Ajak Umat Kembali pada Esensi Syukur Lewat Shalat, Khatib Jumat Masjid Nurul Iman Panyileukan Kritik Wacana 'Syukuran' Kemerdekaan

Klik untuk membaca artikel.



Dakwahpos.com, Bandung-Dalam khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid Nurul Iman Panyileukan, khatib mengangkat sorotan kritis terhadap istilah "syukuran" yang kerap digunakan masyarakat saat merayakan hari kemerdekaan. Menurutnya, ada pergeseran makna yang perlu dikaji ulang. Jum’at (11/09/2026)

Khatib menjelaskan bahwa dalam bahasa Arab, kata "syukur" yang ditulis dengan huruf syin besar bermakna rasa terima kasih dan ungkapan kegembiraan atas nikmat yang diberikan Allah. Namun, ketika berubah menjadi "syukuran" dengan sin kecil, maknanya justru bergeser menjadi "mabuk" atau kelewat batas dalam bersukacita. Ia menilai banyak perayaan kemerdekaan yang diisi dengan panggung hiburan berlebihan termasuk pertunjukan yang memamerkan aurat dan memicu mabuk-mabukan sebenarnya sudah keluar dari esensi syukur yang sesungguhnya dan lebih tepat disebut "syukuran" dalam makna negatif tersebut.

Untuk meluruskan pemahaman ini, khatib mengutip pemikiran seorang ulama bernama Syekh Ahmad bin Syekh Al-Mujahid Al-Fasyani, murid Imam Syafi'i yang juga dikenal ahli psikologi, dalam kitabnya Majalisus Syaniyah. Menurut Syekh Al-Fasyani, bentuk syukur yang paling utama bagi umat Islam adalah pelaksanaan salat lima waktu, karena salat merupakan wujud rasa terima kasih atas nikmat panca indra yang diberikan Allah.

Khatib memaparkan analisis psikologis dari kitab tersebut secara berurutan, mulai dari shalat Subuh sebagai bentuk syukur atas nikmat kesadaran dan "rasa" setelah tubuh terlelap tidur berjam-jam tanpa kendali. Shalat Zuhur sebagai syukur atas indra penciuman yang dinilai paling tajam sekitar tengah hari saat menikmati hidangan. Shalat Ashar sebagai syukur atas indra pendengaran yang mulai melemah menjelang sore. Shalat Maghrib sebagai syukur atas indra penglihatan pada momen paling krusial ketika cahaya berubah dari terang ke gelap dan rawan memicu kecelakaan lalu lintas akibat blank spot. Hingga shalat Isya sebagai syukur atas indra pengecap atau lidah yang mulai berkurang kepekaannya di penghujung hari.

Khatib menutup pesannya dengan mengutip kisah Rasulullah SAW yang tetap gigih melaksanakan salat malam hingga lututnya bengkak, meski telah dijamin masuk surga. Ketika ditanya Aisyah, Rasulullah menjawab bahwa beliau ingin dikenal sebagai orang yang paling bersyukur. Kisah ini, menurut khatib, menegaskan bahwa salat dan sujud adalah bentuk syukur tertinggi—jauh melampaui sekadar seremoni atau hura-hura dalam memperingati kemerdekaan.

Pesan khutbah tersebut mengajak umat Islam untuk kembali memahami makna syukur secara lebih mendalam. Peringatan kemerdekaan pada akhirnya tidak hanya dimaknai sebagai momentum untuk bergembira, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai agama.


Reporter: Muhammad Akmal Musyaffa, KPI/3B

Tidak ada komentar

Iklan Dakwahpos
Iklan Dakwahpos
Iklan Kiri Dakwahpos
Iklan Kanan Dakwahpos