Dakwahpos.com, Bandung- Keterbatasan fisik dan luas bangunan bukanlah penghalang untuk menyebarkan syiar Islam dan memakmurkan tempat ibadah. Hal inilah yang terpancar dari aktivitas keagamaan di Masjid Nurul Ikhsan. Meski berdiri di atas ruang yang tergolong sempit, masjid ini memiliki agenda keagamaan yang padat serta antusiasme warga yang begitu tinggi.
Ustadzah Iis, salah seorang pengelola sekaligus pengajar di Masjid Nurul Ikhsan, mengungkapkan bahwa ruang masjid yang terbatas disiasati dengan pembagian kelas dan jadwal yang tertata rapi agar seluruh jamaah dari berbagai kalangan tetap dapat tertampung.
Aktivitas Padat Setiap Hari
Semangat memakmurkan masjid terlihat dari padatnya rutinitas pengajian anak-anak. Setiap hari ba'da Magrib hingga Isya, tidak kurang dari 50 anak-anak mulai dari jenjang TK hingga SMP berkumpul untuk belajar Al-Qur'an. "Kalau anak-anak itu kegiatannya full setiap hari ba'da Magrib. Meskipun hari Minggu sekolah libur, anak-anak tetap masuk ngaji. Karena ruangannya terbatas, kita bagi jadi dua kelas ada yang di bawah dan di atas supaya pembelajaran lebih efektif dan terpegang," ujar Ustadzah Iis. Untuk pengajaran anak-anak, Ustadzah Iis dibantu oleh tim pengajar yang terdiri dari keluarga ustaz serta mahasiswa yang bertugas sebagai marbot masjid.
Program Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur'an untuk Ibu-Ibu
Tidak hanya anak-anak, jamaah ibu-ibu pun memiliki agenda rutin mingguan setiap hari Sabtu mulai pukul 13.00 WIB hingga menjelang Asar. Fokus utama program untuk ibu-ibu saat ini adalah memberantas buta huruf Al-Qur'an. "Target awal ibu-ibu di sini fokus belajar baca Qur'an dulu, mulai dari makhrajul huruf sampai ke tajwid. Pembelajarannya bertahap, lalu di satu jam terakhir sebelum Asar diisi ceramah atau kajian fikih, tauhid, hingga sejarah dari ustaz," jelas Ustadzah Iis. Sementara itu, untuk jamaah bapak-bapak, kegiatan pengajian rutin dan pembacaan Surah Yasin digelar setiap malam Jumat ba'da Magrib hingga pukul 20.00 WIB.
Semarak Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
Selain rutinitas harian dan mingguan, Masjid Nurul Ikhsan juga aktif mengagendakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) setiap tahunnya. Berbagai kegiatan rutin digelar, mulai dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan kreasi anak-anak dan marhabaan, Pawai Obor pada bulan Muharram, hingga Pesantren Kilat dan perlombaan Islami saat bulan Ramadan.
Dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat sekitar menjadi kunci utama berjalannya seluruh program keagamaan ini. Masyarakat senantiasa memberikan apresiasi dan rasa gotong royong dalam setiap acara yang diselenggarakan oleh pihak masjid.
Kisah dari Masjid Nurul Ikhsan ini membuktikan bahwa ukuran sebuah bangunan tidak membatasi besarnya semangat warga untuk terus menuntut ilmu dan menjaga nyala syiar Islam di lingkungannya.
Reporter: Amelia Amanda KPI/3C
Ustadzah Iis, salah seorang pengelola sekaligus pengajar di Masjid Nurul Ikhsan, mengungkapkan bahwa ruang masjid yang terbatas disiasati dengan pembagian kelas dan jadwal yang tertata rapi agar seluruh jamaah dari berbagai kalangan tetap dapat tertampung.
Aktivitas Padat Setiap Hari
Semangat memakmurkan masjid terlihat dari padatnya rutinitas pengajian anak-anak. Setiap hari ba'da Magrib hingga Isya, tidak kurang dari 50 anak-anak mulai dari jenjang TK hingga SMP berkumpul untuk belajar Al-Qur'an. "Kalau anak-anak itu kegiatannya full setiap hari ba'da Magrib. Meskipun hari Minggu sekolah libur, anak-anak tetap masuk ngaji. Karena ruangannya terbatas, kita bagi jadi dua kelas ada yang di bawah dan di atas supaya pembelajaran lebih efektif dan terpegang," ujar Ustadzah Iis. Untuk pengajaran anak-anak, Ustadzah Iis dibantu oleh tim pengajar yang terdiri dari keluarga ustaz serta mahasiswa yang bertugas sebagai marbot masjid.
Program Pemberantasan Buta Huruf Al-Qur'an untuk Ibu-Ibu
Tidak hanya anak-anak, jamaah ibu-ibu pun memiliki agenda rutin mingguan setiap hari Sabtu mulai pukul 13.00 WIB hingga menjelang Asar. Fokus utama program untuk ibu-ibu saat ini adalah memberantas buta huruf Al-Qur'an. "Target awal ibu-ibu di sini fokus belajar baca Qur'an dulu, mulai dari makhrajul huruf sampai ke tajwid. Pembelajarannya bertahap, lalu di satu jam terakhir sebelum Asar diisi ceramah atau kajian fikih, tauhid, hingga sejarah dari ustaz," jelas Ustadzah Iis. Sementara itu, untuk jamaah bapak-bapak, kegiatan pengajian rutin dan pembacaan Surah Yasin digelar setiap malam Jumat ba'da Magrib hingga pukul 20.00 WIB.
Semarak Peringatan Hari Besar Islam (PHBI)
Selain rutinitas harian dan mingguan, Masjid Nurul Ikhsan juga aktif mengagendakan Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) setiap tahunnya. Berbagai kegiatan rutin digelar, mulai dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan kreasi anak-anak dan marhabaan, Pawai Obor pada bulan Muharram, hingga Pesantren Kilat dan perlombaan Islami saat bulan Ramadan.
Dukungan dan partisipasi aktif dari masyarakat sekitar menjadi kunci utama berjalannya seluruh program keagamaan ini. Masyarakat senantiasa memberikan apresiasi dan rasa gotong royong dalam setiap acara yang diselenggarakan oleh pihak masjid.
Kisah dari Masjid Nurul Ikhsan ini membuktikan bahwa ukuran sebuah bangunan tidak membatasi besarnya semangat warga untuk terus menuntut ilmu dan menjaga nyala syiar Islam di lingkungannya.
Reporter: Amelia Amanda KPI/3C
Tidak ada komentar
Posting Komentar