Khotib Gozi Ajak Jemaah Cipadung Kembangkan Intelektual Islam


Dakwahpos.com, Bandung — Salat Jumat di Masjid Al-Ikhlas, Jalan Manisi, Gang Bakti V, Kelurahan Cipadung, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung menghadirkan khotib relawan mahasiswa bernama Gozi. Dalam khotbahnya, ia menekankan pentingnya umat Islam membangun peradaban melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan intelektualitas, Jumat (30/10/2026).

Gozi menyampaikan bahwa Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dari wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Surah Al-Alaq ayat 1-5 yang diawali dengan perintah membaca (iqra).

"Perintah membaca bukan hanya sebatas mengenali huruf dan memahami tulisan, melainkan juga mempelajari kehidupan, mengamati alam semesta, meneliti berbagai fenomena, serta memahami tanda-tanda kebesaran Allah," ujar Gozi di hadapan para jemaah.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa perkembangan intelektual merupakan proses penting dalam meningkatkan kemampuan berpikir, menganalisis, serta menghasilkan solusi atas permasalahan kehidupan. Akal yang dianugerahkan Allah SWT harus digunakan secara bertanggung jawab untuk menggali ilmu, baik ilmu agama maupun sains seperti astronomi, biologi, fisika, hingga teknologi.

Dalam khotbahnya, Gozi juga mengingatkan jemaah akan sejarah kejayaan peradaban Islam di masa lalu. Tokoh-tokoh besar seperti Al-Khawarizmi dalam bidang matematika, Ibnu Sina di bidang kedokteran, hingga Ibnu Al-Haitsam dalam bidang optika, menjadi bukti nyata bahwa tradisi keilmuan Islam pernah memimpin dunia.

"Jangan sampai kita hanya bangga menyebut nama ilmuwan muslim terdahulu, tetapi kita sendiri tidak memiliki semangat untuk membaca, meneliti, dan menghasilkan karya. Jangan sampai kita hanya mengagumi peradaban Islam masa lalu, tetapi kita tidak mau berusaha membangkitkan peradaban pada masa sekarang," tegas Gozi.

Reporter: Shane Alldevant Ferrary/KPI-3A


Uploaded Image

Ustaz Acep Jam’an: Bagaimana Menjauhkan Diri Dari Penyakit Hati

Dakwahpos.com, Bandung – Ustaz Acep Jam'an menegaskan pentingnya bagi setiap muslim untuk mewaspadai bahaya penyakit dengki atau hasad yang dapat mengikis habis tumpukan pahala amal ibadah, Rabu (28/10/2026).

Ia menjelaskan, menjaga kebersihan rohani dari sifat hasad merupakan hal yang sangat krusial karena sifat tercela tersebut diibaratkan bagaikan api yang melahap kayu bakar hingga tak menyisakan apa pun bagi pelakunya di akhirat kelak.

"Jauhkanlah dirimu dari hasad karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar," ungkapnya

Ia menyebutkan bahwa Islam sebenarnya memberikan pengecualian terhadap dua hal di mana rasa iri atau hasad justru diperbolehkan, yakni kepada orang kaya yang dermawan serta seorang ahli ilmu yang tekun mengamalkan ilmunya sehari-hari.

Ia bahkan menceritakan pengalaman menarik ketika warga dan para guru undangan di Bumi Palasari Raya dikejutkan oleh pembagian amplop santunan senilai Rp300.000 per orang dalam sebuah acara tasyakur warga setempat.

"Orang diundang tasyakur, dijaga makan, pulangnya diberi amplop dan nilainya luar biasa, kalau dikalkulasikan satu RW bisa mencapai sembilan puluh juta rupiah," imbuhnya menggambarkan bentuk kedermawanan luar biasa yang jarang dijumpai tersebut.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa di luar dua kategori mulia tadi, memelihara perasaan dengki terhadap pencapaian materi orang lain seperti jabatan baru atau kendaraan baru justru akan mendatangkan kebangkrutan spiritual yang nyata.

"Ketika kita punya perasaan hasad, hati-hati, perasaan itu akan menggerus dan mengikis habis amal kebaikan kita serta memindahkan dosa orang tersebut kepada kita," ungkapnya

Ia mengajak seluruh jemaah yang hadir agar mengalihkan energi untuk senantiasa memperbaiki diri sendiri alih-alih menghabiskan waktu memikirkan urusan atau pencapaian duniawi orang lain.

"Fokus beramal saleh, fokus memperbaiki diri, orang lain mau berkata apapun, abaikan ungkapan atau perkataan orang lain demi menjaga keselamatan hati," pungkasnya

Reporter: Tasya Ainurrahmah, KPI/3D

Mengabdi dengan Prinsip Khadimul Ummah: Perjalanan Tokoh Masjid Jami Al-Mu’awanah Cibiru Hilir

Dakwahpos.com, Bandung- ​Pimpinan Pondok Pesantren Al-Mu'awanah Cibiru Hilir, KH. A. Iwan Hermawan, membagikan rekam jejak pengabdiannya dalam mengelola Masjid Jami Al-Mu’awanah, Kamis (29/10/2026). Beliau memaparkan perjalanannya menghidupkan kegiatan keagamaan masyarakat dengan memegang teguh prinsip khadimul ummah atau pelayan umat.

​Langkah ini didasari kepeduliannya terhadap pembinaan umat dan keberadaan masjid yang sempat kurang produktif. Mengawali dakwah pada 2004 sebagai mahasiswa semester akhir yang merintis pengajian anak-anak, beliau yang berniat pamit setelah program berjalan justru ditahan pimpinan DKM saat itu, K.H. Raden Deden Haidar, lalu dinikahkan dengan putrinya hingga akhirnya meneruskan kepengurusan masjid.  

"Tahun 2004 saya dikenalkan ke pengurus Al-Mu'awanah saat masih mahasiswa akhir. Hobi saya memang menghidupkan pengajian anak-anak yang vakum. Namun ketika hendak pergi mencari pengalaman lain, saya dicegah DKM dan malah dinikahkan dengan putrinya," ujar KH. A. Iwan Hermawan, Kamis (29/10/2026).  

​Selain kisah hidupnya yang unik, KH. A. Iwan Hermawan juga mendirikan Majelis Iqra khusus lansia untuk belajar Al-Qur'an dari dasar. Program ini terbukti membawa dampak sosial yang nyata, seperti meningkatnya kesadaran warga sekitar untuk menjauhi judi, minuman keras, serta kebiasaan meninggalkan salat.  

​"Di Majelis Iqra dampaknya sangat besar. Kesadaran masyarakat mulai muncul tentang haramnya judi, minuman keras, dan meninggalkan salat. Kami berprinsip sebagai khadimul ummah yang melayani dan merangkul aspirasi masyarakat selama tidak menyalahi syariat," tegas KH. A. Iwan Hermawan.  

​KH. A. Iwan Hermawan berharap Masjid Jami Al-Mu’awanah terus menjadi rumah yang membawa ketenangan dan jawaban bagi setiap masalah umat. Beliau berdoa agar ikhtiar memakmurkan masjid dapat menghindarkan masyarakat dari bencana serta menjadi jalan keselamatan menuju surga.  

Reporter: Amanda Najwa Syarif, KPI/3D

Pak Yaya Ajak Kaum Bapak Istiqamah Menuntut Ilmu Tanpa Batas


Dakwahpos.com, Bandung — Masjid Baitul Huda Cipadung menyelenggarakan pengajian khusus bapak-bapak pada Minggu (11/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, Wakil DKM Masjid Baitul Huda, Bapak Yaya, menekankan pentingnya menjaga konsistensi menuntut ilmu bagi kaum laki-laki di tengah kesibukan bekerja sehari-hari.

"Merujuk ke hadis, yang namanya menuntut ilmu itu tidak ada batas waktunya, kecuali kalau kita sudah masuk ke liang lahad. Oleh karena itu, pengurus DKM memfasilitasi pengajian ini dengan suasana yang lebih santai agar bapak-bapak bisa beristirahat di masjid sekaligus mendapatkan ilmu yang bermanfaat," ujar Bapak Yaya.

Ia menjelaskan bahwa materi kajian sengaja dibagi secara terstruktur setiap minggunya, mulai dari pembahasan fikih, ibadah, hingga kitab Nasoihul Ibad. Sebagian besar pemateri yang mengisi jadwal pengajian ini melibatkan mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pengajian rutin tersebut dilaksanakan setiap malam Minggu, dimulai selepas bada Magrib hingga menjelang waktu Isya.

Menurut Bapak Yaya, pengajian ini membawa perubahan positif yang sangat dirasakan oleh para jemaah, khususnya dalam meningkatkan pemahaman keagamaan mendasar. Jemaah yang awalnya kurang memahami tata cara wudu maupun tata cara salat yang benar, kini bisa mendapatkan wawasan dan perbaikan langsung melalui forum kajian ini.

Meski mengajak kaum bapak diakui lebih menantang karena tidak adanya ikatan komunitas yang khas seperti kelompok ibu-ibu, pihak DKM menyiasatinya melalui kolaborasi gerakan dakwah. Salah satunya adalah bekerja sama dengan jemaah tabligh yang bergerak dari rumah ke rumah di lingkungan sekitar untuk mengajak warga ikut memakmurkan masjid.

Di akhir wawancara, Bapak Yaya menyampaikan pesan dan harapannya agar seluruh warga di lingkungan sekitar masjid dapat tergerak untuk meramaikan kajian ini secara penuh.

"Harapan saya, khususnya untuk bapak-bapak di lingkungan masjid ini, semuanya bisa ikut minimal mempertahankan safnya. Kalau misalkan jemaah salat Magribnya ada tiga baris, maka yang ikut pengajian setelahnya juga tetap bertahan tiga baris hingga waktu Isya tiba," pungkas Wakil DKM yang juga aktif mengelola sekolah keagamaan anak-anak tersebut.

Reporter: Nur Qolbi, KPI/3D


Pak Yaya: Pentingnya Menjaga Kebersamaan dan Memakmurkan Masjid Melalui Yasinan


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Baitul Huda Cipadung menyelenggarakan kegiatan yasinan malam Jumat pada Kamis (29/10/2026). Dalam kegiatan tersebut, Wakil DKM Pak Yaya memimpin pembacaan surat Yasin bersama warga setempat sebagai upaya untuk mempererat tali silaturahmi serta mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

"Melalui pembacaan surat Yasin secara rutin setiap malam Jumat, kita tidak hanya mendoakan sesama, tetapi juga menguatkan rasa kebersamaan di lingkungan masyarakat," ujar Pak Yaya.

Ia menekankan bahwa tradisi keagamaan ini memiliki peran penting dalam membangun ukhuwah islamiyah. Masjid Baitul Huda diharapkan menjadi tempat yang selalu ramai dengan kegiatan ibadah dan pembinaan jemaah.

Pak Yaya menjelaskan bahwa kehadiran warga dari berbagai kalangan usia menunjukkan kepedulian bersama dalam merawat tradisi kebaikan. Menurutnya, konsistensi dalam menghadiri kegiatan keagamaan akan membawa ketenangan batin serta keberkahan bagi kehidupan bermasyarakat.

"Harapan saya, kegiatan yasinan ini dapat terus berjalan secara konsisten dan semakin diminati oleh generasi muda, agar Masjid Baitul Huda selalu makmur dengan aktivitas kebaikan," lanjut Pak Yaya.

Di akhir kegiatan, ia mengajak seluruh warga setempat untuk senantiasa menjaga kebersihan, ketertiban, serta kekompakan jemaah demi terciptanya lingkungan yang harmonis dan religius.

Reporter: Nur Qolbi, KPI/3D


Ustaz Gungun Gunawan Berikan Tiga Wasiat Nabi untuk Hidup Bahagia

Dakwahpos.com, Bandung - Dalam kajian ba’da subuh yang dilaksanakan di Masjid Ar-Rahman, Arcamanik (25/10/2026), Ustaz Gungun Gunawan memberikan materi perihal wasiat untuk hidup dari Nabi Muhammad Saw. kepada para jemaahnya.

Ia mengambil dari hadis ke-18 dari kitab Arba’in An-Nawawi yang berjudul ‘Taqwallahi Ta’ala wa Husnul Khuluq’, yang bersumber dari dua sahabat Nabi Muhammad Saw. yakni Abi Dzar Jundub bin Junadah dan Abi Abdurrahman Mu'adz bin Jabal radhiyallahu anhuma.

Ustaz Gungun Gunawan menjelaskan, bahwa dua sahabat ini diberikan wasiat oleh Nabi Muhammad Saw. Ia menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad Saw. memerintahkan umatnya untuk selalu bertakwa di segala tempat dan keadaan. Menurutnya, sejatinya ada orang yang bertakwa itu pilih-pilih tempat hingga pilih-pilih waktu.

“Contoh, kita di masjid tidak mungkin gibah orang, kita sedang thalabul ilmi tidak mungkin bermaksiat, kita sedang salat berjemaah sedang mendengarkan orang bertausiyah tidak mungkin nipu orang. Jauh ya, Pak ya, tidak mungkin korupsi karena kita sedang takwa di masjid, karena sedang berada di rumah Allah”, ujarnya.

Ia pun menjelaskan, bahwasannya definisi takwa itu beragam. Ia menuturkan dalam Syarah Kitab Arba'in Nawawi dikatakan bahwa takwa menurut bahasa adalah ittikhadzul wiqoyah, menjadikan penjagaan, menjadikan benteng yang mampu menjaga kita, menahan kita dari sesuatu yang kita takuti, dari sesuatu yang tidak kita inginkan. Sedangkan secara istilahnya adalah melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala sesuatu yang dicegah oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Ia menambahkan, sifat dari orang bertakwa yang dijamin masuk surga, adalah orang yang konsisten bersedekah baik disaat suasana lapang maupun sempit, memiliki kemampuan dalam menahan amarah, dan memaafkan segala bentuk kezaliman. Ia pun mencontohkan Nabi Muhammad Saw. ketika berdakwah di Mekkah, terutama ke daerah Thaif. Walaupun ia disakiti oleh kaum Thaif, Nabi Muhammad Saw. justru memilih mendoakan mereka agar mereka mendapatkan hidayah dari Allah Swt.

“Ketika dakwah di Thaif nabi berdakwah bukan malah pujian... malah dilempari dengan batu sampai-sampai berdarah. Malaikat meminta izin... untuk mencabut dua gunung ini akan aku timpakan kepada kaum tersebut. Nabi tidak mengiyakan... doa nabi: ‘Allahummahdii qaumii fa'innahum la ya'lamun’", tuturnya.

Ustaz Gungun Gunawan menjelaskan, wasiat kedua yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. adalah iringi keburukan dengan kebaikan. Ia menyampaikan, bahwa jika berbuat dosa, maka segera tutupi dosa tersebut dengan perbuatan yang baik. Sehingga akan melebur perbuatan dosa tersebut.

“Jadi kalau kita berbuat dosa nih sekarang jemaah yang dimuliakan Allah, maka iringilah segera tutupi dosa tersebut dengan al-hasanata, berbuat kebaikan, maka perbuatan baik yang baru kita lakukan itu, tamhuha akan melebur, akan menghapus perbuatan dosa kita. Makanya kita berbuat maksiat astagfirullahal'adzim, ucapkan kata istigfar itu sudah melebur dosa kita. Apalagi kita berwudu, kita salat, kita menangis, ingat atas dosa kita, maka terhapuslah amal kejelekan kita oleh kebaikan yang tadi, tamhuha akan dileburkan ya, akan dihancurkan, akan dihapuskan jemaah yang dimuliakan Allah”. ujarnya.

Lalu yang ketiga atau terakhir, adalah berakhlak baik kepada manusia. Ia mengatakan, bahwa kita harus bergaul kepada seluruh manusia. Bukan hanya kepada orang muslim saja, dengan orang kafir pun, harus bisa bergaul dengan akhlak yang baik.

"’wa khaliqin nasa bikhuluqin hasanin’".Dan bergaullah, dan berakhlaklah engkau kepada seluruh manusia, an-nas di sana jamak, jadi bukan hanya kepada orang muslim saja, orang kafir pun kita harus bergaul dengan ah, dengan akhlak yang baik, bi khuluqin hasanin dengan akhlak yang baik”, ucapnya.

Reporter : Muhammad Habil Apri Gholi, KPI 3/D


Uploaded Image

Ustaz Rayi Ungkap Peran Santri dalam Pengelolaan Masjid Medina Insan Qur’ani


Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Medina Insan Qur'ani, Komplek Medina Mart, menghadirkan nuansa berbeda dalam pengelolaan sarana ibadah dan pembinaan umat. Seluruh aktivitas harian hingga pelayanan sosial di masjid ini digerakkan secara langsung oleh para santri yang sedang menempuh masa pengabdian.

Ustaz Rayi, selaku pengurus masjid, mengungkapkan bahwa sejak awal pembangunan, pengelolaan dan pemeliharaan masjid memang diserahkan kepada para santri. Mulai dari kebersihan, penyiapan jadwal imam, muazin, hingga penyelenggaraan berbagai program keagamaan, semuanya dijalankan oleh santri yang telah memasuki tahun ketiga masa pengabdian. 

"Sejak sebelum masjid ini dibangun, kepengurusannya memang langsung dari santri, jadi begitu masjid berdiri, kepengurusannya langsung oleh santri," ungkap Ustaz Rayi saat ditemui, Jumat (23/10/2026).

Berbagai program keagamaan yang berjalan di masjid ini mencakup kegiatan harian seperti Belajar Baca Al-Qur'an (BBQ) dan FK for Kidsuntuk anak-anak, program mingguan untuk ibu-ibu dan bapak-bapak, hingga agenda bulanan dan tahunan seperti pengkajian sirah nabawiyah, itikaf, dan penyaluran zakat serta kurban. Seluruh kegiatan tersebut melibatkan santri baik sebagai pengajar, pengisi khotbah, maupun petugas pelayanan masyarakat.

Melalui pola pengelolaan berbasis santri ini, pihak pengurus berharap Masjid Medina Insan Qur'ani dapat terus istikamah menjadi tempat ibadah yang nyaman, memberikan banyak manfaat, serta menjadi sarana bagi santri untuk melatih diri berkhidmat kepada masyarakat.

Reporter: Rizwan Fadillah KPI/3D

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos