Kenali Sejarah Masjid Ilaa Khoiri Ummah Manisi sejak 1998

Klik untuk membaca artikel.


Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Ilaa Khoiri Ummah di Manisi, Bandung, mulai dibangun pada 1998 sebagai masjid pertama di kawasan tersebut. Setelah sempat terhenti selama dua tahun, pembangunan kembali dilanjutkan pada 2000. Sejak awal, masjid ini direncanakan memiliki tiga lantai untuk menunjang kebutuhan ibadah masyarakat. Namun, keterbatasan dana dan sejumlah kendala lainnya menyebabkan pembangunan belum rampung hingga 2026.

Ustaz Fitroh Radiyansyah Nasution, S.H., selaku Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), menjelaskan bahwa gagasan pembangunan masjid berasal dari mahasiswa terdahulu yang kemudian berdiskusi dengan sejumlah tokoh masyarakat. Pak Tatang dan Pak Abu turut mendukung pendirian masjid tersebut melalui sumbangan dana. Pembangunan dilakukan untuk menyediakan tempat ibadah bagi masyarakat setempat yang saat itu belum memiliki masjid.

Dalam perkembangannya, masjid tersebut sempat memiliki keterkaitan dengan salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas). Namun, pengelolaannya kemudian diserahkan kepada masyarakat. Ustaz Fitroh menegaskan bahwa masjid tersebut diwakafkan untuk kepentingan bersama, bukan semata-mata untuk kelompok tertentu. Ia menjelaskan, “Ini sebenarnya diwakafkan oleh orang itu kepada masyarakat.”

Nama Ilaa Khoiri Ummah juga memiliki makna yang berkaitan dengan tujuan pendirian masjid. Menurut Ustaz Fitroh, nama tersebut mengandung harapan agar masjid menjadi tempat yang membawa kebaikan bagi umat dan jemaah. Makna tersebut sejalan dengan fungsi masjid sebagai tempat beribadah sekaligus ruang bagi masyarakat untuk menjalankan kegiatan keagamaan.

Perjalanan Masjid Ilaa Khoiri Ummah tidak selalu berjalan lancar. Setelah pembangunan awal, masjid sempat terbengkalai hingga 2015. Pada masa itu, kegiatan salat wajib berjemaah dan pengajian belum terkoordinasi dengan baik. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan masjid tidak hanya menghadapi persoalan pembangunan fisik, tetapi juga tantangan dalam menghidupkan kegiatan keagamaan.

Perubahan mulai dilakukan pada 2016 melalui penataan kembali kegiatan masjid. Pada tahun yang sama, Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA) didaftarkan ke Kementerian Agama hingga menjadi lembaga pendidikan nonformal yang resmi. Masjid Ilaa Khoiri Ummah juga telah terdaftar sebagai masjid jami. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan masjid, terutama dalam memperkuat perannya sebagai tempat ibadah dan pendidikan agama.

Meskipun kegiatan keagamaan mulai berkembang kembali, pembangunan fisik masjid masih menghadapi hambatan. Rencana pembangunan lantai kedua yang dimulai pada 2016 belum dapat diselesaikan. Padahal, sejak awal, bangunan tersebut direncanakan memiliki tiga lantai. Menurut Ustaz Fitroh, keterbatasan biaya menjadi salah satu penyebab utama terhambatnya pembangunan.

Selain persoalan pendanaan, Fitroh mengungkapkan adanya kendala berupa kurangnya dukungan dari sejumlah pihak. Perbedaan pandangan mengenai kepemilikan masjid turut mempersulit upaya melanjutkan pembangunan. Ia menjelaskan bahwa meskipun masjid tersebut diperuntukkan bagi masyarakat, terdapat pihak yang menganggapnya sebagai milik organisasi tertentu.

Hingga 2026, Masjid Ilaa Khoiri Ummah masih menjalankan fungsi sebagai tempat ibadah dan pendidikan keagamaan bagi masyarakat Manisi. Perjalanan sejak pembangunan awal pada 1998 hingga pengaktifan kembali kegiatan pada 2016 memperlihatkan berbagai tantangan yang dihadapi masjid tersebut. Meskipun bangunannya belum selesai sesuai rencana, keberadaannya tetap menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat setempat.

 

Reporter: Alya Hamidah KPI/3C

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos