Ustaz Rudiana Urai 7 Wajah Ketakwaan di Masjid Al-Inayah Bumi Harapan

0
Klik untuk membaca artikel.


 Dakwahpos.com, Bandung- Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-Inayah Bumi Harapan, Cibiru menyelenggarakan kajian keagamaan bertajuk "Tujuh Wajah Ketakwaan yang Mendapat Naungan Allah" pada Rabu malam, (23/9/2026). Kegiatan ibadah yang disiarkan secara langsung melalui akun Instagram resmi @alinayahbhc ini menghadirkan penceramah sekaligus akademisi, Ustaz Dr. Rudiana, S.Th.I., M.Pd.


Mengawali ceramahnya, Ustaz Dr. Rudiana mengajak para jemaah untuk merenungkan berbagai musibah dan bencana alam terkini, seperti erupsi gunung berapi hingga banjir bandang. Ia menyoroti bagaimana manusia seketika rela meninggalkan seluruh harta, rumah, dan kendaraan demi menyelamatkan jiwa. 


Menurut beliau, fenomena tersebut hendaknya dijadikan cermin dan pengingat nyata akan Rukun Iman ke-5, yaitu Iman kepada Hari Akhir, sebagaimana digambarkan dalam QS. Al-Qari'ah [101]: 4-5 dan QS. Al-Qashas [28]: 88 di mana alam semesta hancur, gunung-gunung dihamburkan, dan setiap orang sibuk dengan keselamatan amalnya masing-masing.


"Bencana di dunia ini sesungguhnya adalah miniatur atau gambaran kecil dari dahsyatnya peristiwa Hari Kiamat (Kiamat Kubra)," tegas Ustaz Rudiana di hadapan para jamaah.


Sebagai jalan keselamatan di Hari Akhir, Ustaz Rudiana memaparkan secara rinci hadis Shahih Bukhari (No. 620 dan 1334 / Kitab Fathul Baari) mengenai tujuh golongan manusia yang berhak memperoleh perlindungan/naungan khusus dari Allah Swt. pada hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya (Yauma la zhilla illa zhilluh).


Ustaz Rudiana merinci ketujuh golongan penerima naungan Allah tersebut secara berurutan. Pertama, pemimpin yang adil (al-imamul 'adil) di seluruh tingkatan mulai dari lingkup rumah tangga hingga negara yang bertindak proporsional (at-tawasuth) dan tidak sewenang-wenang. Kedua, pemuda yang tumbuh dalam ibadah (syaabbun nasya'a fii 'ibadatillah) dengan sanggup mengendalikan hawa nafsunya. Ketiga, orang yang hatinya terikat dengan masjid (rajulun qalbuhu mu'allaqun bil masajid), di mana jiwanya selalu terpaut pada rumah Allah meski fisiknya beraktivitas di luar. Keempat, dua orang yang saling mencintai karena Allah (rajulani tahabba fillah) sebagai bentuk persaudaraan murni tanpa motif materi atau jabatan.


Selanjutnya, golongan kelima adalah orang yang menolak maksiat karena takut kepada Allah (inni akhafullah) saat diajak bermaksiat oleh sosok berkedudukan atau berparas menawan. Keenam, orang yang bersedekah secara tersembunyi (rajulun tasaddaqabishadaqatin fa-akhfaha) hingga diumpamakan tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan tangan kanannya demi menjaga kemurnian niat. Dan ketujuh, orang yang berzikir dalam kesendirian hingga meneteskan air mata (rajulun zakarallaha khaliyan fafadhat 'ainah) karena rasa takut (khauf) dan rindu (raja') kepada-Nya.


Dalam sesi wawancara khusus, Ustaz Dr. Rudiana menekankan pentingnya menyampaikan materi 7 wajah ketakwaan untuk membangun kemauan dan kekuatan umat dalam menjalankan perintah Allah Swt. di tengah ujian zaman. Ia menyoroti fenomena anak muda saat ini yang kerap menghabiskan waktu dengan berkumpul tanpa arah, padahal di Hari Kiamat kelak tidak ada perlindungan selain dari Allah Swt. dan salah satu golongan yang dilindungi adalah pemuda yang mau berjuang menjaga salatnya. 


"Mimpi saya adalah merangkul anak muda dengan melihat apa kesukaan mereka terlebih dahulu. Kita tidak bisa langsung menghakimi. Kita rangkul melalui hobinya, lalu pelan-pelan kita alihkan dengan menyisipkan syair-syair religi atau nasyid yang mendidik," ungkap Ustaz Rudiana saat memaparkan strategi dakwahnya. 


Beliau juga membagikan pengalaman pribadinya saat melalui masa-masa sulit, di mana gurunya menjadi wasilah (perantara) hidayah lewat pendekatan kultural yang hangat seperti ikut bermain bola, berpakaian biasa tanpa sikap menggurui, namun tetap konsisten menjaga salat saat waktunya tiba. 


"Kaidah agama mengajarkan Al-Imanu yazidu wa yanqus (iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan). Karena iman fluktuatif, pendekatan dakwah yang adaptif, komunikatif, dan penuh keteladanan harus terus dilakukan agar menjadi jalan keberkahan bagi kita semua," pungkasnya menutup ceramah. 


Reporter: Dea Warohmah Ritonga, KPI/ 3C

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos