Dakwahpos.com, Bandung—Suasana khidmat tampak menyelimuti Masjid Al-Khairat Cipadung, Bandung, tatkala ratusan jemaah ibu-ibu antusias menghadiri pengajian rutin mingguan yang diisi oleh penceramah Ustadz Ayi. Acara yang bertujuan untuk memperdalam ilmu keislaman serta memperkuat keimanan ini diselenggarakan dengan tertib, di mana para jemaah menyimak pemaparan materi tentang pentingnya mempersiapkan diri menghadapi kehidupan akhirat melalui zikir dan peningkatan amal saleh.
Dalam ceramahnya, Ustadz Ayi menjelaskan secara mendalam mengenai hakikat kematian yang pasti akan dihadapi oleh setiap manusia. Beliau memaparkan bahwa sakaratul maut dan perpindahan ke alam barzakh merupakan gerbang awal perjalanan menuju akhirat, yang diibaratkan sebagai sebuah peristiwa penting dan peringatan besar bagi kehidupan manusia sebelum menghadap Sang Pencipta.
Lebih lanjut, Ustadz Ayi mengungkapkan penjelasannya dengan menegaskan, “Maot mah kiamat leutik. Al-qabru awwalu manzilin min manazilil akhirah. Kubur téh tempat persinggahan kahiji nuju ka ahérat.”
Beranjak dari pembahasan tersebut, Ustadz Ayi turut mengingatkan para jemaah mengenai kengerian siksa kubur yang digambarkan begitu nyata, merujuk pada kisah para sahabat seperti Sayyidina Utsman bin Affan yang senantiasa menangis ketika mengunjungi makam. Beliau menyampaikan bahwa tidak ada satu pun amal perbuatan duniawi yang dapat menyelamatkan manusia dari siksa kubur yang pedih kecuali kedekatan hamba kepada Allah SWT.
Pernyataan tersebut dipertegas oleh Ustadz Ayi melalui kutipan langsung, “Bu, teu aya amal-amalan nu bisa nyalametkeun urang tina siksa kubur. Nyalametkeun, kecuali dzikir ka saha? Allah. Jadi, jalma nu bakal salamet engké dina poé kubur, alam barzakh, nyaéta jalma nu éling ka Allah.”
Sebagai solusi dan panduan amalan, Ustadz Ayi kemudian menjelaskan mengenai apa yang harus dilakukan oleh umat Islam, yakni dengan menyisihkan waktu khusus setiap harinya untuk mengosongkan diri dari kesibukan duniawi. Waktu tersebut hendaknya dimanfaatkan sepenuhnya untuk berzikir mengingat Allah dengan hati yang ikhlas dan bersih tanpa motif selain mengharap ridha-Nya.
Ajakan tersebut disampaikan langsung oleh Ustadz Ayi kepada para jemaah, “Sisihkeun sajam tina sapoé. Da moal rugi, moal. Moal nambahan kasangsaraan, malah bakal méré kabagjaan, kauntungan, bébas tina siksa kubur. Saha jalma nu maca kalimah la ilaha illallah bari mukhlis, bersih haté, éta jalma bakal salamet tina siksa kubur.”
Kesan mendalam turut dirasakan oleh salah seorang jemaah senior, Ibu Titi Ningsih (55), yang telah lama mengikuti pengajian di Masjid Al-Khairat sejak tahun 2010. Menurutnya, pemaparan yang disampaikan oleh Ustadz Ayi sangat berbobot dan serius, serta senantiasa membuka kesadaran jemaah untuk terus mengevaluasi diri dan memperbanyak zikir sebagai bekal di akhirat.
Terkait hal tersebut, Ibu Titi Ningsih mengungkapkan kesan dan pesannya seusai pengajian, “Kalau Pak Ustaz Ayi, beliau bukan tipe yang suka bercanda. Beliau serius memberikan pemahaman supaya kita istiqamah dalam belajar dan mencari ilmu, begitu, Neng. Insyaallah, sambil melakukan apa saja, diingat-ingat saja, zikir ‘La ilaha illallah’.”
Reporter : Zeyni Jilan Nadezda Mentari, KPI/3C
Tidak ada komentar
Posting Komentar