Dalam penyampaiannya, ia menjelaskan secara mendalam bahwa sikap istikamah merupakan cermin utama dari kuatnya keimanan seseorang. Untuk memperkuat argumentasi tersebut, ia mengutip sebuah hadis shahih riwayat sahabat Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi. Dalam riwayat itu, beliau pernah meminta nasehat ringkas namun padat dari Rasulullah SAW mengenai ajaran Islam. Menjawab permintaan tersebut, Rasulullah SAW memberikan pesan yang sangat mendasar namun memiliki makna mendalam bagi setiap muslim.
"Istikamah yang sejati itu dilandasi oleh keimanan. Orang yang beristikamah adalah mereka yang teguh pendirian dalam menjalankan kewajiban dari Allah SWT serta mampu menghadapi godaan setan," ujar Ustaz Wahyudi di hadapan para jamaah.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa ibadah kepada Allah SWT tidak memiliki batas waktu atau jeda selama seseorang masih bernapas, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an surah Al-Hijr ayat 99. Selain ibadah (mahḍah) seperti salat, ia juga mengimbau jamaah untuk mengubah rutinitas harian, seperti makan dan tidur, itu menjadi bernilai ibadah di mata Allah SWT dengan cara mencontoh sunah Rasulullah SAW.
"Makan dengan tangan kanan, membaca doa, serta berhenti sebelum kenyang adalah contoh sederhana bagaimana aktivitas harian kita bisa bernilai pahala," tambahnya.
Mengakhiri khutbahnya, ia menguraikan keutamaan bagi orang yang beristikamah, di antaranya akan didampingi malaikat saat sakratulmaut, dihilangkan rasa takut dan sedihnya, serta mendapatkan perlindungan langsung dari Allah SWT baik di dunia maupun di akhirat. Ia juga membagikan empat langkah praktis agar umat Islam dapat menjaga istikamah, yakni memurnikan niat, berislam secara menyeluruh (kaffah), memulai amalan kebaikan dari hal kecil secara konsisten, serta memperbanyak doa memohon ketetapan hati.
Rangkaian ibadah salat Jumat di Masjid Nurul Ilmi tersebut berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh kekhusyukan hingga akhir doa penutup.
Reporter: Alpiyan Pasha, KPI/3D

Tidak ada komentar
Posting Komentar