Kompak Berinfak, Masjid Darussalam dari Bangunan Sederhana Jadi Megah

Klik untuk membaca artikel.

Dakwahpos.com, Bandung - Ketua DKM Darussalam periode 2024 - 2028, H. Sismanto, Kamis (15/10/2026), mengungkapkan bahwa masjid di Komplek Permata Biru, Cileunyi, Kabupaten Bandung, berkembang dari bangunan kecil di tanah bekas sawah berkat swadaya jemaah, tanpa dana pemerintah.

Menurutnya, masjid tersebut mulai berdiri sekitar 1990-an, bersamaan dengan hadirnya komplek perumahan baru. Bangunan pertamanya merupakan fasilitas sosial yang disediakan pengembang perumahan.

“Bangunannya sangat sederhana, yang penting bisa salat barangkali,” ujarnya.

Ia mengenang, air kerap naik dan membasahi lantai masjid saat hujan karena tanahnya bekas sawah. Saat iktikaf pada bulan Ramadan, jemaah juga membawa obat nyamuk sendiri karena masjidnya terbuka.

Meski sederhana, dia mengatakan masjid itu sejak awal difungsikan sebagai masjid jami untuk salat Jumat karena jarak antarmasjid di sekitarnya relatif jauh.

Ia menuturkan, infrastruktur masjid memang kurang mendukung sejak awal. Karena itu, jemaah berkumpul dan membentuk panitia untuk mengembangkan masjid.

“Masjid itu dibangun puluhan tahun sampai semegah ini. Dan ini enggak ada dana dari pemerintah,” tuturnya.

Sejak dilantik pada Februari 2024, dia melanjutkan pengembangan secara bertahap. Pada tahun pertama ia mengadakan AC, tahun kedua membangun madrasah, dan tahun ketiga menata interior.

Menurutnya, pemasangan AC dan interior menghabiskan Rp53 juta, sedangkan pembangunan madrasah di lantai atas menelan Rp347 juta. Seluruh dana berasal dari penggalangan di kalangan jemaah.

“Jadi memang di Masjid Darussalam itu kekuatan dari jemaah, dan jemaahnya alhamdulillah masih semangat untuk berinfak dan bersedekah,” katanya.

Penggalangan dana dilakukan antara lain lewat lelang, yang menurutnya hanya sebagai pancingan. Nama dan nominal sumbangan dicatat di papan, sedangkan laporan keuangan dibagikan di grup jemaah yang beranggotakan ratusan orang.

Seluruh pengembangan itu berpijak pada tagline kepengurusannya, “nyaman ibadahnya, sehat jemaahnya”. Karena itu, selain memperbaiki fasilitas, DKM menghadirkan dua program senam rutin yang baru berjalan pada masa kepengurusannya.

Soal keunikan, dia mengaku tidak ada yang benar-benar istimewa dari masjid tersebut.

“Mungkin bukan unik barangkali, kita memang ada bidang sosial itu bergerak,” ungkapnya.

Bidang sosial itu menyimpan kaleng infak di rumah-rumah yang diisi Rp1.000 hingga Rp2.000 dan diambil sebulan sekali. Dananya dipakai untuk menjenguk jemaah yang sakit, melayat yang meninggal, serta membagikan beras 5 kilogram per kepala keluarga. Masjid juga menyediakan ambulans dan kain kafan tanpa biaya.

Ia menambahkan, masjid tersebut terbuka bagi siapa saja.

“Ini kan masjidnya moderat, siapa aja boleh masuk,” imbuhnya.

Pengurusnya pun berasal dari beragam latar belakang, seperti NU, Persis, dan Muhammadiyah. Kegiatan pengajian menyesuaikan program DKM sehingga masjid tidak memonopoli satu mazhab.

Ia menegaskan bahwa masjid harus menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Setiap H-7 Lebaran, DKM berbagi beras dan sembako kepada 100 hingga 300 orang, dan donor darah rutin digelar dua bulan sekali.

Sejak awal menjabat, dia memegang satu pesan yang selalu disampaikannya kepada pengurus. Menurutnya, masjid adalah tempat ibadah, bukan tempat mencari uang. Pengurus dipersilakan mencari nafkah di luar, asalkan tetap menyisihkan waktu untuk kegiatan sosial di Darussalam.

“Boleh hidup di Masjid Darussalam, tapi jangan mencari penghidupan dari Masjid Darussalam,” pesannya.

Reporter: Farid Zakhir Muzhaffar, KPI/3D

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos