Khatib Ustaz Ahmad Muhajir Tekankan Hakikat Takwa: Imbangi Hubungan Vertikal dan Horizontal di Era Digital

Klik untuk membaca artikel.

Dakwahpos.com, Bandung — Jamaah Masjid Al-Muhajirin menyimak khotbah Jumat yang disampaikan oleh Ustaz Ahmad Muhajir. Khotbah tersebut berfokus pada pentingnya memahami hakikat ketakwaan yang sejati serta dampaknya dalam kehidupan di era modern, Jumat (09/10/2026)

Dalam penyampaiannya, Ustaz Ahmad Muhajirin menegaskan bahwa ketakwaan tidak cukup hanya dimaknai sebatas menjalankan ibadah ritual seperti salat lima waktu atau sekadar menjauhi maksiat secara pribadi. Menurut beliau, merujuk pada pandangan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, ketakwaan yang sejati tercermin dari keseimbangan hubungan vertikal kepada Allah (hablum minallah) dan hubungan horizontal sesama manusia (hablum minannas).

"Tidak cukup kita melaksanakan salat lima waktu saja, bahkan tidak cukup kalau kita hanya menjauhi maksiat saja. Ketakwaan yang sejati dan diaplikasikan dalam kehidupan adalah yang baik hubungannya dengan Allah dan baik pula hubungannya dengan manusia," tutur Ustaz Ahmad di hadapan para jamaah. Beliau mencontohkan, seseorang yang rajin beribadah namun tidak menjaga kerukunan dengan tetangga menunjukkan pemahaman takwa yang belum sempurna.

Selain itu, beliau juga menyoroti tantangan kelalaian di era digital, di mana perkara-perkara makruh kerap luput dari pengawasan diri. Beliau mengkritisi kebiasaan masyarakat modern yang terlalu lama menghabiskan waktu bermain gawai, seperti terus-menerus men-scroll media sosial Instagram dan TikTok, hingga jari-jemari yang mengetik kata-kata tak senonoh.

"Fokus manusia saat ini di era modern hanya sekitar 8 detik, bahkan lebih pendek dari fokus ikan mas. Hal ini membuat nasihat kebaikan dan wasiat ketakwaan mudah luput dari ingatan kita," jelasnya.

Ustaz Ahmad menambahkan, kegagalan mengontrol hawa nafsu dan gawai turut berdampak pada kehidupan sosial dan keluarga, seperti lahirnya anak-anak yang temperamental, lunaknya rasa hormat kepada orang tua, hingga munculnya perilaku perundungan (bullying) di lingkungan sebaya.

Di akhir khotbahnya, Ustaz Ahmad Muhajirin mengingatkan jamaah bahwa ketakwaan merupakan tolok ukur kemuliaan tertinggi di sisi Allah SWT, sebagaimana tertera dalam surah Al-Hujurat ayat 13 dan surah An-Naba. Kemuliaan tidak ditentukan oleh tinggi jabatan, banyaknya harta, atau luasnya ilmu pengetahuan, melainkan ketakwaan yang dilaksanakan secara ikhlas.

Reporter: Arya Ronna, KPI/3D

 

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos