Ustaz Zaenal: Mengajak Untuk Menuntut Ilmu Sebagai Jalan Keselamatan

 

Dakwahpos.com, Bandung - Kegiatan kajian rutin di Masjid Al – Mu’minun, Bandung, pada Sabtu, 12 September 2026 membahas pentingnya menuntut ilmu dan mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam ceramahnya, Ustaz Zaenal menyampaikan bahwa menuntut ilmu merupakan salah satu jalan menuju keselamatan, kebaikan, dan kemuliaan di dunia maupun akhirat.

Kajian tersebut diikuti oleh jamaah Masjid Al – Mu’minun dan berlangsung pada pukul 20.00 – 22.00 WIB. Dalam penyampaiannya, Ustaz Zaenal menekankan bahwa kegiatan keagamaan dan mencari ilmu tidak seharusnya dianggap sebagai kegiatan biasa. Menurutnya, menghadiri kegiatan keagamaan dan mendengarkan arahan yang bersumber dari Al-Qur'an, hadis, serta penjelasan para ulama merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim.

Ustaz menjelaskan bahwa menuntut ilmu merupakan jalan untuk mencapai kebaikan dunia dan akhirat. Ilmu juga disebut sebagai jalan menuju keselamatan, kesejahteraan, kemuliaan, keberkahan, dan ketenangan. Karena itu, umat Islam didorong untuk terus meningkatkan pengetahuan agama dan menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan.

Selain membahas pentingnya ilmu, khutbah juga menyoroti hubungan antara ilmu dengan pelaksanaan ibadah. Dalam materi yang disampaikan, ibadah tidak cukup hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi perlu disertai pemahaman dan penghayatan agar memberikan pengaruh terhadap kehidupan seseorang.

Ustaz Zaenal juga mengingatkan jamaah agar tidak memandang agama hanya sebagai identitas. Menurutnya, keberagamaan perlu diwujudkan melalui perilaku dan amal nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ibadah yang dilakukan diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan ritual, tetapi mampu memberikan kekuatan dan perubahan dalam kehidupan.

Dalam ceramahnya, Ustaz Zaenal menyampaikan, "Hadir ke masjid ilmu itu apa manfaatnya, kgunaan nya dan manfaatnya, bahwa hadir ke majlis ilmu itu di anggap sebagai kebiasaan yg biasa-biasa aja. Bahwa hadir ke masjlis ilmu itu bukan hal yg biasa, atau hadir ke majlis ilmu itu adalah pekerjaan, amal ibadah yg luar biasa itu harus dijadikan prinsip dalam hidup kita jalan untuk menumpuh kepada kebaikan jalan nya itu dengan cara tolabul ilmi, itu untuk kesuksesan dunia akhirat, hadir ke majlis ilmu iu jalan keselamatan, selamat dunia dan akhirat, apa yg terjadi kepada kita di dunia itu akan menjadi pintu keselamatan jika kita tolabul ilmi."

Melalui ceramah tersebut, jamaah diajak untuk meningkatkan perhatian terhadap ilmu agama dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pesan yang disampaikan menekankan bahwa ilmu, ibadah, dan pengamalan ajaran agama perlu berjalan bersama agar memberikan manfaat bagi kehidupan di dunia maupun sebagai bekal di akhirat.

 

Reporter: Azmi Dwi Lestari

Lokasi Liputan: Masjid Al – Mu’minun, Baleendah, Bandung

Tanggal Liputan: 12 September 2026

 

Ustaz Asep Jamil Lanjutkan Perjuangan Sejarah Masjid Al-Muslim


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-Muslim Cikalang memiliki catatan sejarah panjang yang dirintis sejak tahun 1984 oleh almarhum orang tua narasumber, yakni Ajengan Haji Sofyan Sauri bersama majelis taklim setempat. Sebelum menjadi masjid yang berdiri saat ini, lokasi tersebut dahulunya merupakan sebuah musala yang dibangun di atas tanah wakaf dari Ibu Hajjah Khodijah.

​"Dulu belum menjadi masjid, masih berbentuk musala atau langgar. Tahun 1984 mulai dirintis Masjid Al-Muslim ini bersama majelis taklim oleh orang tua kami, yaitu Bapak Ajengan Haji Sofyan Sauri," ujar Ustaz Asep Jamil saat menceritakan awal mula berdirinya masjid tersebut.

​Dalam perjalanan dakwahnya, pendirian masjid ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan sarana ibadah bagi warga sekitar yang pada masa itu masih sangat terbatas jaraknya. Berbekal latar belakang pendidikan pesantren dari Al-Jawami Cileunyi dan Sukanagara, orang tua beliau bersama para santri Al-Ma'arif mulai membina masyarakat dan menghidupkan kegiatan keagamaan secara bertahap.

​"Di sini pada saat itu masih jauh ke tempat sarana ibadah yang lain. Dari situlah awal mula adanya Masjid Al-Muslim ini," tuturnya.

​Memasuki kepengurusan generasi kedua sepeninggal sang ayah pada tahun 2024, Ustaz Asep Jamil, S.Ag. kini meneruskan estafet kepemimpinan dan pengelolaan masjid bersama keluarganya. 

Tantangan terbesar yang dihadapi pada masa perintisan awal meliputi beratnya membimbing masyarakat yang kala itu masih awam terhadap pemahaman agama, hingga perlunya kesabaran ekstra dalam menghadapi berbagai respons warga.

​"Tantangan paling besar dihadapi oleh orang tua kami karena merintis dari nol bersama Bapak dan Ibu, dulu berdua saja," ungkapnya.

​Meskipun demikian, kerja keras dan kesabaran dalam berdakwah kini mulai membuahkan hasil positif dengan meningkatnya kesadaran beragama di tengah masyarakat, termasuk keaktifan warga dalam mengikuti kegiatan majelis taklim dan pengajian rutin.

​"Alhamdulillah sekarang secara bertahap kesadaran masyarakat tinggi, termasuk dalam kehidupan sosial dan kegiatan keagamaan," pungkasnya.

​Reporter: Siti Zenab, KPI/3D

Sejarah masjid al-muhajir



Dakwahpos.com, Bandung - Masjid Al-Muhajir yang terletak di Panyileukan semakin mengukuhkan dirinya sebagai pusat kegiatan keagamaan yang tidak pernah sepi dari aktivitas. Berbagai kegiatan keagamaan dan sosial rutin digelar, mulai dari shalat berjamaah, kajian agama, hingga kegiatan sosial dan koperasi. Tidak hanya itu, jumlah jamaah yang terlibat dalam setiap kegiatan pun selalu ramai, menjadikan masjid ini sebagai tempat yang hidup dan penuh berkah setiap harinya.

Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al-Muhajir Panyileukan , Ustadz soleh D. Asmara, menuturkan bahwa tingginya partisipasi jemaah dalam berbagai kegiatan ini merupakan bukti nyata dari rasa kebersamaan yang kuat di kalangan warga sekitar. "Kami sangat bersyukur melihat bagaimana jamaah selalu aktif dan antusias. Tidak hanya dalam shalat berjamaah, tetapi juga dalam kegiatan kajian, pengajian, hingga program sosial yang diadakan masjid," ungkap Ustaz soleh , Jumat (16/10/2026).

Menurut Ustaz soleh , masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan jemaah, seperti pengajian rutin, program tahsin Al-Qur'an, kegiatan koperasi yang dikelola jemaah, hingga majlis taklim. Semua ini turut meningkatkan keterlibatan jemaah dari berbagai kalangan, baik tua maupun muda.Masjid Al-Muhajir selalu berusaha mengakomodasi kebutuhan spiritual dan sosial masyarakat. Kami ingin masjid ini menjadi pusat kehidupan komunitas yang dinamis, di mana setiap orang merasa memiliki dan terlibat dalam setiap kegiatan. Ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk mempererat tali silaturahmi antarjamaah," tambah Ustaz soleh.

Tidak hanya itu, masjid ini juga menjadi magnet bagi jemaah dari luar lingkungan Panyileukan, yang ikut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan. Setiap kegiatan rutin, seperti kajian keagamaan dan pengajian ibu-ibu, selalu dipenuhi peserta. Anak-anak pun tidak ketinggalan, dengan adanya program-program khusus seperti TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) dan pengajian ilmu agama mendorong mereka untuk aktif beribadah sekaligus belajar ilmu agama.

Dengan segala aktivitas yang terus berjalan tanpa henti, Masjid Al-Muhajir Panyileukan menjadi contoh masjid yang tidak hanya berperan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang produktif. Melalui partisipasi aktif jemaah, masjid ini terus membangun rasa kebersamaan dan komitmen dalam memajukan kehidupan spiritual dan sosial masyarakat. Semangat kebersamaan ini menjadi fondasi kuat bagi masjid dalam menjalankan peran pentingnya di tengah-tengah komunitas.

Reporter: Najma Nursyafa Aulia Rahmat, KPI/3D

Awalnya Hanya 4x4 Meter hingga Kini Ramai Jemaah, Ini Jejak Panjang Masjid Tua di Cileunyi yang Berdiri sejak 1960-an


Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Jami' Al-Mardiyatul Islamiyah di Cileunyi Kulon, Kabupaten Bandung, sudah berdiri sejak sekitar tahun 1960-an. Hal itu disampaikan Ustaz Cecep Abdullah Syafi'i saat diwawancarai pada Jumat pagi (16/10/2026).

Masjid ini didirikan KH Abdul Jalil setelah mendapat izin dari ulama setempat. Awalnya masjid hanya berukuran 4x4 meter dan sejak 1960-an sudah empat kali direnovasi.

“Masjid ini didirikan Kiai Abdul Jalil setelah ada izin dari ulama sekitar. Dulu ukurannya masih kecil, sekitar empat kali empat meter, dan sejak tahun 60-an sudah empat kali direnovasi,” ujarnya

Di depan masjid terdapat kolam yang masih dipertahankan hingga kini sebagai ciri khas masjid di Bandung. Menurut Ustaz Cecep, sebagian orang sekarang memang kurang nyaman memakai air kolam.

“Kalau orang Bandung asli, pasti ada air di depan masjid. Walaupun sekarang orang kurang nyaman memakai air, memang ketentuan masjid zaman dulu seperti itu,” tuturnya.

Selain kolam, khotbah Jumat di masjid ini tetap berbahasa Arab tanpa diterjemahkan. Hal itu membuat banyak warga di luar jemaah tertarik mengikuti Jumatan di sana.

“Khotbah Jumat di sini tetap berbahasa Arab tanpa terjemahan. Itu salah satu alasan banyak orang di luar jemaah ikut Jumatan di sini,” katanya.

Di lingkungan masjid terdapat lima makam, yakni makam pewakaf masjid, Hj. Siti Maimunah, dan makam keluarga keturunan pendiri.

“Di sini ada makam yang mewakafkan masjid, namanya Hajah Siti Maimunah. Ada juga keturunan kakek, Haji Inda, lalu Hidir, Hajah Siti Sofiah, dan Imas. Jadi sekarang ada lima makam,” katanya

Reporter: Naima Nurhilaliyah Maharani, KPI/3D

DKM Masjid Al-Azwia Gelar Pengajian untuk Tingkatkan Wawasan Keislaman Jamaah


Dakwahpos.com, Sumedang – Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Al-Azwia, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, menyelenggarakan kegiatan pengajian pada Kamis (10/09/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan ilmu agama Islam bagi jamaah sekaligus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepadaAllah Swt.

Kegiatan pengajian tersebut menjadi salah satu bentuk upaya DKM Masjid Al-Azwia dalam memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperdalam pengetahuan keislaman. Melalui kegiatan ini, jamaah diharapkan dapat memperoleh pemahaman yang lebih luas mengenai ajaran Islam serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Acara pengajian diikuti oleh jamaah yang antusias dalam menuntut ilmu agama. Para peserta mengikuti kegiatan dengan saksama agar materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa kegiatan keagamaan di lingkungan masjid memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk terus belajar dan memperdalam ilmu agama.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan pengajian menjadi sarana untuk menyampaikan berbagai pengetahuan Islam yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pemahaman terhadap ajaran agama sangat penting agar jamaah tidak hanya mengetahui nilai-nilai keislaman secara teori, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam perilaku, ibadah, dan hubungan sosial di tengah masyarakat.

Selain menambah wawasan keagamaan, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mempererat tali silaturahmi ant jamaah. Melalui pertemuan di masjid, masyarakat dapat membangun kebersamaan, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta saling mengingatkan dalam kebaikan.

Penyelenggaraan pengajian oleh DKM Masjid Al-Azwia merupakan bagian dari upaya memakmurkan masjid sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan umat. Masjid tidak hanya menjadi tempat untuk melaksanakan salat berjamaah, tetapi juga berperan sebagai sarana pembelajaran yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan jamaah semakin termotivasi untuk menuntut ilmu agama secara berkelanjutan dan mengamalkan pengetahuan yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, kegiatan pengajian dapat memberikan dampak positif dalam membentuk masyarakat yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.

Reporter: Taufik Faturohman Agustin KPI/3D


Dari Lahan Hibah, Masjid Al-A’raaf Tumbuh Hampir 700 Meter Persegi

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Al-A’raf di Perumahan Permata Biru, Cinunuk, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung, berawal dari lahan hibah pengembang perumahan. Dari bangunan sederhana berukuran sekitar 12x8 meter, kini luas bangunannya hampir 700 meter persegi.

Masjid ini berdiri sekitar tahun 2008 di atas lahan seluas sekitar 750 meter persegi. Bangunan awalnya didirikan pengembang, Marga Tirta Kencana, atas pengajuan para penggagas dari kalangan warga.

Sekretaris Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Al-A’raf, Agus Wardiman, menjelaskan bahwa lahan masjid bukan wakaf, melainkan hibah fasilitas umum (fasum) dari pengembang. Menurutnya, sejak awal peta perencanaan perumahan sudah menetapkan lahan itu untuk rumah ibadah.

“Dulu pertama dibangun oleh pihak developer. Masjidnya sangat sederhana sekali, kurang lebih sekitar 12 meter kali 8 meter luasnya, tetapi luas tanahnya lumayan besar, totalnya sekitar 750 meter persegi,” ujar Agus Wardiman, Rabu (14/10/2026).

Pembangunan masjid selanjutnya dibiayai partisipasi jemaah dan warga RW 27, serta dukungan perusahaan dan perorangan melalui proposal. “Sangat membantu untuk pembangunan masjid ini, sangat mendukung,” imbuhnya.

Di antara para penggagas masjid adalah Ondi Rohendi, yang kini menjadi sesepuh dan masih rutin salat berjemaah serta mengaji di masjid tersebut.

Ketua DKM Al-A’raf, Ustaz Wijaya, S.E., menuturkan bahwa masjid ini dikelola sebagai milik semua umat dengan merangkul pengurus dari berbagai organisasi. Kebersamaan jemaah juga dijaga lewat sarapan bersama setelah pengajian Ahad pagi, yang berasal dari sedekah sejumlah jemaah. “Masjid ini adalah masjid milik semua umat,” ujarnya, Rabu (14/10/2026).

Ke depan, Agus Wardiman berharap warga RW 27, terutama jemaah laki-laki, makin banyak yang salat berjemaah di masjid. “Harapannya kegiatannya terus berkembang, menjadi masjid makmur,” tuturnya.

Reporter: Asep Aprezal, KPI/3D
Uploaded Image

Kompak Berinfak, Masjid Darussalam dari Bangunan Sederhana Jadi Megah

Dakwahpos.com, Bandung - Ketua DKM Darussalam periode 2024 - 2028, H. Sismanto, Kamis (15/10/2026), mengungkapkan bahwa masjid di Komplek Permata Biru, Cileunyi, Kabupaten Bandung, berkembang dari bangunan kecil di tanah bekas sawah berkat swadaya jemaah, tanpa dana pemerintah.

Menurutnya, masjid tersebut mulai berdiri sekitar 1990-an, bersamaan dengan hadirnya komplek perumahan baru. Bangunan pertamanya merupakan fasilitas sosial yang disediakan pengembang perumahan.

“Bangunannya sangat sederhana, yang penting bisa salat barangkali,” ujarnya.

Ia mengenang, air kerap naik dan membasahi lantai masjid saat hujan karena tanahnya bekas sawah. Saat iktikaf pada bulan Ramadan, jemaah juga membawa obat nyamuk sendiri karena masjidnya terbuka.

Meski sederhana, dia mengatakan masjid itu sejak awal difungsikan sebagai masjid jami untuk salat Jumat karena jarak antarmasjid di sekitarnya relatif jauh.

Ia menuturkan, infrastruktur masjid memang kurang mendukung sejak awal. Karena itu, jemaah berkumpul dan membentuk panitia untuk mengembangkan masjid.

“Masjid itu dibangun puluhan tahun sampai semegah ini. Dan ini enggak ada dana dari pemerintah,” tuturnya.

Sejak dilantik pada Februari 2024, dia melanjutkan pengembangan secara bertahap. Pada tahun pertama ia mengadakan AC, tahun kedua membangun madrasah, dan tahun ketiga menata interior.

Menurutnya, pemasangan AC dan interior menghabiskan Rp53 juta, sedangkan pembangunan madrasah di lantai atas menelan Rp347 juta. Seluruh dana berasal dari penggalangan di kalangan jemaah.

“Jadi memang di Masjid Darussalam itu kekuatan dari jemaah, dan jemaahnya alhamdulillah masih semangat untuk berinfak dan bersedekah,” katanya.

Penggalangan dana dilakukan antara lain lewat lelang, yang menurutnya hanya sebagai pancingan. Nama dan nominal sumbangan dicatat di papan, sedangkan laporan keuangan dibagikan di grup jemaah yang beranggotakan ratusan orang.

Seluruh pengembangan itu berpijak pada tagline kepengurusannya, “nyaman ibadahnya, sehat jemaahnya”. Karena itu, selain memperbaiki fasilitas, DKM menghadirkan dua program senam rutin yang baru berjalan pada masa kepengurusannya.

Soal keunikan, dia mengaku tidak ada yang benar-benar istimewa dari masjid tersebut.

“Mungkin bukan unik barangkali, kita memang ada bidang sosial itu bergerak,” ungkapnya.

Bidang sosial itu menyimpan kaleng infak di rumah-rumah yang diisi Rp1.000 hingga Rp2.000 dan diambil sebulan sekali. Dananya dipakai untuk menjenguk jemaah yang sakit, melayat yang meninggal, serta membagikan beras 5 kilogram per kepala keluarga. Masjid juga menyediakan ambulans dan kain kafan tanpa biaya.

Ia menambahkan, masjid tersebut terbuka bagi siapa saja.

“Ini kan masjidnya moderat, siapa aja boleh masuk,” imbuhnya.

Pengurusnya pun berasal dari beragam latar belakang, seperti NU, Persis, dan Muhammadiyah. Kegiatan pengajian menyesuaikan program DKM sehingga masjid tidak memonopoli satu mazhab.

Ia menegaskan bahwa masjid harus menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Setiap H-7 Lebaran, DKM berbagi beras dan sembako kepada 100 hingga 300 orang, dan donor darah rutin digelar dua bulan sekali.

Sejak awal menjabat, dia memegang satu pesan yang selalu disampaikannya kepada pengurus. Menurutnya, masjid adalah tempat ibadah, bukan tempat mencari uang. Pengurus dipersilakan mencari nafkah di luar, asalkan tetap menyisihkan waktu untuk kegiatan sosial di Darussalam.

“Boleh hidup di Masjid Darussalam, tapi jangan mencari penghidupan dari Masjid Darussalam,” pesannya.

Reporter: Farid Zakhir Muzhaffar, KPI/3D

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos