Tampilkan postingan dengan label Al-Muhajirin Cileunyi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Muhajirin Cileunyi. Tampilkan semua postingan

Khatib Ustaz Yakub Purnama di Mesjid Al-Muhajirin Cileunyi Ingatkan Jamaah untuk Segera Taubat Nasuha

Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Al-Muhajirin kembali dipenuhi jamaah yang menunaikan ibadah salat jumat. Khatib dalam khutbahnya menyampaikan tema "Taubatan Nasuha" dengan mengingatkan umat Islam untuk senantiasa memohon ampunan Allah Swt. sebagaimana yang tercantum dalam Surah At-Tahrim ayat 8. Jumat (18/09/2026)

Dalam khutbahnya, khatib menjelaskan bahwa di dalam kehidupan, manusia bisa melakukan amal saleh maupun perbuatan dosa. Ia menegaskan, tatkala seseorang terjerumus dalam kesalahan dan maksiat, maka wajib hukumnya untuk segera bertaubat kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.

Ia juga merincikan bahwa terdapat syarat-syarat agar taubat diterima oleh Allah Swt., di antaranya adalah ikhlas, menyesali perbuatan dengan kelembutan hati, berhenti total dengan mengembalikan hak orang lain, serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi. Jamaah juga diimbau untuk tidak terperdaya oleh kecerdikan setan yang selalu membujuk manusia kembali pada dosa.

"Insyaallah manakala hati kita lembut akan mudah untuk bertaubat dan menyadari apa yang kita lakukan. Tapi akan sulit bagi orang yang hatinya keras untuk bertaubat," ujar khatib dalam khotbahnya.

Selain itu, khatib juga mengingatkan jamaah untuk mengiringi taubat dengan memperbanyak istigfar dan istikamah beramal saleh. Ia secara khusus memberikan peringatan untuk menjauhi sejauh-jauhnya perbuatan musyrik, seraya menegaskan bahwa pintu ampunan masih terbuka lebar jika seseorang bertaubat sebelum ajal menjemput.

Suasana ibadah salat jumat tampak khusyuk. Para jamaah duduk rapi mendengarkan khutbah hingga selesai, kemudian melaksanakan salat berjamaah dengan tertib. Setelah salat jumat berjamaah, para jamaah kembali ke kegiatan masing-masing seraya membawa pesan spiritual untuk terus mendekatkan diri kepada Allah melalui zikir dan istigfar.

Reporter: Arya Ronna, KPI/3D

 

Khotbah Jumat di Masjid Al-Muhajirin: Ustaz Arie Mutawali Ingatkan Pentingnya Syukur dan Qana'ah di Era Media Sosial

Dakwahpos.com, Bandung – Perkembangan teknologi dan media sosial yang kian pesat kerap memicu manusia untuk membandingkan kehidupannya dengan orang lain. Keadaan ini membuat banyak individu terjebak dalam sifat tidak pernah merasa cukup, berambisi mengejar eksistensi, dan menilai segala sesuatu semata-mata dari materi. Dampaknya, jiwa menjadi gelisah dan perlahan menjauh dari nilai-nilai ketuhanan, Jumat (02/10/2026).

Dalam pemaparannya, khatib menjelaskan bahwa Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad SAW telah memberikan petunjuk nyata untuk mengatasi penyakit hati berupa sifat selalu mengeluh dan merasa kurang. Salah satu benteng terkuat dalam menghadapi cobaan tersebut adalah dengan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT.

Para ulama mendefinisikan syukur sebagai fi’lun sebuah perbuatan yang menumbuhkan pengagungan di dalam hati terhadap Zat Yang Maha Memberi Kenikmatan. Untuk melatih rasa syukur, Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar melihat orang-orang yang kondisinya berada di bawah kita secara fisik maupun materi.

"Seseorang yang berjalan kaki hendaknya tidak membandingkan dirinya dengan orang yang memiliki sepeda, melainkan melihat mereka yang terbaring sakit dan tidak dapat berjalan. Metode ini efektif agar kita menyadari betapa banyaknya nikmat Allah yang belum sempat kita syukuri," ujar khatib di hadapan para jamaah.

Selain syukur, obat ampuh lainnya untuk mengikis ambisi tak terbatas adalah sifat qanaah, Rasa rida dan menerima dengan lapang dada atas segala ketentuan Allah (al-ridha bil-yasir). Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, ridanya seorang hamba atas apa yang dibagikan oleh Allah menjadikan dirinya sebagai manusia yang paling kaya secara hakiki.

Melalui pesan khotbah ini, jamaah diharapkan dapat memupuk sifat syukur dan qana'ah dalam mengarungi kehidupan dunia yang fana, sehingga terwujud kebahagiaan di dunia dan akhirat (hasanah fi al-dunya wa al-akhirah).

Reporter: Arya Ronna Putra Mochamad, KPI/3D

 

Khotbah Jumat Ustaz Arfan: Meneladani Kesabaran Sayyidina Abu Bakar


Dakwahpos.com, Bandung – Kegiatan salat Jumat kali ini diisi dengan khotbah tentang pentingnya meneladani kesabaran Rasulullah saw. dan Sayyidina Abu Bakar r.a. sebagai pedoman dalam memperkuat ukhuwah Islamiah di tengah kehidupan bermasyarakat. Khutbah yang penuh hikmah tersebut mengingatkan jamaah akan indahnya menahan amarah yang disampaikan oleh Ustaz Arfan, Jumat (25/09/2026).

Dalam khotbahnya, khatib menceritakan sebuah riwayat ketika Sayyidina Abu Bakar sedang bercengkerama dengan penuh kedamaian bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba, datang seorang Arab Badui yang tanpa adab langsung memaki dan memfitnah Sayyidina Abu Bakar.

Pada ujian cacian pertama dan kedua, Sayyidina Abu Bakar memilih untuk menahan amarahnya demi menjaga momentum damai tersebut, sementara Rasulullah saw. hanya merespons dengan senyuman. Namun, ketika ujian ketiga datang dan Arab Badui tersebut mulai menghina keluarganya, Sayyidina Abu Bakar kehilangan kesabaran dan mulai membalas cacian tersebut. Di momen itulah, tanpa sepatah kata pun, Rasulullah saw. beranjak pergi.

Khatib mengisahkan penjelasan Rasulullah saw. saat dikejar oleh Abu Bakar terkait kejadian tersebut. Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ketika Abu Bakar menahan sabar di ujian pertama dan kedua, langit terbuka dan para malaikat turun untuk mendoakannya. Namun, saat ia membalas cacian pada ujian ketiga, para malaikat kembali ke atas dan iblis datang menghampiri. Rasulullah saw. menegaskan bahwa beliau tidak ingin duduk berdampingan dengan iblis.

Dari kisah tersebut, khatib mengajak jamaah untuk menarik kesimpulan mendalam bahwa kesabaran sejatinya tidak memiliki batasan. Kesabaran menjadi kunci utama yang sangat relevan diterapkan di zaman modern ini, di mana arus informasi begitu deras.

Khotib berharap agar jamaah senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan dengan menjaga kesabaran tanpa batas dan menjaga lisan dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Khutbah ditutup dengan pembacaan doa kebaikan bagi seluruh umat Islam.

Reporter: Arya Ronna Putra Mochamad, KPI/3D

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos