Dakwahpos.com, Bandung- Kegiatan pendidikan Al-Qur'an di Masjid Ilaa Khoiri Ummah Manisi, Bandung, membagi pembelajaran anak ke dalam dua sesi, yakni Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) pada sore hari dan Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) pada malam hari. Pembagian ini diterapkan untuk menyesuaikan waktu dan materi pembelajaran dengan usia serta jenjang pendidikan anak.
Ustaz Fitroh Radiyansyah Nasution, S.H., menjelaskan bahwa sesi TPQ diperuntukkan bagi anak berusia 4sampai7 tahun. Kegiatan tersebut berlangsung pada sore hari, sedangkan sesi MDTU dimulai pukul 17.30 hingga 20.20 WIB dan diikuti siswa kelas I hingga kelas VI sekolah dasar.
Dalam pelaksanaannya, kedua sesi tersebut dikelola oleh enam mahasiswa. Mereka bertugas mendampingi anak-anak belajar mengaji dan mengikuti kegiatan pendidikan agama. Menurut Ustaz Fitroh, para pengajar perlu meluangkan waktu sejak sore hingga malam untuk mendampingi kegiatan tersebut.
Untuk menjaga semangat belajar anak, pengajar menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi. Ustaz Fitroh mengatakan bahwa metode Ummi digunakan dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an, tetapi tidak selalu diterapkan karena sebagian anak terkadang merasa bosan atau belum memahami materi.
“Jadi di sini walaupun resmi, tapi di sini juga ada kayak bermainnya, ujar Ustaz Fitroh dalam wawancara pada Jumat (23/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa kegiatan bermain disisipkan di antara pembelajaran. Anak-anak yang mengikuti TPQ, misalnya, diajak bernyanyi, sedangkan peserta MDTU juga mendapatkan permainan sebagai selingan agar tidak mudah bosan.
Selain pembelajaran membaca Al-Qur'an, MDTU memiliki kurikulum yang mengacu pada Kementerian Agama. Materi yang diajarkan meliputi fikih, akidah akhlak, bahasa Arab, sejarah kebudayaan Islam (SKI), serta Al-Qur'an Hadis. Peserta didik juga mengikuti evaluasi pembelajaran, seperti ujian tengah semester, ujian akhir semester, dan penilaian akhir tahun.
Ustaz Fitroh menerangkan bahwa MDTU merupakan pendidikan nonformal, meskipun materi dan evaluasinya memiliki kemiripan dengan pembelajaran di madrasah ibtidaiyah (MI). Perbedaannya terletak pada status pendidikan: MI merupakan pendidikan formal, sedangkan MDTU termasuk pendidikan nonformal.
Di samping pelajaran akademik, lembaga tersebut memiliki program unggulan berupa tahfiz Al-Qur'an dan pengembangan karakter. Program karakter menitikberatkan pembinaan adab dan akhlak peserta didik, sementara program tahfiz mendorong anak-anak untuk menghafal Al-Qur'an.
Ustaz Fitroh menyampaikan bahwa sejumlah peserta didik telah menyelesaikan hafalan Juz 29 dan Juz 30. Peserta yang menuntaskan hafalan tersebut nantinya akan mengikuti wisuda tahfiz. Selain itu, wisuda juga diselenggarakan setiap tahun sebagai bagian dari kegiatan pendidikan.
Melalui pembagian sesi, variasi metode pembelajaran, serta program tahfiz dan pengembangan karakter, kegiatan TPQ dan MDTU diharapkan dapat mendukung anak-anak dalam mempelajari Al-Qur'an sekaligus membangun adab dan akhlak sejak dini.
Reporter: Alya Hamidah KPI/3C

Tidak ada komentar
Posting Komentar