Dakwahpos.com, Bandung - Jemaah Salat Jumat di Masjid dan Madrasah Nurul Ilmi, Jalan Jembar Wangi RT 05/RW 16, Desa Cibiru Wetan, Kabupaten Bandung, mendapatkan pencerahan penting mengenai hubungan manusia dengan lingkungan hidup, Jumat (23/10/2026). Dalam khotbahnya, Ustaz Achmad Faisal menekankan bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari manifestasi keimanan dan bentuk tanggung jawab manusia sebagai (khalīfatun fil-arḍ).
Mengawali khotbah pertama, Ustaz Faisal memaparkan pemaknaan mendalam mengenai kata (‘ālam) alam semesta yang secara etimologis berakar dari kesatuan rumpun kata yang sama dengan ‘ilm (ilmu) serta (‘alāmah) tanda. Keterkaitan kebahasaan yang erat ini mengisyaratkan pesan filosofis bahwa alam semesta hakikatnya diciptakan sebagai sumber ilmu pengetahuan yang luas, sekaligus menjadi wadah bagi manusia untuk membaca, merenungi, dan mengenali kebenaran. Lebih lanjut, keberadaan alam sebagai (‘alāmah ) menunjukkan posisinya sebagai simbol dan isyarat nyata yang menuntun akal pikiran manusia untuk senantiasa mengagungkan kehadiran serta kekuasaan Allah SWT melalui lembaran ayat-ayat (kauniyah) yang terbentang luas di muka bumi.
“Hubungan kita sebagai manusia dengan alam bukanlah hubungan eksploitasi, melainkan hubungan amanah. Kita berperan sebagai (khalīfatun fil-arḍ) penanggung jawab di bumi yang harus menjaga kelestarian,” tegas Ustaz Achmad Faisal di hadapan jemaah.
Dia menambahkan bahwa sikap mengabaikan, merusak, ataupun mencemari keasrian alam sekitar bukanlah sekadar bentuk kesalahan atau kelalaian ekologis belaka, melainkan telah menjelma menjadi wujud nyata pengingkaran terhadap nilai-nilai ketuhanan yang terpancar dari ayat-ayat (kauniyah). Apabila setiap pribadi muslim konsisten memandang alam semesta menggunakan kacamata tauhid yang lurus di mana setiap fenomena diposisikan sebagai cerminan kebesaran Sang Pencipta maka niscaya berbagai tindakan destruktif yang merugikan, seperti pembalakan liar, insiden kebakaran hutan yang disengaja, hingga maraknya alih fungsi lahan demi memuaskan ambisi keserakahan pribadi, tidak akan pernah terjadi di muka bumi.
Memasuki khotbah kedua, Ustaz Achmad Faisal mengupas kandungan Surah Ar-Rum ayat 41 tentang fenomena kerusakan di daratan dan lautan yang dipicu oleh perbuatan tangan manusia (bimā kasabat aidī an-nās). Dia menjelaskan bahwa menurut penafsiran para ulama, bentuk kerusakan atau (fasād) tersebut terbagi ke dalam tiga aspek utama kehidupan. Aspek pertama mencakup kerusakan akidah yang berupa segala bentuk tindakan kemusyrikan dan penyimpangan dari kebenaran, yang secara historis kerap menjadi pemicu turunnya azab bagi umat terdahulu. Aspek kedua adalah kerusakan sosial dan moral yang meliputi praktik korupsi, penipuan, serta berbagai tindakan tercela yang merugikan kepentingan publik. Adapun aspek ketiga adalah kerusakan alam yang berwujud eksploitasi lingkungan secara ugal-ugalan hingga merusak keseimbangan ekosistem bumi
Ustaz Achmad Faisal menegaskan bahwa mayoritas kerusakan yang terjadi bukanlah murni faktor cuaca ekstrem, melainkan ulah manusia yang tamak. Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, dia mengingatkan bahwa keserakahan manusia terhadap harta tidak akan pernah ada habisnya hingga ajal menjemput. Di akhir khotbahnya, Ustaz Achmad Faisal mengajak seluruh jemaah untuk memperkuat fondasi iman dan tauhid agar terhindar dari sifat tamak, serta mulai aktif merawat lingkungan dari lingkup terkecil mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat sekitar.
Reporter: Alpiyan Pasha, KPI/3D

Tidak ada komentar
Posting Komentar