Masjid Nurul Iman Panyileukan, Berawal dari Inisiatif Warga hingga Berkembang Menjadi Pusat Kegiatan Keagamaan

Klik untuk membaca artikel.

Dakwahpos.com, Bandung- Masjid Nurul Iman tumbuh dari semangat gotong royong masyarakat sejak sekitar 1988. Berawal dari tempat ibadah sederhana, masjid ini berkembang menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, dan sosial bagi warga sekitar.

Berdasarkan keterangan Ustad Sutyono, Masjid Nurul Iman diperkirakan telah dibangun sekitar tahun 1988. Meski demikian, tahun pasti pendiriannya belum dapat dipastikan. Pada awal berdirinya, masjid ini masih sederhana dan kemudian mengalami perkembangan seiring meningkatnya kebutuhan serta partisipasi masyarakat.

Menurut Ustad Hidayat, pembangunan masjid berawal dari inisiatif warga setempat. Pada mulanya, terdapat tempat sederhana di wilayah Blok C, di sekitar rumah kosong dan lahan yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan material bangunan. Warga kemudian berinisiatif memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat beribadah. Seiring berjalannya waktu, masjid berkembang dan mengalami perubahan fisik.

Perkembangan fisik masjid berlangsung secara bertahap. Ustad Sutyono menjelaskan bahwa renovasi dan pembangunan dilakukan dari waktu ke waktu, termasuk pada masa kepengurusan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) yang berbeda. Beberapa nama yang disebut pernah memimpin Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) adalah Almarhum Pak Otif, Pak Aman, Pak Soleh, Pak Thomas, dan Pak Kurnadi. Ustad Hidayat menjelaskan bahwa setiap pergantian kepemimpinan turut membawa perkembangan bagi pembangunan masjid.

Selain pembangunan fisik, pengelolaan kegiatan masjid juga mengalami perkembangan. Sekitar tahun 2009, warga mendirikan yayasan agar kegiatan di lingkungan masjid lebih terarah. Sebelum yayasan berdiri, telah ada DKM dan kegiatan pendidikan taman kanak-kanak (TK). Menurut Ustad Sutyono, yayasan diperlukan karena dulu DKM belum memiliki badan hukum yang dibutuhkan untuk mengelola kegiatan pendidikan secara lebih formal. Yayasan tersebut kemudian membawahi DKM dan TK.

Dalam perkembangannya, yayasan juga mendirikan koperasi. Ustad Sutyono menyebut koperasi dibentuk setelah yayasan berdiri. Kegiatan pengumpulan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) juga pernah dikelola melalui badan khusus. Namun, pengelolaan khusus tersebut hanya berjalan sekitar satu tahun. Setelah itu, kegiatan ZIS kembali lebih banyak ditangani oleh DKM. Hingga saat ini kegiatan TK dan koperasi masih berjalan lancar.

Ustad Hidayat menegaskan bahwa pembangunan masjid merupakan hasil inisiatif dan keterlibatan warga, terutama para sesepuh yang tinggal di lingkungan tersebut. Beberapa nama yang disebut antara lain almarhum Pak Otif, almarhum Pak Haji Suyud, Pak Haji Rosyid, Pak Haji Ahmad, Pak Supardi, Pak Oman, serta Pak Aat dan Pak Yono. Ia juga menyebut Pak Aat sebagai salah satu tokoh yang berinisiatif mengajak para pemuda untuk membangun masjid.

Sejarah Masjid Nurul Iman menjadi bukti pentingnya kebersamaan dan gotong royong dalam membangun sarana ibadah sekaligus mengembangkan kegiatan masyarakat. Dari bangunan sederhana yang lahir atas inisiatif warga, masjid ini tumbuh menjadi tempat yang mendukung aktivitas keagamaan, pendidikan, dan sosial. Meski tahun pasti pendiriannya masih perlu dikonfirmasi, kontribusi masyarakat tetap menjadi bagian utama dalam perjalanan perkembangan Masjid Nurul Iman.

Reporter: Muhammad Akmal Musyaffa, KPI/3B

 

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos