan doa kebaikan bagi seluruh umat Islam.

Reporter: Arya Ronna Putra Mochamad, KPI/3D

Bukan Sekadar Materi, Ustaz Fulki Ghifari Khaliq Ungkap Kunci Sukses Dakwah

Dakwahpos.com, Bandung — Berbekal pengalaman menimba ilmu agama selama belasan tahun di pesantren hingga Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Ustaz Fulki Ghifari Khaliq, Lc. Terus mendedikasikan dirinya untuk menyampaikan dakwah di tengah masyarakat. Dengan pendekatan komunikatif dan kontekstual, beliau berkomitmen menyebarkan ajaran Islam tanpa membuat jemaahnya merasa digurui.

Perjalanan panjang Ustaz Fulki dalam menuntut ilmu dimulai sejak usia kanak-kanak. Sang orang tua memasukkannya ke Pondok Pesantren Al-Basyariah sejak jenjang Sekolah Dasar (SD). Pendidikan pesantren tersebut kemudian berlanjut ke Pondok Modern Darussalam Gontor hingga tamat SMA, sebelum akhirnya beliau menempuh studi sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Jika dihitung, tidak kurang dari 14 hingga 15 tahun waktunya dihabiskan dalam lingkungan pendidikan Islam formal.

Bagi Ustaz Fulki, latar belakang pendidikan yang panjang tersebut mendatangkan beban moral tersendiri ketika kembali ke tengah masyarakat. Misi utamanya adalah mengamalkan ilmu melalui prinsip tafaqquh fiddin—yaitu memperdalam ilmu agama untuk kemudian memberi peringatan dan petunjuk kepada kaumnya.

“Dasarnya ketika saya terjun ke masyarakat itu karena saya punya beban moral untuk menyebarkan ilmu. Profesi apa pun boleh, yang penting dia menjadi orang yang menyampaikan agama dan membawa manusia kepada kebaikan,” ungkap Ustaz Fulki saat diwawancarai oleh reporter. 

Mengamati dinamika dunia pendidikan Islam, Ustaz Fulki menilai adanya keunggulan saling melengkapi antara pesantren salaf dan pesantren modern. Pesantren salaf sangat unggul dalam penguasaan keilmuan dan literatur kitab, sedangkan pesantren modern menonjolkan aspek kepemimpinan, kemandirian, serta interaksi sosial kemasyarakatan. Menurutnya, kedua potensi tersebut sangat baik jika dapat dipadukan dan berkolaborasi dalam ranah dakwah.

Dalam hal metodologi penyampaian, Ustaz Fulki memilih menerapkan pendekatan al-hali—yakni pendekatan kontekstual yang disesuaikan dengan kondisi serta isu kekinian yang dekat dengan jemaah. Saat berhadapan dengan generasi muda atau remaja, beliau tak ragu mengangkat topik hangat seperti fenomena figur publik hingga permainan Mobile Legends. Topik-topik populer tersebut kemudian ditarik pada nilai-nilai positif Islam, seperti pentingnya kerja sama, komunikasi, dan saling membantu.

Tantangan terbesar dalam berdakwah menurut beliau bukanlah keterbatasan materi, melainkan cara penyampaian. Manusia pada dasarnya tidak suka digurui, sehingga dakwah perlu dikemas secara interaktif dan komunikatif layaknya sebuah obrolan hangat. Beliau bahkan lebih menyukai sesi ceramah yang diwarnai diskusi dan tanya-jawab aktif dari jemaah.
Memegang teguh kaidah ath-thariqatu ahammu minal maddah (metode penyampaian lebih penting daripada materi), Ustaz Fulki berharap para pendakwah yang berlatar belakang pesantren maupun perguruan tinggi luar negeri terus mengasah metodologi dakwahnya agar tetap relevan dan menarik.

“Harapan saya ke depannya ingin terus berkembang dalam ilmu, metode, dan metodologi dakwahnya. Karena percuma kalau belajar jauh-jauh tetapi cara penyampaiannya kurang bagus. Metodologi itu terkadang lebih penting dibandingkan materi,” pungkasnya.


Reporter: Zeyni Jilan Nadezda Mentari, KPI/3C



Uploaded Image

Ustadz Falik Ghifari Khaliq Ingatkan Pentingnya Syukur, Tawakal, dan Menyikapi Ujian Hidup

Suasana hangat dan penuh kekeluargaan menyelimuti pengajian mingguan ibu-ibu yang diselenggarakan di Masjid Al-Khairat Cipadung pada Minggu, 4 Oktober 2026 mulai pukul 16.00 WIB. Acara keagamaan rutin ini diawali dengan pembukaan oleh Ibu Suryandari, dilanjutkan pembacaan tawasul oleh Ibu Yuyun, serta lantunan kalam ilahi yang dipimpin oleh Ibu Kokom bersama sartil Ibu Umin yang membawakan Surah An-Nisa ayat 116. Memasuki acara inti, Ustadz Fulki Ghifari Kholiq Lc menyampaikan siraman rohani yang disimak dengan penuh khusyu oleh para jemaah, sebelum akhirnya seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan do’a bersama pada pukul 17.00 WIB.

Dalam ceramahnya, Ustadz Fulki Ghifari Kholiq Lc mengingatkan para jemaah akan pentingnya senantiasa menanamkan rasa syukur dalam menghadapi segala situasi kehidupan. Beliau menjelaskan bahwa setiap langkah dan kebaikan yang dilakukan manusia akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Selain itu, beliau menekankan bahwa rasa syukur tidak hanya dipraktikkan saat menerima kenikmatan atau kondisi yang menyenangkan saja, melainkan juga harus tetap dijaga ketika seseorang sedang diuji dengan cobaan atau penyakit seperti wabah flu yang tengah marak terjadi belakangan ini.

“Maka apa yang wajib kita syukuri? Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Alhamdulillah atas segala keadaan. Dan enak atau tidak enak menurut kita sendiri, wallahu a’lam. Bisa jadi kita membenci sesuatu, tetapi sebenarnya itu baik bagi kita,” tutur Ustadz Fulki di hadapan para jemaah.

Lebih lanjut, Ustadz Fulki memaparkan mengenai konsep tawakal yang sering kali disalahartikan oleh sebagian umat Islam. Beliau menegaskan bahwa tawakal bukanlah sikap berserah diri secara pasrah tanpa melakukan tindakan apa pun terlebih dahulu. Sebaliknya, tawakal yang benar menurut ajaran Islam adalah berserah diri kepada keputusan Allah SWT setelah manusia melakukan usaha atau ikhtiar secara maksimal, serta menjaga adab dengan tidak menisbatkan hal-hal buruk secara langsung sebagai takdir sebelum berusaha.

“Tawakal adalah menyerahkan urusan kepada Allah setelah kita berusaha. Jangan belum usaha keras, belum dicoba, belum melakukan apa-apa sudah berkata, ‘Saya tawakal kepada Allah.’ Ikat dulu hewan kalian, baru tawakal. Kunci ganda dulu, baru kita katakan tawakal kepada Allah,” tegas beliau menambahkan.

Tangapan positif pun berdatangan dari para peserta pengajian yang hadir dalam kesempatan tersebut. Ketua Majelis Taklim Masjid Al-Khairat Cipadung, Ibu Hajah Juriah, menyampaikan bahwa materi ceramah yang dibawakan oleh penceramah sangat dekat dan berkaitan erat dengan pengalaman hidup jemaah sehari-hari. Menurutnya, pesan-pesan mengenai pentingnya berzikir, bersyukur, serta kepasrahan atas takdir Ilahi disajikan dengan gaya penyampaian yang komunikatif sehingga materi yang terasa berat pun jadi lebih mudah dipahami oleh ibu-ibu.

“Alhamdulillah baik, asik, gampang diterima dan nyambung dengan jamaah-jamaah. Pesan yang paling saya ingat itu kita harus selalu berzikir kepada Allah, selalu bersyukur, dan mengamalkan ajaran Al-Qur’an untuk kehidupan sehari-hari,” ungkap Ibu Hajah Juriah saat diwawancarai seusai acara.

Secara keseluruhan, pengajian mingguan ini tidak hanya memberikan pencerahan rohani tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarwarga dari berbagai wilayah majelis sekitar. Sejak awal kedatangan, suasana sudah terasa begitu hangat tatkala ibu-ibu saling menyapa dan berjabat tangan satu sama lain. Ketika tausiyah berlangsung, para jemaah menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan mendengarkan secara tenang namun tetap responsif. Diharapkan lewat kegiatan rutin ini, jemaah dapat terus istiqamah dalam memperdalam ilmu agama sekaligus merawat kebersamaan di lingkungan masyarakat.

Reporter : Zeyni Jilan Nadezda Mentari, KPI/3C


Uploaded Image

Ustaz Yusuf Ibrahim Ungkap Tiga Rumus Memahami Takdir


Dakwahpos.com, Bandung  — Kajian Re-Life (Relevation of Life) bertajuk "Not Your Plan" digelar di Masjid Al-Lathiif Bandung pada Kamis (10/09/2026) malam. Dalam acara yang menghadirkan Ustadz Yusuf Ibrahim, para jamaah memenuhi ruang masjid untuk membahas alur takdir dan sikap ketika realitas hidup tidak sesuai ekspektasi.

Ustadz Yusuf, yang menggantikan pemateri rutin yang berhalangan hadir, membuka kajian dengan meminta jamaah menuliskan keinginan yang belum terwujud beserta cara menyikapinya. Tulisan dikumpulkan lewat kertas atau pesan langsung melalui Instagram Masjid Al-Lathiif, dengan pilihan anonim. Ia mencatat mayoritas jamaah merespons takdir secara positif, seperti tetap berikhtiar, bersabar, dan bertawakal.

Persoalan muncul ketika beberapa orang mengira amal tertentu otomatis menjamin terkabulnya doa. "Takdir tidak bekerja dengan cara kita. Ada cara kita, ada cara Allah," ujar Ustadz Yusuf Ibrahim, Kamis (10/09/2026).

Mengacu pada QS At-Taubah ayat 51, ia menguraikan rumus pertama, yakni segala yang menimpa manusia, baik maupun buruk, terjadi atas izin Allah. Sebagian takdir bersifat tetap seperti kelahiran dan kematian, sedangkan sebagian lain terikat pada upaya manusia (muallaq) yang dapat "dipancing" lewat kelayakan diri dan doa.

Rumus kedua, bagi orang beriman takdir baik dan buruk sama-sama peluang untuk mendekat kepada Allah, yaitu bersyukur saat menerima nikmat dan bersabar saat tertimpa musibah. Ia mengutip Imam Al-Ghazali bahwa iman yang matang ibarat burung yang terbang dengan dua sayap, syukur dan sabar.

Rumus ketiga, Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. "Allah tidak mungkin menyia-nyiakan imanmu sekecil apa pun. Allah tidak mungkin menyia-nyiakan pengorbananmu sekecil apa pun," ungkap Ustadz Yusuf Ibrahim.

Ia menambahkan bahwa setiap doa dikabulkan dengan tiga cara: sesuai permintaan dan waktunya, sesuai permintaan tetapi ditunda hingga seseorang layak, atau diganti dengan yang lebih baik pada waktu yang lebih tepat. Keterkabulan, katanya, kerap terjadi saat kelayakan diri bertemu dengan kesempatan, meski rumus itu tidak selalu mutlak.

Dalam sesi tanya jawab, Ustadz Yusuf menegaskan bahwa kecewa, sedih, hingga menyesal adalah respons manusiawi yang juga dialami para nabi, dan penyesalan dapat menjadi rambu yang menumbuhkan kesadaran. 

"Kecewa dulu, sedih dulu, atau marah dulu, tidak apa-apa. Silakan dinikmati fase tersebut, tapi jangan sampai muncul kalimat yang menunjukkan keputusasaan kita kepada Allah," kata Ustadz Yusuf Ibrahim.

Ia mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang, setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib pada Tahun Kesedihan, kemudian diajak bertemu Allah dan menerima perintah salat secara langsung. "Kadang kita harus merasakan terluka untuk mengetahui makna cinta," ujar Ustadz Yusuf Ibrahim.

Kajian ditutup dengan kutipan Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang disampaikan Ustadz Yusuf: seandainya hamba tahu bagaimana Allah mengatur hidupnya, ia akan yakin Allah lebih menyayanginya daripada ayah dan ibunya, dan hatinya dipenuhi cinta kepada-Nya.

Reporter: Davian Pradipta, KPI/3D

Ustaz Rukman : Dunia Ini Perlu Prestasi, Bukan Halusinasi

 

Dakwahpos.com, Bandung - Santri dan alumni pesantren diajak untuk meluaskan wawasan dengan tidak hanya berfokus menjadi kiai, tetapi juga menguasai berbagai profesi strategis. Tausiyah tersebut disampaikan Drs. K.H. Rukman Wiriadinata, M.Ag. dalam peringatan Maulid Nabi di Masjid Jami’ Nur Latifah, Cibaduyut, Kota Bandung, Kamis (01/10/2026).

Ustaz Rukman menjelaskan bahwa menjadi penceramah berhukum fardu kifayah, sedangkan amar makruf nahi munkar berhukum fardu ain. Menurutnya, dakwah dapat dilakukan melalui berbagai jalur profesi sesuai peran masing-masing di masyarakat.

Ia mendorong para santri untuk bercita-cita tinggi menjadi dokter, pilot, pengusaha, hingga masuk AKABRI atau Akpol melalui jalur prestasi. Penguasaan berbagai sektor oleh umat Islam dinilainya penting agar Islam menjadi maju dan berdaya saing.

"Dunia ini perlu prestasi, bukan halusinasi," tegas Ustaz Rukman.

Selain itu, ia mengimbau jamaah agar bijak dalam bermedia sosial guna menghindari fitnah serta dampak buruk konten yang dipotong tanpa konteks. Menurutnya, niat mencari ilmu di pengajian tidak boleh teralihkan oleh penggunaan ponsel yang berlebihan.

Ustaz Rukman juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan fisik melalui olahraga rutin sebagai bentuk ikhtiar menjaga diri yang dianjurkan agama. Melalui penguasaan ilmu dan fisik yang kuat, generasi muda Islam diharapkan mampu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Reporter: Farha Fiqriya Sidqy, KPI/3D

Ustaz Asep Kurniawan Ajak Jamaah Perbanyak Istighfar dan Tobat

Dakwahpos.com, Bandung - Jamaah shalat Jumat diajak untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan serta memperbanyak istighfar dan tobat sebagai sarana meraih ampunan Allah Swt. Pesan keagamaan tersebut disampaikan Ustaz Asep Kurniawan dalam khutbah Jumat di Masjid Jami’ Nur Latifah, Cibaduyut, Kota Bandung, Jumat (02/10/2026).

Ustaz Asep Kurniawan menjelaskan bahwa manusia tidak pernah luput dari kesalahan, baik yang disadari maupun tidak. Menurutnya, Allah Swt. Yang Maha Pengasih dan Penyayang selalu membuka pintu tobat bagi setiap hamba-Nya yang ingin kembali ke jalan yang benar.

"Bertaqwalah dengan sebenar-benarnya taqwa. Janganlah kita mati kecuali memegang keimanan dan keislaman kepada Allah Swt.," ujar Asep Kurniawan.

Ia menambahkan bahwa kebaikan dan rahmat Allah Swt. sangat berlimpah bagi hamba-Nya. Dalam ajaran Islam, niat kebaikan yang baru terbesit saja sudah dicatat sebagai pahala, sedangkan niat keburukan tidak langsung dicatat sebagai dosa sebelum dikerjakan.

Selain itu, ia memaparkan keutamaan membaca Sayyidul Istighfar dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hadis Nabi Muhammad saw., seseorang yang membaca doa Sayyidul Istighfar dengan penuh keyakinan pada siang atau malam hari, lalu diwafatkan pada waktu tersebut, dijanjikan menjadi bagian dari penghuni surga.

Dalam penyampaiannya, ia juga mengingatkan agar jamaah tidak meremehkan dosa sekecil apa pun. Menurutnya, dosa yang dibiarkan tanpa istighfar akan menumpuk dan menjadi besar. Oleh karena itu, membiasakan diri memohon ampunan menjadi kunci utama untuk menjaga kesucian diri dan meraih ketenangan hidup.

Melalui khutbah tersebut, jamaah diharapkan mampu mengamalkan bacaan istighfar secara rutin serta konsisten memperkuat ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari demi meraih akhir hayat yang husnul khatimah.

Reporter: Farha Fiqriya Sidqy, KPI/3D

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos