Tampilkan postingan dengan label Maalikul Hikmah Cibiru Wetan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maalikul Hikmah Cibiru Wetan. Tampilkan semua postingan

Khotbah Jumat di Masjid Maalikul Hikmah Cibiru Wetan Soroti Kekufuran, Kemunafikan, dan Syirik


Dakwahpos.com, Bandung – Dalam khotbah Jumat yang berlangsung pada 6 Desember 2024 di Masjid Maalikul Hikmah, Cibiru Wetan, Ustaz Zaenal Mufti, M.Si., selaku khotib menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kesucian jiwa sebagai jalan menuju keberuntungan sejati. Mengutip Surah Asy-Syams ayat 9-10, beliau menegaskan, "Sungguh beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan celakalah orang-orang yang mengotori jiwanya."

Dalam khotbah yang dihadiri oleh puluhan jamaah tersebut, Ustaz Zaenal memaparkan tiga sifat yang dapat merusak kesucian jiwa: kekufuran, nifaq (kemunafikan), dan syirik. Beliau mengajak jamaah untuk senantiasa introspeksi diri dan menjaga keikhlasan dalam beribadah.
  
Ustaz Zaenal mengingatkan bahwa kekufuran adalah bentuk ketidaksyukuran kepada Allah SWT. "Ada orang yang diberi akal sehat, tubuh yang sempurna, kehidupan yang nyaman, tetapi ia tidak bersyukur. Malah, ia menyombongkan diri, merasa kaya dan hebat, padahal semua itu hanya titipan yang sifatnya sementara," ujar Ustaz. Beliau menambahkan bahwa segala sesuatu di dunia ini bisa hilang kapan saja. "Harta bisa meninggalkan pemiliknya, atau pemilik yang meninggalkan hartanya. Hanya Allah SWT yang kekal selamanya," tambahnya.
  
Sifat nifaq atau kemunafikan juga menjadi sorotan dalam khotbah tersebut. Ustaz Zaenal menjelaskan, "Orang munafik beribadah hanya untuk dilihat oleh manusia. Mereka shalat dengan malas, mengaji sekadarnya, dan semua dilakukan tanpa keikhlasan. Shalatnya ingin cepat selesai, ibadah lainnya juga setengah hati." Beliau mengingatkan, sebagaimana disebutkan dalam Surah An-Nisa ayat 142, orang-orang munafik itu ragu antara percaya dan tidak percaya, ragu dan bimbang dalam ibadahnya maupun kepada Allah.

Ustaz Zaenal menekankan bahwa syirik adalah dosa besar yang harus dihindari. "Syirik adalah menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain. Ada yang mengaku menyembah Allah, tetapi masih meyakini ada kekuatan lain selain-Nya. Ini adalah pengkhianatan besar terhadap tauhid," jelasnya.

Di akhir khotbahnya, Ustaz Zaenal mengajak jamaah untuk memperbaiki diri secara bertahap. "Sedikit-sedikit dilakukan agar menjadi orang yang bertakwa, senantiasa menjaga diri dari larangan Allah, dan memelihara dirinya untuk meningkatkan amal ibadah sesuai dengan perintah Allah. Semoga Allah SWT selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk memperbaiki kualitas ibadah kita, sehingga menjadi orang yang bertakwa. Dan semoga Allah selalu membimbing kita dari kesalahan yang kita alami," tutupnya.

Reporter: Muhammad Azril H, KPI/3A

Khutbah Jumat Masjid Maalikul Hikmah Cibiru Wetan: Warisan Spiritual Orang Tua ke Anak


 
Dakwahpos.com, Bandung – Pada Jumat, 22 November 2024, Ustaz Iwan Ridwan Yusuf selaku khotib mengisi khotbah Jumat di Masjid Maalikul Hikmah. Beliau menyampaikan pesan yang menyentuh hati tentang keajaiban jantung dan otak manusia. Kedua organ ini, menurut beliau, bukan hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga menjadi simbol kehendak Allah yang terwujud dalam kehidupan setiap manusia.  

Di awal khotbah, ustaz Iwan mengingatkan betapa sempurnanya penciptaan manusia yang telah Allah tetapkan sejak hari-hari pertama. "Yang namanya tubuh manusia, sejak dicalonkan dengan qadha dan qadar Allah pada hari ke-3 manusia diciptakan, maka terjadi mapping nasib yang Allah tetapkan. Kepala di atas, kaki di bawah, dan organ dalam dilindungi tulang belulang," ujar ustaz Iwan. Beliau juga menambahkan, "Itu semua adalah proses yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan sains, karena di baliknya ada kehendak Allah."
 
Dalam khotbahnya, ustaz Iwan menyoroti peran penting orang tua dalam membentuk generasi yang baik. Beliau menjelaskan bahwa sifat-sifat dan nilai-nilai hidup juga diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka.  

"50 persen dari suami, dan 50 persen dari istri, diturunkan kepada anak-anak mereka, menurunkan seorang anak dengan rekaman dan memori jantung yang dimiliki kedua orang tuanya, dengan catatan qolbu selalu dihidupkan, selalu diinteraksikan," ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa qolbu, sebagai pusat spiritual manusia, tidak hanya terkait dengan fungsi biologis jantung, tetapi juga sebagai tempat penyimpanan nilai-nilai, kebiasaan, dan spiritualitas. Ketika qolbu hidup, ia menjadi media bagi orang tua untuk mewariskan moral dan akhlak kepada anak-anak mereka. Namun, jika qolbu dibiarkan mati karena kesibukan duniawi, memori ini bisa hilang begitu saja.

Jangan sampai atas nama kesibukan, atas nama mencari nafkah, kemudian qolbu yang ada di dalamnya memorinya hilang begitu saja. Jika qolbu tidak dihidupkan, anak-anak kita tidak akan mendapatkan rekaman yang benar untuk menjalani hidup sesuai fitrahnya," tegas ustaz Iwan kepada jemaah.  
 
Melanjutkan khotbah, ustaz Iwan kembali menyoroti fungsi jantung dan otak sebagai simbol kehidupan dan spiritualitas. Jantung, yang mulai berdetak pada hari ketiga kehidupan embrio, adalah bukti kebesaran Allah. Otak, di sisi lain, menjadi pusat kontrol pikiran dan keputusan manusia.

"Walaupun seseorang sekaya Bill Gates, sekaya Raja Brunei, atau Raja Arab Saudi sekalipun, kalau Allah sudah menetapkan ruh yang dititipkan sejak usia 4 bulan dalam kandungan dicabut, maka selesai sudah hidupnya. Semua kembali kepada Allah," ujarnya, mengingatkan jamaah bahwa hidup ini penuh dengan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.  

Menjelang akhir khotbah, ustaz Iwan mengingatkan jamaah agar menjaga qolbu mereka tetap hidup. Qolbu yang terhubung dengan Allah akan menjadi sarana mendekatkan diri kepada-Nya dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada anak-anak.

"Hidupkan qolbu kita dengan dzikir, shalat, dan amal baik. Jangan abaikan qolbu karena kesibukan dunia. Anak-anak kita perlu memori qolbu yang baik agar mereka bisa hidup sesuai fitrah yang Allah tetapkan," tutupnya.  

Reporter: Muhammad Azril Hafizurrahman KPI/3A

Khutbah Jumat Masjid Maalikul Hikmah Cibiru Wetan: Keteladanan Abdullah bin Amr bin Ash dalam Beribadah


 
Dakwahpos.com, Bandung – Pada Jumat, 15 November 2024, Masjid Maalikul Hikmah di Cibiru Wetan menjadi tempat tersampaikannya pesan penuh hikmah dari ustaz Zuli Amri Siregar. Dalam khotbahnya, beliau mengangkat kisah inspiratif salah seorang sahabat Rasulullah Saw, Abdullah bin Amr bin Ash, sebagai teladan dalam semangat beribadah dan ketaatan kepada Allah SWT.  
 
Ustaz Zuli memulai khotbahnya dengan mengingatkan pentingnya bertakwa kepada Allah SWT, menjalani kehidupan dunia sebagai ladang amal, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Beliau kemudian menceritakan kisah Abdullah bin Amr bin Ash, seorang sahabat muda yang dikenal karena keteguhan dan kesungguhan dalam menjalankan ibadah, bahkan melebihi batas kemampuan fisiknya.  

"Abdullah bin Amr bin Ash merupakan sahabat Nabi yang memeluk Islam lebih awal dibandingkan ayahnya, Amr bin Ash. Ia adalah sosok pemuda yang sangat mencintai ibadah. Namun, kecintaannya ini membuat Rasulullah Saw perlu memberikan arahan agar ia menjalani ibadah dengan seimbang," jelas ustaz Zuli.  

Beliau melanjutkan dengan menuturkan dialog antara Rasulullah Saw dan Abdullah. "Saat Rasulullah Saw mendapat laporan dari Amr bin Ash yang didapat melalui menantunya, bahwa putranya sering mengabaikan waktu istirahat bahkan dengan istrinya demi salat malam dan puasa tanpa henti, Rasulullah memanggil Abdullah untuk mengklarifikasi. Abdullah mengakui bahwa ia berpuasa setiap hari dan salat malam sepanjang malam." Ujar ustaz Zuli

"Rasulullah Saw pun dengan lembut menasihati Abdullah untuk tidak berlebihan dalam beribadah. Beliau berkata, 'Berpuasalah tiga hari dalam sebulan.' Namun Abdullah merasa itu terlalu sedikit. Rasulullah kemudian menganjurkan puasa Senin dan Kamis, tetapi Abdullah tetap meminta lebih. Akhirnya, Rasulullah mengarahkan agar ia berpuasa seperti Nabi Daud, yakni sehari berpuasa dan sehari tidak," cerita ustaz Zuli dengan penuh penghayatan.  

Ustaz Zuli menekankan bahwa kisah ini memberikan pelajaran penting tentang keseimbangan dalam beribadah. Para sahabat Rasulullah Saw, termasuk Abdullah, memiliki semangat yang luar biasa dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, Rasulullah selalu mengingatkan agar menjaga fisik dan mental tetap kuat sehingga ibadah dapat dilakukan dengan konsisten sepanjang hayat.  

"Abdullah bahkan sempat memohon kepada Rasulullah Saw, 'Wahai Rasulullah, izinkan saya beribadah lebih banyak karena saya masih muda dan mampu.' Namun Rasulullah tetap menekankan pentingnya menjaga moderasi dalam beribadah agar ibadah menjadi lebih berkah," ungkap ustaz Zuli.  


Di akhir khutbah, ustaz Zuli mengajak jamaah untuk meneladani semangat Abdullah bin Amr bin Ash dalam beribadah, tetapi tetap memperhatikan keseimbangan sesuai tuntunan Rasulullah Saw. "Kisah ini mengingatkan kita untuk selalu meningkatkan kualitas ibadah dan memperbaiki diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Ingatlah, kehidupan dunia ini hanya sementara, bagaikan menyebrangi jalan. Maka, siapkanlah bekal untuk akhirat yang kekal," pesannya.  

Khutbah tersebut diakhiri dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan dan keistiqomahan dalam menjalankan ibadah dan menjaga amal salih sepanjang hidup.  

Reporter: Muhammad Azril, KPI/3A

Ustazah Ambu Isi Majelis Taklim Masjid Maalikul Hikmah Cibiru Wetan


 
Dakwahpos.com, Bandung- Majelis taklim mingguan ba'da Sholat Jumat kembali digelar pada Jumat 18 Oktober 2024. Pada kesempatan kali ini pemateri kajian merupakan seorang Ustazah bernama Ambu Iis Tuti Riana. Kegiatan dimulai setelah pembacaan tilawah Al-Qur'an dan juga lantunan sholawat.

Dengan mengusung tema "Dahsyatnya Pengabulan Doa dalam Ibadah Shalat melalui Surat Al-Fatihah", Ustazah Ambu sangat tegas memperingati para jamaah bahwasanya bacaan Al-Fatihah memiliki banyak keutamaan, bahkan saat sholat surat tersebut selalu dibaca, maka sejatinya seorang muslim membaca Al-Fatihah sebanyak 17 kali dalam sehari.

"Surat Al Fatihah disebut shalat karena shalat tidaklah sah kecuali dengan Al Fatihah, maka disebutkan alam Al-Qur'an:
ÙˆَÙ„َـقَدْ اٰتَÙŠْÙ†ٰÙƒَ سَبْعًا Ù…ِّÙ†َ الْÙ…َـثَا Ù†ِÙŠْ Ùˆَا Ù„ْـقُرْاٰ Ù†َ الْعَظِÙŠْÙ…َ.
Yang artinya: "Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang (dibaca) berulang-ulang dan Al-Qur'an yang agung." (QS. Al-Hijr 15: Ayat 87)." Jelas Ustazah Ambu.

Lalu Ustazah mengutip dalil dari Abu Hurairah, "Dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "
Barangsiapa yang shalat lalu tidak membaca Ummul Qur'an (yaitu Al Fatihah), maka shalatnya kurang (tidak sah)", beliau mengulanginya tiga kali, maksudnya tidak sempurna. Maka dikatakan pada Abu Hurairah bahwa kami shalat di belakang imam. Jelasnya.

Mengacu pada hadist qudsi, Ustazah Ambu menyebutkan bahwa surat Al Fatihah yang tujuh ayat terbagi menjadi dua. Tiga-setengah ayat yang pertama adalah untuk Allah dan sanjungan untuk-Nya. Tiga-setengah ayat yang berikutnya adalah untuk hamba, yaitu mulai dari ayat 'wa iyyaka nasta'in' hingga akhir surat.

Ustazah Ambu menutup kajian dengan kembali mengutip adist dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu yang berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah salatnya. Maka, jika sholatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika sholatnya rusak, sungguh dia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari sholat wajibnya, maka Allah Ta'ala berfirman, 'Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki salat sunnah.' Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari sholat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya." Ucap Ustazah Ambu menutup kajiannya..

Reporter: Muhammad Azril H, KPI/3A

Khutbah Jumat di Masjid Maalikul Hikmah Cibiru Wetan: Pentingnya Rasa Syukur atas Nikmat yang Telah Diberikan


Dakwahpos.com, Bandung- Pada pelaksanaan Salat Jumat di Masjid Maalikul Hikmah pada Jumat 18/10/2024, Ustaz Aceng selaku Khatib menyampaikan pesan yang penuh makna mengenai pentingnya mensyukuri segala nikmat Allah SWT. Khatib mengajak jamaah untuk merenungkan seberapa sering kita lupa mensyukuri hal-hal kecil dalam hidup, padahal setiap nikmat yang kita terima adalah anugerah yang luar biasa.

Di awal khutbahnya, Khatib mengutip salah satu ayat dari Al-Qur'an:
"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan, sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).

Dalam khutbahnya, Khatib menekankan bahwa rasa syukur bukan hanya sekedar ucapan, melainkan wujud kesadaran atas kebaikan yang Allah limpahkan dalam setiap aspek hidup kita. Menurutnya, orang yang bersyukur akan lebih bisa menerima keadaan dengan lapang dada, baik dalam kesenangan maupun kesulitan.

"Ketika kita bersyukur, kita melihat hidup dari sudut pandang yang lebih luas, bahwa setiap ujian dan nikmat ada hikmahnya. Ini yang membuat kita lebih tenang dan bahagia dalam menjalani kehidupan," ujar Ustaz Aceng.

Khatib juga mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati berasal dari perasaan cukup dan puas dengan apa yang kita miliki, tanpa terfokus pada hal-hal yang belum kita capai.

"Orang yang bersyukur tidak akan terus-menerus merasa kekurangan, karena ia menyadari bahwa apa yang Allah berikan sudah sesuai dengan kebutuhannya dan dapat diwujudkan melalui perbuatan nyata, seperti berbagi kepada yang membutuhkan, menjaga amanah Allah berupa kesehatan, waktu, dan harta dengan cara yang benar," tambahnya.

Beliau juga menekankan bahwa bersyukur tidak hanya dilakukan saat kita menerima kenikmatan, tetapi juga ketika menghadapi cobaan.
"Sikap syukur harus tetap ada, bahkan saat kita diuji. Sebab, ujian itu adalah bagian dari bentuk kasih sayang Allah agar kita menjadi lebih kuat dan sabar," tambahnya.

Pada akhir khutbahnya, Khatib mengingatkan jamaah bahwa semakin banyak kita bersyukur, semakin banyak pula nikmat yang akan Allah berikan. Beliau pun mengajak jamaah untuk merenungkan kembali seberapa sering mereka bersyukur dalam keseharian, dan untuk terus meningkatkan rasa syukur itu melalui lisan, hati, dan perbuatan.

"Mari kita jadikan rasa syukur ini sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari wahai hadirin sekalian, karena syukur adalah kunci keberkahan supaya tidak kehilangan arah dalam hidup," ucap Khatib menutup khutbahnya.

"Saya pikir benar yang dikatakan khotib ya, karena kadang kan kita sibuk dengan kehidupan sehari-hari, khususnya duniawi akhirnya lupa tuh betapa banyak nikmat yang sudah diberikan kepada kita oleh Allah yang bahkan kita nggak minta. Ya khutbah ini jadi mengingatkan saya si untuk lebih sering bersyukur, khususnya untuk hal-hal kecil sekalipun," kata salah satu jemaah salat Jumat. (18/10/2024).

