Dakwahpos, Majalengka- KH Ali Ahmad Lili Kamal menyampaikan kajian tentang tiga landasan ketaatan kepada Allah SWT dalam pengajian di Masjid Hidayah Baitul Kamal Majalengka pada Rabu malam Kamis (28/10/2026). Mengacu pada pemikiran Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi dalam kitab Tanbihul Ghafilin, ia menjelaskan bahwa rasa takut kepada Allah (khauf), harapan terhadap rahmat-Nya (raja), dan cinta kepada-Nya (hubb) menjadi tiga hal penting yang dapat mendorong seorang hamba untuk lebih tekun dan ikhlas dalam beribadah.
Dalam kajian tersebut, KH Ali Ahmad Lili Kamal menjelaskan bahwa ketaatan kepada Allah terkadang terasa berat apabila seseorang belum memiliki landasan batin yang kuat. Oleh karena itu, umat Islam perlu menumbuhkan pemahaman dan perasaan yang dapat menjaga semangat beribadah, sehingga ketaatan tidak hanya dilakukan sebagai kewajiban, tetapi juga menjadi kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Landasan pertama adalah khauf, yaitu rasa takut kepada Allah Swt. Menurut penjelasan dalam kajian tersebut, rasa takut ini bukan sekadar takut terhadap hukuman atau murka Allah, melainkan juga kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dan senantiasa membutuhkan pertolongan-Nya. Kesadaran tersebut diharapkan dapat mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan dosa serta lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.
KH Ali Ahmad juga mengingatkan bahwa manusia tidak sepenuhnya berkuasa atas dirinya sendiri. Harta dan berbagai fasilitas yang dimiliki tidak selalu dapat menjamin ketenangan hidup. Seseorang dapat memiliki banyak hal, tetapi tetap menghadapi kegelisahan dan persoalan yang tidak mampu diselesaikan hanya dengan kemampuan sendiri. Karena itu, manusia perlu menyadari pentingnya bergantung kepada Allah Swt.
Landasan kedua adalah raja, yaitu berharap terhadap rahmat, ampunan, dan pertolongan Allah Swt.Harapan ini menjadi dorongan bagi seseorang untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya, termasuk melalui pengajian dan majelis zikir. Dengan memiliki harapan terhadap rahmat Allah, seseorang diharapkan tetap bersemangat menjalankan ibadah dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
Dalam penjelasannya, keikutsertaan dalam majelis ilmu dan zikirjuga dapat dipandang sebagai ikhtiar untuk memperoleh pertolongan serta rahmat Allah, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Harapan tersebut perlu disertai ketaatan dan usaha memperbaiki diri, bukan sekadar keinginan tanpa tindakan.
Adapun landasan ketiga adalah hubb atau mahabbah, yaitu cinta kepada Allah Swt. KH Ali Ahmad menjelaskan bahwa cinta dapat membuat ibadah terasa lebih indah dan ringan untuk dijalankan. Ketika seseorang telah menumbuhkan rasa cinta kepada Allah, ia tidak hanya beribadah karena takut terhadap hukuman atau mengharapkan pahala, tetapi juga karena keinginan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.
Ia mengibaratkan bahwa sesuatu yang dilakukan dengan rasa suka dan cinta akan terasa lebih ringan. Hal serupa berlaku dalam ibadah. Ketika hati mulai mencintai Allah, seseorang diharapkan dapat menikmati kegiatan keagamaan, seperti menghadiri majelis ilmu, berzikir, dan menjalankan berbagai bentuk ketaatan lainnya.
Ketiga landasan tersebut saling melengkapi dalam membentuk ketaatan seorang Muslim. Khauf menumbuhkan kehati-hatian dalam bertindak, raja’ menjaga harapan terhadap rahmat Allah, sedangkan hubb menghadirkan rasa cinta yang membuat ibadah dijalani dengan lebih tulus. Ketiganya dapat menjadi bekal untuk menjaga istiqamah dalam beribadah.
Pada akhir kajian, KH Ali Ahmad Lili Kamal berharap agar pertemuan dalam majelis keagamaan dapat menjadi jalan bagi jamaah untuk memperoleh cahaya keimanan, kebahagiaan, serta kecintaan kepada Allah Swt.Ia juga berharap agar nilai-nilai tersebut dapat diwariskan kepada anak-anak dan keturunan, sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan senantiasa menjaga ketaatan kepada Allah.
Melalui kajian ini, jamaah diajak memahami bahwa membangun ketaatan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, tetapi juga memperkuat hati dengan rasa takut, harapan, dan cinta kepada Allah Swt.Dengan ketiga landasan tersebut, ibadah diharapkan tidak lagi dirasakan semata-mata sebagai beban, melainkan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Reportet: Najma Nur Fajriyah Kamal/KPI3C

Tidak ada komentar
Posting Komentar