Dakwahpos.com, Bandung – Jamaah Masjid Jami' Al-Jihad antusias mengikuti kajian rutin
bertajuk "Keutamaan Banyak Mengingat Kematian dan Keagungan Kitab Al-Jana'iz (Bulughul
Maram)" yang disampaikan Ustaz Hasan Al Basri di Masjid Jami' Al-Jihad, Jumat (18/09/2026).
Dalam ceramahnya, Ustaz Hasan Al Basri membuka kajian dengan mengajak jamaah meluruskan
niat dalam menuntut ilmu. Ia menekankan bahwa kebaikan lahiriah mendatangkan cinta manusia,
sedangkan kebaikan batiniah mendatangkan cinta Allah Swt. dan para malaikat. "Penilaian dari
Allah itu jauh lebih penting daripada penilaian manusia," ucapnya.
Ustaz Hasan Al Basri melanjutkan pembahasan syarah Kitab Al-Jana'iz min Bulughil Maram karya
Imam Al-Hafiz Ibnu Hajar Al-Asqalani. Menurutnya, kitab ini biasa ditempatkan setelah
pembahasan salat karena kualitas salat seseorang turut menentukan keadaan kematiannya. Ia
mengutip sabda Nabi Muhammad saw. bahwa perkara pertama yang dihisab pada hari kiamat
adalah salat. Ia juga menjelaskan makna kata Al-Jana'iz sebagai bentuk jamak dari jenazah, yang secara bahasa
berarti orang yang tertutup kain kafan. Menurutnya, hal itu bermakna bahwa aib dan harta
seseorang akan tertutup begitu ia wafat, lalu beralih kepada ahli waris.
Memasuki hadis pertama, Ustaz Hasan Al Basri mengutip riwayat Abu Hurairah radhiyallahu anhu
yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi dan An-Nasa'i. "Perbanyaklah mengingat pemutus
kelezatan, yaitu kematian," jelasnya, mengutip sabda Rasulullah saw. Ia menegaskan bahwa
perintah tersebut berlaku bagi seluruh umat tanpa memandang usia maupun jenis kelamin.
Ustaz Hasan Al Basri memaparkan hikmah pertama mengingat kematian, yaitu kesadaran bahwa
usia manusia terbatas, rata-rata 60 hingga 70 tahun, sehingga waktu yang ada tidak boleh
disiasiakan. Ia mengutip hadis riwayat Imam Al-Bukhari dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu
anhu, "Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa
dan banyak menangis," katanya. Mendengar sabda tersebut, para sahabat disebutkan langsung
menutup wajah sambil menangis.
Hikmah kedua, lanjutnya, adalah terjaganya hati dari kelalaian. Ia mencontohkan kisah Nabi
Sulaiman alaihis salam dalam QS. Sad ayat 30-35 yang sempat lalai dari salat Asar karena terpukau
kuda-kuda perangnya, hingga akhirnya menyembelih kuda tersebut demi menjaga ibadahnya.
Ustaz Hasan Al Basri turut mengisahkan Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma yang menjual
unta kesayangannya karena dianggap menyibukkan hati dari mengingat Allah.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyebutkan empat ciri calon penghuni surga, yaitu senantiasa
memandang orang lain lebih baik dalam urusan akhirat, memandang orang lain lebih rendah dalam
urusan dunia agar pandai bersyukur, melupakan kebaikan diri sendiri, serta selalu mengingat dosa
agar terus bertobat.
Pada bagian akhir, Ustaz Hasan Al Basri menyampaikan hikmah ketiga berupa tiga kekuatan
kebaikan yang didapat dari mengingat kematian, yakni menyegerakan tobat, hati yang qana'ah, dan
semangat beribadah. Kajian Kitab Al-Jana'iz ini, katanya, akan berlanjut membahas adab dan tata
cara mengurus jenazah sesuai tuntunan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat. Kajian ditutup dengan doa kaffaratul majelis yang dipimpin Ustaz Hasan Al Basri bersama seluruh
jamaah.
Tidak ada komentar
Posting Komentar