Manusia Ibaratkan Pohon, Khatib Tegaskan Akhlakul Karimah Buah Keimanan Manusia

Klik untuk membaca artikel.
Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Zainal Abidin, menyampaikan bahwa manusia beriman ibarat pohon yang berakar iman, bercabang silaturahmi, dan berbuah akhlak mulia, dalam khotbah Jumat di Masjid Darussalam, Komplek Permata Biru, Jumat (30/10/2026).

Khatib mengawali khotbahnya dengan membacakan Surah Ibrahim ayat 24. Menurutnya, dalam ayat itu Allah Swt. mengumpamakan manusia yang hebat seperti pohon yang baik Ø´َجَرَØ©ٍ Ø·َÙŠِّبَØ©ٍ. Ia mengutip penjelasan Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud kalimat thayyibah adalah la ilaha illallah.

Ia menjelaskan bahwa orang beriman adalah orang yang berkomitmen pada aturan Allah. Ia mencontohkan kisah Rasulullah saw. yang menawarkan jalan ke surga kepada sahabat Abu Dzar Al-Ghifari, yakni berkomitmen pada empat kalimat: tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil.

Khatib menerangkan bahwa tasbih berarti mensucikan Allah karena hanya Allah yang suci. Adapun tahmid, mengutip Syekh Ash-Shabuni, merupakan doa yang paling sempurna. Ketika dipuji, kata dia, cukup dijawab dengan alhamdulillah.

Ia menambahkan, kalimat-kalimat itu semestinya terucap spontan, misalnya subhanallah saat melihat gunung atau laut yang indah, dan astagfirullah saat melihat jalan yang buruk.

Khatib kemudian menguraikan tiga karakter pohon yang dijadikan perumpamaan manusia. Karakter pertama adalah akar, yang bagi manusia berarti iman.

“Kalau di pohon ada akar, manusia punya iman. Makanya iman itu harus kuat,” ujarnya.

Menurutnya, pohon tumbang bukan karena angin kencang atau hujan deras, melainkan karena akarnya lemah. Begitu pula orang yang menjual jabatan, harkat, harga diri, dan kehormatan, karena imannya lemah.

Karakter kedua adalah batang, cabang, ranting, dan daun. Ia menyebut bagian ini melambangkan hubungan baik dengan sesama. Manusia harus bersikap santun tidak hanya di masjid, tetapi juga di jalan, pasar, dan rumah.

Karakter ketiga adalah buah, yang menurut khatib berarti akhlak mulia. Ia menegaskan bahwa Allah tidak bisa disandiwarai oleh siapa pun. Menurutnya, percuma tampil hebat di masjid jika di luar masjid akhlaknya buruk.

“Yang Allah nilai adalah apa? Buah. Dan buah manusia adalah akhlakul karimah,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa manusia ibarat pohon yang berakar iman kuat, berdahan silaturahmi dan hubungan baik dengan sesama, serta berbuah akhlakul karimah. Akhlak mulia itu harus ditunjukkan kepada siapa pun, tidak hanya kepada pejabat atau orang hebat, tetapi juga kepada orang kecil. Karena itu, ia mengingatkan agar jemaah tidak merasa hebat dan sombong, sebab di sisi Allah semua manusia tidak berarti apa-apa.

Reporter: Farid Zakhir Muzhaffar, KPI/3D
Uploaded Image

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos