Dakwahpos.com, Bandung- Kajian keagamaan Masjid Arrohmah Jati Bandung pada Minggu (13/09/2026) membahas hukum qadha salat serta keadaan yang men
yebabkan seorang muslim perlu mengganti salat yang terlewat. Kajian tersebut disampaikan oleh Ustaz Ayi di hadapan jamaah.
Dalam kajian dijelaskan bahwa qadha salat merupakan kewajiban bagi seseorang yang meninggalkan salat karena lupa atau tertidur. Ketika seseorang baru mengingat salat yang terlewat, maka salat tersebut dianjurkan untuk segera dilaksanakan.
Ustaz Ayi menjelaskan bahwa lupa dan tertidur termasuk keadaan yang menjadi uzur dalam pelaksanaan salat. Oleh karena itu, ketika seseorang bangun dari tidur atau mengingat salat yang belum dilaksanakan, ia perlu segera menunaikannya dan tidak menundanya kembali, ujar Ustaz Ayi.
Selain lupa dan tertidur, kajian juga membahas kondisi seseorang yang kehilangan kesadaran atau pingsan. Dalam kondisi tertentu, orang yang pingsan tidak diwajibkan mengqadha salat yang terlewat selama memang bukan karena kesengajaan meninggalkan salat.
Kajian tersebut juga membahas perbedaan pendapat para ulama mengenai orang yang sengaja meninggalkan salat hingga waktunya habis. Sebagian besar ulama berpendapat bahwa salat yang ditinggalkan tetap wajib diqadha, sementara terdapat ulama lain yang memiliki pandangan berbeda mengenai hal tersebut.
Dalam penjelasannya, narasumber mengingatkan jamaah agar tidak sengaja menunda salat sampai melewati waktunya. Salat merupakan kewajiban yang harus diperhatikan dan dilaksanakan selama masih memiliki kesempatan.
Selain membahas qadha salat, jamaah juga diberikan pemahaman mengenai perbedaan antara salat yang dilakukan pada waktunya dengan salat yang dilaksanakan setelah waktunya berakhir. Qadha merupakan pelaksanaan salat di luar waktu yang semestinya karena adanya sebab tertentu.
Kajian ditutup dengan pengingat agar umat Islam lebih memperhatikan waktu salat dan segera melaksanakan salat ketika waktunya telah tiba. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga kewajiban sebagai seorang muslim.
Reporter: Arsya Nurulhijjah KPI/3A
Pengajian Bapak-Bapak di Masjid Arrohmah Jati Bahas Hukum Qadha Salat
Ustaz Nana Munawar Ingatkan Bekal Menuju Akhirat
Dakwahpos.com, Bandung- Kegiatan kajian keagamaan Masjid Arrohmah Jati Bandung pada Minggu (13/09/2026) membahas tentang singkatnya kehidupan dunia dan pentingnya mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Kajian yang disampaikan oleh Nana Munawar tersebut mengajak jamaah untuk memanfaatkan waktu hidup dengan memperbanyak amal kebaikan dan tidak menunda-nunda ibadah.
Dalam ceramahnya, Nana Munawar menjelaskan kandungan Surah Al-Mu’min atau Ghafir, khususnya mengenai kehidupan dunia yang hanya bersifat sementara, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang kekal. Menurutnya, manusia perlu menyadari bahwa waktu hidup di dunia berjalan sangat cepat dan pada akhirnya setiap orang akan kembali kepada Allah SWT.
Penceramah juga mengingatkan jamaah agar tidak menganggap remeh dosa-dosa kecil. Menurutnya, dosa yang dilakukan sedikit demi sedikit dan terus diulang dapat menjadi banyak. Karena itu, umat Islam dianjurkan untuk segera memohon ampun kepada Allah SWT ketika melakukan kesalahan dengan memperbanyak istighfar. “[Istighfar] sungguh sangat luar biasa,” ujar Nana Munawar dalam kajiannya.
Selain menjauhi dosa, jamaah juga diajak memperbanyak amal saleh selama masih diberikan kesempatan hidup. Amal tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda, selama disertai dengan keimanan kepada Allah SWT. Penceramah menekankan bahwa iman perlu diwujudkan melalui perbuatan dan ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kajian tersebut, kehidupan dunia juga diibaratkan seperti perjalanan seorang musafir. Sebagaimana seseorang yang hendak bepergian perlu menyiapkan biaya, makanan, tempat tinggal, dan berbagai kebutuhan lainnya, manusia juga perlu mempersiapkan bekal untuk perjalanan menuju kehidupan akhirat. Penceramah mengutip pesan Nabi Muhammad SAW kepada Ibnu Umar agar manusia menjalani kehidupan dunia seperti orang asing atau seorang musafir.
Penceramah kemudian mengingatkan bahwa setelah kehidupan dunia, manusia akan memasuki alam kubur sebelum menuju kehidupan akhirat. Karena itu, kesempatan untuk beramal tidak seharusnya ditunda sampai seseorang menghadapi kematian. Menurutnya, ketika seseorang masih hidup, masih memiliki kesempatan untuk salat, bersedekah, berinfak, dan melakukan berbagai amal kebaikan.
Harta juga dibahas dalam kajian tersebut. Penceramah menjelaskan bahwa harta yang digunakan untuk membantu fakir miskin, mendukung fasilitas dakwah, dan kepentingan kebaikan dapat menjadi bekal bagi seseorang di akhirat. Ia juga mengingatkan jamaah bahwa kuburan merupakan tempat yang pada akhirnya akan ditempati setiap manusia, sehingga persiapan untuk kehidupan setelah kematian perlu dilakukan sejak masih hidup.
Di akhir kajian, jamaah diingatkan untuk memanfaatkan lima kesempatan sebelum datang lima keadaan, yaitu memanfaatkan kehidupan sebelum kematian, kesehatan sebelum sakit, masa muda sebelum tua, waktu luang sebelum sibuk, dan kecukupan sebelum datang kesulitan. Pesan tersebut menjadi pengingat agar manusia tidak menunggu waktu yang dianggap lebih tepat untuk melakukan kebaikan.
Penceramah menutup kajian dengan menekankan bahwa iman bukan hanya keyakinan di dalam hati, tetapi harus dibuktikan melalui perbuatan. Salah satunya dengan melaksanakan salat dan menjalankan perintah Allah SWT. Dengan demikian, selama masih diberikan kehidupan dan kesempatan, manusia dianjurkan untuk segera melakukan amal kebaikan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Reporter: Arsya Nurulhijjah KPI/3A

