Ustaz Aep Fahrudin: Berniaga dengan Allah, Perniagaan yang Tak Pernah Merugi

Klik untuk membaca artikel.

Dakwahpos.com, Bandung - Ustaz Aep Fahrudin mengingatkan jemaah untuk tidak hanya mengejar keuntungan dunia, tetapi juga menyiapkan bekal akhirat, dalam khutbah Jumat di Masjid dan Madrasah Nurul Ilmi, Jalan Jembar Wangi RT 05 RW 16, Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, Jumat (18/9/2026).

Menurut Ustaz Aep, sebagian orang merasa cukup dengan amal seadanya untuk akhirat, padahal orientasi seperti itu justru menunjukkan dunia masih lebih dominan dibanding harapan pada keuntungan akhirat.

Ia membandingkan usaha manusia dengan perniagaan bersama Allah. Dalam perdagangan duniawi, seseorang bisa untung, rugi, bahkan tidak memperoleh apa pun.

“Padahal apapun usaha yang kita lakukan hari ini masih ada dua kemungkinan, antara mereka yang mendapatkan keuntungan dari perniagaannya, atau mungkin ada yang mendapatkan kerugian bahkan bisa jadi dia tidak dapat keuntungan sedikit pun. Tetapi Allah SWT tidak demikian, Allah sudah sangat memberikan jaminan kepada kita bahwa dalam berniaga dengan-Nya tidak akan pernah mengalami kerugian sedikit pun,” ujar Ustaz Aep.

Ia melanjutkan dengan membacakan Surah At-Taubah ayat 111 yang menyatakan Allah membeli diri dan harta orang-orang beriman dengan balasan surga. Khatib juga merujuk Surah Ash-Shaff ayat 10
-12 tentang perniagaan yang menyelamatkan dari azab pedih, dengan dua syarat: beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad dengan harta dan jiwa. Balasannya berupa ampunan dosa, surga yang dialiri sungai-sungai, dan tempat tinggal terbaik di surga 'Adn, disebut Al-Qur'an sebagai al-fauzul 'azhim, kemenangan yang agung.

Berbeda dengan kesuksesan dunia yang ukurannya relatif, Ustaz Aep menilai standar sukses akhirat telah ditetapkan Allah sehingga tidak menimbulkan perbedaan pendapat. Kehidupan, kesehatan, dan harta, katanya, adalah modal pemberian Allah yang harus diputar untuk kepentingan akhirat. Orang yang gagal di dunia masih bisa mengulang, sementara kegagalan di akhirat tidak menyediakan kesempatan kedua.

“Gagal di dunia, sepanjang ada kesempatan kita bisa mengulangnya, kita bisa belajar, kita bisa minta tambahan waktu. Tapi bagaimana kalau kita gagal di akhirat? Apakah kita mampu meminta tambahan waktu? Apakah kita bisa belajar kembali?” ujar Ustaz Aep.

Di akhir khutbah, Ustaz Aep mengingatkan tanda-tanda menjelang ajal: rambut memutih, fisik melemah, dan tubuh membungkuk ke tanah. Ia mengajak jemaah menjadikan tanda itu sebagai pengingat untuk memperbanyak pengorbanan harta, tenaga, dan waktu di jalan Allah.

“Utusan yang pertama adalah uban, rambut yang berubah dari hitam menjadi putih. Yang kedua, kelemahan fisik, kita mengalami kelemahan dan mustahil kembali muda. Yang ketiga, badan yang membungkuk ke tanah, menunjukkan kita akan kembali ke tanah. Pertanyaannya, utusan yang mana yang telah sampai kepada kita hari ini?” pungkas Ustaz Aep.

Reporter: Alpiyan Pasha, KPI/3D


Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos