Dakwahpos.com, Bogor-Kegiatan rutin, pengajian malam ahad, yang kembali dilakukan oleh jamaah bapak-bapak di masjid Al-Ihsan, dimulai dengan ucapan terima kasih dari Ustaz Aden Bahrul Ulum kepada jamaah yang telah mendoakan keselamatan beliau selama ibadah umroh kemarin. Setelah itu, aktivitas yang sebenarnya dimulai.
Ustaz Aden Bahrul Ulum memulai ceramahnya di Masjid Al-Ihsan dengan menceritakan kisah umrahnya yang tidak berjalan mulus, beliau mengatakan, "Jadwalnya umrah 10 hari, ternyata qadarullah Allah takdirkan jadi 14 hari." (Sabtu, 24/09/2026) Perpanjangan itu dibuat karena seorang jemaah di pesawat terserang penyakit jantung, sehingga rombongan tinggal di Oman selama tiga hari, dan 23 jemaah lainnya kembali ke rumah. Walau bagaimanapun, dia tetap percaya bahwa "di setiap kejadian pasti dibaliknya ada hikmah dan pelajaran." Menurutnya, hikmah itu terbukti ketika ia membantu seorang tenaga kerja Indonesia yang hampir putus asa di penampungan kedutaan dan mengajaknya kembali untuk salat berjamaah, berwirid, dan berdoa.
Ustaz Aden menjelaskan bahwa tenaga kerja tersebut berada dalam kebingungan karena terjepit antara ancaman majikan dan tuntutan nafkah keluarga. Menurutnya, "tidak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk meredam itu semua kecuali kembali kepada Allah Subhanahu Wa Taala." Beliau merujuk pada firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa hati menjadi tenang hanya dengan mengingat-Nya, dan bahwa keadaan justru memburuk ketika seseorang dilanda kepanikan. Karena itu ia menegaskan, "Kalau hati sudah tenang, pikiran tenang, jalan keluar bisa dicari." Ujar ustaz Aden (sabtu, 24/09/2026).
Memasuki inti kajian, dia berpikir tentang jarak antara Mekkah dan Madinah yang ia lihat di layar pesawat dari Indonesia. Dia kemudian mempertanyakan mengapa jemaah masih belum sampai ke tanah suci hingga saat ini. Beliau mencontohkan Ustaz Ajuan, seorang kenalannya, yang berjalan kaki dari Indonesia ke Mekkah selama sekitar sepuluh bulan berbekal lima juta rupiah. Beliau akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa kerinduan dan cinta yang masih jauh adalah masalahnya, bukan jarak. Ia mengaitkannya dengan perantau yang rindu rumah, yang rela menyisihkan uang untuk bensin, jalan raya, dan oleh-oleh agar bisa kembali.
Ustaz Aden kemudian mengajak jemaah mengingat kembali pertemuan Nabi Adam dan Ibu Hawa di Jabal Rahmah, Bukit Kasih Sayang, setelah mereka turun ke bumi. Ia berseloroh bahwa jemaah sejatinya adalah "orang sono" karena keduanya adalah keturunan manusia. Melalui kelakar itu, dia ingin menunjukkan kepada jemaah bahwa mereka tidak perlu minder karena mereka berasal dari keturunan para nabi dan bahwa merindukan tanah suci sama dengan merindukan tanah leluhur.
Beliau menekankan pentingnya niat yang sungguh-sungguh dengan mengatakan bahwa ketika sebuah target dipasang, "kita sudah menunjukkan keseriusan kita kepada Allah Subhanahu Wa Taala." Menurutnya, niat umrah pada bulan tertentu boleh diundur ke tahun berikutnya tanpa dosa apabila belum ditakdirkan. Sambil mengajak jemaah menghapus keraguan, ia mengingatkan, "Dari mana itu bukan urusan kita, melainkan urusan mutlak Allah." Ucap Ustaz Aden (sabtu, 24/09/2026) Setelah berniat, jemaah dianjurkan beramal dengan istigfar seribu kali dan selawat seribu kali, lalu berdoa dengan penuh keyakinan.
Ustaz Aden juga mengajak jemaah meluruskan cara pandang agar tidak menggantungkan diri pada uang, melainkan hanya kepada Allah. Menurutnya, jika Allah yang menjadi tempat bergantung, maka ada uang maupun tidak ada uang, seseorang tetap bisa berangkat. Beliau bersaksi bahwa dirinya berangkat tanpa biaya karena membawa rombongan, dengan ketentuan sepuluh jemaah mendapat satu gratis, sehingga jemaah pun dapat mengupayakannya. Ia turut menenangkan jemaah dengan berpesan agar tidak takut kelaparan di tanah suci, sebab mereka adalah tamu Allah.
Menurut hadis riwayat Ibnu Abi Dunya dari Asad bin Wadi'ah, "Barang siapa mengucapkan la haula wala quwwata illa billahil 'aliyyil 'azim seratus kali setiap hari, maka kefakiran tidak akan menimpanya selamanya." Ustaz Aden menyatakan bahwa janji ini lebih pasti daripada terbitnya matahari esok pagi karena Nabi Muhammad dijuluki Al-Amin, sosok yang bangsa Arab percaya sepenuhnya sebelum kenabian. Selain itu, ia menyatakan bahwa kalimat hauqalah ini merupakan "bentuk penyerahan diri level maksimal." Ujarnya sabtu,24/09/2026) Menurutnya, saat mengucapkannya, seseorang mengakui bahwa tanpa izin Allah, kerja keras dan kecerdasan tidak cukup untuk menarik rezeki.
Sebagai penutup, beliau memberikan panduan praktis agar amalan tersebut mudah dijalankan, yakni dicicil 20 kali setiap selesai salat fardu sehingga genap seratus kali sehari. Beliau menambahkan, "karena kalimatnya pendek, amalan ini sangat gampang diwiridkan," ucap Ustaz Aden. misalnya dengan tasbih digital saat menyetir, menunggu angkot, atau memasak.
Ceramah ditutup dengan doa agar jemaah senantiasa diberi kesehatan, umur panjang, dan rezeki yang berkah, serta dimudahkan berangkat umrah dan haji. Harapan itu beliau rangkum dengan pesan bahwa yang terpenting adalah "tinggal maunya, tinggal cintanya, tinggal rindunya yang ditambahkan." Ucapnya menutup kegiatan tersebut (sabtu,24/09/2026).
Tidak ada komentar
Posting Komentar