Reporter: Muhammad Azril H, KPI/3A

Masjid Maalikul Hikmah Cibiru Wetan: Pengajian Setelah Maghrib Tingkatkan Pemahaman Tajwid Anak


 
Dakwahpos.com, Bandung- Setelah pelaksanaan salat Maghrib pada Kamis, 17/10/2024. Masjid Maalikul Hikmah Cibiru Wetan kembali mengadakan pengajian anak yang terfokus pada peningkatan pemahaman anak-anak terhadap ilmu tajwid. Kegiatan ini dihadiri oleh anak dari berbagai usia, yang terlihat sangat antusias mengikuti pengajian ini.

Anak-anak di kumpulan bersamaan sebelum dimulainya pengajian dengan menyebar kepada guru nya masing-masing. Ustad Solahuddin Wahid,  memulai kegiatan dengan berdoa bersama. Di tengah pembacaan doa ada anak yang telat datang dan diberi konsekuensi untuk berdiri di depan sembari stighfar 20 kali, namun pada pelaksanaannya anak-anak tersebut terlihat tertawa-tawa seakan mereka bermain-main, melihat peristiwa itu Ustad Solah mengkoreksi dengan lembut kepada mereka, "Kalau sedang beristighfar jangan main-main, itu sama saja seperti meminta uang kepada orang tua sambil tertawa, aneh bukan? apakah permintaan kalian akan dikabulkan?". Ujar Ustad Solahuddin. (17/10/2024).

Pada pengajian kali ini, reporter menghadiri halaqah Ustad Alwan, beliau memerintahkan anak didiknya untuk menulis hukum tajwid ghunnah musyaddadah, dan ikhfa syafawi setelah diberikan materi pada minggu lalu terkait tajwid tersebut. Sembari menunggu anak-anak mencari tajwid, Ustad Alwan meminta muridnya satu per satu maju untuk tilawah. "Kamu kalau nafasnya tidak kuat lebih baik berhenti saja di bagian tersebut, lalu setelah itu dilanjutkan kembali, makanya sebelum mulai membaca tarik nafas yang panjang". Ujar Ustad Alwan. (17/10/2024).

Tidak berselang lama, pengajian pun terhenti dengan kumandang azan isya, dan pengajian pun ditutup setelah melaksanakan salat isya berjamaah dengan membaca doa bersama.

Melalui pengajian ini, diharapkan anak-anak dapat meningkatkan kecintaan mereka terhadap Al-Qur'an dan memahami pentingnya membaca dengan tajwid yang benar. Kegiatan ini juga menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi antar anak-anak sekaligus masyarakat setempat.

Reporter: Muhammad Azril H, KPI/3A

Tanamkan Diri Anak Cinta Al-Qur'an, DKM Maalikul Hikmah Cibiru Wetan Rutin Adakan Pengajian Anak


 
Dakwahpos.com, Bandung- Pengajian rutin Senin-Jumat anak-anak yang diselenggarakan di Masjid Maalikul Hikmah Cibiru Wetan kembali dilaksanakan pada Jumat, 27/09/2024. Dengan diikuti oleh puluhan anak-anak dari berbagai usia, dari mulai SD sampai SMA. Kegiatan ini telah menjadi agenda rutin mingguan dan bagian dari upaya pembinaan agama Masjid Maalikul Hikmah. Kegiatan ini berlangsung selepas sholat maghrib sampai dengan selepas sholat isya.

Ustad Solahuddin Wahid, yang dikenal sebagai Ustad Solah memulai kegiatan dengan sholawat dan doa bersama. Pada pelaksanaannya anak-anak tampak ada yang bermain-main dalam berdoa. "Bagaimana ini? kalian ingin ngaji tapi berdoa saja masih bercanda, Malaikat mau catat apa kalau begini? masa mau dicatat kebaikan tapi berdoa main-main? jangan duilangi ya," Ungkap Ustad Solah kepada anak-anak.

Pembelajaran dimulai dengan memecah 6 kelompok/halaqah sesuai tingkatan. Selama sesi belajar dan mengajar berlangsung, anak-anak tampak sangat antusias hingga meramaikan seisi Masjid. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa yang namanya anak-anak belum bisa 100% disiplin dalam upaya mereka mengikuti pengajian ini. Namun pengajar sangat tegas memperingati anak-anak untuk mengurangi bermain-main pada saat pengajian tersebut berlangsung.

"Tiap Halaqah berbeda tingkatan sesuai dengan kapasitas gurunya, ada yang mengunggulkan di bidang tahfidz, fiqih, sampai bacaannya. Namun yang utama tetap Qur'an seperti kelompok saya, setiap minggu sekali ada tahfidznya, yang mewajibkan anak-anak untuk setoran. Namun tidak lupa juga belajar tajwid, kita ada di hari rabu, ya agar bacaannya sesuai dengan tajwid agar sempurna," Ujar Ustad Solah (27/09/2024).

Para murid Ustad Solah seperti berlomba-lomba dalam memperbanyak hafalan dengan memperlihatkan buku catatan hafalannya satu sama lain, shingga menumbuhkan semangat anak-anak yang lain pula. "Senang bisa ngaji disini, menambah ilmu, dan banyak temannya jadi nambah teman," Ujar Syafiq. (27/09/2024).

Pengajian rutin mingguan ini diharapkan dapat terus menjadi sarana pendidikan agama yang efektif untuk anak-anak dan dapat membantu mereka dalam memahami nilai-nilai keislaman sejak usia dini. Para pengajar juga diharapkan dapat membimbing anak-anak hingga mereka bisa memahami nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan mingguan setiap harinya.

Kegiatan ditutup dengan sholawat dan doa bersama, juga memeriahkan suasaa dengan pemberian tebak-tebakan sebagai persyaratan pulang bagi yang bisa menjawab di awal, dilanjut dengan peserta bersalaman kepada pengajar yang ada di depan.

Reporter: Muhammad Azril H, KPI/3A

Tumbuhkan⁠ Semangat keislaman Ibu-ibu, Masjid Maalikul Hikmah Cibiru Wetan Selenggarakan Kegiatan Majelis Taklim.


 
Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Maalikul Hikmah kembali menggelar Majelis Taklim rutin pada Jumat, 20 September 2024. Acara yang dihadiri oleh puluhan jamaah dari berbagai kalangan perempuan ini menghadirkan penceramah pengganti Ustadz Dr. Cecep Anwar, M.Ag. Beliau berhalangan hadir sehingga digantikan oleh  Ustadz Abdul Wahid, M.Pd.  yang menyampaikan kajian dengan tema "Tingkatkan Taqwa dan Ukhuwah Islamiyah."

Majelis taklim yang rutin diselenggarakan di Masjid Maalikul Hikmah ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan para jamaah, terkhusus para ibu-ibu. Program ini telah berlangsung secara rutin setiap minggunya pada hari Jumat, dan selalu mendapatkan sambutan hangat dari masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan kali ini, Ustadz Abdul Wahid, M.Pd, membawakan kajian dengan tema "Tingkatkan Taqwa dan Ukhuwah Islamiyah." Kajian ini membahas tentang bagaimana supaya menjadi seorang muslim yang baik , di mana jamaah diajak untuk lebih mendalami tanggung jawab seorang muslim untuk senantiasa beribadah kepada Allah dengan mengharap ridho-Nya.

Para jamaah yang hadir tampak khusyuk mengikuti kajian ini. Peserta tidak sungkan untuk menanggapi pernyataan Ustadz Abdul Wahid terkait materi yang beliau sampaikan. Beliau juga menekankan pentingnya poin utama dari kajian, seperti pentingnya beribadah untuk mengharap ridho-Nya, menjaga persaudaraan, atau meningkatkan kualitas ibadah. "Asalkan kita mendapatkan ridho Allah SWT atas apa yang kita kerjakan, maka dijamin syurga baginya". ujarnya.

   Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh  Ustadz Abdul Wahid, M.Pd dan diakhiri dengan sholat Ashar berjamaah sebelum para jamaah kembali ke kediamannya masing-masing. "Diadakannya Majelis Taklim ini tentu sebagai wadah untuk menambah wawasan serta ilmu ya, walaupun pada kenyataannya ilmu yang disampaikan ada yang diamalkan, dan ada yang tidak. Lalu tentu saya merasakan ketenangan hati sepulang dari kajian ini, juga kegiatan ini menjadi penguat tali silaturahmi antar tetangga maupun jamaah sekitar juga". ungkap salah satu jamaah, (20/09/2024).

Majelis taklim di Maalikul Hikmah ini diharapkan terus menjadi wadah untuk mempererat kebersamaan warga/jamaah sekitar Masjid Maalikul Hikmah dan memperkaya wawasan keislaman para jamaah. Dengan semangat kebersamaan dan keilmuan, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat.
Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos