Dakwahpos.com, Bandung — Kajian Re-Life (Relevation of Life) bertajuk "Not Your Plan" digelar di Masjid Al-Lathiif Bandung pada Kamis (10/09/2026) malam. Dalam acara yang menghadirkan Ustadz Yusuf Ibrahim, para jamaah memenuhi ruang masjid untuk membahas alur takdir dan sikap ketika realitas hidup tidak sesuai ekspektasi.
Ustadz Yusuf, yang menggantikan pemateri rutin yang berhalangan hadir, membuka kajian dengan meminta jamaah menuliskan keinginan yang belum terwujud beserta cara menyikapinya. Tulisan dikumpulkan lewat kertas atau pesan langsung melalui Instagram Masjid Al-Lathiif, dengan pilihan anonim. Ia mencatat mayoritas jamaah merespons takdir secara positif, seperti tetap berikhtiar, bersabar, dan bertawakal.
Persoalan muncul ketika beberapa orang mengira amal tertentu otomatis menjamin terkabulnya doa. "Takdir tidak bekerja dengan cara kita. Ada cara kita, ada cara Allah," ujar Ustadz Yusuf Ibrahim, Kamis (10/09/2026).
Mengacu pada QS At-Taubah ayat 51, ia menguraikan rumus pertama, yakni segala yang menimpa manusia, baik maupun buruk, terjadi atas izin Allah. Sebagian takdir bersifat tetap seperti kelahiran dan kematian, sedangkan sebagian lain terikat pada upaya manusia (muallaq) yang dapat "dipancing" lewat kelayakan diri dan doa.
Rumus kedua, bagi orang beriman takdir baik dan buruk sama-sama peluang untuk mendekat kepada Allah, yaitu bersyukur saat menerima nikmat dan bersabar saat tertimpa musibah. Ia mengutip Imam Al-Ghazali bahwa iman yang matang ibarat burung yang terbang dengan dua sayap, syukur dan sabar.
Rumus ketiga, Allah tidak pernah menzalimi hamba-Nya. "Allah tidak mungkin menyia-nyiakan imanmu sekecil apa pun. Allah tidak mungkin menyia-nyiakan pengorbananmu sekecil apa pun," ungkap Ustadz Yusuf Ibrahim.
Ia menambahkan bahwa setiap doa dikabulkan dengan tiga cara: sesuai permintaan dan waktunya, sesuai permintaan tetapi ditunda hingga seseorang layak, atau diganti dengan yang lebih baik pada waktu yang lebih tepat. Keterkabulan, katanya, kerap terjadi saat kelayakan diri bertemu dengan kesempatan, meski rumus itu tidak selalu mutlak.
Dalam sesi tanya jawab, Ustadz Yusuf menegaskan bahwa kecewa, sedih, hingga menyesal adalah respons manusiawi yang juga dialami para nabi, dan penyesalan dapat menjadi rambu yang menumbuhkan kesadaran.
"Kecewa dulu, sedih dulu, atau marah dulu, tidak apa-apa. Silakan dinikmati fase tersebut, tapi jangan sampai muncul kalimat yang menunjukkan keputusasaan kita kepada Allah," kata Ustadz Yusuf Ibrahim.
Ia mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang, setelah kehilangan Khadijah dan Abu Thalib pada Tahun Kesedihan, kemudian diajak bertemu Allah dan menerima perintah salat secara langsung. "Kadang kita harus merasakan terluka untuk mengetahui makna cinta," ujar Ustadz Yusuf Ibrahim.
Kajian ditutup dengan kutipan Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang disampaikan Ustadz Yusuf: seandainya hamba tahu bagaimana Allah mengatur hidupnya, ia akan yakin Allah lebih menyayanginya daripada ayah dan ibunya, dan hatinya dipenuhi cinta kepada-Nya.
Reporter: Davian Pradipta, KPI/3D

Tidak ada komentar
Posting Komentar