Dakwahpos.com, Bandung — One Ummah Movement menggelar kajian bersama Ustaz Ghany di Masjid Jaza, Bandung, pada Sabtu (26/9/2026). Kajian tersebut mengangkat tema “Capek Sih, tapi Dikuat-kuatin Aja” dengan membahas makna rasa lelah dalam perspektif Al-Qur’an serta bagaimana seorang muslim menyikapinya.
Dalam kajiannya, Ustaz Ghany menjelaskan perbedaan antara tafsir dan tadabur
Al-Qur’an. Menurutnya, tafsir berkaitan dengan penjelasan makna ayat berdasarkan
pemahaman para ulama yang kompeten, sedangkan tadabur merupakan proses
memahami pesan ayat secara mendalam dan menghubungkannya dengan
kehidupan. “Apa makna ayat ini? Apa konsekuensi daripada ayat ini? Apa dampak
daripada ayat ini? Dan apa yang harus saya lakukan kalau saya baca ayat ini? Nah,
itu namanya tadabur,” jelasnya.
Ustaz Ghany kemudian mengangkat kisah Nabi Musa a.s. dalam Surah Al-Kahfi
ayat 62 sebagai salah satu gambaran bahwa rasa lelah merupakan hal yang wajar,
bahkan dialami oleh seorang nabi. Ia menjelaskan bahwa seseorang boleh
menyampaikan rasa lelah kepada orang yang dipercaya selama bukan dalam
bentuk keluh kesah yang menunjukkan penolakan terhadap takdir Allah. Selain itu,
perjalanan Nabi Musa juga menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup yang panjang
membutuhkan bekal, sebagaimana kehidupan menuju akhirat yang memerlukan
ibadah dan amal saleh.
Lebih lanjut, Ustaz Ghany mengaitkan rasa lelah dengan Surah Al-Insyirah ayat 7,
yang mengajarkan agar manusia tetap bersungguh-sungguh dalam urusan ibadah
setelah menyelesaikan urusan lainnya. Menurutnya, ketika lelah menghadapi urusan
dunia, seseorang perlu mengalihkan energinya untuk mendekatkan diri kepada Allah
melalui ibadah, zikir, doa, dan membaca Al-Qur’an. “Melawan dunia itu nggak cukup
pakai segelas butterscotch atau dirty latte. Tapi ngelawan dunia itu harus juga pakai
Allah,” ungkapnya.
Di akhir kajian, Ustaz Ghany mengingatkan bahwa rasa lelah dalam bekerja, belajar,
maupun beraktivitas merupakan bagian dari kehidupan. Namun, setiap perjuangan
perlu memiliki tujuan yang jelas, yaitu bukan hanya mengejar urusan dunia, tetapi
juga mempersiapkan bekal untuk akhirat. Ia turut menekankan pentingnya menjaga
keseimbangan antara semangat, kondisi fisik, dan kebutuhan untuk beristirahat agar
seseorang dapat terus berjuang tanpa mengabaikan hak tubuhnya.
Reporter: Nurul Husna, KPI 3/B

Tidak ada komentar
Posting Komentar