Kembangkan Fasilitas Ibadah, Masjid Al-Muhajirin Tumbuh Sejak 1978

Klik untuk membaca artikel.


Dakwahpos.com, Bandung – Masjid Al-Muhajirin mulai berkembang sejak 1978 sebagai fasilitas ibadah yang dibangun melalui dukungan pengembang dan sejumlah tokoh. Hal tersebut disampaikan Pak Haji Engkon Taryono dalam wawancara pada Jumat (16/10/2026). Pembangunan masjid berlanjut hingga 1984, ketika proses penyelesaiannya mendapat peran dari Habib Sholeh.

Ia menjelaskan bahwa Masjid Al-Muhajirin pada awalnya memiliki kondisi bangunan yang berbeda dengan keadaan sekarang. Menurutnya, pembangunan berlangsung secara bertahap hingga masjid dapat berkembang dan menunjang kebutuhan jamaah yang terus bertambah.

“Awalnya masjid ini tidak seperti sekarang. Pembangunannya berlangsung bertahap hingga fasilitasnya berkembang,” katanya.

Dalam proses pembangunan, kebutuhan jamaah menjadi salah satu hal yang mendorong pengembangan fasilitas masjid. Sejumlah tokoh turut berkontribusi agar bangunan dapat diselesaikan dan digunakan dengan lebih nyaman. Upaya tersebut memperlihatkan kerja sama berbagai pihak dalam mendukung keberlangsungan kegiatan ibadah.

“Jamaahnya banyak, sehingga fasilitas masjid perlu dikembangkan. Para tokoh bersama-sama membantu menyelesaikan pembangunan ini,” ungkapnya.

Ia menuturkan, pembangunan masjid juga melibatkan pembahasan dan pertemuan untuk mencari jalan keluar atas kebutuhan fasilitas. Ia turut menyampaikan gagasan mengenai kondisi bangunan yang saat itu dinilai kurang nyaman bagi jamaah.

“Saya punya ide untuk memperbaiki kondisi di bawah karena sudah tidak nyaman. Dari situ, kami mulai membicarakan bagaimana pembangunan ini bisa dilanjutkan,” imbuhnya.

Setelah melalui proses perencanaan dan koordinasi, pembangunan kemudian berlanjut dengan keterlibatan sejumlah pihak. Peran para tokoh membantu mendorong penyelesaian fasilitas masjid, sehingga bangunan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan keagamaan masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, pembangunan bisa dilanjutkan. Saya juga ikut membantu prosesnya sampai pekerjaan yang diperlukan selesai,” katanya.

Perjalanan Masjid Al-Muhajirin sejak akhir 1970-an menunjukkan peran kerja sama antara pengembang, pengurus, dan tokoh masyarakat. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan fasilitas ibadah yang lebih memadai bagi jamaah.

Reporter: Tasya Ainurrahmah, KPI/3D

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos