Bukan Sekadar Materi, Ustaz Fulki Ghifari Khaliq Ungkap Kunci Sukses Dakwah

Klik untuk membaca artikel.
Dakwahpos.com, Bandung — Berbekal pengalaman menimba ilmu agama selama belasan tahun di pesantren hingga Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Ustaz Fulki Ghifari Khaliq, Lc. Terus mendedikasikan dirinya untuk menyampaikan dakwah di tengah masyarakat. Dengan pendekatan komunikatif dan kontekstual, beliau berkomitmen menyebarkan ajaran Islam tanpa membuat jemaahnya merasa digurui.

Perjalanan panjang Ustaz Fulki dalam menuntut ilmu dimulai sejak usia kanak-kanak. Sang orang tua memasukkannya ke Pondok Pesantren Al-Basyariah sejak jenjang Sekolah Dasar (SD). Pendidikan pesantren tersebut kemudian berlanjut ke Pondok Modern Darussalam Gontor hingga tamat SMA, sebelum akhirnya beliau menempuh studi sarjana di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Jika dihitung, tidak kurang dari 14 hingga 15 tahun waktunya dihabiskan dalam lingkungan pendidikan Islam formal.

Bagi Ustaz Fulki, latar belakang pendidikan yang panjang tersebut mendatangkan beban moral tersendiri ketika kembali ke tengah masyarakat. Misi utamanya adalah mengamalkan ilmu melalui prinsip tafaqquh fiddin—yaitu memperdalam ilmu agama untuk kemudian memberi peringatan dan petunjuk kepada kaumnya.

“Dasarnya ketika saya terjun ke masyarakat itu karena saya punya beban moral untuk menyebarkan ilmu. Profesi apa pun boleh, yang penting dia menjadi orang yang menyampaikan agama dan membawa manusia kepada kebaikan,” ungkap Ustaz Fulki saat diwawancarai oleh reporter. 

Mengamati dinamika dunia pendidikan Islam, Ustaz Fulki menilai adanya keunggulan saling melengkapi antara pesantren salaf dan pesantren modern. Pesantren salaf sangat unggul dalam penguasaan keilmuan dan literatur kitab, sedangkan pesantren modern menonjolkan aspek kepemimpinan, kemandirian, serta interaksi sosial kemasyarakatan. Menurutnya, kedua potensi tersebut sangat baik jika dapat dipadukan dan berkolaborasi dalam ranah dakwah.

Dalam hal metodologi penyampaian, Ustaz Fulki memilih menerapkan pendekatan al-hali—yakni pendekatan kontekstual yang disesuaikan dengan kondisi serta isu kekinian yang dekat dengan jemaah. Saat berhadapan dengan generasi muda atau remaja, beliau tak ragu mengangkat topik hangat seperti fenomena figur publik hingga permainan Mobile Legends. Topik-topik populer tersebut kemudian ditarik pada nilai-nilai positif Islam, seperti pentingnya kerja sama, komunikasi, dan saling membantu.

Tantangan terbesar dalam berdakwah menurut beliau bukanlah keterbatasan materi, melainkan cara penyampaian. Manusia pada dasarnya tidak suka digurui, sehingga dakwah perlu dikemas secara interaktif dan komunikatif layaknya sebuah obrolan hangat. Beliau bahkan lebih menyukai sesi ceramah yang diwarnai diskusi dan tanya-jawab aktif dari jemaah.
Memegang teguh kaidah ath-thariqatu ahammu minal maddah (metode penyampaian lebih penting daripada materi), Ustaz Fulki berharap para pendakwah yang berlatar belakang pesantren maupun perguruan tinggi luar negeri terus mengasah metodologi dakwahnya agar tetap relevan dan menarik.

“Harapan saya ke depannya ingin terus berkembang dalam ilmu, metode, dan metodologi dakwahnya. Karena percuma kalau belajar jauh-jauh tetapi cara penyampaiannya kurang bagus. Metodologi itu terkadang lebih penting dibandingkan materi,” pungkasnya.


Reporter: Zeyni Jilan Nadezda Mentari, KPI/3C



Uploaded Image

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos