Dakwahpos.com, Bandung – Beberapa anak usia dini antusias mengikuti pengajian rutin dengan metode pembelajaran interaktif melalui permainan warna-warni di Masjid Baitussalam, Kamis, (17/09/2026).
Syila, salah satu pengajar pengajian, menjelaskan bahwa materi pada sesi kali ini berfokus pada pembiasaan doa sehari-hari, khususnya doa sebelum makan dan doa masuk masjid. Menurutnya, pembelajaran dikemas secara komunikatif untuk melatih keberanian serta daya ingat peserta sejak dini.
“Dalam setiap aktivitas kita, mulai dari mau makan sampai masuk masjid, selalu ada doanya. Tujuannya agar Allah Swt. Senantiasa menjaga dan memberikan keberkahan dalam hidup kita,” jelas Syila.
Suasana Masjid Baitussalam pun riuh dan penuh keceriaan saat kegiatan dimulai dengan sesi tanya jawab interaktif. Anak-anak yang duduk melingkar disapa dengan pertanyaan pemantik mengenai adab sebelum makan. “Teman-teman, ada yang tahu tidak, sebelum kita makan atau memasukkan makanan ke mulut, doa apa yang harus kita baca?” tanya Syila.
Pertanyaan tersebut disambut sigap oleh salah satu peserta yang mengacungkan tangan dan menjawab, “Doa makan, Bu!” Syila kemudian memandu anak-anak melafalkan doa tersebut secara bersama-sama. “Allahumma baarik lanaa fii maa razaqtanaa wa qinaa ‘adzaa ban-naar,” ucap para peserta dengan penuh semangat. Sebagai bentuk penghargaan atas keaktifan mereka, pengajar membagikan potongan puzzle warna untuk disusun oleh anak-anak.
Suasana semakin seru saat memasuki materi doa masuk masjid. Selain menghafal bacaan Allahummaftah lii abwaaba rahmatik, anak-anak juga diajarkan adab melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu saat memasuki area suci masjid. Di sela-sela mendampingi anak-anak menyusun puzzle, Syila turut menyisipkan pesan moral dan penanaman nilai tauhid secara sederhana. Pesan bahwa setiap aktivitas memiliki doanya pun diamini secara kompak oleh para peserta.
Menjelang akhir sesi, raut wajah bangga terpancar dari anak-anak yang berhasil merangkai potongan puzzle hingga utuh. Kegiatan pun ditutup dengan tepuk tangan bersama dan doa penutup. “Alhamdulillah, anak-anak hari ini sangat pintar dan antusias. Pada pertemuan berikutnya, kita akan belajar doa harian lainnya agar hafalan anak-anak semakin bertambah,” ujar Syila.
Penerapan metode pembelajaran berbasis permainan (game-based learning) seperti ini diharapkan dapat menjadi sarana efektif dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan serta karakter islami pada anak usia dini secara menyenangkan dan mudah dipahami.
Reporter: Dina Aulia Afifan KPI/3D

Tidak ada komentar
Posting Komentar