Kupas Makna Kemerdekaan dan Surat An-Nasr, H. Dadan Herdiana Ingatkan Kuasa Allah di Khutbah Jumat Masjid Besar Banjaran

Klik untuk membaca artikel.


Dakwahpos.com, Bandung – Kemerdekaan sebuah bangsa sejatinya bukan sekadar hasil perencanaan dan perjuangan fisik semata, melainkan buah mutlak dari pertolongan serta ketetapan Allah SWT. Pesan mendalam inilah yang ditekankan oleh Ustaz Muhrom saat bertindak sebagai khotib dalam pelaksanaan ibadah salat Jumat di Masjid Besar Banjaran pada Jumat (11/9/2026). Di hadapan para jamaah, beliau mengajak umat Islam untuk merenungkan kembali hakikat kemerdekaan yang diraih oleh bangsa Indonesia dan mengaitkannya dengan peristiwa besar penaklukan kota Mekah (Fathu Makkah).

Dalam pemaparannya, Ustaz Muhrom menjelaskan bahwa kemerdekaan memang harus dibuktikan dengan perjuangan jiwa dan raga. Beliau menyebutkan bahwa tokoh-tokoh besar seperti Cut Nyak Dien, Cut Mutia, hingga Pangeran Diponegoro beserta para ulama telah berjuang habis-habisan di medan perang, namun kemerdekaan belum juga terwujud karena Allah belum menetapkan waktunya. Artinya, segala bentuk usaha dan pengorbanan manusia yang luar biasa sebanyak apa pun, tidak akan membuahkan hasil tanpa adanya rida dan pertolongan dari Sang Pencipta.

Sebagai perbandingan, khotib mengangkat kisah utusan Rasulullah ï·º, Khalid bin Walid, saat hendak menggempur kaum Quraisy. Secara hitungan logika manusia, peristiwa tersebut diprediksi akan meledak menjadi peperangan yang sangat hebat, namun atas takdir Allah, kaum Quraisy justru menyerah tunduk tanpa perlawanan sama sekali dan manusia berbondong-bondong masuk Islam. "Maka, jika Allah telah menetapkan suatu negeri atau bangsa mana pun untuk merdeka, jika memang sudah waktunya, tidak perlu lagi darah yang tumpah," tegas Ustaz Muhrom mengutip hikmah dari turunnya Surat An-Nasr.

Menyambung pembahasan Surat An-Nasr tersebut, beliau juga menyoroti fenomena kekeliruan yang kerap terjadi di tengah masyarakat, khususnya bagi para imam salat. Khotib mengingatkan dengan sangat mewanti-wanti agar umat Islam, terutama para imam, berhati-hati dan teliti dalam membaca Al-Qur'an, jangan sampai memotong lafaz fasabbih tanpa melanjutkannya dengan perintah memohon ampun (wastaghfirhu). "Padahal sudah jelas bahwa mengurangi ayat, walau hanya sedikit dalam Al-Qur'an, ataupun menghilangkannya, itu tidak boleh. Itu termasuk disengaja, sekilas memang terlihat benar tetapi sebenarnya salah," paparnya memberikan teguran agar jamaah menjaga adab membaca firman Allah.

Lebih lanjut, pesan dakwah ini kemudian ditarik pada konteks sejarah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Beliau menyampaikan fakta historis bahwa setelah bangsa ini melewati masa penjajahan selama 350 tahun ditambah 4 tahun pendudukan Jepang yang penuh darah, momen lahirnya kemerdekaan yang diikrarkan oleh Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur justru terjadi secara damai. Hal ini membuktikan bahwa proklamasi tersebut murni merupakan anugerah dan kasih sayang Allah yang turun ketika waktunya telah tepat, persis seperti penaklukan kota Mekah.

Melalui khutbah Jumat yang penuh hikmah tersebut, jamaah Masjid Besar Banjaran diajak untuk memupuk rasa syukur yang tak terhingga atas nikmat kebebasan bernegara dan beragama. Penjelasan ini menjadi pengingat yang menyadarkan umat bahwa peperangan yang terjadi pasca-proklamasi adalah bentuk kewajiban untuk mempertahankan kemerdekaan, bukan lagi memperjuangkannya. Pada akhirnya, mutlak disadari bahwa kemenangan umat (An-Nasr) hanya akan datang jika manusia senantiasa bertasbih, memuji Tuhan, dan memohon ampunan-Nya.

Reporter: Fadly Muhyi Ismail (KPI/3B)

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos